Saturday, July 19, 2025

Mendalami Islam: Wawasan Annemarie Schimmel tentang Dimensi Mistis dan Konsep Dasar Agama


Penulis: Firnas Muttaqin 
Sabtu, 19 Juli 2025

Berlin, Jerman – Sebuah diskusi mendalam tentang Islam dan kontribusinya terhadap peradaban disajikan dalam sebuah forum, dengan pembicara utama almarhumah **Profesor Dr. Annemarie Schimmel**. Tokoh orientalis terkemuka Jerman ini dikenal luas karena studinya yang mendalam tentang Islam, menyoroti dimensi mistis, kekayaan linguistik, dan relevansi historisnya. Ceramah ini, yang disajikan secara lisan dan kemudian disalin, memberikan pandangan unik tentang pemahaman Islam dari seorang sarjana Barat yang sangat dihormati.

---

*Profil Akademik Annemarie Schimmel: Jejak Karier yang Mengesankan*

Annemarie Schimmel, seorang cendekiawan ulung, memulai perjalanan akademiknya dengan promosi (doktor) di Berlin pada usia belum genap 20 tahun. Disertasinya membahas posisi khalifah dan qadi dalam Mesir Mamluk. Empat tahun kemudian, ia meraih habilitasi di Marburg dengan disertasi tentang struktur militer Mamluk akhir. Pada tahun 1951, ia kembali meraih gelar doktor ketiga dalam Sejarah Agama dari Universitas Tübingen, dengan studi tentang konsep cinta mistis dalam mistisisme Islam awal.

Karier profesionalnya mencakup:
* *Profesor di Marburg*.
* *Lima tahun mengajar di Fakultas Teologi Islam Universitas Ankara*, memberikan kuliah dalam bahasa Turki.
* *Profesor Arabistik dan Ilmu Islam di Bonn* (1967).
* *Profesor di Harvard University* (1967), memegang jabatan *Harvard University's Chair for Indo-Muslim Cultures* sejak 1970. Ia adalah wanita kedua di Fakultas Seni dan Sains Harvard yang mencapai posisi ini.
* Sejak 1981, ia menjadi *Special Consultant untuk Kaligrafi Islam di Metropolitan Museum*, terlibat dalam konsepsi pameran yang diakui dunia.
* Pada tahun 1990, ia diangkat sebagai *Profesor Honoris Causa di Universitas Bonn*.
* Pada tahun 1995, ia menerima *Friedenspreis des Deutschen Buchhandels (Penghargaan Perdamaian Perdagangan Buku Jerman)*, sebuah pengakuan atas kontribusinya.

Daftar publikasi Annemarie Schimmel bukanlah sekadar daftar, melainkan sebuah "buku kecil" setebal 47 halaman, menunjukkan produktivitas dan kedalaman karyanya. Beliau dikenal bukan hanya sebagai peneliti kelas satu, tetapi juga penerjemah, bahkan penyair dalam semangat dan makna Islam. Beberapa karyanya yang menonjol meliputi: *Mystische Dimensionen des Islam* (1985), *Die Zeichen Gottes* (1995), dan *Die Welt ein Traum* (1998), di mana ia menganalisis pemahaman mimpi dan dunia mimpi umat Muslim dengan banyak contoh.

---

*Islam: Antara Persepsi Negatif dan Realitas Multidimensi*

Dalam ceramahnya, Annemarie Schimmel memulai dengan kutipan Goethe: "Jika Islam berarti penyerahan diri kepada kehendak Tuhan, maka kita semua hidup dan mati dalam Islam." Namun, ia segera menyoroti kontras antara makna spiritual ini dan persepsi modern tentang Islam.

"Jika kita membaca kata 'Islam' di pers atau melihatnya di televisi hari ini, itu biasanya dikaitkan dengan sedikit atau bahkan rasa takut yang besar," ujarnya. Ia menyayangkan banyaknya ekspresi negatif tentang agama dan budaya ini, dan menegaskan bahwa *fundamentalis militan ditolak oleh 90-95% umat Muslim.* Pengalamannya bertahun-tahun di dunia Islam dan ribuan teman Muslim memberinya pemahaman mendalam tentang bagaimana umat Muslim sejati bereaksi terhadap tindakan ekstremis.

Schimmel juga mengoreksi pandangan umum yang menyamakan Islam hanya dengan dunia Arab. *"Pada kenyataannya, Islam adalah agama dunia yang membentang dari Malaysia dan Indonesia hingga Afrika Barat, dan sebagian juga mencapai Dunia Baru di Amerika,"* jelasnya. Ia menekankan bahwa Islam adalah budaya dan agama yang tidak hanya menggunakan satu bahasa, melainkan berbagai bahasa, yang harus dipelajari untuk memahaminya.

Menganggap Islam sebagai entitas monolitik adalah kesalahan besar. "Berbicara tentang Islam yang monolitik sama saja dengan membandingkan seorang pendeta Ortodoks Yunani atau seorang petani Spanyol yang saleh dengan seorang Kristen evangelis modern di Kanada," katanya, menegaskan bahwa meskipun berasal dari akar yang sama, ekspresinya sangat beragam. Keanekaragaman ini, dengan berbagai sisi dan kekayaan nuansanya, membuat Islam sulit dipahami bagi mereka yang tidak mendalaminya, terutama yang tidak menguasai bahasa-bahasa yang relevan.

---

*Tauhid: Fondasi Tunggal Islam*

Meskipun Islam kaya akan keberagaman, Schimmel menekankan bahwa semua aspek ini adalah "sisi-sisi dari satu permata," yang pondasinya adalah **pengakuan keesaan Tuhan**. "Allah itu Esa, dan Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia," ia mengutip dari Al-Qur'an. Konsep **Tauhid** ini, keesaan absolut dan kekuasaan Tuhan, membentuk pusat Islam.

---

*Sejarah Singkat Penyebaran Islam dan Peran Sufi*

Schimmel melanjutkan dengan meninjau sejarah singkat Islam:
* Nabi Muhammad, lahir sekitar tahun 570 M di Mekah, menerima wahyu pada usia sekitar 40 tahun, yang menekankan keesaan Tuhan, iman kepada Hari Kiamat, dan kepedulian sosial terhadap kaum miskin.
* Setelah hijrah ke Madinah, wahyu menjadi lebih konkret dalam konteks politik dan ekonomi, dan Madinah menjadi salah satu dokumentasi awal pemerintahan kota berbasis agama.
* Saat wafat pada tahun 632 M, Islam telah menyebar ke seluruh Jazirah Arab.
* Abad-abad berikutnya menyaksikan ekspansi luar biasa. Pada tahun 711 M, pasukan Muslim telah mencapai ujung dunia yang dikenal, dari Afrika Utara ke Andalusia (Gibraltar) dan juga ke Afghanistan, Asia Tengah, serta bagian selatan Pakistan.
* Ekspansi selanjutnya, terutama di India, tidak hanya karena konflik militer tetapi sebagian besar berkat aktivitas dakwah para *Sufi* (mistikus) yang muncul sejak abad ke-9.

Seratus tahun sebelumnya, sarjana Inggris *Thomas Arnold* dalam bukunya *The Preaching of Islam* telah menunjukkan bahwa di Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika, Islamisasi utamanya dilakukan oleh tarekat-tarekat Sufi. Para Sufi mengajarkan bahwa esensi Islam bukanlah pemahaman hukum yang kaku, melainkan *cinta kepada Tuhan, dan dari situ mengalir cinta kepada sesama manusia dan seluruh ciptaan.* Islam mistis ini mencapai puncaknya dalam sastra di Asia Selatan, Asia Tenggara, Tiongkok, dan wilayah lainnya.

---

*Bahasa dan Sastra dalam Tradisi Islam*

*Bahasa Arab* selalu menjadi bahasa sentral karena Al-Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab. Setiap Muslim wajib membaca salat dalam bahasa ini. Tulisan Arab berkembang pesat menjadi kaligrafi yang indah, dan sebagian besar bangsa yang menerima Islam juga mengadopsi aksara Arab. Schimmel menyoroti bahwa pemutusan dengan aksara Arab, seperti yang terjadi di Asia Tengah di bawah tekanan Soviet atau reformasi Ataturk di Turki pada 1928, merupakan "pengalihan dan meninggalkan tradisi Islam," yang menyebabkan terputusnya banyak orang dari warisan sastra klasik mereka. Resitasi Al-Qur'an dalam bahasa Arab masih dapat membawa orang pada ekstase.

Menerjemahkan Al-Qur'an ke bahasa Barat sangat sulit, tidak hanya karena kompleksitas bahasa Arab, tetapi juga karena banyak kata memiliki makna ganda dan keindahan linguistiknya tidak dapat direplikasi. Satu-satunya terjemahan Jerman yang mendekati adalah karya Friedrich Rückert.

Ketika Islam meluas, **bahasa Persia** berkembang menjadi bahasa budaya dan sastra, menjadi bahasa puisi hingga saat ini, dengan karya-karya mistik indah seperti *Mantiq at-Tayr* dan puisi ekstatis Rumi. Kebudayaan Persia kemudian sangat memengaruhi anak benua India (di mana Persia menjadi bahasa sastra dan administrasi) dan Kesultanan Utsmaniyah. Perkembangan bahasa-bahasa regional seperti Urdu, Punjabi, Sindhi, Bengali, dan lainnya di anak benua India, yang mengembangkan sastra mereka sendiri berdasarkan tradisi Islam, membentuk paralel menarik dengan perkembangan bahasa di Eropa.

Para mistikus Islam memainkan peran kunci dalam mengembangkan bahasa-bahasa rakyat menjadi media sastra, mirip dengan bagaimana tokoh-tokoh seperti Mechthild dari Magdeburg atau Meister Eckhart di Jerman mengembangkan bahasa daerah untuk tujuan khotbah. Ini karena mereka menyadari bahwa umat beriman biasa, wanita, dan pelaut, yang tidak menguasai bahasa Arab klasik, membutuhkan ajaran Islam dalam bahasa yang mereka pahami.

---

*Konsep Ketuhanan dan Kemanusiaan dalam Islam*

Schimmel mendefinisikan Islam melalui syahadat: *"Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah."*

* **Keesaan Tuhan (Tauhid):** Tuhan adalah pencipta, pemelihara alam semesta, dan Dia akan meminta pertanggungjawaban manusia di Hari Kiamat. Konsep 99 nama indah Tuhan (Asmaul Husna) menunjukkan sifat-sifat-Nya yang tak terbatas. Para filosof mencoba mendefinisikan Tuhan secara filosofis, sementara para mistikus menyadari bahwa Tuhan tidak dapat dijelaskan sepenuhnya; Dia adalah Kebenaran Absolut, Sang Maha Ada, dan Sang Maha Berkehendak.
* **Hubungan Tuhan dan Dunia:** Filsuf memandang dunia sebagai abadi bersama Tuhan, sementara mistikus seperti **Ibnu Arabi** (w. 1240) menjelaskan penciptaan melalui metafora "napas yang tertahan" yang tiba-tiba meledak, mencerminkan nama-nama Tuhan ke "ketidakadaan" yang kemudian menjadi cermin dan dunia. Ini bukan panteisme, melainkan cerminan kualitas Ilahi.
* **Cinta Ilahi:** Konsep cinta murni kepada Tuhan diperkenalkan oleh seorang wanita, **Rabi'ah al-Adawiyah** (w. 801), seorang asketik dari Basra. Kisahnya yang terkenal membawa obor ke surga dan menuangkan air ke neraka untuk menghilangkan tirai ketakutan dan harapan, agar orang menyembah Tuhan semata-mata karena keindahan abadi-Nya, menjadi fondasi mistisisme Islam. Kisah ini bahkan sampai ke Eropa dan tercermin dalam sastra mistik Eropa.
* **Tiga Tahap Jalan Spiritual:** Seorang Muslim yang saleh melalui tiga tahap: **Islam** (bentuk lahiriah), **Iman** (keyakinan batin), dan **Ihsan** (melakukan segala sesuatu seindah mungkin untuk menyenangkan Tuhan, karena tahu Dia mengamati setiap gerakan dan pikiran).

---

*Peran Nabi Muhammad dan Para Nabi Lainnya*

Bagian kedua syahadat, "Muhammad adalah utusan Allah," membedakan Islam dari agama lain. Nabi Muhammad, pedagang dari Mekah, adalah **Manusia Sempurna (Al-Insan al-Kamil)** bagi umat Muslim, pembawa wahyu terakhir. Schimmel membandingkan Al-Qur'an sebagai "inkarnasi kata-kata Ilahi," serupa dengan Kristus sebagai inkarnasi Logos dalam Kristen.

Al-Qur'an menyebutkan 28 nabi, dimulai dari Nabi Adam. **Nabi Isa (Yesus)** dan ibunya, Maryam, memegang posisi yang sangat tinggi dalam Islam. Surat Maryam (Surat 19) menggambarkan konsepsi dan kelahiran Isa dalam kata-kata puitis. Mukjizat-mukjizat Isa, seperti menyembuhkan orang sakit dan menghidupkan orang mati, juga disebutkan. Bagi asketik Muslim, Isa adalah "pengembara tanpa rumah" yang hanya melihat kebaikan dan kemurnian dalam segala hal, bahkan dalam bangkai anjing. Isa, sebagai nabi besar terakhir sebelum Muhammad, dan Musa sebagai representasi hukum yang ketat, sangat penting dalam teologi Islam. Nabi Muhammad, dalam pandangan Islam, menggabungkan ketegasan Musa dan kelembutan Isa.

---

*Manusia dan Konsep Syariah*

Schimmel juga membahas posisi manusia dalam Islam. Al-Qur'an menyatakan bahwa "Kami telah memuliakan anak cucu Adam" (QS. Al-Isra: 70), namun manusia juga bisa jatuh ke tempat yang serendah-rendahnya. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang menerima amanah Tuhan, meskipun ia "bodoh dan zalim." Amanah ini ditafsirkan sebagai iman, cinta, atau wahyu. Manusia berada di antara hewan dan malaikat: lebih tinggi dari hewan namun lebih rendah dari malaikat. Namun, manusia melampaui malaikat karena memiliki kebebasan memilih antara baik dan buruk, sehingga membutuhkan petunjuk.

Terakhir, Schimmel menjelaskan konsep **Syariah**. Secara umum, Syariah dipahami sebagai hukum yang ketat. Namun, jika kembali ke makna aslinya dalam bahasa Arab, *syariah* berarti **"jalan lebar yang diinjak di padang pasir untuk menemukan sumber air."** Jika seseorang tidak mengikuti jalan ini, ia akan mati kehausan. Ini adalah metafora untuk jalan yang jelas menuju Tuhan, yang harus diikuti di bawah bimbingan guru atau wahyu ilahi.

---

*Keyakinan dan Peran Malaikat dalam Islam*

Schimmel mengakhiri ceramahnya dengan membahas elemen-elemen dari syahadat yang lebih luas (*iman-tufail*), yaitu keyakinan kepada Tuhan, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para nabi-Nya, Hari Kiamat, dan takdir.

* **Malaikat:** Memainkan peran penting. **Jibril** adalah malaikat wahyu yang membimbing semua nabi. Malaikat lain termasuk **Mikail** (pembagi rezeki), **Israfil** (peniup terompet kiamat), dan **Izrail** (malaikat maut, tidak disebutkan namanya dalam Al-Qur'an). Selain itu, ada **malaikat pencatat amal** (Kiraman Katibin) yang mencatat setiap perbuatan manusia untuk disajikan di Hari Kiamat.
* **Kitab-kitab:** Muncul sebelum nabi dalam syahadat karena mereka adalah firman ilahi yang diturunkan, sementara para nabi adalah pembawa pesan. Empat kitab yang diturunkan adalah Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Qur'an.

Ceramah Annemarie Schimmel memberikan gambaran komprehensif tentang inti ajaran Islam dari perspektif seorang sarjana Barat yang sangat menghargai dan memahami kekayaan serta kedalaman agama ini. (*)
Sumber:

https://youtu.be/d0y2ZAa2wxs?si=pmgHomAW2DYm5LBW

---

No comments: