Thursday, September 24, 2026

Qishas: Hukum Islam Bertujuan Melindungi Jiwa dan Memutus Rantai Dendam

TUBAN — Hukum qishas dalam Islam tidak semata-mata berbicara tentang hukuman terhadap pelaku pembunuhan. Di balik ketentuan tersebut terdapat prinsip perlindungan jiwa, keadilan, serta upaya menghentikan rantai balas dendam di tengah masyarakat.

Hal itu disampaikan Ustadz Saiun Ngalim dalam pengajian Kamis di Masjid Darussalam Tuban, Kamis (24/9/2026). Kajian membahas ketentuan hukum pidana dalam Islam, khususnya berkaitan dengan pembunuhan sengaja, pembunuhan tidak sengaja, diyat, dan qishas.

Ustadz Saiun menjelaskan, dalam hukum Islam, pembunuhan dengan sengaja memiliki konsekuensi hukum yang berbeda dengan pembunuhan yang terjadi karena ketidaksengajaan. Qishas pada prinsipnya merupakan ketentuan bahwa jiwa dibalas dengan jiwa, namun pelaksanaannya bukan menjadi kewenangan individu untuk melakukan pembalasan sendiri.

Menurutnya, keluarga korban memiliki ruang dalam menentukan sikap, termasuk menerima diyat atau memberikan maaf. Karena itu, persoalan pembunuhan tidak boleh diselesaikan dengan tindakan main hakim sendiri.

“Kalau seseorang membunuh orang, lalu anak dari orang yang dibunuh tidak terima, kemudian melakukan pembunuhan terhadap keluarga pelaku, maka akan terus terjadi pembalasan,” jelasnya dalam kajian.

Ia menggambarkan bagaimana tindakan balas dendam dapat membentuk mata rantai kekerasan yang tidak berkesudahan. Satu pembunuhan dibalas dengan pembunuhan lainnya, kemudian dibalas lagi oleh keluarga berikutnya.

Karena itu, menurut Ustadz Saiun, Islam memberikan mekanisme hukum untuk menghentikan siklus tersebut. Penyelesaian perkara pembunuhan harus ditempatkan dalam kerangka hukum, bukan berdasarkan keputusan pribadi atau dendam keluarga.

“Tidak boleh membalas sendiri. Kalau setiap orang boleh membunuh untuk membalas pembunuhan, tidak akan selesai,” tegasnya.

Qishas Bukan Ajakan Main Hakim Sendiri

Dalam kajiannya, Ustadz Saiun juga menekankan bahwa ketentuan qishas tidak dapat dipahami sebagai pembenaran terhadap tindakan kekerasan secara bebas.

Qishas memiliki mekanisme dan ketentuan tersendiri. Karena itu, penerapannya tidak boleh dilakukan oleh seseorang berdasarkan keputusan pribadi.

Ia menjelaskan, tujuan utama dari ketentuan tersebut adalah menjaga keselamatan manusia dan memberikan perlindungan terhadap kehidupan masyarakat.

Dengan adanya mekanisme hukum, seseorang tidak memiliki kebebasan untuk membalas kematian anggota keluarganya dengan membunuh pihak lain secara sepihak.

Selain qishas, terdapat pula konsep diyat atau kompensasi yang diberikan dalam perkara tertentu. Keluarga korban dapat memilih untuk memaafkan atau menerima diyat sesuai ketentuan yang berlaku.

Ustadz Saiun menilai, sikap memaafkan memiliki nilai yang tinggi. Namun, pilihan untuk menuntut hak melalui mekanisme hukum juga tidak serta-merta berarti tindakan yang dilarang.

Yang menjadi persoalan adalah ketika seseorang mengambil hukum ke tangannya sendiri tanpa mekanisme yang sah.

Perbedaan Pembunuhan Sengaja dan Tidak Sengaja

Ustadz Saiun juga menjelaskan adanya perbedaan konsekuensi antara pembunuhan sengaja dan pembunuhan yang terjadi tanpa kesengajaan.

Dalam kasus pembunuhan tidak sengaja, ketentuan yang berlaku berbeda dengan pembunuhan sengaja. Salah satu bentuk penyelesaian yang dibahas adalah kewajiban membayar diyat dengan ketentuan tertentu.

Ia kemudian menguraikan ketentuan diyat berdasarkan hadis yang menjadi materi kajian, termasuk rincian jenis dan jumlah hewan ternak dalam ketentuan diyat pada masa Nabi.

Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa hukum Islam memiliki klasifikasi yang rinci dalam menangani berbagai bentuk tindak pidana terhadap jiwa dan anggota tubuh.

Menghentikan Tradisi Balas Dendam

Lebih jauh, Ustadz Saiun menyoroti bahaya pembunuhan yang dilakukan atas dasar dendam.

Menurutnya, ketika pembunuhan dibalas dengan pembunuhan, persoalan tidak otomatis selesai. Justru dapat muncul konflik baru antara keluarga atau kelompok yang berlangsung secara turun-temurun.

Karena itu, keberadaan hukum diperlukan untuk memastikan penyelesaian perkara dilakukan melalui mekanisme yang jelas.

Ia mencontohkan pola konflik dalam sejarah yang menunjukkan bagaimana dendam dapat berkembang menjadi rangkaian pembunuhan antarkeluarga.

“Islam selalu membuat aturan. Ada hukum qisas, tetapi yang diperhatikan adalah bagaimana keselamatan jiwa dan masyarakat tetap terlindungi,” tuturnya.

Kajian tersebut menegaskan bahwa pembahasan qisas tidak dapat dilepaskan dari prinsip menjaga jiwa, keadilan, pemberian hak kepada keluarga korban, serta pencegahan tindakan balas dendam secara pribadi.

Melalui ketentuan qishas, diyat, dan pemberian maaf, Islam memberikan sejumlah mekanisme penyelesaian perkara pembunuhan agar konflik tidak berkembang menjadi kekerasan yang terus berulang di tengah masyarakat. (*)

Penulis FIRNAS MUTTAQIN 

Catatan:

Diyat adalah ganti rugi atau kompensasi yang diberikan kepada keluarga korban pembunuhan atau korban penganiayaan, dalam ketentuan hukum pidana Islam.

Sederhananya:

Qisas → prinsip pembalasan yang setimpal, misalnya pembunuhan sengaja dapat dikenai qisas sesuai ketentuan hukum.

Diyat → kompensasi yang diberikan kepada pihak korban sebagai bentuk penyelesaian perkara sesuai ketentuan syariat.

Maaf → keluarga korban dapat memilih memaafkan, dalam kondisi dan mekanisme yang diatur syariat.

Contohnya, dalam pembunuhan tidak sengaja, Islam menetapkan kewajiban tertentu bagi pelaku, termasuk diyat kepada keluarga korban, disertai ketentuan lain yang berbeda dari pembunuhan sengaja.

Jadi, diyat bukan sekadar “uang tebusan”, tetapi merupakan bagian dari mekanisme penyelesaian perkara dalam fikih jinayah yang berkaitan dengan perlindungan jiwa dan hak keluarga korban.

Dalam konteks ceramah Ustadz Saiun tadi, istilah yang lebih mudah untuk pembaca berita adalah “kompensasi/ganti rugi kepada keluarga korban (diyat)”.

Sunday, September 20, 2026

Menjaga Semangat Ibadah dan Istiqomah


TUBAN — Pengajian Keluarga yang digelar di Masjid Darussalam Tuban, Ahad pagi (20/9/2026), membahas pentingnya menjaga semangat beribadah agar tetap konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Kajian yang disampaikan Ustadz Syamsul Huda dari Bojonegoro tersebut mengingatkan jamaah bahwa kondisi iman seseorang dapat mengalami perubahan. Ada masa ketika seseorang memiliki semangat tinggi untuk beribadah, tetapi ada pula saat semangat tersebut menurun.

Menurut Ustadz Syamsul Huda, kondisi naik-turunnya semangat merupakan bagian dari kehidupan manusia. Karena itu, yang penting bukan hanya bagaimana seseorang memulai amal kebaikan, tetapi bagaimana mempertahankannya secara terus-menerus.

Ia mengutip makna hadis bahwa setiap amal memiliki masa semangat dan setiap masa semangat memiliki masa melemahnya. Karena itu, seseorang perlu menjaga amal ketika semangat sedang turun.

“Memulai itu sulit, tetapi lebih sulit lagi adalah menjaga,” menjadi salah satu pesan penting dalam kajian tersebut.

Ustadz Syamsul menjelaskan, menjaga amal tidak berarti harus selalu melakukan ibadah dalam jumlah besar. Istikamah justru dapat dibangun melalui kebiasaan kecil yang dilakukan secara rutin sesuai kemampuan.

Ia juga mengingatkan jamaah agar tidak mudah berhenti hanya karena merasa bosan. Dalam kehidupan beragama, rasa jenuh atau futur dapat muncul. Namun, kondisi tersebut perlu dihadapi dengan kesabaran dan usaha untuk kembali melanjutkan amal.

Lingkungan Berpengaruh terhadap Perilaku

Selain membahas konsistensi ibadah, Ustadz Syamsul Huda menekankan pentingnya memilih lingkungan pergaulan.

Ia menjelaskan konsep social contagion, yakni kecenderungan nilai, kebiasaan, perilaku, bahkan karakter seseorang dapat menular melalui lingkungan sosialnya.

“Kalau kita tidak memengaruhi, kita yang dipengaruhi. Harapannya, kalau kita memengaruhi, yang kita berikan adalah pengaruh yang positif dan konstruktif,” jelasnya dalam kajian.

Karena itu, menurutnya, keluarga dan komunitas memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan seseorang. Bergaul dengan orang-orang yang memiliki kebiasaan baik dapat mendorong seseorang untuk ikut melakukan kebaikan. Sebaliknya, lingkungan yang buruk juga dapat memengaruhi perilaku.

Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kehidupan beragama tidak hanya berkaitan dengan hubungan pribadi seseorang dengan Allah, tetapi juga dengan siapa seseorang bergaul dan membangun hubungan sosial.

Dari Connect Menuju Transformasi

Ustadz Syamsul juga mengajak jamaah memahami pentingnya membangun hubungan atau circle yang sehat.

Menurutnya, proses perubahan dapat dimulai dari connect, yakni mengenal, membangun hubungan, dan menciptakan koneksi dengan orang lain. Dari hubungan tersebut kemudian dapat lahir proses transformasi atau perubahan menuju kondisi yang lebih baik.

Ia menyebut lingkungan orang-orang yang berada di sekitar seseorang sebagai circle. Lingkungan tersebut dapat memberikan pengaruh yang besar terhadap pola pikir, kebiasaan, dan perilaku seseorang.

Karena itu, jamaah diajak untuk membangun circle yang mampu memberikan energi positif dan mendorong kepada kebaikan.

Istiqomah Lebih Penting daripada Semangat Sesaat

Dalam bagian lain kajian, Ustadz Syamsul Huda mengingatkan bahwa semangat yang muncul secara tiba-tiba tidak selalu bertahan lama. Seseorang bisa mengalami semangat yang tinggi dalam waktu tertentu, kemudian kembali mengalami penurunan.

Karena itu, ukuran keberhasilan dalam beramal bukan semata-mata seberapa besar semangat pada awalnya, tetapi kemampuan untuk mempertahankan amal tersebut.

Ia mengingatkan prinsip menjaga amal yang telah dilakukan agar tidak berhenti di tengah jalan. Amal yang sederhana tetapi dilakukan secara rutin menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan yang lebih baik.

Ustadz Syamsul juga mengaitkan hal tersebut dengan gagasan Atomic Habits yang dipopulerkan James Clear. Intinya, perubahan besar dapat dibangun dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

“Tidak ada perubahan langsung. Semuanya dimulai dari kebiasaan kecil,” menjadi garis besar pesan yang disampaikan kepada jamaah.

Melalui kajian tersebut, jamaah Masjid Darussalam diajak untuk tidak hanya mengejar semangat beribadah yang besar sesaat, tetapi membangun kebiasaan baik yang sederhana, teratur, dan berkelanjutan.

Dengan menjaga amal, memilih lingkungan yang baik, serta membangun kebiasaan positif, seseorang diharapkan mampu mempertahankan istiqomah dalam perjalanan kehidupannya hingga memperoleh husnul khotimah. (*)

FIRNAS MUTTAQIN

Saturday, September 19, 2026

Pengajian Sabtu Ba’da Maghrib, Ustadz Saiun Ngalim Bahas Tobat, Keadilan, dan Larangan Memutarbalikkan Kebenaran


TUBAN — Pengajian Sabtu Ba’da Maghrib di Masjid Al Fajri Tuban, Sabtu (19/9/2026), mengangkat kajian Tafsir Jalalain Surah Al-Ma’idah ayat 39–43. Ustadz Saiun Ngalim mengajak jamaah memahami pentingnya tobat, keadilan dalam memberikan keputusan, serta bahaya memutarbalikkan kebenaran demi kepentingan tertentu.

Dalam kajiannya, Ustadz Saiun Ngalim terlebih dahulu menjelaskan kandungan Surah Al-Ma’idah ayat 39 tentang tobat setelah melakukan kezaliman.

Allah SWT berfirman:

فَمَنْ تَا بَ مِنْۢ بَعْدِ ظُلْمِهٖ وَاَ صْلَحَ فَاِ نَّ اللّٰهَ يَتُوْبُ عَلَيْهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Siapa yang bertobat setelah kezaliman yang dilakukannya dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Menurut penjelasan yang disampaikan dalam kajian, tobat tidak sekadar diucapkan, tetapi harus diikuti dengan perbaikan diri dan meninggalkan perbuatan yang salah.

Ustadz Saiun juga menjelaskan bahwa dalam persoalan yang menyangkut hak manusia, tobat kepada Allah tidak serta-merta menggugurkan hak orang lain. Karena itu, persoalan kezaliman yang berkaitan dengan harta maupun hak seseorang tetap memiliki konsekuensi terhadap pihak yang dirugikan.

Kajian kemudian dilanjutkan dengan Surah Al-Ma’idah ayat 40 yang menegaskan kekuasaan Allah atas langit dan bumi.

Allah SWT berfirman:

اَلَمْ تَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ لَهٗ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَرْضِ ۗ يُعَذِّبُ مَنْ يَّشَآءُ وَيَغْفِرُ لِمَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Ayat tersebut, jelas Ustadz Saiun, mengingatkan bahwa seluruh kekuasaan pada hakikatnya berada di tangan Allah. Manusia memiliki kewenangan dan tanggung jawab dalam kehidupan, tetapi tetap berada di bawah kekuasaan dan ketentuan Allah SWT.

Jangan Memutarbalikkan Kebenaran

Memasuki pembahasan Surah Al-Ma’idah ayat 41, Ustadz Saiun menjelaskan peringatan Allah kepada Rasulullah SAW agar tidak bersedih menghadapi orang-orang yang berlomba-lomba dalam kekafiran dan mereka yang menyatakan keimanan dengan lisan, sementara hati mereka tidak beriman.

Ayat tersebut juga menggambarkan perilaku sebagian orang yang gemar mendengar berita bohong serta melakukan perubahan terhadap ketentuan yang terdapat dalam kitab mereka.

Dalam penjelasan Tafsir Jalalain yang dikaji, persoalan tersebut berkaitan dengan adanya upaya mencari keputusan hukum yang lebih ringan, termasuk dalam kasus perzinaan yang melibatkan sepasang laki-laki dan perempuan yang telah menikah.

Menurut Ustadz Saiun, pelajaran penting dari ayat tersebut bukan hanya terkait sejarah umat terdahulu, tetapi juga menyangkut sikap manusia ketika menghadapi sebuah kebenaran.

Kebenaran tidak boleh dipilih hanya ketika sesuai dengan kepentingan pribadi atau kelompok. Sebaliknya, ketika sebuah ketentuan tidak sesuai dengan keinginan, seseorang tidak boleh kemudian mencari pembenaran dengan mengubah atau memutarbalikkan kebenaran.

Bahaya Berita Bohong dan Suap

Pada Surah Al-Ma’idah ayat 42, perhatian kajian diarahkan pada dua perilaku yang disebutkan dalam ayat, yaitu gemar mendengar berita bohong dan memakan harta yang haram.

Allah SWT berfirman:

سَمّٰعُوْنَ لِلْكَذِبِ اَ كّٰلُوْنَ لِلسُّحْتِ ۗ ...

Ayat tersebut juga menyebut as-suht, yang dalam penjelasan Tafsir Jalalain antara lain dikaitkan dengan harta haram seperti uang suap.

Ustadz Saiun menekankan bahwa ketika seseorang memiliki kewenangan untuk memberikan keputusan, keputusan tersebut harus didasarkan pada keadilan, bukan karena uang, hubungan, kepentingan kelompok, maupun tekanan tertentu.

Allah SWT berfirman:

وَاِ نْ حَكَمْتَ فَا حْكُمْ بَيْنَهُمْ بِا لْقِسْطِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ

“Jika engkau memutuskan perkara di antara mereka, maka putuskanlah dengan adil. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.”

Pesan tersebut, menurut kajian Ustadz Saiun, memiliki relevansi luas dalam kehidupan. Setiap orang yang mendapatkan amanah untuk menyelesaikan persoalan harus menjalankan kewenangannya sesuai dengan fungsi dan tanggung jawabnya.

Kewenangan Harus Berjalan Sesuai Fungsinya

Dalam bagian akhir kajian, Ustadz Saiun mengaitkan prinsip keadilan tersebut dengan pentingnya pembagian fungsi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Menurutnya, pihak yang memiliki kewenangan membuat aturan, melaksanakan aturan, maupun memberikan keputusan harus menjalankan tugas sesuai dengan fungsi masing-masing.

Keadilan menjadi prinsip utama agar kewenangan tidak digunakan untuk kepentingan pribadi atau kelompok.

Kajian kemudian ditutup dengan pembahasan Surah Al-Ma’idah ayat 43. Ayat tersebut menggambarkan sikap orang-orang yang meminta Nabi Muhammad SAW memberikan keputusan, padahal mereka telah memiliki Taurat yang di dalamnya terdapat hukum Allah.

Dari rangkaian ayat 39–43 tersebut, jamaah diajak mengambil pelajaran bahwa tobat harus dibuktikan dengan perbaikan, hak manusia harus dihormati, kebenaran tidak boleh diputarbalikkan, harta haram harus dijauhi, dan setiap keputusan harus ditegakkan dengan adil.

Pesan tersebut menjadi bagian penting dari kajian Sabtu Ba’da Maghrib di Masjid Al Fajri Tuban, agar nilai-nilai Al-Qur’an tidak berhenti pada pemahaman ayat, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. (*)

FIRNAS MUTTAQIN

Friday, September 18, 2026

Khutbah Jumat di Masjid Lathifah An Nashr: Menyiapkan Bekal Akhirat dengan Sebaik-baik Amal

TUBAN — Jamaah Salat Jumat di Masjid Lathifah An Nashr, Sidorejo, Tuban, diingatkan untuk terus meningkatkan kualitas iman dan ibadah sebagai bekal menuju kehidupan akhirat. Pesan tersebut disampaikan Ustadz Muhammad Nasir dalam khutbah Jumat, Jumat (18/9/2026).

Dalam khutbahnya, Ustadz Muhammad Nasir menekankan bahwa kehidupan dunia merupakan ujian sekaligus kesempatan bagi setiap Muslim untuk mempersiapkan bekal menuju akhirat. Bekal tersebut bukan semata-mata kekayaan, jabatan, maupun kelebihan fisik, tetapi kualitas amal yang dilakukan selama hidup.

Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Mulk ayat 2:

«الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ»

"Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya."

Menurutnya, ayat tersebut menjadi pengingat bahwa ukuran keberhasilan seorang manusia bukan sekadar apa yang dimiliki di dunia, melainkan bagaimana seseorang menjalani kehidupan dengan amal yang baik.

“Yang dilihat itu bukan karena kekayaan, bukan karena jabatan, bukan karena cantik atau tampannya. Tetapi ahsanu ‘amala, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya,” kata Ustadz Muhammad Nasir.

Ia menjelaskan, selama masih diberikan umur, seorang Muslim perlu terus memperbaiki kualitas iman dan ibadah. Hal itu mencakup ibadah mahdhah seperti salat, zakat dan haji, serta ibadah ghairu mahdhah berupa berbuat baik kepada sesama.

“Berbuat baik kepada saudara kita, saudara seakidah, saudara kandung, tetangga kita, menyantuni fakir miskin, ini harus terus kita lakukan. Karena itu bagian dari kita menyiapkan dan mengumpulkan bekal untuk kehidupan di akhirat nanti,” jelasnya.

Tiga Aspek Ahsanu ‘Amala

Ustadz Muhammad Nasir kemudian menjelaskan setidaknya terdapat tiga aspek yang dapat menjadi wujud dari ahsanu ‘amala atau sebaik-baik amal.

Pertama, berkaitan dengan waktu.

Menurutnya, seorang Muslim harus mampu memanfaatkan waktu yang diberikan Allah SWT dengan sebaik-baiknya. Ia mengingatkan jamaah pada kandungan Surah Al-'Asr, bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Karena itu, waktu harus diisi dengan kegiatan yang mendekatkan diri kepada Allah, termasuk menuntut ilmu agama agar seorang Muslim mengetahui mana yang halal dan haram, perintah dan larangan.

“Orang yang beriman itu terikat dengan waktu. Maka waktu yang Allah berikan harus kita manfaatkan sebaik-baiknya,” tuturnya.

Dari seluruh waktu yang dimiliki manusia, ia mengingatkan agar jamaah memberikan perhatian khusus terhadap waktu salat.

Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah An-Nisa ayat 103:

«اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا»

"Sesungguhnya salat itu merupakan kewajiban yang waktunya telah ditentukan atas orang-orang yang beriman."

Ustadz Muhammad Nasir juga mengingatkan bahwa Rasulullah SAW ketika ditanya mengenai amal yang paling utama menjawab salat pada waktunya.

“Jangan sampai kita meninggalkan salat selagi masih diberikan umur oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala,” pesannya.

Kedua, berkaitan dengan tempat yang paling dekat, yaitu keluarga.

Ia mengajak jamaah menjadikan rumah sebagai tempat untuk mewujudkan amal terbaik melalui komunikasi yang baik, menjaga kerukunan dan memperkuat hubungan antara orang tua dan anak.

Perhatian khusus diberikan terhadap kewajiban berbakti kepada kedua orang tua. Menurutnya, ketika orang tua masih hidup, kesempatan tersebut harus dimanfaatkan untuk berbuat baik, menghormati dan menyayangi mereka.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 23:

«وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا»

"Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tua."

Ustadz Muhammad Nasir mengingatkan besarnya pengorbanan orang tua, terutama seorang ibu. Karena itu, materi yang diberikan kepada orang tua sekalipun tidak akan sebanding dengan pengorbanan yang telah mereka berikan kepada anak.

“Apabila kita masih diberikan kesempatan, orang tua kita masih hidup, maka berbaktilah kepada kedua orang tua. Jangan sampai kita kecewa karena melupakan dan melalaikan perjuangan serta pengorbanan mereka,” tegasnya.

Ketiga, berkaitan dengan kehidupan di ruang publik dan hubungan dengan sesama.

Menurutnya, amal terbaik tidak berhenti pada ibadah ritual. Akhlak dan perilaku sehari-hari juga merupakan bagian penting dari ajaran Islam.

Ia mencontohkan bagaimana seorang Muslim menjaga adab ketika masuk dan keluar masjid, masuk dan keluar toilet, serta membiasakan berbicara dengan santun.

“Islam bukan hanya salat, bukan hanya zakat, tetapi akhlak kita. Kita berbicara harus dengan santun,” katanya.

Ustadz Muhammad Nasir mengingatkan, ibadah seseorang hendaknya tercermin dalam perilaku sosial. Jangan sampai seseorang rajin beribadah tetapi masih suka bertengkar, memutus silaturahmi dan menyimpan dendam terhadap sesama.

“Jangan sampai kita sudah salat, tetapi sesama saudara kita saling berkelahi, memutuskan silaturahmi, dendam terus-menerus,” ujarnya.

Ia berharap jamaah mampu menjadikan sisa umur yang diberikan Allah SWT sebagai kesempatan untuk memperbaiki iman, ibadah dan akhlak.

“Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala selalu memberikan hidayah kepada kita, memberikan ketetapan iman dan Islam, serta dimudahkan menuju jalan surga,” pungkasnya. (*)

FIRNAS MUTTAQIN

Saturday, September 12, 2026

Tafsir Al-Maidah Ayat 35-39: Takwa, Wasilah, dan Jalan Mendekat kepada Allah

TUBAN — Pengajian Sabtu malam di Masjid Al Fajri Tuban, Sabtu (12/9/2026), diisi dengan kajian Tafsir Jalalain Surah Al-Ma’idah ayat 35-39 oleh Ustadz Saiun Ngalim.

Dalam kajiannya, Ustadz Saiun menekankan pentingnya ketakwaan kepada Allah, mencari jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya melalui ketaatan dan ibadah, serta memahami konsekuensi perbuatan manusia di dunia dan akhirat.

Mengawali penjelasan pada Surah Al-Ma’idah ayat 35, Ustadz Saiun mengutip firman Allah SWT:

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْۤا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya, agar kamu beruntung.”
(QS. Al-Ma’idah: 35)

Menurut Ustadz Saiun, takwa bukan sekadar rasa takut, tetapi takut kepada Allah yang diwujudkan dengan ketaatan.

“Takut kepada Allah itu berbeda dengan takut kepada masyarakat. Kalau kita takut kepada Allah, kita harus mencari cara untuk menaati-Nya,” jelasnya.

Ia kemudian menjelaskan istilah wasilah dalam ayat tersebut. Wasilah merupakan jalan yang digunakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah. Jalan itu ditempuh melalui ketaatan dan ibadah.

“Wasilah yaitu jalan yang akan mendekatkan diri kita kepada-Nya dengan jalan taat dan beribadah,” kata Ustadz Saiun.

Dalam penjelasannya, ia juga mengingatkan agar pemahaman tentang wasilah tidak dilepaskan dari tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah. Menurutnya, seorang Muslim hendaknya mendekatkan diri kepada Allah melalui amal ketaatan, ibadah, dan amal saleh.

Kehidupan dunia hanya sementara

Memasuki pembahasan Surah Al-Ma’idah ayat 36-37, Ustadz Saiun mengajak jamaah melihat kehidupan dunia sebagai sesuatu yang sementara. Harta dan kekayaan yang dimiliki manusia di dunia tidak dapat digunakan untuk menebus azab Allah di akhirat.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْ اَنَّ لَهُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا وَّمِثْلَهٗ مَعَهٗ لِيَفْتَدُوْا بِهٖ مِنْ عَذَابِ يَوْمِ الْقِيٰمَةِ مَا تُقُبِّلَ مِنْهُمْ

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sekiranya mereka mempunyai segala yang ada di bumi dan ditambah sebanyak itu lagi untuk menebus diri mereka dari azab pada hari Kiamat, niscaya semua itu tidak akan diterima dari mereka.”
(QS. Al-Ma’idah: 36)

Ayat tersebut, kata Ustadz Saiun, menjadi peringatan bahwa kesempatan memperbaiki diri berada ketika manusia masih hidup di dunia.

Kehidupan dunia tidak boleh membuat manusia lupa terhadap kehidupan akhirat. Sebab, ketika seseorang telah menghadapi kehidupan akhirat, harta yang dahulu dikejar tidak lagi memiliki kemampuan untuk menyelamatkannya dari azab Allah.

Larangan mencuri dan pentingnya menjaga hak manusia

Pada Surah Al-Ma’idah ayat 38, kajian berlanjut pada ketentuan mengenai pencurian.

Allah SWT berfirman:

وَا لسَّا رِقُ وَا لسَّا رِقَةُ فَا قْطَعُوْۤا اَيْدِيَهُمَا جَزَآءًۢ بِمَا كَسَبَا نَـكَالًا مِّنَ اللّٰهِ ۗ وَا للّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

“Adapun laki-laki maupun perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya sebagai balasan atas perbuatan yang mereka lakukan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.”
(QS. Al-Ma’idah: 38)

Ustadz Saiun menjelaskan bahwa ayat tersebut merupakan ketentuan syariat yang memiliki aturan dan persyaratan tertentu. Ia juga mengingatkan bahwa persoalan hukum tidak boleh dipahami secara serampangan hanya berdasarkan potongan ayat.

Dalam Tafsir Jalalain yang dikaji, disebutkan adanya ketentuan nisab pencurian serta penjelasan mengenai penerapan hukuman berdasarkan Sunnah.

Karena itu, menurutnya, persoalan hukum tersebut harus ditempatkan dalam kerangka syariat dan kewenangan hukum yang benar, bukan dijadikan alasan bagi seseorang untuk melakukan tindakan sendiri terhadap orang lain.

Taubat tidak berhenti pada penyesalan

Pembahasan kemudian ditutup dengan Surah Al-Ma’idah ayat 39 yang memberikan ruang bagi manusia untuk bertaubat dan memperbaiki diri.

Allah SWT berfirman:

فَمَنْ تَابَ مِنْۢ بَعْدِ ظُلْمِهٖ وَاَصْلَحَ فَاِنَّ اللّٰهَ يَتُوْبُ عَلَيْهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Tetapi barang siapa bertobat setelah melakukan kezaliman dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Al-Ma’idah: 39)

Ustadz Saiun menekankan bahwa taubat bukan sekadar mengucapkan penyesalan, tetapi harus diikuti dengan perbaikan diri.

“Kalau kita melakukan kesalahan, kemudian bertaubat dan memperbaiki diri, maka Allah menerima taubatnya,” tuturnya.

Ia juga menjelaskan bahwa dalam perkara yang menyangkut hak manusia, taubat kepada Allah tidak serta-merta menghapus hak orang lain. Karena itu, selain bertaubat, seseorang harus memperbaiki kerusakan yang telah ditimbulkan dan mengembalikan hak yang menjadi tanggungannya.

Kajian Surah Al-Ma’idah ayat 35-39 tersebut mengingatkan jamaah bahwa jalan keselamatan dimulai dari ketakwaan, dilanjutkan dengan usaha mendekatkan diri kepada Allah melalui ketaatan dan ibadah, serta diwujudkan dalam perilaku yang menjaga hak sesama manusia.

Pesan utama kajian tersebut adalah bahwa kesempatan memperbaiki diri berada selama manusia masih hidup. Dunia merupakan tempat beramal, sedangkan pertanggungjawaban atas amal tersebut akan dihadapi di akhirat. (*)

Monday, September 07, 2026

Dari Glondonggede ke Surabaya, Menyulam Keterampilan dengan Gunting dan Sisir


Glondonggede, Tambakboyo, Tuban — Senin, 7 September 2026

Bagi Ti’ah Purwanti, gunting dan sisir bukan sekadar alat kerja. Keduanya menjadi bagian dari perjalanan panjang yang membentuk keterampilannya hingga kini menekuni usaha potong rambut di kampung halaman, Glondonggede, Kecamatan Tambakboyo, Kabupaten Tuban.

Ti’ah merupakan warga asli Glondonggede. Namun, untuk memperoleh keterampilan, ia pernah meninggalkan kampung halaman dan menimba ilmu di Surabaya.

Pada masa itu, Ti’ah belajar potong rambut di Sekolah Rudi Suwarno, Tunjungan Plaza Surabaya. Pendidikan ditempuh selama kurang lebih enam bulan, dengan pembelajaran teori sekaligus praktik.

Enam bulan bukan waktu yang sebentar. Di sana ia mempelajari teknik dasar hingga praktik mencukur rambut. Pengetahuan tersebut kemudian menjadi bekal penting ketika kembali ke Tuban.

Namun, dunia yang dipelajari Ti’ah ternyata tidak hanya soal mencukur rambut.

Ia juga sempat belajar salon kecantikan. Pengalaman tersebut memperluas keterampilannya dalam dunia tata kecantikan. Setelah memperoleh bekal tersebut, Ti’ah bahkan pernah bekerja di salah satu salon kecantikan di Tuban.

Pengalaman bekerja di salon menjadi bagian lain dari perjalanan profesionalnya. Ia tidak hanya mengenal bagaimana membuat rambut menjadi lebih rapi, tetapi juga memahami dunia pelayanan kecantikan secara lebih luas.

Enam Bulan Belajar, Banyak Kenangan

Masa belajar di Surabaya tidak hanya memberikan ilmu. Ada pula cerita tentang pertemanan dan perjalanan masa muda.

Di sela kegiatan belajar teori dan praktik, Ti’ah bersama teman-temannya menyempatkan diri mengisi waktu luang dengan bepergian.

Malang menjadi salah satu tujuan mereka. Mereka juga pernah menikmati perjalanan ke Sukorejo, Pasuruan.

Sukorejo bukan kampung halaman Ti’ah. Ia adalah putri asli Glondonggede. Namun, Sukorejo menjadi salah satu tempat yang menyimpan kenangan dari masa mudanya ketika menempuh pendidikan di Surabaya.

Kenangan itu sederhana: bepergian bersama teman, bercanda, menikmati suasana tempat baru, lalu kembali melanjutkan aktivitas belajar.

Bertahun-tahun kemudian, perjalanan tersebut menjadi bagian dari cerita yang masih dikenang.

Keterampilan yang Dibawa Pulang

Setelah menyelesaikan pendidikan selama enam bulan, Ti’ah kembali ke Tuban dengan membawa keterampilan yang diperolehnya di Surabaya.

Pengalaman belajar potong rambut dan salon kecantikan kemudian menjadi modal untuk menjalani pekerjaan.

Ia pernah bekerja di salon kecantikan di Tuban. Dari pengalaman tersebut, Ti’ah semakin terbiasa berhadapan dengan pelanggan dan memahami bahwa pekerjaan di bidang kecantikan bukan hanya membutuhkan keterampilan tangan, tetapi juga ketelitian dan kemampuan memahami keinginan orang lain.

Kini, keterampilan itu terus digunakan dalam aktivitas potong rambut.

Pelanggan datang dengan kebutuhan berbeda-beda. Ada yang ingin rambut dipendekkan, ada yang meminta rambut ditipiskan, dan ada pula yang ingin sekadar dirapikan.

Di sinilah pengalaman bertahun-tahun berbicara.

Potongan rambut tidak bisa dilakukan sembarangan. Panjang-pendeknya harus disesuaikan dengan keinginan pelanggan. Bagian atas dan bawah rambut pun terkadang perlu diperlakukan berbeda.

Komunikasi menjadi bagian penting. Sebelum gunting bergerak lebih jauh, keinginan pelanggan perlu dipastikan terlebih dahulu.

Dari Salon hingga Kursi Cukur

Perjalanan Ti’ah menunjukkan bahwa sebuah keterampilan sering kali tumbuh dari pengalaman yang panjang.

Ia pernah menjadi pelajar yang tekun mengikuti teori dan praktik di Surabaya. Ia kemudian mencoba dunia salon kecantikan di Tuban. Dari pengalaman-pengalaman tersebut, keterampilan mencukur dan melayani pelanggan terus terasah.

Kini, di Glondonggede, pekerjaan itu menjadi bagian dari kesehariannya.

Tempat cukur bukan hanya ruang untuk memangkas rambut. Di dalamnya juga terjadi percakapan dan pertukaran cerita.

Pelanggan datang membawa rambut yang ingin dirapikan. Tetapi sering kali mereka juga membawa cerita tentang kehidupan sehari-hari.

Dari situlah pekerjaan sederhana ini memiliki sisi human interest yang menarik.

Gunting, Keterampilan, dan Perjalanan Hidup

Ti’ah mungkin tidak pernah membayangkan bahwa perjalanan enam bulan belajar di Surabaya akan menjadi bagian penting dalam kehidupannya.

Di sekolah potong rambut Rudi Suwarno, Tunjungan Plaza Surabaya, ia mendapatkan keterampilan. Di sela masa belajar itu, Malang dan Sukorejo menjadi saksi perjalanan bersama teman-temannya.

Setelah kembali ke Tuban, dunia salon kecantikan juga sempat menjadi bagian dari perjalanan kerjanya.

Kini semua pengalaman itu bertemu dalam satu pekerjaan: mencukur rambut.

Glondonggede adalah kampung halamannya. Surabaya adalah tempat ia menimba keterampilan. Malang dan Sukorejo adalah kota-kota kenangan. Sedangkan dunia salon menjadi bagian dari pengalaman yang memperkaya keterampilannya.

Dari semua perjalanan itu, ada satu hal yang tetap bertahan: keahlian yang diasah dengan tangan dan dijalani dengan ketekunan.

Sebab, di balik gunting yang bergerak memangkas rambut, sesungguhnya ada perjalanan hidup yang panjang—tentang belajar, bekerja, berteman, pulang, dan terus berkarya di tanah kelahiran sendiri.

Penulis: FIRNAS MUTTAQIN

Beriman kepada Takdir Bukan Alasan Berhenti Berikhtiar


TUBAN — Beriman kepada takdir Allah bukan berarti manusia boleh berhenti berusaha dan menyerahkan seluruh persoalan hidup tanpa ikhtiar. Justru keyakinan terhadap takdir harus mendorong seorang Muslim untuk terus beramal, berusaha, bersabar, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT.

Pesan tersebut disampaikan Ustadz H. Saiun Ngalim, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Tuban, dalam siaran kajian “Mutiara Pagi” di Radio Republik Indonesia (RRI) Tuban, Senin (7/9/2026) pagi menjelang pukul 06.00 WIB.

Menurutnya, takdir merupakan bagian dari rukun iman yang wajib diyakini. Namun, manusia tidak mengetahui apa yang telah ditetapkan Allah untuk dirinya. Karena itu, rahasia takdir seharusnya tidak membuat seseorang pasif, melainkan tetap berikhtiar dan memperbanyak amal saleh.

“Allah menilai proses, bukan sekadar hasil akhir. Ada orang yang sudah berusaha sungguh-sungguh tetapi belum menjadi kaya. Keikhlasannya dalam berusaha tetap bernilai di sisi Allah. Sebaliknya, ada orang yang mendapatkan kekayaan melalui korupsi. Hasilnya besar, tetapi prosesnya salah,” jelasnya.

Takdir Tidak Boleh Menjadi Alasan untuk Bermalas-malasan

Ustadz Saiun menjelaskan, manusia berada dalam pusaran ketetapan Allah, tetapi tetap diberikan kesempatan untuk memilih dan berusaha. Karena takdir merupakan perkara gaib, manusia tidak boleh menggunakan alasan “sudah takdir” untuk membenarkan kemalasan atau perbuatan dosa.

Ia mengibaratkan kehidupan manusia seperti perlombaan lari. Menurutnya, yang menentukan keberuntungan bukan kondisi seseorang di tengah perjalanan, tetapi bagaimana ia mencapai garis finis.

“Perjalanan hidup ibarat lomba lari. Yang menentukan bukan kecepatan di tengah jalan, melainkan garis finis. Karena itu, jangan terperdaya dengan kondisi kita sekarang. Teruslah memohon kepada Allah agar diberikan husnul khatimah, akhir kehidupan yang baik,” tuturnya.

Ia mengingatkan, seseorang yang hari ini terlihat baik belum tentu mengetahui bagaimana akhir kehidupannya. Sebaliknya, seseorang yang pernah berada dalam kondisi buruk masih memiliki kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki diri selama ajal belum tiba.

Karena itu, menurutnya, seorang Muslim harus menjaga amal dan tidak menunda kebaikan.

“Jangan menunda kebaikan dengan alasan masih muda. Tidak ada yang mengetahui kapan ajal datang. Teruslah berdoa dan berikhtiar karena hidup ini sementara,” pesannya.

Rezeki dan Ajal Berada dalam Ketetapan Allah

Dalam kajian tersebut, Ustadz Saiun juga mengingatkan bahwa manusia tidak perlu berlebihan dalam mencemaskan rezeki maupun ajal. Keduanya berada dalam pengetahuan dan ketetapan Allah.

Ia mengutip hadis Nabi Muhammad ﷺ yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim tentang proses penciptaan manusia. Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa ketika manusia masih berada dalam kandungan, malaikat diperintahkan untuk mencatat beberapa perkara, antara lain rezeki, ajal, amal, serta keadaan akhir kehidupannya.

Hadis tersebut, menurutnya, mengajarkan bahwa kehidupan manusia tidak berjalan tanpa arah. Namun, karena manusia tidak mengetahui ketetapan tersebut, kewajibannya adalah menjalani kehidupan dengan ikhtiar dan ketaatan.

“Rezeki dan ajal sudah ditetapkan. Tetapi karena kita tidak mengetahui kapan rezeki dan ajal itu datang, maka kita tetap wajib berusaha,” katanya.

Musibah Telah Tertulis, tetapi Ikhtiar Tetap Wajib

Ustadz Saiun kemudian mengutip firman Allah dalam QS Al-Hadid ayat 22:

«“Tidak ada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab sebelum Kami menciptakannya.”»

Ayat tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa berbagai peristiwa kehidupan berada dalam pengetahuan Allah. Namun, keyakinan tersebut tidak berarti manusia dilarang mencari jalan keluar.

Ketika sakit, manusia tetap harus berobat. Ketika mengalami kesulitan, tetap harus mencari solusi. Ketika menghadapi musibah, manusia diperintahkan bersabar dan memohon pertolongan Allah.

Hal itu diperkuat dengan firman Allah dalam QS At-Taghabun ayat 11:

«“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah.”»

Menurut Ustadz Saiun, justru sikap seseorang ketika menghadapi keadaan yang sama dapat menunjukkan kualitas imannya. Orang beriman akan berusaha menerima musibah sebagai ujian, mengambil pelajaran, dan kembali bergantung kepada Allah.

Mengingat Asal Penciptaan agar Tidak Sombong

Dalam kajian tersebut, ia juga mengajak pendengar merenungkan proses penciptaan manusia sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an.

Allah berfirman dalam QS Al-Mu’minun ayat 14:

«“Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging...”»

Proses tersebut menunjukkan kekuasaan Allah sekaligus mengingatkan manusia agar tidak sombong. Manusia yang kini memiliki kemampuan, kedudukan dan kekayaan pada awalnya hanyalah makhluk yang diciptakan melalui tahapan yang telah ditentukan Allah.

Dalam QS Al-Hajj ayat 5, Allah juga menjelaskan proses penciptaan manusia sekaligus memberikan gambaran tentang kebangkitan setelah kematian.

Ustadz Saiun mengibaratkan bumi yang kering kemudian kembali hidup setelah mendapatkan hujan. Menurutnya, menghidupkan kembali manusia setelah kematian bukanlah sesuatu yang sulit bagi Allah.

“Allah yang mampu menciptakan manusia dari sesuatu yang sebelumnya tidak ada, tentu mampu menghidupkan kembali manusia setelah kematiannya,” jelasnya.

Tauhid, Berbakti kepada Orang Tua dan Bersyukur

Dalam pembahasannya, Ustadz Saiun juga mengingatkan pentingnya hubungan antara keimanan kepada Allah dengan bakti kepada kedua orang tua.

Ia mengutip QS Luqman ayat 14, yang memerintahkan manusia berbuat baik kepada kedua orang tua, khususnya mengingat perjuangan seorang ibu yang mengandung dan menyusui anaknya.

Menurutnya, manusia perlu mengingat dari mana dirinya berasal agar tidak terjebak dalam kesombongan dan ketakutan yang berlebihan terhadap kehidupan dunia.

Allah juga berfirman dalam QS Al-Mulk ayat 2:

«“Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.”»

Ayat tersebut menjadi salah satu penekanan penting dalam kajian. Kehidupan bukan sekadar tentang siapa yang memiliki harta paling banyak, jabatan paling tinggi atau keberhasilan yang paling terlihat, tetapi tentang siapa yang mampu menjalani hidup dengan amal terbaik.

Sukses Bukan Sekadar Banyaknya Hasil

Menjawab pertanyaan pendengar tentang batas antara usaha dan takdir, Ustadz Saiun memberikan penjelasan yang cukup tajam.

Menurutnya, manusia sering terjebak pada cara pandang yang keliru. Ketika gagal, seseorang mudah mengatakan, “Ini sudah takdir.” Namun ketika berhasil, ia justru berkata, “Ini karena kerja keras saya.”

Padahal, keberhasilan maupun kegagalan tetap berada dalam kehendak Allah, sementara manusia berkewajiban menjalani proses dengan sungguh-sungguh.

“Ukuran sukses bukan tampilan luar, melainkan ridha Allah. Tetaplah beramal saleh. Kesuksesan sejati adalah ketika kita bertemu Allah dalam keadaan taat,” tegasnya.

Karena itu, beriman kepada takdir seharusnya melahirkan ketenangan, bukan keputusasaan; melahirkan tawakal, bukan kemalasan; serta melahirkan keberanian untuk terus berbuat baik.

Pada akhirnya, manusia tidak mengetahui bagaimana garis finis kehidupannya. Yang dapat dilakukan adalah terus memperbaiki diri, menjaga shalat, memperbanyak ibadah, berbuat baik kepada sesama, bersyukur atas rezeki, serta memohon kepada Allah agar diberi akhir kehidupan yang baik.

“Jangan merasa aman dengan keadaan kita hari ini. Teruslah berusaha istiqamah dan mohon kepada Allah agar kita mendapatkan husnul khatimah,” pesan Ustadz H. Saiun Ngalim mengakhiri kajiannya.

Penulis: FIRNAS MUTTAQIN

Sunday, September 06, 2026

Majelis Tabligh Muhammadiyah Tuban Dorong Kader Kuasai AI untuk Perkuat Penyebaran Informasi

TUBAN – Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Tuban mendorong pengurus dan jamaah untuk meningkatkan kemampuan menulis serta memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam pengelolaan informasi dan publikasi kegiatan Persyarikatan.

Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan “Belajar Menulis Berbasis AI untuk Pemula” yang digelar di Masjid Darussalam Tuban, Ahad (6/9/2026).

Kegiatan menghadirkan dua pembicara, yakni Samson Thohari dari Majelis Pustaka dan Informasi Digital (MPID) PDM Tuban serta Firnas Muttaqin dari Jurnalis Pasmu.id Kota Pasuruan. Acara dibuka dengan sambutan Ketua Majelis Tabligh PDM Muhammadiyah Tuban, Adi Mulyo.
Dalam sambutannya, Adi Mulyo menilai kemampuan mengolah informasi menjadi tulisan yang baik semakin penting di tengah perkembangan media digital. Berbagai kegiatan, program, pengajian, dan dakwah yang dilakukan Muhammadiyah, menurutnya, perlu didokumentasikan dan disebarluaskan secara lebih efektif agar memberikan manfaat yang lebih luas kepada umat.

“Harapannya, berita-berita dan kondisi-kondisi yang ada bisa diolah menjadi informasi yang sangat berguna bagi umat,” ujarnya.

Ia mengatakan, kegiatan pelatihan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar Majelis Tabligh untuk meningkatkan kapasitas pengurus dan kader, khususnya dalam bidang penulisan dan publikasi. Pengurus diharapkan tidak hanya aktif menjalankan kegiatan dakwah, tetapi juga mampu menyampaikan dan menyebarkan informasi kegiatan tersebut melalui berbagai media.

Menurut Adi, penguasaan kemampuan menulis akan membantu Majelis Tabligh dalam mendokumentasikan kegiatan dan menyampaikan pesan-pesan pencerahan kepada masyarakat.

Ia berharap ilmu yang diperoleh dalam pelatihan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Sebab, ilmu yang digunakan untuk menghasilkan karya dan menyebarkan kebaikan akan terus memberikan manfaat.
Sementara itu, pemateri pertama, Samson Thohari, menjelaskan pemanfaatan AI sebagai alat bantu dalam berbagai pekerjaan penulisan dan pembuatan konten digital.

Menurutnya, perkembangan AI dapat membantu pengguna dalam menyusun berita, artikel, konten media sosial, hingga merancang instruksi atau prompt. Namun, pengguna tetap perlu memahami fungsi dan karakter masing-masing platform AI serta tidak menerima hasil yang diberikan secara mentah.

Ia menekankan pentingnya memberikan instruksi yang jelas kepada AI. Semakin lengkap konteks yang diberikan, seperti nama tokoh, tempat, waktu, peristiwa, dan tujuan penulisan, semakin baik pula hasil awal yang dapat diperoleh.

Peserta juga mendapat penjelasan mengenai pentingnya melakukan pengecekan dan penyuntingan kembali terhadap hasil kerja AI, terutama untuk memastikan ketepatan nama, gelar, jabatan, penggunaan huruf kapital, serta fakta yang akan dipublikasikan.

Selain membantu penulisan berita, AI juga dapat dimanfaatkan untuk membuat artikel dan mengembangkan konten media sosial, termasuk menyusun gagasan untuk konten carousel secara lebih terstruktur.

Audio Menjadi Teks, Mempercepat Proses Menulis

Pada sesi berikutnya, pemateri kedua, Firnas Muttaqin, memberikan materi praktik penggunaan AI untuk mengubah rekaman suara atau audio menjadi teks.

Materi ini menjadi salah satu bagian praktis dalam proses penulisan berita. Firnas menjelaskan bahwa rekaman suara menggunakan perekam bawaan telepon seluler dapat menjadi solusi ketika seseorang sedang melakukan liputan di tempat yang mengalami kendala sinyal internet atau hambatan lainnya.

“Kalau berada di tempat yang terkendala sinyal, rekam saja terlebih dahulu menggunakan perekam suara di HP. Nanti setelah memungkinkan, rekaman itu bisa diubah menjadi teks,” jelasnya kepada peserta.

Menurutnya, proses transkripsi dari suara menjadi teks dapat memudahkan pekerjaan penulis, khususnya pada tahap pengolahan bahan dan penyuntingan. Wartawan atau penulis tidak perlu lagi mendengarkan rekaman secara berulang-ulang sambil mengetik seluruh isi pembicaraan secara manual.

Dalam sesi praktik, peserta diajak langsung mencoba proses audio to text menggunakan TurboScribe. Rekaman suara dimasukkan ke dalam aplikasi untuk ditranskripsikan menjadi teks.

Hasil transkripsi tersebut kemudian menjadi bahan awal yang dapat diolah lebih lanjut. Meski proses perubahan audio menjadi teks dapat dilakukan dengan bantuan AI, Firnas mengingatkan bahwa hasilnya tetap perlu diperiksa dan diedit.

Nama orang, jabatan, istilah, lokasi, serta bagian-bagian tertentu yang kurang terbaca dengan baik harus dikoreksi kembali berdasarkan rekaman asli dan fakta yang diperoleh di lapangan.

Setelah mendapatkan teks hasil transkripsi, peserta kemudian melanjutkan praktik menggunakan ChatGPT untuk membantu mengolah bahan tersebut menjadi tulisan.

Peserta diajak memahami bagaimana memberikan perintah kepada AI agar teks mentah hasil transkripsi dapat disusun menjadi tulisan yang lebih rapi, baik dalam bentuk berita jurnalistik maupun bentuk tulisan lainnya.

Dalam praktik tersebut, peserta memasukkan informasi penting, seperti tempat dan waktu kegiatan, nama narasumber, pokok pembicaraan, serta sudut pandang tulisan yang ingin dibuat.

Selanjutnya, bahan mentah hasil transkripsi diedit dan diolah dengan bantuan AI menjadi draf tulisan yang lebih terstruktur.

Firnas menekankan bahwa AI bukan pengganti penulis. Teknologi tersebut merupakan alat bantu untuk mempercepat proses kerja, sedangkan manusia tetap memegang peran penting dalam menentukan fakta, memeriksa kebenaran informasi, melakukan penyuntingan, dan menentukan isi akhir tulisan.

Rangkaian praktik mulai dari merekam suara, mengubah audio menjadi teks, melakukan penyuntingan, hingga menyusun teks menjadi berita memberikan pengalaman baru bagi peserta.

Peserta tampak antusias dan bergembira mengikuti proses belajar. Bagi sebagian peserta, praktik tersebut membuka pemahaman bahwa menulis dengan bantuan teknologi AI dapat dilakukan secara lebih mudah dan praktis, termasuk oleh pemula.

Pelatihan ini diharapkan menjadi langkah awal lahirnya lebih banyak penulis di lingkungan Muhammadiyah Tuban.

Setelah mengikuti kegiatan tersebut, peserta diharapkan dapat langsung mempraktikkan pengetahuan yang diperoleh untuk membuat dan mengirimkan tulisan guna meramaikan isi website Muhammadiyah Tuban.

Bahan tulisan dapat berasal dari berbagai kegiatan di lingkungan Persyarikatan, mulai dari liputan pengajian dan ta'lim rutin, kegiatan majelis dan lembaga, hingga berbagai agenda atau event Muhammadiyah lainnya.

Dengan semakin banyak kegiatan yang terdokumentasikan dalam bentuk tulisan, informasi dan gerakan dakwah Muhammadiyah diharapkan dapat menjangkau masyarakat lebih luas melalui media digital.

Pelatihan Belajar Menulis Berbasis AI untuk Pemula pun tidak hanya memperkenalkan teknologi, tetapi juga mendorong peserta untuk mulai menulis, mendokumentasikan kegiatan, dan menyebarkan informasi yang bermanfaat secara lebih cepat, kreatif, dan bertanggung jawab.

Penulis: FIRNAS MUTTAQIN

Ustadz Sujono: Iman dan Ilmu Jadi Kunci Diangkatnya Derajat Manusia


TUBAN — Ustadz Sujono mengajak jamaah Pengajian Keluarga Ahad Pagi di Masjid Darussalam Tuban untuk menjaga keimanan sekaligus terus menuntut ilmu. Menurutnya, dua hal tersebut merupakan bekal utama manusia untuk memperoleh kemuliaan dan derajat yang tinggi di sisi Allah SWT.


Pesan itu disampaikan Ustadz Sujono di hadapan jamaah dalam Pengajian Keluarga Ahad Pagi, Ahad (6/9/2026).

Ia mengawali kajiannya dengan mengingatkan jamaah agar mensyukuri kesempatan masih diberi kehidupan, kesehatan, serta kesempatan berkumpul dalam majelis ilmu.

“Alhamdulillah, sampai pagi hari ini kita masih dikaruniai Allah nikmat yang luar biasa. Tidak setiap orang mendapatkan kesempatan seperti kita untuk hadir, bersilaturahmi dan mengikuti pengajian,” ujarnya.

Dalam kajiannya, Ustadz Sujono menekankan bahwa setiap manusia pada dasarnya menginginkan kehidupan yang baik dan kemuliaan. Namun, menurutnya, kemuliaan tertinggi bukan semata ketika seseorang mendapatkan kedudukan dari manusia, melainkan ketika derajatnya diangkat oleh Allah SWT.

Ia kemudian mengutip firman Allah dalam Surat Al-Mujadilah ayat 11:

“Yarfa'illāhulladzīna āmanū minkum walladzīna ūtul-'ilma darajāt.”
Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.

Menurut Ustadz Sujono, ayat tersebut menunjukkan dua golongan yang mendapatkan kedudukan istimewa, yakni orang yang beriman dan orang yang berilmu.

“Kalau jabatan kita diangkat oleh direktur, kita sudah senang. Kalau diangkat oleh presiden, tentu lebih senang lagi. Tetapi yang paling mantap itu kalau yang mengangkat derajat kita adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala,” katanya.


Keimanan, Nikmat yang Tidak Semua Orang Memperolehnya

Ustadz Sujono menjelaskan, manusia memang memperoleh banyak nikmat, mulai dari kehidupan, kesehatan hingga kebebasan. Namun, di antara nikmat terbesar yang tidak semua orang mendapatkannya adalah nikmat keimanan.

Untuk menggambarkan pentingnya hidayah, ia mencontohkan kisah sejumlah nabi yang memiliki keluarga dekat tetapi tidak seluruhnya memperoleh keimanan. Hal itu, menurutnya, menunjukkan bahwa iman merupakan karunia Allah yang harus dijaga dan tidak bisa dipaksakan kepada orang lain.

Ia juga mengingatkan bahwa tugas seorang Muslim adalah mengajak kepada kebaikan, sedangkan hasilnya berada dalam ketentuan Allah SWT.

Ustadz Sujono mengutip Surat Ali Imran ayat 104:

“Wal takum minkum ummatuy yad'ūna ilal-khairi wa ya'murūna bil-ma'rūfi wa yanhawna 'anil-munkar.”
Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.

“Manusia itu hanya berusaha dan mengajak. Jangan merasa bisa memaksa seseorang mendapat hidayah. Kita mengajak kepada kebaikan, sedangkan hasilnya kita serahkan kepada Allah,” tuturnya.

Orang Beriman Tidak Mudah Putus Asa

Dalam penjelasannya, Ustadz Sujono menyebut keimanan memberikan kekuatan batin kepada seseorang dalam menghadapi persoalan hidup. Orang yang beriman, katanya, tidak seharusnya mudah putus asa ketika menghadapi kesulitan dan tidak pula menjadi sombong ketika berada dalam kelapangan.

Ia mengingatkan bahwa Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum apabila mereka sendiri tidak berusaha mengubah keadaan mereka.

Hal itu merujuk pada firman Allah dalam Surat Ar-Ra'd ayat 11:

“Innallāha lā yugayyiru mā biqaumin hattā yugayyirū mā bi'anfusihim.”
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.

“Ketika berada di atas jangan sombong. Ketika berada di bawah jangan berputus asa. Orang beriman harus tetap semangat, karena dia yakin ada Allah yang menjadi tempat bergantung,” katanya.

Ia juga mengingatkan jamaah agar tidak menganggap masalah hidup sebagai alasan untuk menyerah.

“Sebesar apa pun masalahnya, jangan sampai kita merasa sendirian. Orang beriman itu punya tempat bergantung, yaitu langsung kepada Allah,” ujarnya.

Sentilan Jenaka: Jangan Sampai Hafal Nama, Tapi Malas Salat

Pengajian berlangsung hangat dengan sejumlah sentilan jenaka yang membuat jamaah tersenyum sekaligus merenung.

Salah satunya ketika Ustadz Sujono menyinggung kebiasaan sebagian orang yang mudah melakukan banyak aktivitas, tetapi terasa berat ketika menjalankan ibadah tambahan.

Ia menyebut salat sunnah dapat menjadi salah satu sarana untuk melakukan introspeksi terhadap kondisi keimanan seseorang.

“Kalau salat sunnah terasa enteng, mungkin iman sedang baik-baik saja. Tapi kalau mendengar salat sunnah saja sudah terasa berat, ini perlu dicek lagi, jangan-jangan imannya yang sedang masuk bengkel,” selorohnya yang disambut tawa jamaah.

Ia juga menyentil kebiasaan sebagian orang yang terlalu sibuk dengan telepon genggam.

“Jangan sampai nama kontak di hape panjang-panjang kita hafal, tetapi panggilan Allah justru sering kita tunda,” ujarnya.

Dengan gaya khas dan humor ringan, ia kembali mengingatkan jamaah agar tidak sekadar merasa aman karena menyandang identitas Muslim, tetapi juga berusaha menjaga keimanan hingga akhir hayat.

Ustadz Sujono mengutip pesan Allah dalam Surat Ali Imran ayat 102:

“Yā ayyuhalladzīna āmanuttaqullāha haqqa tuqātihī wa lā tamūtunna illā wa antum muslimūn.”
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.

“Yang penting bukan hanya hari ini kita menjadi orang beriman. Sampai kapan? Sampai akhir hayat. Jangan sampai apa pun yang terjadi dalam hidup membuat kita meninggalkan Islam,” tegasnya.

Al-Qur'an dan Amal Sunnah untuk Menjaga Iman

Menurut Ustadz Sujono, keimanan harus terus dipelihara karena kondisi iman manusia dapat berubah. Karena itu, ia mengajak jamaah memperbanyak membaca, memahami dan mengamalkan Al-Qur'an.

“Al-Qur'an itu kalam Allah. Semakin sering kita membaca, memahami dan mengamalkannya, insya Allah iman kita akan semakin kuat,” katanya.

Selain membaca Al-Qur'an, ia mendorong jamaah membiasakan amalan-amalan sunnah sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas iman.

Beberapa amalan yang mendapat penekanan dalam kajian tersebut antara lain salat tahajud, salat sunnah sebelum Subuh, salat Dhuha, puasa sunnah serta memperbanyak zikir.

“Perbaikilah salatmu, maka Allah akan memperbaiki hidupmu,” ujarnya.

Menurutnya, salat sunnah tidak sekadar menjadi tambahan ibadah, tetapi juga dapat menjadi bahan evaluasi pribadi tentang kedekatan seseorang kepada Allah.

“Yang wajib jangan ditinggalkan. Tetapi kalau yang sunnah pun mulai terasa ringan dan kita rindu mengerjakannya, itu mudah-mudahan menjadi tanda hati kita masih senang mendekat kepada Allah,” katanya.

Ia kemudian mengajak jamaah untuk senantiasa mengingat Allah dalam setiap keadaan, baik ketika duduk, berdiri, berjalan maupun menjalankan aktivitas sehari-hari.

Ilmu Mengubah Cara Pandang

Selain iman, Ustadz Sujono menempatkan ilmu sebagai unsur penting dalam meningkatkan derajat manusia.

Ia mengingatkan bahwa ilmu tidak hanya diperoleh melalui pendidikan formal. Majelis taklim, pengajian dan berbagai kegiatan belajar juga merupakan jalan untuk terus menambah pengetahuan.

Menurutnya, ilmu dapat mengubah cara manusia melihat persoalan dan memanfaatkan sesuatu yang ada di sekitarnya.

“Orang yang berilmu dan tidak berilmu tentu berbeda cara pandangnya. Dengan ilmu, sesuatu yang dianggap biasa bisa mempunyai manfaat dan nilai,” katanya.

Ia kembali menegaskan bahwa wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW juga dimulai dengan perintah membaca.

“Perintah pertama itu Iqra', bacalah. Artinya, kita jangan berhenti belajar. Jangan pernah merasa sudah cukup ilmu,” ujarnya.

Di tengah penyampaiannya, ia bahkan melontarkan istilah jenaka tentang bahaya malas belajar.

“Kalau malas menuntut ilmu, hati-hati terkena penyakit kronis. Penyakitnya bukan hanya satu, bisa macam-macam. Pokoknya kalau sudah malas belajar, akhirnya malas berpikir, malas bergerak, dan maunya tinggal menerima,” katanya, disambut senyum dan tawa jamaah.

Iman dan Ilmu untuk Memperbaiki Kehidupan

Di penghujung kajian, Ustadz Sujono menegaskan bahwa keimanan dan ilmu tidak boleh dipisahkan. Iman memberikan arah dan ketenangan dalam hidup, sedangkan ilmu membantu manusia memahami, memilih dan menjalani jalan yang benar.

Ia mengingatkan pentingnya menjaga hubungan dengan Allah sekaligus meningkatkan kemampuan dan pengetahuan untuk menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

“Kalau kita punya iman dan punya ilmu, insya Allah kita akan menjadi manusia yang lebih kuat menghadapi kehidupan. Jangan hanya ingin derajat tinggi di mata manusia. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menjadi orang yang dimuliakan oleh Allah,” pungkasnya.

Pengajian Keluarga Ahad Pagi tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban. Perpaduan materi keislaman, kutipan ayat Al-Qur'an, kisah-kisah teladan serta humor ringan menjadikan pesan tentang pentingnya menjaga iman dan menuntut ilmu mudah diterima jamaah.

Penulis: FIRNAS MUTTAQIN