Firnas Blogspot
Media Aspirasi dan Rekaman Peristiwa. Kontak Email: suratfirnas@gmail.com
Thursday, September 24, 2026
Qishas: Hukum Islam Bertujuan Melindungi Jiwa dan Memutus Rantai Dendam
Sunday, September 20, 2026
Menjaga Semangat Ibadah dan Istiqomah
Saturday, September 19, 2026
Pengajian Sabtu Ba’da Maghrib, Ustadz Saiun Ngalim Bahas Tobat, Keadilan, dan Larangan Memutarbalikkan Kebenaran
Friday, September 18, 2026
Khutbah Jumat di Masjid Lathifah An Nashr: Menyiapkan Bekal Akhirat dengan Sebaik-baik Amal
Saturday, September 12, 2026
Tafsir Al-Maidah Ayat 35-39: Takwa, Wasilah, dan Jalan Mendekat kepada Allah
TUBAN — Pengajian Sabtu malam di Masjid Al Fajri Tuban, Sabtu (12/9/2026), diisi dengan kajian Tafsir Jalalain Surah Al-Ma’idah ayat 35-39 oleh Ustadz Saiun Ngalim.
Dalam kajiannya, Ustadz Saiun menekankan pentingnya ketakwaan kepada Allah, mencari jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya melalui ketaatan dan ibadah, serta memahami konsekuensi perbuatan manusia di dunia dan akhirat.
Mengawali penjelasan pada Surah Al-Ma’idah ayat 35, Ustadz Saiun mengutip firman Allah SWT:
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْۤا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya, agar kamu beruntung.”
(QS. Al-Ma’idah: 35)
Menurut Ustadz Saiun, takwa bukan sekadar rasa takut, tetapi takut kepada Allah yang diwujudkan dengan ketaatan.
“Takut kepada Allah itu berbeda dengan takut kepada masyarakat. Kalau kita takut kepada Allah, kita harus mencari cara untuk menaati-Nya,” jelasnya.
Ia kemudian menjelaskan istilah wasilah dalam ayat tersebut. Wasilah merupakan jalan yang digunakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah. Jalan itu ditempuh melalui ketaatan dan ibadah.
“Wasilah yaitu jalan yang akan mendekatkan diri kita kepada-Nya dengan jalan taat dan beribadah,” kata Ustadz Saiun.
Dalam penjelasannya, ia juga mengingatkan agar pemahaman tentang wasilah tidak dilepaskan dari tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah. Menurutnya, seorang Muslim hendaknya mendekatkan diri kepada Allah melalui amal ketaatan, ibadah, dan amal saleh.
Kehidupan dunia hanya sementara
Memasuki pembahasan Surah Al-Ma’idah ayat 36-37, Ustadz Saiun mengajak jamaah melihat kehidupan dunia sebagai sesuatu yang sementara. Harta dan kekayaan yang dimiliki manusia di dunia tidak dapat digunakan untuk menebus azab Allah di akhirat.
Allah SWT berfirman:
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْ اَنَّ لَهُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا وَّمِثْلَهٗ مَعَهٗ لِيَفْتَدُوْا بِهٖ مِنْ عَذَابِ يَوْمِ الْقِيٰمَةِ مَا تُقُبِّلَ مِنْهُمْ
“Sesungguhnya orang-orang kafir, sekiranya mereka mempunyai segala yang ada di bumi dan ditambah sebanyak itu lagi untuk menebus diri mereka dari azab pada hari Kiamat, niscaya semua itu tidak akan diterima dari mereka.”
(QS. Al-Ma’idah: 36)
Ayat tersebut, kata Ustadz Saiun, menjadi peringatan bahwa kesempatan memperbaiki diri berada ketika manusia masih hidup di dunia.
Kehidupan dunia tidak boleh membuat manusia lupa terhadap kehidupan akhirat. Sebab, ketika seseorang telah menghadapi kehidupan akhirat, harta yang dahulu dikejar tidak lagi memiliki kemampuan untuk menyelamatkannya dari azab Allah.
Larangan mencuri dan pentingnya menjaga hak manusia
Pada Surah Al-Ma’idah ayat 38, kajian berlanjut pada ketentuan mengenai pencurian.
Allah SWT berfirman:
وَا لسَّا رِقُ وَا لسَّا رِقَةُ فَا قْطَعُوْۤا اَيْدِيَهُمَا جَزَآءًۢ بِمَا كَسَبَا نَـكَالًا مِّنَ اللّٰهِ ۗ وَا للّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
“Adapun laki-laki maupun perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya sebagai balasan atas perbuatan yang mereka lakukan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.”
(QS. Al-Ma’idah: 38)
Ustadz Saiun menjelaskan bahwa ayat tersebut merupakan ketentuan syariat yang memiliki aturan dan persyaratan tertentu. Ia juga mengingatkan bahwa persoalan hukum tidak boleh dipahami secara serampangan hanya berdasarkan potongan ayat.
Dalam Tafsir Jalalain yang dikaji, disebutkan adanya ketentuan nisab pencurian serta penjelasan mengenai penerapan hukuman berdasarkan Sunnah.
Karena itu, menurutnya, persoalan hukum tersebut harus ditempatkan dalam kerangka syariat dan kewenangan hukum yang benar, bukan dijadikan alasan bagi seseorang untuk melakukan tindakan sendiri terhadap orang lain.
Taubat tidak berhenti pada penyesalan
Pembahasan kemudian ditutup dengan Surah Al-Ma’idah ayat 39 yang memberikan ruang bagi manusia untuk bertaubat dan memperbaiki diri.
Allah SWT berfirman:
فَمَنْ تَابَ مِنْۢ بَعْدِ ظُلْمِهٖ وَاَصْلَحَ فَاِنَّ اللّٰهَ يَتُوْبُ عَلَيْهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Tetapi barang siapa bertobat setelah melakukan kezaliman dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Al-Ma’idah: 39)
Ustadz Saiun menekankan bahwa taubat bukan sekadar mengucapkan penyesalan, tetapi harus diikuti dengan perbaikan diri.
“Kalau kita melakukan kesalahan, kemudian bertaubat dan memperbaiki diri, maka Allah menerima taubatnya,” tuturnya.
Ia juga menjelaskan bahwa dalam perkara yang menyangkut hak manusia, taubat kepada Allah tidak serta-merta menghapus hak orang lain. Karena itu, selain bertaubat, seseorang harus memperbaiki kerusakan yang telah ditimbulkan dan mengembalikan hak yang menjadi tanggungannya.
Kajian Surah Al-Ma’idah ayat 35-39 tersebut mengingatkan jamaah bahwa jalan keselamatan dimulai dari ketakwaan, dilanjutkan dengan usaha mendekatkan diri kepada Allah melalui ketaatan dan ibadah, serta diwujudkan dalam perilaku yang menjaga hak sesama manusia.
Pesan utama kajian tersebut adalah bahwa kesempatan memperbaiki diri berada selama manusia masih hidup. Dunia merupakan tempat beramal, sedangkan pertanggungjawaban atas amal tersebut akan dihadapi di akhirat. (*)
Monday, September 07, 2026
Dari Glondonggede ke Surabaya, Menyulam Keterampilan dengan Gunting dan Sisir
Beriman kepada Takdir Bukan Alasan Berhenti Berikhtiar
Sunday, September 06, 2026
Majelis Tabligh Muhammadiyah Tuban Dorong Kader Kuasai AI untuk Perkuat Penyebaran Informasi
Ustadz Sujono: Iman dan Ilmu Jadi Kunci Diangkatnya Derajat Manusia
TUBAN — Ustadz Sujono mengajak jamaah Pengajian Keluarga Ahad Pagi di Masjid Darussalam Tuban untuk menjaga keimanan sekaligus terus menuntut ilmu. Menurutnya, dua hal tersebut merupakan bekal utama manusia untuk memperoleh kemuliaan dan derajat yang tinggi di sisi Allah SWT.
Pesan itu disampaikan Ustadz Sujono di hadapan jamaah dalam Pengajian Keluarga Ahad Pagi, Ahad (6/9/2026).
Ia mengawali kajiannya dengan mengingatkan jamaah agar mensyukuri kesempatan masih diberi kehidupan, kesehatan, serta kesempatan berkumpul dalam majelis ilmu.
“Alhamdulillah, sampai pagi hari ini kita masih dikaruniai Allah nikmat yang luar biasa. Tidak setiap orang mendapatkan kesempatan seperti kita untuk hadir, bersilaturahmi dan mengikuti pengajian,” ujarnya.
Dalam kajiannya, Ustadz Sujono menekankan bahwa setiap manusia pada dasarnya menginginkan kehidupan yang baik dan kemuliaan. Namun, menurutnya, kemuliaan tertinggi bukan semata ketika seseorang mendapatkan kedudukan dari manusia, melainkan ketika derajatnya diangkat oleh Allah SWT.
Ia kemudian mengutip firman Allah dalam Surat Al-Mujadilah ayat 11:
“Yarfa'illāhulladzīna āmanū minkum walladzīna ūtul-'ilma darajāt.”
Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.
Menurut Ustadz Sujono, ayat tersebut menunjukkan dua golongan yang mendapatkan kedudukan istimewa, yakni orang yang beriman dan orang yang berilmu.
“Kalau jabatan kita diangkat oleh direktur, kita sudah senang. Kalau diangkat oleh presiden, tentu lebih senang lagi. Tetapi yang paling mantap itu kalau yang mengangkat derajat kita adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala,” katanya.
Keimanan, Nikmat yang Tidak Semua Orang Memperolehnya
Ustadz Sujono menjelaskan, manusia memang memperoleh banyak nikmat, mulai dari kehidupan, kesehatan hingga kebebasan. Namun, di antara nikmat terbesar yang tidak semua orang mendapatkannya adalah nikmat keimanan.
Untuk menggambarkan pentingnya hidayah, ia mencontohkan kisah sejumlah nabi yang memiliki keluarga dekat tetapi tidak seluruhnya memperoleh keimanan. Hal itu, menurutnya, menunjukkan bahwa iman merupakan karunia Allah yang harus dijaga dan tidak bisa dipaksakan kepada orang lain.
Ia juga mengingatkan bahwa tugas seorang Muslim adalah mengajak kepada kebaikan, sedangkan hasilnya berada dalam ketentuan Allah SWT.
Ustadz Sujono mengutip Surat Ali Imran ayat 104:
“Wal takum minkum ummatuy yad'ūna ilal-khairi wa ya'murūna bil-ma'rūfi wa yanhawna 'anil-munkar.”
Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.
“Manusia itu hanya berusaha dan mengajak. Jangan merasa bisa memaksa seseorang mendapat hidayah. Kita mengajak kepada kebaikan, sedangkan hasilnya kita serahkan kepada Allah,” tuturnya.
Orang Beriman Tidak Mudah Putus Asa
Dalam penjelasannya, Ustadz Sujono menyebut keimanan memberikan kekuatan batin kepada seseorang dalam menghadapi persoalan hidup. Orang yang beriman, katanya, tidak seharusnya mudah putus asa ketika menghadapi kesulitan dan tidak pula menjadi sombong ketika berada dalam kelapangan.
Ia mengingatkan bahwa Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum apabila mereka sendiri tidak berusaha mengubah keadaan mereka.
Hal itu merujuk pada firman Allah dalam Surat Ar-Ra'd ayat 11:
“Innallāha lā yugayyiru mā biqaumin hattā yugayyirū mā bi'anfusihim.”
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.
“Ketika berada di atas jangan sombong. Ketika berada di bawah jangan berputus asa. Orang beriman harus tetap semangat, karena dia yakin ada Allah yang menjadi tempat bergantung,” katanya.
Ia juga mengingatkan jamaah agar tidak menganggap masalah hidup sebagai alasan untuk menyerah.
“Sebesar apa pun masalahnya, jangan sampai kita merasa sendirian. Orang beriman itu punya tempat bergantung, yaitu langsung kepada Allah,” ujarnya.
Sentilan Jenaka: Jangan Sampai Hafal Nama, Tapi Malas Salat
Pengajian berlangsung hangat dengan sejumlah sentilan jenaka yang membuat jamaah tersenyum sekaligus merenung.
Salah satunya ketika Ustadz Sujono menyinggung kebiasaan sebagian orang yang mudah melakukan banyak aktivitas, tetapi terasa berat ketika menjalankan ibadah tambahan.
Ia menyebut salat sunnah dapat menjadi salah satu sarana untuk melakukan introspeksi terhadap kondisi keimanan seseorang.
“Kalau salat sunnah terasa enteng, mungkin iman sedang baik-baik saja. Tapi kalau mendengar salat sunnah saja sudah terasa berat, ini perlu dicek lagi, jangan-jangan imannya yang sedang masuk bengkel,” selorohnya yang disambut tawa jamaah.
Ia juga menyentil kebiasaan sebagian orang yang terlalu sibuk dengan telepon genggam.
“Jangan sampai nama kontak di hape panjang-panjang kita hafal, tetapi panggilan Allah justru sering kita tunda,” ujarnya.
Dengan gaya khas dan humor ringan, ia kembali mengingatkan jamaah agar tidak sekadar merasa aman karena menyandang identitas Muslim, tetapi juga berusaha menjaga keimanan hingga akhir hayat.
Ustadz Sujono mengutip pesan Allah dalam Surat Ali Imran ayat 102:
“Yā ayyuhalladzīna āmanuttaqullāha haqqa tuqātihī wa lā tamūtunna illā wa antum muslimūn.”
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.
“Yang penting bukan hanya hari ini kita menjadi orang beriman. Sampai kapan? Sampai akhir hayat. Jangan sampai apa pun yang terjadi dalam hidup membuat kita meninggalkan Islam,” tegasnya.
Al-Qur'an dan Amal Sunnah untuk Menjaga Iman
Menurut Ustadz Sujono, keimanan harus terus dipelihara karena kondisi iman manusia dapat berubah. Karena itu, ia mengajak jamaah memperbanyak membaca, memahami dan mengamalkan Al-Qur'an.
“Al-Qur'an itu kalam Allah. Semakin sering kita membaca, memahami dan mengamalkannya, insya Allah iman kita akan semakin kuat,” katanya.
Selain membaca Al-Qur'an, ia mendorong jamaah membiasakan amalan-amalan sunnah sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas iman.
Beberapa amalan yang mendapat penekanan dalam kajian tersebut antara lain salat tahajud, salat sunnah sebelum Subuh, salat Dhuha, puasa sunnah serta memperbanyak zikir.
“Perbaikilah salatmu, maka Allah akan memperbaiki hidupmu,” ujarnya.
Menurutnya, salat sunnah tidak sekadar menjadi tambahan ibadah, tetapi juga dapat menjadi bahan evaluasi pribadi tentang kedekatan seseorang kepada Allah.
“Yang wajib jangan ditinggalkan. Tetapi kalau yang sunnah pun mulai terasa ringan dan kita rindu mengerjakannya, itu mudah-mudahan menjadi tanda hati kita masih senang mendekat kepada Allah,” katanya.
Ia kemudian mengajak jamaah untuk senantiasa mengingat Allah dalam setiap keadaan, baik ketika duduk, berdiri, berjalan maupun menjalankan aktivitas sehari-hari.
Ilmu Mengubah Cara Pandang
Selain iman, Ustadz Sujono menempatkan ilmu sebagai unsur penting dalam meningkatkan derajat manusia.
Ia mengingatkan bahwa ilmu tidak hanya diperoleh melalui pendidikan formal. Majelis taklim, pengajian dan berbagai kegiatan belajar juga merupakan jalan untuk terus menambah pengetahuan.
Menurutnya, ilmu dapat mengubah cara manusia melihat persoalan dan memanfaatkan sesuatu yang ada di sekitarnya.
“Orang yang berilmu dan tidak berilmu tentu berbeda cara pandangnya. Dengan ilmu, sesuatu yang dianggap biasa bisa mempunyai manfaat dan nilai,” katanya.
Ia kembali menegaskan bahwa wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW juga dimulai dengan perintah membaca.
“Perintah pertama itu Iqra', bacalah. Artinya, kita jangan berhenti belajar. Jangan pernah merasa sudah cukup ilmu,” ujarnya.
Di tengah penyampaiannya, ia bahkan melontarkan istilah jenaka tentang bahaya malas belajar.
“Kalau malas menuntut ilmu, hati-hati terkena penyakit kronis. Penyakitnya bukan hanya satu, bisa macam-macam. Pokoknya kalau sudah malas belajar, akhirnya malas berpikir, malas bergerak, dan maunya tinggal menerima,” katanya, disambut senyum dan tawa jamaah.
Iman dan Ilmu untuk Memperbaiki Kehidupan
Di penghujung kajian, Ustadz Sujono menegaskan bahwa keimanan dan ilmu tidak boleh dipisahkan. Iman memberikan arah dan ketenangan dalam hidup, sedangkan ilmu membantu manusia memahami, memilih dan menjalani jalan yang benar.
Ia mengingatkan pentingnya menjaga hubungan dengan Allah sekaligus meningkatkan kemampuan dan pengetahuan untuk menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
“Kalau kita punya iman dan punya ilmu, insya Allah kita akan menjadi manusia yang lebih kuat menghadapi kehidupan. Jangan hanya ingin derajat tinggi di mata manusia. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menjadi orang yang dimuliakan oleh Allah,” pungkasnya.
Pengajian Keluarga Ahad Pagi tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban. Perpaduan materi keislaman, kutipan ayat Al-Qur'an, kisah-kisah teladan serta humor ringan menjadikan pesan tentang pentingnya menjaga iman dan menuntut ilmu mudah diterima jamaah.
Penulis: FIRNAS MUTTAQIN