TUBAN – Jangan meremehkan dosa. Pesan tersebut menjadi inti Khutbah Jumat yang disampaikan Ustadz Muhammad Ikhsan di Masjid Latifah An Nashir, Sidorejo, Tuban, Jumat (4/9/2026).
Di hadapan jamaah, ia mengingatkan bahwa gambaran tentang neraka dalam Al-Qur’an bukan sekadar penjelasan mengenai kehidupan akhirat, melainkan peringatan agar manusia senantiasa mengevaluasi perbuatannya selama hidup di dunia.
Menurutnya, seorang Muslim tidak boleh merasa aman hanya karena telah mengaku beriman. Dosa, kelalaian dalam menjalankan perintah Allah, serta perbuatan maksiat harus menjadi perhatian serius yang senantiasa diiringi dengan taubat dan permohonan ampun kepada Allah SWT.
“Jangan sampai ketika kembali menghadap Allah, kita membawa dosa. Karena itu, manusia harus senantiasa memohon ampun dan kembali kepada Allah,” demikian inti pesan yang disampaikan dalam khutbah.
Ia juga menyampaikan bahwa kehidupan dunia merupakan kesempatan yang diberikan Allah untuk memperbaiki diri. Setiap manusia perlu melakukan introspeksi, mengevaluasi amal perbuatannya, dan segera meninggalkan kebiasaan buruk sebelum tiba saatnya taubat tidak lagi diterima.
“Jamaah yang dirahmati Allah, jangan menunggu usia tua untuk bertaubat. Jangan menunggu datangnya musibah untuk mengingat Allah. Selagi masih diberi kesehatan dan kesempatan, mari kita kembali kepada-Nya dengan taubat yang sungguh-sungguh,” pesannya.
Ustadz Muhammad Ikhsan menegaskan bahwa upaya menjauhi azab tidak cukup hanya dengan rasa takut, tetapi harus diwujudkan melalui perubahan perilaku. Keimanan perlu dibuktikan dengan menjalankan ibadah, memperbanyak amal saleh, meninggalkan larangan Allah, menjauhi kemusyrikan, serta tidak memperoleh harta melalui cara yang haram.
“Iman bukan hanya ucapan di lisan, melainkan keyakinan dalam hati dan amal yang tercermin dalam kehidupan. Karena itu, mari kita memperbaiki salat, menjaga lisan, menghormati orang tua, menunaikan amanah, dan berbuat baik kepada sesama,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa Al-Qur’an menggambarkan beratnya keadaan penghuni neraka, termasuk rasa haus, lapar, dan azab yang terus mereka alami sebagai balasan atas perbuatannya.
Gambaran tersebut, menurutnya, harus menjadi pelajaran agar manusia tidak menganggap remeh setiap perbuatan dosa.
Namun, khutbah tersebut tidak hanya membahas ancaman dan azab. Ustadz Muhammad Ikhsan juga menekankan bahwa Allah senantiasa membuka jalan keselamatan bagi manusia.
Ia mengutip pesan dalam Surah As-Saff ayat 10 tentang jalan yang dapat menyelamatkan orang-orang beriman dari azab yang pedih. Jalan tersebut ditempuh dengan memperkuat iman dan membuktikannya melalui amal nyata.
“Beriman, beribadah, beramal saleh, bersedekah, dan menjauhi dosa merupakan bagian dari jalan keselamatan,” pesannya.
Ia menambahkan bahwa amal saleh tidak selalu berupa perbuatan besar. Menolong orang lain, berkata jujur, menjaga hubungan silaturahmi, menyingkirkan gangguan dari jalan, dan memberikan nafkah yang halal juga merupakan bentuk kebaikan yang bernilai di sisi Allah.
“Jangan meremehkan kebaikan sekecil apa pun, sebagaimana jangan meremehkan dosa sekecil apa pun. Bisa jadi amal yang kecil menjadi sebab turunnya rahmat Allah, dan bisa jadi dosa yang dianggap ringan menjadi sebab kebinasaan,” tuturnya.
Dalam khutbah kedua, ia kembali mengajak jamaah menjadikan peringatan tentang neraka sebagai dorongan untuk memperbaiki diri, bukan sekadar untuk menumbuhkan ketakutan.
Pesan utamanya, setiap Muslim harus senantiasa menjaga keseimbangan antara rasa takut terhadap dosa dan harapan atas ampunan Allah SWT. Taubat tidak boleh ditunda, sementara amal saleh harus terus diperbanyak sebagai bekal menuju kehidupan akhirat.
Khutbah Jumat di Masjid Latifah An Nashir yang bertepatan dengan 10 Rabiul Awal 1448 Hijriah itu ditutup dengan doa agar seluruh jamaah senantiasa memperoleh hidayah, keteguhan iman, kebaikan di dunia dan akhirat, serta perlindungan dari azab neraka. (*)
Firnas Muttaqin