Saturday, July 04, 2026

Jejak Sejarah Masjid At-Taqwa Jagalan: Dari Mushola Berdinding Gedek hingga Menjadi Pusat Dakwah


Di tengah permukiman Jagalan, Kelurahan Kandangsapi, Kota Pasuruan, berdiri Masjid At-Taqwa yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang masyarakat setempat. Bagi warga senior, masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan saksi perubahan zaman, perkembangan dakwah, dan tumbuhnya kader-kader Muhammadiyah di lingkungan Jagalan.

Dalam wawancara, Dwi Joko Santoso menuturkan bahwa berdasarkan cerita turun-temurun di keluarganya, keberadaan Musala atau Masjid At-Taqwa diperkirakan sudah ada jauh sebelum abad ke-19. Namun, keterangan tersebut merupakan penuturan lisan keluarga dan masih memerlukan penelusuran lebih lanjut melalui arsip maupun dokumen sejarah.

Kenangan yang lebih jelas bermula dari kisah ayahnya, Sumardi, yang lahir pada tahun 1926. Menurut Dwi Joko Santoso, pada masa itu bangunan musala masih sangat sederhana. Dindingnya terbuat dari gedek (anyaman bambu) sehingga sering mengalami kerusakan akibat banjir yang meluap dari Kali Jagalan dan Kali Gembong.

Seiring waktu, masyarakat bersama para tokoh setempat melakukan renovasi secara bertahap. Bangunan yang semula seluruhnya berbahan bambu mulai diganti menjadi tembok pada bagian bawah, sementara bagian atasnya masih menggunakan gedek. Perubahan itu menjadi tonggak awal berkembangnya Masjid At-Taqwa menjadi bangunan yang lebih kokoh.

Dwi Joko Santoso yang lahir pada tahun 1958 masih mengingat suasana masjid saat dirinya duduk di bangku sekolah dasar. Ia mengenang bahwa setiap pelaksanaan salat Jumat, halaman di sebelah timur masjid yang saat itu masih berupa pekarangan dipenuhi tikar untuk menampung jamaah yang terus bertambah.

Menurutnya, pada dekade 1970-an, terutama sekitar tahun 1974 hingga 1976 ketika ia duduk di bangku SMA, aktivitas keagamaan di Masjid At-Taqwa mencapai masa yang sangat ramai. Pengajian, kegiatan remaja, hingga pembinaan warga berlangsung secara rutin dan menjadikan masjid sebagai pusat kehidupan masyarakat.

Ia juga menyebut sejumlah tokoh yang memiliki peran penting dalam memakmurkan masjid, di antaranya Pak Mirin, Hasan Basri (Mbah Cang) Haji Slamet Riyadi, Masykur, Muchtar, Suharsono, Sumardijarso, Rasad, Zaenuri, Kusman, serta sejumlah tokoh lain yang kini sebagian besar telah wafat.

Menurut Dwi Joko Santoso, Hasan Basri (Mbah Cang) menjadi salah satu sosok yang paling berperan dalam membimbing generasi penerus agar tetap menjaga keberlangsungan aktivitas Masjid At-Taqwa. Semangat estafet kepengurusan itulah yang dinilai membuat kehidupan masjid tetap berjalan hingga sekarang.
Memasuki tahun-tahun berikutnya, aktivitas Masjid At-Taqwa mulai mengalami perubahan. Bukan karena berkurangnya semangat masyarakat, melainkan karena semakin banyak masjid baru berdiri di sekitar Jagalan dan wilayah sekitarnya. Kehadiran masjid-masjid yang lebih dekat dengan permukiman warga membuat jamaah tersebar ke berbagai tempat ibadah.

Selain itu, kegiatan Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) juga mengalami tantangan. Anak-anak dan remaja memiliki lebih banyak pilihan untuk belajar mengaji di masjid-masjid lain yang menawarkan berbagai kegiatan pembinaan.

Meski demikian, bagi Dwi Joko Santoso, Masjid At-Taqwa tetap memiliki nilai sejarah yang tinggi. Ia meyakini bahwa masjid tersebut merupakan salah satu cikal bakal perkembangan dakwah Muhammadiyah di kawasan Jagalan. Pernyataan tersebut merupakan pandangan narasumber yang masih memerlukan kajian sejarah lebih lanjut untuk memastikan posisi dan perannya dalam perkembangan Muhammadiyah di Kota Pasuruan.
Kini, bangunan yang dahulu hanya berupa mushola sederhana berdinding gedek telah berubah menjadi masjid permanen. Di balik perubahan fisiknya, tersimpan kisah tentang gotong royong warga, regenerasi para penggerak masjid, dan semangat mempertahankan pusat ibadah yang telah melayani masyarakat selama beberapa generasi.

Bagi warga Jagalan, Masjid At-Taqwa bukan hanya bangunan tua. Ia adalah ruang yang menyimpan memori kolektif tentang perjalanan dakwah, pendidikan Islam, dan kebersamaan masyarakat dari masa ke masa. (*)

Penulis :
FIRNAS MUTTAQIN



Ketua MUI Kota Pasuruan Ajak Perkuat Persatuan dalam Sarasehan Kebangsaan


Pasuruan – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Pasuruan, Dr. KH. Abdullah Shodiq, M.Pd, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat persatuan dan menjaga kerukunan dalam kehidupan berbangsa. Ajakan tersebut disampaikan saat membuka Sarasehan Kebangsaan yang diselenggarakan MUI Kota Pasuruan di Hotel Daroessalam, Sabtu (4/7/2026).

Dalam sambutannya, KH. Abdullah Shodiq menegaskan bahwa Islam mengajarkan nilai-nilai kerja sama, kemanfaatan, dan pengelolaan amanah demi kesejahteraan bersama. Ia mencontohkan kisah pada masa Rasulullah SAW tentang pengelolaan lahan dengan sistem bagi hasil sebagai ilustrasi pentingnya membangun kemitraan yang saling menguntungkan.

Selain itu, ia mengajak peserta untuk menjadikan keberagaman sebagai kekuatan bangsa. Menurutnya, Indonesia yang terdiri atas berbagai agama, organisasi, dan latar belakang masyarakat membutuhkan nilai-nilai bersama yang mampu mempersatukan seluruh komponen bangsa.

Dalam penyampaiannya, KH. Abdullah Shodiq menggunakan analogi bahan-bahan makanan untuk menggambarkan pentingnya mencari titik temu dalam kehidupan bermasyarakat. Ia menekankan bahwa semangat kebersamaan harus lebih dikedepankan daripada mempertajam perbedaan.

Ia juga menegaskan bahwa Pancasila merupakan konsensus kebangsaan yang menjadi perekat kehidupan masyarakat Indonesia. Karena itu, seluruh elemen bangsa diharapkan terus menjaga persaudaraan, memperkuat harmoni sosial, dan membangun kehidupan yang damai di tengah keberagaman.

Menurutnya, pengalaman Indonesia dalam menjaga kerukunan antarumat beragama juga menjadi perhatian berbagai kalangan, termasuk akademisi dari luar negeri yang menilai kehidupan masyarakat Indonesia sebagai contoh praktik toleransi dalam masyarakat majemuk.

Menutup sambutannya, KH. Abdullah Shodiq mengajak seluruh peserta Sarasehan Kebangsaan untuk terus merawat persatuan dan berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia yang damai, harmonis, serta berlandaskan nilai-nilai kebangsaan dan keagamaan.

Sarasehan Kebangsaan yang merupakan bagian dari program kerja MUI Kota Pasuruan Tahun 2026 tersebut dihadiri para tokoh agama, akademisi, organisasi kemasyarakatan, serta berbagai unsur masyarakat sebagai wadah memperkuat wawasan kebangsaan dan mempererat silaturahmi. (*)

FIRNAS MUTTAQIN

Friday, June 26, 2026

Hijrah dan Dakwah Menjadi Tema Pengajian Ahad Pagi di Masjid Al Ukhuwah Sekarsono

Pasuruan, 21 Juni 2026 – Pengajian Ahad Pagi yang berlangsung di Masjid Al Ukhuwah, Sekarsono, Kota Pasuruan, menghadirkan Ustadz M. Farihin sebagai pemateri. Dalam kajiannya, ia mengajak jamaah mengambil hikmah dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW serta memahami pentingnya dakwah yang dilakukan dengan hikmah dan keteladanan.

Ustadz Farihin mengawali ceramahnya dengan mengingatkan bahwa umat Islam baru saja memasuki Tahun Baru Hijriah 1448. Ia menjelaskan bahwa penanggalan Hijriah ditetapkan berdasarkan peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah, sebuah momentum penting dalam sejarah Islam yang menandai perubahan besar dalam perjuangan dakwah.

Menurutnya, hijrah tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan tempat, tetapi juga sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Rasulullah SAW sebelum menerima wahyu sering melakukan khalwat atau menyendiri di Gua Hira untuk beribadah dan merenungkan kehidupan.

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Farihin juga mengulas turunnya wahyu pertama, Surah Al-'Alaq ayat 1-5, yang diawali dengan perintah “Iqra” atau membaca. Ia menegaskan bahwa perintah membaca tidak hanya dimaknai secara tekstual terhadap tulisan, tetapi juga secara kontekstual dengan membaca fenomena dan realitas kehidupan di sekitar manusia.

“Seorang muslim harus mampu membaca dua hal sekaligus, yaitu teks dan konteks. Apa yang terjadi di lingkungan sekitar juga merupakan pelajaran yang harus dipahami,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa setelah turunnya wahyu kedua dalam Surah Al-Muddatstsir, Nabi Muhammad SAW mulai diperintahkan untuk berdakwah. Pada tahap awal, dakwah dilakukan secara sembunyi-sembunyi karena jumlah pengikut yang masih sedikit. Fokus utama dakwah saat itu adalah penguatan tauhid dan keimanan para sahabat.

Ustadz Farihin menekankan bahwa dakwah merupakan kewajiban setiap muslim. Namun, dakwah harus dimulai dari diri sendiri dengan menjadi teladan dalam menjalankan ajaran Islam.

“Jangan sampai seperti lilin yang menerangi orang lain tetapi dirinya sendiri terbakar. Sebelum mengajak orang lain, kita harus terlebih dahulu melaksanakan apa yang kita sampaikan,” katanya.

Ia kemudian mengutip Surah At-Tahrim ayat 6 yang memerintahkan orang-orang beriman untuk menjaga diri dan keluarganya dari api neraka. Menurutnya, tanggung jawab seorang muslim tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi juga terhadap keluarga yang dipimpinnya.

Dalam menyampaikan dakwah, Ustadz Farihin mengingatkan pentingnya mengikuti tuntunan Al-Qur'an sebagaimana tercantum dalam Surah An-Nahl ayat 125, yaitu berdakwah dengan hikmah, nasihat yang baik, dan dialog yang santun.

“Dakwah tidak boleh dilakukan dengan kata-kata kasar atau bertujuan menjatuhkan orang lain. Diskusi dalam Islam bertujuan mencari solusi, bukan mencari kemenangan,” tegasnya.

Selain membahas dakwah, ia juga mengingatkan pentingnya perhatian orang tua terhadap pendidikan generasi penerus. Mengutip Surah An-Nisa ayat 9 dan nasihat Luqman kepada anaknya, Ustadz Farihin menegaskan bahwa pendidikan tauhid harus menjadi prioritas utama dalam keluarga.

Menurutnya, perkembangan teknologi dan penggunaan gawai oleh anak-anak harus mendapat pengawasan yang serius dari orang tua agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap perkembangan akhlak dan keimanan mereka.

Menutup kajiannya, Ustadz Farihin mengajak jamaah untuk menjadikan momentum Tahun Baru Hijriah sebagai sarana evaluasi diri, memperkuat keimanan, meningkatkan kualitas dakwah, serta membangun keluarga yang berlandaskan nilai-nilai Islam. (*)

Umat Islam Harus Mandiri, Berpegang Teguh pada Petunjuk Allah dan Menegakkan Keadilan

Pasuruan – Pengajian rutin Kamis malam Jumat yang berlangsung di Masjid At-Taqwa, Jagalan, Kota Pasuruan, Kamis (25/6/2026), menghadirkan Ustadz Umar Efendi sebagai penceramah. Dalam kajiannya, beliau mengupas berbagai pelajaran dari Al-Qur'an dan sejarah para nabi, mulai dari kepedulian sosial, pentingnya mengikuti petunjuk Allah, hingga penegakan hukum dan keadilan dalam Islam.

Di hadapan jamaah, Ustadz Umar menekankan bahwa Islam tidak hanya mengajarkan memberi bantuan kepada fakir miskin, tetapi juga membangun kemandirian mereka agar mampu bangkit dari kesulitan hidup.

Beliau mengisahkan teladan Rasulullah SAW yang tidak sekadar memberikan bantuan sesaat kepada orang miskin, melainkan mendorong mereka untuk bekerja dan berdikari. Menurutnya, umat Islam harus memiliki semangat membangun kekuatan mental sehingga tidak selalu bergantung kepada orang lain.

“Islam mengajarkan kepedulian sosial sekaligus pemberdayaan. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, namun yang lebih penting adalah membantu saudara kita agar mampu mandiri,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Umar juga mengulas firman Allah dalam Surah Al-Baqarah mengenai Nabi Adam AS. Setelah diturunkan ke bumi, Allah memberikan petunjuk sebagai pedoman hidup manusia. Siapa yang mengikuti petunjuk Allah tidak akan diliputi rasa takut dan kesedihan, sedangkan mereka yang mendustakan ayat-ayat-Nya akan mendapat balasan sesuai amal perbuatannya.

Menurutnya, ketenangan hidup sejati lahir dari ketaatan kepada Allah dan kesediaan menjadikan wahyu sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.

Selain itu, beliau mengingatkan jamaah agar berhati-hati terhadap berbagai bentuk penyimpangan akidah sebagaimana yang pernah terjadi pada Bani Israil. Ustadz Umar mencontohkan peristiwa penyembahan anak sapi yang dipimpin Samiri ketika Nabi Musa AS meninggalkan kaumnya untuk menerima wahyu.

“Sejarah dalam Al-Qur'an bukan sekadar kisah masa lalu, tetapi pelajaran agar umat tidak mudah terpengaruh oleh kesesatan dan tetap menjaga kemurnian tauhid,” jelasnya.

Dalam pembahasannya mengenai hukum Islam, Ustadz Umar menyoroti bahwa syariat selalu ditegakkan dengan prinsip keadilan, pembuktian yang jelas, dan kehati-hatian. Ia mencontohkan beberapa peristiwa pada masa Rasulullah SAW yang menunjukkan bahwa hukuman tidak dijatuhkan secara tergesa-gesa tanpa bukti yang kuat.

Beliau menjelaskan bahwa Rasulullah SAW selalu mengedepankan proses verifikasi, memberikan kesempatan bertaubat, serta mempertimbangkan berbagai aspek sebelum menjatuhkan keputusan hukum.

Di akhir pengajian, Ustadz Umar mengajak jamaah untuk terus memperkuat iman, mempelajari Al-Qur'an, dan meneladani para nabi dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Menurutnya, keselamatan hidup di dunia dan akhirat hanya dapat diraih dengan mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya secara konsisten.

Pengajian yang berlangsung hingga malam hari tersebut diikuti dengan antusias oleh jamaah Masjid At-Taqwa Jagalan. Para peserta menyimak berbagai penjelasan yang menghubungkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan realitas kehidupan umat Islam masa kini.Semoga dapat menjadi dokumentasi kegiatan pengajian dan bahan publikasi untuk media masjid atau grup jamaah. (*)

Firnas Muttaqin

Sunday, June 21, 2026

NGOPI Perdana di Masjid Al Ukhuwah Dorong Kolaborasi Pemuda Muhammadiyah Kota Pasuruan


Pasuruan, 20 Juni 2026 – Masjid Al Ukhuwah Sekarsono, Kota Pasuruan, menjadi tuan rumah kegiatan NGOPI (Ngobrol Perkara Iman) yang mempertemukan berbagai unsur organisasi otonom (Ortom), Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), dan komunitas pemuda Muhammadiyah di Kota Pasuruan, Sabtu (20/6/2026) malam.

Kegiatan yang dikemas secara santai namun produktif ini bertujuan membangun sinergi antarorganisasi sekaligus mencari solusi atas rendahnya keterlibatan generasi muda dalam kegiatan masjid dan dakwah persyarikatan.

Dalam sambutannya, Bapak Nurruddin mewakili Takmir Masjid Al Ukhuwah menyampaikan apresiasi kepada PASMU dan seluruh pihak yang telah menggagas forum tersebut. Menurutnya, kegiatan NGOPI merupakan langkah positif untuk memperkuat kolaborasi antar-Ortom dan AUM Muhammadiyah di Kota Pasuruan.

"Harapannya forum ini menjadi ruang bersama untuk saling bertukar gagasan, berkolaborasi, dan melahirkan program-program yang dapat menggerakkan anak muda Muhammadiyah," ujarnya.

Pada kesempatan itu, Nurruddin juga memaparkan perkembangan Masjid Al Ukhuwah yang berawal dari sebuah musala kecil pada tahun 2010 hingga berkembang menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial masyarakat. Berbagai program telah dijalankan, mulai dari kajian rutin, kegiatan ibu-ibu, gowes jamaah, bakti sosial, pengelolaan media sosial masjid, hingga kegiatan Ramadhan yang melibatkan generasi muda.

Membangun Basis Data Kader

Salah satu agenda penting dalam NGOPI Perdana adalah pengumpulan data potensi kader melalui sistem registrasi digital. Data tersebut nantinya akan digunakan untuk memetakan kemampuan dan minat peserta, mulai dari bidang penulisan, fotografi, desain grafis, media sosial, public speaking, hingga pengelolaan kegiatan.

Dengan pemetaan tersebut, Muhammadiyah Kota Pasuruan diharapkan memiliki basis data sumber daya manusia yang dapat diberdayakan untuk mendukung berbagai program dakwah, sosial, dan pendidikan.

"Kita ingin mengetahui siapa yang memiliki kemampuan menjadi konten kreator, fotografer, penulis, MC, maupun desainer grafis. Setelah terpetakan, mereka bisa dilibatkan dalam program-program bersama," jelas panitia.

Fokus pada Kolaborasi AUM dan Ortom

Dalam sesi pemaparan, panitia memperkenalkan rekomendasi program kerja 90 hari yang disusun berdasarkan hasil survei dan diskusi awal. Program tersebut meliputi pembentukan Forum Komunikasi AUM-Ortom, pembentukan Tim Media Sosial, penyelenggaraan diskusi pemuda secara rutin, produksi konten digital, hingga pelaksanaan kajian inspiratif yang melibatkan relawan muda.

Dari sejumlah program yang dirancang, forum menetapkan "Ngopi dan Diskusi Pemuda serta Pembentukan Tim Media Sosial AUM" sebagai program prioritas (quick win) yang dinilai paling memungkinkan untuk segera diwujudkan.

Menurut panitia, keberadaan tim media sosial lintas organisasi menjadi kebutuhan penting di era digital untuk memperkuat publikasi kegiatan Muhammadiyah dan meningkatkan keterlibatan generasi muda.

Menjadi Titik Awal Gerakan Bersama

Selain sesi diskusi dan brainstorming, acara juga diselingi dengan ice breaking dan dialog bersama peserta dari berbagai unsur organisasi seperti Pemuda Muhammadiyah, IMM, IPM, Nasyiatul Aisyiyah, IGABA, serta perwakilan AUM lainnya.

Peserta menyambut positif kegiatan tersebut dan berharap NGOPI dapat menjadi agenda rutin bulanan yang menghasilkan program nyata, bukan sekadar forum diskusi.

Melalui kegiatan ini, para peserta berkomitmen memperkuat kolaborasi antar-Ortom dan AUM Muhammadiyah di Kota Pasuruan guna menghadirkan gerakan dakwah yang lebih kreatif, inklusif, dan dekat dengan generasi muda.

"NGOPI bukan sekadar ngobrol perkara iman, tetapi juga menjadi ruang merumuskan langkah bersama untuk membangun gerakan dakwah yang lebih kuat dan relevan dengan kebutuhan generasi muda," demikian semangat yang mengemuka dalam forum perdana tersebut. (*)


Liputan oleh:
FIRNAS MUTTAQIN 
PasMu

Thursday, June 11, 2026

Baiat Aqabah I dan II: Titik Balik Sejarah Dakwah Islam


Di antara peristiwa paling penting dalam sejarah Islam sebelum hijrah adalah Baiat Aqabah I dan Baiat Aqabah II. Peristiwa ini bukan sekadar pertemuan rahasia antara Nabi Muhammad ﷺ dan sekelompok penduduk Yatsrib (Madinah), tetapi merupakan titik balik yang mengubah arah perjalanan dakwah Islam dari fase bertahan menghadapi tekanan menjadi fase pembangunan masyarakat dan peradaban.

Latar Belakang: Dakwah di Makkah Menghadapi Jalan Terjal

Selama lebih dari sepuluh tahun berdakwah di Makkah, Rasulullah ﷺ dan para sahabat menghadapi berbagai bentuk penolakan, intimidasi, pemboikotan, hingga penyiksaan dari kaum Quraisy. Situasi semakin berat setelah wafatnya paman beliau, Abu Thalib, dan istri tercinta beliau, Khadijah binti Khuwailid. Tahun tersebut dikenal sebagai Amul Huzn (Tahun Kesedihan).

Di sisi lain, di Yatsrib terdapat dua suku besar, Aus dan Khazraj, yang telah lama terlibat konflik dan peperangan. Mereka mendambakan hadirnya seorang pemimpin yang mampu mendamaikan perselisihan yang berkepanjangan. Selain itu, keberadaan komunitas Yahudi di Yatsrib yang sering berbicara tentang kedatangan nabi akhir zaman membuat sebagian penduduk Yatsrib lebih terbuka terhadap dakwah Islam.

Pada musim haji tahun ke-11 kenabian, enam orang dari Yatsrib bertemu Rasulullah ﷺ di Makkah. Mereka menerima Islam dan berjanji menyampaikan ajaran tersebut kepada masyarakat di kampung halaman mereka. Dari sinilah benih-benih perubahan mulai tumbuh.

Baiat Aqabah I: Fondasi Akidah dan Akhlak

Setahun kemudian, pada tahun ke-12 kenabian (621 M), dua belas orang Muslim dari Yatsrib datang menemui Rasulullah ﷺ di Aqabah. Mereka mengadakan baiat pertama yang dikenal sebagai Baiat Aqabah I.

Isi baiat ini berfokus pada pembinaan keimanan dan akhlak. Mereka berjanji untuk tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak, tidak berdusta, dan tidak mendurhakai Rasulullah ﷺ dalam perkara yang baik.

Ubadah bin Shamit r.a. meriwayatkan:

> "Kami berbaiat kepada Rasulullah ﷺ untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kami, tidak membuat dusta yang kami ada-adakan antara tangan dan kaki kami, dan tidak mendurhakai beliau dalam perkara yang baik."

(HR. Sahih Bukhari dan Sahih Muslim)

Isi baiat ini sejalan dengan nilai-nilai yang ditegaskan dalam Al-Qur'an:

> "Katakanlah: Marilah kubacakan apa yang diharamkan Tuhanmu kepadamu, yaitu janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia..."

(QS. Al-An'am: 151)

Juga memiliki kemiripan dengan baiat yang disebutkan dalam:

> "Wahai Nabi! Apabila perempuan-perempuan mukmin datang kepadamu untuk mengadakan baiat..."

(QS. Al-Mumtahanah: 12)

Baiat Aqabah I dapat dipandang sebagai tahap pembinaan dan kaderisasi. Rasulullah ﷺ belum meminta komitmen perlindungan fisik atau politik, tetapi terlebih dahulu membangun fondasi tauhid, moralitas, dan ketaatan.

Setelah baiat ini, Rasulullah ﷺ mengutus Mus'ab bin Umair ke Yatsrib sebagai guru dan da'i. Dalam waktu singkat, dakwah Islam berkembang pesat. Tokoh-tokoh penting seperti Sa'ad bin Mu'adz dan Usaid bin Hudhair masuk Islam, sehingga hampir tidak ada rumah di Yatsrib yang tidak mengenal ajaran Islam.

Baiat Aqabah II: Komitmen Perjuangan dan Perlindungan

Keberhasilan dakwah Mus'ab bin Umair membuat jumlah Muslim di Yatsrib bertambah signifikan. Mereka menyadari bahwa Rasulullah ﷺ dan kaum Muslimin di Makkah memerlukan tempat yang aman untuk melanjutkan perjuangan.

Pada musim haji tahun berikutnya, tahun ke-13 kenabian (622 M), sebanyak 73 laki-laki dan 2 perempuan dari Yatsrib bertemu Rasulullah ﷺ secara rahasia di Aqabah. Pertemuan ini melahirkan Baiat Aqabah II.

Berbeda dengan baiat pertama, baiat kedua memuat komitmen yang jauh lebih besar. Mereka berjanji untuk menaati Rasulullah ﷺ, berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit, menegakkan amar makruf nahi mungkar, menyampaikan kebenaran tanpa takut celaan, dan melindungi Rasulullah ﷺ sebagaimana mereka melindungi keluarga mereka sendiri.

Dalam riwayat Ka'ab bin Malik r.a. disebutkan:

> "Kami berbaiat kepada Rasulullah ﷺ untuk mendengar dan taat dalam keadaan semangat maupun malas, berinfak dalam keadaan sulit maupun mudah, menegakkan amar makruf nahi mungkar, mengatakan kebenaran karena Allah dan tidak takut celaan orang yang mencela, serta menolong Rasulullah apabila beliau datang ke Madinah sebagaimana kami melindungi keluarga dan anak-anak kami."

(HR. Musnad Ahmad)

Ketika para peserta baiat bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang balasan dari komitmen besar tersebut, beliau menjawab dengan singkat:

> "Al-Jannah (Surga)."

Baiat Aqabah II pada hakikatnya adalah perjanjian perlindungan dan dukungan penuh terhadap dakwah Islam. Inilah yang membuka jalan bagi hijrah Rasulullah ﷺ dan para sahabat ke Madinah.

Ayat-Ayat Al-Qur'an yang Mengabadikan Semangat Baiat

Meskipun tidak terdapat ayat yang secara eksplisit menyebut Baiat Aqabah I dan II saat peristiwa itu berlangsung, banyak ayat Al-Qur'an yang menggambarkan makna dan buah dari peristiwa tersebut.

Tentang pengorbanan kaum beriman:

> "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka..."

(QS. At-Taubah: 111)

Tentang kemuliaan kaum Anshar yang menerima dan melindungi kaum Muhajirin:

> "Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum kedatangan mereka, mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka..."

(QS. Al-Hasyr: 9)

Tentang persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar:

> "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, berhijrah dan berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan..."

(QS. Al-Anfal: 72)

Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa baiat bukan sekadar janji lisan, melainkan komitmen pengorbanan jiwa, harta, dan seluruh potensi untuk menegakkan agama Allah.

Pelajaran Sejarah dari Baiat Aqabah

Baiat Aqabah mengajarkan bahwa perubahan besar tidak terjadi secara instan. Rasulullah ﷺ terlebih dahulu membangun manusia sebelum membangun masyarakat.

Baiat Aqabah I menunjukkan pentingnya pembinaan akidah, karakter, dan kualitas kader. Sebelum berbicara tentang kekuatan politik atau sosial, umat harus memiliki fondasi iman yang kokoh.

Baiat Aqabah II menunjukkan bahwa iman harus diwujudkan dalam keberanian berkorban, persatuan, tanggung jawab sosial, dan komitmen terhadap perjuangan bersama.

Peristiwa ini juga mengajarkan bahwa kemenangan dakwah membutuhkan tiga hal utama: kualitas manusia yang baik, persatuan yang kuat, dan kesiapan berkorban demi tujuan yang lebih besar. Aus dan Khazraj yang sebelumnya bermusuhan mampu dipersatukan oleh Islam dan kemudian dikenal sebagai kaum Anshar, penolong agama Allah.

Penutup

Baiat Aqabah I dan II merupakan salah satu titik balik terbesar dalam sejarah Islam. Dari sebuah pertemuan rahasia di malam hari lahirlah fondasi bagi hijrah, persaudaraan Muhajirin dan Anshar, serta berdirinya masyarakat Islam pertama di Madinah.

Baiat Aqabah I mengajarkan pentingnya membangun akidah dan akhlak, sedangkan Baiat Aqabah II mengajarkan pentingnya komitmen perjuangan dan pengorbanan. Keduanya menunjukkan metode dakwah Rasulullah ﷺ yang sangat sistematis: membangun manusia terlebih dahulu, kemudian membangun masyarakat, dan akhirnya melahirkan peradaban yang membawa rahmat bagi seluruh alam. (*)

Sunday, June 07, 2026

Meneguhkan Dakwah Kemanusiaan, Milad ke-109 'Aisyiyah Gadingrejo Gaungkan Perdamaian dari Lingkungan Keluarga

Ketua PCA Gadingrejo Hj. Indria Mawaddah, S.Ag.

Pasuruan – Suasana khidmat dan penuh semangat mewarnai peringatan Milad ke-109 'Aisyiyah yang diselenggarakan Pimpinan Cabang 'Aisyiyah (PCA) Gadingrejo, Kota Pasuruan, Ahad (7/6/2026) atau bertepatan dengan 21 Dzulhijjah 1447 H. Kegiatan yang berlangsung di Perumahan Gading Permai, Kelurahan Gadingrejo tersebut menjadi momentum memperkuat komitmen dakwah kemanusiaan dan perdamaian di tengah masyarakat.

Mengusung tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian”, acara ini dihadiri berbagai tokoh dan unsur masyarakat. Hadir di antaranya Hj. Fitri Ismarida Nawawi, S.H., M.H., ibunda Wakil Wali Kota Pasuruan, Ketua Pimpinan Daerah 'Aisyiyah (PDA) Kota Pasuruan Dr. Hj. Emilis Setyawati, Ketua PCA Gadingrejo Hj. Indria Mawaddah, S.Ag., perwakilan Forkopimcam Gadingrejo, pengurus PKK, tokoh masyarakat, serta para kader dan simpatisan 'Aisyiyah.

Dakwah Inklusif untuk Semua Lapisan Masyarakat

Ketua PCA Gadingrejo, Hj. Indria Mawaddah, S.Ag., menegaskan bahwa gerakan 'Aisyiyah senantiasa hadir sebagai organisasi perempuan Islam yang terbuka dan inklusif. Menurutnya, dakwah tidak hanya berbicara tentang ibadah ritual, tetapi juga menyentuh aspek sosial dan kemanusiaan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Perdamaian tidak akan terwujud secara utuh apabila di sekitar kita masih terdapat kelaparan, ketidakadilan, kebodohan, dan berbagai bentuk kekerasan. Karena itu, dakwah kemanusiaan harus diwujudkan melalui aksi nyata yang memberi manfaat bagi sesama,” ujarnya.

Ia menjelaskan, berbagai program sosial, pendidikan, keagamaan, dan pemberdayaan masyarakat yang dijalankan PCA Gadingrejo merupakan bagian dari upaya membangun perdamaian dari tingkat keluarga hingga lingkungan sekitar. Kesuksesan penyelenggaraan milad ini, lanjutnya, juga tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk Lazismu dan para donatur.

Perdamaian Global Dimulai dari Ketahanan Keluarga

Dalam sambutannya, Ketua PDA Kota Pasuruan, Dr. Hj. Emilis Setyawati, mengajak para kader untuk memahami bahwa isu perdamaian dunia memiliki dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari.

Ia mencontohkan bagaimana konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia dapat memengaruhi kondisi ekonomi masyarakat melalui kenaikan harga kebutuhan pokok. Situasi tersebut, menurutnya, harus disikapi dengan bijak dan produktif.

“Ketika terjadi gejolak global, dampaknya bisa kita rasakan sampai di dapur rumah tangga. Karena itu, kader 'Aisyiyah harus menjadi teladan dalam membangun ketahanan pangan keluarga, salah satunya dengan memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam kebutuhan sehari-hari,” tuturnya.

Melalui langkah sederhana tersebut, masyarakat diharapkan tidak mudah panik menghadapi perubahan ekonomi sekaligus mampu memperkuat kemandirian keluarga.

Keharmonisan Rumah Tangga sebagai Pondasi Perdamaian

Sementara itu, Hj. Fitri Ismarida Nawawi, S.H., M.H., menyoroti pentingnya keharmonisan keluarga sebagai fondasi utama terciptanya masyarakat yang damai.

Menurutnya, peran seorang ibu sangat besar dalam menjaga ketahanan keluarga. Karena itu, hubungan yang dibangun atas dasar saling menghormati dan menghargai antara suami dan istri menjadi kunci terciptanya suasana rumah tangga yang harmonis.

Ia mengingatkan agar setiap anggota keluarga mampu mengendalikan emosi dan menghindari konflik yang tidak perlu. Sikap saling memahami dan menghargai, katanya, akan melahirkan ketenteraman dalam keluarga yang kemudian berdampak positif bagi lingkungan sekitar.

Senam Bersama, Bazar UMKM dan Layanan Kesehatan Gratis

Selain rangkaian seremonial, peringatan Milad ke-109 'Aisyiyah juga dimeriahkan dengan senam 'Aisyiyah dan Senam Anugerah yang diikuti seluruh peserta dengan penuh antusias.

Di area kegiatan juga tersedia bazar produk kuliner dan usaha mikro yang dikelola Majelis Ekonomi 'Aisyiyah, Lazismu, serta santri Pondok Pesantren SPEAM. Tidak hanya itu, panitia turut menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan gratis yang dimanfaatkan oleh para tamu undangan dan warga yang hadir.

Melalui peringatan Milad ke-109 ini, PCA Gadingrejo kembali menegaskan bahwa dakwah kemanusiaan bukan sekadar slogan. Dakwah diwujudkan melalui langkah-langkah nyata, mulai dari membangun ketahanan keluarga, memperkuat persatuan masyarakat, hingga menumbuhkan kepedulian sosial demi terwujudnya kehidupan yang damai dan berkeadilan.

Penulis: Firnas Muttaqin

Saturday, June 06, 2026

Menempa Kedamaian dari Balik Madrasah Pertama: Catatan Milad 'Aisyiyah ke-109 di Kota Pasuruan


Di tengah riuh rendah dunia yang kerap didera konflik, sebuah pesan mendalam tentang perdamaian justru menggema dari sebuah ruang ibadah di sudut Kota Pasuruan. Sabtu pagi (6/6/2026), Masjid Al-Ukhuwah, Jl. Sekarsono, dipenuhi oleh anggota dan pengurus Aisyiyah berkemajuan. Mereka berkumpul bukan sekadar untuk merayakan angka, melainkan merefleksikan 109 tahun perjalanan Pimpinan Cabang 'Aisyiyah (PCA) Purworejo dalam merawat kemanusiaan.

Mengusung tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan Untuk Mewujudkan Perdamaian Melalui Pendidikan”, acara ini dikemas dalam bentuk talk show yang menghadirkan sudut pandang tajam dari para praktisi dan pimpinan organisasi.

Benteng Perempuan di Tengah Badai Domestik

Ketua Pimpinan Daerah 'Aisyiyah (PDA) Kota Pasuruan, Hj. Drh. Emilis Setyawati, membuka diskusi dengan sebuah refleksi yang membumi. Baginya, usia 109 tahun adalah bukti ketahanan. Namun, ia enggan terjebak dalam romantisme angka. Emilis justru menarik perhatian hadirin pada realitas sosial yang terjadi di depan mata.

 “Konsep perdamaian dan kemanusiaan itu tidak muluk-muluk. Ia dimulai dari rumah,” ujar Emilis.

Ia menceritakan bagaimana dinamika konflik domestik yang kerap berakhir di Pengadilan Agama menjadi bukti bahwa kedamaian di tingkat keluarga sedang rapuh. Jika rasa kemanusiaan di dalam rumah tangga tidak dirawat, maka keretakan sosial yang lebih besar tinggal menunggu waktu. Dalam konteks inilah, Emilis menegaskan posisi vital kaum hawa.

"Pendidikan adalah senjata sekaligus benteng yang paling kuat bagi seorang perempuan," tegasnya, disambut anggukan takzim para peserta.


Keteladan yang Melintasi Batas Egoisme

Menyambung fondasi yang diletakkan Emilis, Dr. Dies Nurhayati, M.Pd., seorang praktisi pendidikan sekaligus dosen Universitas Wira Negara (UNIWARA), mengupas tuntas bagaimana pendidikan harus diimplementasikan. Mengutip Al-Qur'an Surat Al-Anbiya ayat 107 tentang misi melahirkan rahmat bagi semesta alam (*rahmatan lil 'alamin*), Dies mengingatkan bahwa setiap ibu adalah *madrasatul ula*—sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya.

Dr. Dies Nurhayati: Tiga Pilar Pendidikan Keluarga 

1. Uswah Hasanah (Keteladanan Nyata): Anak adalah peniru ulung. Menasihati anak untuk salat harus dimulai dari kedisiplinan orang tua mengambil air wudu tepat waktu dengan pakaian terbaik. 

2. Pengendalian Emosi: Ucapan seorang ibu adalah doa. Diperlukan kemampuan "mengerem amarah" saat menghadapi dinamika psikologis anak, termasuk kecemburuan antarsaudara. 

3. Kepedulian Sosial Kolektif: Berhenti menggunakan prinsip "anakku urusanku, anakmu urusanmu". Karakter lingkungan sekitar akan menentukan masa depan anak kita sendiri.

Dies menekankan pentingnya mendobrak sifat egois individual dalam mendidik anak. "Kita tidak bisa menutup mata dari anak-anak tetangga. Mengapa? Karena kelak saat anak kita dewasa dan masuk ke dunia kerja, mereka akan hidup berdampingan dengan anak-anak yang tumbuh di sekitar mereka hari ini. Jika kita ingin masa depan yang aman, kita harus peduli pada karakter anak-anak di lingkungan kita secara keseluruhan," jelasnya panjang lebar.

---

Pendidikan Anak Usia Dini sebagai Akar

Hadir pula memberikan warna dalam diskusi tersebut, Khariri Daulah, S.Pd., selaku Kepala TK/KB ABA 6. Sebagai sosok yang berdiri di garda terdepan pendidikan anak usia dini, kehadirannya memperkuat argumen bahwa penanaman nilai-nilai perdamaian, toleransi, dan kemanusiaan harus dimulai sejak tunas paling awal tumbuh.

Melalui momentum Milad ke-109 ini, 'Aisyiyah Purworejo Kota Pasuruan kembali menegaskan khitahnya. Bahwa dakwah kemanusiaan bukanlah narasi politik di panggung-panggung besar dunia. Ia adalah bentangan sajadah tempat ibu mendoakan anaknya, keteladan sikap di meja makan, dan ketulusan mengulurkan tangan memperbaiki moral anak-anak di lingkungan sekitar. Dari sanalah, perdamaian yang sesungguhnya sedang ditenun. (*)

Penulis: Firnas Muttaqin 

---

Thursday, May 28, 2026

Umat Islam Diajak Kritis dalam Memahami Hadits di Pengajian Kamis Malam Masjid At-Taqwa Jagalan


Pengajian rutin Kamis Malam Jum'at di Masjid At-Taqwa Jagalan (28/5/2026) menghadirkan suasana diskusi ilmiah yang mendalam. Mengangkat tema pentingnya literasi dan sikap kritis dalam memahami hadits, acara ini dipandu oleh pemateri Ustadz Muhammad Iqbal Abdullah Anwar.

Dalam ceramahnya, Muhammad Iqbal menekankan bahwa semangat berhijrah dan kembali ke jalan Allah yang tengah marak di kalangan masyarakat harus diimbangi dengan literasi agama yang kuat. Menurutnya, menyampaikan sebuah ayat atau hadits kepada orang lain memerlukan proses verifikasi yang ketat agar tidak asal-asalan.

Pentingnya Metode *Mahfudz* dan *Makbul* dalam Tarjih

Beliau menjelaskan bahwa di dalam Muhammadiyah terdapat proses yang disebut *Tajdid* (pemurnian/pembaharuan). Salah satu cirinya adalah tidak terburu-buru mengklaim sebuah hadis hanya karena berstatus sahih secara sanad.

> "Hadis yang sudah sahih di tingkat sanad (*mahfudz*), harus dibenturkan lagi dan melewati tahapan verifikasi terakhir, yaitu konfirmasi dengan Al-Qur'an agar mencapai tingkat kemakbulan (*makbul*). Jika ada suatu narasi hadits yang bertentangan, tidak mungkin dua-duanya benar," ujar Muhammad Iqbal.

Ia juga memaparkan langkah awal dalam meneliti suatu perkara hukum melalui metode *collecting* (pengumpulan hadis), serta memisahkan wilayah hukum antara ibadah dan muamalah. Dalam urusan ibadah, kaidah dasarnya adalah dilarang (haram) kecuali ada contoh yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ. Sebaliknya, dalam urusan muamalah, segala sesuatu diperbolehkan selama tidak ada dalil yang melarangnya.

Kritis Terhadap "Hadits Penyusup" dan Ritual Baru

Lebih lanjut, Muhammad Iqbal juga mengingatkan jama'ah agar waspada terhadap maraknya tren kreativitas berlebih dalam beribadah belakangan ini, seperti membuat-buat teks doa baru atau menentukan hitungan dzikir tertentu (hingga ratusan atau ribuan kali) yang tidak memiliki tuntunan jelas. Beliau mensinyalir hal tersebut menyerupai pola perang pemikiran (*ghozwul fikri*) sejarah masa lalu—seperti pasca-Perang Qadisiyah—yang sengaja memproduksi narasi tertentu untuk melalaikan umat Islam dari kewajiban penting lainnya, seperti menuntut ilmu dan bermuamalah.

"Kalau tuntunan Al-Qur'an itu *dzikron katsiro*, zikir sebanyak-banyaknya tanpa batasan angka. Sementara yang menggunakan angka spesifik, kita ikuti apa yang sahih dari Rasulullah setelah shalat, yaitu 33 kali," tambahnya.

Diskusi Interaktif Bersama Jamaah

Acara yang berlangsung hangat ini juga membuka sesi tanya jawab dan koreksi. Salah seorang jamaah sempat memberikan tanggapan mengenai kebolehan berdoa menggunakan bahasa Arab. 

Jama'ah tadi meluruskan bahwa berdoa dengan bahasa Arab atau bahasa sehari-hari secara pribadi hukumnya sangat diperbolehkan dan baik, asalkan ditujukan langsung kepada Allah ﷻ dan tidak dijadikan sebuah templat ritual baru yang seolah-olah bersumber dari Nabi, padahal tidak ada riwayatnya.

Melalui pengajian ini, jamaah Masjid At-Taqwa Jagalan diharapkan dapat terus membangun wawasan yang besar, tidak mudah terombang-ambing oleh potongan informasi di media sosial, serta lebih teliti dan bijak dalam mempelajari sumber-sumber hukum Islam. (*) 

Firnas Muttaqin