Wednesday, September 02, 2026

Sehari yang Penuh Berkah

Tuban, Selasa, 1 September 2026

Alhamdulillah. Hari ini terasa seperti sebuah perjalanan panjang yang dipenuhi potongan-potongan kecil kebaikan. Sejak pagi hingga malam, selalu ada kemudahan dan peristiwa yang membuat hati ini berkali-kali mengucapkan syukur.

Pagi hari, langkah membawaku ke Hotel Lynn Tuban untuk meliput acara Pembukaan Coaching Clinic ISWMP. Sebenarnya, sempat ada rasa ragu. Sebelumnya, Pak Bos, Anis Sutrijono, sempat melarangku datang. Namun entah mengapa, hati kecil ini tetap ingin hadir. Bukan untuk membangkang, melainkan karena merasa ada sesuatu yang perlu dilakukan.
Alhamdulillah, akhirnya aku bisa mengikuti sekaligus meliput jalannya acara tersebut.

Hari pun terus bergerak.

Dalam perjalanan menuju Desa Sawir, sebuah pertemuan sederhana terjadi di sebuah pom bensin di Jenu. Aku bertemu dengan seseorang yang sama sekali belum kukenal. Rupanya, ia hendak melakukan perjalanan menuju Tangerang. Ia meminta menumpang bersamaku hingga Tambakboyo, sejauh arah perjalananku. Setelah itu, ia berencana melanjutkan perjalanan dengan cara estafet, menumpang kendaraan lain.

Tanpa banyak berpikir, aku pun mempersilahkannya naik.

Motor melaju membelah jalanan Tuban menuju arah Tambakboyo.

Sepanjang perjalanan, aku sempat berpikir, mungkin Allah memang tidak pernah mempertemukan kita dengan seseorang tanpa alasan. Kita mungkin tidak mengetahui siapa mereka, dari mana mereka datang, dan apakah kelak kami akan bertemu kembali. Namun selama kita masih memiliki kemampuan untuk membantu, mengapa harus menunggu mengenal seseorang terlebih dahulu?

Sesampainya di Desa Sobontoro, Kecamatan Tambakboyo, Tuban, kami berhenti di sebuah warung sederhana di tepi jalan. Waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB. Aku pun mengajaknya makan siang.

Tidak ada hidangan mewah. Hanya sepiring makanan sederhana di warung pinggir jalan.

Namun entah mengapa, hati terasa begitu lapang.

Mungkin memang benar, kebahagiaan tidak selalu datang ketika kita menerima sesuatu. Kadang, kebahagiaan justru hadir ketika kita mampu berbagi, meski hanya dalam bentuk yang sederhana.

Ternyata, perjalanan hari ini belum berhenti memberikan kejutan.

Urusan revisi laporan bulanan yang sebelumnya cukup mengganggu pikiran perlahan mulai dimudahkan. Koordinasi dengan Pak Carik Asrorudin dari Desa Sawir berjalan lancar. Mas Ali Hasan, selaku Petugas Pemberdayaan Masyarakat (PPM), juga membantu proses printing laporan.

Satu per satu persoalan yang semula terasa rumit, ternyata menemukan jalan keluarnya.

Aku kembali teringat bahwa manusia memang wajib berusaha. Namun tidak semua urusan dapat diselesaikan hanya dengan kekuatan sendiri. Ada saatnya kita membutuhkan bantuan orang lain. Dan mungkin, Allah mengirimkan pertolongan-Nya melalui tangan-tangan orang baik yang ada di sekitar kita.

Kemudian datang kabar yang sudah cukup lama kutunggu.

Siang tadi, honor sebagai Enumerator PIP akhirnya cair. Sebuah penantian sejak Juli 2026 yang akhirnya terjawab hari ini.

Alhamdulillah.

Rasa syukur itu semakin lengkap ketika sebagian rezeki tersebut bisa kukirimkan kepada Flora, anakku yang sedang menempuh pendidikan di Polinema Malang. Sebesar Rpxxxx mungkin bukan angka yang besar bagi sebagian orang. Namun, bagi seorang ayah, dapat mengirimkan uang kepada anak yang sedang berjuang menuntut ilmu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri.

Ada rasa haru yang sulit dijelaskan.

Pagi hari meliput sebuah acara. Siang hari bertemu dengan orang asing dan diberi kesempatan untuk berbagi perjalanan serta makan. Urusan pekerjaan dimudahkan oleh orang-orang baik. Rezeki yang lama ditunggu akhirnya datang. Lalu, dari rezeki itu, sebagian kembali mengalir kepada anak yang sedang berjuang mengejar cita-citanya.

Seolah semuanya menjadi rangkaian kecil yang saling terhubung.

Menjelang malam, tepat setelah menunaikan salat Maghrib, aku kembali diberi kesempatan untuk mengikuti pengajian di Masjid Lathifah An Nashr, yang berada tidak jauh dari kantorku di Sidorejo, Tuban. Pengajian tersebut disampaikan oleh Ustadz Abdus Salam AR.

Ceramah beliau kemudian aku dokumentasikan dan kutulis di firnas.blogspot.com. Setelah itu, dokumentasi tersebut kukirimkan kepada beliau dan kubagikan pula ke grup Majelis Tabligh Muhammadiyah PDM Tuban.

Alhamdulillah, apa yang kulakukan mendapat respons positif.

“Suwun Pak Firnas atas usahanya untuk mempermudah tampilan Ustadz-ustadz MTB Tuban di medsos,” tulis PakNo.

Sebuah kalimat sederhana, tetapi cukup membuat hati kembali bersyukur. Barangkali apa yang kita lakukan memang tidak selalu harus besar. Selama ada manfaat yang bisa dirasakan orang lain, sekecil apa pun usaha itu, insyaallah tetap bernilai sebagai sebuah kebaikan.

Hari ini benar-benar mengajarkanku bahwa kebaikan tidak pernah benar-benar hilang.

Mungkin ia tidak langsung kembali dalam bentuk yang sama.

Ketika kita memberi tumpangan kepada seseorang, Allah bisa saja membuka jalan rezeki dari arah lain. Ketika kita memberi makan orang lain, Allah mungkin memudahkan urusan yang sebelumnya terasa berat. Ketika kita berbagi dengan ikhlas, Allah mampu menggantinya dengan cara-cara yang tidak pernah kita duga sebelumnya.

Entahlah.

Mungkin inilah yang dinamakan buah dari keikhlasan. Buah dari tawakal. Dan mungkin pula, inilah salah satu keajaiban sedekah dan berbagi.

Manusia hanya mampu berusaha untuk berbuat baik dan berharap kepada Allah. Selebihnya, Allah-lah yang mengatur setiap langkah, setiap pertemuan, setiap kemudahan, dan setiap rezeki yang datang pada waktu yang tepat.

Hari ini, aku hanya ingin menutup semuanya dengan satu kalimat:

Alhamdulillahi rabbil 'alamin.

Terima kasih, ya Allah, untuk hari yang penuh dengan kejutan, pertolongan, pertemuan, kemudahan, dan rezeki.

Semoga hati ini senantiasa belajar untuk ikhlas ketika memberi, sabar ketika menunggu, tawakal ketika berusaha, serta tidak lupa bersyukur ketika nikmat-Mu datang.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Firnas Muttaqin 

Tuesday, September 01, 2026

Ustadz Abdus Salam AR: Menuntut Ilmu Menguatkan Iman dan Mengajarkan Manusia untuk Rendah Hati


TUBAN – Menuntut ilmu bukan sekadar upaya untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga menjadi jalan bagi seorang Muslim untuk semakin mengenal kebesaran Allah SWT, memperkuat keimanan, meningkatkan ketakwaan, serta membentuk akhlak yang baik.

Pesan tersebut disampaikan Ustadz Abdus Salam AR dalam pengajian Selasa malam, 1 September 2026, di Masjid Latifah An Nashr, Sidorejo Tuban. Dalam kajian tersebut, ia mengulas pentingnya menuntut ilmu, menghadapi ujian kehidupan, serta meneruskan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin tentang berbakti kepada orang tua, termasuk setelah mereka meninggal dunia.

Menurutnya, Al-Qur'an dan hadis banyak menjelaskan kedudukan penting ilmu dan kewajiban menuntut ilmu bagi setiap Muslim. Ilmu agama, terutama pemahaman terhadap Al-Qur'an dan hadis, menjadi salah satu jalan untuk memperoleh kebaikan yang dikehendaki Allah SWT.

Ia mengutip makna hadis Rasulullah SAW bahwa siapa yang dikehendaki Allah mendapatkan kebaikan, maka Allah akan memahamkannya tentang agama.

“Artinya, ciri orang yang dikehendaki Allah mendapatkan kebaikan adalah dia diberi pemahaman tentang ilmu agama, memahami Islam, Al-Qur'an, hadis, ibadah dan bagaimana menjalani kehidupan, baik untuk urusan dunia maupun akhirat,” jelasnya.

Ustadz Abdus Salam menekankan bahwa pemahaman ilmu harus diwujudkan dalam praktik kehidupan. Seorang Muslim tidak cukup hanya mengetahui ajaran agama, tetapi juga perlu memahami bagaimana melaksanakan salat, puasa dan ibadah lainnya sesuai tuntunan Rasulullah SAW.

Ilmu Menjadikan Manusia Semakin Tawadhu

Dalam kajiannya, ia juga menjelaskan bahwa seluruh ilmu pada hakikatnya dapat menjadi sarana untuk mengenal kebesaran Allah SWT. Manusia mempelajari berbagai bidang, mulai dari kehidupan manusia, tumbuhan, hewan, bumi hingga alam semesta.

“Semakin banyak kita belajar, seharusnya semakin kita mengetahui bahwa masih banyak yang belum kita ketahui. Dari situ kita semakin mengakui bahwa Allah Maha Besar dan Maha Mengetahui,” ujarnya.

Menurutnya, ilmu seharusnya menjadikan seseorang semakin rendah hati atau tawadhu, bukan justru sombong karena merasa paling pintar.

Ia mengibaratkan orang berilmu seperti padi yang semakin berisi justru semakin merunduk.

“Padi yang semakin berisi semakin menunduk. Begitu pula manusia. Ketika semakin banyak mendapatkan ilmu, seharusnya semakin tunduk kepada Allah, semakin tawadhu, semakin baik akhlaknya dan semakin banyak ibadahnya,” tuturnya.

Karena itu, menuntut ilmu perlu diniatkan sebagai ibadah dan kewajiban seorang Muslim. Ilmu juga menjadi sarana untuk menambah ketakwaan kepada Allah SWT.

“Dengan ilmu, iman kita semakin kuat, ibadah semakin baik dan akhlak juga semakin bagus,” katanya.

Ujian Menjadi Jalan untuk Semakin Dekat kepada Allah

Selain membahas pentingnya ilmu, Ustadz Abdus Salam juga mengingatkan jamaah tentang berbagai ujian kehidupan. Kekurangan harta, penyakit, kesulitan, kehilangan anggota keluarga maupun persoalan lainnya merupakan bagian dari ujian yang dapat dialami manusia.

Ia mengingatkan bahwa Allah SWT tidak akan membebani seseorang di luar batas kemampuannya. Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda dalam menghadapi ujian yang diberikan.

“Allah tidak akan membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya. Maka ketika kita diberi ujian, kita harus yakin bahwa dengan pertolongan Allah kita mempunyai kemampuan untuk menghadapinya,” jelasnya.

Ia mencontohkan Nabi Ayyub AS yang diberikan ujian berat berupa penyakit dalam waktu yang panjang. Ujian tersebut dapat dihadapi karena Allah mengetahui kemampuan hamba-Nya.

Menurutnya, ujian juga kerap membuat manusia kembali mengingat Allah. Seseorang yang sedang berada dalam keadaan nyaman terkadang lalai, namun ketika menghadapi kesulitan, ia kembali memohon pertolongan kepada Allah SWT.

“Kadang ketika manusia sedang diuji, dia menjadi semakin dekat kepada Allah. Namun setelah keadaan kembali tenang, jangan sampai kita kembali lupa kepada-Nya,” pesannya.

Berbakti kepada Orang Tua Tidak Berhenti Setelah Wafat

Pada bagian berikutnya, Ustadz Abdus Salam melanjutkan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin. Salah satu pembahasan yang disampaikan adalah mengenai cara seorang anak tetap berbakti kepada kedua orang tuanya setelah mereka meninggal dunia.

Ia menjelaskan sejumlah bentuk kebaikan yang masih dapat dilakukan, di antaranya mendoakan kedua orang tua, memohonkan ampun untuk mereka, memenuhi janji-janji baik yang pernah dibuat semasa hidup, serta menjaga dan menyambung hubungan silaturahim dengan keluarga maupun sahabat kedua orang tua.

“Doakan kedua orang tua kita, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Mohonkan ampun kepada Allah untuk mereka dan sambunglah silaturahim dengan keluarga serta orang-orang yang memiliki hubungan baik dengan kedua orang tua,” ujarnya.

Menurutnya, hubungan dengan saudara, kerabat maupun sahabat dekat ayah dan ibu perlu tetap dijaga sebagai salah satu bentuk penghormatan dan bakti seorang anak.

Kisah Aisyah dan Kecintaan Rasulullah kepada Khadijah

Kajian juga membahas hadis dari Aisyah RA mengenai besarnya penghormatan dan kecintaan Rasulullah SAW kepada Khadijah RA, meskipun Khadijah telah meninggal dunia.

Ustadz Abdus Salam menceritakan bahwa Rasulullah SAW tetap memperhatikan keluarga dan sahabat-sahabat Khadijah. Ketika menyembelih kambing, Rasulullah membagikan sebagian daging kepada orang-orang yang memiliki hubungan dekat dengan Khadijah.

Hal tersebut membuat Aisyah RA pernah merasa cemburu karena Rasulullah begitu sering mengenang Khadijah RA.

Menurut penjelasannya, Khadijah memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam perjalanan hidup dan dakwah Rasulullah SAW. Ia merupakan perempuan pertama yang beriman kepada Rasulullah, seorang saudagar yang memiliki kemampuan ekonomi, serta memberikan dukungan besar terhadap perjuangan dakwah Islam.

“Seluruh kemampuan dan hartanya banyak diperuntukkan untuk mendukung dakwah Rasulullah. Khadijah juga menjadi pendamping Rasulullah dalam masa-masa awal perjuangan Islam yang penuh tantangan,” terangnya.

Khadijah RA juga menjadi istri pertama Rasulullah SAW dan selama Khadijah masih hidup, Rasulullah tidak menikah dengan perempuan lain. Dari Khadijah pula Rasulullah SAW memiliki anak-anaknya.

Melalui kisah tersebut, jamaah diajak mengambil pelajaran tentang pentingnya menjaga kesetiaan, menghormati jasa orang-orang yang telah memberikan kebaikan, serta tetap menjalin hubungan dengan keluarga dan sahabat mereka.

Di akhir kajian, Ustadz Abdus Salam AR berharap ilmu yang dipelajari tidak berhenti sebagai pengetahuan semata, melainkan dapat memperkuat iman, meningkatkan ketakwaan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Semoga apa yang kita pelajari dapat bermanfaat, menambah keimanan, memperbaiki ibadah dan menjadikan kita semakin rendah hati di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala,” pungkasnya.

Penulis: FIRNAS MUTTAQIN

Sunday, August 30, 2026

Ustadz Saiun Ngalim Kupas Proses Penciptaan Manusia hingga Kehidupan Akhirat dalam Kajian Tafsir Jalalain


TUBAN – Ustadz Saiun Ngalim mengajak jamaah untuk merenungkan asal-usul penciptaan manusia, tujuan hidup di dunia, hingga kepastian kematian dan kebangkitan pada hari kiamat dalam pengajian rutin di Masjid Ad Dakwah, Perunggahan Kulon, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Ahad (30/8/2026).
Dalam kajian tersebut, Ustadz Saiun Ngalim membahas Tafsir Jalalain Surah Al-Mu'minun ayat 12 hingga 18 dengan tema Proses Kejadian Manusia dan Akhir Kehidupannya. Rangkaian ayat itu menjelaskan kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam menciptakan manusia, mengatur kehidupan, serta membangkitkan kembali seluruh manusia untuk menjalani hisab dan menerima balasan atas amal perbuatannya.

Kajian diawali dengan penjelasan firman Allah dalam Surah Al-Mu'minun ayat 12 mengenai penciptaan manusia pertama, Nabi Adam, dari saripati tanah.

"Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah," demikian makna firman Allah dalam ayat tersebut.

Ustadz Saiun menjelaskan bahwa setelah penciptaan Nabi Adam, keturunannya berkembang melalui proses yang telah ditetapkan Allah. Sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikutnya, manusia berasal dari nutfah atau air mani yang ditempatkan dalam tempat yang kokoh, yakni rahim.

Selanjutnya, Surah Al-Mu'minun ayat 14 menjelaskan tahapan penciptaan manusia, mulai dari nutfah, kemudian menjadi alaqah, berkembang menjadi mudghah, lalu terbentuk tulang-belulang yang dibungkus dengan daging hingga akhirnya menjadi makhluk dalam bentuk yang sempurna.

Menurut Ustadz Saiun, rangkaian proses tersebut seharusnya menjadi bahan renungan bagi manusia tentang betapa besar kekuasaan Allah dalam menciptakan kehidupan.

"Jadi, itu proses kejadian kita sebagai manusia. Dari tidak ada kemudian menjadi ada, berada di alam rahim ibu kita masing-masing, kemudian lahir dan hidup di dunia," ujarnya di hadapan jamaah.

Ia juga menjelaskan bahwa dalam penafsiran ayat tersebut terdapat pembahasan mengenai perbedaan bacaan atau qiraat pada beberapa lafaz Al-Qur'an. Hal itu, menurutnya, menunjukkan kekayaan khazanah keilmuan Islam sekaligus pentingnya memahami Al-Qur'an melalui penjelasan para ulama.

Setelah menjelaskan proses penciptaan manusia, Ustadz Saiun mengajak jamaah untuk memperhatikan kelanjutan firman Allah dalam ayat ke-15.

"Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati."

Menurutnya, kematian merupakan kepastian yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun. Setiap manusia yang telah hidup di dunia pada akhirnya akan kembali menghadapi kematian, tanpa memandang kedudukan, usia maupun keadaan.

"Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Kita semua sebelum lahir tidak ada, kemudian Allah menghidupkan kita di alam rahim, lahir ke dunia, dan setelah itu pasti mati," tuturnya.

Namun, menurut Ustadz Saiun, kematian bukanlah akhir dari seluruh perjalanan manusia. Berdasarkan Surah Al-Mu'minun ayat 16, setelah kematian manusia akan dibangkitkan kembali pada hari kiamat.

"Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan pada hari kiamat," demikian kandungan ayat tersebut.

Ia menjelaskan, kebangkitan itu menjadi awal kehidupan berikutnya, ketika seluruh manusia menjalani perhitungan atau hisab atas semua perbuatan yang telah dilakukan selama hidup di dunia.

"Setelah mati, kita akan hidup lagi. Tetapi bukan untuk beribadah seperti sekarang. Kita dibangkitkan untuk menjalani hisab dan menerima balasan dari setiap perbuatan yang telah kita kerjakan," jelasnya.

Dalam penjelasannya, Ustadz Saiun menghubungkan pembahasan tersebut dengan perjalanan hidup manusia, mulai dari tidak ada, kemudian hidup di alam rahim, menjalani kehidupan dunia, mengalami kematian, lalu dibangkitkan kembali pada hari kiamat.

Dari perjalanan tersebut, ia mengajak jamaah memiliki kesadaran tentang posisi manusia selama menjalani kehidupan di dunia. Menurutnya, manusia perlu memahami dari mana dirinya berasal, untuk apa diciptakan, apa yang harus dilakukan selama hidup, serta ke mana tujuan akhir setelah kehidupan dunia.

Ia kemudian menyampaikan pentingnya memiliki beberapa kesadaran dalam menjalani kehidupan. Pertama adalah sadar diri, yakni menyadari tujuan penciptaan manusia oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Ustadz Saiun menerangkan bahwa manusia dan jin diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Ibadah, menurutnya, tidak hanya terbatas pada ibadah mahdhah seperti salat, puasa dan ibadah yang tata caranya telah ditentukan secara khusus oleh agama.

Lebih luas, berbagai aktivitas kehidupan yang dilakukan dengan niat dan cara yang benar juga dapat menjadi bagian dari pengabdian kepada Allah.

"Bekerja, mencari nafkah, menolong dan bersilaturahmi, semuanya bisa menjadi bagian dari ibadah apabila dilakukan sesuai dengan ketentuan Allah," katanya.

Kesadaran berikutnya adalah memahami kedudukan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Manusia, menurutnya, memiliki tanggung jawab untuk mengelola dan memakmurkan kehidupan, bukan justru membuat kerusakan.

"Kita diciptakan Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi. Artinya, kita harus mengurus dan memakmurkan, tidak boleh membuat kerusakan," tegasnya.

Ustadz Saiun juga menekankan pentingnya kesadaran bahwa kehidupan dunia hanya bersifat sementara. Manusia saat ini berada dalam fase kehidupan dunia yang suatu saat akan berakhir dengan kematian.

"Posisi kita sekarang berada di dunia. Setelah ini kita akan mati, kemudian dibangkitkan lagi, dan setelah itu kita akan menerima balasan dari apa yang telah kita lakukan," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, ia mengingatkan jamaah agar tidak menjalani hidup tanpa memikirkan akibat dari setiap perbuatan. Setiap amal, baik maupun buruk, akan memperoleh balasan.

Ia mengutip pesan Rasulullah SAW yang pada intinya mengingatkan manusia untuk menjalani kehidupan sesuai kehendaknya, tetapi tetap menyadari bahwa kematian pasti datang dan setiap perbuatan akan mendapatkan balasan.

Menurutnya, manusia bebas menentukan jalan hidup, apakah memilih melakukan kebaikan atau keburukan. Namun, kebebasan tersebut tetap diikuti dengan tanggung jawab karena seluruh perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

"Kerjakanlah apa yang kamu sukai, tetapi kamu pasti akan mendapatkan balasan dari semua perbuatan itu. Karena itu, setiap akan melakukan sesuatu harus dipikirkan akibatnya," pesannya.

Ustadz Saiun menegaskan bahwa kesadaran terhadap kematian bukan berarti membuat manusia takut menjalani kehidupan. Justru, kepastian kematian seharusnya mendorong setiap orang untuk menggunakan kesempatan hidup dengan sebaik-baiknya.

"Hidup hanya sekali. Hiduplah dengan benar, berani hidup dan tidak takut mati. Karena orang hidup pasti akan mati. Yang terpenting adalah apa yang kita lakukan sebelum kematian itu datang," ungkapnya.

Di akhir kajian, ia mengajak jamaah untuk menjalani kehidupan dengan penuh keikhlasan, memperbanyak amal saleh dan selalu menyerahkan hasil dari setiap usaha kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Ia juga mengingatkan bahwa seluruh ibadah, kehidupan dan kematian manusia pada hakikatnya hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam.

Dengan memahami proses penciptaan manusia dan perjalanan kehidupannya, Ustadz Saiun berharap jamaah semakin menyadari tujuan keberadaan manusia di dunia. Kesadaran tersebut diharapkan dapat mendorong setiap muslim untuk memperbaiki amal, menjaga kehidupan dengan baik, menjalankan tugas sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi, serta mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah kematian.

Penulis: FIRNAS MUTTAQIN

Majelis Tabligh PDM Tuban Dorong Penguatan Kader Mubaligh dan Tim Perawatan Jenazah di Semanding Tuban


TUBAN – Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Tuban terus mendorong penguatan kader dakwah hingga tingkat cabang dan ranting. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengajak seluruh unsur Muhammadiyah untuk mengirimkan kader dalam program Akademi Mubaligh Muhammadiyah serta membentuk tim perawatan jenazah.

Hal tersebut disampaikan Ketua Majelis Tabligh PDM Muhammadiyah Kabupaten Tuban, Adi Mulyo, dalam kegiatan yang berlangsung di Masjid Ad Dakwah, Desa Perunggahan Kulon, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Ahad (30/8/2026).

Menurut Adi Mulyo, Majelis Tabligh PDM Kabupaten Tuban saat ini memiliki sejumlah program yang membutuhkan dukungan dan keterlibatan aktif dari Majelis Tabligh di tingkat cabang maupun ranting.

Salah satunya adalah program Akademi Mubaligh Muhammadiyah. Melalui program tersebut, pihaknya berharap setiap cabang dapat mengirimkan kader-kader terbaik untuk mengikuti pembinaan dan penguatan kapasitas sebagai mubaligh.

“Kami berharap ada dukungan dari Majelis Tabligh cabang untuk mengutus kader-kadernya mengikuti Akademi Mubaligh Muhammadiyah. Harapannya, kader-kader ini bisa terus tumbuh dan semakin bermanfaat bagi masyarakat atau umat, khususnya di daerah-daerah yang membutuhkan,” ujar Adi Mulyo.

Ia menilai keberadaan kader mubaligh yang memiliki kemampuan dan pemahaman keagamaan yang baik menjadi kebutuhan penting dalam memperkuat gerakan dakwah Muhammadiyah di tengah masyarakat.

Selain program Akademi Mubaligh, Majelis Tabligh PDM Muhammadiyah Kabupaten Tuban juga tengah mendorong pembentukan tim perawatan jenazah di setiap cabang.

Program tersebut dikemas dalam wadah Jamaah Takziah Muhammadiyah (JATAMU). Menurut Adi Mulyo, program itu diharapkan mampu menghadirkan personel-personel yang memiliki kemampuan untuk membantu masyarakat dalam proses perawatan jenazah sesuai tuntunan Islam.

“Harapannya, masing-masing cabang bisa menyediakan atau mengutus minimal tiga orang untuk menjadi tim perawatan jenazah. Kami ingin di setiap cabang tumbuh personel atau orang-orang yang mampu merawat jenazah sesuai tata cara yang telah dipandu dalam Himpunan Putusan Tarjih,” jelasnya.

Ia berharap ke depan seluruh cabang Muhammadiyah di Kabupaten Tuban memiliki tim perawatan jenazah yang siap membantu ketika terdapat warga Persyarikatan maupun masyarakat Muslim yang membutuhkan.

Menurutnya, pembentukan tim tersebut juga harus diperkuat hingga ke tingkat ranting. Sinergi antara cabang dan ranting dinilai penting agar pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan lebih cepat dan efektif.

“Harapannya antara cabang dan ranting bisa bersinergi. Cabang dapat memberikan dukungan kepada ranting-ranting sehingga ketika di setiap wilayah tersedia personel yang siap, kita akan lebih mudah bergerak saat warga benar-benar membutuhkan bantuan,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Adi Mulyo juga mengajak warga Muhammadiyah di Kecamatan Semanding yang memiliki kesiapan dan kepedulian untuk bergabung sebagai personel tim perawatan jenazah.

Bagi jamaah yang bersedia terlibat, ia mempersilakan untuk berkoordinasi dengan Ustadz Heri selaku pihak yang akan membantu menyampaikan dan menghubungkan calon personel dengan Majelis Tabligh PDM Kabupaten Tuban.

Adi Mulyo berharap program Akademi Mubaligh Muhammadiyah maupun pembentukan Jamaah Takziah Muhammadiyah dapat berjalan secara optimal melalui dukungan seluruh unsur Persyarikatan.

“Harapan kami, program-program ini benar-benar dapat berjalan dan pada akhirnya mampu membantu warga, khususnya warga Persyarikatan Muhammadiyah dan pada umumnya masyarakat Muslim, termasuk di Kecamatan Semanding,” pungkasnya.

Penulis: FIRNAS MUTTAQIN

Saturday, August 29, 2026

Ibroh Kisah Nabi Musa hingga Qabil-Habil, Kajian Surah Al-Maidah Ajarkan Ketaatan dan Pengendalian Diri


TUBAN – Ustadz Saiun Ngalim mengajak jamaah untuk mengambil pelajaran dari kisah-kisah yang terdapat dalam Surah Al-Maidah dalam pengajian Sabtu malam di Masjid Al Fajri Tuban, Sabtu (29/8/2026).
                Ustadz Saiun Ngalim

Dalam kajian tersebut, Ustadz Saiun membahas sejumlah peristiwa penting yang mengandung pelajaran tentang ketaatan kepada Allah SWT, akibat pembangkangan terhadap perintah-Nya, pentingnya ketakwaan, hingga larangan melakukan kekerasan dan pembunuhan.

Salah satu kisah yang dikaji adalah perjalanan Nabi Musa AS bersama kaumnya. Ustadz Saiun menjelaskan tentang sikap Nabi Musa yang memohon pertolongan kepada Allah SWT ketika menghadapi kaumnya yang membangkang dan enggan melaksanakan perintah-Nya.

Hal tersebut sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Maidah ayat 25, ketika Nabi Musa AS berdoa kepada Allah SWT:

«“Qāla rabbī innī lā amliku illā nafsī wa akhī fafruq bainanā wa bainal-qaumil-fāsiqīn.”»

Artinya: “Dia (Musa) berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Karena itu, pisahkanlah antara kami dan kaum yang fasik itu.’”

Ustadz Saiun menjelaskan, doa tersebut menunjukkan bahwa Nabi Musa AS telah menghadapi penolakan dan pembangkangan dari kaumnya. Ketika berbagai upaya telah dilakukan, Nabi Musa menyerahkan persoalan tersebut kepada Allah SWT.

“Dengan kalimat ini mengandung pengertian Nabi Musa itu sudah tidak mampu lagi menghadapi kaumnya yang membangkang. Nabi Musa kemudian menyerahkan persoalan itu kepada Allah,” ujar Ustadz Saiun dalam kajiannya.

Sikap pembangkangan tersebut, lanjutnya, membawa konsekuensi berat bagi kaum Bani Israil. Mereka yang diperintahkan untuk memasuki negeri yang telah ditentukan bagi mereka justru menunjukkan ketakutan dan penolakan.

Akibat pembangkangan itu, Allah SWT memberikan hukuman sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Maidah ayat 26:

«“Qāla fa innahā muharramatun ‘alaihim arba‘īna sanatan yatīhūna fil-ardhi falā ta’sa ‘alal-qaumil-fāsiqīn.”»

Artinya: “Allah berfirman, ‘Sesungguhnya negeri itu terlarang bagi mereka selama empat puluh tahun. Mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi itu. Maka janganlah engkau bersedih hati terhadap kaum yang fasik itu.’”

“Selama 40 tahun mereka berada dalam keadaan kebingungan. Ini sebagai balasan atas sikap mereka yang tidak mau menjalankan perintah Allah,” jelasnya.

Menurut Ustadz Saiun, kisah tersebut menjadi pelajaran penting bahwa perintah Allah harus disikapi dengan keimanan, ketaatan, dan keberanian. Seorang mukmin tidak semestinya membangkang ketika telah mengetahui suatu perintah yang datang dari Allah SWT.

Selain mengulas kisah Nabi Musa AS, Ustadz Saiun Ngalim juga membahas kisah dua putra Nabi Adam AS, yang dalam khazanah Islam dikenal sebagai Qabil dan Habil. Kisah tersebut dijelaskan dalam Surah Al-Maidah ayat 27.

Dalam ayat tersebut, Allah SWT menceritakan tentang dua putra Adam yang sama-sama mempersembahkan kurban, namun hanya kurban salah seorang di antara keduanya yang diterima.

Allah SWT berfirman:

«“Watlu ‘alaihim naba’a ibnai Ādama bil-haqqi idz qarrabā qurbānan fatuqubbila min ahadihimā wa lam yutaqabbal minal-ākhar. Qāla la aqtulannak. Qāla innamā yataqabbalullāhu minal-muttaqīn.”»

Artinya: “Bacakanlah kepada mereka berita tentang dua putra Adam dengan sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, lalu diterima dari salah seorang di antara keduanya dan tidak diterima dari yang lain. Dia berkata, ‘Sungguh, aku pasti akan membunuhmu.’ Dia menjawab, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.’”

Ustadz Saiun menjelaskan bahwa ayat tersebut mengajarkan pentingnya ketakwaan sebagai dasar diterimanya amal seseorang di sisi Allah SWT.

“Allah hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa,” terang Ustadz Saiun, mengutip kandungan Surah Al-Maidah ayat 27.

Menurutnya, diterima atau tidaknya suatu amal bukan semata-mata ditentukan oleh bentuk lahiriahnya. Ketakwaan dan keikhlasan dalam menjalankan perintah Allah menjadi bagian penting dalam setiap amal yang dilakukan seorang hamba.

Penolakan kurban itu kemudian memunculkan rasa iri dan dengki dalam diri Qabil. Ia bahkan mengancam akan membunuh saudaranya. Namun, Habil memberikan jawaban yang menunjukkan keteguhan iman dan rasa takut kepada Allah SWT.

Sikap tersebut dijelaskan dalam Surah Al-Maidah ayat 28:

«“La’in basathta ilayya yadaka litaqtulanī mā ana bibāsithin yadiya ilaika li-aqtulaka innī akhāfullāha rabbal-‘ālamīn.”»

Artinya: “Sungguh, jika engkau mengulurkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan mengulurkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.”

Ustadz Saiun menjelaskan, meskipun Qabil mengancam akan mengulurkan tangan untuk membunuh, Habil tidak membalas ancaman tersebut dengan ancaman yang sama.

“Kalau kamu mengulurkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, maka aku tidak akan mengulurkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam,” tuturnya saat menjelaskan sikap Habil.

Menurutnya, jawaban Habil tersebut mengandung pelajaran besar tentang pengendalian diri. Kejahatan tidak seharusnya dibalas dengan kejahatan, terlebih sampai menghilangkan nyawa seseorang.

“Ini menunjukkan bagaimana seseorang yang benar-benar takut kepada Allah mampu menguasai dirinya. Walaupun diancam, dia tidak kemudian membalas dengan melakukan kejahatan yang sama,” ungkap Ustadz Saiun.

Ia juga mengingatkan jamaah tentang bahaya iri hati, dengki, dan kemarahan yang tidak dikendalikan. Perasaan tersebut, apabila dibiarkan menguasai diri seseorang, dapat mendorong lahirnya tindakan-tindakan yang bertentangan dengan ajaran agama.

Kisah Qabil dan Habil, menurutnya, menjadi peringatan bahwa persoalan dapat bermula dari hati yang tidak mampu menerima ketentuan Allah. Ketika rasa dengki dibiarkan tumbuh, seseorang dapat kehilangan kemampuan untuk membedakan antara kebenaran dan kesalahan.

Kisah tersebut berlanjut dalam Surah Al-Maidah hingga ayat-ayat berikutnya, yang menggambarkan bagaimana hawa nafsu akhirnya mendorong salah seorang dari keduanya melakukan pembunuhan terhadap saudaranya. Dari peristiwa itu, Al-Qur’an memberikan peringatan besar tentang akibat buruk iri hati, kedengkian, dan ketidakmampuan mengendalikan hawa nafsu.

Ustadz Saiun juga menyinggung bahaya pertikaian dan kekerasan di antara sesama Muslim. Ia mengingatkan agar umat Islam tidak mudah dikuasai amarah hingga saling menyerang dan menyakiti.

“Kalau ada dua orang Muslim bertemu kemudian saling membunuh, persoalan ini sangat berat di hadapan Allah. Karena itu, jangan sampai kemarahan dan hawa nafsu menguasai diri kita,” pesannya.

Ia menambahkan, seseorang harus mampu mengendalikan hawa nafsunya ketika menghadapi persoalan. Jangan sampai kemarahan sesaat justru mendorong seseorang melakukan tindakan yang akan disesali sepanjang hidup.

“Yang harus kita kuasai adalah diri kita sendiri. Jangan sampai perasaan, kemarahan dan hawa nafsu menguasai kita,” tegasnya.

Melalui pengajian Surah Al-Maidah tersebut, Ustadz Saiun mengajak jamaah menjadikan kisah-kisah dalam Al-Qur’an bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan sebagai pelajaran yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kisah Nabi Musa AS dalam Surah Al-Maidah ayat 25–26 mengajarkan tentang akibat pembangkangan terhadap perintah Allah. Sementara kisah dua putra Nabi Adam AS yang dikenal sebagai Qabil dan Habil dalam Surah Al-Maidah ayat 27–28, serta kelanjutan kisahnya pada ayat-ayat berikutnya, mengingatkan tentang pentingnya ketakwaan, bahaya iri dan dengki, serta kewajiban mengendalikan hawa nafsu.

Ketaatan kepada Allah, ketakwaan dalam beramal, kemampuan mengendalikan hawa nafsu, serta menjauhi iri, dengki, dan kekerasan menjadi pesan utama yang disampaikan dalam pengajian Sabtu malam di Masjid Al Fajri Tuban itu.

“Al-Qur'an ini bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk diambil pelajarannya. Kisah-kisah yang disampaikan Allah kepada kita harus menjadi peringatan agar kita tidak mengulangi kesalahan umat terdahulu,” pungkas Ustadz Saiun.

Pengajian tersebut diharapkan dapat menambah pemahaman keagamaan jamaah sekaligus memperkuat kesadaran untuk menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Penulis: FIRNAS MUTTAQIN

Tuesday, August 25, 2026

Milad Ketiga Masjid Supangat: Mlaku Bareng, Menguatkan Iman dan Memperluas Manfaat

TUBAN — Semarak Milad ke-3 Masjid Supangat, Panyuran, Kabupaten Tuban, berlangsung meriah, Selasa (25/8/2026). Mengusung semangat “Mengakar dalam Iman, Bertumbuh untuk Peradaban”, rangkaian kegiatan tidak hanya menghadirkan nuansa keagamaan, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan, pelayanan sosial, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat.

Rangkaian Milad ke-3 Masjid Supangat telah dimulai sejak agenda Kajian Ahad Pagi. Kegiatan keagamaan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam menyemarakkan milad sekaligus menguatkan pesan dakwah dan pembinaan keimanan bagi jamaah.

Usai Kajian Ahad Pagi, kegiatan dilanjutkan dengan senam pagi. Jamaah dan masyarakat diajak menjaga kebugaran tubuh melalui aktivitas olahraga bersama. Perpaduan kajian keagamaan dan senam pagi tersebut menunjukkan bahwa semangat memakmurkan masjid tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan ibadah, tetapi juga kepedulian terhadap kesehatan dan kebersamaan warga.

Puncak kemeriahan kemudian hadir melalui kegiatan “Mlaku Bareng” yang digelar Selasa (25/8/2026). Kegiatan ini diikuti diperkirakan ribuan peserta dari berbagai kalangan masyarakat, terutama warga Panyuran, Tasikmadu, dan wilayah sekitarnya.

Warga berbaur dalam suasana penuh keakraban. Para peserta berjalan santai dari kawasan Masjid Supangat dengan penuh antusias, menjadikan jalan sehat tersebut bukan sekadar kegiatan olahraga, tetapi juga momentum mempererat silaturahmi antarwarga.

Panitia menyiapkan berbagai doorprize, di antaranya tiga ekor kambing serta sejumlah hadiah menarik lainnya seperti mesin cuci, lemari, peralatan rumah tangga, dan hadiah bagi peserta yang beruntung. Selain itu, tersedia pula 500 porsi bakso gratis untuk masyarakat.

Semangat berbagi menjadi salah satu warna kuat dalam perayaan milad tahun ketiga ini. Berbagai kegiatan sosial turut digelar, mulai dari pengajian Subuh spesial milad, khitanan massal, donor darah, pemeriksaan mata gratis, bekam gratis, pembagian bibit pohon buah, hingga bazar sembako murah.
Ketua DPRD Kabupaten Tuban Sugiantoro, S.E., yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, memberikan apresiasi terhadap perkembangan Masjid Supangat. Ia menilai kegiatan yang digelar pengurus masjid menunjukkan kreativitas dan inovasi dalam menghadirkan program yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Apresiasi serupa disampaikan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Tuban, Kyai Masrukin. Menurutnya, Masjid Supangat sejak awal tidak hanya diarahkan sebagai tempat ibadah, tetapi juga dikembangkan sebagai pusat dakwah, pendidikan, silaturahmi, dan pelayanan sosial.
Kiprah tersebut semakin menguat setelah Masjid Supangat meraih penghargaan dalam ajang Kompetisi Masjid Muhammadiyah se-Jawa Timur pada perayaan milad sebelumnya. Prestasi itu menjadi salah satu penanda bahwa masjid yang relatif masih muda tersebut mampu menunjukkan kontribusinya di tengah masyarakat.

“Pada usia ketiga ini, kita rayakan dengan bakti sosial, khitanan massal, jalan sehat, pembagian bibit tanaman, serta berbagai kegembiraan lainnya. Semoga semakin kokoh iman kita, semakin meluas manfaatnya, dan Masjid Supangat senantiasa diberkahi,” ujar Kyai Masrukin.

Kemeriahan Milad ke-3 Masjid Supangat juga menjadi ruang bagi pelaku UMKM untuk ikut mengambil bagian. Sejumlah UMKM turut memeriahkan kegiatan dengan membuka lapak dan menawarkan berbagai produk kepada masyarakat yang hadir. Kehadiran mereka membuat kawasan sekitar masjid tidak hanya menjadi pusat kegiatan keagamaan, tetapi juga ikut menggerakkan aktivitas ekonomi warga.

Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan bagaimana masjid dapat menjadi ruang perjumpaan berbagai unsur masyarakat. Jamaah, warga, pelaku UMKM, komunitas, organisasi, dan para dermawan bertemu dalam suasana kebersamaan yang membawa pesan kemanfaatan.
Dengan peserta yang diperkirakan mencapai ribuan orang, Mlaku Bareng akhirnya bukan sekadar kegiatan jalan sehat. Ia menjadi bagian dari rangkaian panjang Milad ke-3 Masjid Supangat yang sejak Kajian Ahad Pagi, senam pagi, hingga berbagai kegiatan sosial berusaha menyatukan nilai iman, kesehatan, silaturahmi, kepedulian, dan pemberdayaan masyarakat.

Memasuki usia ketiga, Masjid Supangat menunjukkan bahwa tema “Mengakar dalam Iman, Bertumbuh untuk Peradaban” bukan sekadar slogan. Semangat tersebut diterjemahkan melalui kegiatan nyata yang berusaha menghubungkan kehidupan beragama dengan kepedulian sosial dan kemanfaatan bagi masyarakat.

Dari masjid, semangat kebersamaan bergerak ke tengah masyarakat. Dari kajian tumbuh penguatan iman, dari senam lahir kesadaran hidup sehat, dari jalan bersama terjalin silaturahmi, dan dari berbagai kegiatan sosial mengalir manfaat bagi sesama. (*)

FIRNAS MUTTAQIN

Kajian Selasa Pagi di Masjid Supangat Tasikmadu: Al-Qur’an sebagai Sumber Ilmu dan Petunjuk Kehidupan

Tuban — Kajian Selasa Pagi (25/8/2026) di Masjid Supangat, Tasikmadu, Tuban, menghadirkan Dr. Ahmad Shobrun Jamil sebagai pembicara. Dalam kajiannya, ia mengajak jamaah merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan kehidupan manusia, azab akhirat, kesehatan, hingga perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Salah satu bagian kajian membahas gambaran azab bagi orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah. Dalam penjelasannya, Dr. Ahmad Shobrun Jamil mengingatkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya memberikan gambaran tentang kehidupan akhirat, tetapi juga menjadi peringatan agar manusia tetap berada di jalan iman dan ketaatan.

Ia kemudian mengaitkannya dengan Surah An-Naba’ ayat 24–25:

«لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا ۝ إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا»

“Di sana mereka tidak merasakan kesejukan dan tidak pula mendapat minuman, kecuali air yang mendidih dan ghasaq.”

Menurutnya, ayat tersebut menggambarkan bahwa di neraka tidak terdapat kenyamanan. Ada ḥamīm, yaitu sesuatu yang sangat panas, dan ghas-sāq, yang dalam penjelasan tafsir yang disampaikan dalam kajian digambarkan sebagai bentuk azab yang sangat dingin dan menyakitkan.

“Jadi di neraka tidak ada istirahat. Panas menyiksa, dingin pun menjadi azab,” demikian inti pesan yang disampaikan kepada jamaah.

Al-Qur’an dan Pelajaran tentang Kesehatan

Pembahasan kemudian diarahkan pada persoalan kesehatan, khususnya kondisi seseorang yang terlalu lama berbaring. Dr. Ahmad Shobrun Jamil menjelaskan bahwa tekanan tubuh dalam waktu lama dapat menghambat aliran darah pada bagian tertentu sehingga berpotensi menimbulkan luka tekan atau pressure sore.

Menurutnya, manusia kemudian mengembangkan berbagai teknologi untuk mengurangi tekanan tersebut, antara lain dengan mengubah posisi tubuh secara berkala maupun menggunakan kasur khusus.

Ia menghubungkan fenomena tersebut dengan kisah Ashabul Kahfi dalam Surah Al-Kahfi ayat 18:

«وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ»

“Dan Kami membolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri.”

Ayat tersebut, menurutnya, dapat menjadi bahan renungan tentang bagaimana Allah menjaga para penghuni gua yang berada dalam kondisi tidur dalam waktu yang sangat lama.

Dr. Ahmad menekankan bahwa membaca Al-Qur’an tidak semestinya berhenti pada aktivitas membaca teks, tetapi dilanjutkan dengan proses berpikir, mengamati alam, dan mengambil pelajaran dari berbagai fenomena kehidupan.

Dari Pengamatan Burung hingga Teknologi Penerbangan

Bagian lain kajian membahas hubungan antara Al-Qur’an dan perkembangan ilmu pengetahuan. Ia mencontohkan kisah Abbas Ibnu Firnas, ilmuwan dari Andalusia yang dikenal memiliki ketertarikan terhadap penerbangan dan mengamati kemampuan burung untuk terbang.

Pembahasan tersebut dikaitkan dengan Surah Al-Mulk ayat 19:

«أَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صَافَّاتٍ وَيَقْبِضْنَ ۚ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلَّا الرَّحْمَٰنُ»

“Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang berada di atas mereka, yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya? Tidak ada yang menahannya selain Yang Maha Pengasih.”

Menurut Dr. Ahmad Shobrun Jamil, ayat tersebut mengajarkan manusia untuk memperhatikan, berpikir, mengamati, dan menggali ilmu dari ciptaan Allah. Pengamatan terhadap alam dapat mendorong lahirnya pertanyaan dan penelitian yang kemudian berkembang menjadi ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ia mengingatkan jamaah bahwa kemajuan teknologi seharusnya tidak menjauhkan manusia dari Allah. Sebaliknya, ilmu pengetahuan semestinya semakin memperkuat kesadaran bahwa alam semesta memiliki keteraturan dan berada dalam kekuasaan-Nya.

Al-Qur’an Tidak Sekadar untuk Dibaca

Menutup kajiannya, Dr. Ahmad Shobrun Jamil mengajak jamaah menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber petunjuk yang mendorong manusia untuk belajar dan berpikir.

“Al-Qur’an bukan sekadar dibaca, tetapi dipelajari. Bukan sekadar kitab untuk ibadah, tetapi juga menjadi petunjuk dalam memahami kehidupan,” menjadi pesan penting yang mengemuka dalam kajian tersebut.

Kajian Ahad Pagi di Masjid Supangat Tasikmadu itu pun menjadi momentum bagi jamaah untuk kembali melihat Al-Qur’an secara lebih luas: sebagai kitab petunjuk, sumber renungan, sekaligus pendorong manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dengan tetap berlandaskan keimanan.

Al-Qur’an dibaca dengan lisan, direnungkan dengan akal, dan diwujudkan dalam kehidupan. (*)

Firnas Muttaqin 

Saturday, August 22, 2026

Kajian Surah Al-Mā’idah Ayat 20–24: Keteguhan Iman dan Keberanian Menghadapi Ujian

Tuban, 22 Agustus 2026 — Kajian tafsir Al-Qur’an di Masjid Al-Fajri, Tuban, Sabtu malam (22/8/2026), bersama Ustadz Saiun Ngalim, mengangkat pembahasan Surah Al-Mā’idah ayat 20–24. Kajian tersebut mengulas kisah Nabi Musa a.s. dan Bani Israil ketika diperintahkan memasuki tanah suci, sekaligus menggali pelajaran tentang keberanian, ketaatan, dan keteguhan dalam menjalankan perintah Allah.

Dalam kajiannya, Ustadz Saiun Ngalim terlebih dahulu mengaitkan pembahasan dengan kisah yang menjadi latar belakang nama Surah Al-Mā’idah, yakni permohonan kaum Hawariyyun kepada Nabi Isa a.s. agar Allah menurunkan hidangan dari langit. Peristiwa tersebut menjadi salah satu gambaran tentang besarnya nikmat dan tanda kekuasaan Allah kepada manusia.

Pembahasan kemudian berlanjut pada kisah Nabi Musa a.s. dan Bani Israil. Setelah diselamatkan Allah dari kejaran Firaun dan diberikan berbagai nikmat, termasuk manna dan salwa, Bani Israil justru menunjukkan sikap kurang bersyukur dengan meminta berbagai jenis makanan yang biasa mereka dapatkan di bumi.

Perintah Memasuki Tanah Suci

Memasuki inti kajian, Ustadz Saiun Ngalim menjelaskan Surah Al-Mā’idah ayat 21, ketika Nabi Musa a.s. memerintahkan kaumnya untuk memasuki tanah suci yang telah ditetapkan Allah bagi mereka.

Menurut penjelasan dalam kajian, tanah suci tersebut berkaitan dengan kawasan Baitul Maqdis dan wilayah Syam. Namun, ketika diperintahkan untuk masuk, Bani Israil justru diliputi ketakutan karena melihat adanya kaum yang dianggap kuat dan gagah perkasa.

Sikap tersebut digambarkan dalam Surah Al-Mā’idah ayat 22, ketika mereka mengatakan bahwa mereka tidak akan memasuki wilayah tersebut sebelum kaum yang mereka takuti itu keluar dari sana.

Ustadz Saiun Ngalim menekankan bahwa rasa takut yang berlebihan dapat membuat seseorang kehilangan keberanian untuk menjalankan kebenaran. Menurutnya, ukuran kekuatan manusia tidak semata-mata terletak pada fisik, jumlah, maupun perlengkapan, tetapi juga pada keberanian dan keteguhan hati yang bersandar kepada Allah.

Dua Orang yang Mengajak Berani

Di tengah ketakutan Bani Israil, terdapat dua orang yang menunjukkan sikap berbeda. Keduanya mengajak kaumnya untuk memasuki wilayah tersebut melalui pintu gerbang dan bersandar kepada pertolongan Allah.

Pesan utama yang ditekankan adalah pentingnya tawakal yang disertai keberanian dan ikhtiar. Keimanan tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan dalam keberanian menjalankan perintah Allah.

Namun, ajakan tersebut tidak mampu mengubah sikap mayoritas Bani Israil. Dalam Surah Al-Mā’idah ayat 24, mereka bahkan mengatakan kepada Nabi Musa a.s. agar pergi bersama Tuhannya untuk berperang, sementara mereka memilih tetap tinggal.

Sikap pembangkangan tersebut menjadi pelajaran penting tentang akibat ketika manusia lebih memilih rasa takut daripada ketaatan.

Perbandingan dengan Perjuangan Para Sahabat

Dalam kajian tersebut, Ustadz Saiun Ngalim juga mengaitkan kisah Bani Israil dengan sikap para sahabat Nabi Muhammad ﷺ, khususnya dalam menghadapi Perang Badar.

Kaum Muslimin ketika itu menghadapi kekuatan Quraisy dengan jumlah yang jauh lebih besar. Namun, para sahabat menunjukkan sikap berbeda dari Bani Israil. Mereka tidak memilih duduk dan menyerahkan perjuangan kepada orang lain, tetapi menyatakan kesiapan untuk mengikuti perintah Rasulullah ﷺ.

Dari perbandingan tersebut, jamaah diajak memahami bahwa kemenangan bukan hanya ditentukan oleh jumlah dan kekuatan fisik. Keimanan, ketaatan, keberanian, ikhtiar, dan tawakal kepada Allah menjadi modal penting dalam menghadapi berbagai ujian.

Relevansi bagi Kehidupan Bangsa Indonesia

Kajian kemudian dikaitkan dengan perjalanan bangsa Indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Semangat perjuangan para pahlawan dan pendiri bangsa menunjukkan bahwa kemerdekaan tidak diperoleh dengan sikap pasif, tetapi melalui keberanian, pengorbanan, persatuan, dan doa kepada Allah SWT.

Hal tersebut tercermin dalam Pembukaan UUD 1945 melalui kalimat, “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa...”

Menurut pesan yang disampaikan dalam kajian, kalimat tersebut mengingatkan bahwa perjuangan manusia harus berjalan bersama ikhtiar dan tawakal. Pertolongan Allah diharapkan oleh mereka yang bersungguh-sungguh berjuang, bukan mereka yang memilih menyerah sebelum menghadapi tantangan.

Kajian Surah Al-Mā’idah ayat 20–24 tersebut akhirnya mengajak jamaah untuk tidak mudah takut menghadapi persoalan, tidak menyerah sebelum berusaha, serta senantiasa menjadikan Allah sebagai tempat bersandar.

Penulis: Firnas Muttaqin

Saturday, August 15, 2026

Kajian Surah Al-Maidah di Masjid Al Fajri: Meneguhkan Tauhid dan Mengikuti Jalan Keselamatan. Ustadz Saiun Ngalim

Tuban — Sabtu malam, 15 Agustus 2026. Masjid Al Fajri Tuban kembali menggelar pengajian rutin tafsir Al-Qur’an. Pada kesempatan tersebut, Ustadz Saiun Ngalim mengajak jamaah mendalami kandungan Surah Al-Maidah, khususnya pesan ayat tentang datangnya Rasulullah ﷺ sebagai pembawa kebenaran, fungsi Al-Qur’an sebagai petunjuk, serta penegasan kemurnian tauhid.

Dalam kajiannya, Ustadz Saiun Ngalim menekankan bahwa Al-Qur’an tidak hanya untuk dibaca, tetapi harus dipahami dan dijadikan pedoman dalam kehidupan.

«“Kalau kita benar-benar mengikuti petunjuk Allah, maka Allah akan menunjukkan jalan keselamatan. Jangan sampai kita hanya mengaku beriman, tetapi dalam kehidupan justru jauh dari petunjuk Al-Qur’an.”»

Al-Qur’an Membawa dari Kegelapan Menuju Cahaya

Salah satu ayat yang menjadi pembahasan adalah Surah Al-Maidah ayat 15–16. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

«يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِّمَّا كُنتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ ۚ قَدْ جَاءَكُم مِّنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ»

«“Wahai Ahli Kitab! Sungguh, telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak hal yang kamu sembunyikan dari isi Kitab, dan banyak pula yang dibiarkannya. Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang jelas.”
(QS. Al-Maidah: 15)»

Dilanjutkan pada ayat 16:

«يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ»

«“Dengan Kitab itu Allah memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan-jalan keselamatan, dan dengan Kitab itu pula Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya dengan izin-Nya, dan menunjukkan mereka ke jalan yang lurus.”
(QS. Al-Maidah: 16)»

Menurut Ustadz Saiun Ngalim, ayat tersebut memberikan gambaran bahwa petunjuk Allah membawa manusia keluar dari az-zulumat, yakni berbagai bentuk kegelapan berupa kekafiran, kesesatan, dan penyimpangan, menuju an-nur, yaitu keimanan, kebenaran, dan petunjuk Allah.

«“Cahaya itu adalah petunjuk Allah. Orang yang mengikuti keridaan Allah akan dibimbing menuju jalan keselamatan. Karena itu, Al-Qur’an harus menjadi pedoman, bukan hanya sekadar bacaan,” jelasnya dalam kajian.»

Meneguhkan Kemurnian Tauhid

Pembahasan kemudian berlanjut pada penegasan Al-Qur’an mengenai kedudukan Nabi Isa Alaihissalam. Dalam Surah Al-Maidah, Allah memberikan peringatan terhadap keyakinan yang menempatkan Al-Masih pada kedudukan sebagai Tuhan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

«لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۖ قُلْ فَمَن يَمْلِكُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ أَن يُهْلِكَ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ وَمَن فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ۗ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ»

«“Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putra Maryam.’ Katakanlah, ‘Siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia hendak membinasakan Al-Masih putra Maryam beserta ibunya dan seluruh manusia yang berada di bumi?’ Dan milik Allah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”
(QS. Al-Maidah: 17)»

Ayat tersebut menjadi dasar pembahasan mengenai kekuasaan mutlak Allah. Seluruh makhluk berada di bawah kehendak dan kekuasaan-Nya, termasuk Nabi Isa Alaihissalam yang merupakan hamba dan utusan Allah.

Ustadz Saiun Ngalim mengingatkan jamaah agar senantiasa menjaga akidah dan tidak mencampurkan keyakinan tauhid dengan pemahaman yang bertentangan dengan Al-Qur’an.

«“Yang berkuasa atas kehidupan dan kematian adalah Allah. Semua makhluk adalah hamba Allah. Karena itu, jangan sampai kita salah menempatkan siapa yang harus kita sembah dan siapa yang harus kita ikuti,” tuturnya.»

Kemuliaan Bukan Karena Klaim, tetapi Ketakwaan

Kajian juga menyinggung klaim sebagian Ahli Kitab yang merasa memiliki kedudukan khusus di sisi Allah. Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia tidak dapat menentukan sendiri kedudukan mereka di hadapan Allah hanya berdasarkan klaim atau keturunan.

Pesan tersebut menjadi pelajaran penting bagi umat Islam agar tidak merasa lebih tinggi dari orang lain hanya karena identitas, kelompok, atau status sosial.

Pada akhirnya, kajian Surah Al-Maidah di Masjid Al Fajri Tuban tersebut mengajak jamaah untuk kembali kepada tiga hal utama: memegang teguh tauhid, menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk, dan menjalankan kehidupan sesuai dengan keridaan Allah.

Kajian ditutup dengan penguatan bahwa iman harus diwujudkan dalam kehidupan nyata. Al-Qur’an bukan sekadar dibaca, tetapi dipahami, diamalkan, dan dijadikan pedoman untuk menapaki jalan keselamatan.

Penulis: Firnas Muttaqin