Indonesia dan Tiongkok resmi memulai babak baru dalam kemandirian ekonomi dengan mengaktifkan sistem pembayaran lintas batas yang mengabaikan Dolar AS (USD). Mulai hari ini, Jum'at (1/5/2026) wisatawan Tiongkok dapat bertransaksi di seluruh merchant QRIS di Indonesia menggunakan Alipay dan UnionPay, sementara warga Indonesia dapat melakukan hal serupa di Tiongkok menggunakan aplikasi lokal, dengan konversi langsung Rupiah ke Yuan (LCT).
Implementasi Nyata di Lapangan
Sistem ini tidak lagi sekadar wacana diplomatik, melainkan sudah menyentuh sektor ritel harian. Integrasi penuh antara QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) dengan raksasa pembayaran Tiongkok, Alipay dan UnionPay, memungkinkan penyelesaian transaksi langsung tanpa melalui mata uang perantara (USD detour).
Cakupan layanan ini meliputi sektor-sektor krusial pariwisata dan perdagangan, seperti:
* Supermarket dan restoran.
* Layanan transportasi daring (ride-hailing).
* Akomodasi perhotelan.
Data Uji Coba dan Volume Transaksi
Keberhasilan transisi ini didukung oleh performa selama masa uji coba (sandbox) yang dimulai sejak 17 Agustus 2025. Hingga saat ini, tercatat 1,64 juta transaksi masuk dari pengguna Tiongkok di Indonesia dengan nilai mencapai Rp556 miliar. Sebaliknya, transaksi keluar dari pengguna Indonesia di Tiongkok tercatat sekitar 8.000 transaksi senilai Rp6,4 miliar. Secara keseluruhan, volume transaksi mata uang lokal (LCT) bilateral kedua negara telah menyentuh angka kurang lebih 18 miliar USD.
Secara institusional, kerangka kerja ini didukung oleh 24 lembaga keuangan di Indonesia (16 bank dan 8 non-bank) serta 19 lembaga keuangan di Tiongkok. Peluncuran besar secara menyeluruh (grand launch) dijadwalkan akan berlangsung di Shanghai pada Juni 2026, bertepatan dengan KTT Program Kerja Bersama Indonesia-Tiongkok.
Diplomasi 'Bebas Aktif' dan Kedaulatan Ekonomi
Langkah de-dolarisasi ini dinilai sebagai manifestasi nyata dari politik luar negeri Indonesia yang "Bebas Aktif". Jakarta membuktikan bahwa kedaulatan berarti bertransaksi dengan semua kekuatan global berdasarkan kepentingan nasional, tanpa harus memihak.
Saat ini, Indonesia tidak hanya memperluas kerja sama pembayaran dengan Tiongkok, tetapi juga secara simultan meningkatkan kerja sama pertahanan dengan Amerika Serikat dan memperdalam kemitraan strategis dengan Rusia. Hal ini menegaskan posisi Indonesia sebagai kekuatan *Global South* yang membangun jalannya sendiri.
Ekspansi QRIS di Kawasan
Tiongkok menambah daftar panjang negara yang telah terintegrasi dengan ekosistem QRIS. Sebelumnya, Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, dan Korea Selatan telah lebih dulu bergabung. Saat ini, Vietnam, Filipina, dan Brunei Darussalam juga telah resmi masuk dalam jaringan, sementara negosiasi sedang berlangsung dengan India, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, serta negara-negara APEC lainnya. (*)
Intisari: Multipolaritas ekonomi bukan lagi sekadar slogan di atas podium pidato, melainkan realitas yang kini hadir di setiap pemindaian kode QR di kasir. Dengan hilangnya ketergantungan pada Dolar AS dan sistem SWIFT untuk transaksi bilateral, efisiensi meningkat dan risiko volatilitas mata uang asing dapat ditekan secara signifikan.