Friday, April 17, 2026

Khutbah Jum’at: Menyiapkan Bekal Menuju Kepastian Kematian


Oleh: Ustadz Abdillah Ikbar (SPEAM Kota Pasuruan)  

Lokasi: Masjid At-Taqwa Jagalan, Kota Pasuruan  
Tanggal: Jum'at, 17 April 2026  

---

Khutbah Pertama

Mukadimah

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang senantiasa kita puji, kita mohon pertolongan-Nya, dan kita mohon ampunan-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan diri kita dan dari keburukan amal perbuatan kita. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul Allah. Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabat beliau sekalian.

Wahai hamba-hamba Allah, aku berwasiat kepada diriku sendiri dan kepada kalian semua untuk senantiasa bertakwa, karena sungguh beruntung orang-orang yang bertakwa. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an:

> “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102).

Pentingnya Mengingat Kematian

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Marilah kita panjatkan puji syukur atas kehadiran Allah SWT yang telah memberikan nikmat yang tak terhitung jumlahnya. Bahkan seorang ahli matematika pun tidak akan sanggup menghitung nikmat Allah yang diberikan kepada kita. Maka, "Fabiayyi ala-i Rabbikuma tukadziban", nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Sholawat serta salam semoga selalu tercurah kepada baginda Nabi Muhammad SAW, yang telah membimbing umat manusia dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang benderang dengan cahaya Islam.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Tidak sedikit di antara kita yang merasa cemas atau takut ketika mendengar berita kematian. Kematian sering dianggap sebagai kejadian yang mengerikan, seolah-olah kehidupan ini tidak boleh berakhir. Padahal, semua orang tahu bahwa kematian adalah hal yang hak (pasti). Setiap makhluk yang bernyawa pasti akan mengakhiri kehidupannya. Allah SWT berfirman:

> “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. Al-Ankabut: 57).

Tiga Bekal Utama Menuju Akhirat

Sebagai muslim yang taat, tentu banyak perkara yang harus dipersiapkan sebelum kita meniti jalan kembali ke hadirat Allah SWT. Dalam kesempatan ini, ada tiga hal pokok yang harus kita siapkan:

1. Menyiapkan Tabungan Amal Kebaikan 

Dalam Surah Al-Mulk ayat 1-2, Allah menegaskan bahwa Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji siapa di antara manusia yang paling baik amalannya. Amalan yang baik adalah perbuatan yang dilakukan dengan niat ikhlas, istiqamah, dan maksimal. Baik itu dalam interaksi vertikal kepada Allah (Hablum minallah) maupun interaksi horizontal kepada sesama manusia (*Hablum minannas*).

2. Menyiapkan Amal Jariyah yang Terus Mengalir 
Islam mengenal konsep amal jariyah, yakni pahala yang tidak terputus meskipun raga telah terkubur. Rasulullah SAW bersabda:
> "Jika seorang anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau doa anak yang saleh." (HR. Muslim).

3. Berdoa Memohon Husnul Khatimah

Indikator utama Husnul Khatimah (akhir yang baik) adalah ketika seorang hamba mampu mengucapkan kalimat "La ilaha illallah" di akhir hayatnya. Islam mengajarkan kebajikan, keimanan, dan akhlak mulia. Jika semua itu sudah dijalani dengan konsisten, maka kematian bukan lagi hal yang menakutkan, melainkan sebuah keniscayaan yang indah menuju rida Allah.

---

Khutbah Kedua & Doa Penutup

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Semoga dalam menjalani roda kehidupan ini, kita selalu berada dalam naungan, perlindungan, dan perkenanan Allah SWT. Mari kita tutup dengan berdoa kepada Allah:

* Sholawat Ibrahimiyah
    Allahumma salli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad, kama sallayta 'ala Ibrahim wa 'ala ali Ibrahim. Wa barik 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad, kama barakta 'ala Ibrahim wa 'ala ali Ibrahim, fil 'alamina innaka hamidun majid.

* Doa Kebaikan Agama dan Dunia:
    Ya Allah, perbaikilah agama kami yang merupakan penjaga urusan kami. Perbaikilah dunia kami yang menjadi tempat hidup kami. Dan perbaikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah hidup ini sebagai tambahan kebaikan bagi kami, dan jadikanlah kematian sebagai peristirahat bagi kami dari segala keburukan.

* Doa untuk Palestina dan Umat Islam:
    *Allahummanshur ikhwananal muslimina fi Filistin. Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami umat Islam di Palestina dan di mana pun mereka berada.*

* Doa Sapu Jagat:
    Rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, waqina 'adzabannar.

* Penutup:
    Subhana Rabbika Rabbil 'izzati 'amma yasifun, wa salamun 'alal mursalin, walhamdulillahirabbil 'alamin.

---

Alarm Defisit APBN: Indonesia Terancam 'Twin Deficit' di Tengah Bayang-Bayang Krisis Global


JAKARTA – Kondisi fiskal Indonesia dilaporkan berada dalam posisi rentan setelah data APBN per Maret 2026 menunjukkan defisit yang mencapai 0,93% dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau setara Rp240 triliun. Angka ini dinilai mengkhawatirkan karena telah menghabiskan hampir sepertiga dari batas aman undang-undang (3%) hanya dalam waktu tiga bulan pertama tahun anggaran.
Kenaikan belanja negara yang mencapai 30%—berbanding terbalik dengan pertumbuhan pendapatan pajak yang hanya 10%—memicu kekhawatiran akan terjadinya uncontrolled spending. Kondisi ini diperparah dengan ancaman eksternal seperti eskalasi konflik Iran, blokade Selat Hormuz, hingga fenomena El Nino yang belum sepenuhnya terhitung dalam postur anggaran saat ini.

Sinyal Bahaya dari Lembaga Rating dan Pasar

Analis ekonomi mulai menyoroti munculnya sinyal "Twin Deficit" atau defisit ganda, yakni defisit fiskal yang dibarengi dengan defisit transaksi berjalan akibat lonjakan harga minyak dunia di atas US$100 per barel. Situasi ini menjadikan Rupiah sebagai soft currency yang sangat rentan terhadap serangan spekulan mata uang.
Dua lembaga pemeringkat internasional, Moody’s dan Fitch, dilaporkan telah menurunkan outlook Indonesia menjadi negatif. Penurunan ini dipandang sebagai peringatan keras (18-24 bulan) sebelum peringkat utang (sovereign rating) benar-benar dipangkas. Sementara itu, Cadangan Devisa Bank Indonesia terus tergerus ke level terendah sejak Juni 2024 setelah BI menggelontorkan lebih dari US$8 miliar untuk mengintervensi pelemahan Rupiah.

Krisis Pengadaan Energi dan Dilema Pertamina

Di sektor riil, ketegangan mulai terasa pada proses pengadaan BBM. Pertamina dilaporkan menghadapi kendala besar di pasar spot global.
 * Kalah Bidding: Beberapa kapal tanker tujuan Indonesia dikabarkan dialihkan oleh penjual karena pembeli lain menawarkan harga lebih tinggi.
 * Hambatan Hukum: Belum adanya status "Krisis Energi" secara resmi membuat manajemen Pertamina terjepit. Membeli di atas harga asumsi APBN berisiko menjadi temuan audit BPK, namun menunda pembelian akan menyebabkan kelangkaan stok nasional.

Kritik atas Komunikasi Pemerintah

Para pengamat ekonomi mengkritik cara pemerintah merespons peringatan dari lembaga internasional seperti Bank Dunia dan Citibank. Alih-alih memberikan penjelasan teknis yang meyakinkan, pemerintah dinilai cenderung reaktif dan menyerang balik para analis. Sikap ini dianggap memberikan sentimen negatif bagi investor asing di pasar obligasi (SBN) yang mulai menunjukkan gejala capital flight.

Rekomendasi Solusi: Rasionalisasi Belanja

Sebagai langkah penyelamatan untuk menjaga defisit tetap di bawah 3%, para ekonom menyarankan langkah drastis:
 1. Pemotongan Anggaran MBG: Memangkas anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Rp335 triliun menjadi sekitar Rp85 triliun (potong Rp250 triliun).
 2. Efisiensi Belanja Non-Urgen: Menghentikan pengadaan motor listrik, laptop, dan peralatan kantor lainnya yang tidak mendesak.
 3. Disiplin Fiskal: Mengalihkan beban stabilitas ekonomi dari kebijakan moneter (BI) kembali ke kebijakan fiskal (Kemenkeu).
"Pasar tidak bisa dilawan dengan klaim bahwa semuanya aman. Yang dibutuhkan saat ini adalah sense of urgency dan kejujuran fiskal sebelum badai ekonomi global benar-benar menghantam sepenuhnya," tulis laporan tersebut mengutip diskusi para ekonom. (*)

Kanvas Kosong di Tengah Pusaran Nikel: Ujian Kejujuran Sherly Tjoanda


Sherly Tjoanda, Gubernur Maluku Utara, membuat pengakuan mengejutkan dalam sebuah wawancara politik nasional. Di tengah bayang-bayang utang budi politik dan kekayaan tambang nikel yang masif, Sherly secara terbuka menyebut dirinya sebagai "kertas kosong" yang tidak memahami bahasa politik bersayap, namun bertekad menjaga integritas tanpa praktik politik uang.

Kejujuran Transaksional: "Kita Saling Memanfaatkan"

Berbeda dengan politisi pada umumnya yang kerap berlindung di balik retorika idealisme, Sherly memberikan jawaban dingin namun jujur saat ditanya mengenai dukungan partai politik. Ia mengakui adanya simbiosis mutualisme dalam kemenangannya yang meraup 51% suara.
"Dalam hidup ini kita semua saling memanfaatkan dengan tujuan masing-masing. Tujuan saya waktu itu saya harus menang dan menyelesaikan janji almarhum," ujarnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa ia sadar akan adanya transaksi dukungan, meski ia mengaku belum menyiapkan diri menghadapi "tagihan" politik yang pasti akan datang dari delapan partai koalisinya.

Paradoks Nikel dan BUMD yang Mati Suri

Sherly mewarisi provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia—mencapai 39%—akibat hilirisasi nikel. Namun, ia mengungkapkan fakta pahit: Maluku Utara tidak memiliki satu pun Izin Usaha Pertambangan (IUP) atas nama daerah.

Dengan nilai ekspor smelter mencapai Rp150 triliun dan potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) tambahan sebesar Rp2 triliun hingga Rp3 triliun per tahun jika memiliki IUP sendiri, Maluku Utara justru absen menikmati hasilnya secara langsung. Hal ini disebabkan BUMD setempat yang tidak aktif sejak 2016 akibat pengawasan ketat BPK dan KPK. Sherly kini berpacu dengan waktu untuk menghidupkan kembali mesin ekonomi daerah tersebut dalam kurun waktu satu tahun ke depan.

Melawan Arus Politik Uang dan Dinasti

Kemenangan Sherly menarik perhatian karena ia mengklaim tidak menggunakan money politics pada hari pemilihan. Dengan total 367.000 pemilih, ia menekankan pentingnya memulai kepemimpinan dengan cara yang benar agar tidak berakhir "memperbudak nurani" rakyat.
Mengenai tudingan politik dinasti dan oligarki, Sherly membela diri dengan menunjukkan rekam jejak mendiang suaminya, Benny Laos. Ia mengklaim LHKPN suaminya justru menurun selama menjabat sebagai Bupati Morotai, sebuah anomali di tengah tren pejabat yang semakin kaya setelah menjabat.

Antara Keteguhan dan Naif

Perjalanan Sherly dimulai dari tragedi ledakan kapal pada 12 Oktober 2024 yang merenggut nyawa suaminya, tepat 42 hari sebelum pilkada. Maju karena dorongan anak-anak dan janji melanjutkan visi sang suami, Sherly menghabiskan sembilan bulan pertamanya belajar birokrasi dari nol, bahkan menggunakan teknologi kecerdasan buatan (ChatGPT) untuk memahami persoalan teknis.

Kini, pertanyaan besar menggantung: mampukah seorang "kanvas kosong" bertahan di tengah sistem politik yang haus akan balas budi? Sherly menutup dengan sebuah tantangan waktu. "Undang saya lagi 5 tahun dari sekarang. Saya akan duduk di sini dan bilang: I did it."  (*)




APBN Per April 2026 Defisit Rp240,1 Triliun, Pengamat Usulkan Pemangkasan MBG Segmented untuk Selamatkan Keuangan Negara


Kondisi APBN per April 2026 disebut sedang berada di zona merah dengan defisit mencapai Rp240,1 triliun atau setara 0,93 persen dari APBN hanya dalam tiga bulan pertama tahun ini. Pengamat ekonomi Hersubeno Arif mengingatkan, jika gaya pengelolaan keuangan negara tidak berubah, defisit berpotensi tembus di atas 3 persen, apalagi ditambah lonjakan harga minyak dunia yang sudah melampaui asumsi APBN sebesar 70 dolar AS per barel.

Dalam kanal YouTube Hersubeno Point, Kamis (16/4/2026), Hersubeno membeberkan sejumlah skenario yang bisa menyelamatkan APBN, salah satunya dengan mengubah skema program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari universal menjadi segmented alias hanya untuk anak yang benar-benar membutuhkan.

“Kalau kita pakai data Kementerian Kesehatan 2025 yang prevalensi stuntingnya hanya 19,8 persen, maka target penerima MBG turun drastis dari 82,9 juta anak menjadi sekitar 16,4 juta anak. Kebutuhan anggaran hanya sekitar Rp66,33 triliun, bukan Rp335 triliun. Artinya, negara bisa menghemat Rp268,67 triliun,” ujar Hersubeno.

Ia menambahkan, angka penghematan tersebut hampir persis menutup defisit Rp240 triliun yang sudah terjadi di kuartal pertama 2026. “Defisit langsung ketutup. Enggak perlu pangkas dana alokasi daerah atau belanja kementerian lain,” tegasnya.

Harga Minyak Jebolkan Asumsi APBN, Subsidi BBM Membengkak

Hersubeno menyoroti tekanan eksternal dari fluktuasi harga minyak dunia yang sangat dipengaruhi kebijakan Presiden AS Donald Trump. Harga minyak sempat menyentuh 120 dolar AS per barel dan terendah sekitar 90 dolar AS—jauh di atas asumsi APBN 70 dolar AS.

“Setiap kenaikan 1 dolar AS per barel, beban subsidi bisa naik sekitar Rp10 triliun. Kalau harga sekarang sudah lebih dari 20 dolar di atas asumsi, maka potensi tambahan subsidi mencapai ratusan triliun. APBN jebol,” jelasnya.

Menteri Keuangan Klaim Aman, Ternyata SAL di BI Tinggal Rp10 Triliun

Hersubeno mengungkap kejanggalan pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Awalnya, Purbaya meyakinkan posisi Saldo Anggaran Lebih (SAL) di level aman Rp280 triliun dan meyakini defisit hanya akan berkisar 2,89–2,9 persen.

Namun selang sebulan, Purbaya mengakui bahwa dana pemerintah di Bank Indonesia hanya tinggal Rp10 triliun. Sebab, dari total Rp320 triliun, Rp200 triliun telah dipindahkan ke perbankan Himbara dan Rp100 triliun lainnya juga dialihkan.

“Padahal sebelumnya dia bilang ‘saya jago, enggak mungkin defisit tembus 3 persen’. Sekarang sakit kepala, minum puyer tiga kali sehari,” sindir Hersubeno.

Efisiensi Ala Prabowo: Hemat Rp8 Triliun, Tapi MBG Jadi Big Tabu

Presiden Prabowo Subianto disebut menolak usulan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto untuk menerbitkan Perpu agar defisit bisa melampaui 3 persen. Prabowo memilih efisiensi belanja operasional dan peningkatan penerimaan negara, serta mengklaim telah menghemat Rp8 triliun dari potensi korupsi.

Namun, menurut Hersubeno, pilihan paling logis adalah memangkas anggaran MBG yang super jumbo. “Tapi baik Erlangga maupun Purbaya enggak berani otak-atik MBG karena itu janji kampanye dan big tabu bagi Prabowo,” katanya.

Kabar Terbaru: MBG Hanya untuk Anak Kurang Mampu, Potensi Hemat Rp268 Triliun

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nani S. D. mengumumkan bahwa MBG ke depan hanya difokuskan pada anak yang benar-benar membutuhkan perbaikan gizi dari keluarga kurang mampu, termasuk pesantren kecil, anak jalanan, ibu hamil, dan balita. Program bersifat sukarela, tidak dipaksakan bagi siswa mampu.

“Kalau ini benar dan dijalankan serius, Pak Prabowo sudah insaf. MBG bukan harga mati lagi. Ini kabar baik. Pemerintah bisa punya dana segar Rp268 triliun untuk menambal defisit tanpa membatalkan program,” ujar Hersubeno.

Ia menegaskan, mengubah MBG dari universal menjadi segmented bukan bentuk ingkar janji, melainkan kejujuran politik dan rasionalitas ekonomi. “Lebih baik memberi gizi maksimal kepada 16,4 juta anak yang benar-benar butuh daripada membagi rata ke yang sudah mampu, sementara APBN kita berdarah-darah,” pungkasnya. (*)


Diplomasi Fiskal di Tengah Ketidakpastian: Saat Dunia Bingung dengan Ketahanan Indonesia

Berikut adalah esai yang disusun berdasarkan informasi dari akun X @LambeSahamjja mengenai diplomasi fiskal Menteri Keuangan Dr. Purbaya Yudhi Sadewa, M.Sc. di kancah internasional. Kamis, 16 April 2026.

Diplomasi Fiskal di Tengah Ketidakpastian: Saat Dunia Bingung dengan Ketahanan Indonesia

Pertemuan tahunan dengan deretan lembaga keuangan raksasa dunia—mulai dari Goldman Sachs, Fidelity, hingga International Monetary Fund (IMF) dan World Bank—biasanya menjadi ajang bagi banyak negara untuk mencari dukungan atau bantuan finansial. Namun, kunjungan Menteri Keuangan Purbaya kali ini justru membawa narasi yang berbeda. Alih-alih datang sebagai pemohon, Indonesia hadir sebagai pemberi penjelasan atas fenomena ekonomi yang membuat para investor dan lembaga global merasa heran: ketahanan di tengah guncangan.

Salah satu poin yang paling mencolok adalah sesi pertemuan dengan 18 investor besar dunia. Pertanyaan yang mereka ajukan seragam, yaitu rasa penasaran mengenai bagaimana Indonesia mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat namun tetap menjaga anggaran tetap terkendali. Strategi fiskal yang dijelaskan Menkeu tampaknya memberikan angin segar, terbukti dengan adanya sinyal kuat masuknya modal asing ke pasar modal Indonesia dalam waktu dekat.

Interaksi yang cukup tajam terjadi saat Menkeu Purbaya berhadapan langsung dengan Direktur IMF, Kristalina Georgieva. Dalam sebuah pernyataan diplomasi yang tergolong berani, Indonesia menegaskan posisinya yang tidak membutuhkan dana talangan. Dengan bantalan fiskal sebesar Rp420 triliun, pemerintah merasa memiliki pengaman (buffer) yang cukup kuat untuk menyerap guncangan eksternal, seperti kenaikan harga minyak dunia. Penolakan halus terhadap tawaran bantuan ini menandai pergeseran posisi tawar Indonesia di mata internasional; dari negara yang membutuhkan bantuan menjadi negara yang dijadikan contoh performa positif.

Senada dengan IMF, World Bank dan lembaga pemeringkat S&P juga menyatakan kepuasannya terhadap strategi fiskal Indonesia. Keraguan global mengenai kemampuan pemerintah dalam menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi dan disiplin anggaran tampaknya mulai terkikis. World Bank bahkan mulai menjajaki kemungkinan kerja sama yang lebih mendalam, melihat posisi Indonesia sebagai salah satu negara paling stabil di tengah ketidakpastian global saat ini.

Namun, di balik keberhasilan narasi internasional tersebut, terdapat catatan kritis yang perlu menjadi perhatian. Meskipun angka-angka makro dan cadangan fiskal sebesar Rp420 triliun terlihat meyakinkan bagi investor global, tantangan utamanya adalah memastikan dampak pertumbuhan tersebut benar-benar meresap hingga ke akar rumput. Kepuasan lembaga internasional dan sinyal positif pasar modal harus berbanding lurus dengan kesejahteraan yang dirasakan oleh para pekerja harian, petani, dan sektor UMKM.

Secara keseluruhan, perjalanan diplomasi Menkeu Purbaya menunjukkan bahwa Indonesia saat ini berdiri di posisi yang cukup solid. Pengakuan dari IMF dan minat kerja sama dari World Bank adalah sinyal stabilitas, namun tugas rumah terbesar selanjutnya adalah menjaga agar stabilitas tersebut tidak hanya menjadi angka di atas kertas, tetapi juga menjadi kekuatan nyata bagi ekonomi domestik. (*)

Thursday, April 16, 2026

Menyingkap Tabir "Beyond the Law": Anatomi Intelijen dalam Ruang Demokrasi


Dunia intelijen selama ini identik dengan lorong-lorong gelap dan bisikan rahasia. Namun, pengakuan blak-blakan mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, Soleman Ponto, dalam siniar On The Record, baru-baru ini merobek tirai tersebut. Pernyataannya bukan sekadar anekdot pensiunan, melainkan sebuah refleksi fundamental tentang pertanyaan yang menghantui setiap negara demokrasi: Siapa yang mengawasi mereka yang bekerja di wilayah yang tidak bisa diawasi?

Bekerja di Wilayah "Beyond the Law"

Esensi dari pekerjaan intelijen, menurut Ponto, adalah tindakan yang berada di luar jangkauan hukum biasa (beyond the law). Ia memberikan analogi yang tajam: jika warga biasa mencetak uang di rumah, itu adalah kriminal; namun jika negara melakukannya, itu adalah kebijakan moneter. Begitu pula dengan intelijen. Memasuki rumah tanpa izin adalah pelanggaran hukum bagi warga sipil, namun menjadi sebuah "operasi" ketika negara yang memerintahkannya.
Namun, ada kontrak sunyi yang mengerikan di sini. Tidak ada impunitas otomatis. Jika seorang operatif tertangkap, negara—melalui atasan—seringkali akan memutus rantai (deniability). Operatif tersebut akan dianggap bertindak atas inisiatif pribadi, menanggung beban hukum sendirian, sementara sistem tetap berjalan tanpa cacat di permukaan.

Bahasa Isyarat dan Perintah Implisit

Sisi paling krusial dari mekanisme ini adalah bagaimana perintah diturunkan. Dalam dunia intelijen profesional, hampir mustahil menemukan perintah tertulis yang eksplisit untuk melakukan tindakan represif. Perintah dikemas dalam ambiguitas yang disengaja.
Frasa seperti "cabut rumput teki" atau "saya tidak ingin mendengar kabar orang itu lagi" adalah sinyal. Para intelijen yang terlatih akan menafsirkan isyarat tersebut menjadi tindakan nyata, mulai dari persuasi lunak hingga tindakan paling ekstrem. Desain perintah yang implisit ini memastikan para pemegang kekuasaan di puncak piramida selalu memiliki ruang untuk mengelak dari tanggung jawab hukum (deniability).

*Kasus Andri Yunus dan Cacat Operasi*

Diskusi mengenai kapabilitas intelijen ini tak pelak bersinggungan dengan kasus kekerasan yang menimpa aktivis, seperti penyiraman air keras terhadap Andri Yunus. Analisis Ponto menarik: jika sebuah operasi dirancang secara profesional oleh negara untuk melenyapkan target, maka target tersebut seharusnya tidak akan pernah "kembali pulang."
Keberadaan korban yang masih hidup bisa diinterpretasikan dalam dua kemungkinan: ini adalah pesan teror yang sengaja dibiarkan bersisa, atau justru dilakukan oleh unsur-unsur intelijen yang tidak profesional—mereka yang memiliki akses pada kapabilitas operasional namun minim penilaian (judgment) dan pendidikan formal. Fenomena "intelijen tanpa seleksi" inilah yang disebut Ponto sebagai ancaman nyata karena ketidakterukurannya.

Stigmatisasi Kritik dan Bahaya Bagi Demokrasi

Salah satu poin paling mengkhawatirkan adalah cara pandang intelijen terhadap kelompok kritis dan LSM. Ponto mengonfirmasi bahwa pengawasan (surveillance) terhadap mereka dianggap wajar. Bahkan, muncul narasi bahwa mereka yang mempertanyakan urgensi badan intelijen dianggap telah terpapar pengaruh asing atau menjadi korban penggalangan negara lain.
Istilah "rumput teki" yang perlu dicabut adalah metafora yang berbahaya bagi demokrasi. Dalam sistem yang sehat, mengkritik kebijakan atau mempertanyakan lembaga negara adalah hak konstitusional. Menggeser kritik menjadi ancaman negara yang sah untuk "ditertibkan" adalah garis tipis yang memisahkan alat pertahanan negara dengan alat pembungkaman.

Antara Informasi dan Pengaruh

Prinsip tertinggi yang diungkapkan adalah: "Don't lie, but don't tell the truth" (Jangan berbohong, tapi jangan katakan kebenaran yang sesungguhnya). Pengakuan Ponto tentang upayanya mempengaruhi audiens dan pembawa acara dalam podcast tersebut menunjukkan bahwa setiap informasi yang keluar dari mulut seorang intelijen adalah bagian dari "operasi" itu sendiri.
Intelijen profesional adalah kebutuhan absolut negara untuk mendeteksi ancaman luar. Namun, tanpa mekanisme akuntabilitas dan pengawasan yang berfungsi, institusi ini sangat rentan berubah menjadi instrumen kekuasaan untuk mematikan nalar kritis warganya. Di titik itulah, kita harus mulai bertanya: sejauh mana garis beyond the law boleh ditarik sebelum ia akhirnya melumat demokrasi itu sendiri? (*)

Wednesday, April 15, 2026

Menagih Janji Reformasi: "Sebodoh Apakah Kita?"


Sebuah tamparan keras mendarat di ruang sidang Mahkamah Konstitusi (MK) hari ini, Selasa, 14 April 2026. Di tengah keriuhan prosedur hukum yang biasanya kaku dan penuh eufemisme, Guru Besar Hukum Tata Negara UGM, Profesor Zainal Arifin, melontarkan sebuah pertanyaan yang bukan hanya menggugat nalar hukum, tapi juga nurani kebangsaan kita:
 
*"Sebodoh apakah kita membiarkan tidak menyelesaikan pekerjaan rumah itu?"*

Kalimat ini bukan sekadar retorika akademis. Ini adalah kulminasi dari rasa frustrasi yang telah membusuk selama hampir tiga dekade. Zainal tidak datang untuk berbasa-basi diplomatik. Ia datang untuk menelanjangi sebuah anomali hukum yang telah dibiarkan hidup subur sejak runtuhnya rezim Orde Baru.

*Warisan yang Tak Tersentuh*

Inti persoalannya adalah **Undang-Undang Peradilan Militer**. Produk hukum tahun 1997 ini adalah artefak politik dari zaman ketika militer memiliki hak istimewa yang hampir tak tertembus hukum sipil. Saat itu, sistem memang didesain untuk memagari akuntabilitas publik.
Namun, reformasi 1998 seharusnya sudah mengubah segalanya. Tap MPR Tahun 2000 dan Pasal 65 UU TNI Tahun 2004 sudah memberikan mandat yang sangat terang benderang: anggota TNI yang melakukan tindak pidana umum harus diadili di pengadilan umum.

Landasan hukum kita telah berputar 180 derajat, namun UU Peradilan Militer tetap berdiri kokoh sebagai benteng terakhir impunitas.
Selama hampir 20 tahun, alasan yang direproduksi oleh pemerintah dan parlemen selalu sama, berlindung di balik Pasal 74 yang menyatakan undang-undang lama tetap berlaku hingga ada undang-undang baru. Sebuah pasal transisi yang ironisnya dijadikan alasan untuk "diam di tempat" secara permanen.

*Antara "Inability" dan "Unwillingness"*

Zainal Arifin menegaskan bahwa kebuntuan ini bukan soal *inability* atau ketidakmampuan. Indonesia memiliki barisan akademisi hukum terbaik, memiliki DPR, dan memiliki pemerintah dengan sumber daya yang melimpah. Masalah sesungguhnya adalah *unwillingness*—ketidakmauan politik.

Absennya kemauan ini membawa implikasi yang nyata dan pedih bagi warga sipil. Ketika kekerasan atau pembunuhan dilakukan oleh oknum militer terhadap rakyat biasa, mereka diseret ke pengadilan militer. Di sana, hakimnya adalah militer, prosesnya sering tertutup, dan hasilnya kerap kali melukai rasa keadilan keluarga korban. Ini bukan lagi soal teori hukum di atas kertas; ini adalah praktik ketidakadilan yang direproduksi secara berulang terhadap mereka yang tak berdaya.

*Bola Panas di Meja Mahkamah*

Pernyataan keras Zainal hari ini adalah sebuah tantangan terbuka bagi Mahkamah Konstitusi. Apakah MK akan terus membiarkan "pekerjaan rumah" ini mengambang dalam ketidakpastian, atau akankah mereka mengambil peran sebagai katalisator perubahan?
Sidang hari ini menyadarkan kita bahwa ada sesuatu yang salah dalam cara kita bernegara. Ada undang-undang yang sudah jelas kedaluwarsa dan bertentangan dengan konstitusi, namun tetap dibiarkan eksis karena ada pihak yang diuntungkan oleh situasi tersebut.

Profesor Zainal Arifin telah memberikan nama yang tepat untuk kebungkaman kita selama ini. Kini, bola panas itu ada di tangan para hakim konstitusi. Akankah kita terus memelihara "kebodohan" kolektif ini, atau akhirnya berani menuntaskan janji reformasi yang sudah lama dikhianati? (*)

Tuesday, April 14, 2026

Ironi Anggaran Makan Gratis: Antara Gizi Anak dan Belanja Perangkat Elektronik


JAKARTA – Klarifikasi yang disampaikan oleh Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dr. Ir. Dadan Hindayana, terkait rincian anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) justru memicu gelombang skeptisisme publik. Alih-alih meredakan kekhawatiran, rincian pagu anggaran yang dipaparkan dinilai mencerminkan prioritas yang janggal: program yang seharusnya berfokus pada isi piring siswa, kini tampak lebih menyerupai proyek pengadaan barang dan jasa skala besar.

1. Laptop dan "Digitalisasi" Perut Lapar

Poin pertama yang menjadi sorotan tajam adalah pengadaan laptop. Meski Dadan Hindayana mengklarifikasi bahwa jumlah unit yang dibeli pada tahun 2025 "hanya" 5.000 unit—bukan 32.000 unit seperti isu yang beredar—angka ini tetap menyisakan tanda tanya besar.
Jika diasumsikan harga satu unit laptop standar perkantoran mencapai Rp10 juta, maka negara merogoh kocek hingga Rp50 miliar. Publik mempertanyakan urgensi birokrasi digital yang begitu masif di saat urgensi utama adalah distribusi pangan di daerah pelosok. Apakah efektivitas gizi anak sekolah diukur dari kecanggihan perangkat keras di meja kantor pusat?

2. Dapur Umum atau Restoran Mewah?

Klarifikasi mengenai anggaran alat masak juga tak kalah kontroversial. Dadan memaparkan bahwa dengan realisasi sebesar Rp245 miliar untuk 315 titik, artinya satu unit dapur satuan pelayanan mendapatkan alokasi sekitar Rp780 juta.
Angka fantastis ini dinilai terlalu tinggi jika tujuannya hanya untuk menyediakan fasilitas masak standar. Dengan modal hampir satu miliar per lokasi, ekspektasi publik tentu bukan sekadar dapur umum biasa, melainkan fasilitas kelas atas. Namun, kekhawatiran muncul: apakah anggaran sebesar itu benar-benar akan berdampak pada kualitas makanan, atau hanya menjadi ajang pengadaan alat-alat bermerek yang tidak menyentuh kesejahteraan petani dan peternak lokal sebagai pemasok bahan baku?

3. Ketergantungan pada Event Organizer (EO)

Mungkin poin yang paling mengusik rasa keadilan adalah alokasi Rp113 miliar untuk membayar jasa Event Organizer (EO). Alasan BGN bahwa internal mereka "belum siap" dianggap sebagai pengakuan atas ketidaksiapan manajerial sebuah badan yang sudah memegang mandat triliunan rupiah.
Kritik pedas mengalir: mengapa anggaran sebesar itu tidak dialokasikan untuk memberdayakan kelompok masyarakat bawah, seperti Ibu-ibu PKK di desa-desa, untuk mengelola konsumsi secara swakelola? Penggunaan EO korporasi dianggap sebagai pemborosan yang hanya memperkaya segelintir pengusaha di Jakarta, ketimbang mendistribusikan ekonomi ke akar rumput.

4. Polemik Kaos Kaki dan Akuntabilitas

Terkait isu pengadaan kaos kaki yang dikaitkan dengan Universitas Pertahanan (Unhan) dalam skema program ini, Dadan Hindayana memberikan jawaban yang bersifat teknis "swakelola", yang oleh sebagian pihak dianggap sebagai upaya lempar tanggung jawab. Bagi publik, baik itu BGN maupun Unhan, keduanya menggunakan dana APBN yang berasal dari pajak rakyat. Penjelasan teknis mengenai perpindahan anggaran antarlembaga tidak menghapus pertanyaan mendasar: Mengapa dana program makanan harus bersinggungan dengan belanja perlengkapan pakaian di institusi militer?

Kesimpulan: Strategi Pemadam Kebakaran?

Rentetan klarifikasi dari Dr. Ir. Dadan Hindayana selaku pimpinan BGN ini lebih terlihat sebagai strategi "pemadam kebakaran" untuk meredam opini negatif ketimbang memberikan transparansi yang substansial.
Program Makan Bergizi Gratis berada dalam ancaman serius jika anggaran "lumer" di tengah jalan untuk urusan administratif, laptop, dan jasa pihak ketiga. Tanpa pengawasan ketat, dikhawatirkan ambisi besar untuk mencerdaskan bangsa melalui gizi justru berakhir menjadi pesta pora pengadaan barang yang menjauh dari perut anak-anak sekolah yang membutuhkan.

Rakyat kini menunggu: kapan anggaran triliunan ini benar-benar mewujud menjadi daging, telur, dan susu di atas meja makan anak-anak pelosok, bukan sekadar angka di layar laptop baru pejabat? (*)

Menghadang "El Nino Godzilla": Menakar Kesiapan Ketahanan Pangan Nasional


SURABAYA – Bayang-bayang fenomena iklim ekstrem "El Nino Godzilla" mulai menghantui sektor pertanian Indonesia pada pertengahan tahun 2026. Dalam sebuah dialog interaktif di RRI Pro 1 Surabaya pada Selasa (14/4), para pakar memperingatkan bahwa meski saat ini sebagian wilayah masih mengalami hujan, ancaman kekeringan hebat berada tepat di depan mata.

Peringatan Dini: Bukan Sekadar Prediksi

Ketua Pokja Prediksi Bulanan dan Musiman BMKG Pusat, **Dr. Supari**, menegaskan bahwa indikator suhu permukaan laut di Samudera Pasifik menunjukkan tren pemanasan yang signifikan. Walaupun kondisi saat ini masih berada pada fase netral menuju peralihan, El Nino diprediksi akan mulai menguat pada Mei hingga Juni 2026.
"Kami khawatir kondisinya akan sangat kering. Jangan sampai masyarakat lengah karena melihat sekarang masih sering hujan lebat. Ini justru waktu yang krusial untuk memanen air hujan sebelum kemarau tiba," ujar Dr. Supari. Ia juga menambahkan bahwa krisis iklim global berpotensi membuat intensitas El Nino di masa depan menjadi lebih sering dan lebih kuat.
Mitigasi: Melampaui Infrastruktur Fisik

Menanggapi ancaman tersebut, **Gunawan** dari *Steering Committee* Komite Nasional Keluarga, menyoroti pentingnya langkah mitigasi yang konkret di sektor hulu. Menurutnya, pemerintah tidak boleh hanya mengandalkan pembangunan fisik seperti bendungan atau embung, tetapi juga harus memperhatikan aspek perlindungan petani melalui asuransi pertanian dan pemilihan benih yang adaptif.
> "Strategi kita harus integratif—menghubungkan sektor pertanian, perikanan, dan peternakan. Kita adalah bangsa maritim yang seharusnya memiliki memori kolektif dan kearifan lokal dalam mengelola air, seperti sejarah Selokan Mataram di Yogyakarta," papar Gunawan.
Ia menekankan tiga pilar utama ketahanan pangan yang harus dijaga selama El Nino:
 1. *Ketersediaan:* Adaptasi pola tanam dan infrastruktur air.
 2. *Distribusi:* Menjamin kelancaran transportasi pangan meski terjadi hambatan cuaca.
 3. *Konsumsi:* Mendorong penganekaragaman konsumsi agar tidak bergantung pada satu jenis komoditas.

Tantangan Tata Kelola Air

Dialog ini juga menangkap keresahan masyarakat. Seorang pendengar menekankan bahwa Indonesia sebenarnya dikaruniai sumber daya air yang melimpah dengan ribuan sungai dan curah hujan tinggi. Masalah utamanya seringkali bukan pada ketersediaan alam, melainkan pada tata kelola dan alih fungsi lahan yang merusak ekosistem penyimpanan air alami.
Sektor hortikultura, seperti cabai dan bawang, dipetakan sebagai komoditas yang paling rentan terdampak. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah daerah, akademisi, dan kelembagaan tani mandiri menjadi kunci agar peringatan dini dari BMKG tidak berakhir sebagai data yang sia-sia di atas meja.

Menuju Pertanian Berkelanjutan

Menghadapi "Godzilla" iklim ini, Gunawan mengajak pemerintah untuk lebih menghargai kemampuan petani dalam menciptakan benih lokal yang tahan kering. "Pemberdayaan tidak boleh bersifat tunggal dari atas ke bawah. Pengalaman petani dalam bertahan secara mandiri harus didukung oleh kebijakan negara," pungkasnya.
Jawa Timur, sebagai lumbung pangan nasional, kini memikul beban berat untuk membuktikan bahwa pemetaan risiko dan strategi mitigasi yang disusun mampu menjaga stabilitas stok pangan nasional di tengah cekaman panas yang ekstrem. (*)

Penulis: Firnas Muttaqin
Editor: Redaksi MON

Monday, April 13, 2026

Kedaulatan di Ujung Tanduk? Kontroversi Kesepakatan "Blanket Overflight" RI-AS

Sebuah laporan investigasi dari The Sunday Guardian baru-baru ini memicu gelombang kekhawatiran di tanah air. Amerika Serikat dikabarkan tengah mengincar akses lintas udara menyeluruh atau Blanket Overflight Access di wilayah udara kedaulatan Indonesia. Kesepakatan ini disebut-sebut akan segera diresmikan oleh Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsoeddin, dalam kunjungannya ke Washington.

Apa Itu Blanket Overflight Access?

Berbeda dengan prosedur standar diplomasi udara, akses ini memungkinkan pesawat militer asing—dalam hal ini Amerika Serikat—untuk melintasi wilayah udara Indonesia tanpa perlu mengajukan izin per kasus (case-by-case approval).
Dalam mekanisme ini, pihak militer AS cukup memberikan notifikasi tanpa harus menunggu izin terbit dari pemerintah Indonesia. Hal ini dianggap sebagai "cek kosong" bagi pergerakan militer asing di langit Nusantara.

Kronologi dan Detail Kesepakatan

Berdasarkan informasi yang beredar, langkah ini bukanlah keputusan mendadak, melainkan hasil dari rangkaian diplomasi tingkat tinggi:
 * 18–20 Februari 2026: Presiden Prabowo Subianto dilaporkan telah menyetujui proposal ini saat bertemu dengan Donald Trump dalam agenda *"Board of Peace Summit"* di Washington.
 * 26 Februari 2026: Dokumen rahasia AS berjudul “Operationalizing U.S. Overflight” dikirimkan secara resmi ke Kementerian Pertahanan Indonesia.
 * 13–15 April 2026: Menhan Sjafrie Sjamsoeddin dijadwalkan menandatangani kesepakatan tersebut bersama Menteri Pertahanan AS (US Secretary of Defense), Pete Hegseth.
Tujuan resmi dari akses ini adalah untuk memfasilitasi operasi kontingensi, respons krisis, serta latihan militer bersama. Namun, begitu diaktifkan, wilayah udara Indonesia praktis menjadi jalur transit bebas bagi manuver militer Paman Sam.

Antara Kerja Sama dan Hilangnya Kedaulatan

Kebijakan ini memicu reaksi keras dari berbagai elemen yang menamakan diri sebagai "Kelompok Perlawanan". Mereka menilai bahwa membuka langit Indonesia secara bebas kepada militer asing adalah langkah yang mencederai kedaulatan bangsa.

> "Ini adalah sebuah ide gila. Langit Indonesia akan menjadi ajang bebas bagi Amerika untuk melakukan manuver apapun yang tidak kita ketahui secara pasti. Di mana peran DPR RI dalam mengawasi ini?" tulis salah satu aktivis dalam unggahan yang viral.
Kritik utama yang muncul mencakup:
 1. Kehilangan Kontrol: Indonesia tidak lagi memiliki otoritas penuh untuk menolak pesawat militer asing yang melintas.
 2. Risiko Geopolitik: Menjadikan wilayah Indonesia sebagai jalur logistik militer AS dapat menyeret Indonesia ke dalam konflik kawasan yang lebih luas.
 3. Transparansi: Dokumen yang semula bersifat rahasia ini kini menjadi konsumsi publik, menimbulkan pertanyaan mengapa kebijakan sebesar ini nyaris luput dari radar pengawasan publik.

Penutup: Menanti Jawaban Senayan
Hingga berita ini diturunkan, publik masih menunggu pernyataan resmi dari pihak Kementerian Pertahanan maupun Komisi I DPR RI. Apakah kesepakatan ini merupakan langkah strategis demi keamanan nasional, ataukah sebuah konsesi yang terlalu mahal harganya bagi kedaulatan dirgantara Indonesia?
Dunia internasional kini menatap Washington, sementara rakyat Indonesia menanti kepastian: Siapakah yang sebenarnya diuntungkan dari terbukanya langit khatulistiwa?

Kisah Menteri "Paling Miskin": Diplomat Sembilan Bahasa yang Hidup dari Gang ke Gang


Dunia mengenalnya sebagai "The Grand Old Man", seorang diplomat jenius yang menguasai sembilan bahasa asing dan disegani di Liga Bangsa-Bangsa (sekarang PBB). Namun, di balik setelan jas perlente dan aroma rokok kreteknya, H. Agus Salim menjalani kehidupan yang jauh dari kemewahan—bahkan tergolong sangat sederhana bagi ukuran seorang pejabat tinggi negara.

Kesetiaan Zainatun Nahar dalam Hidup Nomaden

Keteguhan prinsip Agus Salim tak lepas dari peran sang istri, Zainatun Nahar. Jauh dari citra istri pejabat yang gemar kemewahan, Zainatun adalah sosok yang rela hidup nomaden. Selama mendampingi suaminya, keluarga ini tidak pernah memiliki rumah pribadi. Mereka kerap berpindah dari satu kontrakan sempit ke kontrakan lain di gang-gang becek Jakarta, mulai dari Tanah Abang, Jatinegara, hingga Karet.
Gaji Agus Salim sebagai pejabat sering kali ludes untuk membiayai perjuangan bangsa dan sedekah. Dalam himpitan ekonomi, Zainatun tetap menjadi tiang yang kokoh. Pernah suatu hari, ketika tidak ada uang belanja, ia tetap tersenyum menyambut suaminya pulang meski di meja makan hanya tersaji nasi dan kecap.

Humor di Tengah Keprihatinan

Salah satu kisah legendaris terjadi saat mereka mengontrak di sebuah gang sempit di Tanah Abang. Kala itu hujan deras mengguyur, hingga rumah mereka bocor parah dan air menggenangi ruang tamu. Di saat yang sama, seorang tokoh pergerakan datang berkunjung.
Bukannya merasa malu, Agus Salim justru mengajak istrinya bernyanyi sambil menata ember-ember untuk menampung bocoran air. Dengan nada jenaka, ia berkata kepada tamunya:

"Maaf, Nyonya (Zainatun) sedang sibuk mengatur bendungan. Sebentar lagi kita akan punya kolam renang di dalam rumah."

Candaan itu disambut tawa bersama. Bagi Zainatun, kemiskinan harta tidak pernah mampu merampas kebahagiaan maupun harga diri keluarga mereka.

Leiden is Lijden: Memimpin Adalah Menderita

Bagi Agus Salim, sangat mudah untuk menerima "hadiah" berupa rumah atau uang dari rekan-rekannya. Namun, ia dan istrinya bersepakat menolak segala bentuk pemberian tersebut. Mereka memegang teguh prinsip: "Leiden is Lijden"—bahwa memimpin adalah menderita. Mereka menolak hidup nyaman dari fasilitas negara di saat rakyat masih dalam kesengsaraan.
Hingga akhir hayatnya pada 4 November 1954, Agus Salim tetap tidak memiliki rumah sendiri. Ia mewariskan nama besar, namun tidak meninggalkan harta benda. Zainatun melepas kepergian suaminya dengan tegar, sadar betul bahwa sang suami adalah mutiara yang tak butuh kotak emas untuk bersinar.
Semoga integritas dan kesederhanaan "The Grand Old Man" ini menjadi pengingat bagi para pejabat masa kini—terutama mereka yang berada di instansi strategis seperti Badan Gizi Nasional—bahwa amanah rakyat jauh lebih berharga daripada fasilitas duniawi. (*)

Saturday, April 11, 2026

BPS Kota Pasuruan Siapkan Sensus Ekonomi 2026: Sasar Seluruh Usaha Termasuk Bisnis Online

PASURUAN – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pasuruan mulai melakukan sosialisasi intensif menjelang pelaksanaan Sensus Ekonomi (SE) 2026. Pendataan berskala nasional ini direncanakan berlangsung mulai pertengahan Juni hingga Agustus 2026 dengan menyasar seluruh pelaku usaha di wilayah Kota Pasuruan tanpa terkecuali.

Kepala BPS Kota Pasuruan, Ir. Imam Sudarmaji, menegaskan bahwa sensus ini merupakan langkah strategis untuk memotret kekuatan ekonomi daerah sekaligus menjadi basis data menuju Indonesia Emas 2045.

Menyasar Semua Skala Usaha

Berbeda dengan pendataan rutin, SE 2026 akan dilakukan secara door-to-door. Imam menjelaskan bahwa seluruh kategori usaha akan didata, mulai dari perusahaan besar, usaha makro, kecil, menengah, hingga sektor "super mikro" dan bisnis berbasis online.

"Tidak ada yang ketinggalan. Baik itu usaha menetap, usaha rumahan seperti pembuatan layangan, toko kelontong, hingga pelaku usaha keliling dan online yang dijalankan dari rumah, semuanya akan didata oleh petugas," ujar Imam dalam bincang bareng di Podcast Ramapati Pasuruan, Sabtu (11/4).

Data Akurat, Kebijakan Tepat

Sensus yang digelar setiap 10 tahun sekali ini bertujuan untuk menghasilkan satu data ekonomi yang terintegrasi. Data ini nantinya akan digunakan pemerintah sebagai dasar pengambilan kebijakan, seperti:

  • Penyusunan rencana APBN dan kebijakan ekonomi nasional.

  • Pemetaan potensi dan kendala usaha di daerah.

  • Program pembinaan, pemberian modal, dan perlindungan UMKM agar lebih tepat sasaran.

Imam menjamin bahwa seluruh data individu dan perusahaan yang dikumpulkan bersifat rahasia dan dilindungi undang-undang. "Data ini hanya untuk kepentingan statistik, bukan untuk kepentingan pajak, investigasi, atau audit," tegasnya.

Kenali Petugas di Lapangan

Masyarakat diimbau untuk waspada terhadap potensi penipuan. Petugas resmi BPS saat bertugas akan dibekali dengan atribut lengkap, di antaranya:

  1. Menggunakan rompi khusus.

  2. Membawa identitas resmi (ID Card/Name Tag).

  3. Membawa surat tugas.

  4. Tanpa dipungut biaya apa pun (Gratis).

Proses wawancara diperkirakan hanya memakan waktu sekitar 10 hingga 20 menit. Jika pelaku usaha sedang tidak berada di tempat, petugas berkomitmen untuk melakukan kunjungan ulang guna memastikan validitas data.

"Kami berharap masyarakat menyongsong petugas kami dengan kejujuran. Karena jika data tidak akurat, kebijakan yang diambil pemerintah pun bisa tidak tepat, dan itu merugikan masyarakat sendiri," tutup Imam.



Tuesday, April 07, 2026

AHLUL AFIYAH DAN AHLUL MUSIBAH

Dalam tradisi Islam, istilah Ahlul Afiyah dan Ahlul Musibah sering dibahas untuk menggambarkan perbedaan kondisi manusia saat di dunia dan balasan yang mereka terima di akhirat. Fenomena ini memberikan sudut pandang yang mendalam mengenai hikmah di balik ujian hidup.

Berikut adalah penjelasan beserta dalil yang mendasarinya:
1. Definisi Ahlul Afiyah dan Ahlul Musibah
 * Ahlul Musibah: Orang-orang yang selama hidupnya di dunia terus-menerus diuji dengan berbagai kesulitan, baik berupa penyakit, kemiskinan, kehilangan orang dicintai, maupun penderitaan fisik dan batin lainnya.
 * Ahlul Afiyah: Orang-orang yang selama hidupnya di dunia diberikan relatif banyak kemudahan, kesehatan, kecukupan harta, dan jarang tertimpa bencana yang berat (hidup dalam kondisi "afiyah" atau sejahtera).
2. Kondisi di Hari Kiamat (Dalil Utama)
Perbedaan mencolok antara keduanya akan terlihat saat pembagian pahala di akhirat. Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi menjelaskan betapa besarnya kemuliaan yang diberikan kepada orang-orang yang bersabar atas musibah.
Dalil Hadis:
Rasulullah SAW bersabda:
> "Manusia yang hidup dalam kesejahteraan (Ahlul Afiyah) di dunia, nanti di hari kiamat akan berharap kulit-kulit mereka digunting dengan gunting ketika mereka melihat besarnya pahala yang diberikan kepada orang-orang yang tertimpa musibah (Ahlul Musibah)."
> (HR. At-Tirmidzi no. 2402, disahihkan oleh Al-Albani)
3. Hikmah di Balik Musibah
Islam mengajarkan bahwa setiap duri yang menusuk seorang mukmin adalah penggugur dosa. Bagi Ahlul Musibah, penderitaan mereka adalah cara Allah membersihkan mereka sehingga mereka menghadap Allah dalam keadaan suci.
Dalil Al-Qur'an:
Allah SWT berfirman mengenai balasan bagi orang yang sabar:
> "Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas."
> (QS. Az-Zumar: 10)
Dalil Hadis Lainnya:
> "Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka."
> (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Kesimpulan
Konsep ini bukan berarti seorang Muslim harus meminta musibah. Kita tetap diperintahkan memohon Afiyah (keselamatan/kesejahteraan) kepada Allah. Namun, jika musibah tetap datang, hadis di atas berfungsi sebagai penghibur hati bahwa:
 * Pahala Tanpa Hisab: Ahlul Musibah mendapatkan timbangan pahala yang begitu berat hingga membuat Ahlul Afiyah iri.
 * Keadilan Allah: Allah tidak menyia-nyiakan setetes air mata atau rasa sakit yang dirasakan hamba-Nya di dunia.
 * Perspektif Akhirat: Kehidupan dunia yang singkat tidak sebanding dengan kemuliaan abadi yang disiapkan bagi mereka yang ridha atas ketetapan-Nya.