Penulis : Firnas Muttaqin
Sabtu, 12 Juli 2025
PASURUAN, 12 Juli 2025 – Dalam pengajian Sabtu pagi yang diselenggarakan di Masjid Al-Ishlah Al-Irsyad Kota Pasuruan, Ustadz Nur Adi Septyanto menyoroti strategi awal penentangan dakwah Rasulullah SAW oleh kaum Quraisy di Makkah, serta relevansinya dengan tantangan yang dihadapi umat Islam di era modern. Pengajian tersebut menggarisbawahi upaya sistematis kaum musyrikin untuk merusak citra dakwah Islam, sebuah pola yang, menurut Ustadz Nur Adi, masih terlihat hingga kini.
*Strategi Penekanan dan Diplomasi Kaum Musyrikin*
Ustadz Nur Adi memulai dengan menggambarkan bagaimana kaum musyrikin Quraisy secara agresif menekan Rasulullah SAW. Bukan hanya secara fisik dan mental, mereka juga melakukan upaya diplomasi, bahkan kepada Abu Thalib, paman Rasulullah yang memberikan perlindungan.
"Satu, dua, hingga tiga kali permohonan agar Nabi menghentikan dakwah itu tetap dijawab dengan tegas oleh Rasulullah SAW, karena beliau adalah utusan Allah," jelas Ustadz Nur Adi.
Kaum musyrikin Quraisy merasa terganggu dan terancam akan kehilangan kekuasaan, pengaruh, dan kedudukan di masyarakat jika ajaran Islam tersebar luas. Mereka pun menghalalkan segala cara, termasuk kebohongan dan kerusakan, demi merusak dakwah Rasulullah.
*Stigma dan Upaya Merusak Citra Islam*
Ustadz Nur Adi kemudian menarik garis lurus antara masa lalu dan masa kini. "Hari ini juga kita merasakan ada upaya untuk merusak tatanan kehidupan orang-orang Muslim dengan berbagai istilah, dengan berbagai stigma terhadap orang-orang Muslim," tegasnya.
Beliau mencontohkan pandangan yang menstigma Islam sebagai "tradisi bangsa Arab," yang seolah-olah tidak relevan secara universal.
Ustadz Nur Adi menjelaskan bahwa narasi seperti itu telah ada sejak zaman kaum musyrikin, yang berupaya membangun opini masyarakat bahwa apa yang disampaikan Nabi Muhammad adalah hal yang merusak tatanan kehidupan mereka.
"Bahkan hari ini juga banyak yang masih menyuarakan bahwa syariat Islam itu hanya tradisi bangsa Arab," keluhnya.
Padahal, Allah SWT telah menegaskan celaka bagi mereka yang hanya mengikuti tradisi nenek moyang tanpa penelusuran ilmiah atau bukti yang jelas. Ustadz Nur Adi menggarisbawahi respons kaum Quraisy ketika Rasulullah SAW menyampaikan dakwah tauhid di Bukit Shafa. Keterkejutan mereka saat diajak menyembah Tuhan yang Esa, menurut beliau, adalah bukti mutlak bahwa ajaran Rasulullah bukanlah tradisi Arab yang sudah ada, melainkan tuntunan baru dari Allah SWT.
*Konsekuensi Aqidah sebagai Asas Perjuangan*
Dalam pengajiannya, Ustadz Nur Adi mengutip sebuah ayat Al-Qur'an untuk menggambarkan konsekuensi dari penolakan terhadap kebenaran, sekaligus mengingatkan pentingnya akidah sebagai asas perjuangan.
"Aqidah adalah asas perjuangan. Di atas aqidah itulah kita melakukan perbuatan untuk membebaskan diri dari berbagai tindakan yang akan mengancam kita dari siksa api neraka," jelasnya.
Beliau kemudian membacakan firman Allah SWT dari Surah Fussilat (41) Ayat 19-21, yang menggambarkan ancaman terhadap para penentang dakwah Islam dan menjadi pengingat bagi umat Muslim untuk teguh pendirian:
وَيَوْمَ يُحْشَرُ اَعْدَاۤءُ اللّٰهِ اِلَى النَّارِ فَهُمْ يُوْزَعُوْنَ
حَتّٰىٓ اِذَا مَا جَآءُوْهَا شَهِدَ عَلَيْهِمْ سَمْعُهُمْ وَاَبْصَارُهُمْ وَجُلُوْدُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
وَقَالُوْا لِجُلُوْدِهِمْ لِمَ شَهِدْتُّمْ عَلَيْنَا ۗ قَالُوْا اَنْطَقَنَا اللّٰهُ الَّذِيْۤ اَنْطَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَّهُوَ خَلَقَكُمْ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
"Dan (ingatlah) pada hari (ketika) musuh-musuh Allah digiring ke neraka, lalu mereka dipisah-pisahkan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka, 'Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?' Kulit (anggota tubuh) mereka menjawab, 'Allah yang menjadikan segala sesuatu dapat berbicara telah menjadikan kami dapat berbicara, dan Dialah yang menciptakan kamu pada kali pertama, dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan.'" (QS. Fussilat 41: Ayat 19-21)
Ayat ini, menurut Ustadz Nur Adi, menunjukkan bahwa pada hari kiamat, anggota tubuh manusia—pendengaran, penglihatan, dan kulit—akan bersaksi atas perbuatan mereka, bahkan jika mereka mencoba menyembunyikannya. Ini menjadi bukti bahwa tidak mungkin bersembunyi dari apa yang telah dikerjakan, dan Allah SWT Mahateliti atas segalanya.
*Pentingnya Pemanfaatan Potensi Diri dan Orientasi Akhirat*
Ustadz Nur Adi juga mengingatkan bahwa Allah telah memberikan potensi pendengaran, penglihatan, dan akal pikiran, namun hanya sedikit yang bersyukur. Bersyukur di sini bukan hanya dalam bentuk lisan, melainkan dengan mengikuti petunjuk Allah. Potensi ini tidak hanya berupa harta dan kekayaan, tetapi juga aspek individual dalam diri setiap manusia.
"Carilah pada apa-apa yang Allah datangkan padamu, carilah orientasi akhirat," pesannya.
Dengan keyakinan bahwa semua potensi diarahkan untuk mencari kebahagiaan sejati di akhirat, maka seluruh energi seorang Muslim akan terarah. Ia menyayangkan mereka yang telah mendapatkan informasi dan petunjuk dari Rasulullah SAW namun justru menolak, bahkan mengancam.
Ustadz Nur Adi menyimpulkan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu, mulai dari aspek individual, sosial, hingga universal, agar manusia berpikir dan menggunakan akal mereka sebagaimana mestinya. Aturan Allah bukanlah tradisi Arab semata, melainkan tuntunan universal untuk mengatur kehidupan seluruh umat manusia, sejak awal penciptaan. (*)
No comments:
Post a Comment