Thursday, May 07, 2026

Banyak Nama, Satu Kepastian: Memahami Hari Kiamat dalam Al-Qur’an


Dalam Al-Qur'an, Hari Kiamat tidak hanya disebut dengan satu istilah. Ia hadir dalam beragam nama: Yaumul Qiyamah, As-Sā‘ah, Al-Qāri‘ah, Al-Ḥāqqah, hingga Yaumul Ḥisāb. Banyaknya penyebutan ini bukan tanpa alasan. Justru di situlah letak kedalaman pesan ilahi—bahwa satu peristiwa besar itu memiliki banyak sisi, banyak tahapan, dan banyak suasana yang menggugah kesadaran manusia.

Kiamat bukan sekadar “akhir dunia”, melainkan awal dari realitas baru yang abadi. Setiap nama yang digunakan Al-Qur’an adalah potret parsial dari satu kejadian yang utuh—kadang menampilkan sisi ketakutan, kadang keadilan, kadang kepastian, dan kadang penyesalan.

---

Hari Kebangkitan: Awal dari Segalanya

Nama yang paling umum adalah Yaumul Qiyāmah (Hari Kebangkitan). Kata qāma berarti berdiri atau bangkit—menggambarkan manusia yang bangkit dari kuburnya untuk menghadap Allah.

📖 “Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan tulang-belulangnya?”
(QS. Al-Qiyāmah: 3)

Senada dengan itu, Yaumul Ba‘ts juga menegaskan proses “dibangkitkannya kembali” manusia dari kehancuran jasad.

📖 “Kemudian sesungguhnya kamu akan dibangkitkan pada hari kiamat.”
(QS. Al-Mu’minūn: 16)

Nama lain, Yaumul Khurūj (Hari Keluar), menggambarkan momen manusia keluar dari kubur menuju padang mahsyar.

📖 “Itulah hari keluar (dari kubur).”
(QS. Qāf: 42)

---

Hari yang Pasti dan Tak Terelakkan

Al-Qur’an juga menegaskan bahwa kiamat adalah sesuatu yang pasti terjadi. Nama seperti Al-Wāqi‘ah (Peristiwa yang Pasti Terjadi) dan Al-Ḥāqqah (Kenyataan yang Benar) menunjukkan bahwa kiamat bukan sekadar ancaman, tetapi realitas yang tidak bisa diingkari.

📖 “Hari Kiamat, apakah hari Kiamat itu?”
(QS. Al-Ḥāqqah: 1)

Nama As-Sā‘ah (Waktu yang Ditentukan) menambahkan dimensi lain: bahwa kiamat akan datang secara tiba-tiba, pada waktu yang hanya Allah ketahui.

📖 “Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: ‘Kapankah terjadinya?’…”
(QS. Al-A‘rāf: 187)

Sementara Al-Āzifah (Yang Dekat) mengingatkan bahwa sesuatu yang dianggap jauh oleh manusia, sejatinya sangat dekat dalam ukuran Ilahi.

---

Hari Berkumpul dan Pertemuan Besar

Kiamat juga disebut sebagai Yaumul Jam‘i (Hari Berkumpul)—hari ketika seluruh manusia dari generasi pertama hingga terakhir dikumpulkan.

📖 “Pada hari Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan…”
(QS. At-Taghābun: 9)

Nama Yaumul Talāq (Hari Pertemuan) memperdalam makna ini: bukan hanya manusia bertemu satu sama lain, tetapi juga bertemu dengan amal perbuatannya sendiri.

---

Hari Perhitungan dan Pembalasan

Setelah dikumpulkan, manusia memasuki fase paling menentukan: perhitungan dan pembalasan.

Yaumul Ḥisāb (Hari Perhitungan) menggambarkan proses audit amal secara detail.

📖 “Inilah yang dijanjikan kepadamu pada hari perhitungan.”
(QS. Shād: 53)

Sedangkan Yaumud Dīn (Hari Pembalasan) menegaskan konsekuensi dari setiap perbuatan.

📖 “Pemilik hari pembalasan.”
(QS. Al-Fātiḥah: 4)

Nama lain seperti Yaumul Faṣl (Hari Pemisahan/Keputusan) menunjukkan keadilan Allah dalam memisahkan yang benar dan yang batil.

📖 “Sesungguhnya hari keputusan adalah waktu yang ditetapkan.”
(QS. An-Naba’: 17)

---

Hari yang Menggetarkan dan Menakutkan

Sebagian nama kiamat menggambarkan suasana yang sangat mencekam.

Al-Qāri‘ah (Yang Menggetarkan) dan As-Ṣākhkhah (Suara Memekakkan) menggambarkan kedahsyatan suara dan guncangan yang meluluhlantakkan alam.

📖 “Hari Kiamat, apakah hari Kiamat itu?”
(QS. Al-Qāri‘ah: 1)

📖 “Apabila datang suara yang memekakkan…”
(QS. ‘Abasa: 33)

Nama At-Ṭāmmah Al-Kubrā (Bencana Besar) menegaskan bahwa kiamat adalah musibah terbesar sepanjang eksistensi.

📖 “Maka apabila datang bencana yang sangat besar…”
(QS. An-Nāzi‘āt: 34)

Sementara Al-Ghāsyiyah (Yang Meliputi) menggambarkan peristiwa yang menyelimuti seluruh makhluk tanpa kecuali.

📖 “Sudahkah sampai kepadamu berita tentang hari yang meliputi?”
(QS. Al-Ghāsyiyah: 1)

---

Hari Penyesalan dan Kesulitan

Bagi sebagian manusia, kiamat adalah hari penuh penyesalan.

Yaumul Ḥasrah (Hari Penyesalan) menggambarkan kondisi orang-orang yang terlambat menyadari kesalahannya.

📖 “Berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan…”
(QS. Maryam: 39)

Nama Yaumul ‘Asīr (Hari yang Sulit) menegaskan betapa beratnya hari itu, terutama bagi mereka yang ingkar.

📖 “Maka itu adalah hari yang sulit.”
(QS. Al-Muddatsir: 9)

---

Hari Akhir dan Kehidupan Kekal

Kiamat juga disebut Yaumul Ākhir (Hari Akhir) karena menjadi penutup kehidupan dunia dan pembuka kehidupan abadi.

Setelah itu, manusia memasuki Yaumul Khulūd (Hari Kekekalan)—kehidupan tanpa akhir, baik di surga maupun neraka.

📖 “Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera, itulah hari kekekalan.”
(QS. Qāf: 34)

---

Penutup: Satu Hari, Banyak Peringatan

Banyaknya nama Hari Kiamat dalam Al-Qur’an bukan sekadar variasi bahasa, melainkan strategi ilahi untuk menggugah kesadaran manusia dari berbagai sisi. Ada nama yang menekankan kepastian, ada yang menggambarkan ketakutan, ada yang menunjukkan keadilan, dan ada yang memperlihatkan penyesalan.

Semua itu bermuara pada satu pesan sederhana namun mendalam:
Hari itu pasti datang. Yang menjadi pertanyaan bukan “kapan”, tetapi “sudah sejauh mana kita siap?”

Wednesday, May 06, 2026

Aksi Nyata untuk Bumi: Reboisasi di Tahura Raden Soeryo dalam Rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia, komunitas "Bushcraft Survival Skill Indonesia" mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tidak sekadar merayakan secara seremonial, tetapi turun langsung ke lapangan. 

Melalui kegiatan bertajuk "Aksi Konservasi – Reboisasi Tahura Raden Soeryo", upaya pemulihan ekosistem hutan akan dilaksanakan di salah satu paru-paru hijau Jawa Timur.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Kerja 2026-2027 yang bertujuan untuk menjaga kelestarian alam, khususnya di wilayah jalur pendakian Gunung Arjuno-Welirang via Pet Bocor.

Detail Pelaksanaan Kegiatan

Bagi Anda yang ingin berkontribusi langsung bagi alam, catat agenda pentingnya berikut ini:
 * Hari/Tanggal: Minggu, 7 Juni 2026
 * Lokasi Pertemuan: Parkir Kedai Lali Djiwo, Tretes
 * Fokus Area: Jalur pendakian Arjuno – Welirang (Pet Bocor), Tahura Raden Soeryo.

Mengapa Anda Harus Bergabung?

Selain memberikan dampak positif bagi lingkungan, panitia telah menyiapkan berbagai fasilitas pendukung untuk memastikan relawan dapat beraksi dengan maksimal. Yang paling menarik, pendaftaran kegiatan ini adalah GRATIS!

Fasilitas yang akan didapatkan peserta meliputi:
 * Logistik selama kegiatan berlangsung.
 * Kaos kegiatan eksklusif (tersedia untuk 100 pendaftar pertama).
 * Souvenir menarik sebagai kenang-kenangan.
 * Penyediaan alat penanaman bibit di lokasi.

Sinergi untuk Alam

Kegiatan ini terselenggara berkat kolaborasi berbagai pihak yang peduli terhadap isu lingkungan, termasuk dukungan dari Perhutani dan PLN. Sinergi antara komunitas dan instansi ini diharapkan mampu mempercepat pemulihan lahan kritis di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura).

"Satu pohon yang kita tanam hari ini adalah nafas bagi generasi masa depan."

Informasi Pendaftaran

Jangan lewatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari perubahan hijau ini. Untuk informasi lebih lanjut mengenai teknis kegiatan dan pendaftaran, Anda dapat menghubungi kontak di bawah ini:

 WhatsApp: 0813-5758-5978 (Bagong)

Mari hijaukan kembali bumi kita, mulai dari langkah kecil di Tahura Raden Soeryo!

Monday, May 04, 2026

Badai PHK Malaysia: Sinyal Bahaya dari Negeri Jiran bagi Ekonomi Indonesia


Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal sedang menghantam Malaysia dengan intensitas yang meningkat tajam pada awal tahun 2026. Data terbaru menunjukkan lonjakan jumlah pengangguran hingga hampir 50 persen dibandingkan tahun lalu, memicu kekhawatiran akan stabilitas ekonomi regional, termasuk dampaknya terhadap Indonesia.

Lonjakan Angka dan Lumpuhnya Jantung Ekonomi

Pada kuartal pertama 2026, tercatat sebanyak 24.000 pekerja kehilangan pekerjaan, melompat signifikan dari angka 16.000 pada periode yang sama di tahun 2025. Tren ini belum menunjukkan tanda-tanda melambat; tercatat tambahan 4.700 orang terkena PHK hanya dalam 16 hari pertama bulan April 2026.
Lebih mengkhawatirkan, krisis ini berpusat di jantung ekonomi Malaysia, yakni kawasan Klang Valley. Selangor menyumbang 29,3 persen dari total PHK nasional, disusul Kuala Lumpur sebesar 25,6 persen. Dengan lebih dari separuh kasus terjadi di pusat pertumbuhan, sektor manufaktur, perdagangan grosir/retail, serta logistik menjadi korban utama akibat ketergantungan tinggi pada rantai pasok global.

Tekanan Ganda: Tarif Trump dan Harga Energi

Dua faktor eksternal utama dituding menjadi pemicu "badai sempurna" ini:
 1. Proteksionisme AS: Kebijakan tarif resiprokal dari pemerintahan Donald Trump memukul sektor elektronik, otomotif, dan sarung tangan. Christina Tiu, Presiden Kamar Dagang Malaysia (MICHI), memproyeksikan minimal 50.000 lapangan kerja akan hilang akibat kebijakan ini.
 2. Konflik Timur Tengah: Ketegangan yang melibatkan Iran mendorong harga minyak melampaui USD 90 per barel. Lonjakan ini merembet pada biaya listrik, bahan baku petrokimia, dan logistik, yang mencekik margin keuntungan perusahaan manufaktur.
Contoh nyata terlihat pada WRP Asia Pasifik di Sepang yang merumahkan 1.426 karyawan pada April 2026 akibat kenaikan harga bahan baku polyester. Raksasa seperti British American Tobacco Malaysia juga dikabarkan tengah menempuh langkah efisiensi serupa.

Proyeksi Pertumbuhan yang Melambat

Kondisi ini memaksa lembaga keuangan merevisi target ekonomi. Setelah tumbuh 5,2 persen pada 2025, proyeksi GDP Malaysia tahun 2026 dipangkas menjadi kisaran 4 hingga 4,5 persen oleh pemerintah setempat, sementara IMF mematok angka 4,7 persen. Meski terlihat kecil, penurunan ini merepresentasikan hilangnya ratusan ribu potensi lapangan kerja dan tertundanya investasi bernilai jutaan dolar.

Implikasi dan Alarm bagi Indonesia

Bagi Indonesia, fenomena di Malaysia adalah cermin sekaligus peluang yang berisiko. Indonesia menghadapi tantangan serupa: harga minyak yang menekan biaya produksi dan ketidakpastian geopolitik global. Di sisi lain, pelemahan daya saing Malaysia sebenarnya membuka celah bagi Indonesia untuk menarik relokasi investasi dan pesanan manufaktur global.
Namun, peluang tersebut terganjal oleh masalah struktural dalam negeri:
 * Nilai Tukar: Rupiah yang menyentuh angka Rp17.320 per dolar AS.
 * Hambatan Birokrasi: Proses perizinan yang masih panjang.
 * Kesehatan Fiskal: Tekanan pada APBN dan kepastian hukum yang masih dipertanyakan investor.
PHK massal di Malaysia adalah sinyal peringatan keras bahwa ketergantungan tinggi pada ekspor global sangat rentan terhadap guncangan geopolitik. Indonesia mungkin belum berada di titik yang sama dengan Malaysia, namun dengan kondisi ekonomi yang tidak sepenuhnya aman, pemerintah dituntut untuk segera membenahi iklim investasi sebelum tekanan global tersebut benar-benar mendarat di tanah air. (*)

Pelantikan Tertutup Dirjen SDA di Hari Buruh Picu Pertanyaan Transparansi dan Kompetensi


Pada 1 Mei 2026, bertepatan dengan Hari Buruh Internasional, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo secara tertutup melantik Mayjen TNI (Purn.) Arnold Aristoteles sebagai Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum. Pelantikan yang berlangsung di hari libur nasional tanpa publikasi luas ini segera memicu perhatian karena menyangkut jabatan strategis dengan kewenangan besar dalam pengelolaan sumber daya air nasional.

Pemilihan waktu dan cara pelantikan menjadi sorotan utama. Jabatan eselon I setingkat direktur jenderal lazimnya diisi melalui proses formal yang terbuka dan dilakukan pada hari kerja, memungkinkan pengawasan publik dan media. Pelaksanaan pada tanggal merah secara tertutup menimbulkan pertanyaan tentang alasan di balik keputusan tersebut, serta sejauh mana prinsip transparansi dijalankan dalam proses pengangkatan pejabat publik.
Dari sisi latar belakang, Arnold Aristoteles dikenal sebagai purnawirawan perwira tinggi TNI Angkatan Darat dari kecabangan Zeni, dengan pengalaman terakhir sebagai Gubernur Akademi Militer dan tenaga pengajar di Lemhannas. Namun, ia bukan berasal dari jalur karier birokrasi sipil di Kementerian PUPR maupun dari bidang teknis pengelolaan sumber daya air. Hal ini memunculkan pertanyaan mengenai kesesuaian kompetensi dengan kebutuhan jabatan yang menuntut keahlian spesifik di bidang hidrologi, infrastruktur air, dan manajemen proyek berskala besar.

Posisi Direktur Jenderal Sumber Daya Air sendiri memiliki peran krusial dalam merumuskan dan menjalankan kebijakan terkait bendungan, irigasi, sungai, serta pengelolaan air nasional. Dengan anggaran besar dan dampak langsung terhadap sektor pertanian serta kehidupan masyarakat luas, jabatan ini membutuhkan kapasitas teknis dan administratif yang kuat serta pengalaman relevan di bidangnya.

Menteri Dody Hanggodo dalam pernyataannya menyinggung pentingnya “statecraft” atau kemampuan mengelola kebijakan negara. Namun, sejumlah pengamat menilai bahwa jabatan teknis seperti Dirjen SDA lebih menuntut keahlian substantif daripada pendekatan strategis umum. Pertanyaan mengenai dasar pertimbangan pemilihan kandidat pun mengemuka, terutama terkait indikator kompetensi yang digunakan dalam proses seleksi.

Konteks yang lebih luas turut memperkuat kekhawatiran publik. Dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, tren penempatan purnawirawan militer di berbagai posisi sipil strategis disebut semakin terlihat. Fenomena ini sebelumnya telah disoroti oleh pengamat politik Saiful Mujani, yang mengingatkan pentingnya menjaga batas antara ranah militer dan sipil, termasuk memastikan bahwa pengisian jabatan didasarkan pada kompetensi yang relevan.

Secara regulasi, undang-undang memang mengharuskan prajurit TNI aktif untuk pensiun sebelum menduduki jabatan sipil. Namun, bagi purnawirawan, isu yang mengemuka bergeser pada aspek kecocokan keahlian dan potensi konflik kepentingan. Dalam konteks ini, transparansi proses seleksi menjadi krusial untuk menjaga akuntabilitas publik.

Pelantikan yang dilakukan tanpa keterbukaan di hari libur nasional menambah dimensi lain dalam polemik ini. Transparansi bukan sekadar prosedur administratif, melainkan fondasi kepercayaan publik terhadap pemerintah. Ketika proses penting seperti pengangkatan pejabat strategis dilakukan secara tertutup, ruang spekulasi terbuka lebar dan berpotensi merusak legitimasi institusi.

Pada akhirnya, perdebatan ini tidak semata tentang sosok Arnold Aristoteles sebagai individu, melainkan tentang sistem. Tata kelola pemerintahan yang sehat mensyaratkan proses rekrutmen yang terbuka, berbasis merit, serta dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. Ketidakhadiran prinsip-prinsip tersebut dalam kasus ini menjadi perhatian yang lebih besar dibandingkan sekadar pergantian satu jabatan. (*)

Sunday, May 03, 2026

Kajian Tafsir Al-Qur'an: Surah Al-Baqarah 31-34

Masjid Al-Ukhuwah, Kota Pasuruan
Ustadz H. M. Baidowi, M.Ag.


Alhamdulillah, pada pagi hari ini (Ahad, 3 Mei 2026) kita masih diberikan kesempatan dan kenikmatan oleh Allah sehingga bisa menghadiri majelis yang mubarak ini. Kehadiran kita di sini tidak lain adalah memenuhi panggilan Allah untuk shalat Subuh berjamaah. Jika kita mau jujur menghitung nikmat-nikmat Allah, niscaya kita tidak akan mampu menghitungnya. Mari kita buka kajian ini dengan bacaan Bismillahirrahmanirrahim

Ilmu Allah dan Keterbatasan Malaikat

Melanjutkan kajian Surah Al-Baqarah, materi kita telah sampai pada saat Allah memberitakan kepada seluruh malaikat untuk menyebutkan nama-nama benda di sekitar mereka. Namun, malaikat tidak mampu mengucapkannya. Mereka menjawab, 
"Subhanaka la 'ilmana illa ma 'allamtana"—Maha Suci Engkau Ya Rabb, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami.
Ini adalah pelajaran bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui sesuatu kecuali apa yang diajarkan Allah. Seluruh alam raya, apa yang ada di angkasa, bumi, dan laut, semuanya diperuntukkan bagi manusia. Namun, manusia harus ingat bahwa setiap ilmu yang diberikan akan dimintai pertanggungjawaban. Oleh karena itu, janganlah kita berhubungan dengan jin atau dukun ("orang pintar"). Walaupun ada jin muslim, namun sering kali mereka meminta tuntutan jika kita meminta bantuan. Hal itu sangat bertentangan dengan ayat ini, di mana malaikat yang suci saja tidak mengetahui apa-apa kecuali yang diajarkan Allah.

Perintah Sujud dan Kesombongan Iblis

Allah kemudian memerintahkan kepada seluruh malaikat: "Fasjudu li Adama"—sujudlah kalian kepada Adam. Seluruh malaikat bersujud, kecuali Iblis. Iblis menolak karena merasa lebih bagus dan sombong (Abaha wastaghbaru). Jika di dalam kalbu kita ada "gerigil-gerigil" kesombongan sebesar zarah saja, maka kita termasuk golongan Iblis yang dilaknat Allah.

Perlu dipahami, sujudnya malaikat kepada Adam adalah sujud penghormatan dan kemuliaan, bukan menyembah, karena ketaatannya tetap kepada Allah. Allah memuliakan Adam sebagai sebaik-baik ciptaan (fi ahsani taqwim). Syariat sujud penghormatan ini memang ada pada umat terdahulu, seperti bangsa Cina yang bersujud kepada sesepuh atau tradisi Jawa halus. Namun, setelah hadirnya Islam, cara memuliakan dengan bersujud kepada sesama manusia telah dihapus.

Adab Istri Terhadap Suami

Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa seandainya beliau diperbolehkan memerintahkan manusia bersujud kepada seseorang, maka beliau akan memerintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya karena besarnya hak suami. Maka dari itu, urusan ibadah sunnah pun, seperti puasa, istri harus izin kepada suaminya. Jangan sampai suami pulang dari jauh dan menginginkan istrinya, tapi istri tidak memberitahu bahwa ia sedang puasa sunnah. Begitu juga jika ingin pergi ke mana-mana, gunakanlah alat komunikasi seperti WhatsApp untuk meminta izin. Istri tidak boleh egois dan sombong, meskipun merasa lebih kaya secara harta.

Keteladanan Siti Khadijah RA

Lihatlah Siti Khadijah. Beliau wanita yang sangat kaya, namun setelah menikah dengan Rasulullah, beliau memberikan segalanya untuk perjuangan agama. Sampai-sampai di akhir hayatnya, beliau tidak punya kain kecuali satu yang banyak tembelannya. Saat Rasulullah menangis melihat keadaannya, Khadijah berkata bahwa ia tidak menyesal sama sekali. Karena kesetiaannya, Allah mengirimkan salam dan kain kafan langsung dari langit untuk Khadijah, Rasulullah, dan Fatimah.

Tragedi Pertama: Qabil dan Habil

Kesombongan dan nafsu juga membawa tragedi pada putra Nabi Adam, yaitu Qabil dan Habil. Karena berebut wanita dan rasa dengki akibat kurban Qabil ditolak Allah (karena memberikan hasil tani yang buruk), Qabil membunuh Habil. Inilah pertumpahan darah pertama di muka bumi karena urusan nafsu. Qabil kemudian belajar cara mengubur jasad adiknya setelah melihat burung gagak menggali tanah. Ini adalah pelajaran bagi kita agar selalu memperhatikan sejarah agar tidak mengulangi dosa yang sama.

Sesi Tanya Jawab: Menghadapi Tipu Daya Iblis

Dalam sesi tanya jawab, muncul pertanyaan mengapa sesuatu yang jahat sering nampak indah di mata manusia. Ustadz menjelaskan bahwa Iblis telah bersumpah di hadapan Allah untuk menyesatkan keturunan Adam dengan cara menghias kemaksiatan menjadi indah (*Tazyin*).

Bagaimana tips melawannya? Iblis sendiri mengaku tidak mampu menyuntikkan kekufuran kepada hamba yang Ikhlas. Iblis berkata, "Aku akan sesatkan semuanya, kecuali hamba-Mu yang hadir dengan jiwa yang ikhlas." Maka, janganlah kita lalai. Lakukanlah Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa) dengan dzikir dan istighfar, serta Tazkiyatul Maal (penyucian harta) agar kita tidak menjadi sombong karena merasa paling kaya. Semua yang kita miliki hanyalah pemberian Allah SWT.

Penutup

Semoga apa yang kita lakukan ini senantiasa mendapatkan rida Allah. Insya Allah pertemuan yang akan datang kita lanjutkan penjelasan ayat berikutnya. Semoga kita semua semakin sehat, istiqamah, dan terus meramaikan ibadah berjamaah di Masjid Al-Ukhuwah.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Saturday, May 02, 2026

Meneguhkan Langkah, Memajukan Bangsa: Refleksi Milad Pemuda Muhammadiyah

Pada tanggal 2 Mei 1932, sebuah tonggak penting dalam sejarah gerakan kepemudaan Islam Indonesia ditorehkan. Lahirnya Pemuda Muhammadiyah bukan sekadar menambah deretan organisasi pemuda, melainkan menjadi bagian dari strategi besar gerakan Muhammadiyah untuk memastikan keberlanjutan dakwah Islam yang berkemajuan di tangan generasi muda. Gagasan besar ini tak lepas dari visi pembaruan yang diwariskan oleh Ahmad Dahlan—bahwa Islam harus hadir sebagai kekuatan yang mencerahkan, membebaskan, dan memajukan kehidupan umat.
Akar Sejarah: Dari Pembinaan hingga Pergerakan

Cikal bakal Pemuda Muhammadiyah dapat ditelusuri dari berdirinya Siswo Proyo Priyo (SPP) pada tahun 1918, sebuah wadah pembinaan pelajar Muhammadiyah agar tumbuh dengan karakter Islami dan wawasan modern. Seiring perkembangan zaman dan meningkatnya kesadaran berorganisasi, momentum penting terjadi dalam Kongres Muhammadiyah ke-21 di Makassar yang melahirkan Pemuda Muhammadiyah sebagai organisasi otonom.

Fase ini menjadi titik balik: pemuda tidak lagi sekadar pelengkap, tetapi menjadi subjek utama dalam gerakan sosial, pendidikan, dan dakwah. Dalam lintasan sejarah bangsa, kader-kader Pemuda Muhammadiyah turut hadir dalam perjuangan kemerdekaan, bahkan melalui barisan seperti Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM), mereka ambil bagian dalam menjaga kedaulatan negara di masa-masa genting.

Kiprah dan Transformasi: Dari Masa ke Masa

Seiring perjalanan waktu, Pemuda Muhammadiyah terus menunjukkan daya adaptasinya. Pada masa pasca-kemerdekaan hingga era reformasi, organisasi ini aktif dalam berbagai lini: pendidikan, ekonomi umat, hingga advokasi sosial. Ia menjadi kawah candradimuka yang melahirkan kader-kader pemimpin bangsa—berpikir maju, namun tetap berakar pada nilai keislaman.

Memasuki era digital dan globalisasi, tantangan semakin kompleks. Disrupsi teknologi, krisis nilai, hingga polarisasi sosial menjadi ujian baru. Namun, Pemuda Muhammadiyah menjawabnya dengan inovasi: mendorong literasi digital, pemberdayaan ekonomi kreatif, advokasi lingkungan, serta gerakan kemanusiaan yang inklusif.

Bertumbuh dan Mengakar: Filosofi Gerakan

Tema Milad yang diusung, “Bertumbuh dan Mengakar untuk Indonesia Jaya,” bukan sekadar slogan, tetapi mencerminkan jati diri organisasi:

Bertumbuh, berarti terus berkembang mengikuti zaman—adaptif terhadap teknologi, terbuka terhadap gagasan baru, dan aktif dalam diskursus global.

Mengakar, berarti tetap kokoh pada nilai tauhid, ideologi Muhammadiyah, dan komitmen pelayanan kepada masyarakat akar rumput.

Di sinilah keseimbangan itu dijaga: modernitas tanpa kehilangan identitas.

Menjawab Tantangan: Fastabiqul Khairat

Semboyan “Fastabiqul Khairat”—berlomba-lomba dalam kebaikan—menjadi ruh gerakan. Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, Pemuda Muhammadiyah dituntut hadir sebagai solusi: menjadi jembatan dialog, penjaga moderasi, sekaligus pelopor perubahan.

Semangat tajdid (pembaruan) terus dihidupkan: melahirkan kader dengan kecerdasan intelektual yang tajam, namun juga kedalaman spiritual yang kokoh. Sebuah idealisme yang sering digambarkan sebagai “otak modern, hati yang teduh oleh iman.”

Penutup: Menjadi Cahaya Peradaban

Lebih dari sembilan dekade perjalanan membuktikan bahwa Pemuda Muhammadiyah bukan sekadar organisasi, tetapi gerakan peradaban. Ia tumbuh bersama zaman, namun tidak tercerabut dari akarnya. Ia bergerak dalam dakwah, namun juga menjawab persoalan nyata masyarakat.

Milad ini bukan hanya seremoni, melainkan momentum refleksi dan proyeksi: bagaimana menjaga api perjuangan tetap menyala di tengah perubahan dunia.

Selamat Milad Pemuda Muhammadiyah.
Semoga terus menjadi “matahari” yang menyinari negeri—menghangatkan dengan amal, menerangi dengan ilmu, dan menggerakkan dengan ketulusan.

Merdeka Melaksanakan Dakwah, Ikhlas dalam Berbakti.

Nasib Pilu Dapur MBG: Investasi Miliaran, Jual Emas, Hingga Terjebak "Subcon" Berlapis


Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang menjadi pilar kesejahteraan anak sekolah justru menyisakan cerita kelam di balik layar. Bu Ira, seorang pengusaha kuliner berusia di atas 60 tahun, kini harus menjual perhiasan emas pribadinya demi menjaga kompor dapur tetap mengepul setelah tagihan operasional senilai lebih dari Rp1 miliar tak kunjung dibayarkan oleh pihak yayasan penyalur.

Jeratan Kontrak dan Investasi Mandiri

Kasus ini bermula saat Bu Ira tergiur ajakan oknum berinisial MI yang mengaku sebagai representasi Badan Gizi Nasional (BGN). Dengan iming-iming kontrak jangka panjang, Bu Ira merogoh kocek pribadi hingga hampir Rp2 miliar untuk merenovasi restorannya menjadi dapur standar BGN di kawasan Kalibata-Pancoran.

Namun, realita di lapangan jauh dari komitmen awal. Kontrak yang ditandatangani antara Bu Ira dan Yayasan MBN ternyata memuat skema potongan yang mencekik. Dari pagu Rp15.000 per porsi, yayasan memotong "fee" sebesar Rp2.500. Bahkan, untuk porsi TK hingga SD kelas 3 yang hanya dihargai Rp13.000 oleh BGN, Bu Ira praktis hanya menerima Rp10.500 untuk biaya masak, pengemasan, hingga pengantaran.

Dana Macet di Tangan Yayasan

Hingga saat ini, sebanyak 65.000 porsi makanan telah didistribusikan ke 19 sekolah dan dikonsumsi oleh para siswa. Ironisnya, Bu Ira belum menerima pembayaran satu rupiah pun. Alasan yang diberikan pihak yayasan terus berubah-ubah, mulai dari dalih utang pengadaan wadah makan (ompreng) hingga alasan administratif ketiadaan kuitansi—padahal semua bukti diklaim telah diserahkan.

Pihak BGN sendiri menegaskan bahwa anggaran untuk dua tahap pertama (sekitar Rp700 juta) beserta dana operasional tambahan sebenarnya sudah ditransfer ke *virtual account* Yayasan MBN.

> "Kami sudah bayar. Silakan berhubungan dengan yayasan," ujar Kepala BGN, Dadan Hindayana, sebagaimana ditirukan oleh kuasa hukum Bu Ira, Dana Noverius.

Praktik "Subcon" dan Lemahnya Pengawasan

Investigasi mendalam mengungkapkan adanya praktik berlapis dalam pengelolaan anggaran. Yayasan MBN diduga tidak memiliki dapur sendiri dan memberikan wewenang kepada oknum internal (MI dan GR) untuk membuat perjanjian bagi hasil secara sepihak. Struktur birokrasi anggaran menjadi: *BGN → Yayasan MBN → Oknum Internal → Mitra Dapur (Bu Ira).*
Setiap lapisan mengambil potongan, namun beban kerja sepenuhnya berada di pundak mitra dapur. Akibat kemacetan dana ini, operasional sempat terhenti selama tiga hari yang menyebabkan anak-anak di 19 sekolah kehilangan hak makan bergizi mereka tanpa ada solusi cepat dari pihak terkait.

Jalur Hukum dan Fenomena "No Viral, No Justice"

Langkah hukum kini telah ditempuh melalui laporan pidana di Polres Jakarta Selatan dan persiapan gugatan perdata. Tim kuasa hukum juga mulai berkonsultasi dengan Kejaksaan Agung terkait indikasi tindak pidana korupsi dalam pengelolaan dana negara tersebut.

Kasus ini menjadi peringatan keras bagi tata kelola program MBG yang bernilai ratusan triliun rupiah. Jika pengawasan di tingkat lapisan yayasan tidak dibenahi, dikhawatirkan akan muncul "Bu Ira" lain di berbagai daerah yang menjadi korban sistem birokrasi yang tidak transparan.

Bagi masyarakat yang ingin bergabung menjadi mitra, para ahli hukum menyarankan untuk mendaftar langsung melalui kanal resmi BGN guna menghindari perantara (yayasan) yang berpotensi memotong anggaran secara ilegal. (*)

*Catatan: 
Berdasarkan podcast Leon Hartono dengan kuasa hukum mitra dapur MBG — Dana Noverius. Semua pihak yang disebutkan berhak atas praduga tidak bersalah. Penyelidikan masih berjalan di kepolisian. Ini adalah fakta kasus yang sudah masuk ke ranah hukum — bukan tuduhan yang belum terverifikasi.

___

Tragedi dr. Myta: Potret Kelam Eksploitasi Dokter Internship di Indonesia


Kabar duka menyelimuti dunia kedokteran tanah air. dr. Myta Aprilia Azmi, seorang dokter internship yang bertugas di RSUD K.H. Daud Arif, Kuala Tungkal, dinyatakan meninggal dunia pada 1 Mei 2026 setelah sempat kritis di ICU RSMH Palembang. Kematian dr. Myta bukan sekadar peristiwa medis biasa, melainkan menjadi pembuka kotak pandora mengenai dugaan eksploitasi, pengabaian klinis, hingga intimidasi sistemik yang dialami oleh para dokter muda di Indonesia.
Investigasi Internal Ungkap Fakta Memilukan

Berdasarkan surat pernyataan sikap resmi nomor 01/04/IKA-FK/2026 yang dikeluarkan oleh Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (IKA FK Unsri), terdapat empat temuan krusial yang diduga menjadi pemicu kondisi kritis dr. Myta.

Pertama adalah *beban kerja yang tidak manusiawi*. dr. Myta dilaporkan menjalani tugas selama tiga bulan berturut-turut tanpa libur di bangsal dan IGD. Ironisnya, ia bekerja tanpa supervisi dokter definitif, sebuah pelanggaran nyata terhadap regulasi Kementerian Kesehatan yang menetapkan status dokter internship sebagai dokter magang, bukan tenaga tetap rumah sakit.

Kedua, terjadi *pengabaian klinis yang fatal*. dr. Myta telah melaporkan gejala sakit sejak Maret 2026. Alih-alih diberikan waktu pemulihan, ia tetap dipaksa menjalani jadwal jaga malam meskipun dalam kondisi demam tinggi dan sesak napas berat. Investigasi mengungkap bahwa saturasi oksigen dr. Myta sempat menyentuh angka 80%—kondisi darurat medis yang mengancam nyawa—sebelum akhirnya mendapatkan penanganan yang layak.

Kelalaian Administratif dan Intimidasi "Generasi Lembek"

Ketidakadilan yang dialami dr. Myta berlanjut pada dugaan malapraktik administratif. Di tengah kondisi kritis, stok obat esensial (Sulbacef) di rumah sakit dilaporkan kosong, sehingga dr. Myta yang merupakan tenaga medis di wahana tersebut justru diminta mencari obat sendiri di luar.

Hal yang paling menyesakkan adalah adanya upaya penutupan informasi. Oknum pembimbing diduga memberikan arahan untuk merahasiakan kondisi dr. Myta demi menghindari *prolong* (perpanjangan masa internship). Para dokter muda yang mencoba menyuarakan hak kesehatannya justru menjadi sasaran *gaslighting* dengan label "Generasi Z lembek", sebuah narasi yang menyerang mentalitas mereka di tengah perjuangan fisik yang luar biasa.

Tuntutan Tegas IKA FK Unsri kepada Menkes RI

Ketua Umum IKA FK Unsri, dr. H. Achmad Junaidi, Sp.S(K)., MARS., telah melayangkan permohonan atensi kepada Menteri Kesehatan RI dengan empat poin tuntutan utama:
 1. *Audit Menyeluruh:* Mendesak Kemenkes dan KIKI untuk mengevaluasi RSUD K.H. Daud Arif dan oknum pembimbing yang terlibat.
 2. *Perlindungan Anggota:* Memastikan tidak ada sanksi administratif bagi rekan-rekan sejawat dr. Myta yang kini memikul beban kerja ganda.
 3. *Somasi Administratif:* Meminta pertanggungjawaban resmi dari pihak rumah sakit atas pengabaian kondisi klinis sejak awal.
 4. *Langkah Hukum:* IKA FK Unsri tidak menutup kemungkinan untuk menempuh jalur pidana jika ditemukan unsur kelalaian yang menyebabkan hilangnya nyawa.

Titik Balik Perlindungan Tenaga Medis

Tragedi dr. Myta adalah alarm keras bagi sistem pendidikan kedokteran di Indonesia. Dokter internship bukanlah tenaga kerja murah yang bisa dieksploitasi tanpa perlindungan. Hak atas jam kerja manusiawi dan akses kesehatan saat sakit adalah hak dasar, bukan hak istimewa.
dr. Myta telah menyelesaikan bertahun-tahun masa studi dan ujian yang berat, namun ia harus gugur tepat sebelum resmi menjadi dokter penuh. 

Kasus ini tidak boleh hanya menjadi angka statistik atau tren sesaat di media sosial. Ia harus menjadi momentum perubahan total bagi perlindungan dokter muda, agar tidak ada lagi nyawa yang harus dikorbankan di bawah bayang-bayang label "dedikasi" yang salah kaprah. (*)

Friday, May 01, 2026

Ketimpangan Ekstrem: Kekayaan 50 Konglomerat Setara 55 Juta Rakyat Indonesia


Riset terbaru dari Center of Economic and Law Studies (Celios) mengungkap fakta mengejutkan mengenai potret ekonomi Indonesia tahun 2026. Data menunjukkan bahwa kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia kini setara dengan gabungan kekayaan 55 juta warga lainnya. Angka ini mencerminkan rasio ketimpangan 1 banding 1,1 juta, melebar dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 1 banding 1,05 juta.

Direktur Eksekutif Celios, Bima Yudhistira, menyatakan bahwa fenomena ini merupakan bentuk *imaturizing growth* atau pertumbuhan yang memiskinkan. Meski pemerintah membanggakan pertumbuhan ekonomi di angka 5%, kualitas pertumbuhan tersebut dinilai tidak sehat karena manfaatnya hanya terkonsentrasi di puncak piramida ekonomi, sementara kelas menengah dan bawah justru mengalami penurunan daya beli.

Pajak Negatif dan Ancaman Stabilitas

Salah satu temuan paling krusial dalam riset ini adalah *tax buoyancy* Indonesia yang tercatat negatif sebesar -0,12. Artinya, setiap 1% pertumbuhan ekonomi justru mengakibatkan penurunan penerimaan pajak. Bima menengarai hal ini terjadi akibat kebijakan *tax amnesty* yang berulang kali diberikan kepada kelompok elite, sementara kelas menengah tetap dibebankan pajak penuh tanpa perlindungan ekonomi yang memadai.

"Ini adalah struktur ekonomi yang secara sistematis mengalirkan kekayaan ke atas," ujar Bima. 

Ia memperingatkan bahwa kondisi di mana kelas menengah terus tergerus dan ikut turun kelas merupakan prekondisi menuju kerapuhan stabilitas sosial yang serius.

Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG)

Riset Celios selama satu tahun terakhir juga menyoroti implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai meleset dari sasaran semula:
 * Ketimpangan Akses: Wilayah dengan tingkat kemiskinan tinggi justru memiliki satuan pelayanan (SPPG) paling sedikit dibandingkan kota besar di Jawa.
 * Marginalisasi UMKM: Bahan baku tidak diserap dari petani lokal, melainkan melalui distributor besar. Hal ini terlihat dari kredit korporasi yang naik 15%, sementara kredit UMKM justru tumbuh negatif.
 * Pemicu Inflasi: Pembelian skala besar oleh distributor utama memicu kenaikan harga bahan pokok di daerah, yang justru membebani warga non-penerima program.
 * Inefisiensi Anggaran: Ditemukan pengadaan yang dianggap tidak relevan, seperti kaos kaki hingga motor listrik di wilayah yang aksesnya belum terjangkau program.

Kondisi APBN dan Cadangan Kas

Sisi fiskal Indonesia turut berada dalam lampu kuning. Dana cadangan anggaran negara dilaporkan merosot tajam dari Rp420 triliun menjadi sisa Rp120 triliun dalam dua tahun terakhir. Dengan belanja rutin negara yang mencapai Rp200 triliun per bulan, sisa kas tersebut diperkirakan hanya cukup untuk membiayai operasional negara selama kurang dari 15 hari.

Di sisi lain, transparansi data PDB juga dikritik karena memasukkan komponen impor alat pertahanan sebagai investasi, sebuah metodologi yang dinilai tidak sesuai dengan standar statistik internasional.

Rekomendasi Kebijakan
Menanggapi situasi darurat ini, Celios memberikan sejumlah rekomendasi radikal untuk menyelamatkan ekonomi nasional:
 1. Audit dan Realokasi: Membatalkan program dengan kebocoran tinggi seperti MBG dan Kopdes Merah Putih untuk menyelamatkan kas negara.
 2. Penegakan Hukum: Melibatkan KPK dalam pengadaan proyek strategis nasional mulai dari IKN hingga program sosial.
 3. Penguatan Sektor Riil: Fokus pada subsidi transportasi publik, elektrifikasi kendaraan umum, serta industrialisasi hilirisasi yang nyata di dalam negeri.

Independensi lembaga kunci seperti Bank Indonesia juga diharapkan tetap terjaga guna mempertahankan kepercayaan investor di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Tanpa langkah koreksi yang cepat, jurang ketimpangan ini dikhawatirkan akan memicu guncangan ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.

Catatan: Artikel ini disusun berdasarkan data riset Celios per 24 April 2026. Pemerintah memiliki hak jawab untuk memberikan data pembanding atas analisis kritis tersebut.

Era Baru Transaksi: Indonesia-Tiongkok Resmi 'Ceraikan' Dolar AS Lewat QRIS


Indonesia dan Tiongkok resmi memulai babak baru dalam kemandirian ekonomi dengan mengaktifkan sistem pembayaran lintas batas yang mengabaikan Dolar AS (USD). Mulai hari ini, Jum'at (1/5/2026) wisatawan Tiongkok dapat bertransaksi di seluruh merchant QRIS di Indonesia menggunakan Alipay dan UnionPay, sementara warga Indonesia dapat melakukan hal serupa di Tiongkok menggunakan aplikasi lokal, dengan konversi langsung Rupiah ke Yuan (LCT).

Implementasi Nyata di Lapangan

Sistem ini tidak lagi sekadar wacana diplomatik, melainkan sudah menyentuh sektor ritel harian. Integrasi penuh antara QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) dengan raksasa pembayaran Tiongkok, Alipay dan UnionPay, memungkinkan penyelesaian transaksi langsung tanpa melalui mata uang perantara (USD detour).

Cakupan layanan ini meliputi sektor-sektor krusial pariwisata dan perdagangan, seperti:
 * Supermarket dan restoran.
 * Layanan transportasi daring (ride-hailing).
 * Akomodasi perhotelan.

Data Uji Coba dan Volume Transaksi

Keberhasilan transisi ini didukung oleh performa selama masa uji coba (sandbox) yang dimulai sejak 17 Agustus 2025. Hingga saat ini, tercatat 1,64 juta transaksi masuk dari pengguna Tiongkok di Indonesia dengan nilai mencapai Rp556 miliar. Sebaliknya, transaksi keluar dari pengguna Indonesia di Tiongkok tercatat sekitar 8.000 transaksi senilai Rp6,4 miliar. Secara keseluruhan, volume transaksi mata uang lokal (LCT) bilateral kedua negara telah menyentuh angka kurang lebih 18 miliar USD.

Secara institusional, kerangka kerja ini didukung oleh 24 lembaga keuangan di Indonesia (16 bank dan 8 non-bank) serta 19 lembaga keuangan di Tiongkok. Peluncuran besar secara menyeluruh (grand launch) dijadwalkan akan berlangsung di Shanghai pada Juni 2026, bertepatan dengan KTT Program Kerja Bersama Indonesia-Tiongkok.

Diplomasi 'Bebas Aktif' dan Kedaulatan Ekonomi

Langkah de-dolarisasi ini dinilai sebagai manifestasi nyata dari politik luar negeri Indonesia yang "Bebas Aktif". Jakarta membuktikan bahwa kedaulatan berarti bertransaksi dengan semua kekuatan global berdasarkan kepentingan nasional, tanpa harus memihak.

Saat ini, Indonesia tidak hanya memperluas kerja sama pembayaran dengan Tiongkok, tetapi juga secara simultan meningkatkan kerja sama pertahanan dengan Amerika Serikat dan memperdalam kemitraan strategis dengan Rusia. Hal ini menegaskan posisi Indonesia sebagai kekuatan *Global South* yang membangun jalannya sendiri.

Ekspansi QRIS di Kawasan
Tiongkok menambah daftar panjang negara yang telah terintegrasi dengan ekosistem QRIS. Sebelumnya, Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, dan Korea Selatan telah lebih dulu bergabung. Saat ini, Vietnam, Filipina, dan Brunei Darussalam juga telah resmi masuk dalam jaringan, sementara negosiasi sedang berlangsung dengan India, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, serta negara-negara APEC lainnya. (*)

Intisari: Multipolaritas ekonomi bukan lagi sekadar slogan di atas podium pidato, melainkan realitas yang kini hadir di setiap pemindaian kode QR di kasir. Dengan hilangnya ketergantungan pada Dolar AS dan sistem SWIFT untuk transaksi bilateral, efisiensi meningkat dan risiko volatilitas mata uang asing dapat ditekan secara signifikan.

Tuesday, April 28, 2026

Seni sebagai Jembatan Inklusi: Inovasi Resiliensi Akademik ala Eka Erawati


Dalam dunia pendidikan, keberhasilan seorang guru sering kali tidak hanya diukur dari sejauh mana ia mentransfer ilmu, tetapi dari kemampuannya menciptakan rasa aman dan penerimaan bagi setiap siswanya. Prinsip inilah yang dipegang teguh oleh Eka Erawati, seorang guru Bimbingan Konseling (BK) di SMP Negeri 55 Surabaya. Melalui pendekatan yang humanis, Eka membuktikan bahwa setiap anak, terlepas dari keterbatasan fisiknya maupun mentalnya, memiliki potensi istimewa yang layak dikembangkan.

Salah satu kontribusi nyata Eka adalah pengintegrasian metode *terapi seni (art therapy)* dan *terapi puisi (poetry therapy)* ke dalam proses belajar siswa inklusi, khususnya bagi anak-anak dengan *Autism Spectrum Disorder* (ASD). Melalui media melukis—baik secara konvensional maupun digital—siswa tidak hanya diajak mengasah kreativitas, tetapi juga dilatih untuk mengendalikan emosi dan meningkatkan fokus. Bagi Eka, seni adalah jendela untuk menelusuri pemahaman akademik siswa secara lebih mendalam tanpa memberikan tekanan berlebih.

Lebih jauh lagi, Eka memanfaatkan puisi sebagai sarana untuk membangun *resiliensi akademik*. Di tengah gempuran distraksi gawai dan tekanan media sosial yang kerap memicu kecemasan pada remaja, media puisi hadir sebagai katarsis. Siswa diajak untuk mengenali perasaan mereka, menyalurkan tekanan batin, dan akhirnya membentuk sudut pandang yang lebih positif terhadap tantangan pendidikan yang mereka hadapi.

Dedikasi Eka tidak berhenti di ruang kelas. Semangat belajarnya membawa ia meraih gelar Doktor dari Universitas Negeri Malang melalui beasiswa LPDP. Risetnya mengenai resiliensi akademik bahkan telah membuahkan alat ukur yang diakui secara internasional melalui jurnal terindeks Scopus. Melalui bukunya yang berjudul *"Karena Sekolah Bukan Laundry"*, ia menegaskan bahwa sekolah adalah tempat proses, bukan sekadar tempat menitipkan anak untuk "dibersihkan" secara instan.

Kisah Eka Erawati adalah pengingat bagi kita semua bahwa riset dan inovasi bukan hanya milik kalangan akademisi di menara gading. Sebagai praktisi pendidikan, guru memiliki peluang besar untuk melakukan penelitian yang berdampak langsung pada siswa. Dengan menggabungkan empati seorang "ibu" dan ketajaman seorang peneliti, Eka telah membuka jalan bagi masa depan pendidikan inklusi yang lebih berwarna dan tangguh di Surabaya. (*)

Tragedi Kembar Zolat (IDF Israel): Jejak Keturunan Minahasa Indonesia yang Terhapus di Medan Laga

Perang tidak hanya menyisakan angka dalam statistik korban jiwa, namun juga narasi pedih tentang kehilangan yang beruntun. Kisah tragis kini menyelimuti keluarga Zolat, warga Israel yang memiliki akar budaya kuat dari Minahasa, Sulawesi Utara. Dua putra kembar mereka, Gary dan Emmanuel Zolat, dilaporkan tewas dalam kurun waktu yang berdekatan di dua front pertempuran yang berbeda.

Gugurnya Sang Kakak di Jalur Gaza

Duka bermula ketika Sersan Kelas Satu Gary Lalharwanikima Zolat (21) dinyatakan gugur dalam pertempuran sengit di Jalur Gaza Utara. Gary, yang tergabung dalam Batalyon Shimshon (Unit 92) di bawah Brigade Kfir, tewas bersama tiga rekan prajuritnya akibat sebuah ledakan besar.
Hingga saat ini, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) masih melakukan investigasi mendalam untuk memastikan apakah ledakan yang merenggut nyawa pemuda asal Afula tersebut dipicu oleh rudal anti-tank atau perangkat peledak rakitan (IED) yang ditanam di lokasi kejadian.

Gary bukan sekadar prajurit biasa; ia adalah representasi dari komunitas unik di Israel. Keluarga Zolat diyakini merupakan bagian dari keturunan Bani Menashe, kelompok yang sering diasosiasikan sebagai "Suku Terhilang Israel" yang sempat bermukim di Nusantara, khususnya di tanah Minahasa, sebelum akhirnya melakukan Aliyah (pindah) ke Israel.

Sumpah Emmanuel: Antara Bakti dan Balas Dendam

Kematian Gary meninggalkan lubang besar di hati saudara kembarnya, Emmanuel Zolat. Alih-alih menarik diri dari garis depan karena trauma, Emmanuel justru mengambil keputusan yang sangat emosional. Ia mengajukan diri secara sukarela untuk bergabung dengan unit yang sama dengan mendiang kakaknya.

> "Aku ingin melanjutkan jejak saudaraku dan menyelesaikan perjalanannya, serta membalas dendam sekeras-kerasnya kepada mereka yang telah merenggutnya dari kami saat ia membela negaranya," ungkap Emmanuel dalam sebuah pernyataan yang sempat dikutip media lokal sebelum keberangkatannya.

Namun, tekad untuk menuntaskan perjuangan sang kakak justru berujung pada pengulangan tragedi.

Takdir Serupa di Lebanon Selatan

Nasib berkata lain. Belum lama setelah ia mengenakan seragam tempurnya untuk membalas kehilangan sang saudara, Emmanuel dilaporkan tewas dalam sebuah operasi penyerangan di wilayah Lebanon Selatan. Ironisnya, penyebab kematiannya serupa dengan sang kakak: sebuah alat peledak yang meledak saat pasukannya sedang bermanuver di lapangan.

Kematian Emmanuel menutup babak pilu bagi keluarga Zolat. Pasangan kembar yang pindah dari Sderot ke Afula pada tahun 2014 ini kini telah tiada, meninggalkan orang tua, dua saudara perempuan, dan satu saudara laki-laki dalam duka yang tak terperikan.

Kisah Gary dan Emmanuel menjadi pengingat pahit tentang bagaimana konflik bersenjata mampu memutus garis keturunan dan menghancurkan harapan sebuah keluarga dalam sekejap mata, terlepas dari sejauh mana jejak sejarah dan identitas mereka membentang—dari tanah Minahasa hingga ke jantung konflik Timur Tengah. (*)