PASURUAN – Menghidupkan masjid tidak cukup hanya dengan memperbanyak kegiatan ibadah. Masjid juga perlu menjadi pusat kebahagiaan, silaturahmi, dan pemberdayaan ekonomi umat. Gagasan tersebut disampaikan Ustadz Deddy Wahyudi, M.M. dalam Pengajian Ahad Pagi di Masjid Darul Arqom PDM Kota Pasuruan, Ahad (12/7/2026).
Dalam kajiannya, Ustadz Deddy mengajak jamaah menjadikan waktu Subuh sebagai momentum membangun kebiasaan baik yang dilakukan secara istiqamah. Menurutnya, salat Subuh berjamaah memiliki keutamaan yang luar biasa, terlebih apabila dilanjutkan dengan berzikir hingga matahari terbit dan kemudian melaksanakan sholat Syuruq.
Ia mengutip hadis Rasulullah ﷺ yang menyebutkan bahwa orang yang melaksanakan salat Subuh berjamaah, kemudian berzikir hingga matahari terbit dan menunaikan dua rakaat salat Syuruq, akan memperoleh pahala seperti haji dan umrah yang sempurna.
"Sholat Syuruq dilakukan setelah matahari benar-benar terbit dan naik sekitar satu tombak atau kurang lebih 15–20 menit setelah terbit. Jangan melaksanakan salat tepat ketika matahari baru terbit karena itu termasuk waktu yang dilarang," jelasnya.
Selain menghidupkan ibadah pagi, Ustadz Deddy juga menekankan pentingnya membiasakan Sedekah Subuh. Ia mengingatkan hadis Rasulullah ﷺ tentang dua malaikat yang setiap pagi turun mendoakan orang yang gemar berinfak agar diberi ganti rezeki, sementara malaikat lainnya mendoakan kebinasaan bagi orang yang menahan hartanya.
Menurutnya, sedekah tidak harus dalam jumlah besar. Infak Rp500 hingga Rp1.000 yang dilakukan secara rutin jauh lebih bernilai jika mampu membangun budaya berbagi di tengah jamaah.
Ia bahkan mengusulkan agar masjid memiliki kotak infak khusus Subuh yang dipisahkan dari kotak infak operasional umum. Dana tersebut digunakan untuk mendukung seluruh aktivitas Subuh, mulai dari konsumsi jamaah, kajian, hingga berbagai program yang dapat menarik masyarakat datang ke masjid.
"Kalau dana itu benar-benar digunakan untuk memakmurkan kegiatan Subuh, jamaah akan semakin semangat berinfak karena mereka melihat langsung manfaatnya," ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Deddy juga memperkenalkan konsep Pasar Bahagia, yaitu kegiatan berbagi kebahagiaan setelah salat Subuh. Bentuknya bisa berupa sarapan sederhana, pembagian sayur kepada jamaah, ataupun menghadirkan pelaku UMKM untuk menjual hasil usahanya di lingkungan masjid.
Menurutnya, program seperti itu telah diterapkan di sejumlah masjid dan terbukti mampu meningkatkan jumlah jamaah Subuh sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.
"Bukan nilai barangnya yang utama, tetapi rasa kebersamaan dan kebahagiaan yang dibangun. Jamaah pulang membawa sayur atau makanan sederhana, keluarganya ikut merasakan manfaat datang ke masjid," katanya.
Ia menambahkan bahwa masjid pada masa Rasulullah ﷺ tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pendidikan, pelayanan sosial, musyawarah, dan aktivitas ekonomi umat. Karena itu, konsep memakmurkan masjid pada masa kini juga perlu menyentuh aspek sosial dan ekonomi tanpa menghilangkan fungsi utamanya sebagai tempat beribadah.
Melalui Gerakan Subuh, Sedekah Subuh, Sholat Syuruq, dan Pasar Bahagia, Ustadz Deddy berharap semakin banyak masyarakat yang mencintai masjid dan menjadikannya sebagai pusat kehidupan umat.
"Jika semakin banyak orang datang ke masjid karena upaya yang kita lakukan bersama, maka insyaallah setiap langkah mereka menjadi amal jariyah yang terus mengalir bagi orang-orang yang menghidupkan masjid," pungkasnya. (*)
FIRNAS MUTTAQIN