Sunday, July 12, 2026

Ustadz Deddy Wahyudi Ajak Jamaah Makmurkan Masjid Lewat Gerakan Subuh, Syuruq, Sedekah, dan Pasar Bahagia

PASURUAN – Menghidupkan masjid tidak cukup hanya dengan memperbanyak kegiatan ibadah. Masjid juga perlu menjadi pusat kebahagiaan, silaturahmi, dan pemberdayaan ekonomi umat. Gagasan tersebut disampaikan Ustadz Deddy Wahyudi, M.M. dalam Pengajian Ahad Pagi di Masjid Darul Arqom PDM Kota Pasuruan, Ahad (12/7/2026).

Dalam kajiannya, Ustadz Deddy mengajak jamaah menjadikan waktu Subuh sebagai momentum membangun kebiasaan baik yang dilakukan secara istiqamah. Menurutnya, salat Subuh berjamaah memiliki keutamaan yang luar biasa, terlebih apabila dilanjutkan dengan berzikir hingga matahari terbit dan kemudian melaksanakan sholat Syuruq.

Ia mengutip hadis Rasulullah ﷺ yang menyebutkan bahwa orang yang melaksanakan salat Subuh berjamaah, kemudian berzikir hingga matahari terbit dan menunaikan dua rakaat salat Syuruq, akan memperoleh pahala seperti haji dan umrah yang sempurna.

"Sholat Syuruq dilakukan setelah matahari benar-benar terbit dan naik sekitar satu tombak atau kurang lebih 15–20 menit setelah terbit. Jangan melaksanakan salat tepat ketika matahari baru terbit karena itu termasuk waktu yang dilarang," jelasnya.

Selain menghidupkan ibadah pagi, Ustadz Deddy juga menekankan pentingnya membiasakan Sedekah Subuh. Ia mengingatkan hadis Rasulullah ﷺ tentang dua malaikat yang setiap pagi turun mendoakan orang yang gemar berinfak agar diberi ganti rezeki, sementara malaikat lainnya mendoakan kebinasaan bagi orang yang menahan hartanya.

Menurutnya, sedekah tidak harus dalam jumlah besar. Infak Rp500 hingga Rp1.000 yang dilakukan secara rutin jauh lebih bernilai jika mampu membangun budaya berbagi di tengah jamaah.

Ia bahkan mengusulkan agar masjid memiliki kotak infak khusus Subuh yang dipisahkan dari kotak infak operasional umum. Dana tersebut digunakan untuk mendukung seluruh aktivitas Subuh, mulai dari konsumsi jamaah, kajian, hingga berbagai program yang dapat menarik masyarakat datang ke masjid.

"Kalau dana itu benar-benar digunakan untuk memakmurkan kegiatan Subuh, jamaah akan semakin semangat berinfak karena mereka melihat langsung manfaatnya," ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Deddy juga memperkenalkan konsep Pasar Bahagia, yaitu kegiatan berbagi kebahagiaan setelah salat Subuh. Bentuknya bisa berupa sarapan sederhana, pembagian sayur kepada jamaah, ataupun menghadirkan pelaku UMKM untuk menjual hasil usahanya di lingkungan masjid.

Menurutnya, program seperti itu telah diterapkan di sejumlah masjid dan terbukti mampu meningkatkan jumlah jamaah Subuh sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.

"Bukan nilai barangnya yang utama, tetapi rasa kebersamaan dan kebahagiaan yang dibangun. Jamaah pulang membawa sayur atau makanan sederhana, keluarganya ikut merasakan manfaat datang ke masjid," katanya.

Ia menambahkan bahwa masjid pada masa Rasulullah ﷺ tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pendidikan, pelayanan sosial, musyawarah, dan aktivitas ekonomi umat. Karena itu, konsep memakmurkan masjid pada masa kini juga perlu menyentuh aspek sosial dan ekonomi tanpa menghilangkan fungsi utamanya sebagai tempat beribadah.

Melalui Gerakan Subuh, Sedekah Subuh, Sholat Syuruq, dan Pasar Bahagia, Ustadz Deddy berharap semakin banyak masyarakat yang mencintai masjid dan menjadikannya sebagai pusat kehidupan umat.

"Jika semakin banyak orang datang ke masjid karena upaya yang kita lakukan bersama, maka insyaallah setiap langkah mereka menjadi amal jariyah yang terus mengalir bagi orang-orang yang menghidupkan masjid," pungkasnya. (*)

FIRNAS MUTTAQIN

Menjaga Keberkahan Waktu di Tengah Percepatan Zaman

Masjid Al-Ukhuwah, Sekarsono, Kota Pasuruan, kembali menggelar pengajian rutin Ahad pagi pada 12 Juli 2026. Dalam kesempatan ini, Ustadz Heru Winarno mengangkat tema seputar hakikat waktu dalam pandangan Islam, khususnya fenomena "percepatan waktu" yang dirasakan banyak orang di era modern serta bagaimana seorang muslim dapat meraih keberkahan di dalamnya.

*Waktu yang Terasa Kian Singkat*

Mengawali kajian, Ustadz Heru mengingatkan jamaah tentang pentingnya gerak dan aktivitas bagi kesehatan tubuh. Ia mencontohkan bagaimana tubuh yang terlalu banyak berdiam atau tidur justru terasa tidak nyaman, sebagai analogi bahwa kemalasan bergerak—baik secara fisik maupun spiritual—dapat membawa dampak buruk.

Dari sana, ia mengaitkannya dengan fenomena kesibukan digital masa kini, terutama kebiasaan "scroll-scroll" di gawai yang banyak menyita waktu tanpa disadari.

Ustadz Heru kemudian mengutip hadis riwayat Anas bin Malik, di mana Rasulullah ﷺ bersabda bahwa hari kiamat tidak akan terjadi sampai waktu terasa semakin singkat: satu tahun terasa seperti satu bulan, satu bulan seperti satu pekan, satu pekan seperti satu hari, satu hari seperti satu jam, dan satu jam seperti kilatan api. Ia menegaskan bahwa fenomena ini bukan hal baru, melainkan persoalan klasik yang telah disinggung sejak masa kenabian.

*Perspektif Al-Qur'an tentang Waktu*

Untuk memperkuat pemahaman, Ustadz Heru merujuk pada ayat Al-Qur'an tentang pergantian malam dan siang sebagai tanda bagi orang yang mau mengambil pelajaran dan bersyukur. Menurutnya, memahami ayat ini bukan sekadar soal hitungan jam atau hari, melainkan kesadaran untuk memanfaatkan waktu sebagai sarana mengingat Allah, memperbaiki diri, dan memperbanyak amal.

Ia juga mengutip Surat Al-'Ashr yang menegaskan bahwa seluruh manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, mengerjakan amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran. Ustadz Heru menambahkan bahwa dalam riwayat lain disebutkan pula anjuran saling menasihati dalam kasih sayang, karena kehidupan tanpa kasih sayang akan terasa menekan.

Ia mengutip pandangan Imam Syafi'i yang menyebut bahwa seandainya Allah hanya menurunkan Surat Al-'Asr sebagai pedoman bagi manusia, itu sudah cukup sebagai bekal hidup.

*Bukan Berkurangnya Jumlah Jam, Melainkan Hilangnya Keberkahan*

Salah satu poin penting yang disampaikan Ustadz Heru adalah penjelasan para ulama—seperti Imam Nawawi, Qadhi Iyadh, Ibnu Hajar, dan Al-Mubarakfuri dalam kitab *Tuhfatul Ahwadzi*—bahwa "percepatan waktu" yang dimaksud dalam hadis bukanlah berkurangnya jumlah jam secara harfiah, melainkan hilangnya keberkahan waktu. Satu hari tetap 24 jam, namun manfaat yang dihasilkan darinya semakin sedikit.

Menurut penjelasan yang dikutip dari Ibnu Hajar, percepatan waktu di akhir zaman disebabkan oleh tiga hal:

1. Hilangnya keberkahan akibat maraknya dosa dan kemaksiatan.
2. Kesibukan duniawi yang melalaikan manusia dari ibadah.
3. Kemajuan teknologi yang membuat manusia sibuk dengan hal-hal yang tidak bermanfaat.

*Tujuh Ciri Waktu yang Berkah*

Ustadz Heru kemudian memaparkan ciri-ciri orang yang waktunya diberkahi Allah, di antaranya:

- **Mampu menghasilkan banyak kebaikan dalam waktu yang relatif singkat**, karena dimudahkan Allah dalam menjalankan berbagai aktivitas tanpa merasa terbebani. Ia mencontohkan Imam Nawawi yang meski wafat pada usia 45 tahun berhasil menghasilkan puluhan karya besar, termasuk kumpulan Hadis Arba'in yang masih dipelajari di dunia Islam hingga kini.
- **Tidak suka menyia-nyiakan waktu**, sebagaimana disampaikan Imam Abu Bakar bin 'Ayyash bahwa orang yang kehilangan hartanya akan bersedih sepanjang hari, namun jarang ada orang yang menyesali hilangnya satu hari dari umurnya. Ustadz Heru mengingatkan pentingnya kebiasaan muhasabah atau evaluasi diri sebelum tidur.
- **Mengisi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat**, tanpa harus meniadakan istirahat, namun tetap didominasi oleh aktivitas yang produktif dan bermakna, misalnya membiasakan membaca buku di sela-sela kesibukan.

Sebagai penutup dari poin ini, Ustadz Heru mengajak jamaah merenungkan Surat Al-Ahzab ayat 35 yang merinci sepuluh kategori amal sebagai gambaran pemanfaatan waktu seorang muslim dan muslimah—mulai dari keislaman, keimanan, ketaatan, hingga kejujuran.

*Orientasi Akhirat Tanpa Melupakan Dunia*

Ustadz Heru menegaskan bahwa keberkahan waktu akan datang bila orientasi seorang muslim diarahkan kepada akhirat terlebih dahulu, sebagaimana pesan dalam Surat Al-Qashash ayat 77, tanpa melupakan bagiannya di dunia. Seorang muslim yang produktif, menurutnya, akan menjadikan seluruh aktivitas hariannya—termasuk hal-hal kecil seperti berjalan di jalan raya—sebagai bagian dari ibadah kepada Allah.

Kajian ditutup dengan pesan agar jamaah senantiasa fokus dan bersungguh-sungguh dalam setiap urusan, sembari menjaga adab dalam pergaulan sehari-hari, termasuk saat berkumpul dan berbincang santai bersama sesama. (*)

---
FIRNAS MUTTAQIN

Saturday, July 11, 2026

AI yang Membuat IMF Puyeng: Ketika Claude Mythos Dinilai Mampu Mengguncang Sistem Keuangan Dunia

Dunia teknologi kembali diguncang. Kali ini bukan karena kemampuan AI menulis artikel, membuat gambar, atau membantu pemrograman, melainkan karena munculnya model kecerdasan buatan yang dinilai memiliki kemampuan luar biasa dalam bidang keamanan siber.

Model tersebut adalah Claude Mythos, yang dikembangkan oleh Anthropic. Kemampuannya bahkan membuat International Monetary Fund (IMF) mengeluarkan peringatan serius mengenai potensi ancaman terhadap stabilitas sistem keuangan global. 

Menurut Anthropic, Mythos dirancang untuk membantu menemukan kelemahan perangkat lunak sebelum dimanfaatkan oleh peretas. Dalam pengujian internal, model ini mampu menemukan ribuan celah keamanan pada berbagai sistem operasi dan peramban web utama di dunia. Namun, kemampuan tersebut juga berarti bahwa jika jatuh ke tangan yang salah, AI ini berpotensi digunakan untuk melakukan serangan siber berskala besar. 

AI yang Terlalu Pintar untuk Dilepas ke Publik

Berbeda dengan chatbot AI pada umumnya, Claude Mythos tidak langsung dirilis secara luas. Anthropic justru membatasi akses hanya kepada sejumlah organisasi terpercaya melalui program Project Glasswing.

Langkah tersebut diambil karena perusahaan menyadari kemampuan model ini dapat digunakan bukan hanya untuk memperbaiki sistem keamanan, tetapi juga mengeksploitasi kerentanannya. Di antara mitra awal yang mendapat akses terbatas adalah perusahaan teknologi dan lembaga besar seperti Amazon, Apple, Cisco, Nvidia, dan JPMorgan Chase. 

IMF: "Waktu Bukan Lagi Teman Kita"

Kekhawatiran terbesar datang dari Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva.

Dalam wawancara dengan CBS News, Georgieva mengatakan bahwa dunia belum memiliki kemampuan yang memadai untuk melindungi sistem moneter internasional dari ancaman siber yang diperkuat AI.

Ia bahkan mengingatkan bahwa "time is not our friend" atau "waktu bukan lagi teman kita", menandakan bahwa perkembangan AI berlangsung jauh lebih cepat dibanding kesiapan sistem pertahanan global. 

Ancaman terhadap Perbankan Global

IMF menilai serangan siber berbasis AI tidak hanya berpotensi mencuri data atau melumpuhkan server.

Dalam skenario terburuk, serangan terhadap bank-bank besar dapat menyebabkan:

1. gangguan sistem pembayaran internasional,
2. kepanikan nasabah,
3. tekanan likuiditas,
4. gangguan transaksi lintas negara,
5. bahkan mengancam stabilitas lembaga keuangan yang dianggap "terlalu besar untuk gagal" (too big to fail). 

Inilah sebabnya isu keamanan AI kini tidak lagi dipandang sekadar masalah teknologi, melainkan telah menjadi isu stabilitas ekonomi global.

Sampai Bank Sentral Turun Tangan

Besarnya ancaman tersebut membuat pejabat tinggi Amerika Serikat menggelar pertemuan tertutup bersama para pemimpin bank-bank besar untuk membahas risiko Claude Mythos.

Laporan CBS News menyebut Ketua Federal Reserve dan pejabat Departemen Keuangan AS bertemu dengan sejumlah CEO bank guna membahas kesiapan menghadapi ancaman AI generasi baru. 

Ironisnya, Model Ini Sempat Diretas

Di tengah upaya pembatasan akses, Anthropic kemudian mengonfirmasi adanya dugaan akses tidak sah terhadap lingkungan vendor pihak ketiga yang berkaitan dengan Mythos. Perusahaan menyatakan investigasi dilakukan dan belum menemukan bukti bahwa sistem inti Anthropic ikut disusupi. 

Peristiwa tersebut justru memperkuat kekhawatiran bahwa model AI dengan kemampuan luar biasa pun tetap memiliki risiko kebocoran.

Pelajaran bagi Dunia

Kasus Claude Mythos menunjukkan bahwa perkembangan AI telah memasuki fase baru.

Jika sebelumnya dunia khawatir AI menggantikan pekerjaan manusia, kini kekhawatiran bergeser ke kemungkinan AI digunakan sebagai senjata siber yang mampu mempercepat serangan terhadap infrastruktur vital.

Bagi regulator seperti IMF, tantangannya bukan lagi sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi memastikan inovasi AI tidak berubah menjadi ancaman bagi sistem keuangan dunia.

Claude Mythos pada akhirnya menjadi pengingat bahwa di era kecerdasan buatan, perlombaan bukan hanya soal menciptakan AI yang semakin pintar, melainkan juga membangun sistem keamanan yang mampu mengimbanginya. (*)

Firnas Muttaqin

Thursday, July 09, 2026

Meneladani Keteguhan Hijrah Kaum Muslimin ke Habasyah

PASURUAN — Kajian rutin di Masjid At-Taqwa, Kampung Jagalan, Kota Pasuruan, Kamis malam (9/7/2026), mengangkat tema hijrah kaum muslimin ke Habasyah, salah satu peristiwa penting dalam sejarah dakwah Islam. Materi disampaikan oleh Ustadz Anang Abdul Malik di hadapan jamaah yang memadati masjid.

Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa Habasyah, yang kini dikenal sebagai Etiopia, dipilih Rasulullah SAW sebagai tujuan hijrah karena dipimpin Raja Najasi (Negus), seorang penguasa yang dikenal adil dan memberikan perlindungan kepada siapa pun yang mencari suaka di negerinya.

Hijrah Demi Menyelamatkan Akidah

Ustadz Anang menjelaskan, hijrah ke Habasyah dilakukan ketika tekanan terhadap kaum muslimin di Makkah semakin berat. Mereka mengalami intimidasi, penyiksaan, dan berbagai bentuk penindasan dari kaum Quraisy sehingga Rasulullah SAW memerintahkan sebagian sahabat untuk meninggalkan Makkah.

Gelombang pertama hijrah diikuti 16 orang, terdiri atas 12 laki-laki dan empat perempuan. Di antaranya adalah Utsman bin Affan bersama istrinya, Ruqayyah binti Muhammad SAW.

Setelah mengetahui adanya rombongan yang berhasil hijrah, kaum Quraisy memperketat penjagaan di Makkah. Namun, upaya tersebut tidak menghentikan hijrah berikutnya. Gelombang kedua yang lebih besar berhasil berangkat dengan jumlah sekitar 83 laki-laki dan 19 perempuan.

Diplomasi Ja'far bin Abi Thalib

Keberadaan kaum muslimin di Habasyah mendorong kaum Quraisy mengirim dua utusan, Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi'ah, untuk meminta Raja Najasi memulangkan mereka ke Makkah. Kedua utusan itu juga membawa hadiah bagi raja dan para pembesar istana.

Raja Najasi tidak langsung memenuhi permintaan tersebut. Ia memilih mendengar penjelasan dari kedua belah pihak sebelum mengambil keputusan.

Kaum muslimin menunjuk Ja'far bin Abi Thalib sebagai juru bicara. Di hadapan raja, Ja'far menjelaskan kondisi masyarakat Arab sebelum Islam, kemudian menerangkan ajaran yang dibawa Rasulullah SAW, seperti tauhid, kejujuran, amanah, menjaga silaturahmi, serta menunaikan salat, zakat, dan puasa.

Ia juga menjelaskan bahwa kaum muslimin meninggalkan Makkah bukan karena ingin memberontak, melainkan untuk menyelamatkan keimanan dari berbagai bentuk penindasan.

Raja Najasi Memberikan Perlindungan

Setelah mendengar penjelasan Ja'far, Raja Najasi meminta agar dibacakan ayat-ayat Al-Qur'an. Ja'far kemudian membacakan Surah Maryam ayat 16–36.

Menurut riwayat yang disampaikan dalam kajian, Raja Najasi tersentuh mendengar bacaan tersebut. Ia menyatakan bahwa ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW dan Nabi Isa AS berasal dari sumber yang sama. Raja Najasi kemudian menolak permintaan utusan Quraisy dan tetap memberikan perlindungan kepada kaum muslimin di Habasyah.

Pelajaran dari Hijrah

Menutup kajian, Ustadz Anang menjelaskan bahwa kisah hijrah ke Habasyah mengajarkan pentingnya menjaga keimanan, akhlak, dan kebijaksanaan dalam berdialog. Ia juga mengulas tingkatan hidayah, mulai dari hidayah umum yang diberikan kepada seluruh makhluk hingga hidayah melalui petunjuk Allah dalam Al-Qur'an.

Menurutnya, keteguhan iman dan cara berkomunikasi yang santun menjadi pelajaran penting dari peristiwa hijrah yang tetap relevan bagi umat Islam hingga saat ini.

Penulis: Firnas Muttaqin

Sunday, July 05, 2026

Choiruddin Muchtar, Atlet Silat yang Turut Mengukir Sejarah Awal Tapak Suci di Kota Pasuruan


Pasuruan, Ahad 5 Juli 2026 — Perkembangan Perguruan Pencak Silat Tapak Suci Putera Muhammadiyah di Kota Pasuruan tidak dapat dilepaskan dari kiprah para atlet dan pelatih generasi awal. Salah satunya adalah Choiruddin Muchtar, yang sejak remaja telah menjadi bagian dari perjalanan panjang Tapak Suci hingga berkembang menjadi salah satu perguruan silat berprestasi di Kota Pasuruan.

Choiruddin mulai mengenal Tapak Suci pada tahun 1974 ketika masih duduk di kelas I SMP Muhammadiyah Pasuruan. Saat itu, Tapak Suci baru merintis pembinaan di sekolah-sekolah Muhammadiyah dengan bimbingan dua pelatih dari Malang, Ismail dan Karim. Menurut Choiruddin, keduanya menjadi sosok penting yang meletakkan dasar pembinaan teknik maupun organisasi Tapak Suci di Pasuruan. Ismail bahkan kemudian dikenal sebagai pelatih tingkat nasional yang kerap terlibat dalam ujian kenaikan tingkat di pusat Tapak Suci di Yogyakarta.
Ia menyebut dirinya sebagai atlet generasi kedua Tapak Suci Kota Pasuruan. Generasi pertama terdiri atas tokoh-tokoh seperti Riyadi Amin, Soche, Mus, Pudiono, Ruslan Suharto, dan Suripto. Mereka bukan hanya menjadi atlet, tetapi juga turut mengembangkan Tapak Suci di berbagai sekolah Muhammadiyah sehingga organisasi ini semakin dikenal masyarakat.
Pada masa itu, sistem pembinaan dilakukan secara bertahap melalui jenjang sabuk, mulai dari sabuk putih, sabuk kuning dengan beberapa tingkatan, hingga sabuk biru. Seluruh sistem latihan mengikuti pola pembinaan dari Malang. Kenaikan tingkat tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknik, tetapi juga kedisiplinan dan kesungguhan mengikuti latihan.

Latihan tidak hanya berlangsung di lingkungan SMP Muhammadiyah, tetapi juga di beberapa langgar atau mushala yang menjadi pusat aktivitas warga Muhammadiyah. Berbeda dengan anggapan sebagian masyarakat, latihan tersebut terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar pencak silat, sehingga banyak pelajar dari berbagai latar belakang ikut bergabung.

Kerja keras para pelatih dan atlet mulai membuahkan hasil ketika Tapak Suci meraih gelar juara umum pada Kejuaraan Pencak Silat Kota/Kabupaten Pasuruan sekitar tahun 1975. Saat itu Tapak Suci bersaing dengan sejumlah perguruan yang telah lebih dahulu berkembang, seperti Persaudaraan Setia Hati, Perisai Diri, dan Kera Sakti. Keberhasilan tersebut menjadi titik balik yang mengangkat nama Tapak Suci di Kota Pasuruan.

Prestasi itu berdampak besar terhadap perkembangan organisasi. Semakin banyak sekolah Muhammadiyah membuka kegiatan ekstrakurikuler Tapak Suci, di antaranya SMP Muhammadiyah. Dari sekolah-sekolah tersebut lahir atlet-atlet yang kemudian mengukir prestasi hingga tingkat nasional.

Choiruddin masih mengingat beberapa nama atlet yang pernah mengharumkan nama Pasuruan, seperti Asmiah dan Astuti yang berhasil berprestasi pada kejuaraan nasional di Yogyakarta. Ia juga menyebut Fahrina yang meraih juara II pada Kejuaraan Nasional internal Tapak Suci di Jember. Menurutnya, keberhasilan para atlet tersebut menjadi kebanggaan sekaligus motivasi bagi generasi berikutnya.

Selain aktif sebagai atlet, Choiruddin kemudian dipercaya menjadi pelatih di berbagai sekolah. Ia ikut memperluas pembinaan Tapak Suci di sejumlah lembaga pendidikan, diantaranya Madrasah Tsanawiyah Negeri dan SMEA (sekarang SMK), termasuk di wilayah Lekok kabupaten  Pasuruan dan sekolah-sekolah Muhammadiyah lainnya. Dari dunia kepelatihan, ia kemudian mengikuti pendidikan wasit-juri hingga tingkat provinsi.

Pengalaman itu membawanya mengemban amanah sebagai wasit-juri pencak silat sekaligus dipercaya menjadi Sekretaris II  (IPSI) Kota Pasuruan. Peran tersebut menunjukkan bahwa pengabdiannya terhadap pencak silat tidak berhenti sebagai atlet, melainkan berlanjut dalam pembinaan organisasi dan pengembangan olahraga pencak silat di daerah.

Bagi Choiruddin, Tapak Suci tidak hanya mengajarkan teknik bela diri. Organisasi ini juga membentuk karakter anggotanya melalui pembinaan keislaman. Tokoh-tokoh Muhammadiyah secara rutin memberikan materi keagamaan kepada para anggota, sehingga latihan fisik selalu diimbangi dengan pembinaan akhlak dan spiritual.

Ia juga mengenang tradisi unik Tapak Suci pada masa itu. Para anggota mengenakan seragam lengkap dan berlari mengelilingi Kota Pasuruan setiap akhir pekan. Selain menjadi bagian dari latihan fisik, kegiatan tersebut sekaligus memperkenalkan Tapak Suci kepada masyarakat dan menarik minat generasi muda untuk bergabung.

Meski kini tidak lagi mengikuti aktivitas organisasi secara intensif karena kesibukan pekerjaan, Choiruddin tetap menyimpan kenangan mendalam terhadap masa-masa awal perkembangan Tapak Suci. Baginya, pencak silat telah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya, mengajarkan disiplin, keberanian, tanggung jawab, dan semangat mengabdi.

Kisah Choiruddin Muchtar merupakan potret perjuangan generasi awal yang membesarkan Tapak Suci di Kota Pasuruan. Melalui dedikasi para atlet, pelatih, dan kader Muhammadiyah pada dekade 1970-an hingga 1980-an, Tapak Suci berkembang bukan hanya sebagai perguruan pencak silat berprestasi, tetapi juga sebagai wadah pembentukan karakter dan kaderisasi generasi muda. Warisan pengabdian itulah yang hingga kini menjadi bagian dari sejarah perkembangan Tapak Suci di Kota Pasuruan. (*)

Saturday, July 04, 2026

Jejak Sejarah Masjid At-Taqwa Jagalan: Dari Mushola Berdinding Gedek hingga Menjadi Pusat Dakwah


Di tengah permukiman Jagalan, Kelurahan Kandangsapi, Kota Pasuruan, berdiri Masjid At-Taqwa yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang masyarakat setempat. Bagi warga senior, masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan saksi perubahan zaman, perkembangan dakwah, dan tumbuhnya kader-kader Muhammadiyah di lingkungan Jagalan.

Dalam wawancara, Dwi Joko Santoso menuturkan bahwa berdasarkan cerita turun-temurun di keluarganya, keberadaan Musala atau Masjid At-Taqwa diperkirakan sudah ada jauh sebelum abad ke-19. Namun, keterangan tersebut merupakan penuturan lisan keluarga dan masih memerlukan penelusuran lebih lanjut melalui arsip maupun dokumen sejarah.

Kenangan yang lebih jelas bermula dari kisah ayahnya, Sumardi, yang lahir pada tahun 1926. Menurut Dwi Joko Santoso, pada masa itu bangunan musala masih sangat sederhana. Dindingnya terbuat dari gedek (anyaman bambu) sehingga sering mengalami kerusakan akibat banjir yang meluap dari Kali Jagalan dan Kali Gembong.

Seiring waktu, masyarakat bersama para tokoh setempat melakukan renovasi secara bertahap. Bangunan yang semula seluruhnya berbahan bambu mulai diganti menjadi tembok pada bagian bawah, sementara bagian atasnya masih menggunakan gedek. Perubahan itu menjadi tonggak awal berkembangnya Masjid At-Taqwa menjadi bangunan yang lebih kokoh.

Dwi Joko Santoso yang lahir pada tahun 1958 masih mengingat suasana masjid saat dirinya duduk di bangku sekolah dasar. Ia mengenang bahwa setiap pelaksanaan salat Jumat, halaman di sebelah timur masjid yang saat itu masih berupa pekarangan dipenuhi tikar untuk menampung jamaah yang terus bertambah.

Menurutnya, pada dekade 1970-an, terutama sekitar tahun 1974 hingga 1976 ketika ia duduk di bangku SMA, aktivitas keagamaan di Masjid At-Taqwa mencapai masa yang sangat ramai. Pengajian, kegiatan remaja, hingga pembinaan warga berlangsung secara rutin dan menjadikan masjid sebagai pusat kehidupan masyarakat.

Ia juga menyebut sejumlah tokoh yang memiliki peran penting dalam memakmurkan masjid, di antaranya Pak Mirin, Hasan Basri (Mbah Cang) Haji Slamet Riyadi, Masykur, Muchtar, Suharsono, Sumardijarso, Rasad, Zaenuri, Kusman, serta sejumlah tokoh lain yang kini sebagian besar telah wafat.

Menurut Dwi Joko Santoso, Hasan Basri (Mbah Cang) menjadi salah satu sosok yang paling berperan dalam membimbing generasi penerus agar tetap menjaga keberlangsungan aktivitas Masjid At-Taqwa. Semangat estafet kepengurusan itulah yang dinilai membuat kehidupan masjid tetap berjalan hingga sekarang.
Memasuki tahun-tahun berikutnya, aktivitas Masjid At-Taqwa mulai mengalami perubahan. Bukan karena berkurangnya semangat masyarakat, melainkan karena semakin banyak masjid baru berdiri di sekitar Jagalan dan wilayah sekitarnya. Kehadiran masjid-masjid yang lebih dekat dengan permukiman warga membuat jamaah tersebar ke berbagai tempat ibadah.

Selain itu, kegiatan Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) juga mengalami tantangan. Anak-anak dan remaja memiliki lebih banyak pilihan untuk belajar mengaji di masjid-masjid lain yang menawarkan berbagai kegiatan pembinaan.

Meski demikian, bagi Dwi Joko Santoso, Masjid At-Taqwa tetap memiliki nilai sejarah yang tinggi. Ia meyakini bahwa masjid tersebut merupakan salah satu cikal bakal perkembangan dakwah Muhammadiyah di kawasan Jagalan. Pernyataan tersebut merupakan pandangan narasumber yang masih memerlukan kajian sejarah lebih lanjut untuk memastikan posisi dan perannya dalam perkembangan Muhammadiyah di Kota Pasuruan.
Kini, bangunan yang dahulu hanya berupa mushola sederhana berdinding gedek telah berubah menjadi masjid permanen. Di balik perubahan fisiknya, tersimpan kisah tentang gotong royong warga, regenerasi para penggerak masjid, dan semangat mempertahankan pusat ibadah yang telah melayani masyarakat selama beberapa generasi.

Bagi warga Jagalan, Masjid At-Taqwa bukan hanya bangunan tua. Ia adalah ruang yang menyimpan memori kolektif tentang perjalanan dakwah, pendidikan Islam, dan kebersamaan masyarakat dari masa ke masa. (*)

Penulis :
FIRNAS MUTTAQIN



Ketua MUI Kota Pasuruan Ajak Perkuat Persatuan dalam Sarasehan Kebangsaan


Pasuruan – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Pasuruan, Dr. KH. Abdullah Shodiq, M.Pd, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat persatuan dan menjaga kerukunan dalam kehidupan berbangsa. Ajakan tersebut disampaikan saat membuka Sarasehan Kebangsaan yang diselenggarakan MUI Kota Pasuruan di Hotel Daroessalam, Sabtu (4/7/2026).

Dalam sambutannya, KH. Abdullah Shodiq menegaskan bahwa Islam mengajarkan nilai-nilai kerja sama, kemanfaatan, dan pengelolaan amanah demi kesejahteraan bersama. Ia mencontohkan kisah pada masa Rasulullah SAW tentang pengelolaan lahan dengan sistem bagi hasil sebagai ilustrasi pentingnya membangun kemitraan yang saling menguntungkan.

Selain itu, ia mengajak peserta untuk menjadikan keberagaman sebagai kekuatan bangsa. Menurutnya, Indonesia yang terdiri atas berbagai agama, organisasi, dan latar belakang masyarakat membutuhkan nilai-nilai bersama yang mampu mempersatukan seluruh komponen bangsa.

Dalam penyampaiannya, KH. Abdullah Shodiq menggunakan analogi bahan-bahan makanan untuk menggambarkan pentingnya mencari titik temu dalam kehidupan bermasyarakat. Ia menekankan bahwa semangat kebersamaan harus lebih dikedepankan daripada mempertajam perbedaan.

Ia juga menegaskan bahwa Pancasila merupakan konsensus kebangsaan yang menjadi perekat kehidupan masyarakat Indonesia. Karena itu, seluruh elemen bangsa diharapkan terus menjaga persaudaraan, memperkuat harmoni sosial, dan membangun kehidupan yang damai di tengah keberagaman.

Menurutnya, pengalaman Indonesia dalam menjaga kerukunan antarumat beragama juga menjadi perhatian berbagai kalangan, termasuk akademisi dari luar negeri yang menilai kehidupan masyarakat Indonesia sebagai contoh praktik toleransi dalam masyarakat majemuk.

Menutup sambutannya, KH. Abdullah Shodiq mengajak seluruh peserta Sarasehan Kebangsaan untuk terus merawat persatuan dan berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia yang damai, harmonis, serta berlandaskan nilai-nilai kebangsaan dan keagamaan.

Sarasehan Kebangsaan yang merupakan bagian dari program kerja MUI Kota Pasuruan Tahun 2026 tersebut dihadiri para tokoh agama, akademisi, organisasi kemasyarakatan, serta berbagai unsur masyarakat sebagai wadah memperkuat wawasan kebangsaan dan mempererat silaturahmi. (*)

FIRNAS MUTTAQIN

Friday, June 26, 2026

Hijrah dan Dakwah Menjadi Tema Pengajian Ahad Pagi di Masjid Al Ukhuwah Sekarsono

Pasuruan, 21 Juni 2026 – Pengajian Ahad Pagi yang berlangsung di Masjid Al Ukhuwah, Sekarsono, Kota Pasuruan, menghadirkan Ustadz M. Farihin sebagai pemateri. Dalam kajiannya, ia mengajak jamaah mengambil hikmah dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW serta memahami pentingnya dakwah yang dilakukan dengan hikmah dan keteladanan.

Ustadz Farihin mengawali ceramahnya dengan mengingatkan bahwa umat Islam baru saja memasuki Tahun Baru Hijriah 1448. Ia menjelaskan bahwa penanggalan Hijriah ditetapkan berdasarkan peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah, sebuah momentum penting dalam sejarah Islam yang menandai perubahan besar dalam perjuangan dakwah.

Menurutnya, hijrah tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan tempat, tetapi juga sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Rasulullah SAW sebelum menerima wahyu sering melakukan khalwat atau menyendiri di Gua Hira untuk beribadah dan merenungkan kehidupan.

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Farihin juga mengulas turunnya wahyu pertama, Surah Al-'Alaq ayat 1-5, yang diawali dengan perintah “Iqra” atau membaca. Ia menegaskan bahwa perintah membaca tidak hanya dimaknai secara tekstual terhadap tulisan, tetapi juga secara kontekstual dengan membaca fenomena dan realitas kehidupan di sekitar manusia.

“Seorang muslim harus mampu membaca dua hal sekaligus, yaitu teks dan konteks. Apa yang terjadi di lingkungan sekitar juga merupakan pelajaran yang harus dipahami,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa setelah turunnya wahyu kedua dalam Surah Al-Muddatstsir, Nabi Muhammad SAW mulai diperintahkan untuk berdakwah. Pada tahap awal, dakwah dilakukan secara sembunyi-sembunyi karena jumlah pengikut yang masih sedikit. Fokus utama dakwah saat itu adalah penguatan tauhid dan keimanan para sahabat.

Ustadz Farihin menekankan bahwa dakwah merupakan kewajiban setiap muslim. Namun, dakwah harus dimulai dari diri sendiri dengan menjadi teladan dalam menjalankan ajaran Islam.

“Jangan sampai seperti lilin yang menerangi orang lain tetapi dirinya sendiri terbakar. Sebelum mengajak orang lain, kita harus terlebih dahulu melaksanakan apa yang kita sampaikan,” katanya.

Ia kemudian mengutip Surah At-Tahrim ayat 6 yang memerintahkan orang-orang beriman untuk menjaga diri dan keluarganya dari api neraka. Menurutnya, tanggung jawab seorang muslim tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi juga terhadap keluarga yang dipimpinnya.

Dalam menyampaikan dakwah, Ustadz Farihin mengingatkan pentingnya mengikuti tuntunan Al-Qur'an sebagaimana tercantum dalam Surah An-Nahl ayat 125, yaitu berdakwah dengan hikmah, nasihat yang baik, dan dialog yang santun.

“Dakwah tidak boleh dilakukan dengan kata-kata kasar atau bertujuan menjatuhkan orang lain. Diskusi dalam Islam bertujuan mencari solusi, bukan mencari kemenangan,” tegasnya.

Selain membahas dakwah, ia juga mengingatkan pentingnya perhatian orang tua terhadap pendidikan generasi penerus. Mengutip Surah An-Nisa ayat 9 dan nasihat Luqman kepada anaknya, Ustadz Farihin menegaskan bahwa pendidikan tauhid harus menjadi prioritas utama dalam keluarga.

Menurutnya, perkembangan teknologi dan penggunaan gawai oleh anak-anak harus mendapat pengawasan yang serius dari orang tua agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap perkembangan akhlak dan keimanan mereka.

Menutup kajiannya, Ustadz Farihin mengajak jamaah untuk menjadikan momentum Tahun Baru Hijriah sebagai sarana evaluasi diri, memperkuat keimanan, meningkatkan kualitas dakwah, serta membangun keluarga yang berlandaskan nilai-nilai Islam. (*)

Umat Islam Harus Mandiri, Berpegang Teguh pada Petunjuk Allah dan Menegakkan Keadilan

Pasuruan – Pengajian rutin Kamis malam Jumat yang berlangsung di Masjid At-Taqwa, Jagalan, Kota Pasuruan, Kamis (25/6/2026), menghadirkan Ustadz Umar Efendi sebagai penceramah. Dalam kajiannya, beliau mengupas berbagai pelajaran dari Al-Qur'an dan sejarah para nabi, mulai dari kepedulian sosial, pentingnya mengikuti petunjuk Allah, hingga penegakan hukum dan keadilan dalam Islam.

Di hadapan jamaah, Ustadz Umar menekankan bahwa Islam tidak hanya mengajarkan memberi bantuan kepada fakir miskin, tetapi juga membangun kemandirian mereka agar mampu bangkit dari kesulitan hidup.

Beliau mengisahkan teladan Rasulullah SAW yang tidak sekadar memberikan bantuan sesaat kepada orang miskin, melainkan mendorong mereka untuk bekerja dan berdikari. Menurutnya, umat Islam harus memiliki semangat membangun kekuatan mental sehingga tidak selalu bergantung kepada orang lain.

“Islam mengajarkan kepedulian sosial sekaligus pemberdayaan. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, namun yang lebih penting adalah membantu saudara kita agar mampu mandiri,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Umar juga mengulas firman Allah dalam Surah Al-Baqarah mengenai Nabi Adam AS. Setelah diturunkan ke bumi, Allah memberikan petunjuk sebagai pedoman hidup manusia. Siapa yang mengikuti petunjuk Allah tidak akan diliputi rasa takut dan kesedihan, sedangkan mereka yang mendustakan ayat-ayat-Nya akan mendapat balasan sesuai amal perbuatannya.

Menurutnya, ketenangan hidup sejati lahir dari ketaatan kepada Allah dan kesediaan menjadikan wahyu sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.

Selain itu, beliau mengingatkan jamaah agar berhati-hati terhadap berbagai bentuk penyimpangan akidah sebagaimana yang pernah terjadi pada Bani Israil. Ustadz Umar mencontohkan peristiwa penyembahan anak sapi yang dipimpin Samiri ketika Nabi Musa AS meninggalkan kaumnya untuk menerima wahyu.

“Sejarah dalam Al-Qur'an bukan sekadar kisah masa lalu, tetapi pelajaran agar umat tidak mudah terpengaruh oleh kesesatan dan tetap menjaga kemurnian tauhid,” jelasnya.

Dalam pembahasannya mengenai hukum Islam, Ustadz Umar menyoroti bahwa syariat selalu ditegakkan dengan prinsip keadilan, pembuktian yang jelas, dan kehati-hatian. Ia mencontohkan beberapa peristiwa pada masa Rasulullah SAW yang menunjukkan bahwa hukuman tidak dijatuhkan secara tergesa-gesa tanpa bukti yang kuat.

Beliau menjelaskan bahwa Rasulullah SAW selalu mengedepankan proses verifikasi, memberikan kesempatan bertaubat, serta mempertimbangkan berbagai aspek sebelum menjatuhkan keputusan hukum.

Di akhir pengajian, Ustadz Umar mengajak jamaah untuk terus memperkuat iman, mempelajari Al-Qur'an, dan meneladani para nabi dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Menurutnya, keselamatan hidup di dunia dan akhirat hanya dapat diraih dengan mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya secara konsisten.

Pengajian yang berlangsung hingga malam hari tersebut diikuti dengan antusias oleh jamaah Masjid At-Taqwa Jagalan. Para peserta menyimak berbagai penjelasan yang menghubungkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan realitas kehidupan umat Islam masa kini.Semoga dapat menjadi dokumentasi kegiatan pengajian dan bahan publikasi untuk media masjid atau grup jamaah. (*)

Firnas Muttaqin

Sunday, June 21, 2026

NGOPI Perdana di Masjid Al Ukhuwah Dorong Kolaborasi Pemuda Muhammadiyah Kota Pasuruan


Pasuruan, 20 Juni 2026 – Masjid Al Ukhuwah Sekarsono, Kota Pasuruan, menjadi tuan rumah kegiatan NGOPI (Ngobrol Perkara Iman) yang mempertemukan berbagai unsur organisasi otonom (Ortom), Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), dan komunitas pemuda Muhammadiyah di Kota Pasuruan, Sabtu (20/6/2026) malam.

Kegiatan yang dikemas secara santai namun produktif ini bertujuan membangun sinergi antarorganisasi sekaligus mencari solusi atas rendahnya keterlibatan generasi muda dalam kegiatan masjid dan dakwah persyarikatan.

Dalam sambutannya, Bapak Nurruddin mewakili Takmir Masjid Al Ukhuwah menyampaikan apresiasi kepada PASMU dan seluruh pihak yang telah menggagas forum tersebut. Menurutnya, kegiatan NGOPI merupakan langkah positif untuk memperkuat kolaborasi antar-Ortom dan AUM Muhammadiyah di Kota Pasuruan.

"Harapannya forum ini menjadi ruang bersama untuk saling bertukar gagasan, berkolaborasi, dan melahirkan program-program yang dapat menggerakkan anak muda Muhammadiyah," ujarnya.

Pada kesempatan itu, Nurruddin juga memaparkan perkembangan Masjid Al Ukhuwah yang berawal dari sebuah musala kecil pada tahun 2010 hingga berkembang menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial masyarakat. Berbagai program telah dijalankan, mulai dari kajian rutin, kegiatan ibu-ibu, gowes jamaah, bakti sosial, pengelolaan media sosial masjid, hingga kegiatan Ramadhan yang melibatkan generasi muda.

Membangun Basis Data Kader

Salah satu agenda penting dalam NGOPI Perdana adalah pengumpulan data potensi kader melalui sistem registrasi digital. Data tersebut nantinya akan digunakan untuk memetakan kemampuan dan minat peserta, mulai dari bidang penulisan, fotografi, desain grafis, media sosial, public speaking, hingga pengelolaan kegiatan.

Dengan pemetaan tersebut, Muhammadiyah Kota Pasuruan diharapkan memiliki basis data sumber daya manusia yang dapat diberdayakan untuk mendukung berbagai program dakwah, sosial, dan pendidikan.

"Kita ingin mengetahui siapa yang memiliki kemampuan menjadi konten kreator, fotografer, penulis, MC, maupun desainer grafis. Setelah terpetakan, mereka bisa dilibatkan dalam program-program bersama," jelas panitia.

Fokus pada Kolaborasi AUM dan Ortom

Dalam sesi pemaparan, panitia memperkenalkan rekomendasi program kerja 90 hari yang disusun berdasarkan hasil survei dan diskusi awal. Program tersebut meliputi pembentukan Forum Komunikasi AUM-Ortom, pembentukan Tim Media Sosial, penyelenggaraan diskusi pemuda secara rutin, produksi konten digital, hingga pelaksanaan kajian inspiratif yang melibatkan relawan muda.

Dari sejumlah program yang dirancang, forum menetapkan "Ngopi dan Diskusi Pemuda serta Pembentukan Tim Media Sosial AUM" sebagai program prioritas (quick win) yang dinilai paling memungkinkan untuk segera diwujudkan.

Menurut panitia, keberadaan tim media sosial lintas organisasi menjadi kebutuhan penting di era digital untuk memperkuat publikasi kegiatan Muhammadiyah dan meningkatkan keterlibatan generasi muda.

Menjadi Titik Awal Gerakan Bersama

Selain sesi diskusi dan brainstorming, acara juga diselingi dengan ice breaking dan dialog bersama peserta dari berbagai unsur organisasi seperti Pemuda Muhammadiyah, IMM, IPM, Nasyiatul Aisyiyah, IGABA, serta perwakilan AUM lainnya.

Peserta menyambut positif kegiatan tersebut dan berharap NGOPI dapat menjadi agenda rutin bulanan yang menghasilkan program nyata, bukan sekadar forum diskusi.

Melalui kegiatan ini, para peserta berkomitmen memperkuat kolaborasi antar-Ortom dan AUM Muhammadiyah di Kota Pasuruan guna menghadirkan gerakan dakwah yang lebih kreatif, inklusif, dan dekat dengan generasi muda.

"NGOPI bukan sekadar ngobrol perkara iman, tetapi juga menjadi ruang merumuskan langkah bersama untuk membangun gerakan dakwah yang lebih kuat dan relevan dengan kebutuhan generasi muda," demikian semangat yang mengemuka dalam forum perdana tersebut. (*)


Liputan oleh:
FIRNAS MUTTAQIN 
PasMu