Monday, August 10, 2026

Ust. H Saiun Ngalim: Iman, Islam, dan Ihsan

 
RRI Tuban — Senin, 10 Agustus 2026
Tema: Islam, Iman, dan Ihsan — Dari Hadis Jibril
 
 
Para pendengar Radio Republik Indonesia Tuban yang senantiasa dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala,
 
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah melimpahkan nikmat dan rahmat-Nya kepada kita semua. Pada pagi yang penuh berkah ini, kita dapat mengikuti siaran kajian pagi dalam program Mutiara Pagi RRI Tuban secara langsung. Semoga Allah senantiasa melimpahkan taufik dan hidayah-Nya, serta membimbing kita kepada jalan yang lurus — jalan kebenaran yang diridhoi-Nya.
 
 
 
🕌 TEMA: ISLAM, IMAN, DAN IHSAN
 
Para pendengar yang dimuliakan Allah,
 
Pada kesempatan pagi ini, kita akan membahas hal yang sangat pokok dan mendasar dalam agama serta kehidupan kita, yaitu tentang IMAN, ISLAM, dan IHSAN.
 
Hal ini bersumber dari sebuah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, yang menceritakan:
 
"Suatu hari ketika kami sedang duduk di majelis Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki. Pakaiannya sangat putih, rambutnya sangat hitam, tidak tampak sedikit pun bekas perjalanan jauh padanya, dan tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya."
 
Ia pun mendekat, lalu duduk di hadapan Nabi SAW, menempelkan kedua lututnya ke lutut Rasulullah, meletakkan kedua telapak tangannya di atas paha beliau, lalu bertanya:
 
❓ Pertanyaan Pertama: Tentang ISLAM
 
"Wahai Muhammad, kabarkan kepadaku apa itu Islam."
 
Rasulullah SAW menjawab:
 
"Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, dan berhaji ke Baitullah apabila engkau mampu melakukannya."
 
Laki-laki itu berkata: "Engkau benar."
Sahabat Umar berkata: "Kami pun heran — ia bertanya lalu ia sendiri yang membenarkan."
 
❓ Pertanyaan Kedua: Tentang IMAN
 
"Kabarkanlah kepadaku apa itu Iman."
 
Rasulullah SAW menjawab:
 
"Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir — baik yang baik maupun yang buruk."
 
Ia berkata: "Engkau benar."
 
❓ Pertanyaan Ketiga: Tentang IHSAN
 
"Kabarkanlah kepadaku apa itu Ihsan."
 
Rasulullah SAW menjawab:
 
"Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu."
 
❓ Pertanyaan Keempat: Tentang KIAMAT
 
"Kabarkanlah kepadaku kapan terjadinya Kiamat."
 
Rasulullah SAW menjawab:
 
"Yang ditanya tidak lebih mengetahui hal itu daripada yang bertanya."
 
❓ Pertanyaan Kelima: Tentang Tanda-Tandanya
 
"Maka kabarkanlah kepadaku apa saja tanda-tandanya."
 
Rasulullah SAW menjawab:
 
"Bahwa seorang hamba perempuan akan melahirkan tuannya, dan engkau akan melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, berpakaian buruk, miskin, dan penggembala kambing — saling berlomba meninggikan bangunan."
 
Kemudian laki-laki itu pergi meninggalkan majelis. Setelah itu, Rasulullah SAW bertanya:
 
"Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang baru saja bertanya tadi?"
 
Aku menjawab: "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui."
 
Beliau bersabda:
 
"Sesungguhnya ia adalah Jibril. Ia datang kepadamu untuk mengajarkan agama kepadamu."
 
 
 
🕌 PELAJARAN DAN HIKMAH DARI HADIS TERSEBUT
 
✅ Pertama — Manfaat untuk Semua
Pertanyaan yang diajarkan bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan untuk seluruh yang hadir dalam majelis. Dengan bertanya, manfaat ilmu pun dirasakan bersama — itulah keutamaan saling belajar demi kebaikan bersama.
 
✅ Kedua — Kejujuran Mengakui Ketidaktahuan
Apabila seseorang ditanya sesuatu dan belum mengetahuinya, tidak ada cela sama sekali untuk berkata: "Saya belum tahu." Tidak perlu memaksakan diri menjawab dengan tebakan atau hal yang belum dipahami, karena itu justru dapat menyesatkan. Mengaku belum tahu, bahkan berkata "nanti saya pelajari lebih lanjut", adalah jawaban yang jujur dan bijaksana. Hal ini sama sekali tidak menurunkan kedudukan seseorang sebagai guru, narasumber, atau pemuka agama.
 
✅ Ketiga — Malaikat Dapat Menampakkan Wujud Seperti Manusia
Peristiwa kedatangan Jibril menunjukkan bahwa malaikat dapat hadir dalam wujud yang menyerupai manusia. Dalam ungkapan orang tua-tua kita, hal ini disebut "membo" atau "mas wahyu". Ada juga yang menyebut mancalo putro atau mancalo putri — tampil dalam wujud laki-laki atau perempuan yang tampan/elok. Hal serupa juga pernah terjadi ketika para malaikat datang bertamu kepada Nabi Ibrahim 'alaihissalam dalam wujud manusia. Semua itu menunjukkan kekuasaan Allah dan kemungkinan malaikat hadir di tengah kita dalam wujud yang tidak kita sadari.
 
✅ Keempat — Tidak Ada yang Tahu Waktu Kiamat, Tetapi Tanda-Tandanya Nyata
Ketika ditanya kapan kiamat tiba, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada yang bertanya. Artinya, tidak ada seorang pun makhluk — baik manusia maupun jin — yang mengetahui waktu pasti terjadinya kiamat. Maka, siapa pun yang menetapkan kiamat akan terjadi pada tahun sekian, bulan sekian, tanggal sekian — itu pasti dusta semata.
 
Dulu ada yang menyebut 9 September 1999, lalu ada yang menyebut 21 Desember 2012 — semuanya berlalu dan tidak terjadi apa-apa. Kini sudah tahun 2026, dan masih saja ada yang mengarang waktu kiamat. Janganlah kita tertipu. Waktunya mutlak rahasia Allah. Namun, tanda-tandanya telah disampaikan agar kita waspada.
 
✅ Kelima — Salah Satu Tanda Kiamat: Banyak Anak Durhaka kepada Orang Tua
Salah satu tanda yang disebutkan Rasulullah adalah: seorang hamba perempuan melahirkan tuannya — yang maknanya, banyak anak tidak lagi menghormati orang tua, bahkan memperlakukan orang tua layaknya seorang tuan memperlakukan hamba. Anak durhaka kepada orang tua menjadi hal yang lumrah, merajalela di mana-mana. Padahal dalam syariat Islam, urutan ketaatan itu sangat jelas:
 
Pertama: menyembah dan mengesakan Allah — tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.
Kedua: berbuat baik kepada kedua orang tua — birrul walidain.
 
Karena berkat keduanya kita lahir ke dunia, dibesarkan, diasuh hingga dewasa. Maka dosa terbesar dalam Islam pun berurutan: pertama adalah syirik / menyekutukan Allah, dan selanjutnya durhaka kepada orang tua. Jika tanda-tanda ini sudah terlihat nyata di sekitar kita, maka seharusnya semakin mendekatkan diri kepada Allah, memperbaiki hubungan dengan orang tua, dan mempersiapkan bekal akhirat.
 
✅ Keenam — Berlomba Meninggikan Bangunan Tanpa Kebutuhan
Rasulullah SAW menyebutkan salah satu tanda kiamat: orang-orang miskin dan penggembala saling berlomba meninggikan bangunan. Artinya, tidak disukai mendirikan bangunan yang tinggi dan megah apabila bukan karena kebutuhan yang mendesak, melainkan hanya untuk pamer, bermegah-megahan dengan kemewahan dunia, yang akhirnya menumbuhkan kesombongan di hati.
 
Jika tanah luas, sebaiknya membangun secara mendatar/horizontal. Berbeda halnya apabila tanah sempit namun kebutuhan ruangan banyak — maka membangun secara bertingkat atau vertikal itu sah dan sesuai kebutuhan, bukan untuk kesombongan.
 
✅ Ketujuh — Beriman kepada Hal-Hal yang Ghaib
Dari hadis ini kita memperoleh dalil yang tegas: segala perkara gaib tidak ada yang mengetahuinya selain Allah. Namun demikian, kita diperintahkan untuk beriman kepada hal-hal gaib itu, dan inilah salah satu ciri orang yang bertakwa.
 
Yang dimaksud dengan gaib adalah sesuatu yang tidak terjangkau oleh panca indra kita — tidak terlihat mata, tidak terdengar telinga, tidak tercium hidung, tidak terasa lidah maupun kulit. Meski tidak dapat dibuktikan secara fisik, keberadaannya adalah kepastian mutlak karena diberitahukan oleh Allah dan Rasul-Nya. Contohnya: waktu kiamat, dzat Allah, malaikat, surga, dan neraka.
 
✅ Kedelapan — Hakikat Ruh Diketahui dari Tanda-Tandanya
Coba kita renungkan: selama kita masih bisa berbicara, mendengar, bergerak, jantung berdetak — berarti ruh masih bersemayam. Namun siapa yang dapat membuktikan wujud ruh? Kita tidak tahu secara hakiki. Namun keberadaannya nyata dari tanda-tandanya: adanya kehidupan, pergerakan, kesadaran. Sebagaimana firman Allah: "Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi ilmu kecuali sedikit."
 
✅ Kesembilan — Adab di Majelis Ilmu
Hadis ini juga mengajarkan adab dalam majelis ilmu: duduk dengan sopan, menghadap guru, mendekatkan diri dengan hormat namun tidak berlebih-lebihan. Rasulullah pun sengaja belum memberitahukan siapa tamu itu hingga ia pergi, agar para sahabat benar-benar memperhatikan dan mengambil manfaat sepenuhnya.
 
✅ Kesepuluh — Islam Bukan Hanya Karena Keturunan
Banyak dari kita menyebut diri berIslam karena lahir dari keluarga Muslim — karena keturunan saja. Padahal setelah syahadat, masih ada kewajiban sholat, zakat, puasa, dan haji. Maka patut kita renungkan: di antara yang mengaku Islam, berapa yang sholat lima waktu? Dan di antara yang sholat, berapa yang melaksanakannya berjamaah? Inilah ukuran kesungguhan kita dalam beragama.
 
✅ Kesebelas — Zakat Sama Wajibnya dengan Sholat
Perintah sholat selalu digandengkan dengan zakat. Sholat adalah hubungan vertikal kepada Allah, zakat adalah hubungan horizontal kepada sesama. Zakat baru wajib apabila telah mencapai nisab (batas minimal harta) dan haul (satu tahun kepemilikan untuk emas/aset). Untuk emas, nisabnya 85 gram. Sedangkan zakat pertanian dikeluarkan saat panen — lebih besar jika diairi air hujan, lebih ringan jika dengan irigasi biaya sendiri.
 
Ketentuan zakat itu sama wajibnya dengan sholat. Inilah sebabnya Abu Bakar Ash-Shiddiq memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat — karena mengingkari rukun Islam berarti mengingkari agama.
 
✅ Keduabelas — Puasa dan Haji Bagi yang Mampu
Puasa Ramadan wajib bagi setiap muslim. Sedangkan haji wajib bagi yang mampu — mampu secara fisik, biaya, dan juga ilmu/manasik. Apapun jalannya, yang terpenting adalah kemampuan yang sah dan pemahaman yang benar agar ibadahnya diterima Allah.
 
✅ Ketigabelas — Iman kepada Enam Rukun Iman
Setelah rukun Islam, kita naik ke tingkatan Iman: beriman kepada Allah, Malaikat, Kitab-kitab, Rasul-rasul, Hari Akhir, serta Takdir baik maupun buruk. Semua ini kita yakini meskipun tidak dapat dilihat mata, karena telah diberitahukan Allah dan Rasul-Nya.
 
✅ Keempatbelas — Ihsan: Tingkatan Puncak
Tingkatan tertinggi adalah Ihsan: beribadah seakan-akan melihat Allah. Jika belum mampu merasakan demikian, maka yakini sungguh-sungguh — Allah melihatmu. Kesadaran ini menjadi pengawas batin yang senantiasa menjaga seseorang dari berbuat maksiat meskipun sendirian. Inilah puncak kesempurnaan beragama.
 
 
 
💬 TANYA-JAWAB: MENERAPKAN IHSAN DALAM MENDIDIK ANAK
 
Pertanyaan dari Ibu Nurul — Jember:
 
"Bagaimana cara menerapkan Ihsan dalam mendidik anak di zaman sekarang? Terkadang sebagai orang tua kita mudah emosi dan hilang kesabaran. Mohon saran agar senantiasa merasa diawasi Allah saat mengasuh anak di rumah."
 
Jawaban Bapak Haji Saiful:
Pertanyaan yang sangat baik! Menerapkan Ihsan dalam pengasuhan artinya menanamkan kesadaran sejak dini bahwa Allah senantiasa melihat.
 
Gunakan perumpamaan yang mudah dipahami anak:
 
"Di mana pun kita berada, Allah melihat seperti CCTV yang merekam segala gerak. Namun Allah melihat semuanya tanpa ada yang luput."
 
Latihlah kejujuran sejak kecil. Tanyakan: "Kamu tahu tidak, kalau berbohong berarti kamu menyembunyikan sesuatu padahal Allah melihatnya?" Anak yang masih polos lebih mudah dibentuk keyakinannya dibanding orang dewasa. Dan bagi orang tua pun — saat emosi meledak, ingatlah: Allah sedang melihat bagaimana aku mendidik titipan-Nya. Maka kesabaran pun akan kembali.
 
 
 
📢 PENUTUP & PESAN AKHIR
 
Bapak Haji Sayun — Pesan Penutup:
 
"Terima kasih, Mas Bayu. Bapak, Ibu, para pendengar yang dirahmati Allah,
 
Alhamdulillah, kita telah membahas tema yang sangat mendasar — ISLAM, IMAN, dan IHSAN.
 
Jalankanlah keislaman dengan benar, mantapkanlah keimanan dalam hati, dan puncaknya — milikilah Ihsan: segala amal semata-mata meraih ridha Allah.
 
Apabila dijalankan secara istiqamah, insyaallah hidup kita menjadi terarah, tenang, dan diridhoi Allah.
 
Demikianlah. Terima kasih atas perhatian Bapak Ibu sekalian. Mohon maaf atas segala kekurangan.
 
"Nashrullahi minallahi wa fathun karim, wa bashshiril mukminin."
 
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh."
 
 
 

Saturday, August 08, 2026

Tafsir Al-Ma’idah: Menepati Janji Allah, Menjaga Tauhid, dan Menerima Kebenaran

TUBAN, 8 Agustus 2026 — Menepati janji kepada Allah, menjaga kemurnian tauhid, serta menerima kebenaran menjadi pesan penting dalam Pengajian Tafsir Jalalain yang disampaikan Ustadz Saiun Ngalim di Masjid Al Fajri, Tuban, Sabtu (8/8/2026).

Dalam kajian tersebut, Ustadz Saiun menguraikan kandungan sejumlah ayat dalam Surat Al-Ma’idah, khususnya mengenai perjanjian Allah dengan Bani Israil dan Ahli Kitab, konsekuensi ketika perjanjian itu diingkari, serta kesinambungan ajaran tauhid yang dibawa para nabi dan rasul.

Menepati Perjanjian dengan Allah

Mengawali penjelasan, Ustadz Saiun mengingatkan kandungan Surat Al-Ma’idah ayat 11 tentang nikmat dan perlindungan Allah kepada orang-orang beriman.

Menurutnya, ayat tersebut mengajarkan agar seorang mukmin senantiasa mengingat pertolongan Allah, meningkatkan ketakwaan, dan tidak menggantungkan keselamatan kepada selain-Nya.

Pembahasan kemudian berlanjut pada ayat 12, yang mengisahkan perjanjian Allah dengan Bani Israil. Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa Allah mengangkat dua belas pemimpin, yang berkaitan dengan dua belas suku Bani Israil.

Perjanjian tersebut memuat sejumlah kewajiban mendasar, antara lain mendirikan shalat, menunaikan zakat, beriman kepada para rasul, mendukung perjuangan mereka, serta menginfakkan harta di jalan Allah sebagai bentuk qardh hasan atau “pinjaman yang baik”.

“Jika perjanjian itu dipenuhi, Allah menjanjikan ampunan atas kesalahan dan memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,” jelas Ustadz Saiun dalam kajiannya.

Sebaliknya, ketika perjanjian tersebut diingkari, Allah mengingatkan adanya konsekuensi serius. Di antaranya adalah dijauhkan dari rahmat Allah, hati menjadi keras, sebagian ajaran dilupakan, dan terjadinya penyimpangan terhadap pesan-pesan wahyu.

Dari Pengingkaran Muncul Permusuhan

Ustadz Saiun kemudian mengaitkan pembahasan tersebut dengan Surat Al-Ma’idah ayat 13, yang menjelaskan akibat pengingkaran perjanjian oleh sebagian Ahli Kitab.

Al-Qur’an menyebut bahwa akibat dari sikap tersebut adalah munculnya permusuhan dan kebencian di antara mereka hingga hari kiamat.

Menurut Ustadz Saiun, ayat tersebut memberikan pelajaran bahwa ketika manusia meninggalkan kebenaran yang telah diketahuinya dan tidak lagi berpegang teguh pada petunjuk Allah, dampaknya bukan hanya terhadap hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga dapat merusak hubungan antarmanusia.

Karena itu, pesan utama ayat bukan sekadar kisah sejarah Bani Israil dan Ahli Kitab, melainkan juga menjadi peringatan bagi umat Islam agar tidak mengulangi kesalahan yang sama: berjanji kepada Allah tetapi kemudian mengabaikannya.

Inti Risalah Para Rasul adalah Tauhid

Kajian kemudian mengarah pada satu pokok penting dalam seluruh risalah kenabian, yakni tauhid.

Meskipun Allah memberikan keutamaan dan derajat yang berbeda kepada sebagian rasul atas sebagian yang lain, inti dakwah mereka tetap sama: mengajak manusia menyembah Allah Yang Maha Esa dan tidak mempersekutukan-Nya.

Dari Nabi Adam a.s. hingga Nabi Muhammad ﷺ, prinsip dasar keimanan kepada Allah dan para rasul merupakan satu kesatuan. Nabi Muhammad ﷺ hadir bukan untuk memutus risalah para nabi sebelumnya, melainkan sebagai rasul terakhir yang membenarkan risalah yang dibawa para nabi terdahulu sekaligus menyempurnakan ajaran tersebut.

Dalam konteks inilah, pembahasan tentang Ahli Kitab menjadi penting. Al-Qur’an mengkritik sikap sebagian dari mereka yang mengingkari kebenaran setelah datangnya penjelasan dan bukti.

Namun demikian, sejarah juga mencatat adanya orang-orang dari kalangan Ahli Kitab yang menerima kebenaran dan beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Kisah Waraqah dan Pelajaran tentang Kejujuran Mencari Kebenaran

Salah satu contoh yang dibahas adalah Waraqah bin Naufal, yang ketika mendengar kisah pengalaman Nabi Muhammad ﷺ menerima wahyu pertama, mengenali adanya tanda-tanda kenabian.

Sikap Waraqah memberikan pelajaran bahwa seseorang yang benar-benar mencari kebenaran akan berusaha menerimanya ketika bukti telah datang, meskipun kebenaran tersebut mengharuskan dirinya meninggalkan keyakinan atau kebiasaan sebelumnya.

Pesan ini relevan bagi umat Islam: jangan sampai seseorang mengetahui kebenaran tetapi menolaknya karena kepentingan, fanatisme, kebencian, atau keengganan untuk berubah.

Al-Qur’an dan Jaminan Penjagaan Allah

Salah satu bagian penting kajian adalah pembahasan mengenai Surat Al-Hijr ayat 9:

«“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kamilah yang benar-benar memeliharanya.”»

Ayat tersebut menjadi dasar keyakinan umat Islam bahwa Allah memberikan penjagaan terhadap Al-Qur’an.

Ustadz Saiun menekankan bahwa Al-Qur’an harus menjadi pedoman yang dijaga, dipelajari, dipahami, dan diamalkan. Kemurnian Al-Qur’an bukan sekadar untuk diyakini, tetapi juga harus melahirkan sikap hidup yang sesuai dengan petunjuknya.

Jangan Hanya Mengetahui, tetapi Menepati

Dari rangkaian ayat yang dikaji, terdapat satu pesan kuat yang dapat dibawa pulang oleh jamaah: iman tidak cukup hanya dengan pengakuan, tetapi harus dibuktikan dengan ketaatan dan kesetiaan terhadap perjanjian dengan Allah.

Shalat, zakat, keimanan kepada seluruh rasul, kepedulian terhadap perjuangan agama, serta kesediaan menginfakkan harta di jalan Allah merupakan bagian dari konsekuensi iman.

Pengingkaran terhadap janji Allah dapat menyeret manusia kepada berbagai bentuk penyimpangan, sedangkan kesetiaan kepada Allah menjadi jalan menuju ampunan dan rahmat-Nya.

Kajian Tafsir Jalalain tersebut akhirnya mengajak jamaah untuk melakukan introspeksi: apakah janji kepada Allah benar-benar telah diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari?

Sebab, sebagaimana pesan yang dapat dipetik dari rangkaian ayat tersebut, menjaga tauhid bukan hanya persoalan ucapan, melainkan juga kesetiaan menjalankan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, serta berpegang teguh pada kebenaran hingga akhir kehidupan.

Dari Masjid Al Fajri Tuban, kajian ini kembali mengingatkan bahwa sejarah umat terdahulu bukan sekadar untuk dikenang, tetapi menjadi cermin agar umat hari ini tidak mengulangi kesalahan yang sama. (*)

FIRNAS MUTTAQIN

Monday, July 27, 2026

KUDATULI


Kudatuli adalah singkatan dari Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli, yaitu peristiwa penyerbuan kantor pusat Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, pada 27 Juli 1996. Peristiwa ini menjadi salah satu titik penting yang mempercepat melemahnya rezim Orde Baru dan berkembangnya gerakan Reformasi. 

Latar belakang

Pada awal 1990-an, Megawati Soekarnoputri terpilih sebagai Ketua Umum PDI dan memperoleh dukungan masyarakat yang semakin besar. Hal ini dipandang sebagai ancaman oleh pemerintah Orde Baru di bawah Soeharto.

Pada Juni 1996, pemerintah mendukung Kongres PDI di Medan yang menetapkan Soerjadi sebagai ketua umum menggantikan Megawati. Pendukung Megawati menolak hasil kongres tersebut dan tetap menduduki kantor pusat PDI di Jakarta. 

Jalannya peristiwa

Pada pagi hari 27 Juli 1996, sekelompok orang yang didukung aparat menyerbu kantor PDI yang diduduki pendukung Megawati. Penyerbuan memicu bentrokan dan kemudian berkembang menjadi kerusuhan di berbagai wilayah Jakarta selama dua hari. Banyak bangunan dan kendaraan dibakar, serta ratusan orang ditangkap. 

Korban

Menurut hasil penyelidikan Komnas HAM:

5 orang meninggal dunia.

149 orang mengalami luka-luka.

23 orang dinyatakan hilang.

Banyak warga dan aktivis ditangkap serta mengalami pelanggaran hak asasi manusia. 

Dampak

Peristiwa Kudatuli memiliki dampak besar terhadap politik Indonesia:

Meningkatkan kritik terhadap pemerintahan Orde Baru.

Memperkuat gerakan pro-demokrasi dan Reformasi.

Setelah jatuhnya Soeharto pada 1998, pendukung Megawati mendirikan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan), yang kemudian memenangkan Pemilu 1999. 

Mengapa disebut "Kudatuli"?

Istilah Kudatuli berasal dari singkatan Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Li (Juli). Peristiwa ini juga sering disebut "Sabtu Kelabu" karena terjadi pada hari Sabtu dan dikenang sebagai salah satu tragedi politik terbesar pada masa Orde Baru. (*)

Friday, July 17, 2026

Ustadz Tengku Zulkarnain : 5 Cara Berbakti kepada Orang Tua yang Sudah Wafat

Pernah suatu ketika, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, *"Ya Rasulullah, dulu saya banyak berbuat salah kepada ayah dan ibu saya. Sekarang saya ingin meminta maaf, namun mereka berdua sudah wafat. Apakah saya masih bisa meminta maaf kepada mereka?"*

Rasulullah SAW menjawab dengan tegas bahwa hal itu sangat bisa. Beliau kemudian menjelaskan 5 amalan yang dapat menghapus kesalahan kita kepada orang tua yang telah tiada:

1. *As-Shalatu 'Alaihima* (Banyak Berdoa untuk Keduanya)

Jagalah salatmu dan perbanyaklah berdoa untuk mereka. Dari alam kubur, orang tua dapat melihat amal perbuatan kita. Berdasarkan Tafsir Ibnu Katsir saat menjelaskan **Surat At-Taubah ayat 105**, amal perbuatan manusia di dunia diperlihatkan kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-masing mukmin (termasuk orang tua yang sudah wafat).

Pendengaran dan penglihatan ahli kubur jauh lebih tajam dari orang yang masih hidup.

* *Jika anak beramal saleh (misal: Tahajud dan berdoa):* Orang tua akan tersenyum bahagia dan mendoakan kebaikan serta hidayah untuk anaknya. Keridaan orang tua di alam kubur inilah yang membuat Allah mengampuni kesalahan-kesalahan sang anak di masa lalu.
* *Jika anak bermaksiat:* Orang tua akan bersedih dan memohon kepada Allah agar anaknya tidak dimatikan sebelum mendapat hidayah.

2. *Wal-Istighfaru Lahuma* (Memohonkan Ampun atas Dosa Keduanya)

Senantiasa mintalah ampunan kepada Allah untuk dosa-dosa kedua orang tuamu. Bacalah doa yang tulus:

> *"Rabbighfirli wa li-walidayya..."* (Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku).

3. Menunaikan Wasiat Keduanya

Jika orang tua meninggalkan wasiat yang baik sebelum wafat, tunaikanlah.

> **Contoh:** Orang tua berwasiat, *"Nak, kalau rumah ini nanti dijual, bagilah secara adil kepada adik-adikmu sebagai warisan, dan sisihkan sebagian untuk renovasi mushala."*

Ketika rumah tersebut laku (misalnya Rp10 miliar), jangan serakah. Jalankan amanah tersebut. Saat kita menuruti wasiatnya, mereka melihat dari kuburnya dan merasa bangga, sehingga mereka memaafkan kesalahan kita.

4. Menyambung Silaturahmi dengan Saudara Keduanya

Jika Anda ingin berbakti secara materi tetapi orang tua sudah tiada, alihkan kebaikan tersebut kepada saudara-saudara mereka (paman, bibi, atau uwak). Mengurus dan membantu saudara kandung dari ayah atau ibu akan membuat orang tua di alam kubur merasa bahagia dan rida kepada kita.

5. Menghormati Teman-Teman Keduanya

Muliakan, hormati, dan jagalah hubungan baik dengan sahabat-sahabat karib mendiang ayah dan ibu kita semasa mereka hidup.

---

Dengan mengamalkan kelima hal di atas, insyaallah Allah SWT akan menghapus dosa-dosa dan kesalahan kita di masa lalu terhadap kedua orang tua kita.

https://youtube.com/shorts/bN7PgPu09Mo?si=BhhPMJ-azNaeq8c4
__

Thursday, July 16, 2026

John L. Esposito Wafat, Dunia Kehilangan Salah Satu Cendekiawan Barat Paling Berpengaruh dalam Kajian Islam


Dunia akademik internasional berduka. Cendekiawan terkemuka di bidang studi Islam dan hubungan internasional, Prof. John L. Esposito, meninggal dunia pada 15 Juli 2026 di Washington, D.C., Amerika Serikat, dalam usia 86 tahun.

Kabar wafatnya Guru Besar Georgetown University tersebut dikonfirmasi oleh sejumlah media internasional dan disambut dengan ucapan belasungkawa dari berbagai tokoh dunia. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim termasuk di antara para pemimpin yang menyampaikan penghormatan atas dedikasi Esposito dalam membangun pemahaman yang lebih adil mengenai Islam dan hubungan antarperadaban.

Kepergian Esposito dipandang sebagai kehilangan besar bagi dunia akademik. Selama lebih dari lima dekade, ia dikenal sebagai salah satu sarjana Barat paling berpengaruh dalam bidang Islamic Studies, dengan kontribusi yang melampaui ruang kuliah hingga memengaruhi diskursus global mengenai Islam, politik, demokrasi, dan hubungan antara dunia Muslim dengan Barat.
Lahir di New York pada 19 Mei 1940, John L. Esposito mendedikasikan hampir seluruh karier akademiknya di Georgetown University, Washington, D.C. Di sana ia mendirikan Prince Alwaleed bin Talal Center for Muslim-Christian Understanding (ACMCU), sebuah pusat kajian yang menjadi rujukan internasional dalam penelitian Islam, hubungan antaragama, dan dialog lintas peradaban.

Berbeda dengan sebagian kalangan yang memandang Islam semata melalui perspektif konflik atau keamanan, Esposito dikenal konsisten menghadirkan pendekatan akademik yang objektif, berbasis penelitian, dan menghargai keberagaman tradisi Islam. Ia aktif mendorong dialog antara umat Islam dan Barat serta mengkritisi berkembangnya stereotip dan Islamofobia, terutama setelah peristiwa 11 September 2001.

Sepanjang kariernya, Esposito menulis dan menyunting puluhan buku yang menjadi referensi di berbagai universitas dunia. Di antara karya-karyanya yang paling berpengaruh adalah The Future of Islam, Who Speaks for Islam? (ditulis bersama Dalia Mogahed), Islam: The Straight Path, The Islamic Threat: Myth or Reality?, Unholy War: Terror in the Name of Islam, serta What Everyone Needs to Know About Islam. Karya-karya tersebut membahas sejarah Islam, kebangkitan politik Islam, demokrasi di negara-negara Muslim, ekstremisme, hingga hubungan Islam dengan Barat secara komprehensif.

Di Indonesia, pemikiran John L. Esposito juga sangat dikenal melalui berbagai buku terjemahan yang diterbitkan oleh sejumlah penerbit besar seperti Mizan, LKiS, dan Inisiasi Press. Beberapa judul yang banyak digunakan sebagai referensi akademik antara lain:

- Ensiklopedi Oxford: Dunia Islam Modern (6 jilid).
- Islam dan Politik.
- Ancaman Islam: Mitos atau Realitas? (The Islamic Threat: Myth or Reality?).
- Unholy War: Teror Atas Nama Agama (Unholy War: Terror in the Name of Islam).
- Islam dan Pembangunan.
- Demokrasi di Negara-Negara Muslim: Problem dan Prospek.

Buku-buku tersebut banyak menjadi rujukan di perguruan tinggi Islam maupun umum di Indonesia karena menawarkan analisis yang komprehensif mengenai perkembangan dunia Islam modern, politik internasional, demokrasi, dan hubungan antaragama.

Selain aktif sebagai penulis, Esposito juga menjadi penasihat berbagai lembaga internasional, pemerintah, dan media global dalam isu-isu yang berkaitan dengan dunia Islam. Pandangan dan analisisnya sering dikutip dalam berbagai forum internasional ketika membahas Timur Tengah, ekstremisme, maupun hubungan antara negara-negara Barat dan dunia Muslim.

Organisasi hak sipil Muslim Amerika, Council on American-Islamic Relations (CAIR), menyebut wafatnya Esposito sebagai kehilangan besar bagi komunitas akademik dunia. Menurut CAIR, Esposito telah memberikan kontribusi luar biasa dalam memupuk pemahaman yang lebih baik tentang Islam, menentang Islamofobia, serta mempromosikan dialog antaragama sebagai jalan membangun perdamaian.

Warisan intelektual John L. Esposito akan terus hidup melalui karya-karya ilmiahnya yang menjadi referensi lintas generasi. Di tengah meningkatnya tantangan polarisasi dan kesalahpahaman terhadap Islam, pemikiran Esposito tetap relevan sebagai jembatan untuk membangun dialog, saling pengertian, dan penghormatan antarsesama.

Kepergiannya menandai berakhirnya perjalanan seorang ilmuwan besar, tetapi gagasan dan kontribusinya akan terus menjadi bagian penting dalam perkembangan studi Islam dan hubungan antarperadaban di dunia. (*)

FIRNAS MUTTAQIN

Tuesday, July 14, 2026

Di Balik 24 Juli 2026: Benarkah China Bersiap Mengakhiri Era Dolar?

Sejak awal Juli 2026, media sosial dipenuhi narasi dramatis: "24 Juli 2026 menjadi hari berakhirnya dominasi dolar Amerika Serikat." Narasi itu dikaitkan dengan keputusan sejumlah bank besar di China yang menghentikan layanan perdagangan emas kertas (paper gold) bagi investor ritel.

Bagi sebagian orang, kebijakan tersebut dianggap sebagai "serangan ekonomi" terhadap Amerika Serikat. Namun, benarkah dunia sedang menyaksikan runtuhnya sistem moneter berbasis dolar?

Dari Bretton Woods hingga Dominasi Dolar

Sejak berakhirnya Perang Dunia II, dolar AS menjadi pusat sistem keuangan global. Meskipun hubungan langsung dolar dengan emas berakhir pada 1971 ketika Presiden Richard Nixon menghentikan konvertibilitas dolar terhadap emas, mata uang AS tetap menjadi alat pembayaran utama perdagangan internasional.

Hingga kini, sebagian besar transaksi lintas negara, perdagangan energi, pembiayaan internasasional, dan cadangan devisa bank sentral masih didominasi dolar.

Dominasi ini tidak hanya bertumpu pada kekuatan ekonomi Amerika Serikat, tetapi juga pada besarnya pasar obligasi pemerintah AS, likuiditas sistem keuangannya, serta kepercayaan investor global.

Langkah China yang Memicu Spekulasi

Mulai 24 Juli 2026, sejumlah bank besar di China menghentikan layanan perdagangan emas berbasis kontrak atau paper gold untuk investor ritel.

Yang dihentikan bukanlah jual beli emas batangan, melainkan instrumen keuangan yang mengikuti harga emas tanpa kepemilikan fisik.

Kebijakan tersebut diambil setelah tingginya volatilitas harga emas yang meningkatkan risiko spekulasi.

Tujuan utamanya adalah memperkuat stabilitas sistem keuangan domestik, bukan mengumumkan berakhirnya penggunaan dolar.

Mengapa China Terus Membeli Emas?

Meski tidak sedang "menghancurkan dolar", China memang telah lama menjalankan strategi diversifikasi aset.

Dalam beberapa tahun terakhir, Bank Sentral China secara konsisten menambah cadangan emas. Langkah serupa juga dilakukan oleh sejumlah bank sentral lain, termasuk India, Turki, dan beberapa negara Timur Tengah.

Ada beberapa alasan utama:

- mengurangi ketergantungan terhadap aset berbasis dolar;
- memperkuat kepercayaan terhadap cadangan devisa;
- melindungi nilai aset ketika terjadi gejolak geopolitik;
- serta memperkuat posisi yuan dalam perdagangan internasional.

Dengan kata lain, emas dipandang sebagai aset lindung nilai (safe haven), bukan senjata untuk menjatuhkan dolar dalam semalam.

BRICS dan Agenda Dedolarisasi

Perhatian dunia juga tertuju pada kelompok BRICS yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, dan negara-negara anggota baru.

BRICS mendorong penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan antaranggota untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS.

Namun hingga kini, belum ada mata uang tunggal BRICS yang mampu menggantikan peran dolar sebagai mata uang cadangan dunia.

Proses dedolarisasi lebih tepat dipahami sebagai perubahan bertahap, bukan revolusi yang terjadi dalam satu hari.

Emas Fisik atau Emas Digital?

Perdebatan lain yang ikut mengemuka adalah mengenai emas fisik dan emas digital.

Emas fisik memberikan kepemilikan langsung atas logam mulia yang dapat disimpan sendiri atau melalui lembaga penyimpanan resmi.

Sementara itu, emas digital maupun paper gold memberikan eksposur terhadap harga emas tanpa selalu memberikan hak atas emas batangan tertentu. Pada beberapa produk, kepemilikan benar-benar didukung emas fisik, tetapi pada produk lain hanya berupa kontrak keuangan. Karena itu, investor perlu memahami mekanisme setiap produk sebelum berinvestasi.

Apakah Dolar Akan Runtuh?

Sejumlah ekonom menilai dominasi dolar kemungkinan akan terus berkurang secara perlahan seiring meningkatnya penggunaan mata uang lain dalam perdagangan internasional.

Namun, menggantikan dolar bukan perkara sederhana.

Dolar masih memiliki keunggulan berupa pasar keuangan yang sangat dalam, likuiditas tinggi, serta jaringan penggunaan global yang telah terbentuk selama puluhan tahun.

Oleh sebab itu, tidak ada dasar kuat untuk menyimpulkan bahwa kebijakan China pada 24 Juli 2026 akan langsung mengakhiri era dolar.

Pelajaran bagi Investor Indonesia

Bagi masyarakat Indonesia, isu ini sebaiknya tidak disikapi dengan kepanikan ataupun euforia.

Yang lebih penting adalah memahami karakter instrumen investasi, melakukan diversifikasi aset, serta menghindari keputusan investasi yang hanya didasarkan pada informasi viral yang belum terverifikasi.

Kebijakan China memang mencerminkan arah baru pengelolaan risiko di pasar keuangan dan bagian dari tren dedolarisasi global. Namun, perubahan tatanan moneter dunia merupakan proses yang kompleks dan berlangsung dalam jangka panjang.

Kesimpulannya, tanggal 24 Juli 2026 bukanlah "hari kiamat dolar". Yang terjadi adalah penyesuaian kebijakan perdagangan emas oleh sejumlah bank besar di China. Meski langkah itu dapat dibaca sebagai bagian dari strategi ekonomi jangka panjang China, dominasi dolar AS masih ditopang oleh fondasi ekonomi dan keuangan global yang sangat kuat.

Di tengah perubahan lanskap ekonomi dunia, investor dituntut untuk lebih kritis, memahami fakta, dan tidak mudah terbawa narasi sensasional yang beredar di media sosial.Referensi utama:

Crypto Briefing, laporan mengenai penghentian layanan paper gold oleh sejumlah bank besar China mulai 24 Juli 2026.

Data dan publikasi mengenai cadangan emas bank sentral dari World Gold Council.

Publikasi dan statistik internasional dari IMF mengenai komposisi cadangan devisa global.

Laporan Bank for International Settlements (BIS) mengenai penggunaan mata uang dalam transaksi internasasional.

Kajian mengenai penggunaan mata uang lokal dan dedolarisasi dalam kerja sama BRICS.

Artikel ini dirancang agar tetap membedakan fakta yang telah dikonfirmasi (penghentian layanan paper gold oleh sejumlah bank) dari analisis dan proyeksi (potensi dampaknya terhadap dominasi dolar), sehingga tidak mencampuradukkan keduanya sebagai kepastian. (*)

Kisah Keutamaan Doa Penarik Rezeki


Ada sebuah doa yang jika kita amalkan dibaca tujuh kali setiap habis salat, insyaallah Allah SWT akan berikan jalan keluar bagi setiap urusan kita. Mari kita rajin-rajin mengamalkan doa ini.

Cerita ini saya dapatkan dari seorang tukang becak. Kita tahu sendiri penghasilan tukang becak biasanya tidak seberapa, namun beliau istikamah mengamalkan doa ini. Doanya adalah sebagai berikut:

Bacaan Doa

اَللَّهُمَّ يَا غَنِيُّ يَا حَمِيْدُ، يَا مُبْدِئُ يَا مُعِيْدُ، يَا رَحِيْمُ يَا وَدُوْدُ، أَغْنِنِيْ بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

"Allahumma ya ghaniyyu ya hamid, ya mubdi'u ya mu'id, ya rahimu ya wadud, aghnini bihalalika 'an haramik, wa bifadlika 'amman siwak. Wa shallallahu 'ala sayyidina Muhammadin wa 'ala alihi wa shahbihi wa sallam."

Keberkahan Setelah Mengamalkan

Tukang becak itu berkata kepada saya, "Ustaz, amalkan doa ini." Akhirnya saya amalkan. Sejak dulu sampai sekarang, saya rutin membacanya tujuh kali setiap selesai salat fardu. Bagi yang ingin mencatat atau merekamnya, dipersilakan.

Alhamdulillah, khasiatnya nyata. Tidak lama setelah mengamalkannya, seorang teman tiba-tiba bertanya kepada saya, "Ustaz, mau pergi umrah?" Saya jawab, "Mau, Kak." Ternyata, dia mengajak saya untuk membimbing satu rombongan secara gratis!

Alhamdulillah, tanpa perlu mencari-cari jalan, Allah langsung panggil saya ke Tanah Suci. Semua itu berkah wasilah doa yang diajarkan oleh seorang tukang becak tersebut.

Doa Penarik Rezeki


Sunday, July 12, 2026

Ustadz Deddy Wahyudi Ajak Jamaah Makmurkan Masjid Lewat Gerakan Subuh, Syuruq, Sedekah, dan Pasar Bahagia

PASURUAN – Menghidupkan masjid tidak cukup hanya dengan memperbanyak kegiatan ibadah. Masjid juga perlu menjadi pusat kebahagiaan, silaturahmi, dan pemberdayaan ekonomi umat. Gagasan tersebut disampaikan Ustadz Deddy Wahyudi, M.M. dalam Pengajian Ahad Pagi di Masjid Darul Arqom PDM Kota Pasuruan, Ahad (12/7/2026).

Dalam kajiannya, Ustadz Deddy mengajak jamaah menjadikan waktu Subuh sebagai momentum membangun kebiasaan baik yang dilakukan secara istiqamah. Menurutnya, salat Subuh berjamaah memiliki keutamaan yang luar biasa, terlebih apabila dilanjutkan dengan berzikir hingga matahari terbit dan kemudian melaksanakan sholat Syuruq.

Ia mengutip hadis Rasulullah ﷺ yang menyebutkan bahwa orang yang melaksanakan salat Subuh berjamaah, kemudian berzikir hingga matahari terbit dan menunaikan dua rakaat salat Syuruq, akan memperoleh pahala seperti haji dan umrah yang sempurna.

"Sholat Syuruq dilakukan setelah matahari benar-benar terbit dan naik sekitar satu tombak atau kurang lebih 15–20 menit setelah terbit. Jangan melaksanakan salat tepat ketika matahari baru terbit karena itu termasuk waktu yang dilarang," jelasnya.

Selain menghidupkan ibadah pagi, Ustadz Deddy juga menekankan pentingnya membiasakan Sedekah Subuh. Ia mengingatkan hadis Rasulullah ﷺ tentang dua malaikat yang setiap pagi turun mendoakan orang yang gemar berinfak agar diberi ganti rezeki, sementara malaikat lainnya mendoakan kebinasaan bagi orang yang menahan hartanya.

Menurutnya, sedekah tidak harus dalam jumlah besar. Infak Rp500 hingga Rp1.000 yang dilakukan secara rutin jauh lebih bernilai jika mampu membangun budaya berbagi di tengah jamaah.

Ia bahkan mengusulkan agar masjid memiliki kotak infak khusus Subuh yang dipisahkan dari kotak infak operasional umum. Dana tersebut digunakan untuk mendukung seluruh aktivitas Subuh, mulai dari konsumsi jamaah, kajian, hingga berbagai program yang dapat menarik masyarakat datang ke masjid.

"Kalau dana itu benar-benar digunakan untuk memakmurkan kegiatan Subuh, jamaah akan semakin semangat berinfak karena mereka melihat langsung manfaatnya," ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Deddy juga memperkenalkan konsep Pasar Bahagia, yaitu kegiatan berbagi kebahagiaan setelah salat Subuh. Bentuknya bisa berupa sarapan sederhana, pembagian sayur kepada jamaah, ataupun menghadirkan pelaku UMKM untuk menjual hasil usahanya di lingkungan masjid.

Menurutnya, program seperti itu telah diterapkan di sejumlah masjid dan terbukti mampu meningkatkan jumlah jamaah Subuh sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.

"Bukan nilai barangnya yang utama, tetapi rasa kebersamaan dan kebahagiaan yang dibangun. Jamaah pulang membawa sayur atau makanan sederhana, keluarganya ikut merasakan manfaat datang ke masjid," katanya.

Ia menambahkan bahwa masjid pada masa Rasulullah ﷺ tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pendidikan, pelayanan sosial, musyawarah, dan aktivitas ekonomi umat. Karena itu, konsep memakmurkan masjid pada masa kini juga perlu menyentuh aspek sosial dan ekonomi tanpa menghilangkan fungsi utamanya sebagai tempat beribadah.

Melalui Gerakan Subuh, Sedekah Subuh, Sholat Syuruq, dan Pasar Bahagia, Ustadz Deddy berharap semakin banyak masyarakat yang mencintai masjid dan menjadikannya sebagai pusat kehidupan umat.

"Jika semakin banyak orang datang ke masjid karena upaya yang kita lakukan bersama, maka insyaallah setiap langkah mereka menjadi amal jariyah yang terus mengalir bagi orang-orang yang menghidupkan masjid," pungkasnya. (*)

FIRNAS MUTTAQIN

Menjaga Keberkahan Waktu di Tengah Percepatan Zaman

Masjid Al-Ukhuwah, Sekarsono, Kota Pasuruan, kembali menggelar pengajian rutin Ahad pagi pada 12 Juli 2026. Dalam kesempatan ini, Ustadz Heru Winarno mengangkat tema seputar hakikat waktu dalam pandangan Islam, khususnya fenomena "percepatan waktu" yang dirasakan banyak orang di era modern serta bagaimana seorang muslim dapat meraih keberkahan di dalamnya.

*Waktu yang Terasa Kian Singkat*

Mengawali kajian, Ustadz Heru mengingatkan jamaah tentang pentingnya gerak dan aktivitas bagi kesehatan tubuh. Ia mencontohkan bagaimana tubuh yang terlalu banyak berdiam atau tidur justru terasa tidak nyaman, sebagai analogi bahwa kemalasan bergerak—baik secara fisik maupun spiritual—dapat membawa dampak buruk.

Dari sana, ia mengaitkannya dengan fenomena kesibukan digital masa kini, terutama kebiasaan "scroll-scroll" di gawai yang banyak menyita waktu tanpa disadari.

Ustadz Heru kemudian mengutip hadis riwayat Anas bin Malik, di mana Rasulullah ﷺ bersabda bahwa hari kiamat tidak akan terjadi sampai waktu terasa semakin singkat: satu tahun terasa seperti satu bulan, satu bulan seperti satu pekan, satu pekan seperti satu hari, satu hari seperti satu jam, dan satu jam seperti kilatan api. Ia menegaskan bahwa fenomena ini bukan hal baru, melainkan persoalan klasik yang telah disinggung sejak masa kenabian.

*Perspektif Al-Qur'an tentang Waktu*

Untuk memperkuat pemahaman, Ustadz Heru merujuk pada ayat Al-Qur'an tentang pergantian malam dan siang sebagai tanda bagi orang yang mau mengambil pelajaran dan bersyukur. Menurutnya, memahami ayat ini bukan sekadar soal hitungan jam atau hari, melainkan kesadaran untuk memanfaatkan waktu sebagai sarana mengingat Allah, memperbaiki diri, dan memperbanyak amal.

Ia juga mengutip Surat Al-'Ashr yang menegaskan bahwa seluruh manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, mengerjakan amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran. Ustadz Heru menambahkan bahwa dalam riwayat lain disebutkan pula anjuran saling menasihati dalam kasih sayang, karena kehidupan tanpa kasih sayang akan terasa menekan.

Ia mengutip pandangan Imam Syafi'i yang menyebut bahwa seandainya Allah hanya menurunkan Surat Al-'Asr sebagai pedoman bagi manusia, itu sudah cukup sebagai bekal hidup.

*Bukan Berkurangnya Jumlah Jam, Melainkan Hilangnya Keberkahan*

Salah satu poin penting yang disampaikan Ustadz Heru adalah penjelasan para ulama—seperti Imam Nawawi, Qadhi Iyadh, Ibnu Hajar, dan Al-Mubarakfuri dalam kitab *Tuhfatul Ahwadzi*—bahwa "percepatan waktu" yang dimaksud dalam hadis bukanlah berkurangnya jumlah jam secara harfiah, melainkan hilangnya keberkahan waktu. Satu hari tetap 24 jam, namun manfaat yang dihasilkan darinya semakin sedikit.

Menurut penjelasan yang dikutip dari Ibnu Hajar, percepatan waktu di akhir zaman disebabkan oleh tiga hal:

1. Hilangnya keberkahan akibat maraknya dosa dan kemaksiatan.
2. Kesibukan duniawi yang melalaikan manusia dari ibadah.
3. Kemajuan teknologi yang membuat manusia sibuk dengan hal-hal yang tidak bermanfaat.

*Tujuh Ciri Waktu yang Berkah*

Ustadz Heru kemudian memaparkan ciri-ciri orang yang waktunya diberkahi Allah, di antaranya:

- **Mampu menghasilkan banyak kebaikan dalam waktu yang relatif singkat**, karena dimudahkan Allah dalam menjalankan berbagai aktivitas tanpa merasa terbebani. Ia mencontohkan Imam Nawawi yang meski wafat pada usia 45 tahun berhasil menghasilkan puluhan karya besar, termasuk kumpulan Hadis Arba'in yang masih dipelajari di dunia Islam hingga kini.
- **Tidak suka menyia-nyiakan waktu**, sebagaimana disampaikan Imam Abu Bakar bin 'Ayyash bahwa orang yang kehilangan hartanya akan bersedih sepanjang hari, namun jarang ada orang yang menyesali hilangnya satu hari dari umurnya. Ustadz Heru mengingatkan pentingnya kebiasaan muhasabah atau evaluasi diri sebelum tidur.
- **Mengisi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat**, tanpa harus meniadakan istirahat, namun tetap didominasi oleh aktivitas yang produktif dan bermakna, misalnya membiasakan membaca buku di sela-sela kesibukan.

Sebagai penutup dari poin ini, Ustadz Heru mengajak jamaah merenungkan Surat Al-Ahzab ayat 35 yang merinci sepuluh kategori amal sebagai gambaran pemanfaatan waktu seorang muslim dan muslimah—mulai dari keislaman, keimanan, ketaatan, hingga kejujuran.

*Orientasi Akhirat Tanpa Melupakan Dunia*

Ustadz Heru menegaskan bahwa keberkahan waktu akan datang bila orientasi seorang muslim diarahkan kepada akhirat terlebih dahulu, sebagaimana pesan dalam Surat Al-Qashash ayat 77, tanpa melupakan bagiannya di dunia. Seorang muslim yang produktif, menurutnya, akan menjadikan seluruh aktivitas hariannya—termasuk hal-hal kecil seperti berjalan di jalan raya—sebagai bagian dari ibadah kepada Allah.

Kajian ditutup dengan pesan agar jamaah senantiasa fokus dan bersungguh-sungguh dalam setiap urusan, sembari menjaga adab dalam pergaulan sehari-hari, termasuk saat berkumpul dan berbincang santai bersama sesama. (*)

---
FIRNAS MUTTAQIN