Thursday, July 16, 2026

John L. Esposito Wafat, Dunia Kehilangan Salah Satu Cendekiawan Barat Paling Berpengaruh dalam Kajian Islam


Dunia akademik internasional berduka. Cendekiawan terkemuka di bidang studi Islam dan hubungan internasional, Prof. John L. Esposito, meninggal dunia pada 15 Juli 2026 di Washington, D.C., Amerika Serikat, dalam usia 86 tahun.

Kabar wafatnya Guru Besar Georgetown University tersebut dikonfirmasi oleh sejumlah media internasional dan disambut dengan ucapan belasungkawa dari berbagai tokoh dunia. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim termasuk di antara para pemimpin yang menyampaikan penghormatan atas dedikasi Esposito dalam membangun pemahaman yang lebih adil mengenai Islam dan hubungan antarperadaban.

Kepergian Esposito dipandang sebagai kehilangan besar bagi dunia akademik. Selama lebih dari lima dekade, ia dikenal sebagai salah satu sarjana Barat paling berpengaruh dalam bidang Islamic Studies, dengan kontribusi yang melampaui ruang kuliah hingga memengaruhi diskursus global mengenai Islam, politik, demokrasi, dan hubungan antara dunia Muslim dengan Barat.
Lahir di New York pada 19 Mei 1940, John L. Esposito mendedikasikan hampir seluruh karier akademiknya di Georgetown University, Washington, D.C. Di sana ia mendirikan Prince Alwaleed bin Talal Center for Muslim-Christian Understanding (ACMCU), sebuah pusat kajian yang menjadi rujukan internasional dalam penelitian Islam, hubungan antaragama, dan dialog lintas peradaban.

Berbeda dengan sebagian kalangan yang memandang Islam semata melalui perspektif konflik atau keamanan, Esposito dikenal konsisten menghadirkan pendekatan akademik yang objektif, berbasis penelitian, dan menghargai keberagaman tradisi Islam. Ia aktif mendorong dialog antara umat Islam dan Barat serta mengkritisi berkembangnya stereotip dan Islamofobia, terutama setelah peristiwa 11 September 2001.

Sepanjang kariernya, Esposito menulis dan menyunting puluhan buku yang menjadi referensi di berbagai universitas dunia. Di antara karya-karyanya yang paling berpengaruh adalah The Future of Islam, Who Speaks for Islam? (ditulis bersama Dalia Mogahed), Islam: The Straight Path, The Islamic Threat: Myth or Reality?, Unholy War: Terror in the Name of Islam, serta What Everyone Needs to Know About Islam. Karya-karya tersebut membahas sejarah Islam, kebangkitan politik Islam, demokrasi di negara-negara Muslim, ekstremisme, hingga hubungan Islam dengan Barat secara komprehensif.

Di Indonesia, pemikiran John L. Esposito juga sangat dikenal melalui berbagai buku terjemahan yang diterbitkan oleh sejumlah penerbit besar seperti Mizan, LKiS, dan Inisiasi Press. Beberapa judul yang banyak digunakan sebagai referensi akademik antara lain:

- Ensiklopedi Oxford: Dunia Islam Modern (6 jilid).
- Islam dan Politik.
- Ancaman Islam: Mitos atau Realitas? (The Islamic Threat: Myth or Reality?).
- Unholy War: Teror Atas Nama Agama (Unholy War: Terror in the Name of Islam).
- Islam dan Pembangunan.
- Demokrasi di Negara-Negara Muslim: Problem dan Prospek.

Buku-buku tersebut banyak menjadi rujukan di perguruan tinggi Islam maupun umum di Indonesia karena menawarkan analisis yang komprehensif mengenai perkembangan dunia Islam modern, politik internasional, demokrasi, dan hubungan antaragama.

Selain aktif sebagai penulis, Esposito juga menjadi penasihat berbagai lembaga internasional, pemerintah, dan media global dalam isu-isu yang berkaitan dengan dunia Islam. Pandangan dan analisisnya sering dikutip dalam berbagai forum internasional ketika membahas Timur Tengah, ekstremisme, maupun hubungan antara negara-negara Barat dan dunia Muslim.

Organisasi hak sipil Muslim Amerika, Council on American-Islamic Relations (CAIR), menyebut wafatnya Esposito sebagai kehilangan besar bagi komunitas akademik dunia. Menurut CAIR, Esposito telah memberikan kontribusi luar biasa dalam memupuk pemahaman yang lebih baik tentang Islam, menentang Islamofobia, serta mempromosikan dialog antaragama sebagai jalan membangun perdamaian.

Warisan intelektual John L. Esposito akan terus hidup melalui karya-karya ilmiahnya yang menjadi referensi lintas generasi. Di tengah meningkatnya tantangan polarisasi dan kesalahpahaman terhadap Islam, pemikiran Esposito tetap relevan sebagai jembatan untuk membangun dialog, saling pengertian, dan penghormatan antarsesama.

Kepergiannya menandai berakhirnya perjalanan seorang ilmuwan besar, tetapi gagasan dan kontribusinya akan terus menjadi bagian penting dalam perkembangan studi Islam dan hubungan antarperadaban di dunia. (*)

FIRNAS MUTTAQIN

Tuesday, July 14, 2026

Di Balik 24 Juli 2026: Benarkah China Bersiap Mengakhiri Era Dolar?

Sejak awal Juli 2026, media sosial dipenuhi narasi dramatis: "24 Juli 2026 menjadi hari berakhirnya dominasi dolar Amerika Serikat." Narasi itu dikaitkan dengan keputusan sejumlah bank besar di China yang menghentikan layanan perdagangan emas kertas (paper gold) bagi investor ritel.

Bagi sebagian orang, kebijakan tersebut dianggap sebagai "serangan ekonomi" terhadap Amerika Serikat. Namun, benarkah dunia sedang menyaksikan runtuhnya sistem moneter berbasis dolar?

Dari Bretton Woods hingga Dominasi Dolar

Sejak berakhirnya Perang Dunia II, dolar AS menjadi pusat sistem keuangan global. Meskipun hubungan langsung dolar dengan emas berakhir pada 1971 ketika Presiden Richard Nixon menghentikan konvertibilitas dolar terhadap emas, mata uang AS tetap menjadi alat pembayaran utama perdagangan internasional.

Hingga kini, sebagian besar transaksi lintas negara, perdagangan energi, pembiayaan internasasional, dan cadangan devisa bank sentral masih didominasi dolar.

Dominasi ini tidak hanya bertumpu pada kekuatan ekonomi Amerika Serikat, tetapi juga pada besarnya pasar obligasi pemerintah AS, likuiditas sistem keuangannya, serta kepercayaan investor global.

Langkah China yang Memicu Spekulasi

Mulai 24 Juli 2026, sejumlah bank besar di China menghentikan layanan perdagangan emas berbasis kontrak atau paper gold untuk investor ritel.

Yang dihentikan bukanlah jual beli emas batangan, melainkan instrumen keuangan yang mengikuti harga emas tanpa kepemilikan fisik.

Kebijakan tersebut diambil setelah tingginya volatilitas harga emas yang meningkatkan risiko spekulasi.

Tujuan utamanya adalah memperkuat stabilitas sistem keuangan domestik, bukan mengumumkan berakhirnya penggunaan dolar.

Mengapa China Terus Membeli Emas?

Meski tidak sedang "menghancurkan dolar", China memang telah lama menjalankan strategi diversifikasi aset.

Dalam beberapa tahun terakhir, Bank Sentral China secara konsisten menambah cadangan emas. Langkah serupa juga dilakukan oleh sejumlah bank sentral lain, termasuk India, Turki, dan beberapa negara Timur Tengah.

Ada beberapa alasan utama:

- mengurangi ketergantungan terhadap aset berbasis dolar;
- memperkuat kepercayaan terhadap cadangan devisa;
- melindungi nilai aset ketika terjadi gejolak geopolitik;
- serta memperkuat posisi yuan dalam perdagangan internasional.

Dengan kata lain, emas dipandang sebagai aset lindung nilai (safe haven), bukan senjata untuk menjatuhkan dolar dalam semalam.

BRICS dan Agenda Dedolarisasi

Perhatian dunia juga tertuju pada kelompok BRICS yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, dan negara-negara anggota baru.

BRICS mendorong penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan antaranggota untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS.

Namun hingga kini, belum ada mata uang tunggal BRICS yang mampu menggantikan peran dolar sebagai mata uang cadangan dunia.

Proses dedolarisasi lebih tepat dipahami sebagai perubahan bertahap, bukan revolusi yang terjadi dalam satu hari.

Emas Fisik atau Emas Digital?

Perdebatan lain yang ikut mengemuka adalah mengenai emas fisik dan emas digital.

Emas fisik memberikan kepemilikan langsung atas logam mulia yang dapat disimpan sendiri atau melalui lembaga penyimpanan resmi.

Sementara itu, emas digital maupun paper gold memberikan eksposur terhadap harga emas tanpa selalu memberikan hak atas emas batangan tertentu. Pada beberapa produk, kepemilikan benar-benar didukung emas fisik, tetapi pada produk lain hanya berupa kontrak keuangan. Karena itu, investor perlu memahami mekanisme setiap produk sebelum berinvestasi.

Apakah Dolar Akan Runtuh?

Sejumlah ekonom menilai dominasi dolar kemungkinan akan terus berkurang secara perlahan seiring meningkatnya penggunaan mata uang lain dalam perdagangan internasional.

Namun, menggantikan dolar bukan perkara sederhana.

Dolar masih memiliki keunggulan berupa pasar keuangan yang sangat dalam, likuiditas tinggi, serta jaringan penggunaan global yang telah terbentuk selama puluhan tahun.

Oleh sebab itu, tidak ada dasar kuat untuk menyimpulkan bahwa kebijakan China pada 24 Juli 2026 akan langsung mengakhiri era dolar.

Pelajaran bagi Investor Indonesia

Bagi masyarakat Indonesia, isu ini sebaiknya tidak disikapi dengan kepanikan ataupun euforia.

Yang lebih penting adalah memahami karakter instrumen investasi, melakukan diversifikasi aset, serta menghindari keputusan investasi yang hanya didasarkan pada informasi viral yang belum terverifikasi.

Kebijakan China memang mencerminkan arah baru pengelolaan risiko di pasar keuangan dan bagian dari tren dedolarisasi global. Namun, perubahan tatanan moneter dunia merupakan proses yang kompleks dan berlangsung dalam jangka panjang.

Kesimpulannya, tanggal 24 Juli 2026 bukanlah "hari kiamat dolar". Yang terjadi adalah penyesuaian kebijakan perdagangan emas oleh sejumlah bank besar di China. Meski langkah itu dapat dibaca sebagai bagian dari strategi ekonomi jangka panjang China, dominasi dolar AS masih ditopang oleh fondasi ekonomi dan keuangan global yang sangat kuat.

Di tengah perubahan lanskap ekonomi dunia, investor dituntut untuk lebih kritis, memahami fakta, dan tidak mudah terbawa narasi sensasional yang beredar di media sosial.Referensi utama:

Crypto Briefing, laporan mengenai penghentian layanan paper gold oleh sejumlah bank besar China mulai 24 Juli 2026.

Data dan publikasi mengenai cadangan emas bank sentral dari World Gold Council.

Publikasi dan statistik internasional dari IMF mengenai komposisi cadangan devisa global.

Laporan Bank for International Settlements (BIS) mengenai penggunaan mata uang dalam transaksi internasasional.

Kajian mengenai penggunaan mata uang lokal dan dedolarisasi dalam kerja sama BRICS.

Artikel ini dirancang agar tetap membedakan fakta yang telah dikonfirmasi (penghentian layanan paper gold oleh sejumlah bank) dari analisis dan proyeksi (potensi dampaknya terhadap dominasi dolar), sehingga tidak mencampuradukkan keduanya sebagai kepastian. (*)

Kisah Keutamaan Doa Penarik Rezeki


Ada sebuah doa yang jika kita amalkan dibaca tujuh kali setiap habis salat, insyaallah Allah SWT akan berikan jalan keluar bagi setiap urusan kita. Mari kita rajin-rajin mengamalkan doa ini.

Cerita ini saya dapatkan dari seorang tukang becak. Kita tahu sendiri penghasilan tukang becak biasanya tidak seberapa, namun beliau istikamah mengamalkan doa ini. Doanya adalah sebagai berikut:

Bacaan Doa

اَللَّهُمَّ يَا غَنِيُّ يَا حَمِيْدُ، يَا مُبْدِئُ يَا مُعِيْدُ، يَا رَحِيْمُ يَا وَدُوْدُ، أَغْنِنِيْ بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

"Allahumma ya ghaniyyu ya hamid, ya mubdi'u ya mu'id, ya rahimu ya wadud, aghnini bihalalika 'an haramik, wa bifadlika 'amman siwak. Wa shallallahu 'ala sayyidina Muhammadin wa 'ala alihi wa shahbihi wa sallam."

Keberkahan Setelah Mengamalkan

Tukang becak itu berkata kepada saya, "Ustaz, amalkan doa ini." Akhirnya saya amalkan. Sejak dulu sampai sekarang, saya rutin membacanya tujuh kali setiap selesai salat fardu. Bagi yang ingin mencatat atau merekamnya, dipersilakan.

Alhamdulillah, khasiatnya nyata. Tidak lama setelah mengamalkannya, seorang teman tiba-tiba bertanya kepada saya, "Ustaz, mau pergi umrah?" Saya jawab, "Mau, Kak." Ternyata, dia mengajak saya untuk membimbing satu rombongan secara gratis!

Alhamdulillah, tanpa perlu mencari-cari jalan, Allah langsung panggil saya ke Tanah Suci. Semua itu berkah wasilah doa yang diajarkan oleh seorang tukang becak tersebut.

Doa Penarik Rezeki


Sunday, July 12, 2026

Ustadz Deddy Wahyudi Ajak Jamaah Makmurkan Masjid Lewat Gerakan Subuh, Syuruq, Sedekah, dan Pasar Bahagia

PASURUAN – Menghidupkan masjid tidak cukup hanya dengan memperbanyak kegiatan ibadah. Masjid juga perlu menjadi pusat kebahagiaan, silaturahmi, dan pemberdayaan ekonomi umat. Gagasan tersebut disampaikan Ustadz Deddy Wahyudi, M.M. dalam Pengajian Ahad Pagi di Masjid Darul Arqom PDM Kota Pasuruan, Ahad (12/7/2026).

Dalam kajiannya, Ustadz Deddy mengajak jamaah menjadikan waktu Subuh sebagai momentum membangun kebiasaan baik yang dilakukan secara istiqamah. Menurutnya, salat Subuh berjamaah memiliki keutamaan yang luar biasa, terlebih apabila dilanjutkan dengan berzikir hingga matahari terbit dan kemudian melaksanakan sholat Syuruq.

Ia mengutip hadis Rasulullah ﷺ yang menyebutkan bahwa orang yang melaksanakan salat Subuh berjamaah, kemudian berzikir hingga matahari terbit dan menunaikan dua rakaat salat Syuruq, akan memperoleh pahala seperti haji dan umrah yang sempurna.

"Sholat Syuruq dilakukan setelah matahari benar-benar terbit dan naik sekitar satu tombak atau kurang lebih 15–20 menit setelah terbit. Jangan melaksanakan salat tepat ketika matahari baru terbit karena itu termasuk waktu yang dilarang," jelasnya.

Selain menghidupkan ibadah pagi, Ustadz Deddy juga menekankan pentingnya membiasakan Sedekah Subuh. Ia mengingatkan hadis Rasulullah ﷺ tentang dua malaikat yang setiap pagi turun mendoakan orang yang gemar berinfak agar diberi ganti rezeki, sementara malaikat lainnya mendoakan kebinasaan bagi orang yang menahan hartanya.

Menurutnya, sedekah tidak harus dalam jumlah besar. Infak Rp500 hingga Rp1.000 yang dilakukan secara rutin jauh lebih bernilai jika mampu membangun budaya berbagi di tengah jamaah.

Ia bahkan mengusulkan agar masjid memiliki kotak infak khusus Subuh yang dipisahkan dari kotak infak operasional umum. Dana tersebut digunakan untuk mendukung seluruh aktivitas Subuh, mulai dari konsumsi jamaah, kajian, hingga berbagai program yang dapat menarik masyarakat datang ke masjid.

"Kalau dana itu benar-benar digunakan untuk memakmurkan kegiatan Subuh, jamaah akan semakin semangat berinfak karena mereka melihat langsung manfaatnya," ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Deddy juga memperkenalkan konsep Pasar Bahagia, yaitu kegiatan berbagi kebahagiaan setelah salat Subuh. Bentuknya bisa berupa sarapan sederhana, pembagian sayur kepada jamaah, ataupun menghadirkan pelaku UMKM untuk menjual hasil usahanya di lingkungan masjid.

Menurutnya, program seperti itu telah diterapkan di sejumlah masjid dan terbukti mampu meningkatkan jumlah jamaah Subuh sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.

"Bukan nilai barangnya yang utama, tetapi rasa kebersamaan dan kebahagiaan yang dibangun. Jamaah pulang membawa sayur atau makanan sederhana, keluarganya ikut merasakan manfaat datang ke masjid," katanya.

Ia menambahkan bahwa masjid pada masa Rasulullah ﷺ tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pendidikan, pelayanan sosial, musyawarah, dan aktivitas ekonomi umat. Karena itu, konsep memakmurkan masjid pada masa kini juga perlu menyentuh aspek sosial dan ekonomi tanpa menghilangkan fungsi utamanya sebagai tempat beribadah.

Melalui Gerakan Subuh, Sedekah Subuh, Sholat Syuruq, dan Pasar Bahagia, Ustadz Deddy berharap semakin banyak masyarakat yang mencintai masjid dan menjadikannya sebagai pusat kehidupan umat.

"Jika semakin banyak orang datang ke masjid karena upaya yang kita lakukan bersama, maka insyaallah setiap langkah mereka menjadi amal jariyah yang terus mengalir bagi orang-orang yang menghidupkan masjid," pungkasnya. (*)

FIRNAS MUTTAQIN

Menjaga Keberkahan Waktu di Tengah Percepatan Zaman

Masjid Al-Ukhuwah, Sekarsono, Kota Pasuruan, kembali menggelar pengajian rutin Ahad pagi pada 12 Juli 2026. Dalam kesempatan ini, Ustadz Heru Winarno mengangkat tema seputar hakikat waktu dalam pandangan Islam, khususnya fenomena "percepatan waktu" yang dirasakan banyak orang di era modern serta bagaimana seorang muslim dapat meraih keberkahan di dalamnya.

*Waktu yang Terasa Kian Singkat*

Mengawali kajian, Ustadz Heru mengingatkan jamaah tentang pentingnya gerak dan aktivitas bagi kesehatan tubuh. Ia mencontohkan bagaimana tubuh yang terlalu banyak berdiam atau tidur justru terasa tidak nyaman, sebagai analogi bahwa kemalasan bergerak—baik secara fisik maupun spiritual—dapat membawa dampak buruk.

Dari sana, ia mengaitkannya dengan fenomena kesibukan digital masa kini, terutama kebiasaan "scroll-scroll" di gawai yang banyak menyita waktu tanpa disadari.

Ustadz Heru kemudian mengutip hadis riwayat Anas bin Malik, di mana Rasulullah ﷺ bersabda bahwa hari kiamat tidak akan terjadi sampai waktu terasa semakin singkat: satu tahun terasa seperti satu bulan, satu bulan seperti satu pekan, satu pekan seperti satu hari, satu hari seperti satu jam, dan satu jam seperti kilatan api. Ia menegaskan bahwa fenomena ini bukan hal baru, melainkan persoalan klasik yang telah disinggung sejak masa kenabian.

*Perspektif Al-Qur'an tentang Waktu*

Untuk memperkuat pemahaman, Ustadz Heru merujuk pada ayat Al-Qur'an tentang pergantian malam dan siang sebagai tanda bagi orang yang mau mengambil pelajaran dan bersyukur. Menurutnya, memahami ayat ini bukan sekadar soal hitungan jam atau hari, melainkan kesadaran untuk memanfaatkan waktu sebagai sarana mengingat Allah, memperbaiki diri, dan memperbanyak amal.

Ia juga mengutip Surat Al-'Ashr yang menegaskan bahwa seluruh manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, mengerjakan amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran. Ustadz Heru menambahkan bahwa dalam riwayat lain disebutkan pula anjuran saling menasihati dalam kasih sayang, karena kehidupan tanpa kasih sayang akan terasa menekan.

Ia mengutip pandangan Imam Syafi'i yang menyebut bahwa seandainya Allah hanya menurunkan Surat Al-'Asr sebagai pedoman bagi manusia, itu sudah cukup sebagai bekal hidup.

*Bukan Berkurangnya Jumlah Jam, Melainkan Hilangnya Keberkahan*

Salah satu poin penting yang disampaikan Ustadz Heru adalah penjelasan para ulama—seperti Imam Nawawi, Qadhi Iyadh, Ibnu Hajar, dan Al-Mubarakfuri dalam kitab *Tuhfatul Ahwadzi*—bahwa "percepatan waktu" yang dimaksud dalam hadis bukanlah berkurangnya jumlah jam secara harfiah, melainkan hilangnya keberkahan waktu. Satu hari tetap 24 jam, namun manfaat yang dihasilkan darinya semakin sedikit.

Menurut penjelasan yang dikutip dari Ibnu Hajar, percepatan waktu di akhir zaman disebabkan oleh tiga hal:

1. Hilangnya keberkahan akibat maraknya dosa dan kemaksiatan.
2. Kesibukan duniawi yang melalaikan manusia dari ibadah.
3. Kemajuan teknologi yang membuat manusia sibuk dengan hal-hal yang tidak bermanfaat.

*Tujuh Ciri Waktu yang Berkah*

Ustadz Heru kemudian memaparkan ciri-ciri orang yang waktunya diberkahi Allah, di antaranya:

- **Mampu menghasilkan banyak kebaikan dalam waktu yang relatif singkat**, karena dimudahkan Allah dalam menjalankan berbagai aktivitas tanpa merasa terbebani. Ia mencontohkan Imam Nawawi yang meski wafat pada usia 45 tahun berhasil menghasilkan puluhan karya besar, termasuk kumpulan Hadis Arba'in yang masih dipelajari di dunia Islam hingga kini.
- **Tidak suka menyia-nyiakan waktu**, sebagaimana disampaikan Imam Abu Bakar bin 'Ayyash bahwa orang yang kehilangan hartanya akan bersedih sepanjang hari, namun jarang ada orang yang menyesali hilangnya satu hari dari umurnya. Ustadz Heru mengingatkan pentingnya kebiasaan muhasabah atau evaluasi diri sebelum tidur.
- **Mengisi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat**, tanpa harus meniadakan istirahat, namun tetap didominasi oleh aktivitas yang produktif dan bermakna, misalnya membiasakan membaca buku di sela-sela kesibukan.

Sebagai penutup dari poin ini, Ustadz Heru mengajak jamaah merenungkan Surat Al-Ahzab ayat 35 yang merinci sepuluh kategori amal sebagai gambaran pemanfaatan waktu seorang muslim dan muslimah—mulai dari keislaman, keimanan, ketaatan, hingga kejujuran.

*Orientasi Akhirat Tanpa Melupakan Dunia*

Ustadz Heru menegaskan bahwa keberkahan waktu akan datang bila orientasi seorang muslim diarahkan kepada akhirat terlebih dahulu, sebagaimana pesan dalam Surat Al-Qashash ayat 77, tanpa melupakan bagiannya di dunia. Seorang muslim yang produktif, menurutnya, akan menjadikan seluruh aktivitas hariannya—termasuk hal-hal kecil seperti berjalan di jalan raya—sebagai bagian dari ibadah kepada Allah.

Kajian ditutup dengan pesan agar jamaah senantiasa fokus dan bersungguh-sungguh dalam setiap urusan, sembari menjaga adab dalam pergaulan sehari-hari, termasuk saat berkumpul dan berbincang santai bersama sesama. (*)

---
FIRNAS MUTTAQIN

Saturday, July 11, 2026

AI yang Membuat IMF Puyeng: Ketika Claude Mythos Dinilai Mampu Mengguncang Sistem Keuangan Dunia

Dunia teknologi kembali diguncang. Kali ini bukan karena kemampuan AI menulis artikel, membuat gambar, atau membantu pemrograman, melainkan karena munculnya model kecerdasan buatan yang dinilai memiliki kemampuan luar biasa dalam bidang keamanan siber.

Model tersebut adalah Claude Mythos, yang dikembangkan oleh Anthropic. Kemampuannya bahkan membuat International Monetary Fund (IMF) mengeluarkan peringatan serius mengenai potensi ancaman terhadap stabilitas sistem keuangan global. 

Menurut Anthropic, Mythos dirancang untuk membantu menemukan kelemahan perangkat lunak sebelum dimanfaatkan oleh peretas. Dalam pengujian internal, model ini mampu menemukan ribuan celah keamanan pada berbagai sistem operasi dan peramban web utama di dunia. Namun, kemampuan tersebut juga berarti bahwa jika jatuh ke tangan yang salah, AI ini berpotensi digunakan untuk melakukan serangan siber berskala besar. 

AI yang Terlalu Pintar untuk Dilepas ke Publik

Berbeda dengan chatbot AI pada umumnya, Claude Mythos tidak langsung dirilis secara luas. Anthropic justru membatasi akses hanya kepada sejumlah organisasi terpercaya melalui program Project Glasswing.

Langkah tersebut diambil karena perusahaan menyadari kemampuan model ini dapat digunakan bukan hanya untuk memperbaiki sistem keamanan, tetapi juga mengeksploitasi kerentanannya. Di antara mitra awal yang mendapat akses terbatas adalah perusahaan teknologi dan lembaga besar seperti Amazon, Apple, Cisco, Nvidia, dan JPMorgan Chase. 

IMF: "Waktu Bukan Lagi Teman Kita"

Kekhawatiran terbesar datang dari Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva.

Dalam wawancara dengan CBS News, Georgieva mengatakan bahwa dunia belum memiliki kemampuan yang memadai untuk melindungi sistem moneter internasional dari ancaman siber yang diperkuat AI.

Ia bahkan mengingatkan bahwa "time is not our friend" atau "waktu bukan lagi teman kita", menandakan bahwa perkembangan AI berlangsung jauh lebih cepat dibanding kesiapan sistem pertahanan global. 

Ancaman terhadap Perbankan Global

IMF menilai serangan siber berbasis AI tidak hanya berpotensi mencuri data atau melumpuhkan server.

Dalam skenario terburuk, serangan terhadap bank-bank besar dapat menyebabkan:

1. gangguan sistem pembayaran internasional,
2. kepanikan nasabah,
3. tekanan likuiditas,
4. gangguan transaksi lintas negara,
5. bahkan mengancam stabilitas lembaga keuangan yang dianggap "terlalu besar untuk gagal" (too big to fail). 

Inilah sebabnya isu keamanan AI kini tidak lagi dipandang sekadar masalah teknologi, melainkan telah menjadi isu stabilitas ekonomi global.

Sampai Bank Sentral Turun Tangan

Besarnya ancaman tersebut membuat pejabat tinggi Amerika Serikat menggelar pertemuan tertutup bersama para pemimpin bank-bank besar untuk membahas risiko Claude Mythos.

Laporan CBS News menyebut Ketua Federal Reserve dan pejabat Departemen Keuangan AS bertemu dengan sejumlah CEO bank guna membahas kesiapan menghadapi ancaman AI generasi baru. 

Ironisnya, Model Ini Sempat Diretas

Di tengah upaya pembatasan akses, Anthropic kemudian mengonfirmasi adanya dugaan akses tidak sah terhadap lingkungan vendor pihak ketiga yang berkaitan dengan Mythos. Perusahaan menyatakan investigasi dilakukan dan belum menemukan bukti bahwa sistem inti Anthropic ikut disusupi. 

Peristiwa tersebut justru memperkuat kekhawatiran bahwa model AI dengan kemampuan luar biasa pun tetap memiliki risiko kebocoran.

Pelajaran bagi Dunia

Kasus Claude Mythos menunjukkan bahwa perkembangan AI telah memasuki fase baru.

Jika sebelumnya dunia khawatir AI menggantikan pekerjaan manusia, kini kekhawatiran bergeser ke kemungkinan AI digunakan sebagai senjata siber yang mampu mempercepat serangan terhadap infrastruktur vital.

Bagi regulator seperti IMF, tantangannya bukan lagi sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi memastikan inovasi AI tidak berubah menjadi ancaman bagi sistem keuangan dunia.

Claude Mythos pada akhirnya menjadi pengingat bahwa di era kecerdasan buatan, perlombaan bukan hanya soal menciptakan AI yang semakin pintar, melainkan juga membangun sistem keamanan yang mampu mengimbanginya. (*)

Firnas Muttaqin

Thursday, July 09, 2026

Meneladani Keteguhan Hijrah Kaum Muslimin ke Habasyah

PASURUAN — Kajian rutin di Masjid At-Taqwa, Kampung Jagalan, Kota Pasuruan, Kamis malam (9/7/2026), mengangkat tema hijrah kaum muslimin ke Habasyah, salah satu peristiwa penting dalam sejarah dakwah Islam. Materi disampaikan oleh Ustadz Anang Abdul Malik di hadapan jamaah yang memadati masjid.

Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa Habasyah, yang kini dikenal sebagai Etiopia, dipilih Rasulullah SAW sebagai tujuan hijrah karena dipimpin Raja Najasi (Negus), seorang penguasa yang dikenal adil dan memberikan perlindungan kepada siapa pun yang mencari suaka di negerinya.

Hijrah Demi Menyelamatkan Akidah

Ustadz Anang menjelaskan, hijrah ke Habasyah dilakukan ketika tekanan terhadap kaum muslimin di Makkah semakin berat. Mereka mengalami intimidasi, penyiksaan, dan berbagai bentuk penindasan dari kaum Quraisy sehingga Rasulullah SAW memerintahkan sebagian sahabat untuk meninggalkan Makkah.

Gelombang pertama hijrah diikuti 16 orang, terdiri atas 12 laki-laki dan empat perempuan. Di antaranya adalah Utsman bin Affan bersama istrinya, Ruqayyah binti Muhammad SAW.

Setelah mengetahui adanya rombongan yang berhasil hijrah, kaum Quraisy memperketat penjagaan di Makkah. Namun, upaya tersebut tidak menghentikan hijrah berikutnya. Gelombang kedua yang lebih besar berhasil berangkat dengan jumlah sekitar 83 laki-laki dan 19 perempuan.

Diplomasi Ja'far bin Abi Thalib

Keberadaan kaum muslimin di Habasyah mendorong kaum Quraisy mengirim dua utusan, Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi'ah, untuk meminta Raja Najasi memulangkan mereka ke Makkah. Kedua utusan itu juga membawa hadiah bagi raja dan para pembesar istana.

Raja Najasi tidak langsung memenuhi permintaan tersebut. Ia memilih mendengar penjelasan dari kedua belah pihak sebelum mengambil keputusan.

Kaum muslimin menunjuk Ja'far bin Abi Thalib sebagai juru bicara. Di hadapan raja, Ja'far menjelaskan kondisi masyarakat Arab sebelum Islam, kemudian menerangkan ajaran yang dibawa Rasulullah SAW, seperti tauhid, kejujuran, amanah, menjaga silaturahmi, serta menunaikan salat, zakat, dan puasa.

Ia juga menjelaskan bahwa kaum muslimin meninggalkan Makkah bukan karena ingin memberontak, melainkan untuk menyelamatkan keimanan dari berbagai bentuk penindasan.

Raja Najasi Memberikan Perlindungan

Setelah mendengar penjelasan Ja'far, Raja Najasi meminta agar dibacakan ayat-ayat Al-Qur'an. Ja'far kemudian membacakan Surah Maryam ayat 16–36.

Menurut riwayat yang disampaikan dalam kajian, Raja Najasi tersentuh mendengar bacaan tersebut. Ia menyatakan bahwa ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW dan Nabi Isa AS berasal dari sumber yang sama. Raja Najasi kemudian menolak permintaan utusan Quraisy dan tetap memberikan perlindungan kepada kaum muslimin di Habasyah.

Pelajaran dari Hijrah

Menutup kajian, Ustadz Anang menjelaskan bahwa kisah hijrah ke Habasyah mengajarkan pentingnya menjaga keimanan, akhlak, dan kebijaksanaan dalam berdialog. Ia juga mengulas tingkatan hidayah, mulai dari hidayah umum yang diberikan kepada seluruh makhluk hingga hidayah melalui petunjuk Allah dalam Al-Qur'an.

Menurutnya, keteguhan iman dan cara berkomunikasi yang santun menjadi pelajaran penting dari peristiwa hijrah yang tetap relevan bagi umat Islam hingga saat ini.

Penulis: Firnas Muttaqin

Sunday, July 05, 2026

Choiruddin Muchtar, Atlet Silat yang Turut Mengukir Sejarah Awal Tapak Suci di Kota Pasuruan


Pasuruan, Ahad 5 Juli 2026 — Perkembangan Perguruan Pencak Silat Tapak Suci Putera Muhammadiyah di Kota Pasuruan tidak dapat dilepaskan dari kiprah para atlet dan pelatih generasi awal. Salah satunya adalah Choiruddin Muchtar, yang sejak remaja telah menjadi bagian dari perjalanan panjang Tapak Suci hingga berkembang menjadi salah satu perguruan silat berprestasi di Kota Pasuruan.

Choiruddin mulai mengenal Tapak Suci pada tahun 1974 ketika masih duduk di kelas I SMP Muhammadiyah Pasuruan. Saat itu, Tapak Suci baru merintis pembinaan di sekolah-sekolah Muhammadiyah dengan bimbingan dua pelatih dari Malang, Ismail dan Karim. Menurut Choiruddin, keduanya menjadi sosok penting yang meletakkan dasar pembinaan teknik maupun organisasi Tapak Suci di Pasuruan. Ismail bahkan kemudian dikenal sebagai pelatih tingkat nasional yang kerap terlibat dalam ujian kenaikan tingkat di pusat Tapak Suci di Yogyakarta.
Ia menyebut dirinya sebagai atlet generasi kedua Tapak Suci Kota Pasuruan. Generasi pertama terdiri atas tokoh-tokoh seperti Riyadi Amin, Soche, Mus, Pudiono, Ruslan Suharto, dan Suripto. Mereka bukan hanya menjadi atlet, tetapi juga turut mengembangkan Tapak Suci di berbagai sekolah Muhammadiyah sehingga organisasi ini semakin dikenal masyarakat.
Pada masa itu, sistem pembinaan dilakukan secara bertahap melalui jenjang sabuk, mulai dari sabuk putih, sabuk kuning dengan beberapa tingkatan, hingga sabuk biru. Seluruh sistem latihan mengikuti pola pembinaan dari Malang. Kenaikan tingkat tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknik, tetapi juga kedisiplinan dan kesungguhan mengikuti latihan.

Latihan tidak hanya berlangsung di lingkungan SMP Muhammadiyah, tetapi juga di beberapa langgar atau mushala yang menjadi pusat aktivitas warga Muhammadiyah. Berbeda dengan anggapan sebagian masyarakat, latihan tersebut terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar pencak silat, sehingga banyak pelajar dari berbagai latar belakang ikut bergabung.

Kerja keras para pelatih dan atlet mulai membuahkan hasil ketika Tapak Suci meraih gelar juara umum pada Kejuaraan Pencak Silat Kota/Kabupaten Pasuruan sekitar tahun 1975. Saat itu Tapak Suci bersaing dengan sejumlah perguruan yang telah lebih dahulu berkembang, seperti Persaudaraan Setia Hati, Perisai Diri, dan Kera Sakti. Keberhasilan tersebut menjadi titik balik yang mengangkat nama Tapak Suci di Kota Pasuruan.

Prestasi itu berdampak besar terhadap perkembangan organisasi. Semakin banyak sekolah Muhammadiyah membuka kegiatan ekstrakurikuler Tapak Suci, di antaranya SMP Muhammadiyah. Dari sekolah-sekolah tersebut lahir atlet-atlet yang kemudian mengukir prestasi hingga tingkat nasional.

Choiruddin masih mengingat beberapa nama atlet yang pernah mengharumkan nama Pasuruan, seperti Asmiah dan Astuti yang berhasil berprestasi pada kejuaraan nasional di Yogyakarta. Ia juga menyebut Fahrina yang meraih juara II pada Kejuaraan Nasional internal Tapak Suci di Jember. Menurutnya, keberhasilan para atlet tersebut menjadi kebanggaan sekaligus motivasi bagi generasi berikutnya.

Selain aktif sebagai atlet, Choiruddin kemudian dipercaya menjadi pelatih di berbagai sekolah. Ia ikut memperluas pembinaan Tapak Suci di sejumlah lembaga pendidikan, diantaranya Madrasah Tsanawiyah Negeri dan SMEA (sekarang SMK), termasuk di wilayah Lekok kabupaten  Pasuruan dan sekolah-sekolah Muhammadiyah lainnya. Dari dunia kepelatihan, ia kemudian mengikuti pendidikan wasit-juri hingga tingkat provinsi.

Pengalaman itu membawanya mengemban amanah sebagai wasit-juri pencak silat sekaligus dipercaya menjadi Sekretaris II  (IPSI) Kota Pasuruan. Peran tersebut menunjukkan bahwa pengabdiannya terhadap pencak silat tidak berhenti sebagai atlet, melainkan berlanjut dalam pembinaan organisasi dan pengembangan olahraga pencak silat di daerah.

Bagi Choiruddin, Tapak Suci tidak hanya mengajarkan teknik bela diri. Organisasi ini juga membentuk karakter anggotanya melalui pembinaan keislaman. Tokoh-tokoh Muhammadiyah secara rutin memberikan materi keagamaan kepada para anggota, sehingga latihan fisik selalu diimbangi dengan pembinaan akhlak dan spiritual.

Ia juga mengenang tradisi unik Tapak Suci pada masa itu. Para anggota mengenakan seragam lengkap dan berlari mengelilingi Kota Pasuruan setiap akhir pekan. Selain menjadi bagian dari latihan fisik, kegiatan tersebut sekaligus memperkenalkan Tapak Suci kepada masyarakat dan menarik minat generasi muda untuk bergabung.

Meski kini tidak lagi mengikuti aktivitas organisasi secara intensif karena kesibukan pekerjaan, Choiruddin tetap menyimpan kenangan mendalam terhadap masa-masa awal perkembangan Tapak Suci. Baginya, pencak silat telah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya, mengajarkan disiplin, keberanian, tanggung jawab, dan semangat mengabdi.

Kisah Choiruddin Muchtar merupakan potret perjuangan generasi awal yang membesarkan Tapak Suci di Kota Pasuruan. Melalui dedikasi para atlet, pelatih, dan kader Muhammadiyah pada dekade 1970-an hingga 1980-an, Tapak Suci berkembang bukan hanya sebagai perguruan pencak silat berprestasi, tetapi juga sebagai wadah pembentukan karakter dan kaderisasi generasi muda. Warisan pengabdian itulah yang hingga kini menjadi bagian dari sejarah perkembangan Tapak Suci di Kota Pasuruan. (*)

Saturday, July 04, 2026

Jejak Sejarah Masjid At-Taqwa Jagalan: Dari Mushola Berdinding Gedek hingga Menjadi Pusat Dakwah


Di tengah permukiman Jagalan, Kelurahan Kandangsapi, Kota Pasuruan, berdiri Masjid At-Taqwa yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang masyarakat setempat. Bagi warga senior, masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan saksi perubahan zaman, perkembangan dakwah, dan tumbuhnya kader-kader Muhammadiyah di lingkungan Jagalan.

Dalam wawancara, Dwi Joko Santoso menuturkan bahwa berdasarkan cerita turun-temurun di keluarganya, keberadaan Musala atau Masjid At-Taqwa diperkirakan sudah ada jauh sebelum abad ke-19. Namun, keterangan tersebut merupakan penuturan lisan keluarga dan masih memerlukan penelusuran lebih lanjut melalui arsip maupun dokumen sejarah.

Kenangan yang lebih jelas bermula dari kisah ayahnya, Sumardi, yang lahir pada tahun 1926. Menurut Dwi Joko Santoso, pada masa itu bangunan musala masih sangat sederhana. Dindingnya terbuat dari gedek (anyaman bambu) sehingga sering mengalami kerusakan akibat banjir yang meluap dari Kali Jagalan dan Kali Gembong.

Seiring waktu, masyarakat bersama para tokoh setempat melakukan renovasi secara bertahap. Bangunan yang semula seluruhnya berbahan bambu mulai diganti menjadi tembok pada bagian bawah, sementara bagian atasnya masih menggunakan gedek. Perubahan itu menjadi tonggak awal berkembangnya Masjid At-Taqwa menjadi bangunan yang lebih kokoh.

Dwi Joko Santoso yang lahir pada tahun 1958 masih mengingat suasana masjid saat dirinya duduk di bangku sekolah dasar. Ia mengenang bahwa setiap pelaksanaan salat Jumat, halaman di sebelah timur masjid yang saat itu masih berupa pekarangan dipenuhi tikar untuk menampung jamaah yang terus bertambah.

Menurutnya, pada dekade 1970-an, terutama sekitar tahun 1974 hingga 1976 ketika ia duduk di bangku SMA, aktivitas keagamaan di Masjid At-Taqwa mencapai masa yang sangat ramai. Pengajian, kegiatan remaja, hingga pembinaan warga berlangsung secara rutin dan menjadikan masjid sebagai pusat kehidupan masyarakat.

Ia juga menyebut sejumlah tokoh yang memiliki peran penting dalam memakmurkan masjid, di antaranya Pak Mirin, Hasan Basri (Mbah Cang) Haji Slamet Riyadi, Masykur, Muchtar, Suharsono, Sumardijarso, Rasad, Zaenuri, Kusman, serta sejumlah tokoh lain yang kini sebagian besar telah wafat.

Menurut Dwi Joko Santoso, Hasan Basri (Mbah Cang) menjadi salah satu sosok yang paling berperan dalam membimbing generasi penerus agar tetap menjaga keberlangsungan aktivitas Masjid At-Taqwa. Semangat estafet kepengurusan itulah yang dinilai membuat kehidupan masjid tetap berjalan hingga sekarang.
Memasuki tahun-tahun berikutnya, aktivitas Masjid At-Taqwa mulai mengalami perubahan. Bukan karena berkurangnya semangat masyarakat, melainkan karena semakin banyak masjid baru berdiri di sekitar Jagalan dan wilayah sekitarnya. Kehadiran masjid-masjid yang lebih dekat dengan permukiman warga membuat jamaah tersebar ke berbagai tempat ibadah.

Selain itu, kegiatan Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) juga mengalami tantangan. Anak-anak dan remaja memiliki lebih banyak pilihan untuk belajar mengaji di masjid-masjid lain yang menawarkan berbagai kegiatan pembinaan.

Meski demikian, bagi Dwi Joko Santoso, Masjid At-Taqwa tetap memiliki nilai sejarah yang tinggi. Ia meyakini bahwa masjid tersebut merupakan salah satu cikal bakal perkembangan dakwah Muhammadiyah di kawasan Jagalan. Pernyataan tersebut merupakan pandangan narasumber yang masih memerlukan kajian sejarah lebih lanjut untuk memastikan posisi dan perannya dalam perkembangan Muhammadiyah di Kota Pasuruan.
Kini, bangunan yang dahulu hanya berupa mushola sederhana berdinding gedek telah berubah menjadi masjid permanen. Di balik perubahan fisiknya, tersimpan kisah tentang gotong royong warga, regenerasi para penggerak masjid, dan semangat mempertahankan pusat ibadah yang telah melayani masyarakat selama beberapa generasi.

Bagi warga Jagalan, Masjid At-Taqwa bukan hanya bangunan tua. Ia adalah ruang yang menyimpan memori kolektif tentang perjalanan dakwah, pendidikan Islam, dan kebersamaan masyarakat dari masa ke masa. (*)

Penulis :
FIRNAS MUTTAQIN



Ketua MUI Kota Pasuruan Ajak Perkuat Persatuan dalam Sarasehan Kebangsaan


Pasuruan – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Pasuruan, Dr. KH. Abdullah Shodiq, M.Pd, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat persatuan dan menjaga kerukunan dalam kehidupan berbangsa. Ajakan tersebut disampaikan saat membuka Sarasehan Kebangsaan yang diselenggarakan MUI Kota Pasuruan di Hotel Daroessalam, Sabtu (4/7/2026).

Dalam sambutannya, KH. Abdullah Shodiq menegaskan bahwa Islam mengajarkan nilai-nilai kerja sama, kemanfaatan, dan pengelolaan amanah demi kesejahteraan bersama. Ia mencontohkan kisah pada masa Rasulullah SAW tentang pengelolaan lahan dengan sistem bagi hasil sebagai ilustrasi pentingnya membangun kemitraan yang saling menguntungkan.

Selain itu, ia mengajak peserta untuk menjadikan keberagaman sebagai kekuatan bangsa. Menurutnya, Indonesia yang terdiri atas berbagai agama, organisasi, dan latar belakang masyarakat membutuhkan nilai-nilai bersama yang mampu mempersatukan seluruh komponen bangsa.

Dalam penyampaiannya, KH. Abdullah Shodiq menggunakan analogi bahan-bahan makanan untuk menggambarkan pentingnya mencari titik temu dalam kehidupan bermasyarakat. Ia menekankan bahwa semangat kebersamaan harus lebih dikedepankan daripada mempertajam perbedaan.

Ia juga menegaskan bahwa Pancasila merupakan konsensus kebangsaan yang menjadi perekat kehidupan masyarakat Indonesia. Karena itu, seluruh elemen bangsa diharapkan terus menjaga persaudaraan, memperkuat harmoni sosial, dan membangun kehidupan yang damai di tengah keberagaman.

Menurutnya, pengalaman Indonesia dalam menjaga kerukunan antarumat beragama juga menjadi perhatian berbagai kalangan, termasuk akademisi dari luar negeri yang menilai kehidupan masyarakat Indonesia sebagai contoh praktik toleransi dalam masyarakat majemuk.

Menutup sambutannya, KH. Abdullah Shodiq mengajak seluruh peserta Sarasehan Kebangsaan untuk terus merawat persatuan dan berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia yang damai, harmonis, serta berlandaskan nilai-nilai kebangsaan dan keagamaan.

Sarasehan Kebangsaan yang merupakan bagian dari program kerja MUI Kota Pasuruan Tahun 2026 tersebut dihadiri para tokoh agama, akademisi, organisasi kemasyarakatan, serta berbagai unsur masyarakat sebagai wadah memperkuat wawasan kebangsaan dan mempererat silaturahmi. (*)

FIRNAS MUTTAQIN