Sunday, October 18, 2026

Makna Hidup Bahagia Dunia dan Akhirat


TUBAN – Pengajian Ahad pagi di Masjid Darussalam, Tuban, pada Minggu (18/10/2026), menghadirkan Ustadz H. Sudarji, M.Pd.I., yang menyampaikan kajian bertema Hidup Bahagia di Dunia dan Akhirat. Dalam ceramahnya, ia menguraikan makna doa sapujagat serta berbagai bentuk kebaikan dunia yang patut disyukuri oleh setiap muslim.

Doa yang menjadi pokok pembahasan adalah:

Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah, wa fil-aakhirati hasanah, wa qinaa 'adzaaban-naar.

Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.”

Ustadz Sudarji menjelaskan bahwa doa tersebut tidak hanya berisi permohonan untuk memperoleh kebahagiaan di dunia, tetapi juga keselamatan dan kebaikan di akhirat. Doa ini, menurutnya, juga dibaca ketika melakukan tawaf, khususnya saat berada di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad.

Dalam kajiannya, ia merujuk sejumlah kitab, di antaranya Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili, Tafsir Al-Baghawi, Tafsir Al-Qurthubi, serta kitab-kitab syarah hadis. Berdasarkan rujukan tersebut, ia menguraikan sejumlah bentuk hasanah fid-dunya, yakni kebaikan yang dapat dirasakan dalam kehidupan dunia.

Sehat, Rezeki, dan Keluarga yang Saleh

Salah satu kebaikan dunia yang pertama dibahas adalah kesehatan. Menurut Ustadz Sudarji, kesehatan merupakan nikmat besar karena memungkinkan seseorang menjalankan ibadah, menghadiri majelis ilmu, bekerja, serta melakukan berbagai aktivitas yang bermanfaat.

“Kalau panjenengan hidup hari ini dalam keadaan sehat, berarti panjenengan telah mendapatkan kebaikan dunia,” jelasnya di hadapan jamaah.

Ia menambahkan, kesehatan memungkinkan seseorang menjalankan ibadah dengan lebih leluasa. Sebaliknya, ketika sakit, berbagai aktivitas dapat terhambat. Karena itu, kesehatan perlu disyukuri dan dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas ibadah serta amal kebaikan.

Selain kesehatan, ia menjelaskan bahwa rumah yang layak dan luas, kendaraan yang nyaman, serta rezeki yang mencukupi kebutuhan juga termasuk bentuk kebaikan dunia. Namun, ukuran kecukupan tidak harus disamakan dengan kemewahan atau banyaknya harta.

Menurutnya, rumah yang nyaman adalah rumah yang dapat memenuhi kebutuhan keluarga, sedangkan rezeki yang luas dapat dimaknai sebagai penghasilan yang mencukupi kebutuhan sehari-hari dan masih menyisakan kelebihan.

Ia mengingatkan jamaah agar tidak menjadikan kepemilikan rumah besar, mobil mewah, atau kekayaan berlimpah sebagai satu-satunya ukuran kebahagiaan. Hal yang lebih penting adalah kemampuan mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah SWT.

Istri Salehah dan Anak-Anak yang Menyejukkan Hati

Ustadz Sudarji juga menekankan pentingnya keluarga yang saleh sebagai bagian dari kebahagiaan dunia. Ia menjelaskan bahwa istri salehah bukan hanya pasangan yang taat beribadah, tetapi juga mampu menjaga kehormatan diri, keluarga, dan harta ketika suami tidak berada di rumah.

Selain itu, anak-anak yang saleh dan salehah merupakan anugerah besar bagi orang tua. Mendidik anak agar memiliki akhlak baik, rajin beribadah, menghormati orang lain, dan bertanggung jawab membutuhkan perhatian serta keteladanan yang berkelanjutan.

Ia mengingatkan bahwa anak dapat menjadi sumber kebahagiaan, tetapi juga bisa menjadi ujian bagi orang tua apabila tidak mendapatkan pendidikan dan pengawasan yang memadai.

Karena itu, orang tua perlu memperhatikan pendidikan agama dan pembentukan karakter anak sejak dini. Kesalehan anak, menurutnya, tidak hanya berkaitan dengan keberhasilan di dunia, tetapi juga memiliki nilai penting bagi kehidupan akhirat.

Dalam ceramah tersebut, ia mengaitkan pembahasan itu dengan doa yang terdapat dalam Al-Qur'an, yakni permohonan agar pasangan dan keturunan menjadi penyejuk mata atau qurrata a'yun.

Anak Saleh sebagai Investasi Akhirat

Lebih lanjut, Ustadz Sudarji menjelaskan bahwa anak saleh memiliki kedudukan istimewa dalam kehidupan seorang muslim. Ia mengutip kandungan Surah At-Tur ayat 21 tentang orang-orang beriman yang keturunannya mengikuti mereka dalam keimanan.

Ia menerangkan bahwa ayat tersebut memberikan gambaran tentang karunia Allah SWT yang mempertemukan orang tua dan keturunannya di surga. Dengan demikian, pendidikan dan pembinaan anak tidak semestinya hanya diarahkan pada keberhasilan akademik, pekerjaan, atau kedudukan sosial, tetapi juga pada keimanan dan akhlak.

Dalam konteks ini, ia mengingatkan jamaah agar tidak mengukur keberhasilan anak semata-mata dari latar belakang ekonomi keluarga. Anak dari keluarga sederhana pun dapat meraih prestasi dan memberikan manfaat besar apabila memperoleh pendidikan, bimbingan, serta kesempatan yang baik.

Ia juga menyampaikan bahwa harta bukan satu-satunya ukuran rezeki. Kesehatan, anak yang saleh, dan keridaan Allah SWT memiliki nilai yang lebih tinggi daripada sekadar kekayaan materi.

Ilmu yang Bermanfaat dan Hati yang Lapang

Selain kesehatan, keluarga, dan kecukupan rezeki, Ustadz Sudarji turut membahas pentingnya ilmu yang bermanfaat, rasa aman, ketenteraman, terhindar dari berbagai masalah, serta sikap menerima pemberian Allah SWT.

Menurutnya, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mendorong seseorang untuk melakukan amal kebaikan. Mengikuti pengajian tidak cukup hanya dengan mendengarkan ceramah, tetapi perlu dilanjutkan dengan memahami dan mengamalkan pesan yang disampaikan.

Ia mengingatkan bahwa ilmu tanpa amal ibarat pohon yang tidak menghasilkan buah. Oleh sebab itu, jamaah diharapkan menjadikan majelis ilmu sebagai sarana memperbaiki perilaku, meningkatkan kualitas ibadah, dan membangun hubungan yang baik dengan sesama.

Ia juga menekankan pentingnya rasa aman dan nyaman di rumah maupun di lingkungan tempat tinggal. Kehidupan yang jauh dari konflik, keluarga yang rukun, kesehatan yang terjaga, serta rezeki yang mencukupi merupakan bagian dari nikmat yang patut disyukuri.

Sikap menerima pemberian Allah SWT atau qanaah juga menjadi salah satu pokok bahasan. Menurutnya, seseorang tidak harus memiliki kekayaan berlimpah untuk merasakan kebahagiaan. Selama kebutuhan tercukupi, tidak bergantung pada utang secara berlebihan, dan mampu mensyukuri apa yang dimiliki, seseorang dapat menjalani kehidupan dengan lebih tenang.

Keridaan Allah sebagai Puncak Kebahagiaan

Pada bagian akhir kajian, Ustadz Sudarji menegaskan bahwa berbagai bentuk kebaikan dunia hendaknya mengantarkan seorang muslim menuju tujuan yang lebih tinggi, yaitu memperoleh keridaan Allah SWT.

Harta, kesehatan, rumah, kendaraan, keluarga, dan ilmu merupakan nikmat yang perlu digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan sekadar untuk memenuhi kepentingan pribadi.

Ia mengajak jamaah untuk terus bersyukur, memperbaiki amal, mendidik keluarga, dan mengamalkan ilmu yang diperoleh dari majelis pengajian.

Melalui kajian tersebut, jamaah diajak memahami bahwa hidup bahagia tidak selalu berarti memiliki segala sesuatu yang mewah. Kebahagiaan juga terletak pada kesehatan, kecukupan, keluarga yang saleh, ketenteraman hati, ilmu yang bermanfaat, serta kemampuan menerima ketetapan Allah SWT dengan penuh rasa syukur.

Pengajian ditutup dengan doa bersama, memohon agar Allah SWT memberikan kebaikan di dunia dan akhirat, membimbing umat Islam untuk senantiasa beribadah dengan baik, serta melimpahkan keridaan dan perlindungan-Nya kepada seluruh jamaah.

Firnas Muttaqin

Saturday, October 17, 2026

Makna Keimanan dan Sikap terhadap Agama


TUBAN — Pengajian tafsir Al-Qur’an yang digelar di Masjid Al Fajri Tuban pada Sabtu malam, 17 Oktober 2026, diisi dengan kajian Surah Al-Maidah ayat 54–58 oleh Ustadz Saiun Ngalim. Dalam kajian tersebut, ia menjelaskan sejumlah pesan tentang keteguhan iman, konsekuensi murtad, karakter orang beriman, serta pentingnya menjaga kehormatan agama agar tidak dijadikan bahan olok-olok dan permainan.

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْـنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗۤ ۙ اَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ ۖ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَا فُوْنَ لَوْمَةَ لَآئِمٍ ۗ ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ وَا سِعٌ عَلِيْمٌ

"Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui."
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 54)

Mengawali pembahasan ayat 54, Ustadz Saiun Ngalim menerangkan bahwa Allah SWT telah mengabarkan kemungkinan adanya sebagian orang beriman yang berbalik dari agamanya. Namun, keadaan tersebut tidak akan menghentikan perjuangan agama Allah. Allah akan menggantikan mereka dengan kaum yang dicintai-Nya dan mencintai-Nya.

Menurutnya, ayat tersebut juga menggambarkan karakter orang-orang beriman yang memiliki sikap rendah hati terhadap sesama muslim, tetapi tegas terhadap pihak yang memusuhi agama. Mereka juga memiliki semangat untuk berjuang di jalan Allah serta tidak takut terhadap celaan orang lain.

“Allah akan mendatangkan suatu kaum yang dicintai oleh Allah dan mereka pun mencintai-Nya,” jelasnya saat menerangkan kandungan ayat tersebut.

Ia kemudian menghubungkan ayat itu dengan peristiwa setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq menjabat sebagai khalifah. Pada masa tersebut, muncul kelompok yang menolak membayar zakat dan sebagian orang yang keluar dari Islam. Selain itu, muncul pula Musailamah Al-Kadzdzab yang mengaku sebagai nabi.

Ustadz Saiun menjelaskan bahwa peristiwa tersebut menjadi salah satu contoh sejarah yang berkaitan dengan pembahasan tentang kemurtadan dan keteguhan umat Islam dalam menjaga ajaran agama.

Dalam penjelasannya, ia juga mengutip pesan kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang menekankan pentingnya kejujuran, amanah, dan kesediaan menerima koreksi. Seorang pemimpin, menurut pesan tersebut, perlu mendapat dukungan ketika menjalankan kebaikan dan harus diluruskan apabila melakukan kesalahan.

Shalat dan zakat sebagai bagian penting keimanan

اِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوا الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَهُمْ رَا كِعُوْنَ

"Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang melaksanakan sholat dan menunaikan zakat, seraya tunduk (kepada Allah)."
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 55)

Memasuki pembahasan ayat 55, Ustadz Saiun Ngalim menjelaskan bahwa Allah SWT, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman merupakan pihak yang menjadi penolong bagi orang beriman. Ia menyoroti penyebutan salat dan zakat dalam ayat tersebut sebagai dua kewajiban yang memiliki kedudukan penting dalam kehidupan seorang muslim.

Menurutnya, Al-Qur’an kerap menyandingkan perintah mendirikan shalat dengan menunaikan zakat. Keduanya tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia kepada Allah, tetapi juga mencerminkan tanggung jawab sosial seorang muslim.

Ia juga menjelaskan bahwa ibadah sunah dapat menjadi penyempurna bagi ibadah wajib. Karena itu, umat Islam didorong untuk menjaga kewajiban sekaligus memperbanyak amalan sunah sebagai bagian dari upaya menyempurnakan kualitas keimanan.

“Kesempurnaan iman seseorang juga terlihat ketika amalan-amalan sunah dikerjakan sebagai penyempurna ibadah yang wajib,” demikian penjelasan yang disampaikan dalam kajian tersebut.

Agama tidak boleh dijadikan bahan olok-olok

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَـتَّخِذُوا الَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا دِيْنَكُمْ هُزُوًا وَّلَعِبًا مِّنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَا لْـكُفَّا رَ اَوْلِيَآءَ ۚ وَا تَّقُوا اللّٰهَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan pemimpinmu orang-orang yang membuat agamamu jadi bahan ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu dan orang-orang kafir (orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang beriman."
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 57)

وَ اِذَا نَا دَيْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ اتَّخَذُوْهَا هُزُوًا وَّلَعِبًا ۗ ذٰلِكَ بِاَ نَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْقِلُوْنَ

"Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (melaksanakan) sholat, mereka menjadikannya bahan ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka orang-orang yang tidak mengerti."
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 58)

Pembahasan selanjutnya beralih pada ayat 57-58 Surah Al-Maidah, yang berisi peringatan agar orang-orang beriman tidak menjadikan pihak yang memperolok-olok agama sebagai awliya, yakni pihak yang dijadikan pelindung atau pemimpin dalam konteks ayat tersebut.

Ustadz Saiun menjelaskan bahwa ayat ini mengingatkan umat Islam untuk berhati-hati dalam menentukan pihak yang dijadikan panutan, terutama apabila pihak tersebut menjadikan agama sebagai bahan ejekan dan permainan.

Menurutnya, persoalan tersebut berkaitan dengan keteguhan iman dan arah kehidupan seseorang. Oleh sebab itu, umat Islam perlu memahami ajaran agamanya dengan baik agar tidak mudah terpengaruh oleh sikap yang merendahkan nilai-nilai agama.

Ia juga mengingatkan bahwa menjaga keimanan tidak seharusnya dilakukan secara setengah-setengah. Komitmen terhadap agama perlu diwujudkan melalui keyakinan, ibadah, dan perilaku sehari-hari.

Pesan tersebut, lanjutnya, bukan sekadar persoalan hubungan dengan orang lain, melainkan juga menyangkut bagaimana seorang muslim mempertahankan prinsip keimanan di tengah berbagai keadaan.

Memperkuat iman melalui pemahaman Al-Qur’an

Melalui kajian Surah Al-Maidah ayat 54–58, Ustadz Saiun Ngalim mengajak jamaah untuk memahami hubungan antara keimanan, amal ibadah, dan sikap dalam kehidupan bermasyarakat.

Ia menekankan pentingnya menjaga shalat dan zakat, membangun hubungan yang baik dengan sesama muslim, bersikap tegas dalam mempertahankan prinsip agama, serta tidak menjadikan ajaran Islam sebagai bahan permainan.

Kajian tersebut juga mengingatkan jamaah bahwa pemahaman terhadap Al-Qur’an perlu disertai upaya mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. (*)

FIRNAS MUTTAQIN

Sunday, October 11, 2026

Menjaga Persaudaraan dan Kedewasaan dalam Beragama

TUBAN – Pengajian Ahad Pagi di Masjid Darussalam, Tuban, Minggu (11/10/2026), diisi dengan kajian Ustadz Afifun Nidlom yang membahas pentingnya berpegang teguh pada sunah Nabi Muhammad SAW, menjaga persaudaraan, serta menghindari perselisihan dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat.

Dalam kajiannya, Ustadz Afifun mengawali pembahasan dengan hadis yang diriwayatkan dari sahabat Irbad bin Sariyah. Hadis tersebut menceritakan nasihat Rasulullah SAW setelah melaksanakan salat Subuh. Nasihat itu membuat para sahabat terharu dan menggetarkan hati mereka hingga merasa seolah-olah sedang mendengarkan pesan perpisahan.

Rasulullah SAW kemudian berwasiat agar umat Islam senantiasa bertakwa kepada Allah, mendengar dan menaati pemimpin dalam perkara yang benar, serta berpegang teguh pada sunah beliau dan sunah para khalifah yang mendapat petunjuk.

Menurut Ustadz Afifun, pesan tersebut relevan untuk menghadapi berbagai perbedaan dan perselisihan yang terjadi di tengah kehidupan umat Islam. Perbedaan pandangan tidak semestinya menjadi alasan untuk saling merendahkan, menutup ruang dialog, atau meniadakan kelompok lain.

Menjaga Tradisi dan Menghindari Sikap Ekstrem

Ustadz Afifun juga menyoroti pentingnya memahami hubungan antara ajaran agama, tradisi masyarakat, dan penerapan hukum. Ia menjelaskan bahwa tradisi yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam penetapan hukum.

Ia mengutip kaidah fikih al-'adah muhakkamah, yang berarti adat kebiasaan dapat menjadi pertimbangan hukum selama memenuhi ketentuan yang berlaku dan tidak bertentangan dengan dalil syariat.

Dalam konteks kehidupan umat Islam di Indonesia, ia mengajak jamaah untuk mengembangkan cara beragama yang terbuka terhadap dialog dan perbedaan. Menurutnya, semangat beragama seharusnya mendorong umat untuk saling memahami, bukan membangun sekat berdasarkan kelompok atau pilihan tokoh tertentu.

Ia juga mengingatkan agar umat tidak menjadikan sosok atau kelompok tertentu sebagai pusat kebenaran secara berlebihan hingga menutup diri dari pandangan lain yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Jangan sampai pengajian-pengajian kita menjadi alat pemisah, tetapi menjadikan kita saling mencintai dan saling menguatkan satu sama lain,” demikian inti pesan yang disampaikan dalam kajian tersebut.

Menghindari Penyakit Hati dan Memperkuat Persaudaraan

Pada bagian berikutnya, Ustadz Afifun menguraikan sejumlah sifat yang dapat merusak kehidupan umat, di antaranya persaingan yang tidak sehat, kedengkian, dan permusuhan.

Ia menjelaskan bahwa persaingan dalam kehidupan sosial maupun ekonomi dapat berkembang menjadi kedengkian apabila seseorang tidak mampu menerima keberhasilan orang lain. Karena itu, umat Islam perlu membangun sikap saling menghargai dan menjauhi keinginan untuk menjatuhkan sesama.

Selain kedengkian, ia mengingatkan bahaya pertikaian yang dipicu oleh emosi dan keinginan membalas perlakuan orang lain. Sikap tersebut, jika dibiarkan, dapat merusak hubungan persaudaraan dan memicu perpecahan di tengah masyarakat.

Ustadz Afifun kemudian mengaitkan pesan itu dengan hadis tentang pentingnya menumbuhkan kecintaan antarsesama. Ia menekankan bahwa menyebarkan salam tidak cukup dimaknai sebagai ucapan, tetapi perlu diwujudkan melalui perilaku yang mencerminkan kedamaian, kepedulian, dan ketulusan.

Menurutnya, umat Islam perlu memastikan bahwa aktivitas keagamaan, termasuk pengajian, benar-benar membawa dampak positif terhadap perilaku sehari-hari. Bertambahnya pengetahuan agama semestinya diikuti dengan perbaikan akhlak dan hubungan sosial.

Peran Keluarga dalam Membentuk Karakter Anak

Dalam kajian tersebut, Ustadz Afifun turut menekankan pentingnya peran keluarga, terutama orang tua, dalam membentuk karakter anak. Ia mengingatkan para ayah agar hadir dalam kehidupan emosional dan pendidikan anak, bukan hanya memenuhi kebutuhan materi.

Ia menilai keteladanan orang tua memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan perilaku anak. Nasihat yang diberikan kepada anak perlu disertai contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari cara berbicara, menyelesaikan masalah, hingga memperlakukan orang lain.

Menurutnya, persoalan keluarga juga perlu dilihat secara menyeluruh. Ketika menghadapi kesulitan dalam kehidupan, termasuk persoalan ekonomi, keluarga perlu melakukan evaluasi terhadap komunikasi, hubungan antara suami dan istri, serta hubungan dengan anggota keluarga lainnya.

Ia mengajak jamaah untuk memperbaiki hubungan di dalam keluarga sebagai bagian dari ikhtiar membangun kehidupan yang lebih baik.

Mengajak Jamaah Berpartisipasi dalam Demokrasi

Pembahasan juga menyentuh persoalan kepemimpinan dan partisipasi masyarakat dalam demokrasi. Ustadz Afifun mengingatkan bahwa pemilihan pemimpin perlu mempertimbangkan akhlak, integritas, dan kemampuan calon dalam menjalankan tanggung jawabnya.

Ia mengajak masyarakat agar tidak menghabiskan energi hanya untuk memperdebatkan persoalan politik yang berpotensi memecah hubungan sosial. Sebaliknya, masyarakat perlu tetap berpartisipasi dalam proses demokrasi secara bertanggung jawab.

Menurutnya, sikap tidak menggunakan hak pilih dapat memberikan ruang lebih besar bagi kelompok lain untuk menentukan hasil pemilihan. Karena itu, partisipasi warga menjadi bagian penting dalam kehidupan berdemokrasi.

Ia juga mengingatkan agar perbedaan pilihan politik tidak merusak persaudaraan, baik di lingkungan masyarakat, organisasi, maupun keluarga.

Menjelaskan Persoalan Penentuan Waktu Salat Subuh

Menjelang akhir kajian, Ustadz Afifun menjelaskan persoalan penentuan waktu salat Subuh, khususnya terkait penggunaan hasil pengamatan astronomis. Ia menyampaikan bahwa penentuan waktu salat memerlukan dasar pengamatan dan perhitungan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ia menjelaskan bahwa pengamatan terhadap posisi Matahari dilakukan untuk memastikan masuknya waktu Subuh. Dalam pemaparannya, ia menyinggung penggunaan teleskop dan pengamatan selama satu tahun sebagai bagian dari proses pengumpulan data.

Menurutnya, kepastian masuknya waktu salat merupakan hal penting karena masuk waktu menjadi salah satu syarat sah salat. Oleh sebab itu, pembahasan mengenai penentuan waktu salat perlu didasarkan pada kajian ilmiah dan pertimbangan keagamaan.

Melalui kajian Ahad Pagi tersebut, Ustadz Afifun Nidlom mengajak jamaah Masjid Darussalam Tuban untuk menjadikan ajaran Islam sebagai landasan dalam membangun akhlak, menjaga persaudaraan, memperkuat keluarga, serta menyikapi perbedaan secara dewasa.

Pesan utama kajian tersebut adalah bahwa pemahaman agama perlu tercermin dalam perilaku. Semangat beragama hendaknya melahirkan sikap saling menghormati, kepedulian terhadap sesama, dan kehidupan masyarakat yang lebih harmonis. (*)

FIRNAS MUTTAQIN

Saturday, October 10, 2026

Tafsir Al-Ma’idah Ayat 51–53, Ustadz Saiun Ngalim Bahas Loyalitas dan Keteguhan Iman

TUBAN — Pengajian Sabtu Ba'da Maghrib dan (10/1/2026) Tafsir Jalalain di Masjid Al Fajri, Tuban, membahas kandungan Surah Al-Ma’idah ayat 51–53. Dalam kajian tersebut, Ustadz Saiun Ngalim menguraikan persoalan loyalitas, keberpihakan, dan keteguhan iman dalam menyikapi berbagai kepentingan.

 يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَا لنَّصٰرٰۤى اَوْلِيَآءَ ۘ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۗ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِ نَّهٗ مِنْهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin(mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."

(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 51)

Pembahasan ayat 51 menyoroti peringatan Allah SWT kepada orang-orang beriman agar tidak memberikan loyalitas kepada pihak yang bertentangan dengan prinsip keimanan sebagaimana dijelaskan dalam ayat tersebut.

Dalam penjelasannya, Ustadz Saiun Ngalim menekankan pentingnya memahami makna awliya sesuai konteks ayat dan penafsiran ulama.

Inti penjelasan tersebut mengingatkan bahwa keberpihakan tidak semestinya ditentukan semata-mata oleh kepentingan pribadi, melainkan harus mempertimbangkan prinsip agama dan sikap terhadap kebenaran.

فَتَـرَى الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ يُّسَا رِعُوْنَ فِيْهِمْ يَقُوْلُوْنَ نَخْشٰۤى اَنْ تُصِيْبَـنَا دَآئِرَةٌ ۗ فَعَسَى اللّٰهُ اَنْ يَّأْتِيَ بِا لْفَتْحِ اَوْ اَمْرٍ مِّنْ عِنْدِهٖ فَيُصْبِحُوْا عَلٰى مَاۤ اَسَرُّوْا فِيْۤ اَنْفُسِهِمْ نٰدِمِيْنَ

"Maka, kamu akan melihat orang-orang yang hatinya berpenyakit segera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, "Kami takut akan mendapat bencana." Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya, sehingga mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka."

(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 52)

Pembahasan kemudian berlanjut pada Surah Al-Ma’idah ayat 52, yang menggambarkan sikap orang-orang yang diliputi keraguan dan menjalin hubungan dengan pihak lain karena khawatir tertimpa kesulitan.

Ayat tersebut menjelaskan alasan berupa kekhawatiran terhadap kemungkinan datangnya musibah atau perubahan keadaan. Dalam tafsir yang dibahas, sikap itu dikaitkan dengan lemahnya keyakinan dan ketidakmantapan dalam menentukan keberpihakan.

Ustadz Saiun Ngalim juga menguraikan bahwa Allah SWT berkuasa mendatangkan kemenangan maupun keputusan-Nya sehingga perkara yang tersembunyi dapat menjadi jelas.

Pesan yang dapat dipetik dari penjelasan ayat ini adalah bahwa ketakutan terhadap keadaan dan kepentingan sesaat tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan keteguhan dalam memegang prinsip yang diyakininya.

وَيَقُوْلُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَهٰۤؤُلَآ ءِ الَّذِيْنَ اَقْسَمُوْا بِا للّٰهِ جَهْدَ اَيْمَا نِهِمْ ۙ اِنَّهُمْ لَمَعَكُمْ ۗ حَبِطَتْ اَعْمَا لُهُمْ فَاَ صْبَحُوْا خٰسِرِيْنَ

"Dan orang-orang yang beriman akan berkata, "Inikah orang yang bersumpah secara sungguh-sungguh dengan (nama) Allah bahwa mereka benar-benar beserta kamu?" Segala amal mereka menjadi sia-sia sehingga mereka menjadi orang yang rugi."

(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 53)

Selanjutnya, Surah Al-Ma’idah ayat 53 menggambarkan keadaan ketika orang-orang beriman mempertanyakan sikap pihak-pihak yang sebelumnya bersumpah akan bersama mereka. Ketika kenyataan menunjukkan hal yang berbeda, terbukalah keadaan sebenarnya dan tampak kerugian yang mereka alami.

Dalam pembahasan ini, jamaah diajak memperhatikan pentingnya kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. Pernyataan keberpihakan harus dibuktikan melalui sikap yang konsisten, bukan sekadar ucapan atau sumpah.

Rangkaian ayat 51–53 tersebut memberikan pelajaran tentang keteguhan iman, kejujuran, dan kehati-hatian dalam menentukan loyalitas. Pemahaman terhadap ayat-ayat ini juga perlu memperhatikan konteks turunnya ayat serta penjelasan para ulama agar penerapannya tidak terlepas dari maksud Al-Qur’an.

Melalui pengajian Tafsir Jalalain ini, jamaah Masjid Al Fajri Tuban diharapkan dapat memperdalam pemahaman terhadap kandungan Al-Qur’an dan mengambil pelajaran yang relevan untuk kehidupan sehari-hari.

Firnas Muttaqin

Tuesday, October 06, 2026

Kajian surah Yaa Siin : Hari Kebangkitan dan Pentingnya Berpegang pada Al-Qur’an

Kopen, Penambangan — Selasa, 6 Oktober 2026. Kajian rutin di Masjid Haifa Yusuf, Kopen, Penambangan, membahas tentang kehidupan setelah kematian, hari kebangkitan, serta pentingnya meningkatkan keimanan dan amal saleh.

Kajian yang disampaikan Ustadz Nurul Yaqin, S.H. tersebut merujuk pada sejumlah ayat Al-Qur’an, di antaranya Surat Yasin, Al-'Ashr dan Ar-Rahman, serta hadis.

Dalam kajiannya, Ustadz Nurul Yaqin menjelaskan bahwa bertambahnya usia merupakan bagian dari ketetapan Allah. Kondisi manusia yang semakin lemah seiring bertambahnya usia menjadi salah satu tanda kekuasaan Allah sebagaimana disebutkan dalam Surat Yasin.

Pembahasan kemudian berlanjut mengenai hari kebangkitan. Menurutnya, keimanan terhadap adanya kehidupan setelah kematian merupakan bagian dari keimanan seorang Muslim. Allah SWT berkuasa membangkitkan kembali manusia setelah kematian, sebagaimana Dia menciptakan manusia sejak awal.

Pada hari kebangkitan, setiap manusia akan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya. Ustadz Nurul Yaqin menjelaskan bahwa anggota tubuh manusia akan menjadi saksi atas apa yang telah dilakukan selama hidup di dunia. Tangan, kaki, mata dan anggota tubuh lainnya akan memberikan kesaksian di hadapan Allah.

Ia juga mengingatkan bahwa kehidupan dunia memiliki konsekuensi atas setiap perbuatan. Sebagaimana pelanggaran hukum di dunia memiliki sanksi, manusia juga akan mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Allah SWT.

Kajian juga membahas perbedaan nasib antara orang yang beriman dan beramal saleh dengan orang yang mengingkari kebenaran. Orang beriman mendapatkan balasan berupa surga, sedangkan orang yang mendustakan dan mengingkari Allah mendapatkan balasan berupa neraka.

Dalam pembahasan mengenai kehidupan akhirat, disampaikan pula gambaran dialog antara penghuni surga dan penghuni neraka. Penghuni neraka digambarkan mengalami penyesalan karena dahulu tidak menggunakan pendengaran dan akalnya untuk menerima kebenaran.

Sementara itu, surga digambarkan sebagai tempat yang penuh kenikmatan dan menjadi tempat tinggal yang kekal bagi orang-orang yang mendapatkan rahmat Allah. Ustadz Nurul Yaqin menekankan bahwa seorang Muslim tidak boleh hanya mengandalkan amalnya, tetapi juga harus berharap kepada rahmat Allah SWT.

Menurutnya, salah satu jalan untuk memperoleh rahmat Allah adalah dengan berpegang teguh kepada Al-Qur’an, antara lain dengan membaca, mendengarkan, mempelajari, dan mengamalkan kandungannya.

Kajian juga mengingatkan pentingnya mendoakan orang tua dan menjaga hubungan keluarga. Anak yang saleh dapat menjadi sebab kebaikan bagi orang tuanya, termasuk melalui doa dan amal yang dilakukan untuk mereka.

Pada bagian lain, Ustadz Nurul Yaqin menyampaikan tentang tiga fase penyesalan orang yang mengingkari Allah, yaitu ketika menghadapi kematian, saat dibangkitkan pada hari kiamat, dan ketika menerima balasan di akhirat.

Sebagai salah satu amalan yang dianjurkan, jamaah diajak membiasakan membaca Sayyidul Istighfar pada pagi dan sore hari. Doa tersebut berisi pengakuan atas nikmat Allah, pengakuan terhadap dosa, serta permohonan ampun kepada-Nya.

Kajian ditutup dengan pembahasan Surat Al-'Ashr yang mengingatkan bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.

Ustadz Nurul Yaqin mengajak jamaah untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Pesan tersebut menjadi penutup kajian sekaligus pengingat agar nilai-nilai keimanan tidak hanya dipahami, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. (*)

Sunday, October 04, 2026

Menjernihkan Hati, Menguatkan Iman

TUBAN, 4 Oktober 2026 — Pengajian Keluarga Ahad Pagi yang digelar di Masjid Darussalam, Tuban, Minggu (4/10/2026), berlangsung dengan penuh khidmat. Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Fathur Rahman mengajak jamaah untuk memperkuat iman, menjaga kebersihan hati, serta menjadikan dzikir dan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Dalam tausiyahnya, Ustadz Fathur Rahman mengawali pembahasan dengan pentingnya mengatur waktu, khususnya dalam berdzikir dan mempersiapkan diri sebelum masuk waktu salat.

Menurutnya, kebiasaan berdzikir sebelum azan menunjukkan adanya kesungguhan seseorang dalam mengatur waktu sekaligus menjaga hubungan dengan Allah SWT.

Ia juga mengingatkan jamaah untuk senantiasa bersyukur ketika memperoleh nikmat dan kebahagiaan. Sementara ketika menghadapi ujian, seseorang hendaknya mengedepankan kesabaran.

Namun, dalam kehidupan sehari-hari, seseorang juga tidak jarang menghadapi kondisi bingung, gelisah, dan tidak mengetahui langkah yang harus diambil. Dalam kondisi tersebut, menurut Ustadz Fathur Rahman, seorang Muslim hendaknya kembali kepada petunjuk Allah SWT.

Iman Menjadi Petunjuk bagi Hati

Mengutip kandungan Surat At-Taghabun ayat 11, Ustadz Fathur Rahman menjelaskan bahwa keimanan dapat menjadi petunjuk bagi hati seseorang.

“Barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya,” demikian inti pesan ayat yang disampaikan dalam pengajian tersebut.

Ia menjelaskan, keimanan tidak hanya tercermin dalam ucapan, tetapi juga dalam sikap dan kebiasaan sehari-hari. Salah satunya adalah kepedulian terhadap waktu salat.

Orang yang memiliki keimanan, kata dia, akan memiliki perhatian terhadap datangnya waktu Zuhur, Ashar, Maghrib, Isya, hingga Subuh. Dengan demikian, kesibukan duniawi tidak membuat seseorang lalai terhadap kewajibannya kepada Allah.

Ustadz Fathur Rahman juga mengajak jamaah untuk memanfaatkan waktu antara salat Maghrib dan Isya dengan kegiatan yang bermanfaat. Jamaah dapat mengisinya dengan membaca Al-Qur’an, berdiskusi mengenai ilmu agama, maupun saling mengingatkan dalam kebaikan.

Menurutnya, ketika seseorang melakukan kesalahan, hendaknya segera memohon ampun kepada Allah. Begitu pula ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan, seorang mukmin perlu meyakini bahwa Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi dirinya.

Sikap tersebut, lanjutnya, akan membantu menghadirkan ketenangan, kepercayaan, dan kepasrahan kepada Allah SWT.

Menjaga Hati untuk Menjaga Kehidupan

Pada bagian lain tausiyah, Ustadz Fathur Rahman menekankan pentingnya menjaga kebersihan hati.

Ia mengingatkan jamaah pada sabda Rasulullah SAW mengenai kedudukan hati dalam diri manusia. Jika hati baik, maka baik pula seluruh jasad. Sebaliknya, apabila hati rusak, dampaknya dapat memengaruhi seluruh diri seseorang.

Karena itu, ia mengajak jamaah untuk menjauhi berbagai penyakit hati, seperti iri, dengki, dendam, prasangka buruk, serta kekhawatiran yang berlebihan.

Menurutnya, kondisi batin seseorang dapat memengaruhi cara berpikir dan perilakunya. Kegelisahan yang terus dipelihara dapat membuat seseorang merasa tidak nyaman dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Sebagai upaya membersihkan hati, jamaah diajak memperbanyak dzikir dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan hati yang lebih tenang, seseorang diharapkan mampu berpikir lebih jernih dan menghadapi persoalan dengan lebih bijaksana.

Menghayati Surat Al-Falaq

Dalam tausiyah tersebut, Ustadz Fathur Rahman juga mengajak jamaah memahami kandungan Surat Al-Falaq. Surat tersebut, menurutnya, mengajarkan umat Islam untuk memohon perlindungan kepada Allah dari berbagai bentuk kejahatan.

Ia menjelaskan makna ayat yang mengajarkan perlindungan dari kejahatan kegelapan, berbagai bentuk kejahatan, serta orang yang memiliki sifat dengki.

Khusus mengenai dengki, ia menekankan bahwa seseorang tidak hanya perlu memohon perlindungan dari kedengkian orang lain, tetapi juga harus berusaha membersihkan dirinya sendiri dari sifat tersebut.

“Orang berbuat buruk, kita balas dengan kebaikan. Orang ingin mencelakai, kita maafkan,” pesan yang ditekankan dalam tausiyah tersebut.

Sikap memaafkan, menurutnya, bukan hanya menjadi bentuk kebaikan kepada orang lain, tetapi juga menjadi cara menjaga hati agar tidak dipenuhi kebencian dan dendam.

Tidak Sekadar Membaca, tetapi Memahami

Ustadz Fathur Rahman juga mengingatkan jamaah agar tidak berhenti pada aktivitas membaca ayat-ayat Al-Qur’an secara lisan. Setiap bacaan hendaknya disertai pemahaman dan penghayatan terhadap maknanya.

Saat membaca ta’awudz, misalnya, seseorang hendaknya menyadari bahwa dirinya memohon perlindungan hanya kepada Allah dari godaan setan. Demikian pula ketika membaca Surat Al-Falaq, setiap ayat dihayati sebagai bentuk permohonan perlindungan kepada Allah dari berbagai keburukan.

Dengan pemahaman tersebut, membaca Al-Qur’an diharapkan tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga mampu memberikan pengaruh terhadap sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Di akhir tausiyah, Ustadz Fathur Rahman mengajak jamaah untuk terus memperkuat iman, menjaga hati dari penyakit batin, membiasakan diri memaafkan, serta memperbanyak dzikir dan membaca Al-Qur’an.

Pengajian kemudian ditutup dengan doa agar Allah SWT meneguhkan keimanan, melapangkan hati, memberikan perlindungan dari berbagai keburukan, serta senantiasa memberikan petunjuk dalam setiap langkah kehidupan.

Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.Versi ini dibuat dengan gaya berita media online: ada judul, lead, alur peristiwa, kutipan tidak langsung, dan subjudul sehingga lebih siap untuk dipublikasikan. (*)

Firnas Muttaqin 

Saturday, September 26, 2026

LAPORAN PUSAT PENGENDALIAN OPERASI PENANGGULANGAN BENCANA (PUSDALOPS PB) BPBD KOTA PASURUAN

Kepada Yth :
1. Wali Kota Pasuruan.
2. Sekretaris Daerah Kota Pasuruan. 
3. Kepala BNPB. 
4. Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur.
5. Kepala Pelaksana BPBD Kota Pasuruan.

Mohon ijin melaporkan pada :
*WAKTU KEJADIAN:*
Hari/ Tanggal Kejadian : Sabtu, 26 September 2026.
Terima Berita : ± Pukul 14.00 WIB

*JENIS KEJADIAN :*
Kebakaran Pasar Desa Kepulungan

*LOKASI KEJADIAN :*
Alamat : Jl. Raya Surabaya - Malang No.70, Arcopodo, Kepulungan, Kec. Gempol, Pasuruan, Jawa Timur
Koordinat Maps : -7.621913, 112.687070

*SEBAB KEJADIAN :*
Diduga Kosleting Listrik

*OBJEK :*
Pasar Desa Kepulungan

*PELAPOR/ PEMILIK :*
Pelapor : Call Center 112 Pasuruan
Pemilik : -

*KERUGIAN KEJADIAN :*
Luas Terbakar : ± 450 m²
Kerugian : Masih Dalam Perhitungan

*KRONOLOGIS :*
▪️ ± Pkl 13.30 WIB Diduga awal terjadi kejadian kebakaran.
▪️ Pkl 13.55 WIB Mako PMK terima berita dari Call Center 112 terjadi kebakaran Pasar Desa Kepulungan Kabupaten Pasuruan.
▪️ Pkl 14.05 WIB Personil PMK Dan Pusdalops menuju ke lokasi pelaporan kejadian kebakaran.
▪️ Pkl 14.55 WIB Personil PMK Dan Pusdalops sampai di lokasi melakukan penanganan Pemadaman Kebakaran dan Pembasahan Pasca Pasar Desa Kepulungan Kabupaten Pasuruan.
▪️ Pkl 19.35 WIB Personil PMK Dan Pusdalops selesai penanganan dan balik ke Mako BPBD.

*UPAYA YANG DILAKUKAN :*
1. Melakukan penanganan pemadaman api serta pembasahan pasca kebakaran.
2. Personil Pusdalops melakukan Assesment/ dokumentasi terkait laporan kejadian di lokasi.

*ARMADA YANG DIGUNAKAN PEMADAMAN :*
* 1 Unit Damkar 5000 Liter Kota Pasuruan 
* 1 Unit Damkar 5000 Liter Kab. Pasuruan 
* 2 Unit Damkar 2500 Liter Kab. Pasuruan 
* 1 Unit Damkar 5000 Liter Gudang Garam 

*UNSUR YANG TERLIBAT:*
1. Personil Pemadam Kebakaran BPBD Kota Pasuruan;
2. Personil Pusdalops BPBD Kota Pasuruan;
3. Personil Pemadam Kebakaran Kabupaten Pasuruan;
4. Personil Pemadam Gudang Garam 
5. REDKAR Kota Pasuruan
6. REDKAR Kab.Pasuruan
7. TNI/POLRI
8. Warga Setempat;
Demikian laporan penanganan kejadian kebakaran, kami sampaikan terima kasih.

*PUSDALOPS PB - BPBD KOTA PASURUAN*
*Alamat :* Jl. K.H. Mansyur No.1 Kota Pasuruan
*Telp / Fax :* (0343) 412424 / (0343) 412727
*WA :* 082245295448
*Email :* PusdalopsPB.kopas@gmail.com 
*No Tlp PMK Kota Pasuruan :* (0343) 425113

*#SALAM TANGGUH*💪
*#SALAM KEMANUSIAAN*🙏
*#KITA JAGA ALAM, ALAM JAGA KITA*
*#SIAP UNTUK SELAMAT*