Monday, July 27, 2026

KUDATULI


Kudatuli adalah singkatan dari Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli, yaitu peristiwa penyerbuan kantor pusat Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, pada 27 Juli 1996. Peristiwa ini menjadi salah satu titik penting yang mempercepat melemahnya rezim Orde Baru dan berkembangnya gerakan Reformasi. 

Latar belakang

Pada awal 1990-an, Megawati Soekarnoputri terpilih sebagai Ketua Umum PDI dan memperoleh dukungan masyarakat yang semakin besar. Hal ini dipandang sebagai ancaman oleh pemerintah Orde Baru di bawah Soeharto.

Pada Juni 1996, pemerintah mendukung Kongres PDI di Medan yang menetapkan Soerjadi sebagai ketua umum menggantikan Megawati. Pendukung Megawati menolak hasil kongres tersebut dan tetap menduduki kantor pusat PDI di Jakarta. 

Jalannya peristiwa

Pada pagi hari 27 Juli 1996, sekelompok orang yang didukung aparat menyerbu kantor PDI yang diduduki pendukung Megawati. Penyerbuan memicu bentrokan dan kemudian berkembang menjadi kerusuhan di berbagai wilayah Jakarta selama dua hari. Banyak bangunan dan kendaraan dibakar, serta ratusan orang ditangkap. 

Korban

Menurut hasil penyelidikan Komnas HAM:

5 orang meninggal dunia.

149 orang mengalami luka-luka.

23 orang dinyatakan hilang.

Banyak warga dan aktivis ditangkap serta mengalami pelanggaran hak asasi manusia. 

Dampak

Peristiwa Kudatuli memiliki dampak besar terhadap politik Indonesia:

Meningkatkan kritik terhadap pemerintahan Orde Baru.

Memperkuat gerakan pro-demokrasi dan Reformasi.

Setelah jatuhnya Soeharto pada 1998, pendukung Megawati mendirikan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan), yang kemudian memenangkan Pemilu 1999. 

Mengapa disebut "Kudatuli"?

Istilah Kudatuli berasal dari singkatan Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Li (Juli). Peristiwa ini juga sering disebut "Sabtu Kelabu" karena terjadi pada hari Sabtu dan dikenang sebagai salah satu tragedi politik terbesar pada masa Orde Baru. (*)

Friday, July 17, 2026

Ustadz Tengku Zulkarnain : 5 Cara Berbakti kepada Orang Tua yang Sudah Wafat

Pernah suatu ketika, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, *"Ya Rasulullah, dulu saya banyak berbuat salah kepada ayah dan ibu saya. Sekarang saya ingin meminta maaf, namun mereka berdua sudah wafat. Apakah saya masih bisa meminta maaf kepada mereka?"*

Rasulullah SAW menjawab dengan tegas bahwa hal itu sangat bisa. Beliau kemudian menjelaskan 5 amalan yang dapat menghapus kesalahan kita kepada orang tua yang telah tiada:

1. *As-Shalatu 'Alaihima* (Banyak Berdoa untuk Keduanya)

Jagalah salatmu dan perbanyaklah berdoa untuk mereka. Dari alam kubur, orang tua dapat melihat amal perbuatan kita. Berdasarkan Tafsir Ibnu Katsir saat menjelaskan **Surat At-Taubah ayat 105**, amal perbuatan manusia di dunia diperlihatkan kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-masing mukmin (termasuk orang tua yang sudah wafat).

Pendengaran dan penglihatan ahli kubur jauh lebih tajam dari orang yang masih hidup.

* *Jika anak beramal saleh (misal: Tahajud dan berdoa):* Orang tua akan tersenyum bahagia dan mendoakan kebaikan serta hidayah untuk anaknya. Keridaan orang tua di alam kubur inilah yang membuat Allah mengampuni kesalahan-kesalahan sang anak di masa lalu.
* *Jika anak bermaksiat:* Orang tua akan bersedih dan memohon kepada Allah agar anaknya tidak dimatikan sebelum mendapat hidayah.

2. *Wal-Istighfaru Lahuma* (Memohonkan Ampun atas Dosa Keduanya)

Senantiasa mintalah ampunan kepada Allah untuk dosa-dosa kedua orang tuamu. Bacalah doa yang tulus:

> *"Rabbighfirli wa li-walidayya..."* (Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku).

3. Menunaikan Wasiat Keduanya

Jika orang tua meninggalkan wasiat yang baik sebelum wafat, tunaikanlah.

> **Contoh:** Orang tua berwasiat, *"Nak, kalau rumah ini nanti dijual, bagilah secara adil kepada adik-adikmu sebagai warisan, dan sisihkan sebagian untuk renovasi mushala."*

Ketika rumah tersebut laku (misalnya Rp10 miliar), jangan serakah. Jalankan amanah tersebut. Saat kita menuruti wasiatnya, mereka melihat dari kuburnya dan merasa bangga, sehingga mereka memaafkan kesalahan kita.

4. Menyambung Silaturahmi dengan Saudara Keduanya

Jika Anda ingin berbakti secara materi tetapi orang tua sudah tiada, alihkan kebaikan tersebut kepada saudara-saudara mereka (paman, bibi, atau uwak). Mengurus dan membantu saudara kandung dari ayah atau ibu akan membuat orang tua di alam kubur merasa bahagia dan rida kepada kita.

5. Menghormati Teman-Teman Keduanya

Muliakan, hormati, dan jagalah hubungan baik dengan sahabat-sahabat karib mendiang ayah dan ibu kita semasa mereka hidup.

---

Dengan mengamalkan kelima hal di atas, insyaallah Allah SWT akan menghapus dosa-dosa dan kesalahan kita di masa lalu terhadap kedua orang tua kita.

https://youtube.com/shorts/bN7PgPu09Mo?si=BhhPMJ-azNaeq8c4
__

Thursday, July 16, 2026

John L. Esposito Wafat, Dunia Kehilangan Salah Satu Cendekiawan Barat Paling Berpengaruh dalam Kajian Islam


Dunia akademik internasional berduka. Cendekiawan terkemuka di bidang studi Islam dan hubungan internasional, Prof. John L. Esposito, meninggal dunia pada 15 Juli 2026 di Washington, D.C., Amerika Serikat, dalam usia 86 tahun.

Kabar wafatnya Guru Besar Georgetown University tersebut dikonfirmasi oleh sejumlah media internasional dan disambut dengan ucapan belasungkawa dari berbagai tokoh dunia. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim termasuk di antara para pemimpin yang menyampaikan penghormatan atas dedikasi Esposito dalam membangun pemahaman yang lebih adil mengenai Islam dan hubungan antarperadaban.

Kepergian Esposito dipandang sebagai kehilangan besar bagi dunia akademik. Selama lebih dari lima dekade, ia dikenal sebagai salah satu sarjana Barat paling berpengaruh dalam bidang Islamic Studies, dengan kontribusi yang melampaui ruang kuliah hingga memengaruhi diskursus global mengenai Islam, politik, demokrasi, dan hubungan antara dunia Muslim dengan Barat.
Lahir di New York pada 19 Mei 1940, John L. Esposito mendedikasikan hampir seluruh karier akademiknya di Georgetown University, Washington, D.C. Di sana ia mendirikan Prince Alwaleed bin Talal Center for Muslim-Christian Understanding (ACMCU), sebuah pusat kajian yang menjadi rujukan internasional dalam penelitian Islam, hubungan antaragama, dan dialog lintas peradaban.

Berbeda dengan sebagian kalangan yang memandang Islam semata melalui perspektif konflik atau keamanan, Esposito dikenal konsisten menghadirkan pendekatan akademik yang objektif, berbasis penelitian, dan menghargai keberagaman tradisi Islam. Ia aktif mendorong dialog antara umat Islam dan Barat serta mengkritisi berkembangnya stereotip dan Islamofobia, terutama setelah peristiwa 11 September 2001.

Sepanjang kariernya, Esposito menulis dan menyunting puluhan buku yang menjadi referensi di berbagai universitas dunia. Di antara karya-karyanya yang paling berpengaruh adalah The Future of Islam, Who Speaks for Islam? (ditulis bersama Dalia Mogahed), Islam: The Straight Path, The Islamic Threat: Myth or Reality?, Unholy War: Terror in the Name of Islam, serta What Everyone Needs to Know About Islam. Karya-karya tersebut membahas sejarah Islam, kebangkitan politik Islam, demokrasi di negara-negara Muslim, ekstremisme, hingga hubungan Islam dengan Barat secara komprehensif.

Di Indonesia, pemikiran John L. Esposito juga sangat dikenal melalui berbagai buku terjemahan yang diterbitkan oleh sejumlah penerbit besar seperti Mizan, LKiS, dan Inisiasi Press. Beberapa judul yang banyak digunakan sebagai referensi akademik antara lain:

- Ensiklopedi Oxford: Dunia Islam Modern (6 jilid).
- Islam dan Politik.
- Ancaman Islam: Mitos atau Realitas? (The Islamic Threat: Myth or Reality?).
- Unholy War: Teror Atas Nama Agama (Unholy War: Terror in the Name of Islam).
- Islam dan Pembangunan.
- Demokrasi di Negara-Negara Muslim: Problem dan Prospek.

Buku-buku tersebut banyak menjadi rujukan di perguruan tinggi Islam maupun umum di Indonesia karena menawarkan analisis yang komprehensif mengenai perkembangan dunia Islam modern, politik internasional, demokrasi, dan hubungan antaragama.

Selain aktif sebagai penulis, Esposito juga menjadi penasihat berbagai lembaga internasional, pemerintah, dan media global dalam isu-isu yang berkaitan dengan dunia Islam. Pandangan dan analisisnya sering dikutip dalam berbagai forum internasional ketika membahas Timur Tengah, ekstremisme, maupun hubungan antara negara-negara Barat dan dunia Muslim.

Organisasi hak sipil Muslim Amerika, Council on American-Islamic Relations (CAIR), menyebut wafatnya Esposito sebagai kehilangan besar bagi komunitas akademik dunia. Menurut CAIR, Esposito telah memberikan kontribusi luar biasa dalam memupuk pemahaman yang lebih baik tentang Islam, menentang Islamofobia, serta mempromosikan dialog antaragama sebagai jalan membangun perdamaian.

Warisan intelektual John L. Esposito akan terus hidup melalui karya-karya ilmiahnya yang menjadi referensi lintas generasi. Di tengah meningkatnya tantangan polarisasi dan kesalahpahaman terhadap Islam, pemikiran Esposito tetap relevan sebagai jembatan untuk membangun dialog, saling pengertian, dan penghormatan antarsesama.

Kepergiannya menandai berakhirnya perjalanan seorang ilmuwan besar, tetapi gagasan dan kontribusinya akan terus menjadi bagian penting dalam perkembangan studi Islam dan hubungan antarperadaban di dunia. (*)

FIRNAS MUTTAQIN

Tuesday, July 14, 2026

Di Balik 24 Juli 2026: Benarkah China Bersiap Mengakhiri Era Dolar?

Sejak awal Juli 2026, media sosial dipenuhi narasi dramatis: "24 Juli 2026 menjadi hari berakhirnya dominasi dolar Amerika Serikat." Narasi itu dikaitkan dengan keputusan sejumlah bank besar di China yang menghentikan layanan perdagangan emas kertas (paper gold) bagi investor ritel.

Bagi sebagian orang, kebijakan tersebut dianggap sebagai "serangan ekonomi" terhadap Amerika Serikat. Namun, benarkah dunia sedang menyaksikan runtuhnya sistem moneter berbasis dolar?

Dari Bretton Woods hingga Dominasi Dolar

Sejak berakhirnya Perang Dunia II, dolar AS menjadi pusat sistem keuangan global. Meskipun hubungan langsung dolar dengan emas berakhir pada 1971 ketika Presiden Richard Nixon menghentikan konvertibilitas dolar terhadap emas, mata uang AS tetap menjadi alat pembayaran utama perdagangan internasional.

Hingga kini, sebagian besar transaksi lintas negara, perdagangan energi, pembiayaan internasasional, dan cadangan devisa bank sentral masih didominasi dolar.

Dominasi ini tidak hanya bertumpu pada kekuatan ekonomi Amerika Serikat, tetapi juga pada besarnya pasar obligasi pemerintah AS, likuiditas sistem keuangannya, serta kepercayaan investor global.

Langkah China yang Memicu Spekulasi

Mulai 24 Juli 2026, sejumlah bank besar di China menghentikan layanan perdagangan emas berbasis kontrak atau paper gold untuk investor ritel.

Yang dihentikan bukanlah jual beli emas batangan, melainkan instrumen keuangan yang mengikuti harga emas tanpa kepemilikan fisik.

Kebijakan tersebut diambil setelah tingginya volatilitas harga emas yang meningkatkan risiko spekulasi.

Tujuan utamanya adalah memperkuat stabilitas sistem keuangan domestik, bukan mengumumkan berakhirnya penggunaan dolar.

Mengapa China Terus Membeli Emas?

Meski tidak sedang "menghancurkan dolar", China memang telah lama menjalankan strategi diversifikasi aset.

Dalam beberapa tahun terakhir, Bank Sentral China secara konsisten menambah cadangan emas. Langkah serupa juga dilakukan oleh sejumlah bank sentral lain, termasuk India, Turki, dan beberapa negara Timur Tengah.

Ada beberapa alasan utama:

- mengurangi ketergantungan terhadap aset berbasis dolar;
- memperkuat kepercayaan terhadap cadangan devisa;
- melindungi nilai aset ketika terjadi gejolak geopolitik;
- serta memperkuat posisi yuan dalam perdagangan internasional.

Dengan kata lain, emas dipandang sebagai aset lindung nilai (safe haven), bukan senjata untuk menjatuhkan dolar dalam semalam.

BRICS dan Agenda Dedolarisasi

Perhatian dunia juga tertuju pada kelompok BRICS yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, dan negara-negara anggota baru.

BRICS mendorong penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan antaranggota untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS.

Namun hingga kini, belum ada mata uang tunggal BRICS yang mampu menggantikan peran dolar sebagai mata uang cadangan dunia.

Proses dedolarisasi lebih tepat dipahami sebagai perubahan bertahap, bukan revolusi yang terjadi dalam satu hari.

Emas Fisik atau Emas Digital?

Perdebatan lain yang ikut mengemuka adalah mengenai emas fisik dan emas digital.

Emas fisik memberikan kepemilikan langsung atas logam mulia yang dapat disimpan sendiri atau melalui lembaga penyimpanan resmi.

Sementara itu, emas digital maupun paper gold memberikan eksposur terhadap harga emas tanpa selalu memberikan hak atas emas batangan tertentu. Pada beberapa produk, kepemilikan benar-benar didukung emas fisik, tetapi pada produk lain hanya berupa kontrak keuangan. Karena itu, investor perlu memahami mekanisme setiap produk sebelum berinvestasi.

Apakah Dolar Akan Runtuh?

Sejumlah ekonom menilai dominasi dolar kemungkinan akan terus berkurang secara perlahan seiring meningkatnya penggunaan mata uang lain dalam perdagangan internasional.

Namun, menggantikan dolar bukan perkara sederhana.

Dolar masih memiliki keunggulan berupa pasar keuangan yang sangat dalam, likuiditas tinggi, serta jaringan penggunaan global yang telah terbentuk selama puluhan tahun.

Oleh sebab itu, tidak ada dasar kuat untuk menyimpulkan bahwa kebijakan China pada 24 Juli 2026 akan langsung mengakhiri era dolar.

Pelajaran bagi Investor Indonesia

Bagi masyarakat Indonesia, isu ini sebaiknya tidak disikapi dengan kepanikan ataupun euforia.

Yang lebih penting adalah memahami karakter instrumen investasi, melakukan diversifikasi aset, serta menghindari keputusan investasi yang hanya didasarkan pada informasi viral yang belum terverifikasi.

Kebijakan China memang mencerminkan arah baru pengelolaan risiko di pasar keuangan dan bagian dari tren dedolarisasi global. Namun, perubahan tatanan moneter dunia merupakan proses yang kompleks dan berlangsung dalam jangka panjang.

Kesimpulannya, tanggal 24 Juli 2026 bukanlah "hari kiamat dolar". Yang terjadi adalah penyesuaian kebijakan perdagangan emas oleh sejumlah bank besar di China. Meski langkah itu dapat dibaca sebagai bagian dari strategi ekonomi jangka panjang China, dominasi dolar AS masih ditopang oleh fondasi ekonomi dan keuangan global yang sangat kuat.

Di tengah perubahan lanskap ekonomi dunia, investor dituntut untuk lebih kritis, memahami fakta, dan tidak mudah terbawa narasi sensasional yang beredar di media sosial.Referensi utama:

Crypto Briefing, laporan mengenai penghentian layanan paper gold oleh sejumlah bank besar China mulai 24 Juli 2026.

Data dan publikasi mengenai cadangan emas bank sentral dari World Gold Council.

Publikasi dan statistik internasional dari IMF mengenai komposisi cadangan devisa global.

Laporan Bank for International Settlements (BIS) mengenai penggunaan mata uang dalam transaksi internasasional.

Kajian mengenai penggunaan mata uang lokal dan dedolarisasi dalam kerja sama BRICS.

Artikel ini dirancang agar tetap membedakan fakta yang telah dikonfirmasi (penghentian layanan paper gold oleh sejumlah bank) dari analisis dan proyeksi (potensi dampaknya terhadap dominasi dolar), sehingga tidak mencampuradukkan keduanya sebagai kepastian. (*)

Kisah Keutamaan Doa Penarik Rezeki


Ada sebuah doa yang jika kita amalkan dibaca tujuh kali setiap habis salat, insyaallah Allah SWT akan berikan jalan keluar bagi setiap urusan kita. Mari kita rajin-rajin mengamalkan doa ini.

Cerita ini saya dapatkan dari seorang tukang becak. Kita tahu sendiri penghasilan tukang becak biasanya tidak seberapa, namun beliau istikamah mengamalkan doa ini. Doanya adalah sebagai berikut:

Bacaan Doa

اَللَّهُمَّ يَا غَنِيُّ يَا حَمِيْدُ، يَا مُبْدِئُ يَا مُعِيْدُ، يَا رَحِيْمُ يَا وَدُوْدُ، أَغْنِنِيْ بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

"Allahumma ya ghaniyyu ya hamid, ya mubdi'u ya mu'id, ya rahimu ya wadud, aghnini bihalalika 'an haramik, wa bifadlika 'amman siwak. Wa shallallahu 'ala sayyidina Muhammadin wa 'ala alihi wa shahbihi wa sallam."

Keberkahan Setelah Mengamalkan

Tukang becak itu berkata kepada saya, "Ustaz, amalkan doa ini." Akhirnya saya amalkan. Sejak dulu sampai sekarang, saya rutin membacanya tujuh kali setiap selesai salat fardu. Bagi yang ingin mencatat atau merekamnya, dipersilakan.

Alhamdulillah, khasiatnya nyata. Tidak lama setelah mengamalkannya, seorang teman tiba-tiba bertanya kepada saya, "Ustaz, mau pergi umrah?" Saya jawab, "Mau, Kak." Ternyata, dia mengajak saya untuk membimbing satu rombongan secara gratis!

Alhamdulillah, tanpa perlu mencari-cari jalan, Allah langsung panggil saya ke Tanah Suci. Semua itu berkah wasilah doa yang diajarkan oleh seorang tukang becak tersebut.

Doa Penarik Rezeki


Sunday, July 12, 2026

Ustadz Deddy Wahyudi Ajak Jamaah Makmurkan Masjid Lewat Gerakan Subuh, Syuruq, Sedekah, dan Pasar Bahagia

PASURUAN – Menghidupkan masjid tidak cukup hanya dengan memperbanyak kegiatan ibadah. Masjid juga perlu menjadi pusat kebahagiaan, silaturahmi, dan pemberdayaan ekonomi umat. Gagasan tersebut disampaikan Ustadz Deddy Wahyudi, M.M. dalam Pengajian Ahad Pagi di Masjid Darul Arqom PDM Kota Pasuruan, Ahad (12/7/2026).

Dalam kajiannya, Ustadz Deddy mengajak jamaah menjadikan waktu Subuh sebagai momentum membangun kebiasaan baik yang dilakukan secara istiqamah. Menurutnya, salat Subuh berjamaah memiliki keutamaan yang luar biasa, terlebih apabila dilanjutkan dengan berzikir hingga matahari terbit dan kemudian melaksanakan sholat Syuruq.

Ia mengutip hadis Rasulullah ﷺ yang menyebutkan bahwa orang yang melaksanakan salat Subuh berjamaah, kemudian berzikir hingga matahari terbit dan menunaikan dua rakaat salat Syuruq, akan memperoleh pahala seperti haji dan umrah yang sempurna.

"Sholat Syuruq dilakukan setelah matahari benar-benar terbit dan naik sekitar satu tombak atau kurang lebih 15–20 menit setelah terbit. Jangan melaksanakan salat tepat ketika matahari baru terbit karena itu termasuk waktu yang dilarang," jelasnya.

Selain menghidupkan ibadah pagi, Ustadz Deddy juga menekankan pentingnya membiasakan Sedekah Subuh. Ia mengingatkan hadis Rasulullah ﷺ tentang dua malaikat yang setiap pagi turun mendoakan orang yang gemar berinfak agar diberi ganti rezeki, sementara malaikat lainnya mendoakan kebinasaan bagi orang yang menahan hartanya.

Menurutnya, sedekah tidak harus dalam jumlah besar. Infak Rp500 hingga Rp1.000 yang dilakukan secara rutin jauh lebih bernilai jika mampu membangun budaya berbagi di tengah jamaah.

Ia bahkan mengusulkan agar masjid memiliki kotak infak khusus Subuh yang dipisahkan dari kotak infak operasional umum. Dana tersebut digunakan untuk mendukung seluruh aktivitas Subuh, mulai dari konsumsi jamaah, kajian, hingga berbagai program yang dapat menarik masyarakat datang ke masjid.

"Kalau dana itu benar-benar digunakan untuk memakmurkan kegiatan Subuh, jamaah akan semakin semangat berinfak karena mereka melihat langsung manfaatnya," ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Deddy juga memperkenalkan konsep Pasar Bahagia, yaitu kegiatan berbagi kebahagiaan setelah salat Subuh. Bentuknya bisa berupa sarapan sederhana, pembagian sayur kepada jamaah, ataupun menghadirkan pelaku UMKM untuk menjual hasil usahanya di lingkungan masjid.

Menurutnya, program seperti itu telah diterapkan di sejumlah masjid dan terbukti mampu meningkatkan jumlah jamaah Subuh sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.

"Bukan nilai barangnya yang utama, tetapi rasa kebersamaan dan kebahagiaan yang dibangun. Jamaah pulang membawa sayur atau makanan sederhana, keluarganya ikut merasakan manfaat datang ke masjid," katanya.

Ia menambahkan bahwa masjid pada masa Rasulullah ﷺ tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pendidikan, pelayanan sosial, musyawarah, dan aktivitas ekonomi umat. Karena itu, konsep memakmurkan masjid pada masa kini juga perlu menyentuh aspek sosial dan ekonomi tanpa menghilangkan fungsi utamanya sebagai tempat beribadah.

Melalui Gerakan Subuh, Sedekah Subuh, Sholat Syuruq, dan Pasar Bahagia, Ustadz Deddy berharap semakin banyak masyarakat yang mencintai masjid dan menjadikannya sebagai pusat kehidupan umat.

"Jika semakin banyak orang datang ke masjid karena upaya yang kita lakukan bersama, maka insyaallah setiap langkah mereka menjadi amal jariyah yang terus mengalir bagi orang-orang yang menghidupkan masjid," pungkasnya. (*)

FIRNAS MUTTAQIN

Menjaga Keberkahan Waktu di Tengah Percepatan Zaman

Masjid Al-Ukhuwah, Sekarsono, Kota Pasuruan, kembali menggelar pengajian rutin Ahad pagi pada 12 Juli 2026. Dalam kesempatan ini, Ustadz Heru Winarno mengangkat tema seputar hakikat waktu dalam pandangan Islam, khususnya fenomena "percepatan waktu" yang dirasakan banyak orang di era modern serta bagaimana seorang muslim dapat meraih keberkahan di dalamnya.

*Waktu yang Terasa Kian Singkat*

Mengawali kajian, Ustadz Heru mengingatkan jamaah tentang pentingnya gerak dan aktivitas bagi kesehatan tubuh. Ia mencontohkan bagaimana tubuh yang terlalu banyak berdiam atau tidur justru terasa tidak nyaman, sebagai analogi bahwa kemalasan bergerak—baik secara fisik maupun spiritual—dapat membawa dampak buruk.

Dari sana, ia mengaitkannya dengan fenomena kesibukan digital masa kini, terutama kebiasaan "scroll-scroll" di gawai yang banyak menyita waktu tanpa disadari.

Ustadz Heru kemudian mengutip hadis riwayat Anas bin Malik, di mana Rasulullah ﷺ bersabda bahwa hari kiamat tidak akan terjadi sampai waktu terasa semakin singkat: satu tahun terasa seperti satu bulan, satu bulan seperti satu pekan, satu pekan seperti satu hari, satu hari seperti satu jam, dan satu jam seperti kilatan api. Ia menegaskan bahwa fenomena ini bukan hal baru, melainkan persoalan klasik yang telah disinggung sejak masa kenabian.

*Perspektif Al-Qur'an tentang Waktu*

Untuk memperkuat pemahaman, Ustadz Heru merujuk pada ayat Al-Qur'an tentang pergantian malam dan siang sebagai tanda bagi orang yang mau mengambil pelajaran dan bersyukur. Menurutnya, memahami ayat ini bukan sekadar soal hitungan jam atau hari, melainkan kesadaran untuk memanfaatkan waktu sebagai sarana mengingat Allah, memperbaiki diri, dan memperbanyak amal.

Ia juga mengutip Surat Al-'Ashr yang menegaskan bahwa seluruh manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, mengerjakan amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran. Ustadz Heru menambahkan bahwa dalam riwayat lain disebutkan pula anjuran saling menasihati dalam kasih sayang, karena kehidupan tanpa kasih sayang akan terasa menekan.

Ia mengutip pandangan Imam Syafi'i yang menyebut bahwa seandainya Allah hanya menurunkan Surat Al-'Asr sebagai pedoman bagi manusia, itu sudah cukup sebagai bekal hidup.

*Bukan Berkurangnya Jumlah Jam, Melainkan Hilangnya Keberkahan*

Salah satu poin penting yang disampaikan Ustadz Heru adalah penjelasan para ulama—seperti Imam Nawawi, Qadhi Iyadh, Ibnu Hajar, dan Al-Mubarakfuri dalam kitab *Tuhfatul Ahwadzi*—bahwa "percepatan waktu" yang dimaksud dalam hadis bukanlah berkurangnya jumlah jam secara harfiah, melainkan hilangnya keberkahan waktu. Satu hari tetap 24 jam, namun manfaat yang dihasilkan darinya semakin sedikit.

Menurut penjelasan yang dikutip dari Ibnu Hajar, percepatan waktu di akhir zaman disebabkan oleh tiga hal:

1. Hilangnya keberkahan akibat maraknya dosa dan kemaksiatan.
2. Kesibukan duniawi yang melalaikan manusia dari ibadah.
3. Kemajuan teknologi yang membuat manusia sibuk dengan hal-hal yang tidak bermanfaat.

*Tujuh Ciri Waktu yang Berkah*

Ustadz Heru kemudian memaparkan ciri-ciri orang yang waktunya diberkahi Allah, di antaranya:

- **Mampu menghasilkan banyak kebaikan dalam waktu yang relatif singkat**, karena dimudahkan Allah dalam menjalankan berbagai aktivitas tanpa merasa terbebani. Ia mencontohkan Imam Nawawi yang meski wafat pada usia 45 tahun berhasil menghasilkan puluhan karya besar, termasuk kumpulan Hadis Arba'in yang masih dipelajari di dunia Islam hingga kini.
- **Tidak suka menyia-nyiakan waktu**, sebagaimana disampaikan Imam Abu Bakar bin 'Ayyash bahwa orang yang kehilangan hartanya akan bersedih sepanjang hari, namun jarang ada orang yang menyesali hilangnya satu hari dari umurnya. Ustadz Heru mengingatkan pentingnya kebiasaan muhasabah atau evaluasi diri sebelum tidur.
- **Mengisi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat**, tanpa harus meniadakan istirahat, namun tetap didominasi oleh aktivitas yang produktif dan bermakna, misalnya membiasakan membaca buku di sela-sela kesibukan.

Sebagai penutup dari poin ini, Ustadz Heru mengajak jamaah merenungkan Surat Al-Ahzab ayat 35 yang merinci sepuluh kategori amal sebagai gambaran pemanfaatan waktu seorang muslim dan muslimah—mulai dari keislaman, keimanan, ketaatan, hingga kejujuran.

*Orientasi Akhirat Tanpa Melupakan Dunia*

Ustadz Heru menegaskan bahwa keberkahan waktu akan datang bila orientasi seorang muslim diarahkan kepada akhirat terlebih dahulu, sebagaimana pesan dalam Surat Al-Qashash ayat 77, tanpa melupakan bagiannya di dunia. Seorang muslim yang produktif, menurutnya, akan menjadikan seluruh aktivitas hariannya—termasuk hal-hal kecil seperti berjalan di jalan raya—sebagai bagian dari ibadah kepada Allah.

Kajian ditutup dengan pesan agar jamaah senantiasa fokus dan bersungguh-sungguh dalam setiap urusan, sembari menjaga adab dalam pergaulan sehari-hari, termasuk saat berkumpul dan berbincang santai bersama sesama. (*)

---
FIRNAS MUTTAQIN

Saturday, July 11, 2026

AI yang Membuat IMF Puyeng: Ketika Claude Mythos Dinilai Mampu Mengguncang Sistem Keuangan Dunia

Dunia teknologi kembali diguncang. Kali ini bukan karena kemampuan AI menulis artikel, membuat gambar, atau membantu pemrograman, melainkan karena munculnya model kecerdasan buatan yang dinilai memiliki kemampuan luar biasa dalam bidang keamanan siber.

Model tersebut adalah Claude Mythos, yang dikembangkan oleh Anthropic. Kemampuannya bahkan membuat International Monetary Fund (IMF) mengeluarkan peringatan serius mengenai potensi ancaman terhadap stabilitas sistem keuangan global. 

Menurut Anthropic, Mythos dirancang untuk membantu menemukan kelemahan perangkat lunak sebelum dimanfaatkan oleh peretas. Dalam pengujian internal, model ini mampu menemukan ribuan celah keamanan pada berbagai sistem operasi dan peramban web utama di dunia. Namun, kemampuan tersebut juga berarti bahwa jika jatuh ke tangan yang salah, AI ini berpotensi digunakan untuk melakukan serangan siber berskala besar. 

AI yang Terlalu Pintar untuk Dilepas ke Publik

Berbeda dengan chatbot AI pada umumnya, Claude Mythos tidak langsung dirilis secara luas. Anthropic justru membatasi akses hanya kepada sejumlah organisasi terpercaya melalui program Project Glasswing.

Langkah tersebut diambil karena perusahaan menyadari kemampuan model ini dapat digunakan bukan hanya untuk memperbaiki sistem keamanan, tetapi juga mengeksploitasi kerentanannya. Di antara mitra awal yang mendapat akses terbatas adalah perusahaan teknologi dan lembaga besar seperti Amazon, Apple, Cisco, Nvidia, dan JPMorgan Chase. 

IMF: "Waktu Bukan Lagi Teman Kita"

Kekhawatiran terbesar datang dari Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva.

Dalam wawancara dengan CBS News, Georgieva mengatakan bahwa dunia belum memiliki kemampuan yang memadai untuk melindungi sistem moneter internasional dari ancaman siber yang diperkuat AI.

Ia bahkan mengingatkan bahwa "time is not our friend" atau "waktu bukan lagi teman kita", menandakan bahwa perkembangan AI berlangsung jauh lebih cepat dibanding kesiapan sistem pertahanan global. 

Ancaman terhadap Perbankan Global

IMF menilai serangan siber berbasis AI tidak hanya berpotensi mencuri data atau melumpuhkan server.

Dalam skenario terburuk, serangan terhadap bank-bank besar dapat menyebabkan:

1. gangguan sistem pembayaran internasional,
2. kepanikan nasabah,
3. tekanan likuiditas,
4. gangguan transaksi lintas negara,
5. bahkan mengancam stabilitas lembaga keuangan yang dianggap "terlalu besar untuk gagal" (too big to fail). 

Inilah sebabnya isu keamanan AI kini tidak lagi dipandang sekadar masalah teknologi, melainkan telah menjadi isu stabilitas ekonomi global.

Sampai Bank Sentral Turun Tangan

Besarnya ancaman tersebut membuat pejabat tinggi Amerika Serikat menggelar pertemuan tertutup bersama para pemimpin bank-bank besar untuk membahas risiko Claude Mythos.

Laporan CBS News menyebut Ketua Federal Reserve dan pejabat Departemen Keuangan AS bertemu dengan sejumlah CEO bank guna membahas kesiapan menghadapi ancaman AI generasi baru. 

Ironisnya, Model Ini Sempat Diretas

Di tengah upaya pembatasan akses, Anthropic kemudian mengonfirmasi adanya dugaan akses tidak sah terhadap lingkungan vendor pihak ketiga yang berkaitan dengan Mythos. Perusahaan menyatakan investigasi dilakukan dan belum menemukan bukti bahwa sistem inti Anthropic ikut disusupi. 

Peristiwa tersebut justru memperkuat kekhawatiran bahwa model AI dengan kemampuan luar biasa pun tetap memiliki risiko kebocoran.

Pelajaran bagi Dunia

Kasus Claude Mythos menunjukkan bahwa perkembangan AI telah memasuki fase baru.

Jika sebelumnya dunia khawatir AI menggantikan pekerjaan manusia, kini kekhawatiran bergeser ke kemungkinan AI digunakan sebagai senjata siber yang mampu mempercepat serangan terhadap infrastruktur vital.

Bagi regulator seperti IMF, tantangannya bukan lagi sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi memastikan inovasi AI tidak berubah menjadi ancaman bagi sistem keuangan dunia.

Claude Mythos pada akhirnya menjadi pengingat bahwa di era kecerdasan buatan, perlombaan bukan hanya soal menciptakan AI yang semakin pintar, melainkan juga membangun sistem keamanan yang mampu mengimbanginya. (*)

Firnas Muttaqin

Thursday, July 09, 2026

Meneladani Keteguhan Hijrah Kaum Muslimin ke Habasyah

PASURUAN — Kajian rutin di Masjid At-Taqwa, Kampung Jagalan, Kota Pasuruan, Kamis malam (9/7/2026), mengangkat tema hijrah kaum muslimin ke Habasyah, salah satu peristiwa penting dalam sejarah dakwah Islam. Materi disampaikan oleh Ustadz Anang Abdul Malik di hadapan jamaah yang memadati masjid.

Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa Habasyah, yang kini dikenal sebagai Etiopia, dipilih Rasulullah SAW sebagai tujuan hijrah karena dipimpin Raja Najasi (Negus), seorang penguasa yang dikenal adil dan memberikan perlindungan kepada siapa pun yang mencari suaka di negerinya.

Hijrah Demi Menyelamatkan Akidah

Ustadz Anang menjelaskan, hijrah ke Habasyah dilakukan ketika tekanan terhadap kaum muslimin di Makkah semakin berat. Mereka mengalami intimidasi, penyiksaan, dan berbagai bentuk penindasan dari kaum Quraisy sehingga Rasulullah SAW memerintahkan sebagian sahabat untuk meninggalkan Makkah.

Gelombang pertama hijrah diikuti 16 orang, terdiri atas 12 laki-laki dan empat perempuan. Di antaranya adalah Utsman bin Affan bersama istrinya, Ruqayyah binti Muhammad SAW.

Setelah mengetahui adanya rombongan yang berhasil hijrah, kaum Quraisy memperketat penjagaan di Makkah. Namun, upaya tersebut tidak menghentikan hijrah berikutnya. Gelombang kedua yang lebih besar berhasil berangkat dengan jumlah sekitar 83 laki-laki dan 19 perempuan.

Diplomasi Ja'far bin Abi Thalib

Keberadaan kaum muslimin di Habasyah mendorong kaum Quraisy mengirim dua utusan, Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi'ah, untuk meminta Raja Najasi memulangkan mereka ke Makkah. Kedua utusan itu juga membawa hadiah bagi raja dan para pembesar istana.

Raja Najasi tidak langsung memenuhi permintaan tersebut. Ia memilih mendengar penjelasan dari kedua belah pihak sebelum mengambil keputusan.

Kaum muslimin menunjuk Ja'far bin Abi Thalib sebagai juru bicara. Di hadapan raja, Ja'far menjelaskan kondisi masyarakat Arab sebelum Islam, kemudian menerangkan ajaran yang dibawa Rasulullah SAW, seperti tauhid, kejujuran, amanah, menjaga silaturahmi, serta menunaikan salat, zakat, dan puasa.

Ia juga menjelaskan bahwa kaum muslimin meninggalkan Makkah bukan karena ingin memberontak, melainkan untuk menyelamatkan keimanan dari berbagai bentuk penindasan.

Raja Najasi Memberikan Perlindungan

Setelah mendengar penjelasan Ja'far, Raja Najasi meminta agar dibacakan ayat-ayat Al-Qur'an. Ja'far kemudian membacakan Surah Maryam ayat 16–36.

Menurut riwayat yang disampaikan dalam kajian, Raja Najasi tersentuh mendengar bacaan tersebut. Ia menyatakan bahwa ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW dan Nabi Isa AS berasal dari sumber yang sama. Raja Najasi kemudian menolak permintaan utusan Quraisy dan tetap memberikan perlindungan kepada kaum muslimin di Habasyah.

Pelajaran dari Hijrah

Menutup kajian, Ustadz Anang menjelaskan bahwa kisah hijrah ke Habasyah mengajarkan pentingnya menjaga keimanan, akhlak, dan kebijaksanaan dalam berdialog. Ia juga mengulas tingkatan hidayah, mulai dari hidayah umum yang diberikan kepada seluruh makhluk hingga hidayah melalui petunjuk Allah dalam Al-Qur'an.

Menurutnya, keteguhan iman dan cara berkomunikasi yang santun menjadi pelajaran penting dari peristiwa hijrah yang tetap relevan bagi umat Islam hingga saat ini.

Penulis: Firnas Muttaqin

Sunday, July 05, 2026

Choiruddin Muchtar, Atlet Silat yang Turut Mengukir Sejarah Awal Tapak Suci di Kota Pasuruan


Pasuruan, Ahad 5 Juli 2026 — Perkembangan Perguruan Pencak Silat Tapak Suci Putera Muhammadiyah di Kota Pasuruan tidak dapat dilepaskan dari kiprah para atlet dan pelatih generasi awal. Salah satunya adalah Choiruddin Muchtar, yang sejak remaja telah menjadi bagian dari perjalanan panjang Tapak Suci hingga berkembang menjadi salah satu perguruan silat berprestasi di Kota Pasuruan.

Choiruddin mulai mengenal Tapak Suci pada tahun 1974 ketika masih duduk di kelas I SMP Muhammadiyah Pasuruan. Saat itu, Tapak Suci baru merintis pembinaan di sekolah-sekolah Muhammadiyah dengan bimbingan dua pelatih dari Malang, Ismail dan Karim. Menurut Choiruddin, keduanya menjadi sosok penting yang meletakkan dasar pembinaan teknik maupun organisasi Tapak Suci di Pasuruan. Ismail bahkan kemudian dikenal sebagai pelatih tingkat nasional yang kerap terlibat dalam ujian kenaikan tingkat di pusat Tapak Suci di Yogyakarta.
Ia menyebut dirinya sebagai atlet generasi kedua Tapak Suci Kota Pasuruan. Generasi pertama terdiri atas tokoh-tokoh seperti Riyadi Amin, Soche, Mus, Pudiono, Ruslan Suharto, dan Suripto. Mereka bukan hanya menjadi atlet, tetapi juga turut mengembangkan Tapak Suci di berbagai sekolah Muhammadiyah sehingga organisasi ini semakin dikenal masyarakat.
Pada masa itu, sistem pembinaan dilakukan secara bertahap melalui jenjang sabuk, mulai dari sabuk putih, sabuk kuning dengan beberapa tingkatan, hingga sabuk biru. Seluruh sistem latihan mengikuti pola pembinaan dari Malang. Kenaikan tingkat tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknik, tetapi juga kedisiplinan dan kesungguhan mengikuti latihan.

Latihan tidak hanya berlangsung di lingkungan SMP Muhammadiyah, tetapi juga di beberapa langgar atau mushala yang menjadi pusat aktivitas warga Muhammadiyah. Berbeda dengan anggapan sebagian masyarakat, latihan tersebut terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar pencak silat, sehingga banyak pelajar dari berbagai latar belakang ikut bergabung.

Kerja keras para pelatih dan atlet mulai membuahkan hasil ketika Tapak Suci meraih gelar juara umum pada Kejuaraan Pencak Silat Kota/Kabupaten Pasuruan sekitar tahun 1975. Saat itu Tapak Suci bersaing dengan sejumlah perguruan yang telah lebih dahulu berkembang, seperti Persaudaraan Setia Hati, Perisai Diri, dan Kera Sakti. Keberhasilan tersebut menjadi titik balik yang mengangkat nama Tapak Suci di Kota Pasuruan.

Prestasi itu berdampak besar terhadap perkembangan organisasi. Semakin banyak sekolah Muhammadiyah membuka kegiatan ekstrakurikuler Tapak Suci, di antaranya SMP Muhammadiyah. Dari sekolah-sekolah tersebut lahir atlet-atlet yang kemudian mengukir prestasi hingga tingkat nasional.

Choiruddin masih mengingat beberapa nama atlet yang pernah mengharumkan nama Pasuruan, seperti Asmiah dan Astuti yang berhasil berprestasi pada kejuaraan nasional di Yogyakarta. Ia juga menyebut Fahrina yang meraih juara II pada Kejuaraan Nasional internal Tapak Suci di Jember. Menurutnya, keberhasilan para atlet tersebut menjadi kebanggaan sekaligus motivasi bagi generasi berikutnya.

Selain aktif sebagai atlet, Choiruddin kemudian dipercaya menjadi pelatih di berbagai sekolah. Ia ikut memperluas pembinaan Tapak Suci di sejumlah lembaga pendidikan, diantaranya Madrasah Tsanawiyah Negeri dan SMEA (sekarang SMK), termasuk di wilayah Lekok kabupaten  Pasuruan dan sekolah-sekolah Muhammadiyah lainnya. Dari dunia kepelatihan, ia kemudian mengikuti pendidikan wasit-juri hingga tingkat provinsi.

Pengalaman itu membawanya mengemban amanah sebagai wasit-juri pencak silat sekaligus dipercaya menjadi Sekretaris II  (IPSI) Kota Pasuruan. Peran tersebut menunjukkan bahwa pengabdiannya terhadap pencak silat tidak berhenti sebagai atlet, melainkan berlanjut dalam pembinaan organisasi dan pengembangan olahraga pencak silat di daerah.

Bagi Choiruddin, Tapak Suci tidak hanya mengajarkan teknik bela diri. Organisasi ini juga membentuk karakter anggotanya melalui pembinaan keislaman. Tokoh-tokoh Muhammadiyah secara rutin memberikan materi keagamaan kepada para anggota, sehingga latihan fisik selalu diimbangi dengan pembinaan akhlak dan spiritual.

Ia juga mengenang tradisi unik Tapak Suci pada masa itu. Para anggota mengenakan seragam lengkap dan berlari mengelilingi Kota Pasuruan setiap akhir pekan. Selain menjadi bagian dari latihan fisik, kegiatan tersebut sekaligus memperkenalkan Tapak Suci kepada masyarakat dan menarik minat generasi muda untuk bergabung.

Meski kini tidak lagi mengikuti aktivitas organisasi secara intensif karena kesibukan pekerjaan, Choiruddin tetap menyimpan kenangan mendalam terhadap masa-masa awal perkembangan Tapak Suci. Baginya, pencak silat telah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya, mengajarkan disiplin, keberanian, tanggung jawab, dan semangat mengabdi.

Kisah Choiruddin Muchtar merupakan potret perjuangan generasi awal yang membesarkan Tapak Suci di Kota Pasuruan. Melalui dedikasi para atlet, pelatih, dan kader Muhammadiyah pada dekade 1970-an hingga 1980-an, Tapak Suci berkembang bukan hanya sebagai perguruan pencak silat berprestasi, tetapi juga sebagai wadah pembentukan karakter dan kaderisasi generasi muda. Warisan pengabdian itulah yang hingga kini menjadi bagian dari sejarah perkembangan Tapak Suci di Kota Pasuruan. (*)

Saturday, July 04, 2026

Jejak Sejarah Masjid At-Taqwa Jagalan: Dari Mushola Berdinding Gedek hingga Menjadi Pusat Dakwah


Di tengah permukiman Jagalan, Kelurahan Kandangsapi, Kota Pasuruan, berdiri Masjid At-Taqwa yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang masyarakat setempat. Bagi warga senior, masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan saksi perubahan zaman, perkembangan dakwah, dan tumbuhnya kader-kader Muhammadiyah di lingkungan Jagalan.

Dalam wawancara, Dwi Joko Santoso menuturkan bahwa berdasarkan cerita turun-temurun di keluarganya, keberadaan Musala atau Masjid At-Taqwa diperkirakan sudah ada jauh sebelum abad ke-19. Namun, keterangan tersebut merupakan penuturan lisan keluarga dan masih memerlukan penelusuran lebih lanjut melalui arsip maupun dokumen sejarah.

Kenangan yang lebih jelas bermula dari kisah ayahnya, Sumardi, yang lahir pada tahun 1926. Menurut Dwi Joko Santoso, pada masa itu bangunan musala masih sangat sederhana. Dindingnya terbuat dari gedek (anyaman bambu) sehingga sering mengalami kerusakan akibat banjir yang meluap dari Kali Jagalan dan Kali Gembong.

Seiring waktu, masyarakat bersama para tokoh setempat melakukan renovasi secara bertahap. Bangunan yang semula seluruhnya berbahan bambu mulai diganti menjadi tembok pada bagian bawah, sementara bagian atasnya masih menggunakan gedek. Perubahan itu menjadi tonggak awal berkembangnya Masjid At-Taqwa menjadi bangunan yang lebih kokoh.

Dwi Joko Santoso yang lahir pada tahun 1958 masih mengingat suasana masjid saat dirinya duduk di bangku sekolah dasar. Ia mengenang bahwa setiap pelaksanaan salat Jumat, halaman di sebelah timur masjid yang saat itu masih berupa pekarangan dipenuhi tikar untuk menampung jamaah yang terus bertambah.

Menurutnya, pada dekade 1970-an, terutama sekitar tahun 1974 hingga 1976 ketika ia duduk di bangku SMA, aktivitas keagamaan di Masjid At-Taqwa mencapai masa yang sangat ramai. Pengajian, kegiatan remaja, hingga pembinaan warga berlangsung secara rutin dan menjadikan masjid sebagai pusat kehidupan masyarakat.

Ia juga menyebut sejumlah tokoh yang memiliki peran penting dalam memakmurkan masjid, di antaranya Pak Mirin, Hasan Basri (Mbah Cang) Haji Slamet Riyadi, Masykur, Muchtar, Suharsono, Sumardijarso, Rasad, Zaenuri, Kusman, serta sejumlah tokoh lain yang kini sebagian besar telah wafat.

Menurut Dwi Joko Santoso, Hasan Basri (Mbah Cang) menjadi salah satu sosok yang paling berperan dalam membimbing generasi penerus agar tetap menjaga keberlangsungan aktivitas Masjid At-Taqwa. Semangat estafet kepengurusan itulah yang dinilai membuat kehidupan masjid tetap berjalan hingga sekarang.
Memasuki tahun-tahun berikutnya, aktivitas Masjid At-Taqwa mulai mengalami perubahan. Bukan karena berkurangnya semangat masyarakat, melainkan karena semakin banyak masjid baru berdiri di sekitar Jagalan dan wilayah sekitarnya. Kehadiran masjid-masjid yang lebih dekat dengan permukiman warga membuat jamaah tersebar ke berbagai tempat ibadah.

Selain itu, kegiatan Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) juga mengalami tantangan. Anak-anak dan remaja memiliki lebih banyak pilihan untuk belajar mengaji di masjid-masjid lain yang menawarkan berbagai kegiatan pembinaan.

Meski demikian, bagi Dwi Joko Santoso, Masjid At-Taqwa tetap memiliki nilai sejarah yang tinggi. Ia meyakini bahwa masjid tersebut merupakan salah satu cikal bakal perkembangan dakwah Muhammadiyah di kawasan Jagalan. Pernyataan tersebut merupakan pandangan narasumber yang masih memerlukan kajian sejarah lebih lanjut untuk memastikan posisi dan perannya dalam perkembangan Muhammadiyah di Kota Pasuruan.
Kini, bangunan yang dahulu hanya berupa mushola sederhana berdinding gedek telah berubah menjadi masjid permanen. Di balik perubahan fisiknya, tersimpan kisah tentang gotong royong warga, regenerasi para penggerak masjid, dan semangat mempertahankan pusat ibadah yang telah melayani masyarakat selama beberapa generasi.

Bagi warga Jagalan, Masjid At-Taqwa bukan hanya bangunan tua. Ia adalah ruang yang menyimpan memori kolektif tentang perjalanan dakwah, pendidikan Islam, dan kebersamaan masyarakat dari masa ke masa. (*)

Penulis :
FIRNAS MUTTAQIN



Ketua MUI Kota Pasuruan Ajak Perkuat Persatuan dalam Sarasehan Kebangsaan


Pasuruan – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Pasuruan, Dr. KH. Abdullah Shodiq, M.Pd, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat persatuan dan menjaga kerukunan dalam kehidupan berbangsa. Ajakan tersebut disampaikan saat membuka Sarasehan Kebangsaan yang diselenggarakan MUI Kota Pasuruan di Hotel Daroessalam, Sabtu (4/7/2026).

Dalam sambutannya, KH. Abdullah Shodiq menegaskan bahwa Islam mengajarkan nilai-nilai kerja sama, kemanfaatan, dan pengelolaan amanah demi kesejahteraan bersama. Ia mencontohkan kisah pada masa Rasulullah SAW tentang pengelolaan lahan dengan sistem bagi hasil sebagai ilustrasi pentingnya membangun kemitraan yang saling menguntungkan.

Selain itu, ia mengajak peserta untuk menjadikan keberagaman sebagai kekuatan bangsa. Menurutnya, Indonesia yang terdiri atas berbagai agama, organisasi, dan latar belakang masyarakat membutuhkan nilai-nilai bersama yang mampu mempersatukan seluruh komponen bangsa.

Dalam penyampaiannya, KH. Abdullah Shodiq menggunakan analogi bahan-bahan makanan untuk menggambarkan pentingnya mencari titik temu dalam kehidupan bermasyarakat. Ia menekankan bahwa semangat kebersamaan harus lebih dikedepankan daripada mempertajam perbedaan.

Ia juga menegaskan bahwa Pancasila merupakan konsensus kebangsaan yang menjadi perekat kehidupan masyarakat Indonesia. Karena itu, seluruh elemen bangsa diharapkan terus menjaga persaudaraan, memperkuat harmoni sosial, dan membangun kehidupan yang damai di tengah keberagaman.

Menurutnya, pengalaman Indonesia dalam menjaga kerukunan antarumat beragama juga menjadi perhatian berbagai kalangan, termasuk akademisi dari luar negeri yang menilai kehidupan masyarakat Indonesia sebagai contoh praktik toleransi dalam masyarakat majemuk.

Menutup sambutannya, KH. Abdullah Shodiq mengajak seluruh peserta Sarasehan Kebangsaan untuk terus merawat persatuan dan berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia yang damai, harmonis, serta berlandaskan nilai-nilai kebangsaan dan keagamaan.

Sarasehan Kebangsaan yang merupakan bagian dari program kerja MUI Kota Pasuruan Tahun 2026 tersebut dihadiri para tokoh agama, akademisi, organisasi kemasyarakatan, serta berbagai unsur masyarakat sebagai wadah memperkuat wawasan kebangsaan dan mempererat silaturahmi. (*)

FIRNAS MUTTAQIN

Friday, June 26, 2026

Hijrah dan Dakwah Menjadi Tema Pengajian Ahad Pagi di Masjid Al Ukhuwah Sekarsono

Pasuruan, 21 Juni 2026 – Pengajian Ahad Pagi yang berlangsung di Masjid Al Ukhuwah, Sekarsono, Kota Pasuruan, menghadirkan Ustadz M. Farihin sebagai pemateri. Dalam kajiannya, ia mengajak jamaah mengambil hikmah dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW serta memahami pentingnya dakwah yang dilakukan dengan hikmah dan keteladanan.

Ustadz Farihin mengawali ceramahnya dengan mengingatkan bahwa umat Islam baru saja memasuki Tahun Baru Hijriah 1448. Ia menjelaskan bahwa penanggalan Hijriah ditetapkan berdasarkan peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah, sebuah momentum penting dalam sejarah Islam yang menandai perubahan besar dalam perjuangan dakwah.

Menurutnya, hijrah tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan tempat, tetapi juga sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Rasulullah SAW sebelum menerima wahyu sering melakukan khalwat atau menyendiri di Gua Hira untuk beribadah dan merenungkan kehidupan.

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Farihin juga mengulas turunnya wahyu pertama, Surah Al-'Alaq ayat 1-5, yang diawali dengan perintah “Iqra” atau membaca. Ia menegaskan bahwa perintah membaca tidak hanya dimaknai secara tekstual terhadap tulisan, tetapi juga secara kontekstual dengan membaca fenomena dan realitas kehidupan di sekitar manusia.

“Seorang muslim harus mampu membaca dua hal sekaligus, yaitu teks dan konteks. Apa yang terjadi di lingkungan sekitar juga merupakan pelajaran yang harus dipahami,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa setelah turunnya wahyu kedua dalam Surah Al-Muddatstsir, Nabi Muhammad SAW mulai diperintahkan untuk berdakwah. Pada tahap awal, dakwah dilakukan secara sembunyi-sembunyi karena jumlah pengikut yang masih sedikit. Fokus utama dakwah saat itu adalah penguatan tauhid dan keimanan para sahabat.

Ustadz Farihin menekankan bahwa dakwah merupakan kewajiban setiap muslim. Namun, dakwah harus dimulai dari diri sendiri dengan menjadi teladan dalam menjalankan ajaran Islam.

“Jangan sampai seperti lilin yang menerangi orang lain tetapi dirinya sendiri terbakar. Sebelum mengajak orang lain, kita harus terlebih dahulu melaksanakan apa yang kita sampaikan,” katanya.

Ia kemudian mengutip Surah At-Tahrim ayat 6 yang memerintahkan orang-orang beriman untuk menjaga diri dan keluarganya dari api neraka. Menurutnya, tanggung jawab seorang muslim tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi juga terhadap keluarga yang dipimpinnya.

Dalam menyampaikan dakwah, Ustadz Farihin mengingatkan pentingnya mengikuti tuntunan Al-Qur'an sebagaimana tercantum dalam Surah An-Nahl ayat 125, yaitu berdakwah dengan hikmah, nasihat yang baik, dan dialog yang santun.

“Dakwah tidak boleh dilakukan dengan kata-kata kasar atau bertujuan menjatuhkan orang lain. Diskusi dalam Islam bertujuan mencari solusi, bukan mencari kemenangan,” tegasnya.

Selain membahas dakwah, ia juga mengingatkan pentingnya perhatian orang tua terhadap pendidikan generasi penerus. Mengutip Surah An-Nisa ayat 9 dan nasihat Luqman kepada anaknya, Ustadz Farihin menegaskan bahwa pendidikan tauhid harus menjadi prioritas utama dalam keluarga.

Menurutnya, perkembangan teknologi dan penggunaan gawai oleh anak-anak harus mendapat pengawasan yang serius dari orang tua agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap perkembangan akhlak dan keimanan mereka.

Menutup kajiannya, Ustadz Farihin mengajak jamaah untuk menjadikan momentum Tahun Baru Hijriah sebagai sarana evaluasi diri, memperkuat keimanan, meningkatkan kualitas dakwah, serta membangun keluarga yang berlandaskan nilai-nilai Islam. (*)

Umat Islam Harus Mandiri, Berpegang Teguh pada Petunjuk Allah dan Menegakkan Keadilan

Pasuruan – Pengajian rutin Kamis malam Jumat yang berlangsung di Masjid At-Taqwa, Jagalan, Kota Pasuruan, Kamis (25/6/2026), menghadirkan Ustadz Umar Efendi sebagai penceramah. Dalam kajiannya, beliau mengupas berbagai pelajaran dari Al-Qur'an dan sejarah para nabi, mulai dari kepedulian sosial, pentingnya mengikuti petunjuk Allah, hingga penegakan hukum dan keadilan dalam Islam.

Di hadapan jamaah, Ustadz Umar menekankan bahwa Islam tidak hanya mengajarkan memberi bantuan kepada fakir miskin, tetapi juga membangun kemandirian mereka agar mampu bangkit dari kesulitan hidup.

Beliau mengisahkan teladan Rasulullah SAW yang tidak sekadar memberikan bantuan sesaat kepada orang miskin, melainkan mendorong mereka untuk bekerja dan berdikari. Menurutnya, umat Islam harus memiliki semangat membangun kekuatan mental sehingga tidak selalu bergantung kepada orang lain.

“Islam mengajarkan kepedulian sosial sekaligus pemberdayaan. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, namun yang lebih penting adalah membantu saudara kita agar mampu mandiri,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Umar juga mengulas firman Allah dalam Surah Al-Baqarah mengenai Nabi Adam AS. Setelah diturunkan ke bumi, Allah memberikan petunjuk sebagai pedoman hidup manusia. Siapa yang mengikuti petunjuk Allah tidak akan diliputi rasa takut dan kesedihan, sedangkan mereka yang mendustakan ayat-ayat-Nya akan mendapat balasan sesuai amal perbuatannya.

Menurutnya, ketenangan hidup sejati lahir dari ketaatan kepada Allah dan kesediaan menjadikan wahyu sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.

Selain itu, beliau mengingatkan jamaah agar berhati-hati terhadap berbagai bentuk penyimpangan akidah sebagaimana yang pernah terjadi pada Bani Israil. Ustadz Umar mencontohkan peristiwa penyembahan anak sapi yang dipimpin Samiri ketika Nabi Musa AS meninggalkan kaumnya untuk menerima wahyu.

“Sejarah dalam Al-Qur'an bukan sekadar kisah masa lalu, tetapi pelajaran agar umat tidak mudah terpengaruh oleh kesesatan dan tetap menjaga kemurnian tauhid,” jelasnya.

Dalam pembahasannya mengenai hukum Islam, Ustadz Umar menyoroti bahwa syariat selalu ditegakkan dengan prinsip keadilan, pembuktian yang jelas, dan kehati-hatian. Ia mencontohkan beberapa peristiwa pada masa Rasulullah SAW yang menunjukkan bahwa hukuman tidak dijatuhkan secara tergesa-gesa tanpa bukti yang kuat.

Beliau menjelaskan bahwa Rasulullah SAW selalu mengedepankan proses verifikasi, memberikan kesempatan bertaubat, serta mempertimbangkan berbagai aspek sebelum menjatuhkan keputusan hukum.

Di akhir pengajian, Ustadz Umar mengajak jamaah untuk terus memperkuat iman, mempelajari Al-Qur'an, dan meneladani para nabi dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Menurutnya, keselamatan hidup di dunia dan akhirat hanya dapat diraih dengan mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya secara konsisten.

Pengajian yang berlangsung hingga malam hari tersebut diikuti dengan antusias oleh jamaah Masjid At-Taqwa Jagalan. Para peserta menyimak berbagai penjelasan yang menghubungkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan realitas kehidupan umat Islam masa kini.Semoga dapat menjadi dokumentasi kegiatan pengajian dan bahan publikasi untuk media masjid atau grup jamaah. (*)

Firnas Muttaqin

Sunday, June 21, 2026

NGOPI Perdana di Masjid Al Ukhuwah Dorong Kolaborasi Pemuda Muhammadiyah Kota Pasuruan


Pasuruan, 20 Juni 2026 – Masjid Al Ukhuwah Sekarsono, Kota Pasuruan, menjadi tuan rumah kegiatan NGOPI (Ngobrol Perkara Iman) yang mempertemukan berbagai unsur organisasi otonom (Ortom), Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), dan komunitas pemuda Muhammadiyah di Kota Pasuruan, Sabtu (20/6/2026) malam.

Kegiatan yang dikemas secara santai namun produktif ini bertujuan membangun sinergi antarorganisasi sekaligus mencari solusi atas rendahnya keterlibatan generasi muda dalam kegiatan masjid dan dakwah persyarikatan.

Dalam sambutannya, Bapak Nurruddin mewakili Takmir Masjid Al Ukhuwah menyampaikan apresiasi kepada PASMU dan seluruh pihak yang telah menggagas forum tersebut. Menurutnya, kegiatan NGOPI merupakan langkah positif untuk memperkuat kolaborasi antar-Ortom dan AUM Muhammadiyah di Kota Pasuruan.

"Harapannya forum ini menjadi ruang bersama untuk saling bertukar gagasan, berkolaborasi, dan melahirkan program-program yang dapat menggerakkan anak muda Muhammadiyah," ujarnya.

Pada kesempatan itu, Nurruddin juga memaparkan perkembangan Masjid Al Ukhuwah yang berawal dari sebuah musala kecil pada tahun 2010 hingga berkembang menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial masyarakat. Berbagai program telah dijalankan, mulai dari kajian rutin, kegiatan ibu-ibu, gowes jamaah, bakti sosial, pengelolaan media sosial masjid, hingga kegiatan Ramadhan yang melibatkan generasi muda.

Membangun Basis Data Kader

Salah satu agenda penting dalam NGOPI Perdana adalah pengumpulan data potensi kader melalui sistem registrasi digital. Data tersebut nantinya akan digunakan untuk memetakan kemampuan dan minat peserta, mulai dari bidang penulisan, fotografi, desain grafis, media sosial, public speaking, hingga pengelolaan kegiatan.

Dengan pemetaan tersebut, Muhammadiyah Kota Pasuruan diharapkan memiliki basis data sumber daya manusia yang dapat diberdayakan untuk mendukung berbagai program dakwah, sosial, dan pendidikan.

"Kita ingin mengetahui siapa yang memiliki kemampuan menjadi konten kreator, fotografer, penulis, MC, maupun desainer grafis. Setelah terpetakan, mereka bisa dilibatkan dalam program-program bersama," jelas panitia.

Fokus pada Kolaborasi AUM dan Ortom

Dalam sesi pemaparan, panitia memperkenalkan rekomendasi program kerja 90 hari yang disusun berdasarkan hasil survei dan diskusi awal. Program tersebut meliputi pembentukan Forum Komunikasi AUM-Ortom, pembentukan Tim Media Sosial, penyelenggaraan diskusi pemuda secara rutin, produksi konten digital, hingga pelaksanaan kajian inspiratif yang melibatkan relawan muda.

Dari sejumlah program yang dirancang, forum menetapkan "Ngopi dan Diskusi Pemuda serta Pembentukan Tim Media Sosial AUM" sebagai program prioritas (quick win) yang dinilai paling memungkinkan untuk segera diwujudkan.

Menurut panitia, keberadaan tim media sosial lintas organisasi menjadi kebutuhan penting di era digital untuk memperkuat publikasi kegiatan Muhammadiyah dan meningkatkan keterlibatan generasi muda.

Menjadi Titik Awal Gerakan Bersama

Selain sesi diskusi dan brainstorming, acara juga diselingi dengan ice breaking dan dialog bersama peserta dari berbagai unsur organisasi seperti Pemuda Muhammadiyah, IMM, IPM, Nasyiatul Aisyiyah, IGABA, serta perwakilan AUM lainnya.

Peserta menyambut positif kegiatan tersebut dan berharap NGOPI dapat menjadi agenda rutin bulanan yang menghasilkan program nyata, bukan sekadar forum diskusi.

Melalui kegiatan ini, para peserta berkomitmen memperkuat kolaborasi antar-Ortom dan AUM Muhammadiyah di Kota Pasuruan guna menghadirkan gerakan dakwah yang lebih kreatif, inklusif, dan dekat dengan generasi muda.

"NGOPI bukan sekadar ngobrol perkara iman, tetapi juga menjadi ruang merumuskan langkah bersama untuk membangun gerakan dakwah yang lebih kuat dan relevan dengan kebutuhan generasi muda," demikian semangat yang mengemuka dalam forum perdana tersebut. (*)


Liputan oleh:
FIRNAS MUTTAQIN 
PasMu

Thursday, June 11, 2026

Baiat Aqabah I dan II: Titik Balik Sejarah Dakwah Islam


Di antara peristiwa paling penting dalam sejarah Islam sebelum hijrah adalah Baiat Aqabah I dan Baiat Aqabah II. Peristiwa ini bukan sekadar pertemuan rahasia antara Nabi Muhammad ﷺ dan sekelompok penduduk Yatsrib (Madinah), tetapi merupakan titik balik yang mengubah arah perjalanan dakwah Islam dari fase bertahan menghadapi tekanan menjadi fase pembangunan masyarakat dan peradaban.

Latar Belakang: Dakwah di Makkah Menghadapi Jalan Terjal

Selama lebih dari sepuluh tahun berdakwah di Makkah, Rasulullah ﷺ dan para sahabat menghadapi berbagai bentuk penolakan, intimidasi, pemboikotan, hingga penyiksaan dari kaum Quraisy. Situasi semakin berat setelah wafatnya paman beliau, Abu Thalib, dan istri tercinta beliau, Khadijah binti Khuwailid. Tahun tersebut dikenal sebagai Amul Huzn (Tahun Kesedihan).

Di sisi lain, di Yatsrib terdapat dua suku besar, Aus dan Khazraj, yang telah lama terlibat konflik dan peperangan. Mereka mendambakan hadirnya seorang pemimpin yang mampu mendamaikan perselisihan yang berkepanjangan. Selain itu, keberadaan komunitas Yahudi di Yatsrib yang sering berbicara tentang kedatangan nabi akhir zaman membuat sebagian penduduk Yatsrib lebih terbuka terhadap dakwah Islam.

Pada musim haji tahun ke-11 kenabian, enam orang dari Yatsrib bertemu Rasulullah ﷺ di Makkah. Mereka menerima Islam dan berjanji menyampaikan ajaran tersebut kepada masyarakat di kampung halaman mereka. Dari sinilah benih-benih perubahan mulai tumbuh.

Baiat Aqabah I: Fondasi Akidah dan Akhlak

Setahun kemudian, pada tahun ke-12 kenabian (621 M), dua belas orang Muslim dari Yatsrib datang menemui Rasulullah ﷺ di Aqabah. Mereka mengadakan baiat pertama yang dikenal sebagai Baiat Aqabah I.

Isi baiat ini berfokus pada pembinaan keimanan dan akhlak. Mereka berjanji untuk tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak, tidak berdusta, dan tidak mendurhakai Rasulullah ﷺ dalam perkara yang baik.

Ubadah bin Shamit r.a. meriwayatkan:

> "Kami berbaiat kepada Rasulullah ﷺ untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kami, tidak membuat dusta yang kami ada-adakan antara tangan dan kaki kami, dan tidak mendurhakai beliau dalam perkara yang baik."

(HR. Sahih Bukhari dan Sahih Muslim)

Isi baiat ini sejalan dengan nilai-nilai yang ditegaskan dalam Al-Qur'an:

> "Katakanlah: Marilah kubacakan apa yang diharamkan Tuhanmu kepadamu, yaitu janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia..."

(QS. Al-An'am: 151)

Juga memiliki kemiripan dengan baiat yang disebutkan dalam:

> "Wahai Nabi! Apabila perempuan-perempuan mukmin datang kepadamu untuk mengadakan baiat..."

(QS. Al-Mumtahanah: 12)

Baiat Aqabah I dapat dipandang sebagai tahap pembinaan dan kaderisasi. Rasulullah ﷺ belum meminta komitmen perlindungan fisik atau politik, tetapi terlebih dahulu membangun fondasi tauhid, moralitas, dan ketaatan.

Setelah baiat ini, Rasulullah ﷺ mengutus Mus'ab bin Umair ke Yatsrib sebagai guru dan da'i. Dalam waktu singkat, dakwah Islam berkembang pesat. Tokoh-tokoh penting seperti Sa'ad bin Mu'adz dan Usaid bin Hudhair masuk Islam, sehingga hampir tidak ada rumah di Yatsrib yang tidak mengenal ajaran Islam.

Baiat Aqabah II: Komitmen Perjuangan dan Perlindungan

Keberhasilan dakwah Mus'ab bin Umair membuat jumlah Muslim di Yatsrib bertambah signifikan. Mereka menyadari bahwa Rasulullah ﷺ dan kaum Muslimin di Makkah memerlukan tempat yang aman untuk melanjutkan perjuangan.

Pada musim haji tahun berikutnya, tahun ke-13 kenabian (622 M), sebanyak 73 laki-laki dan 2 perempuan dari Yatsrib bertemu Rasulullah ﷺ secara rahasia di Aqabah. Pertemuan ini melahirkan Baiat Aqabah II.

Berbeda dengan baiat pertama, baiat kedua memuat komitmen yang jauh lebih besar. Mereka berjanji untuk menaati Rasulullah ﷺ, berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit, menegakkan amar makruf nahi mungkar, menyampaikan kebenaran tanpa takut celaan, dan melindungi Rasulullah ﷺ sebagaimana mereka melindungi keluarga mereka sendiri.

Dalam riwayat Ka'ab bin Malik r.a. disebutkan:

> "Kami berbaiat kepada Rasulullah ﷺ untuk mendengar dan taat dalam keadaan semangat maupun malas, berinfak dalam keadaan sulit maupun mudah, menegakkan amar makruf nahi mungkar, mengatakan kebenaran karena Allah dan tidak takut celaan orang yang mencela, serta menolong Rasulullah apabila beliau datang ke Madinah sebagaimana kami melindungi keluarga dan anak-anak kami."

(HR. Musnad Ahmad)

Ketika para peserta baiat bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang balasan dari komitmen besar tersebut, beliau menjawab dengan singkat:

> "Al-Jannah (Surga)."

Baiat Aqabah II pada hakikatnya adalah perjanjian perlindungan dan dukungan penuh terhadap dakwah Islam. Inilah yang membuka jalan bagi hijrah Rasulullah ﷺ dan para sahabat ke Madinah.

Ayat-Ayat Al-Qur'an yang Mengabadikan Semangat Baiat

Meskipun tidak terdapat ayat yang secara eksplisit menyebut Baiat Aqabah I dan II saat peristiwa itu berlangsung, banyak ayat Al-Qur'an yang menggambarkan makna dan buah dari peristiwa tersebut.

Tentang pengorbanan kaum beriman:

> "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka..."

(QS. At-Taubah: 111)

Tentang kemuliaan kaum Anshar yang menerima dan melindungi kaum Muhajirin:

> "Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum kedatangan mereka, mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka..."

(QS. Al-Hasyr: 9)

Tentang persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar:

> "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, berhijrah dan berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan..."

(QS. Al-Anfal: 72)

Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa baiat bukan sekadar janji lisan, melainkan komitmen pengorbanan jiwa, harta, dan seluruh potensi untuk menegakkan agama Allah.

Pelajaran Sejarah dari Baiat Aqabah

Baiat Aqabah mengajarkan bahwa perubahan besar tidak terjadi secara instan. Rasulullah ﷺ terlebih dahulu membangun manusia sebelum membangun masyarakat.

Baiat Aqabah I menunjukkan pentingnya pembinaan akidah, karakter, dan kualitas kader. Sebelum berbicara tentang kekuatan politik atau sosial, umat harus memiliki fondasi iman yang kokoh.

Baiat Aqabah II menunjukkan bahwa iman harus diwujudkan dalam keberanian berkorban, persatuan, tanggung jawab sosial, dan komitmen terhadap perjuangan bersama.

Peristiwa ini juga mengajarkan bahwa kemenangan dakwah membutuhkan tiga hal utama: kualitas manusia yang baik, persatuan yang kuat, dan kesiapan berkorban demi tujuan yang lebih besar. Aus dan Khazraj yang sebelumnya bermusuhan mampu dipersatukan oleh Islam dan kemudian dikenal sebagai kaum Anshar, penolong agama Allah.

Penutup

Baiat Aqabah I dan II merupakan salah satu titik balik terbesar dalam sejarah Islam. Dari sebuah pertemuan rahasia di malam hari lahirlah fondasi bagi hijrah, persaudaraan Muhajirin dan Anshar, serta berdirinya masyarakat Islam pertama di Madinah.

Baiat Aqabah I mengajarkan pentingnya membangun akidah dan akhlak, sedangkan Baiat Aqabah II mengajarkan pentingnya komitmen perjuangan dan pengorbanan. Keduanya menunjukkan metode dakwah Rasulullah ﷺ yang sangat sistematis: membangun manusia terlebih dahulu, kemudian membangun masyarakat, dan akhirnya melahirkan peradaban yang membawa rahmat bagi seluruh alam. (*)

Sunday, June 07, 2026

Meneguhkan Dakwah Kemanusiaan, Milad ke-109 'Aisyiyah Gadingrejo Gaungkan Perdamaian dari Lingkungan Keluarga

Ketua PCA Gadingrejo Hj. Indria Mawaddah, S.Ag.

Pasuruan – Suasana khidmat dan penuh semangat mewarnai peringatan Milad ke-109 'Aisyiyah yang diselenggarakan Pimpinan Cabang 'Aisyiyah (PCA) Gadingrejo, Kota Pasuruan, Ahad (7/6/2026) atau bertepatan dengan 21 Dzulhijjah 1447 H. Kegiatan yang berlangsung di Perumahan Gading Permai, Kelurahan Gadingrejo tersebut menjadi momentum memperkuat komitmen dakwah kemanusiaan dan perdamaian di tengah masyarakat.

Mengusung tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian”, acara ini dihadiri berbagai tokoh dan unsur masyarakat. Hadir di antaranya Hj. Fitri Ismarida Nawawi, S.H., M.H., ibunda Wakil Wali Kota Pasuruan, Ketua Pimpinan Daerah 'Aisyiyah (PDA) Kota Pasuruan Dr. Hj. Emilis Setyawati, Ketua PCA Gadingrejo Hj. Indria Mawaddah, S.Ag., perwakilan Forkopimcam Gadingrejo, pengurus PKK, tokoh masyarakat, serta para kader dan simpatisan 'Aisyiyah.

Dakwah Inklusif untuk Semua Lapisan Masyarakat

Ketua PCA Gadingrejo, Hj. Indria Mawaddah, S.Ag., menegaskan bahwa gerakan 'Aisyiyah senantiasa hadir sebagai organisasi perempuan Islam yang terbuka dan inklusif. Menurutnya, dakwah tidak hanya berbicara tentang ibadah ritual, tetapi juga menyentuh aspek sosial dan kemanusiaan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Perdamaian tidak akan terwujud secara utuh apabila di sekitar kita masih terdapat kelaparan, ketidakadilan, kebodohan, dan berbagai bentuk kekerasan. Karena itu, dakwah kemanusiaan harus diwujudkan melalui aksi nyata yang memberi manfaat bagi sesama,” ujarnya.

Ia menjelaskan, berbagai program sosial, pendidikan, keagamaan, dan pemberdayaan masyarakat yang dijalankan PCA Gadingrejo merupakan bagian dari upaya membangun perdamaian dari tingkat keluarga hingga lingkungan sekitar. Kesuksesan penyelenggaraan milad ini, lanjutnya, juga tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk Lazismu dan para donatur.

Perdamaian Global Dimulai dari Ketahanan Keluarga

Dalam sambutannya, Ketua PDA Kota Pasuruan, Dr. Hj. Emilis Setyawati, mengajak para kader untuk memahami bahwa isu perdamaian dunia memiliki dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari.

Ia mencontohkan bagaimana konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia dapat memengaruhi kondisi ekonomi masyarakat melalui kenaikan harga kebutuhan pokok. Situasi tersebut, menurutnya, harus disikapi dengan bijak dan produktif.

“Ketika terjadi gejolak global, dampaknya bisa kita rasakan sampai di dapur rumah tangga. Karena itu, kader 'Aisyiyah harus menjadi teladan dalam membangun ketahanan pangan keluarga, salah satunya dengan memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam kebutuhan sehari-hari,” tuturnya.

Melalui langkah sederhana tersebut, masyarakat diharapkan tidak mudah panik menghadapi perubahan ekonomi sekaligus mampu memperkuat kemandirian keluarga.

Keharmonisan Rumah Tangga sebagai Pondasi Perdamaian

Sementara itu, Hj. Fitri Ismarida Nawawi, S.H., M.H., menyoroti pentingnya keharmonisan keluarga sebagai fondasi utama terciptanya masyarakat yang damai.

Menurutnya, peran seorang ibu sangat besar dalam menjaga ketahanan keluarga. Karena itu, hubungan yang dibangun atas dasar saling menghormati dan menghargai antara suami dan istri menjadi kunci terciptanya suasana rumah tangga yang harmonis.

Ia mengingatkan agar setiap anggota keluarga mampu mengendalikan emosi dan menghindari konflik yang tidak perlu. Sikap saling memahami dan menghargai, katanya, akan melahirkan ketenteraman dalam keluarga yang kemudian berdampak positif bagi lingkungan sekitar.

Senam Bersama, Bazar UMKM dan Layanan Kesehatan Gratis

Selain rangkaian seremonial, peringatan Milad ke-109 'Aisyiyah juga dimeriahkan dengan senam 'Aisyiyah dan Senam Anugerah yang diikuti seluruh peserta dengan penuh antusias.

Di area kegiatan juga tersedia bazar produk kuliner dan usaha mikro yang dikelola Majelis Ekonomi 'Aisyiyah, Lazismu, serta santri Pondok Pesantren SPEAM. Tidak hanya itu, panitia turut menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan gratis yang dimanfaatkan oleh para tamu undangan dan warga yang hadir.

Melalui peringatan Milad ke-109 ini, PCA Gadingrejo kembali menegaskan bahwa dakwah kemanusiaan bukan sekadar slogan. Dakwah diwujudkan melalui langkah-langkah nyata, mulai dari membangun ketahanan keluarga, memperkuat persatuan masyarakat, hingga menumbuhkan kepedulian sosial demi terwujudnya kehidupan yang damai dan berkeadilan.

Penulis: Firnas Muttaqin

Saturday, June 06, 2026

Menempa Kedamaian dari Balik Madrasah Pertama: Catatan Milad 'Aisyiyah ke-109 di Kota Pasuruan


Di tengah riuh rendah dunia yang kerap didera konflik, sebuah pesan mendalam tentang perdamaian justru menggema dari sebuah ruang ibadah di sudut Kota Pasuruan. Sabtu pagi (6/6/2026), Masjid Al-Ukhuwah, Jl. Sekarsono, dipenuhi oleh anggota dan pengurus Aisyiyah berkemajuan. Mereka berkumpul bukan sekadar untuk merayakan angka, melainkan merefleksikan 109 tahun perjalanan Pimpinan Cabang 'Aisyiyah (PCA) Purworejo dalam merawat kemanusiaan.

Mengusung tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan Untuk Mewujudkan Perdamaian Melalui Pendidikan”, acara ini dikemas dalam bentuk talk show yang menghadirkan sudut pandang tajam dari para praktisi dan pimpinan organisasi.

Benteng Perempuan di Tengah Badai Domestik

Ketua Pimpinan Daerah 'Aisyiyah (PDA) Kota Pasuruan, Hj. Drh. Emilis Setyawati, membuka diskusi dengan sebuah refleksi yang membumi. Baginya, usia 109 tahun adalah bukti ketahanan. Namun, ia enggan terjebak dalam romantisme angka. Emilis justru menarik perhatian hadirin pada realitas sosial yang terjadi di depan mata.

 “Konsep perdamaian dan kemanusiaan itu tidak muluk-muluk. Ia dimulai dari rumah,” ujar Emilis.

Ia menceritakan bagaimana dinamika konflik domestik yang kerap berakhir di Pengadilan Agama menjadi bukti bahwa kedamaian di tingkat keluarga sedang rapuh. Jika rasa kemanusiaan di dalam rumah tangga tidak dirawat, maka keretakan sosial yang lebih besar tinggal menunggu waktu. Dalam konteks inilah, Emilis menegaskan posisi vital kaum hawa.

"Pendidikan adalah senjata sekaligus benteng yang paling kuat bagi seorang perempuan," tegasnya, disambut anggukan takzim para peserta.


Keteladan yang Melintasi Batas Egoisme

Menyambung fondasi yang diletakkan Emilis, Dr. Dies Nurhayati, M.Pd., seorang praktisi pendidikan sekaligus dosen Universitas Wira Negara (UNIWARA), mengupas tuntas bagaimana pendidikan harus diimplementasikan. Mengutip Al-Qur'an Surat Al-Anbiya ayat 107 tentang misi melahirkan rahmat bagi semesta alam (*rahmatan lil 'alamin*), Dies mengingatkan bahwa setiap ibu adalah *madrasatul ula*—sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya.

Dr. Dies Nurhayati: Tiga Pilar Pendidikan Keluarga 

1. Uswah Hasanah (Keteladanan Nyata): Anak adalah peniru ulung. Menasihati anak untuk salat harus dimulai dari kedisiplinan orang tua mengambil air wudu tepat waktu dengan pakaian terbaik. 

2. Pengendalian Emosi: Ucapan seorang ibu adalah doa. Diperlukan kemampuan "mengerem amarah" saat menghadapi dinamika psikologis anak, termasuk kecemburuan antarsaudara. 

3. Kepedulian Sosial Kolektif: Berhenti menggunakan prinsip "anakku urusanku, anakmu urusanmu". Karakter lingkungan sekitar akan menentukan masa depan anak kita sendiri.

Dies menekankan pentingnya mendobrak sifat egois individual dalam mendidik anak. "Kita tidak bisa menutup mata dari anak-anak tetangga. Mengapa? Karena kelak saat anak kita dewasa dan masuk ke dunia kerja, mereka akan hidup berdampingan dengan anak-anak yang tumbuh di sekitar mereka hari ini. Jika kita ingin masa depan yang aman, kita harus peduli pada karakter anak-anak di lingkungan kita secara keseluruhan," jelasnya panjang lebar.

---

Pendidikan Anak Usia Dini sebagai Akar

Hadir pula memberikan warna dalam diskusi tersebut, Khariri Daulah, S.Pd., selaku Kepala TK/KB ABA 6. Sebagai sosok yang berdiri di garda terdepan pendidikan anak usia dini, kehadirannya memperkuat argumen bahwa penanaman nilai-nilai perdamaian, toleransi, dan kemanusiaan harus dimulai sejak tunas paling awal tumbuh.

Melalui momentum Milad ke-109 ini, 'Aisyiyah Purworejo Kota Pasuruan kembali menegaskan khitahnya. Bahwa dakwah kemanusiaan bukanlah narasi politik di panggung-panggung besar dunia. Ia adalah bentangan sajadah tempat ibu mendoakan anaknya, keteladan sikap di meja makan, dan ketulusan mengulurkan tangan memperbaiki moral anak-anak di lingkungan sekitar. Dari sanalah, perdamaian yang sesungguhnya sedang ditenun. (*)

Penulis: Firnas Muttaqin 

---

Thursday, May 28, 2026

Umat Islam Diajak Kritis dalam Memahami Hadits di Pengajian Kamis Malam Masjid At-Taqwa Jagalan


Pengajian rutin Kamis Malam Jum'at di Masjid At-Taqwa Jagalan (28/5/2026) menghadirkan suasana diskusi ilmiah yang mendalam. Mengangkat tema pentingnya literasi dan sikap kritis dalam memahami hadits, acara ini dipandu oleh pemateri Ustadz Muhammad Iqbal Abdullah Anwar.

Dalam ceramahnya, Muhammad Iqbal menekankan bahwa semangat berhijrah dan kembali ke jalan Allah yang tengah marak di kalangan masyarakat harus diimbangi dengan literasi agama yang kuat. Menurutnya, menyampaikan sebuah ayat atau hadits kepada orang lain memerlukan proses verifikasi yang ketat agar tidak asal-asalan.

Pentingnya Metode *Mahfudz* dan *Makbul* dalam Tarjih

Beliau menjelaskan bahwa di dalam Muhammadiyah terdapat proses yang disebut *Tajdid* (pemurnian/pembaharuan). Salah satu cirinya adalah tidak terburu-buru mengklaim sebuah hadis hanya karena berstatus sahih secara sanad.

> "Hadis yang sudah sahih di tingkat sanad (*mahfudz*), harus dibenturkan lagi dan melewati tahapan verifikasi terakhir, yaitu konfirmasi dengan Al-Qur'an agar mencapai tingkat kemakbulan (*makbul*). Jika ada suatu narasi hadits yang bertentangan, tidak mungkin dua-duanya benar," ujar Muhammad Iqbal.

Ia juga memaparkan langkah awal dalam meneliti suatu perkara hukum melalui metode *collecting* (pengumpulan hadis), serta memisahkan wilayah hukum antara ibadah dan muamalah. Dalam urusan ibadah, kaidah dasarnya adalah dilarang (haram) kecuali ada contoh yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ. Sebaliknya, dalam urusan muamalah, segala sesuatu diperbolehkan selama tidak ada dalil yang melarangnya.

Kritis Terhadap "Hadits Penyusup" dan Ritual Baru

Lebih lanjut, Muhammad Iqbal juga mengingatkan jama'ah agar waspada terhadap maraknya tren kreativitas berlebih dalam beribadah belakangan ini, seperti membuat-buat teks doa baru atau menentukan hitungan dzikir tertentu (hingga ratusan atau ribuan kali) yang tidak memiliki tuntunan jelas. Beliau mensinyalir hal tersebut menyerupai pola perang pemikiran (*ghozwul fikri*) sejarah masa lalu—seperti pasca-Perang Qadisiyah—yang sengaja memproduksi narasi tertentu untuk melalaikan umat Islam dari kewajiban penting lainnya, seperti menuntut ilmu dan bermuamalah.

"Kalau tuntunan Al-Qur'an itu *dzikron katsiro*, zikir sebanyak-banyaknya tanpa batasan angka. Sementara yang menggunakan angka spesifik, kita ikuti apa yang sahih dari Rasulullah setelah shalat, yaitu 33 kali," tambahnya.

Diskusi Interaktif Bersama Jamaah

Acara yang berlangsung hangat ini juga membuka sesi tanya jawab dan koreksi. Salah seorang jamaah sempat memberikan tanggapan mengenai kebolehan berdoa menggunakan bahasa Arab. 

Jama'ah tadi meluruskan bahwa berdoa dengan bahasa Arab atau bahasa sehari-hari secara pribadi hukumnya sangat diperbolehkan dan baik, asalkan ditujukan langsung kepada Allah ﷻ dan tidak dijadikan sebuah templat ritual baru yang seolah-olah bersumber dari Nabi, padahal tidak ada riwayatnya.

Melalui pengajian ini, jamaah Masjid At-Taqwa Jagalan diharapkan dapat terus membangun wawasan yang besar, tidak mudah terombang-ambing oleh potongan informasi di media sosial, serta lebih teliti dan bijak dalam mempelajari sumber-sumber hukum Islam. (*) 

Firnas Muttaqin