Tuesday, May 19, 2026

“Mereka Merampok Toko Kami”: Jeritan Seller Marketplace yang Kian Tercekik Potongan Biaya


Di tengah pertumbuhan ekonomi digital yang terus dibanggakan, suara para penjual di marketplace justru semakin dipenuhi keluhan. Bukan karena dagangan sepi, melainkan karena keuntungan yang mereka terima terus tergerus oleh berbagai potongan biaya platform.

Sebuah unggahan yang ramai dibicarakan di media sosial memperlihatkan rincian transaksi seorang seller dengan nilai penjualan Rp4.799.000. Namun setelah dipotong berbagai biaya, dana yang diterima penjual hanya Rp3.830.751.

Artinya, hampir Rp1 juta hilang untuk biaya platform.

“Memang brengsek sih ini marketplace. Barang Rp4.799.000 terima cuma Rp3.830.000. Mereka merampok toko,” tulis akun tersebut dalam unggahannya.

Rincian potongan itu memperlihatkan bagaimana seller harus menanggung beragam biaya sekaligus. Mulai dari komisi platform sekitar Rp463 ribu, dynamic commission lebih dari Rp311 ribu, biaya layanan cashback hampir Rp192 ribu, hingga biaya pemrosesan pesanan.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar: siapa sebenarnya yang paling diuntungkan dalam ekosistem marketplace hari ini?

Di satu sisi, marketplace menawarkan akses pasar luas, kemudahan transaksi, dan jutaan pengguna aktif. Namun di sisi lain, banyak seller mengaku dipaksa mengikuti berbagai program berbayar agar toko mereka tetap terlihat di algoritma platform.

Program gratis ongkir, cashback, promosi ekstra, hingga iklan internal perlahan berubah dari “opsional” menjadi sesuatu yang nyaris wajib jika ingin bersaing.

Akibatnya, margin keuntungan penjual semakin tipis.

Banyak seller akhirnya menaikkan harga barang untuk menutup biaya platform. Ironisnya, kondisi ini justru membuat harga di marketplace kadang tidak lagi lebih murah dibanding toko offline atau penjualan langsung lewat media sosial.

Keluhan seller sebenarnya bukan hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, para pelaku UMKM digital berkali-kali menyampaikan keberatan terhadap kenaikan komisi dan biaya layanan. Namun karena ketergantungan terhadap trafik marketplace sangat tinggi, sebagian besar penjual tidak punya banyak pilihan selain tetap bertahan.

Bagi seller kecil, situasinya bahkan lebih berat. Mereka harus bersaing dengan toko besar, brand resmi, hingga produk impor murah sambil tetap menanggung biaya platform yang terus bertambah.

Yang paling dikhawatirkan adalah ketika marketplace tidak lagi sekadar menjadi “tempat bertemu penjual dan pembeli”, tetapi berubah menjadi sistem yang membuat seller bekerja keras hanya untuk membayar biaya ekosistem itu sendiri.

Ekonomi digital yang sehat seharusnya menciptakan hubungan yang saling menguntungkan antara platform, pembeli, dan penjual. Namun jika potongan biaya terus membengkak tanpa transparansi yang jelas, maka kepercayaan seller bisa perlahan runtuh.

Sebab pada akhirnya, marketplace hidup bukan hanya dari aplikasi dan algoritma, tetapi dari jutaan penjual yang menjaga roda perdagangan tetap berputar setiap hari. (*)


Sunday, May 17, 2026

Reposisi Peran Masjid di era modern dan Refleksi Perjuangan Ketauhidan Keluarga Nabi Ibrahim AS.

Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Pasuruan kembali menggelar Pengajian Ahad Pagi di Masjid Darul Arqom, Kota Pasuruan, Minggu (17/5/2026). Hadir sebagai pembicara utama, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur yang membidangi Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM), Ustadz Dr. Hasan Ubaidillah.

Dalam ceramahnya yang berfokus pada momentum menjelang bulan Dzulhijjah, Dr. Hasan membedah secara mendalam tentang reposisi peran masjid di era modern serta tiga hikmah esensial dari refleksi perjuangan ketauhidan keluarga Nabi Ibrahim AS.

Transformasi Masjid Muhammadiyah Naik Kelas

Mengawali kajiannya, Dr. Hasan menekankan pentingnya masjid-masjid Muhammadiyah untuk melakukan transformasi gerakan sosiologis. Masjid tidak boleh lagi sekadar menjadi ruang ibadah ritual yang statis, melainkan harus hadir sebagai pusat solusi dan pemenuhan kelayakan sosial bagi umat.

"Melalui arah gerakan yang baru, kita mendorong masjid-masjid Muhammadiyah bertransformasi naik kelas. Masjid harus menjadi tempat kelayakan sosial; ada layanan kesehatan, santunan, hingga biro konsultasi keluarga sakinah yang dikelola oleh SDM kader terlatif. Prinsipnya, masjid menjadi pusat pergeseran nilai kemanfaatan yang langsung menyentuh problem jamaah," ujar Dr. Hasan di hadapan ratusan jamaah yang memadati ruang utama masjid.

Tiga Makna Historis Perjuangan Nabi Ibrahim AS

Memasuki inti materi sejarah Islam, Dr. Hasan mengajak jamaah merefleksikan kembali sejarah nabi-nabi yang diabadikan melalui dimensi waktu istimewa di dalam Islam, seperti Muharram yang identik dengan Nabi Musa AS, dan Dzulhijjah yang menempatkan keteladanan keluarga Nabi Ibrahim AS sebagai poros utama.
Ditinjau dari aspek tafsir dan geopolitik sejarah, perjuangan ketauhidan Nabi Ibrahim AS melintasi tiga wilayah besar: Babilonia (Irak), Palestina, hingga lembah baka (Makkah). Dari bentangan sejarah tersebut, Dr. Hasan merangkum tiga hikmah besar yang harus diinternalisasi oleh setiap warga Muhammadiyah:

1. Dibenci karena Kebenaran, Bukan karena Akhlak
Merujuk pada fase dakwah Nabi Ibrahim di Babilonia saat berhadapan dengan kelaliman Raja Namrud, Dr. Hasan mengisahkan betapa masifnya kebencian sosiologis masyarakat saat itu hingga satu desa berlomba-lomba mengumpulkan kayu bakar untuk membakar sang nabi.
"Nabi Ibrahim dibenci bukan karena beliau memiliki perangai buruk. Beliau adalah pribadi yang sangat lembut dan mencintai masyarakatnya. Namun, beliau dimusuhi murni karena membawa prinsip kebenaran tauhid. Ini menjadi otokritik bagi kita. Kalau kita dibenci orang karena akhlak kita buruk, itu musibah. Tapi kalau kita sudah berakhlak baik dan tetap dimusuhi karena memegang teguh kebenaran Islam, itulah anugerah dan sunnatullah perjuangan," tegasnya.

2. Dakwah Santun di Tengah Ujian Keluarga
Hikmah kedua menyoroti ujian domestik para nabi. Dr. Hasan mengingatkan bahwa musuh dakwah sering kali lahir dari lingkaran terdekat, seperti dialami Nabi Nuh AS melalui anak-istrinya, maupun Nabi Ibrahim AS yang diuji oleh ayahnya, Azar, seorang produsen berhala.
Meskipun menghadapi penentangan ideologis yang kontras dari sang ayah, Al-Qur'an merekam bahwa Nabi Ibrahim selalu berdialog menggunakan tutur kata yang sangat santun (Ya abati / Wahai ayahku).
"Berdakwah itu menanam benih yang hasilnya mungkin baru dipanen oleh keturunan kita di masa depan. Menegakkan kebenaran harus diiringi dengan akhlak yang mulia. Sangat miris jika hari ini ada sebagian orang yang mengatasnamakan kebenaran namun dakwahnya diisi dengan hujatan, caci maki, dan mudah mengafirkan sesama," lanjut dosen pascasarjana tersebut.

3. Hakikat Ketaatan Iman (*Sam'an wa Tha'atan*)
Hikmah ketiga bersumber dari keteguhan hati keluarga Ibrahim dalam menerima perintah penyembelihan Nabi Ismail AS. Dr. Hasan mengurai asal-usul penamaan hari di bulan Dzulhijjah berdasarkan kematangan iman Nabi Ibrahim. Tanggal 8 Dzulhijjah disebut Hari Tarwiyah (hari merenung/berpikir) karena di fase inilah Nabi Ibrahim merenungkan keabsahan mimpinya. Memasuki tanggal 9 Dzulhijjah, keraguan itu runtuh berganti keyakinan mutlak bahwa mimpi tersebut adalah perintah Allah, yang kemudian dinamakan Hari 'Arafah (hari mengetahui/yakin).
Keteguhan iman ini juga tecermin dari kerelaan Nabi Ismail yang menyampaikan tiga syarat santun kepada ayahnya sebelum disembelih—meminta menyingsingkan baju ayah agar darah tidak menetes ke ibu, meminta diikat kencang agar reflek fisiknya tidak dinilai sebagai bentuk pembangkangan, serta meminta pisau ditajamkan agar proses berjalan cepat.
"Perintah Allah itu ada yang rasional dan ada yang suprarasional. Sebagai warga Muhammadiyah, sikap kita haruslah *sam'an wa tha'atan*—mendengar dan taat secara totalitas, bukan selalu mendiskusikan atau mendebat ketetapan syariat menggunakan logika rasio yang terbatas," terangnya sembari mengutip hadis larangan menafsirkan agama murni menggunakan isi kepala tanpa landasan ilmu.

Penutup dan Interaksi Jamaah
Kajian sosiologi-historis ini diakhiri dengan sesi tanya jawab interaktif. Pihak panitia membagikan sejumlah doorprize menarik bagi jamaah, khususnya ibu-ibu, yang mampu menjawab pertanyaan terkait materi peta dakwah Nabi Ibrahim di Babilonia, Palestina, dan Makkah.
Menutup rangkaian acara, Dr. Hasan menyampaikan apresiasinya atas antusiasme jamaah Masjid Darul Arqom Kota Pasuruan dan berharap manajemen waktu kehadiran jamaah pada pengajian Ahad pagi dapat terus ditingkatkan agar syiar dakwah persyarikatan semakin solid dan tepat waktu di masa-masa mendatang. (*)

Wednesday, May 13, 2026

Indonesia Bukan Taman Bermain Predator: Membongkar Jaringan Eksploitasi Anak di Jantung Jakarta

Bayangkan sebuah kota di mana anak-anak kita, yang seharusnya sibuk belajar dan bermain, justru menjadi sasaran empuk bagi predator asing. Inilah kenyataan pahit yang berhasil diungkap oleh tim investigasi *Bad News From Indonesia* (BNFI). Sebuah jaringan eksploitasi anak oleh warga negara asing (WNA) asal Jepang ditemukan beroperasi di wilayah Jakarta, khususnya di area Blok M dan Lokasari.

Bermula dari Media Sosial

Kasus ini mencuat ke permukaan pada 10 Mei 2026, setelah akun X @hunter_tnok membagikan bukti percakapan yang mengejutkan. Dalam bukti tersebut, terungkap bahwa remaja berusia 16-17 tahun dipaksa masuk ke dalam lingkaran hitam eksploitasi. Informasi ini meledak di media sosial dengan lebih dari 500 ribu tayangan, memicu kemarahan publik yang menuntut keadilan.

Jejak Kejahatan yang Terencana

Ini bukan sekadar kasus asusila biasa. Ini adalah kejahatan terencana yang memanfaatkan celah sistemik. Salah satu temuan yang paling mengerikan adalah identitas pelaku yang menjuluki dirinya sebagai "Herpes". Ia diduga sengaja mengeksploitasi siswi SMP (15 tahun) dan dengan sadar menularkan penyakit menular seksual kepada korbannya. Pelaku bahkan sesumbar memiliki "misi" untuk menyebarkan infeksi tersebut di Indonesia.

Mirisnya, pelaku dikabarkan pernah digerebek pada 15 Agustus 2025, namun dilepaskan begitu saja oleh oknum aparat. Hal ini menjadi tanda tanya besar: mengapa seorang predator bisa melenggang bebas setelah tertangkap tangan?

Diplomasi dan Jeratan Hukum Dua Negara

Kabar baiknya, suara publik tidak sia-sia. Investigasi BNFI bersama para pengawal keadilan telah menaikkan level kasus ini ke tingkat diplomasi internasional. Kedutaan Besar Jepang di Indonesia secara resmi telah mengeluarkan peringatan keras pada 13 Mei 2026.

Kini, sang predator tidak bisa lagi bersembunyi. Otoritas Jepang menegaskan bahwa pelaku tidak hanya bisa dijerat hukum Indonesia (UU Perlindungan Anak), tetapi juga hukum Jepang melalui aturan *extraterritorial*. Artinya, meskipun kejahatan dilakukan di Indonesia, pelaku tetap bisa diseret ke pengadilan di Jepang.

Pihak Kepolisian Metro Jaya, melalui Kombes Budi Hermanto, mengonfirmasi bahwa Direktorat Siber dan Direktorat PPA-PPO sedang mendalami kasus ini secara intensif. Penting untuk diketahui bahwa kasus eksploitasi anak ini bukan "delik aduan"—polisi bisa terus memproses hukum meskipun tanpa laporan langsung dari korban.

Tuntutan Kami: Keadilan Tanpa Tapi

BNFI bersama masyarakat menuntut tiga hal utama:
 1. *Tangkap Pelaku:* Terbitkan *Red Notice* dan jemput pelaku jika ia melarikan diri ke luar negeri.
 2. *Audit Aparat:* Periksa oknum yang melepaskan pelaku pada tahun 2025 lalu.
 3. *Pulihkan Korban:* Berikan jaminan pemulihan medis dan psikologis bagi anak-anak yang menjadi korban.

Eksploitasi anak adalah luka mendalam bagi bangsa. Kita tidak boleh membiarkan tanah air ini menjadi taman bermain bagi predator asing. Lawan dengan suara kalian, pantau terus kasus ini, dan jangan biarkan keadilan tenggelam begitu saja.
Karena dalam kasus seperti ini, diam adalah bentuk kolaborasi dengan pelaku.(*)

Rupiah di Titik Nadir: Mengapa Narasi "Tenang Saja" Justru Berbahaya?


Belakangan ini, perbincangan mengenai melemahnya nilai tukar rupiah hingga menyentuh angka Rp17.500 per dolar AS memenuhi lini masa. Di tengah kegaduhan tersebut, kreator konten Ferry Irwandi di channel youtubenya terbaru (Rabu, 13/5/2026) mencoba membedah fenomena ini dengan perspektif yang lugas: rupiah tidak sedang sakit karena satu faktor tunggal, dan menyalahkan satu pihak saja adalah sebuah kekeliruan besar.
Namun, yang lebih mengkhawatirkan daripada angka kurs itu sendiri adalah cara pemerintah mengomunikasikannya kepada publik.

Membedah Setengah Kebenaran

Di media sosial, sering muncul narasi penenang bahwa melemahnya rupiah justru menguntungkan eksportir karena barang kita menjadi murah di luar negeri. Secara teori, ini masuk akal. Namun, data berkata lain. Saat ini, ekspor Indonesia hanya tumbuh 0,9%, sementara impor melonjak hingga 7,18%.
Artinya, jumlah orang yang diuntungkan oleh pelemahan rupiah jauh lebih kecil dibanding massa yang tercekik oleh mahalnya barang impor.

Menggunakan argumen eksportir untuk menenangkan warga adalah sebuah "setengah kebenaran" yang tidak komprehensif.

Begitu juga dengan narasi yang membandingkan kondisi sekarang dengan krisis 1998. Meski angka kurs saat ini terlihat tinggi, Indonesia belum berada di level 1998. Mengapa? Karena pada 1998, yang mematikan bukan sekadar angkanya, melainkan kecepatannya: rupiah terjun bebas 600% dari Rp2.400 ke Rp15.000 dalam waktu singkat. Saat ini pelemahan terjadi bertahap, namun bukan berarti kita boleh merasa aman.

Tiga Lapis Masalah: Dari Global Hingga Domestik

Pelemahan rupiah terjadi karena tumpukan tiga lapisan masalah yang saling mengunci:

1. Faktor Eksternal (Dunia Sedang Tidak Baik-Baik Saja)

Konflik di Timur Tengah yang tak kunjung usai dan suku bunga Amerika Serikat yang tetap tinggi membuat investor global menarik uangnya dari negara berkembang (seperti Indonesia) untuk diparkir di Amerika yang dianggap lebih aman dan menguntungkan. Akibatnya, dolar menguat secara global.

2. Masalah Domestik (Belanja Besar, Pemasukan Seret)

Kita tidak bisa terus-menerus menyalahkan faktor luar jika kondisi dalam negeri kita sendiri rapuh. Pada kuartal pertama 2026, pendapatan negara naik 10,5%, namun belanjanya melonjak drastis hingga 31,4%. Kebutuhan akan dolar untuk impor dan subsidi energi meningkat tajam, sementara pemasukan dolar dari ekspor tidak mampu mengejar. Ini menciptakan siklus mematikan: rupiah melemah → beban APBN naik → tekanan ke rupiah makin dalam.

3. Retaknya Kepercayaan Pasar

Inilah lapisan yang paling berbahaya. Ketika pejabat publik membanggakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61% dan membandingkannya dengan Amerika atau Singapura, pasar justru menangkap sinyal negatif.

Membandingkan pertumbuhan negara berkembang dengan negara maju adalah sebuah kesalahan logika. Investor lebih melihat tetangga kita seperti Taiwan yang tumbuh 13% atau Vietnam 7% dengan belanja pemerintah yang jauh lebih efisien daripada kita.

Mengembalikan Kepercayaan

Solusi untuk menyelamatkan rupiah tidak bisa hanya mengandalkan intervensi Bank Indonesia sendirian. Ada empat langkah krusial yang harus diambil:

 * Jujur dalam Komunikasi: Pemerintah perlu berhenti memberikan klaim prestasi yang mudah dibantah data. Kejujuran objektif justru lebih dihargai oleh pasar daripada sekadar "lip service".

 * Benahi APBN: Belanja yang tidak efisien harus dipangkas. Program-program besar pemerintah harus dijalankan dengan transparansi tinggi agar tidak menguras ruang fiskal.

 * Insentif untuk Dolar: Kebijakan memarkir Dolar Hasil Ekspor (DHE) di dalam negeri harus dibuat menarik, bukan sekadar paksaan, agar devisa tidak gampang lari ke luar negeri.

 * Sinergi Lembaga: Kemenkeu, BI, dan OJK harus berjalan seirama. Jangan sampai kebijakan satu lembaga justru menjegal langkah lembaga lainnya.

Rupiah di angka Rp17.500 adalah alarm keras. Selama pejabat kita masih sibuk memoles citra daripada membenahi struktur ekonomi domestik dan berbicara jujur pada data, maka intervensi sekuat apa pun tidak akan cukup untuk menahan jatuhnya nilai tukar kita. (*)

Menjaga Hati, Merawat Nalar: Kajian Rabu malam Kamis di Masjid Baitul Huda


Masjid Baitul Huda, Kota Pasuruan, pada Rabu malam Kamis (13/05/2026) kembali menggelar pengajian rutin. Kali ini Ustadz Anang Abdul Malik menyampaikan pesan mendalam mengenai mekanisme kebahagiaan manusia yang telah diatur oleh Sang Pencipta melalui sinkronisasi antara hati (qolbun), akal, dan tindakan nyata.

Mekanisme Balasan yang Nyata

Ustadz Anang menekankan bahwa setiap aktivitas manusia memiliki resonansi balik. Dunia ini, menurutnya, bekerja dengan mekanisme yang sangat presisi. Jika manusia berbuat baik, manfaatnya akan kembali pada kesehatan dan ketenangan dirinya sendiri. Sebaliknya, keburukan adalah racun yang merusak sistem internal manusia itu sendiri.

Beliau mengutip penggalan ayat suci Al-Qur'an untuk mempertegas hal ini:
> *"In ahsantum ahsantum li-anfusikum"*
> (Jika kamu berbuat baik, maka kebaikan itu untuk dirimu sendiri).

Prinsip ini, lanjut beliau, diperkuat dengan kaidah *Al-Jaza’ min Jinsil ‘Amal*—bahwa balasan itu senada dengan jenis perbuatannya. 

"Sebenarnya Allah sudah membuat mekanisme dalam diri kita. Ketenangan, kesehatan, dan kebahagiaan adalah 'bonus' langsung bagi mereka yang memilih jalan kebaikan," tuturnya di hadapan para jamaah.

Antara Prefrontal Cortex dan Nafsu

Sisi menarik dari ceramah malam itu adalah ketika Ustadz Anang membedah korelasi antara agama dan neurosains. Beliau menjelaskan fungsi Prefrontal Cortex (PFC) di otak manusia yang berfungsi sebagai kontrol diri dan pengambil keputusan moral. Inilah yang membedakan manusia dengan binatang.
Namun, sistem ini bisa rusak.

Beliau memberi peringatan keras mengenai bahaya pornografi yang dapat mencederai PFC. Secara biologis, paparan negatif yang terus-menerus akan melepaskan zat yang merusak fungsi kontrol otak, membuat manusia kehilangan kendali emosi dan berperilaku layaknya makhluk yang hanya mementingkan insting.

Beliau pun menyitir larangan Allah untuk tidak menjerumuskan diri dalam kehancuran:
> *"Wa laa tulquu bi-aydiikum ilat-tahlukah"*
> (Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan).

Kejujuran sebagai Penjamin Kesehatan

Lebih jauh, Ustadz Anang menjelaskan bahwa emosi negatif seperti marah, dendam, dan rasa galau secara medis akan menghambat keluarnya sistem imun. Sebaliknya, kejujuran dan sikap pasrah kepada Allah akan memicu zat positif yang mampu menyegarkan sel-sel tubuh dan melawan virus.

Dalam hal ini, beliau membawakan hadits populer tentang kejujuran:
> *"Alaikum bish-shidqi, fa innash-shidqo yahdi ilal-birri, wa innal-birro yahdi ilal-jannah."*
> (Hendaknya kalian bersikap jujur, karena kejujuran akan menuntun pada kebaikan, dan kebaikan akan menuntun ke surga).

Surga yang dimaksud, menurut Ustadz Anang, tidak hanya di akhirat, tetapi juga "surga dunia" berupa kesehatan fisik dan ketenangan batin.

Iman dan Kasih Sayang

Sebagai penutup, Ustadz Anang mengingatkan bahwa kesempurnaan iman tidak hanya diukur dari ritual formal, melainkan dari sejauh mana manusia mampu menebar kasih sayang kepada sesama. Beliau menekankan bahwa mustahil seseorang merasakan manisnya iman jika di dalam hatinya masih tersimpan dendam dan kebencian.

"Kalian tidak akan benar-benar beriman sampai kalian saling mencintai," pungkasnya, mengajak jamaah untuk saling memaafkan dan mendoakan kebaikan bagi mereka yang bahkan pernah menyakiti.

Malam itu, jamaah Masjid Baitul Huda pulang tidak hanya membawa ilmu agama, tetapi juga kesadaran baru bahwa menjaga syariat adalah cara terbaik untuk mencintai diri sendiri. (*)

Badai Sempurna di Langit Indonesia

Bayangkan Anda sedang mengendarai mobil di jalan tol yang mulus, namun tiba-tiba mesin terbatuk, ban pecah, dan indikator bensin menunjukkan angka nol secara bersamaan. Itulah gambaran kasar kondisi ekonomi Indonesia saat ini. Di saat negara tetangga seperti Vietnam atau Thailand mulai memacu kecepatan dan mencapai rekor tertinggi saham mereka, Indonesia justru tampak sedang "turun mesin" dan menjadi satu-satunya yang berada di titik terendah (*All Time Low*) di kawasan ASEAN.

Sinyal Darurat dari Layar Saham

Fenomena anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga lebih dari 20% dalam waktu singkat bukanlah sekadar angka statistik bagi para pialang. Berdasarkan data terbaru, IHSG berada di level 6.858,90, sebuah penurunan tajam sebesar 20,68% sepanjang tahun berjalan.

Kondisi ini kian mengkhawatirkan ketika saham-saham perbankan raksasa seperti BBCA dan BBRI—yang biasanya menjadi simbol kekuatan ekonomi nasional—anjlok kembali ke harga saat masa pandemi COVID-19. Ini adalah pesan eksplisit dari pasar: kondisi saat ini dirasakan sama gentingnya dengan masa ketika dunia berhenti berputar total empat tahun lalu.

Pelarian Modal dan Krisis Kepercayaan

Mengapa investor asing "angkat kaki"? Masalah utamanya adalah kepercayaan. Ibarat tamu yang ingin menginap, mereka merasa tuan rumah terlalu sering mengubah aturan atau memberikan regulasi yang memberatkan, terutama bagi investor asal China.

Dampaknya sangat nyata. Lembaga internasional seperti MSCI mulai melakukan pemblokiran (ban) terhadap saham-saham Indonesia dari daftar rekomendasi dunia. Tanpa kepercayaan global, modal keluar dengan cepat, meninggalkan Rupiah yang kini lunglai di angka Rp 17.503 per Dollar AS.

Dapur Umum yang Terlalu Mahal

Di sisi lain, beban anggaran negara berada dalam sorotan tajam. Dengan tumpukan utang yang menyentuh angka fantastis Rp 10.000 triliun, pemerintah justru meluncurkan program Makan Bergizi (MBG) yang memakan biaya Rp 1,2 triliun setiap harinya. Ibarat sebuah keluarga yang utangnya menumpuk namun tetap memaksakan pesta makan besar setiap hari, publik mulai bertanya-tanya: sampai kapan ketahanan ini akan bertahan?

Ironi ini kian terasa di mata masyarakat saat melihat kontras gaya hidup kepemimpinan. Di tengah ekonomi yang sedang sesak napas, publik menyaksikan perjalanan kerja (dinas) Presiden dengan fasilitas mewah, yang sangat berbanding terbalik dengan kesederhanaan pemimpin negara tetangga seperti PM Singapura yang tetap memilih pesawat komersial.

Apa Dampaknya bagi Kita?

Saat Rupiah menyentuh angka Rp 17.500, ini bukan lagi sekadar berita di televisi, melainkan ancaman di meja makan. Harga barang impor akan melonjak—mulai dari kedelai untuk tempe, gandum untuk mie instan, hingga bahan bakar.

Indonesia kini berdiri di persimpangan jalan. Menjadi satu-satunya negara di ASEAN yang berada di titik terendah adalah peringatan keras bahwa struktur ekonomi kita membutuhkan perbaikan mendalam sebelum mesinnya benar-benar mati di tengah jalan. (*)

Investor China Berteriak: Tamparan Keras untuk Iklim Usaha Indonesia


Surat terbuka yang dikirimkan China Chamber of Commerce in Indonesia (CCC Indonesia) kepada Presiden Prabowo Subianto pada 12 Mei 2026 bukan sekadar keluhan rutin investor asing. Ini adalah sinyal alarm keras dari salah satu mitra investasi terbesar Indonesia. Dengan nada yang tetap diplomatis namun tegas, para pengusaha China membongkar borok-borok yang selama ini sering dibicarakan di balik layar: pungutan liar, ketidakpastian kebijakan, dan birokrasi yang menghambat alih-alih mendukung pertumbuhan.

Dalam surat berjudul "Letter Requesting Improvement of the Business Environment", CCC Indonesia menyampaikan keprihatinan mendalam atas beberapa isu krusial. Pertama, praktik *pungli* dan pemerasan oleh oknum berwenang yang semakin mengganggu operasional bisnis. Investor mengeluhkan bahwa masalah yang seharusnya bisa diselesaikan melalui saluran resmi justru macet, kecuali jika “dilancarkan” melalui perantara dengan biaya tambahan. Praktik semacam ini bukan hanya merusak iklim investasi, tapi juga langsung bertentangan dengan komitmen pemerintahan baru untuk memberantas korupsi.

Kedua, denda kehutanan “rekor” senilai US$180 juta yang dijatuhkan secara sepihak oleh Satgas PKH (Pengendalian Kawasan Hutan). Para investor menilai besaran tersebut berlebihan dan diterapkan tanpa prosedur yang memadai. Ketiga, perubahan kebijakan nikel yang mendadak—termasuk kenaikan royalti dan pungutan—telah menyebabkan lonjakan biaya produksi hingga 200 persen. Kebijakan yang fluktuatif ini menciptakan ketidakpastian hukum yang sangat merugikan, terutama bagi industri hilir nikel yang selama ini menjadi andalan hilirisasi nasional.

Dampaknya tidak main-main. CCC Indonesia menyebut ribuan lapangan kerja bagi ratusan ribu pekerja Indonesia berada di ujung tanduk. Investor China yang selama ini konsisten mendukung pembangunan nasional—dari infrastruktur hingga industri baterai—kini merasa terbebani oleh lingkungan usaha yang semakin memberatkan. Mereka tetap menyatakan komitmen jangka panjang, tapi meminta perbaikan konkret agar investasi mereka tidak terancam.

Ironi di Tengah Ambisi Besar

Ini menjadi ironi tajam bagi pemerintahan Prabowo yang baru saja dilantik dengan ambisi pertumbuhan ekonomi 8 persen. Target tersebut mustahil tercapai tanpa kepercayaan investor. Indonesia memang sedang gencar menarik investasi asing, khususnya di sektor strategis seperti nikel, tapi jika masalah klasik seperti korupsi, pungli, dan kebijakan dadakan tidak diatasi, modal akan lari ke negara tetangga yang lebih ramah investor.

Kasus ini juga menguji janji Presiden Prabowo untuk “memberantas korupsi tanpa pandang bulu”. Jika keluhan investor asing ini dibiarkan, Indonesia berisiko dicap sebagai “sarang pungli internasional”—citra yang sangat merusak daya tarik investasi jangka panjang. Di sisi lain, penegakan aturan lingkungan seperti denda kehutanan memang diperlukan untuk mencegah kerusakan alam, tapi harus dilakukan secara adil, transparan, dan proporsional agar tidak menjadi alat pemerasan baru.

Saatnya Reformasi Struktural

Surat terbuka ini seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk melakukan reformasi birokrasi yang lebih dalam. Beberapa langkah mendesak yang bisa diambil antara lain:

- *Memperkuat sistem pengaduan* yang independen dan terlindungi bagi investor.
- *Menstandarisasi* dan mendigitalkan proses perizinan serta pengawasan agar ruang pungli menyempit.
- *Menciptakan kepastian kebijakan* di sektor strategis seperti pertambangan, termasuk mekanisme transisi yang jelas sebelum perubahan diterapkan.
- *Meningkatkan koordinasi* antarlembaga sehingga Satgas dan kementerian tidak saling tumpang tindih atau bertentangan.

Investor China bukan musuh. Mereka adalah mitra penting yang telah menyuntikkan miliaran dolar ke ekonomi Indonesia. Keluhan mereka mestinya dilihat sebagai masukan konstruktif, bukan ancaman. Jika pemerintah merespons dengan cepat dan tegas, ini bisa menjadi titik balik perbaikan iklim usaha. Sebaliknya, jika diabaikan, gelombang keluhan serupa dari investor lain bisa segera menyusul.

Ekonomi Indonesia sedang di persimpangan. Ambisi besar butuh fondasi kepercayaan yang kuat. Surat dari CCC Indonesia adalah tamparan sekaligus kesempatan emas: membersihkan birokrasi, menegakkan hukum secara adil, dan membuktikan bahwa Indonesia serius menjadi destinasi investasi kelas dunia. Jutaan pekerja dan masa depan pertumbuhan ekonomi nasional bergantung pada bagaimana pemerintah merespons tamparan ini. (*)

surat terbuka dari CCCI bisa dibaca selengkapnya di: 
https://drive.google.com/file/d/1Gi5Af3ZPX7lRz9C-F3Bx5C5zZOBwtyH8/view

____

Tuesday, May 12, 2026

Romantisme Massal di Tanah Jawa: Dari Hanggar Pesawat hingga Kabin VW Kombi


Di tengah derasnya arus digitalisasi yang menggeser pola pencarian jodoh ke algoritma aplikasi kencan, masyarakat di koridor Jawa Tengah dan Jawa Timur justru menunjukkan anomali yang indah. Fenomena "Golek Garwo" dan "Nikah Bareng" telah berevolusi dari sekadar solusi administratif menjadi sebuah perhelatan budaya yang megah, inklusif, dan sangat kreatif.

Golek Garwo: Antitesis Digital yang Mendunia

Bagi pengamat internasional, ajang "Golek Garwo" di Yogyakarta dan Solo sering dijuluki sebagai "Tinder Dunia Nyata." Media global melihat ini sebagai bentuk interaksi sosial yang jujur dan berani. Bayangkan saja, ratusan orang dari rentang usia 19 hingga 70 tahun berkumpul secara fisik untuk memperkenalkan diri dan mencari kecocokan hati secara langsung (ta’aruf).

Ketertarikan dunia bukan tanpa alasan. Pada medio 2025-2026, ajang ini tidak lagi hanya diikuti oleh warga lokal. Peserta dari Amerika Serikat, Jerman, hingga Australia tercatat ikut serta di lokasi-lokasi ikonik seperti Hanggar Pesawat STTKD Yogyakarta dan Masjid Raya Sheikh Zayed Solo. Dunia melihat ini sebagai perpaduan unik antara solidaritas sosial—di mana mahar dan biaya nikah sering kali ditanggung panitia (filantropi)—dengan kearifan lokal yang tetap relevan di era modern.

Mei 2026: Gema "Mbalek Ndeso" di Yogyakarta

Kabar terkini dari pusat budaya Jawa menyebutkan bahwa Yogyakarta akan kembali menggelar event besar pada 19 Mei 2026 dengan tajuk Golek Garwo "Nikah Bareng Mbalek Ndeso". Nama ini membawa pesan filosofis yang kuat: sebuah ajakan untuk kembali ke akar, kehangatan desa, dan kesederhanaan.

Event ini bukan sekadar prosesi ijab kabul, melainkan sebuah pernyataan bahwa cinta tidak harus selalu glamor di gedung mewah. Dengan konsep "Mbalek Ndeso", panitia ingin mengangkat kembali nilai-nilai gotong royong dan keasrian tradisi pedesaan sebagai saksi bisu bersatunya dua insan. Ini menjadi daya tarik wisata unik (*unique tourism*) yang memikat para fotografer dan sosiolog mancanegara yang ingin melihat sisi paling humanis dari masyarakat Jawa.

Juli 2026: Kediri dan Nostalgia VW Kombi

Tak mau kalah dengan kemeriahan di Jogja, Jawa Timur akan menorehkan tinta emasnya sendiri. Pada 24 Juli 2026, Kota Kediri berencana menggelar pernikahan massal dengan konsep yang sangat eksentrik: Akad Nikah di dalam mobil VW Kombi.

Pilihan mobil VW Kombi bukan sekadar untuk gaya-gayaan. Mobil klasik ini adalah simbol petualangan dan kebebasan. Menjadikan kabin VW Kombi sebagai tempat mengucap janji suci seolah ingin menyampaikan pesan bahwa pernikahan adalah sebuah perjalanan panjang (road trip) yang harus ditempuh dengan semangat kebersamaan dan keceriaan, meski jalannya mungkin tidak selalu mulus.

Konsep ini diprediksi akan menjadi viral secara global karena berhasil mengintegrasikan budaya populer, hobi otomotif, dan nilai-nilai sakral pernikahan dalam satu bingkai.

Kesimpulan: Cinta yang Tak Pernah Sendirian

Kesinambungan acara dari Jogja, Solo, hingga Kediri ini membuktikan bahwa masyarakat Jawa sangat adaptif terhadap zaman. Pernikahan massal telah naik kelas; dari yang dulu dipandang sebagai "acara bantuan untuk kalangan kurang mampu", kini bertransformasi menjadi sebuah perayaan kemanusiaan yang prestisius.
Dari hanggar pesawat yang modern, suasana pedesaan yang asri pada "Mbalek Ndeso", hingga kabin mobil antik di Kediri, satu pesan tetap bergema kuat: di tanah Jawa, cinta tak pernah dibiarkan berjuang sendirian. Komunitas, budaya, dan negara hadir untuk merayakannya dengan cara yang paling unik dan tak terlupakan di mata dunia. (*)

Sunday, May 10, 2026

Mendidik Karakter Anak di Era Digital: Membangun Moral Action di Tengah Gempuran Algoritma


KOTA PASURUAN – Tantangan mendidik anak pada era modern tidak lagi terbatas pada lingkungan fisik, melainkan telah merambah ke dunia digital yang tanpa batas. Hal ini ditegaskan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya, Prof. Dr. Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep., FISQua., dalam Kajian Ahad Pagi yang digelar di Masjid Darul Arqom, Kota Pasuruan, Minggu (10/5/2026).

Pentingnya Moral Action

Dalam ceramahnya, Prof. Mundakir menekankan bahwa pembentukan karakter anak harus mencakup tiga dimensi utama: moral knowing (pengetahuan moral), moral feeling (perasaan moral/empati), dan yang paling krusial adalah moral action (tindakan moral).
"Karakter itu bukan hanya soal anak tahu mana yang baik, tapi bagaimana pengetahuan itu menjelma menjadi aksi nyata. Saat melihat teman sakit atau lingkungan kurang bersih, di situlah moral action harus muncul," ujar Ketua MPKU PWM Jawa Timur tersebut di hadapan jamaah yang memadati masjid di Jl. KH Wachid Hasyim tersebut.

Ancaman "Generasi Sisa"

Mengutip surat An-Nisa ayat 9, Prof. Mundakir mengingatkan para orang tua agar tidak meninggalkan generasi yang lemah, baik secara ilmu, fisik, maupun akhlak. Ia menyoroti fenomena anak-anak saat ini yang lebih akrab dengan algoritma media sosial, YouTube, hingga game online dibandingkan dengan nilai-nilai agama.
Data menunjukkan hampir 80% populasi anak usia 5 hingga 17 tahun telah menggunakan internet. Kondisi ini, menurutnya, berpotensi menciptakan *Residual Generation* atau "Generasi Sisa" jika tidak diimbangi dengan pendampingan yang ketat.

 "Anak-anak sekarang lebih takut kehilangan kuota daripada lupa hafalan surat Al-Qur'an. Mereka lebih meniru influencer daripada guru atau ustadznya," tegasnya.

Dampak Kesehatan Mental dan Sosial

Lebih lanjut, ia memaparkan risiko gangguan kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, hingga cyberbullying yang sering mengintai anak-anak yang terlalu bebas berselancar di dunia maya tanpa kontrol orang tua. Penggunaan gawai yang berlebihan juga disebut dapat melemahkan daya juang (resilience) anak, membuat mereka menginginkan segala sesuatu secara instan, dan menurunkan kepekaan sosial.
Sebagai solusi, Prof. Mundakir mengajak orang tua untuk kembali "hadir" secara utuh bagi anak-anak mereka.
 * Pendampingan Aktif: Orang tua harus tahu apa yang dibuka anak dan dengan siapa mereka berkomunikasi di media sosial.
 * Melatih Daya Juang: Jangan memanjakan anak dengan fasilitas berlebihan; biarkan mereka merasakan proses perjuangan agar menjadi pribadi yang tangguh.
 * Komunikasi Lemah Lembut: Mengajak anak berdialog dengan kasih sayang agar nilai-nilai kebaikan lebih mudah diterima.

Layanan Kesehatan Gratis

Kegiatan rutin Ahad Pagi ini ditutup dengan sesi konsultasi kesehatan gratis bersama dr. Husni Muzakkir. Layanan ini diberikan sebagai bentuk kepedulian Masjid Darul Arqom terhadap kesehatan jamaah setelah mendapatkan asupan rohani.

Melalui kajian ini, para orang tua di Kota Pasuruan diharapkan lebih waspada terhadap dampak negatif teknologi sembari tetap memanfaatkan sisi positifnya untuk mencetak generasi emas yang berakhlak mulia. (*)

Thursday, May 07, 2026

Banyak Nama, Satu Kepastian: Memahami Hari Kiamat dalam Al-Qur’an


Dalam Al-Qur'an, Hari Kiamat tidak hanya disebut dengan satu istilah. Ia hadir dalam beragam nama: Yaumul Qiyamah, As-Sā‘ah, Al-Qāri‘ah, Al-Ḥāqqah, hingga Yaumul Ḥisāb. Banyaknya penyebutan ini bukan tanpa alasan. Justru di situlah letak kedalaman pesan ilahi—bahwa satu peristiwa besar itu memiliki banyak sisi, banyak tahapan, dan banyak suasana yang menggugah kesadaran manusia.

Kiamat bukan sekadar “akhir dunia”, melainkan awal dari realitas baru yang abadi. Setiap nama yang digunakan Al-Qur’an adalah potret parsial dari satu kejadian yang utuh—kadang menampilkan sisi ketakutan, kadang keadilan, kadang kepastian, dan kadang penyesalan.

---

Hari Kebangkitan: Awal dari Segalanya

Nama yang paling umum adalah Yaumul Qiyāmah (Hari Kebangkitan). Kata qāma berarti berdiri atau bangkit—menggambarkan manusia yang bangkit dari kuburnya untuk menghadap Allah.

📖 “Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan tulang-belulangnya?”
(QS. Al-Qiyāmah: 3)

Senada dengan itu, Yaumul Ba‘ts juga menegaskan proses “dibangkitkannya kembali” manusia dari kehancuran jasad.

📖 “Kemudian sesungguhnya kamu akan dibangkitkan pada hari kiamat.”
(QS. Al-Mu’minūn: 16)

Nama lain, Yaumul Khurūj (Hari Keluar), menggambarkan momen manusia keluar dari kubur menuju padang mahsyar.

📖 “Itulah hari keluar (dari kubur).”
(QS. Qāf: 42)

---

Hari yang Pasti dan Tak Terelakkan

Al-Qur’an juga menegaskan bahwa kiamat adalah sesuatu yang pasti terjadi. Nama seperti Al-Wāqi‘ah (Peristiwa yang Pasti Terjadi) dan Al-Ḥāqqah (Kenyataan yang Benar) menunjukkan bahwa kiamat bukan sekadar ancaman, tetapi realitas yang tidak bisa diingkari.

📖 “Hari Kiamat, apakah hari Kiamat itu?”
(QS. Al-Ḥāqqah: 1)

Nama As-Sā‘ah (Waktu yang Ditentukan) menambahkan dimensi lain: bahwa kiamat akan datang secara tiba-tiba, pada waktu yang hanya Allah ketahui.

📖 “Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: ‘Kapankah terjadinya?’…”
(QS. Al-A‘rāf: 187)

Sementara Al-Āzifah (Yang Dekat) mengingatkan bahwa sesuatu yang dianggap jauh oleh manusia, sejatinya sangat dekat dalam ukuran Ilahi.

---

Hari Berkumpul dan Pertemuan Besar

Kiamat juga disebut sebagai Yaumul Jam‘i (Hari Berkumpul)—hari ketika seluruh manusia dari generasi pertama hingga terakhir dikumpulkan.

📖 “Pada hari Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan…”
(QS. At-Taghābun: 9)

Nama Yaumul Talāq (Hari Pertemuan) memperdalam makna ini: bukan hanya manusia bertemu satu sama lain, tetapi juga bertemu dengan amal perbuatannya sendiri.

---

Hari Perhitungan dan Pembalasan

Setelah dikumpulkan, manusia memasuki fase paling menentukan: perhitungan dan pembalasan.

Yaumul Ḥisāb (Hari Perhitungan) menggambarkan proses audit amal secara detail.

📖 “Inilah yang dijanjikan kepadamu pada hari perhitungan.”
(QS. Shād: 53)

Sedangkan Yaumud Dīn (Hari Pembalasan) menegaskan konsekuensi dari setiap perbuatan.

📖 “Pemilik hari pembalasan.”
(QS. Al-Fātiḥah: 4)

Nama lain seperti Yaumul Faṣl (Hari Pemisahan/Keputusan) menunjukkan keadilan Allah dalam memisahkan yang benar dan yang batil.

📖 “Sesungguhnya hari keputusan adalah waktu yang ditetapkan.”
(QS. An-Naba’: 17)

---

Hari yang Menggetarkan dan Menakutkan

Sebagian nama kiamat menggambarkan suasana yang sangat mencekam.

Al-Qāri‘ah (Yang Menggetarkan) dan As-Ṣākhkhah (Suara Memekakkan) menggambarkan kedahsyatan suara dan guncangan yang meluluhlantakkan alam.

📖 “Hari Kiamat, apakah hari Kiamat itu?”
(QS. Al-Qāri‘ah: 1)

📖 “Apabila datang suara yang memekakkan…”
(QS. ‘Abasa: 33)

Nama At-Ṭāmmah Al-Kubrā (Bencana Besar) menegaskan bahwa kiamat adalah musibah terbesar sepanjang eksistensi.

📖 “Maka apabila datang bencana yang sangat besar…”
(QS. An-Nāzi‘āt: 34)

Sementara Al-Ghāsyiyah (Yang Meliputi) menggambarkan peristiwa yang menyelimuti seluruh makhluk tanpa kecuali.

📖 “Sudahkah sampai kepadamu berita tentang hari yang meliputi?”
(QS. Al-Ghāsyiyah: 1)

---

Hari Penyesalan dan Kesulitan

Bagi sebagian manusia, kiamat adalah hari penuh penyesalan.

Yaumul Ḥasrah (Hari Penyesalan) menggambarkan kondisi orang-orang yang terlambat menyadari kesalahannya.

📖 “Berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan…”
(QS. Maryam: 39)

Nama Yaumul ‘Asīr (Hari yang Sulit) menegaskan betapa beratnya hari itu, terutama bagi mereka yang ingkar.

📖 “Maka itu adalah hari yang sulit.”
(QS. Al-Muddatsir: 9)

---

Hari Akhir dan Kehidupan Kekal

Kiamat juga disebut Yaumul Ākhir (Hari Akhir) karena menjadi penutup kehidupan dunia dan pembuka kehidupan abadi.

Setelah itu, manusia memasuki Yaumul Khulūd (Hari Kekekalan)—kehidupan tanpa akhir, baik di surga maupun neraka.

📖 “Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera, itulah hari kekekalan.”
(QS. Qāf: 34)

---

Penutup: Satu Hari, Banyak Peringatan

Banyaknya nama Hari Kiamat dalam Al-Qur’an bukan sekadar variasi bahasa, melainkan strategi ilahi untuk menggugah kesadaran manusia dari berbagai sisi. Ada nama yang menekankan kepastian, ada yang menggambarkan ketakutan, ada yang menunjukkan keadilan, dan ada yang memperlihatkan penyesalan.

Semua itu bermuara pada satu pesan sederhana namun mendalam:
Hari itu pasti datang. Yang menjadi pertanyaan bukan “kapan”, tetapi “sudah sejauh mana kita siap?”

Wednesday, May 06, 2026

Aksi Nyata untuk Bumi: Reboisasi di Tahura Raden Soeryo dalam Rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia, komunitas "Bushcraft Survival Skill Indonesia" mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tidak sekadar merayakan secara seremonial, tetapi turun langsung ke lapangan. 

Melalui kegiatan bertajuk "Aksi Konservasi – Reboisasi Tahura Raden Soeryo", upaya pemulihan ekosistem hutan akan dilaksanakan di salah satu paru-paru hijau Jawa Timur.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Kerja 2026-2027 yang bertujuan untuk menjaga kelestarian alam, khususnya di wilayah jalur pendakian Gunung Arjuno-Welirang via Pet Bocor.

Detail Pelaksanaan Kegiatan

Bagi Anda yang ingin berkontribusi langsung bagi alam, catat agenda pentingnya berikut ini:
 * Hari/Tanggal: Minggu, 7 Juni 2026
 * Lokasi Pertemuan: Parkir Kedai Lali Djiwo, Tretes
 * Fokus Area: Jalur pendakian Arjuno – Welirang (Pet Bocor), Tahura Raden Soeryo.

Mengapa Anda Harus Bergabung?

Selain memberikan dampak positif bagi lingkungan, panitia telah menyiapkan berbagai fasilitas pendukung untuk memastikan relawan dapat beraksi dengan maksimal. Yang paling menarik, pendaftaran kegiatan ini adalah GRATIS!

Fasilitas yang akan didapatkan peserta meliputi:
 * Logistik selama kegiatan berlangsung.
 * Kaos kegiatan eksklusif (tersedia untuk 100 pendaftar pertama).
 * Souvenir menarik sebagai kenang-kenangan.
 * Penyediaan alat penanaman bibit di lokasi.

Sinergi untuk Alam

Kegiatan ini terselenggara berkat kolaborasi berbagai pihak yang peduli terhadap isu lingkungan, termasuk dukungan dari Perhutani dan PLN. Sinergi antara komunitas dan instansi ini diharapkan mampu mempercepat pemulihan lahan kritis di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura).

"Satu pohon yang kita tanam hari ini adalah nafas bagi generasi masa depan."

Informasi Pendaftaran

Jangan lewatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari perubahan hijau ini. Untuk informasi lebih lanjut mengenai teknis kegiatan dan pendaftaran, Anda dapat menghubungi kontak di bawah ini:

 WhatsApp: 0813-5758-5978 (Bagong)

Mari hijaukan kembali bumi kita, mulai dari langkah kecil di Tahura Raden Soeryo!