Saturday, November 07, 2026

KAJIAN TAFSIR JALALAIN: MEMAHAMI QS. AL-MĀ'IDAH AYAT 67–70

Tuban, Sabtu, 7 November 2026— Pengajian tafsir Al-Qur'an di Masjid Al-Fajri, Tuban, kembali membahas kandungan Surah Al-Mā'idah ayat 67–70. Kajian yang disampaikan Ustadz Saiun Ngalim dengan merujuk pada Tafsir Jalalain tersebut mengulas kewajiban menyampaikan risalah Allah, pentingnya keimanan dan amal saleh, serta pelajaran dari sikap Bani Israil terhadap para rasul.

 Ayat 67: Kewajiban Menyampaikan Seluruh Risalah

Allah SWT berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلرَّسُولُ بَلِّغْ مَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ ۖ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُۥ ۗ وَٱللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ ٱلنَّاسِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْكَٰفِرِينَ

Artinya:

"Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu), berarti engkau belum menyampaikan amanat-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir."

Dalam penjelasannya, Ustadz Saiun Ngalim menerangkan bahwa ayat ini merupakan perintah tegas kepada Rasulullah ﷺ untuk menyampaikan seluruh wahyu yang diterima dari Allah SWT. Tidak boleh ada satu pun ajaran yang disembunyikan, dikurangi, ataupun sengaja ditunda penyampaiannya.

Menurutnya, ungkapan dalam ayat tersebut menunjukkan betapa besar tanggung jawab seorang rasul dalam mengemban amanat dakwah. Menyembunyikan sebagian wahyu berarti tidak menunaikan amanat kerasulan sebagaimana mestinya.

Ayat ini juga mengandung jaminan perlindungan Allah kepada Rasulullah ﷺ dari upaya manusia yang hendak menghalangi dakwahnya. Jaminan tersebut bukan berarti Rasulullah tidak pernah mengalami gangguan atau ancaman, melainkan Allah menjamin perlindungan terhadap beliau dalam menjalankan tugas kerasulannya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penolakan terhadap kebenaran tidak selalu disebabkan oleh kurang jelasnya pesan yang disampaikan. Ada kalanya seseorang menolak karena hatinya tertutup dari petunjuk. Oleh karena itu, tugas seorang pendakwah adalah menyampaikan kebenaran dengan sebaik-baiknya, sedangkan hidayah merupakan hak prerogatif Allah SWT.

Ayat 68: Berpegang Teguh pada Wahyu Allah

Dalam pembahasan lanjutan menuju ayat 69, Ustadz Saiun menjelaskan bahwa ahli kitab mencakup kaum Yahudi dan Nasrani. Identitas suatu golongan agama saja tidak cukup menjadi ukuran keselamatan seseorang. Yang terpenting adalah keimanan yang benar dan kesediaan mengikuti petunjuk Allah.

Al-Qur'an membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya, seperti Taurat dan Injil dalam bentuk wahyu aslinya. Di dalamnya terdapat petunjuk dan kabar mengenai kedatangan Nabi Muhammad ﷺ.

Namun, ketika kebenaran telah datang, sebagian orang justru menolaknya. Penolakan tersebut bukan karena kesalahan ajaran yang dibawa Nabi Muhammad, melainkan karena sikap mereka sendiri yang enggan menerima kebenaran.

Ustadz Saiun juga mengingatkan pesan agar Rasulullah ﷺ tidak larut dalam kesedihan menghadapi orang-orang yang memilih kekafiran. Hal ini mengajarkan bahwa seorang pendakwah tidak boleh kehilangan semangat hanya karena dakwahnya belum diterima. Kewajibannya adalah menyampaikan, bukan memaksakan keimanan kepada orang lain.

Ayat 69: Keimanan, Amal Saleh, dan Keselamatan

Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئُونَ وَالنَّصَارَىٰ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Artinya:

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Sabi'un, dan orang-orang Nasrani, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati."

Dalam kajian tata bahasa Arab, Ustadz Saiun menjelaskan bahwa ayat ini menyebut empat golongan, yaitu orang-orang beriman, Yahudi, Sabi'un, dan Nasrani. Selanjutnya, ayat tersebut menerangkan syarat keselamatan, yakni beriman kepada Allah, beriman kepada hari akhir, serta mengerjakan amal saleh.

Ia kemudian menjelaskan bahwa keselamatan umat terdahulu berkaitan dengan keimanan dan ketaatan mereka kepada rasul yang diutus pada zamannya. Umat Nabi Musa mengikuti ajaran yang dibawa Nabi Musa, sedangkan umat Nabi Isa mengikuti ajaran yang dibawa Nabi Isa.

Namun, setelah diutusnya Nabi Muhammad ﷺ sebagai nabi dan rasul terakhir, seluruh manusia wajib beriman kepada beliau dan mengikuti syariat Islam yang dibawanya.

Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Ali 'Imran ayat 19:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Artinya: "Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam."

Ustadz Saiun mengingatkan bahwa menjadi seorang muslim merupakan nikmat yang sangat besar. Nikmat keimanan tidak dapat dibandingkan dengan kekayaan materi apa pun. Karena itu, setiap muslim hendaknya senantiasa bersyukur atas hidayah Islam yang telah dianugerahkan Allah SWT.

Ia juga mengangkat kisah Abu Thalib, paman Rasulullah ﷺ, sebagai pelajaran bahwa iman tidak otomatis diwariskan melalui hubungan keluarga. Meskipun Abu Thalib sangat menyayangi dan melindungi Rasulullah, hingga akhir hayatnya ia tidak menyatakan keimanan sebagaimana yang diharapkan Rasulullah.

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa hidayah sepenuhnya berada dalam kekuasaan Allah SWT. Bahkan Rasulullah ﷺ tidak dapat memberikan hidayah kepada orang yang dicintainya apabila Allah tidak menghendakinya.

Dari kisah tersebut, jamaah diajak memahami bahwa penolakan terhadap dakwah bukanlah hal baru. Para nabi dan rasul terdahulu pun menghadapi tantangan serupa. Oleh sebab itu, seorang muslim hendaknya tetap istiqamah dalam menyampaikan kebaikan tanpa berputus asa ketika menghadapi penolakan.

Ayat 70: Pelajaran dari Sikap Bani Israil terhadap Para Rasul

Allah SWT berfirman:

لَقَدْ أَخَذَ ٱللَّهُ مِيثَٰقَ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ وَأَرْسَلْنَآ إِلَيْهِمْ رُسُلًا ۖ كُلَّمَا جَآءَهُمْ رَسُولٌۢ بِمَا لَا تَهْوَىٰٓ أَنفُسُهُمْ فَرِيقًا كَذَّبُوا وَفَرِيقًا يَقْتُلُونَ

Artinya:

"Sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan Kami telah mengutus para rasul kepada mereka. Setiap kali datang kepada mereka seorang rasul membawa apa yang tidak disukai oleh hawa nafsu mereka, maka sebagian rasul itu mereka dustakan, dan sebagian yang lain mereka bunuh."

Ustadz Saiun menjelaskan bahwa Allah SWT telah mengambil perjanjian dari Bani Israil agar mereka beriman dan menaati perintah-Nya serta mengikuti para rasul yang diutus kepada mereka.

Namun, sejarah menunjukkan bahwa sebagian Bani Israil justru menolak ajaran para rasul. Setiap kali datang seorang rasul membawa ajaran yang tidak sesuai dengan keinginan hawa nafsu mereka, sebagian didustakan, bahkan sebagian lainnya dibunuh.

Sebagai contoh, ia menyebut kisah Nabi Zakariya dan Nabi Yahya 'alaihimassalam yang dalam riwayat disebut mengalami pembunuhan oleh kaumnya. Kisah para nabi tersebut menjadi gambaran beratnya perjuangan menyampaikan kebenaran di tengah masyarakat yang menolak petunjuk Allah.

Ustadz Saiun juga mengingatkan bahwa kisah para nabi bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan pelajaran agar umat Islam tidak mengikuti hawa nafsu dan tidak menolak kebenaran hanya karena bertentangan dengan kepentingan pribadi.

Mensyukuri Nikmat Hidayah dan Istiqamah dalam Islam

Menutup kajian, Ustadz Saiun Ngalim mengajak jamaah mengambil pelajaran dari perjalanan dakwah para nabi dan rasul. Berbagai ujian, penolakan, bahkan ancaman yang mereka hadapi menjadi penguat keyakinan bahwa kebenaran harus tetap disampaikan meskipun tidak selalu diterima oleh semua orang.

Ia mengingatkan bahwa menjadi seorang muslim merupakan anugerah besar dari Allah SWT. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengenal dan menerima Islam. Karena itu, nikmat hidayah harus disyukuri dengan mempelajari syariat, mengamalkannya, dan menjaga keimanan.

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kemudian kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi." (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa lingkungan keluarga memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan agama seorang anak. Karena itu, pendidikan keimanan dalam keluarga perlu mendapatkan perhatian serius.

Kajian ditutup dengan doa agar Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk, menjaga hati kaum muslimin, serta menjadikan mereka hamba-hamba yang istiqamah dalam menjalankan ajaran Islam.

Firnas Muttaqin

Tuesday, November 03, 2026

Ustadz Muqim Amrullah: Hasad Mengikis Amal Saleh dan Merusak Persaudaraan


TUBAN — Pengajian rutin Selasa malam di Masjid Haifa Yusuf, Kopen, Desa Penambangan, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Selasa (3/11/2026), membahas bahaya sifat hasad atau dengki serta cara mengobatinya dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kajian tersebut, Ustadz Muqim Amrullah, S.Ag., selaku pemateri, mengingatkan jamaah agar mewaspadai penyakit hati berupa hasad karena dapat mengikis amal kebaikan, merusak hubungan antarsesama, bahkan menimbulkan permusuhan di tengah keluarga dan masyarakat.

Hasad, Keinginan Hilangnya Nikmat Orang Lain

Ustadz Muqim menjelaskan bahwa hasad bukan sekadar perasaan iri biasa. Secara bahasa, para ulama mendefinisikan hasad sebagai keinginan seseorang agar nikmat yang dimiliki orang lain hilang darinya.

Ia kemudian mengutip sabda Rasulullah ﷺ:

"Jauhilah rasa hasad, karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar."

Menurutnya, seseorang yang memiliki banyak amal saleh tetap harus berhati-hati apabila di dalam hatinya masih tertanam sifat hasad. Sebab, penyakit hati tersebut dapat menggerogoti pahala kebaikan secara perlahan tanpa disadari.

Hasad Merusak Hubungan Sosial

Lebih lanjut, Ustadz Muqim memaparkan bahwa hasad dapat menjadi salah satu sumber keretakan hubungan sosial, baik antartetangga, antarsaudara, maupun dalam lingkungan keluarga.

"Banyak keretakan hubungan — antar tetangga, antar saudara, bahkan dalam satu keluarga — bermula hanya dari satu hal: tidak ikhlas atas nikmat yang Allah berikan kepada orang lain."

Ia menjelaskan bahwa hasad dapat berkembang melalui rangkaian perilaku negatif, mulai dari rasa tidak suka, celaan, fitnah, hingga permusuhan.

Perselisihan mengenai warisan, pertengkaran terkait harta, bahkan terputusnya hubungan kekeluargaan dapat berawal dari sifat dengki yang dibiarkan tumbuh dalam hati.

Selain berdampak terhadap hubungan sosial, hasad juga merugikan diri sendiri. Orang yang memelihara kedengkian cenderung sulit merasakan ketenangan, hatinya dipenuhi kegelisahan, bahkan dapat berdampak terhadap kesehatannya.

Mengimani Takdir Allah sebagai Cara Mengobati Hasad

Dalam pembahasan mengenai penyebab hasad, Ustadz Muqim menekankan pentingnya memperkuat keimanan terhadap takdir Allah SWT.

"Allah-lah yang meninggikan derajat siapa yang dikehendaki dan merendahkan derajat siapa yang dikehendaki. Jika kita merasa iri terhadap nikmat orang lain, sesungguhnya kita sedang melawan ketetapan Allah."

Sebagai landasan, ia mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur'an Surah Ali Imran ayat 102:

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim."

Selain itu, ia juga mengutip Surah An-Nisa ayat 1:

"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu..."

Melalui ayat-ayat tersebut, jamaah diingatkan untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan dan menerima ketetapan Allah, baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Seorang Muslim hendaknya memiliki hati yang lapang terhadap nikmat yang diterima orang lain.

Memperbanyak Syukur dan Mengubah Cara Pandang

Salah satu cara efektif untuk menghindari hasad adalah memperbanyak rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT.

Ustadz Muqim mengutip sabda Rasulullah ﷺ:

"Pandanglah orang yang berada di bawahmu, dan janganlah kamu memandang orang yang berada di atasmu. Dengan cara itu, kamu tidak akan meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu."

Ia menjelaskan bahwa kebiasaan membandingkan kehidupan dengan orang lain yang dianggap lebih beruntung dapat menumbuhkan rasa iri dan ketidakpuasan.

"Seringkali kita lupa mensyukuri apa yang sudah ada. Kita punya sehat, bisa makan, bisa berkumpul — itu semua nikmat luar biasa. Selalu membandingkan ke atas = hasad tumbuh. Melihat ke bawah dan bersyukur = hati terlindung."

Karena itu, jamaah diajak untuk lebih memperhatikan nikmat yang telah dimiliki daripada terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.

Hati Manusia Dapat Berubah dengan Hidayah Allah

Dalam kajian tersebut, Ustadz Muqim juga mengingatkan bahwa sifat buruk bukan sesuatu yang tidak dapat diperbaiki.

Ia mencontohkan perjalanan hidup Umar bin Khattab yang pada awalnya sangat membenci Nabi Muhammad ﷺ. Namun, setelah mendapatkan hidayah Allah, kebencian tersebut berubah menjadi kecintaan dan pembelaan yang luar biasa terhadap Rasulullah ﷺ.

"Tidak ada sifat buruk yang tidak bisa diubah. Hasad pun bisa dihilangkan — dengan hidayah Allah, ilmu yang benar, dan kemauan hati untuk berubah."

Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri selama bersedia menerima petunjuk dan berusaha mengubah perilakunya.

Amalan Perlindungan dari Hasad dan Kedengkian

Untuk menjaga diri dari berbagai keburukan, termasuk hasad dan kedengkian, Ustadz Muqim menyampaikan sejumlah amalan yang dianjurkan untuk dibaca pada pagi dan sore hari, yaitu:

1. Membaca Ayat Kursi.
2. Membaca Surah Al-Ikhlas sebanyak tiga kali.
3. Membaca Surah Al-Falaq sebanyak tiga kali.
4. Membaca Surah An-Nas sebanyak tiga kali.

Ia menjelaskan bahwa ketiga surah tersebut termasuk bacaan perlindungan yang dikenal sebagai Al-Mu'awwidzat, yang menjadi sarana memohon perlindungan kepada Allah SWT dari berbagai keburukan.

"Ketiga surat ini — yang dikenal sebagai Al-Mu'awwidzatain — adalah perlindungan yang Allah turunkan untuk menjaga kita dari segala keburukan, termasuk kedengkian orang lain."

Selain memperbanyak zikir dan doa, jamaah juga dianjurkan untuk membangun sikap tawakal, bersabar, serta membalas keburukan dengan kebaikan.

Ustadz Muqim mengingatkan keteladanan Rasulullah ﷺ yang tetap mendoakan kebaikan bagi kaumnya meskipun mendapatkan perlakuan menyakitkan.

Ketika Rasulullah ﷺ mengalami peristiwa dilempari batu hingga terluka dan berdarah, beliau tetap menunjukkan kasih sayang melalui doa:

"Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui kebenaran."

Menjaga Kebersihan Hati dan Ukhuwah Islamiyah

Pengajian ditutup dengan doa dan harapan agar seluruh jamaah senantiasa dijauhkan dari penyakit hati, khususnya hasad dan dengki. Kebersihan hati diharapkan menjadi landasan untuk membangun hubungan persaudaraan yang kuat, baik dalam keluarga maupun kehidupan bermasyarakat.

"Semoga kita semua senantiasa dalam lindungan Allah, hati yang bersih, amal yang diterima, dan terhindar dari penyakit hati. Aamiin."

Melalui kajian ini, jamaah diingatkan bahwa menjaga kebersihan hati merupakan bagian penting dari kehidupan seorang Muslim. Memperkuat iman, menerima takdir Allah, memperbanyak syukur, serta membiasakan diri mendoakan kebaikan bagi sesama menjadi langkah untuk menghindari hasad dan menjaga ukhuwah Islamiyah.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Wednesday, October 28, 2026

RTPS Disusun di 26 Desa/Kelurahan di 7 Kecamatan, Tuban Perkuat Pengelolaan Sampah dari Tingkat Tapak

TUBAN – Upaya membenahi sampah di Kabupaten Tuban kini bergerak serentak dari tingkat tapak. Melalui program ISWMP (Improvement of Solid Waste Management to Support Regional and Metropolitan Cities Project)., 26 desa dan kelurahan yang tersebar di tujuh kecamatan menyusun Rencana Tindak Pengelolaan Persampahan (RTPS). Dokumen ini menjadi peta jalan yang menerjemahkan aturan nasional hingga daerah menjadi langkah nyata di tingkat desa.

Sebaran Wilayah Sasaran

Dari 26 lokasi, 24 berstatus desa dan 2 kelurahan, yakni Gedongombo dan Panyuran. Sebarannya sebagai berikut:

Cakupan ini memuat wilayah dengan karakter beragam, dari kawasan perkotaan, pesisir, dan perdesaan hingga wilayah perbukitan. Karena itu RTPS dirancang agar bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing, tetapi tetap berada dalam satu kerangka regulasi yang sama.

Berpijak pada 11 Lapis Aturan

Seluruh RTPS mengacu pada hirarki peraturan yang berjenjang. Di tingkat pusat, pijakannya adalah UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan PP No. 81 Tahun 2012 tentang sampah rumah tangga dan sejenisnya, termasuk Pasal 35 tentang peran masyarakat. Perpres No. 97 Tahun 2017 tentang Jakstranas menetapkan target pengurangan sampah 30 persen dan penanganan 70 persen. Perpres No. 18 Tahun 2020 tentang RPJMN 2020–2024, Permendagri No. 33 Tahun 2010, dan Permen PU No. 03 Tahun 2013 melengkapi dari sisi perencanaan dan prasarana.

Di tingkat provinsi, ada Perda Jatim No. 9 Tahun 2022 dan Pergub Jatim No. 106 Tahun 2018 tentang Jakstrada, yang mengulang target 30 persen pengurangan dan 70 persen penanganan. Di tingkat kabupaten, tiga aturan menjadi rujukan utama:

PERDA Tuban No. 12 Tahun 2025, yang memuat ketentuan lembaga pengelola (Pasal 18B).
PERDA Tuban No. 10 Tahun 2025, yang mengatur tarif retribusi.
PERBUP Tuban No. 7 Tahun 2024 tentang Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah (RISPS), yang memuat strategi peran masyarakat (Pasal 12).
Lima Langkah di Setiap Wilayah

Permendagri No. 33 Tahun 2010 Pasal 4 menjadi kerangka isi RTPS, yaitu lima langkah pengelolaan sampah:

Pemilahan: organik dan anorganik dipisahkan dari sumber.
Pengumpulan: warga membawa sampah ke TPS sementara.
Pengangkutan: sampah diangkut dengan armada pengelola.
Pengolahan: diolah menjadi kompos, biogas, atau bahan daur ulang.
Pemrosesan akhir: pembuangan akhir sesuai standar lingkungan.

Setiap desa dan kelurahan menyesuaikan lima langkah ini dengan jumlah penduduk, sarana yang tersedia, dan kesiapan kelembagaannya.

Angka Timbulan dan Gambaran Tarif

RTPS disusun berbasis angka. PERBUP Tuban No. 7 Tahun 2024 menetapkan timbulan sampah kabupaten sebesar 0,43 kg per orang per hari. Angka ini menjadi patokan untuk memperkirakan volume sampah, kebutuhan armada, dan kapasitas pengolahan di tiap wilayah.

Untuk pembiayaan, PERDA Tuban No. 10 Tahun 2025 memberi gambaran struktur tarif:

TPS3R non-UPTD: Rp1.000 untuk rumah tangga Golongan 1 (450 VA) sampai Rp10.000 untuk Golongan 4 (di atas 6.600 VA).
Layanan langsung dari sumber oleh UPTD: Rp10.000 sampai Rp50.000 sesuai golongan.
Sewa sarana: pickup Rp800.000 per unit per tahun, roda tiga Rp125.000 per unit per tahun, dan pengangkutan TPS pasar Rp30.000 per meter kubik.

Tarif ini menjadi acuan bagi desa dan kelurahan dalam merancang model layanan dan iurannya.

Tantangan: Dari Dokumen ke Kebiasaan

Setelah RTPS tersusun, tantangan berikutnya adalah pelaksanaan. Aturan sebaik apa pun tidak berjalan bila warga belum terbiasa memilah sampah dan lembaga pengelola belum siap beroperasi. Karena itu RTPS perlu diikuti penguatan kelembagaan, peraturan desa, prosedur layanan, dan sosialisasi yang berkelanjutan di tiap wilayah. Sebagai gambaran, Desa Sawir di Kecamatan Tambakboyo telah merintis lembaga pengelola sampah desa bernama LPS Fajar Bhakti sebagai pelaksana RTPS di wilayahnya.

Penyusunan RTPS di 26 desa dan kelurahan menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di Tuban digarap dari akar. Hirarki peraturan yang berjenjang, konsisten, dan akuntabel kini diterjemahkan menjadi rencana yang dapat dikerjakan warga, dari dapur rumah tangga sampai pemrosesan akhir.

Tuesday, October 27, 2026

Ustadz Abdus Salam: Syukur Saat Mendapat Nikmat, Sabar Ketika Menghadapi Musibah


TUBAN – Ustadz Abdus Salam mengajak umat Islam untuk senantiasa bersyukur ketika memperoleh nikmat dan bersabar saat menghadapi musibah. Sikap tersebut merupakan bagian penting dari keimanan yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, baik melalui ibadah maupun kepedulian terhadap sesama.

Pesan tersebut disampaikan dalam Pengajian Selasa Malam, 27 Oktober 2026, di Masjid Lathifah An Nashir, Sidorejo, Tuban. Dalam kajiannya, Ustadz Abdus Salam membahas sejumlah amalan yang dapat mendekatkan seorang Muslim kepada surga, di antaranya beribadah kepada Allah SWT, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan menyambung tali silaturahim.

## Mensyukuri Nikmat Hujan

Dalam ceramahnya, Ustadz Abdus Salam menyoroti hujan sebagai salah satu bentuk nikmat Allah SWT yang patut disyukuri. Hujan menjadi sumber kehidupan bagi manusia, tumbuhan, dan makhluk lainnya. Karena itu, umat Islam hendaknya menyambut turunnya hujan dengan rasa syukur, bukan semata-mata dengan keluhan.

Menurutnya, manusia terkadang mudah mengeluh ketika menghadapi keadaan yang tidak sesuai dengan keinginannya. Ketika kemarau panjang, manusia berharap hujan segera turun. Namun, ketika hujan turun terus-menerus, sebagian orang justru mengeluh.

Sikap tersebut menunjukkan bahwa manusia perlu belajar menerima keadaan dengan penuh kesadaran dan keimanan.

“Ketika mendapatkan kenikmatan, seorang Muslim hendaknya bersyukur dengan mengucapkan Alhamdulillah. Namun, ketika mendapatkan musibah, ia harus bersabar,” demikian inti pesan yang disampaikan dalam kajian tersebut.

Syukur, lanjutnya, tidak cukup hanya diucapkan. Nikmat yang diberikan Allah juga harus dimanfaatkan untuk kebaikan. Apabila seseorang memperoleh rezeki berupa harta, hendaknya ia menggunakannya untuk bersedekah dan membantu sesama. Jika memperoleh kesehatan, hendaknya digunakan untuk memperbanyak ibadah dan amal saleh. Sementara itu, kecerdasan dan ilmu pengetahuan hendaknya dimanfaatkan untuk berdakwah serta menunjukkan jalan kebenaran kepada orang lain.

## Silaturahim sebagai Jalan Menuju Surga

Pembahasan berikutnya berfokus pada pentingnya menjaga hubungan persaudaraan. Ustadz Abdus Salam menjelaskan hadis tentang Abu Ayyub Al-Anshari yang bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai amalan yang dapat memasukkannya ke surga dan menjauhkannya dari api neraka.

Dalam hadis tersebut, Rasulullah SAW menjelaskan pentingnya menyembah Allah tanpa menyekutukan-Nya, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan menyambung tali silaturahim.

Silaturahim tidak hanya diwujudkan melalui pertemuan keluarga besar. Mengunjungi kerabat, menjenguk anggota keluarga yang sakit, menjaga komunikasi, dan membantu saudara yang membutuhkan juga merupakan bentuk nyata pemeliharaan hubungan persaudaraan.

Menurut Ustadz Abdus Salam, silaturahim perlu terus dijaga agar hubungan antarkeluarga tidak renggang. Bahkan, pemberian sederhana yang dilakukan dengan ikhlas dapat menjadi sarana untuk mempererat kasih sayang.

Ia juga menjelaskan bahwa istilah silaturahim dan silaturahmi pada umumnya digunakan untuk merujuk pada upaya menjaga dan menyambung hubungan persaudaraan serta kasih sayang antarsesama.

## Sedekah kepada Kerabat Memiliki Dua Keutamaan

Dalam kajian tersebut, Ustadz Abdus Salam turut membahas keutamaan bersedekah kepada keluarga dekat yang membutuhkan.

Ia menjelaskan hadis yang menerangkan bahwa sedekah kepada orang miskin bernilai satu pahala sedekah, sedangkan sedekah kepada kerabat mengandung dua keutamaan, yaitu pahala sedekah dan pahala menyambung silaturahim.

Dengan demikian, membantu keluarga yang sedang mengalami kesulitan ekonomi merupakan amalan yang memiliki nilai sosial sekaligus nilai ibadah.

Bentuk bantuan tidak harus selalu berupa uang dalam jumlah besar. Seseorang dapat berbagi makanan, bahan kebutuhan pokok, atau bantuan lain sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Prinsip tersebut juga sejalan dengan anjuran untuk memberikan makanan kepada orang yang berpuasa. Selain membantu memenuhi kebutuhan orang lain, tindakan tersebut menjadi wujud kepedulian dan kebersamaan di tengah masyarakat.

## Berbuka Puasa dengan Kurma atau Air

Materi kajian selanjutnya membahas tuntunan berbuka puasa. Ustadz Abdus Salam menyampaikan bahwa kurma merupakan salah satu pilihan yang dianjurkan untuk mengawali berbuka puasa. Apabila kurma tidak tersedia, berbuka dengan air dapat menjadi pilihan.

Ia mengingatkan agar umat Islam tidak hanya memperhatikan makanan yang dikonsumsi, tetapi juga berusaha mengikuti tuntunan Rasulullah SAW dalam beribadah.

Dalam konteks kehidupan sehari-hari, anjuran tersebut menjadi pengingat bahwa kesederhanaan dan mengikuti sunah merupakan bagian dari upaya memperbaiki kualitas ibadah.

Selain itu, umat Islam juga diajak untuk memperhatikan kebutuhan orang lain, terutama mereka yang kesulitan memenuhi kebutuhan pangan.

## Ketaatan kepada Allah Harus Diutamakan

Pada bagian akhir kajian, Ustadz Abdus Salam membahas kisah Abdullah bin Umar dan ayahnya, Umar bin Khattab, yang berkaitan dengan persoalan rumah tangga. Kisah tersebut digunakan untuk menjelaskan pentingnya menempatkan ajaran agama sebagai pedoman dalam menentukan sikap dan mengambil keputusan.

Ia mengingatkan bahwa kecintaan terhadap sesuatu tidak boleh membuat seseorang mengabaikan ketentuan Allah SWT.

Namun, ketaatan dalam kehidupan sehari-hari tetap harus dipahami sesuai dengan tuntunan syariat dan konteks persoalannya. Setiap keputusan, termasuk yang menyangkut hubungan keluarga, perlu mempertimbangkan ketentuan agama dan hak-hak pihak yang terlibat.

Pesan tersebut sejalan dengan ajakan agar umat Islam bersedia mengorbankan sebagian hal yang dicintainya demi kebaikan dan ketaatan kepada Allah SWT.

## Menjaga Istikamah dalam Beribadah

Menutup kajiannya, Ustadz Abdus Salam berharap agar jamaah senantiasa diberi kekuatan untuk menjalankan perintah Allah SWT, menjauhi larangan-Nya, dan mengikuti sunah Rasulullah SAW.

Ia juga mengajak umat Islam untuk membiasakan diri bersyukur ketika memperoleh nikmat, bersabar ketika menghadapi ujian, serta memperbanyak amal saleh yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Melalui pengamalan nilai-nilai tersebut, umat Islam diharapkan dapat membangun kehidupan yang lebih baik, menjaga persaudaraan, dan meraih kebahagiaan di dunia maupun akhirat. (*)

Firnas Muttaqin 

Saturday, October 24, 2026

Tafsir Al-Maidah Ayat 59–62, Ustadz Saiun Ngalim Bahas Sikap Ahli Kitab terhadap Kebenaran


TUBAN – Pengajian tafsir Al-Qur’an yang digelar di Masjid Al Fajri Tuban, Sabtu (24/10/2026) ba’da Maghrib, membahas Surah Al-Maidah ayat 59–62 dengan merujuk Kitab Tafsir Jalalain. Kajian yang disampaikan Ustadz Saiun Ngalim tersebut mengangkat pesan tentang sikap terhadap ajaran Allah, konsekuensi keimanan, serta perilaku orang-orang yang menolak kebenaran.

Surah Al-Maidah ayat 59–62 memuat teguran kepada sebagian Ahli Kitab atas sikap mereka terhadap orang-orang beriman. Ayat-ayat ini juga menjelaskan perbedaan antara keimanan yang diwujudkan dalam ketaatan dan sikap yang bertentangan dengan petunjuk Allah.

Ayat 59: Mengapa Orang Beriman Dipersoalkan?

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Maidah ayat 59:

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ هَلْ تَنْقِمُونَ مِنَّا إِلَّا أَنْ آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلُ

Yā ahlal-kitābi hal tanqimūna minnā illā an āmannā billāhi wa mā unzila ilainā wa mā unzila min qablu.

Artinya: “Katakanlah, ‘Wahai Ahli Kitab, apakah kamu memandang kami salah hanya karena kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya?’” (QS. Al-Maidah: 59, terjemahan makna).

Ayat ini menegaskan bahwa keimanan kepada Allah dan wahyu-Nya tidak semestinya dijadikan alasan untuk memusuhi seseorang. Al-Qur’an mengingatkan bahwa keimanan umat Islam mencakup keyakinan kepada wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW serta wahyu yang diturunkan kepada para nabi sebelumnya.

Pesan yang dapat diambil ialah pentingnya bersikap adil dalam menilai keyakinan orang lain dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk melakukan permusuhan.

Ayat 60: Peringatan atas Penyimpangan

Pada ayat berikutnya, Allah SWT menyampaikan teguran keras kepada orang-orang yang mendapatkan laknat dan kemurkaan-Nya.

Allah berfirman:

قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَٰلِكَ مَثُوبَةً عِنْدَ اللَّهِ

Qul hal unabbi'ukum bisyar-rin min żālika maṡūbatan 'indallāh.

Artinya: “Katakanlah, ‘Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang yang lebih buruk pembalasannya di sisi Allah?’” (QS. Al-Maidah: 60, petikan ayat).

Ayat ini menyebut sejumlah golongan yang mendapat kemurkaan Allah, termasuk orang-orang yang dikutuk dan mereka yang menjadikan sesembahan selain Allah sebagai tandingan-Nya.

Dalam konteks tafsir, ayat tersebut menjadi peringatan bahwa kedudukan manusia di hadapan Allah tidak ditentukan oleh pengakuan semata, melainkan berkaitan dengan keyakinan, ketaatan, dan perbuatannya.

Ayat 61: Pengakuan yang Tidak Sejalan dengan Perbuatan

Surah Al-Maidah ayat 61 menggambarkan sikap orang-orang yang datang kepada Nabi Muhammad SAW dengan menyatakan beriman, padahal mereka datang dalam keadaan membawa kekufuran dan meninggalkan beliau dalam keadaan yang sama.

Allah SWT berfirman:

وَقَدْ دَخَلُوا بِالْكُفْرِ وَهُمْ قَدْ خَرَجُوا بِهِ

Wa qad dakhalū bil-kufri wa hum qad kharajū bih.

Artinya: “Padahal mereka datang dengan kekafiran dan mereka pun keluar dengan kekafiran itu.” (QS. Al-Maidah: 61, petikan ayat).

Ayat ini menunjukkan adanya perbedaan antara perkataan yang diucapkan dan keadaan batin seseorang. Pengakuan secara lisan tidak selalu mencerminkan keyakinan yang sesungguhnya.

Pesan yang dapat direnungkan dari ayat ini adalah pentingnya menjaga kesesuaian antara ucapan, keyakinan, dan tindakan. Kejujuran serta ketulusan menjadi bagian penting dalam menjalankan ajaran agama.

Ayat 62: Larangan Berlomba dalam Dosa

Pada ayat ke-62, Al-Qur’an menyoroti perilaku sebagian orang yang terus melakukan pelanggaran dan memakan sesuatu yang haram.

Allah SWT berfirman:

وَتَرَىٰ كَثِيرًا مِنْهُمْ يُسَارِعُونَ فِي الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ

Wa tarā kaṡīram minhum yusāri'ụna fil-iṡmi wal-'udwāni wa aklihimus-suḥt.

Artinya: “Engkau akan melihat banyak di antara mereka berlomba-lomba dalam berbuat dosa, permusuhan, dan memakan yang haram.” (QS. Al-Maidah: 62, petikan ayat).

Ayat tersebut memberikan peringatan tentang bahaya membiasakan diri melakukan dosa dan pelanggaran. Perbuatan yang salah tidak boleh dianggap wajar hanya karena dilakukan berulang kali atau menjadi kebiasaan di lingkungan masyarakat.

Kandungan ayat ini juga relevan dengan kehidupan sehari-hari, terutama dalam menjaga kejujuran, menghindari permusuhan, serta memastikan bahwa harta dan penghasilan diperoleh melalui cara yang halal.

Menjaga Keimanan dan Perilaku

Rangkaian Surah Al-Maidah ayat 59–62 memberikan gambaran tentang sikap terhadap kebenaran, pentingnya ketulusan dalam beragama, serta peringatan terhadap perilaku yang bertentangan dengan ketentuan Allah.

Melalui kajian Kitab Tafsir Jalalain, ayat-ayat tersebut dapat menjadi bahan introspeksi bagi umat Islam agar tidak berhenti pada pengakuan keimanan secara lisan. Keimanan perlu tercermin dalam perilaku, kejujuran, keadilan, dan kesediaan menjauhi perbuatan dosa.

Pengajian tafsir seperti ini menjadi sarana untuk memahami pesan Al-Qur’an secara lebih mendalam sekaligus menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. (*)

FIRNAS MUTTAQIN

Tuesday, October 20, 2026

Ustadz Abdus Salam Tekankan Pentingnya Membimbing Keluarga dan Mendahulukan Kebutuhan Orang Terdekat

TUBAN – Ustadz Abdus Salam menekankan pentingnya tanggung jawab seorang muslim dalam memenuhi kebutuhan keluarga, berbagi kepada orang lain, serta membimbing anggota keluarga agar tetap berada di jalan Allah SWT. Pesan tersebut disampaikan dalam pengajian Selasa, 20 Oktober 2026, di Masjid Lathifah Nashir, Sidorejo, Tuban.

Dalam ceramahnya, Ustadz Abdus Salam menjelaskan bahwa kepedulian terhadap orang lain perlu diimbangi dengan perhatian terhadap kebutuhan keluarga sendiri. Kebutuhan istri, anak-anak, dan kerabat hendaknya diperhatikan sebelum seseorang memberikan seluruh kemampuannya untuk kepentingan orang lain.

Menurutnya, membantu sesama merupakan perbuatan baik, tetapi tanggung jawab terhadap keluarga juga tidak boleh diabaikan. Setelah kebutuhan keluarga terpenuhi, seseorang dapat memperluas kepeduliannya kepada kerabat yang lebih jauh dan masyarakat di sekitarnya.

Selain membahas tanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan keluarga, Ustadz Abdus Salam juga mengingatkan pentingnya mengajak anggota keluarga untuk memahami dan menjalankan ajaran agama.

Pesan tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, Surah At-Tahrim ayat 6:

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa tanggung jawab seorang muslim tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan materi. Orang tua dan anggota keluarga juga memiliki tanggung jawab untuk saling mengingatkan, membimbing, serta mengajak kepada kebaikan.

Ustadz Abdus Salam turut menjelaskan bahwa dalam lingkungan keluarga, tidak semua orang memiliki sikap dan pilihan yang sama terhadap agama. Karena itu, upaya mengajak keluarga kepada kebaikan perlu dilakukan dengan kesungguhan, kesabaran, dan cara yang bijaksana.

Ia mengingatkan agar seseorang tidak berhenti berusaha hanya karena ada anggota keluarga yang belum menerima ajakan tersebut. Setiap orang tetap perlu menjalankan tanggung jawabnya dengan baik sembari memohon petunjuk dan pertolongan Allah SWT.

Pada bagian akhir ceramah, jamaah diajak untuk memperhatikan pendidikan agama dalam keluarga, termasuk kepada anak-anak dan keturunan. Usaha membimbing keluarga hendaknya dilakukan secara berkelanjutan agar nilai-nilai keimanan dan kebaikan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pengajian ditutup dengan doa agar Allah SWT memberikan petunjuk, memudahkan umat Islam dalam menjalankan kewajiban, serta menjadikan diri dan keluarga sebagai golongan yang taat kepada-Nya.

Melalui kajian tersebut, jamaah diingatkan bahwa kepedulian sosial, pemenuhan tanggung jawab keluarga, dan pendidikan agama merupakan bagian penting dari kehidupan seorang muslim.

Firnas Muttaqin 

Sunday, October 18, 2026

Makna Hidup Bahagia Dunia dan Akhirat


TUBAN – Pengajian Ahad pagi di Masjid Darussalam, Tuban, pada Minggu (18/10/2026), menghadirkan Ustadz H. Sudarji, M.Pd.I., yang menyampaikan kajian bertema Hidup Bahagia di Dunia dan Akhirat. Dalam ceramahnya, ia menguraikan makna doa sapujagat serta berbagai bentuk kebaikan dunia yang patut disyukuri oleh setiap muslim.

Doa yang menjadi pokok pembahasan adalah:

Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah, wa fil-aakhirati hasanah, wa qinaa 'adzaaban-naar.

Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.”

Ustadz Sudarji menjelaskan bahwa doa tersebut tidak hanya berisi permohonan untuk memperoleh kebahagiaan di dunia, tetapi juga keselamatan dan kebaikan di akhirat. Doa ini, menurutnya, juga dibaca ketika melakukan tawaf, khususnya saat berada di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad.

Dalam kajiannya, ia merujuk sejumlah kitab, di antaranya Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili, Tafsir Al-Baghawi, Tafsir Al-Qurthubi, serta kitab-kitab syarah hadis. Berdasarkan rujukan tersebut, ia menguraikan sejumlah bentuk hasanah fid-dunya, yakni kebaikan yang dapat dirasakan dalam kehidupan dunia.

Sehat, Rezeki, dan Keluarga yang Saleh

Salah satu kebaikan dunia yang pertama dibahas adalah kesehatan. Menurut Ustadz Sudarji, kesehatan merupakan nikmat besar karena memungkinkan seseorang menjalankan ibadah, menghadiri majelis ilmu, bekerja, serta melakukan berbagai aktivitas yang bermanfaat.

“Kalau panjenengan hidup hari ini dalam keadaan sehat, berarti panjenengan telah mendapatkan kebaikan dunia,” jelasnya di hadapan jamaah.

Ia menambahkan, kesehatan memungkinkan seseorang menjalankan ibadah dengan lebih leluasa. Sebaliknya, ketika sakit, berbagai aktivitas dapat terhambat. Karena itu, kesehatan perlu disyukuri dan dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas ibadah serta amal kebaikan.

Selain kesehatan, ia menjelaskan bahwa rumah yang layak dan luas, kendaraan yang nyaman, serta rezeki yang mencukupi kebutuhan juga termasuk bentuk kebaikan dunia. Namun, ukuran kecukupan tidak harus disamakan dengan kemewahan atau banyaknya harta.

Menurutnya, rumah yang nyaman adalah rumah yang dapat memenuhi kebutuhan keluarga, sedangkan rezeki yang luas dapat dimaknai sebagai penghasilan yang mencukupi kebutuhan sehari-hari dan masih menyisakan kelebihan.

Ia mengingatkan jamaah agar tidak menjadikan kepemilikan rumah besar, mobil mewah, atau kekayaan berlimpah sebagai satu-satunya ukuran kebahagiaan. Hal yang lebih penting adalah kemampuan mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah SWT.

Istri Salehah dan Anak-Anak yang Menyejukkan Hati

Ustadz Sudarji juga menekankan pentingnya keluarga yang saleh sebagai bagian dari kebahagiaan dunia. Ia menjelaskan bahwa istri salehah bukan hanya pasangan yang taat beribadah, tetapi juga mampu menjaga kehormatan diri, keluarga, dan harta ketika suami tidak berada di rumah.

Selain itu, anak-anak yang saleh dan salehah merupakan anugerah besar bagi orang tua. Mendidik anak agar memiliki akhlak baik, rajin beribadah, menghormati orang lain, dan bertanggung jawab membutuhkan perhatian serta keteladanan yang berkelanjutan.

Ia mengingatkan bahwa anak dapat menjadi sumber kebahagiaan, tetapi juga bisa menjadi ujian bagi orang tua apabila tidak mendapatkan pendidikan dan pengawasan yang memadai.

Karena itu, orang tua perlu memperhatikan pendidikan agama dan pembentukan karakter anak sejak dini. Kesalehan anak, menurutnya, tidak hanya berkaitan dengan keberhasilan di dunia, tetapi juga memiliki nilai penting bagi kehidupan akhirat.

Dalam ceramah tersebut, ia mengaitkan pembahasan itu dengan doa yang terdapat dalam Al-Qur'an, yakni permohonan agar pasangan dan keturunan menjadi penyejuk mata atau qurrata a'yun.

Anak Saleh sebagai Investasi Akhirat

Lebih lanjut, Ustadz Sudarji menjelaskan bahwa anak saleh memiliki kedudukan istimewa dalam kehidupan seorang muslim. Ia mengutip kandungan Surah At-Tur ayat 21 tentang orang-orang beriman yang keturunannya mengikuti mereka dalam keimanan.

Ia menerangkan bahwa ayat tersebut memberikan gambaran tentang karunia Allah SWT yang mempertemukan orang tua dan keturunannya di surga. Dengan demikian, pendidikan dan pembinaan anak tidak semestinya hanya diarahkan pada keberhasilan akademik, pekerjaan, atau kedudukan sosial, tetapi juga pada keimanan dan akhlak.

Dalam konteks ini, ia mengingatkan jamaah agar tidak mengukur keberhasilan anak semata-mata dari latar belakang ekonomi keluarga. Anak dari keluarga sederhana pun dapat meraih prestasi dan memberikan manfaat besar apabila memperoleh pendidikan, bimbingan, serta kesempatan yang baik.

Ia juga menyampaikan bahwa harta bukan satu-satunya ukuran rezeki. Kesehatan, anak yang saleh, dan keridaan Allah SWT memiliki nilai yang lebih tinggi daripada sekadar kekayaan materi.

Ilmu yang Bermanfaat dan Hati yang Lapang

Selain kesehatan, keluarga, dan kecukupan rezeki, Ustadz Sudarji turut membahas pentingnya ilmu yang bermanfaat, rasa aman, ketenteraman, terhindar dari berbagai masalah, serta sikap menerima pemberian Allah SWT.

Menurutnya, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mendorong seseorang untuk melakukan amal kebaikan. Mengikuti pengajian tidak cukup hanya dengan mendengarkan ceramah, tetapi perlu dilanjutkan dengan memahami dan mengamalkan pesan yang disampaikan.

Ia mengingatkan bahwa ilmu tanpa amal ibarat pohon yang tidak menghasilkan buah. Oleh sebab itu, jamaah diharapkan menjadikan majelis ilmu sebagai sarana memperbaiki perilaku, meningkatkan kualitas ibadah, dan membangun hubungan yang baik dengan sesama.

Ia juga menekankan pentingnya rasa aman dan nyaman di rumah maupun di lingkungan tempat tinggal. Kehidupan yang jauh dari konflik, keluarga yang rukun, kesehatan yang terjaga, serta rezeki yang mencukupi merupakan bagian dari nikmat yang patut disyukuri.

Sikap menerima pemberian Allah SWT atau qanaah juga menjadi salah satu pokok bahasan. Menurutnya, seseorang tidak harus memiliki kekayaan berlimpah untuk merasakan kebahagiaan. Selama kebutuhan tercukupi, tidak bergantung pada utang secara berlebihan, dan mampu mensyukuri apa yang dimiliki, seseorang dapat menjalani kehidupan dengan lebih tenang.

Keridaan Allah sebagai Puncak Kebahagiaan

Pada bagian akhir kajian, Ustadz Sudarji menegaskan bahwa berbagai bentuk kebaikan dunia hendaknya mengantarkan seorang muslim menuju tujuan yang lebih tinggi, yaitu memperoleh keridaan Allah SWT.

Harta, kesehatan, rumah, kendaraan, keluarga, dan ilmu merupakan nikmat yang perlu digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan sekadar untuk memenuhi kepentingan pribadi.

Ia mengajak jamaah untuk terus bersyukur, memperbaiki amal, mendidik keluarga, dan mengamalkan ilmu yang diperoleh dari majelis pengajian.

Melalui kajian tersebut, jamaah diajak memahami bahwa hidup bahagia tidak selalu berarti memiliki segala sesuatu yang mewah. Kebahagiaan juga terletak pada kesehatan, kecukupan, keluarga yang saleh, ketenteraman hati, ilmu yang bermanfaat, serta kemampuan menerima ketetapan Allah SWT dengan penuh rasa syukur.

Pengajian ditutup dengan doa bersama, memohon agar Allah SWT memberikan kebaikan di dunia dan akhirat, membimbing umat Islam untuk senantiasa beribadah dengan baik, serta melimpahkan keridaan dan perlindungan-Nya kepada seluruh jamaah.

Firnas Muttaqin