Wednesday, October 28, 2026

RTPS Disusun di 26 Desa/Kelurahan di 7 Kecamatan, Tuban Perkuat Pengelolaan Sampah dari Tingkat Tapak

TUBAN – Upaya membenahi sampah di Kabupaten Tuban kini bergerak serentak dari tingkat tapak. Melalui program ISWMP (Improvement of Solid Waste Management to Support Regional and Metropolitan Cities Project)., 26 desa dan kelurahan yang tersebar di tujuh kecamatan menyusun Rencana Tindak Pengelolaan Persampahan (RTPS). Dokumen ini menjadi peta jalan yang menerjemahkan aturan nasional hingga daerah menjadi langkah nyata di tingkat desa.

Sebaran Wilayah Sasaran

Dari 26 lokasi, 24 berstatus desa dan 2 kelurahan, yakni Gedongombo dan Panyuran. Sebarannya sebagai berikut:

Cakupan ini memuat wilayah dengan karakter beragam, dari kawasan perkotaan, pesisir, dan perdesaan hingga wilayah perbukitan. Karena itu RTPS dirancang agar bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing, tetapi tetap berada dalam satu kerangka regulasi yang sama.

Berpijak pada 11 Lapis Aturan

Seluruh RTPS mengacu pada hirarki peraturan yang berjenjang. Di tingkat pusat, pijakannya adalah UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan PP No. 81 Tahun 2012 tentang sampah rumah tangga dan sejenisnya, termasuk Pasal 35 tentang peran masyarakat. Perpres No. 97 Tahun 2017 tentang Jakstranas menetapkan target pengurangan sampah 30 persen dan penanganan 70 persen. Perpres No. 18 Tahun 2020 tentang RPJMN 2020–2024, Permendagri No. 33 Tahun 2010, dan Permen PU No. 03 Tahun 2013 melengkapi dari sisi perencanaan dan prasarana.

Di tingkat provinsi, ada Perda Jatim No. 9 Tahun 2022 dan Pergub Jatim No. 106 Tahun 2018 tentang Jakstrada, yang mengulang target 30 persen pengurangan dan 70 persen penanganan. Di tingkat kabupaten, tiga aturan menjadi rujukan utama:

PERDA Tuban No. 12 Tahun 2025, yang memuat ketentuan lembaga pengelola (Pasal 18B).
PERDA Tuban No. 10 Tahun 2025, yang mengatur tarif retribusi.
PERBUP Tuban No. 7 Tahun 2024 tentang Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah (RISPS), yang memuat strategi peran masyarakat (Pasal 12).
Lima Langkah di Setiap Wilayah

Permendagri No. 33 Tahun 2010 Pasal 4 menjadi kerangka isi RTPS, yaitu lima langkah pengelolaan sampah:

Pemilahan: organik dan anorganik dipisahkan dari sumber.
Pengumpulan: warga membawa sampah ke TPS sementara.
Pengangkutan: sampah diangkut dengan armada pengelola.
Pengolahan: diolah menjadi kompos, biogas, atau bahan daur ulang.
Pemrosesan akhir: pembuangan akhir sesuai standar lingkungan.

Setiap desa dan kelurahan menyesuaikan lima langkah ini dengan jumlah penduduk, sarana yang tersedia, dan kesiapan kelembagaannya.

Angka Timbulan dan Gambaran Tarif

RTPS disusun berbasis angka. PERBUP Tuban No. 7 Tahun 2024 menetapkan timbulan sampah kabupaten sebesar 0,43 kg per orang per hari. Angka ini menjadi patokan untuk memperkirakan volume sampah, kebutuhan armada, dan kapasitas pengolahan di tiap wilayah.

Untuk pembiayaan, PERDA Tuban No. 10 Tahun 2025 memberi gambaran struktur tarif:

TPS3R non-UPTD: Rp1.000 untuk rumah tangga Golongan 1 (450 VA) sampai Rp10.000 untuk Golongan 4 (di atas 6.600 VA).
Layanan langsung dari sumber oleh UPTD: Rp10.000 sampai Rp50.000 sesuai golongan.
Sewa sarana: pickup Rp800.000 per unit per tahun, roda tiga Rp125.000 per unit per tahun, dan pengangkutan TPS pasar Rp30.000 per meter kubik.

Tarif ini menjadi acuan bagi desa dan kelurahan dalam merancang model layanan dan iurannya.

Tantangan: Dari Dokumen ke Kebiasaan

Setelah RTPS tersusun, tantangan berikutnya adalah pelaksanaan. Aturan sebaik apa pun tidak berjalan bila warga belum terbiasa memilah sampah dan lembaga pengelola belum siap beroperasi. Karena itu RTPS perlu diikuti penguatan kelembagaan, peraturan desa, prosedur layanan, dan sosialisasi yang berkelanjutan di tiap wilayah. Sebagai gambaran, Desa Sawir di Kecamatan Tambakboyo telah merintis lembaga pengelola sampah desa bernama LPS Fajar Bhakti sebagai pelaksana RTPS di wilayahnya.

Penyusunan RTPS di 26 desa dan kelurahan menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di Tuban digarap dari akar. Hirarki peraturan yang berjenjang, konsisten, dan akuntabel kini diterjemahkan menjadi rencana yang dapat dikerjakan warga, dari dapur rumah tangga sampai pemrosesan akhir.

Tuesday, October 27, 2026

Ustadz Abdus Salam: Syukur Saat Mendapat Nikmat, Sabar Ketika Menghadapi Musibah


TUBAN – Ustadz Abdus Salam mengajak umat Islam untuk senantiasa bersyukur ketika memperoleh nikmat dan bersabar saat menghadapi musibah. Sikap tersebut merupakan bagian penting dari keimanan yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, baik melalui ibadah maupun kepedulian terhadap sesama.

Pesan tersebut disampaikan dalam Pengajian Selasa Malam, 27 Oktober 2026, di Masjid Lathifah An Nashir, Sidorejo, Tuban. Dalam kajiannya, Ustadz Abdus Salam membahas sejumlah amalan yang dapat mendekatkan seorang Muslim kepada surga, di antaranya beribadah kepada Allah SWT, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan menyambung tali silaturahim.

## Mensyukuri Nikmat Hujan

Dalam ceramahnya, Ustadz Abdus Salam menyoroti hujan sebagai salah satu bentuk nikmat Allah SWT yang patut disyukuri. Hujan menjadi sumber kehidupan bagi manusia, tumbuhan, dan makhluk lainnya. Karena itu, umat Islam hendaknya menyambut turunnya hujan dengan rasa syukur, bukan semata-mata dengan keluhan.

Menurutnya, manusia terkadang mudah mengeluh ketika menghadapi keadaan yang tidak sesuai dengan keinginannya. Ketika kemarau panjang, manusia berharap hujan segera turun. Namun, ketika hujan turun terus-menerus, sebagian orang justru mengeluh.

Sikap tersebut menunjukkan bahwa manusia perlu belajar menerima keadaan dengan penuh kesadaran dan keimanan.

“Ketika mendapatkan kenikmatan, seorang Muslim hendaknya bersyukur dengan mengucapkan Alhamdulillah. Namun, ketika mendapatkan musibah, ia harus bersabar,” demikian inti pesan yang disampaikan dalam kajian tersebut.

Syukur, lanjutnya, tidak cukup hanya diucapkan. Nikmat yang diberikan Allah juga harus dimanfaatkan untuk kebaikan. Apabila seseorang memperoleh rezeki berupa harta, hendaknya ia menggunakannya untuk bersedekah dan membantu sesama. Jika memperoleh kesehatan, hendaknya digunakan untuk memperbanyak ibadah dan amal saleh. Sementara itu, kecerdasan dan ilmu pengetahuan hendaknya dimanfaatkan untuk berdakwah serta menunjukkan jalan kebenaran kepada orang lain.

## Silaturahim sebagai Jalan Menuju Surga

Pembahasan berikutnya berfokus pada pentingnya menjaga hubungan persaudaraan. Ustadz Abdus Salam menjelaskan hadis tentang Abu Ayyub Al-Anshari yang bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai amalan yang dapat memasukkannya ke surga dan menjauhkannya dari api neraka.

Dalam hadis tersebut, Rasulullah SAW menjelaskan pentingnya menyembah Allah tanpa menyekutukan-Nya, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan menyambung tali silaturahim.

Silaturahim tidak hanya diwujudkan melalui pertemuan keluarga besar. Mengunjungi kerabat, menjenguk anggota keluarga yang sakit, menjaga komunikasi, dan membantu saudara yang membutuhkan juga merupakan bentuk nyata pemeliharaan hubungan persaudaraan.

Menurut Ustadz Abdus Salam, silaturahim perlu terus dijaga agar hubungan antarkeluarga tidak renggang. Bahkan, pemberian sederhana yang dilakukan dengan ikhlas dapat menjadi sarana untuk mempererat kasih sayang.

Ia juga menjelaskan bahwa istilah silaturahim dan silaturahmi pada umumnya digunakan untuk merujuk pada upaya menjaga dan menyambung hubungan persaudaraan serta kasih sayang antarsesama.

## Sedekah kepada Kerabat Memiliki Dua Keutamaan

Dalam kajian tersebut, Ustadz Abdus Salam turut membahas keutamaan bersedekah kepada keluarga dekat yang membutuhkan.

Ia menjelaskan hadis yang menerangkan bahwa sedekah kepada orang miskin bernilai satu pahala sedekah, sedangkan sedekah kepada kerabat mengandung dua keutamaan, yaitu pahala sedekah dan pahala menyambung silaturahim.

Dengan demikian, membantu keluarga yang sedang mengalami kesulitan ekonomi merupakan amalan yang memiliki nilai sosial sekaligus nilai ibadah.

Bentuk bantuan tidak harus selalu berupa uang dalam jumlah besar. Seseorang dapat berbagi makanan, bahan kebutuhan pokok, atau bantuan lain sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Prinsip tersebut juga sejalan dengan anjuran untuk memberikan makanan kepada orang yang berpuasa. Selain membantu memenuhi kebutuhan orang lain, tindakan tersebut menjadi wujud kepedulian dan kebersamaan di tengah masyarakat.

## Berbuka Puasa dengan Kurma atau Air

Materi kajian selanjutnya membahas tuntunan berbuka puasa. Ustadz Abdus Salam menyampaikan bahwa kurma merupakan salah satu pilihan yang dianjurkan untuk mengawali berbuka puasa. Apabila kurma tidak tersedia, berbuka dengan air dapat menjadi pilihan.

Ia mengingatkan agar umat Islam tidak hanya memperhatikan makanan yang dikonsumsi, tetapi juga berusaha mengikuti tuntunan Rasulullah SAW dalam beribadah.

Dalam konteks kehidupan sehari-hari, anjuran tersebut menjadi pengingat bahwa kesederhanaan dan mengikuti sunah merupakan bagian dari upaya memperbaiki kualitas ibadah.

Selain itu, umat Islam juga diajak untuk memperhatikan kebutuhan orang lain, terutama mereka yang kesulitan memenuhi kebutuhan pangan.

## Ketaatan kepada Allah Harus Diutamakan

Pada bagian akhir kajian, Ustadz Abdus Salam membahas kisah Abdullah bin Umar dan ayahnya, Umar bin Khattab, yang berkaitan dengan persoalan rumah tangga. Kisah tersebut digunakan untuk menjelaskan pentingnya menempatkan ajaran agama sebagai pedoman dalam menentukan sikap dan mengambil keputusan.

Ia mengingatkan bahwa kecintaan terhadap sesuatu tidak boleh membuat seseorang mengabaikan ketentuan Allah SWT.

Namun, ketaatan dalam kehidupan sehari-hari tetap harus dipahami sesuai dengan tuntunan syariat dan konteks persoalannya. Setiap keputusan, termasuk yang menyangkut hubungan keluarga, perlu mempertimbangkan ketentuan agama dan hak-hak pihak yang terlibat.

Pesan tersebut sejalan dengan ajakan agar umat Islam bersedia mengorbankan sebagian hal yang dicintainya demi kebaikan dan ketaatan kepada Allah SWT.

## Menjaga Istikamah dalam Beribadah

Menutup kajiannya, Ustadz Abdus Salam berharap agar jamaah senantiasa diberi kekuatan untuk menjalankan perintah Allah SWT, menjauhi larangan-Nya, dan mengikuti sunah Rasulullah SAW.

Ia juga mengajak umat Islam untuk membiasakan diri bersyukur ketika memperoleh nikmat, bersabar ketika menghadapi ujian, serta memperbanyak amal saleh yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Melalui pengamalan nilai-nilai tersebut, umat Islam diharapkan dapat membangun kehidupan yang lebih baik, menjaga persaudaraan, dan meraih kebahagiaan di dunia maupun akhirat. (*)

Firnas Muttaqin 

Saturday, October 24, 2026

Tafsir Al-Maidah Ayat 59–62, Ustadz Saiun Ngalim Bahas Sikap Ahli Kitab terhadap Kebenaran


TUBAN – Pengajian tafsir Al-Qur’an yang digelar di Masjid Al Fajri Tuban, Sabtu (24/10/2026) ba’da Maghrib, membahas Surah Al-Maidah ayat 59–62 dengan merujuk Kitab Tafsir Jalalain. Kajian yang disampaikan Ustadz Saiun Ngalim tersebut mengangkat pesan tentang sikap terhadap ajaran Allah, konsekuensi keimanan, serta perilaku orang-orang yang menolak kebenaran.

Surah Al-Maidah ayat 59–62 memuat teguran kepada sebagian Ahli Kitab atas sikap mereka terhadap orang-orang beriman. Ayat-ayat ini juga menjelaskan perbedaan antara keimanan yang diwujudkan dalam ketaatan dan sikap yang bertentangan dengan petunjuk Allah.

Ayat 59: Mengapa Orang Beriman Dipersoalkan?

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Maidah ayat 59:

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ هَلْ تَنْقِمُونَ مِنَّا إِلَّا أَنْ آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلُ

Yā ahlal-kitābi hal tanqimūna minnā illā an āmannā billāhi wa mā unzila ilainā wa mā unzila min qablu.

Artinya: “Katakanlah, ‘Wahai Ahli Kitab, apakah kamu memandang kami salah hanya karena kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya?’” (QS. Al-Maidah: 59, terjemahan makna).

Ayat ini menegaskan bahwa keimanan kepada Allah dan wahyu-Nya tidak semestinya dijadikan alasan untuk memusuhi seseorang. Al-Qur’an mengingatkan bahwa keimanan umat Islam mencakup keyakinan kepada wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW serta wahyu yang diturunkan kepada para nabi sebelumnya.

Pesan yang dapat diambil ialah pentingnya bersikap adil dalam menilai keyakinan orang lain dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk melakukan permusuhan.

Ayat 60: Peringatan atas Penyimpangan

Pada ayat berikutnya, Allah SWT menyampaikan teguran keras kepada orang-orang yang mendapatkan laknat dan kemurkaan-Nya.

Allah berfirman:

قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَٰلِكَ مَثُوبَةً عِنْدَ اللَّهِ

Qul hal unabbi'ukum bisyar-rin min żālika maṡūbatan 'indallāh.

Artinya: “Katakanlah, ‘Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang yang lebih buruk pembalasannya di sisi Allah?’” (QS. Al-Maidah: 60, petikan ayat).

Ayat ini menyebut sejumlah golongan yang mendapat kemurkaan Allah, termasuk orang-orang yang dikutuk dan mereka yang menjadikan sesembahan selain Allah sebagai tandingan-Nya.

Dalam konteks tafsir, ayat tersebut menjadi peringatan bahwa kedudukan manusia di hadapan Allah tidak ditentukan oleh pengakuan semata, melainkan berkaitan dengan keyakinan, ketaatan, dan perbuatannya.

Ayat 61: Pengakuan yang Tidak Sejalan dengan Perbuatan

Surah Al-Maidah ayat 61 menggambarkan sikap orang-orang yang datang kepada Nabi Muhammad SAW dengan menyatakan beriman, padahal mereka datang dalam keadaan membawa kekufuran dan meninggalkan beliau dalam keadaan yang sama.

Allah SWT berfirman:

وَقَدْ دَخَلُوا بِالْكُفْرِ وَهُمْ قَدْ خَرَجُوا بِهِ

Wa qad dakhalū bil-kufri wa hum qad kharajū bih.

Artinya: “Padahal mereka datang dengan kekafiran dan mereka pun keluar dengan kekafiran itu.” (QS. Al-Maidah: 61, petikan ayat).

Ayat ini menunjukkan adanya perbedaan antara perkataan yang diucapkan dan keadaan batin seseorang. Pengakuan secara lisan tidak selalu mencerminkan keyakinan yang sesungguhnya.

Pesan yang dapat direnungkan dari ayat ini adalah pentingnya menjaga kesesuaian antara ucapan, keyakinan, dan tindakan. Kejujuran serta ketulusan menjadi bagian penting dalam menjalankan ajaran agama.

Ayat 62: Larangan Berlomba dalam Dosa

Pada ayat ke-62, Al-Qur’an menyoroti perilaku sebagian orang yang terus melakukan pelanggaran dan memakan sesuatu yang haram.

Allah SWT berfirman:

وَتَرَىٰ كَثِيرًا مِنْهُمْ يُسَارِعُونَ فِي الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ

Wa tarā kaṡīram minhum yusāri'ụna fil-iṡmi wal-'udwāni wa aklihimus-suḥt.

Artinya: “Engkau akan melihat banyak di antara mereka berlomba-lomba dalam berbuat dosa, permusuhan, dan memakan yang haram.” (QS. Al-Maidah: 62, petikan ayat).

Ayat tersebut memberikan peringatan tentang bahaya membiasakan diri melakukan dosa dan pelanggaran. Perbuatan yang salah tidak boleh dianggap wajar hanya karena dilakukan berulang kali atau menjadi kebiasaan di lingkungan masyarakat.

Kandungan ayat ini juga relevan dengan kehidupan sehari-hari, terutama dalam menjaga kejujuran, menghindari permusuhan, serta memastikan bahwa harta dan penghasilan diperoleh melalui cara yang halal.

Menjaga Keimanan dan Perilaku

Rangkaian Surah Al-Maidah ayat 59–62 memberikan gambaran tentang sikap terhadap kebenaran, pentingnya ketulusan dalam beragama, serta peringatan terhadap perilaku yang bertentangan dengan ketentuan Allah.

Melalui kajian Kitab Tafsir Jalalain, ayat-ayat tersebut dapat menjadi bahan introspeksi bagi umat Islam agar tidak berhenti pada pengakuan keimanan secara lisan. Keimanan perlu tercermin dalam perilaku, kejujuran, keadilan, dan kesediaan menjauhi perbuatan dosa.

Pengajian tafsir seperti ini menjadi sarana untuk memahami pesan Al-Qur’an secara lebih mendalam sekaligus menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. (*)

FIRNAS MUTTAQIN

Tuesday, October 20, 2026

Ustadz Abdus Salam Tekankan Pentingnya Membimbing Keluarga dan Mendahulukan Kebutuhan Orang Terdekat

TUBAN – Ustadz Abdus Salam menekankan pentingnya tanggung jawab seorang muslim dalam memenuhi kebutuhan keluarga, berbagi kepada orang lain, serta membimbing anggota keluarga agar tetap berada di jalan Allah SWT. Pesan tersebut disampaikan dalam pengajian Selasa, 20 Oktober 2026, di Masjid Lathifah Nashir, Sidorejo, Tuban.

Dalam ceramahnya, Ustadz Abdus Salam menjelaskan bahwa kepedulian terhadap orang lain perlu diimbangi dengan perhatian terhadap kebutuhan keluarga sendiri. Kebutuhan istri, anak-anak, dan kerabat hendaknya diperhatikan sebelum seseorang memberikan seluruh kemampuannya untuk kepentingan orang lain.

Menurutnya, membantu sesama merupakan perbuatan baik, tetapi tanggung jawab terhadap keluarga juga tidak boleh diabaikan. Setelah kebutuhan keluarga terpenuhi, seseorang dapat memperluas kepeduliannya kepada kerabat yang lebih jauh dan masyarakat di sekitarnya.

Selain membahas tanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan keluarga, Ustadz Abdus Salam juga mengingatkan pentingnya mengajak anggota keluarga untuk memahami dan menjalankan ajaran agama.

Pesan tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, Surah At-Tahrim ayat 6:

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa tanggung jawab seorang muslim tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan materi. Orang tua dan anggota keluarga juga memiliki tanggung jawab untuk saling mengingatkan, membimbing, serta mengajak kepada kebaikan.

Ustadz Abdus Salam turut menjelaskan bahwa dalam lingkungan keluarga, tidak semua orang memiliki sikap dan pilihan yang sama terhadap agama. Karena itu, upaya mengajak keluarga kepada kebaikan perlu dilakukan dengan kesungguhan, kesabaran, dan cara yang bijaksana.

Ia mengingatkan agar seseorang tidak berhenti berusaha hanya karena ada anggota keluarga yang belum menerima ajakan tersebut. Setiap orang tetap perlu menjalankan tanggung jawabnya dengan baik sembari memohon petunjuk dan pertolongan Allah SWT.

Pada bagian akhir ceramah, jamaah diajak untuk memperhatikan pendidikan agama dalam keluarga, termasuk kepada anak-anak dan keturunan. Usaha membimbing keluarga hendaknya dilakukan secara berkelanjutan agar nilai-nilai keimanan dan kebaikan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pengajian ditutup dengan doa agar Allah SWT memberikan petunjuk, memudahkan umat Islam dalam menjalankan kewajiban, serta menjadikan diri dan keluarga sebagai golongan yang taat kepada-Nya.

Melalui kajian tersebut, jamaah diingatkan bahwa kepedulian sosial, pemenuhan tanggung jawab keluarga, dan pendidikan agama merupakan bagian penting dari kehidupan seorang muslim.

Firnas Muttaqin 

Sunday, October 18, 2026

Makna Hidup Bahagia Dunia dan Akhirat


TUBAN – Pengajian Ahad pagi di Masjid Darussalam, Tuban, pada Minggu (18/10/2026), menghadirkan Ustadz H. Sudarji, M.Pd.I., yang menyampaikan kajian bertema Hidup Bahagia di Dunia dan Akhirat. Dalam ceramahnya, ia menguraikan makna doa sapujagat serta berbagai bentuk kebaikan dunia yang patut disyukuri oleh setiap muslim.

Doa yang menjadi pokok pembahasan adalah:

Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah, wa fil-aakhirati hasanah, wa qinaa 'adzaaban-naar.

Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.”

Ustadz Sudarji menjelaskan bahwa doa tersebut tidak hanya berisi permohonan untuk memperoleh kebahagiaan di dunia, tetapi juga keselamatan dan kebaikan di akhirat. Doa ini, menurutnya, juga dibaca ketika melakukan tawaf, khususnya saat berada di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad.

Dalam kajiannya, ia merujuk sejumlah kitab, di antaranya Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili, Tafsir Al-Baghawi, Tafsir Al-Qurthubi, serta kitab-kitab syarah hadis. Berdasarkan rujukan tersebut, ia menguraikan sejumlah bentuk hasanah fid-dunya, yakni kebaikan yang dapat dirasakan dalam kehidupan dunia.

Sehat, Rezeki, dan Keluarga yang Saleh

Salah satu kebaikan dunia yang pertama dibahas adalah kesehatan. Menurut Ustadz Sudarji, kesehatan merupakan nikmat besar karena memungkinkan seseorang menjalankan ibadah, menghadiri majelis ilmu, bekerja, serta melakukan berbagai aktivitas yang bermanfaat.

“Kalau panjenengan hidup hari ini dalam keadaan sehat, berarti panjenengan telah mendapatkan kebaikan dunia,” jelasnya di hadapan jamaah.

Ia menambahkan, kesehatan memungkinkan seseorang menjalankan ibadah dengan lebih leluasa. Sebaliknya, ketika sakit, berbagai aktivitas dapat terhambat. Karena itu, kesehatan perlu disyukuri dan dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas ibadah serta amal kebaikan.

Selain kesehatan, ia menjelaskan bahwa rumah yang layak dan luas, kendaraan yang nyaman, serta rezeki yang mencukupi kebutuhan juga termasuk bentuk kebaikan dunia. Namun, ukuran kecukupan tidak harus disamakan dengan kemewahan atau banyaknya harta.

Menurutnya, rumah yang nyaman adalah rumah yang dapat memenuhi kebutuhan keluarga, sedangkan rezeki yang luas dapat dimaknai sebagai penghasilan yang mencukupi kebutuhan sehari-hari dan masih menyisakan kelebihan.

Ia mengingatkan jamaah agar tidak menjadikan kepemilikan rumah besar, mobil mewah, atau kekayaan berlimpah sebagai satu-satunya ukuran kebahagiaan. Hal yang lebih penting adalah kemampuan mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah SWT.

Istri Salehah dan Anak-Anak yang Menyejukkan Hati

Ustadz Sudarji juga menekankan pentingnya keluarga yang saleh sebagai bagian dari kebahagiaan dunia. Ia menjelaskan bahwa istri salehah bukan hanya pasangan yang taat beribadah, tetapi juga mampu menjaga kehormatan diri, keluarga, dan harta ketika suami tidak berada di rumah.

Selain itu, anak-anak yang saleh dan salehah merupakan anugerah besar bagi orang tua. Mendidik anak agar memiliki akhlak baik, rajin beribadah, menghormati orang lain, dan bertanggung jawab membutuhkan perhatian serta keteladanan yang berkelanjutan.

Ia mengingatkan bahwa anak dapat menjadi sumber kebahagiaan, tetapi juga bisa menjadi ujian bagi orang tua apabila tidak mendapatkan pendidikan dan pengawasan yang memadai.

Karena itu, orang tua perlu memperhatikan pendidikan agama dan pembentukan karakter anak sejak dini. Kesalehan anak, menurutnya, tidak hanya berkaitan dengan keberhasilan di dunia, tetapi juga memiliki nilai penting bagi kehidupan akhirat.

Dalam ceramah tersebut, ia mengaitkan pembahasan itu dengan doa yang terdapat dalam Al-Qur'an, yakni permohonan agar pasangan dan keturunan menjadi penyejuk mata atau qurrata a'yun.

Anak Saleh sebagai Investasi Akhirat

Lebih lanjut, Ustadz Sudarji menjelaskan bahwa anak saleh memiliki kedudukan istimewa dalam kehidupan seorang muslim. Ia mengutip kandungan Surah At-Tur ayat 21 tentang orang-orang beriman yang keturunannya mengikuti mereka dalam keimanan.

Ia menerangkan bahwa ayat tersebut memberikan gambaran tentang karunia Allah SWT yang mempertemukan orang tua dan keturunannya di surga. Dengan demikian, pendidikan dan pembinaan anak tidak semestinya hanya diarahkan pada keberhasilan akademik, pekerjaan, atau kedudukan sosial, tetapi juga pada keimanan dan akhlak.

Dalam konteks ini, ia mengingatkan jamaah agar tidak mengukur keberhasilan anak semata-mata dari latar belakang ekonomi keluarga. Anak dari keluarga sederhana pun dapat meraih prestasi dan memberikan manfaat besar apabila memperoleh pendidikan, bimbingan, serta kesempatan yang baik.

Ia juga menyampaikan bahwa harta bukan satu-satunya ukuran rezeki. Kesehatan, anak yang saleh, dan keridaan Allah SWT memiliki nilai yang lebih tinggi daripada sekadar kekayaan materi.

Ilmu yang Bermanfaat dan Hati yang Lapang

Selain kesehatan, keluarga, dan kecukupan rezeki, Ustadz Sudarji turut membahas pentingnya ilmu yang bermanfaat, rasa aman, ketenteraman, terhindar dari berbagai masalah, serta sikap menerima pemberian Allah SWT.

Menurutnya, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mendorong seseorang untuk melakukan amal kebaikan. Mengikuti pengajian tidak cukup hanya dengan mendengarkan ceramah, tetapi perlu dilanjutkan dengan memahami dan mengamalkan pesan yang disampaikan.

Ia mengingatkan bahwa ilmu tanpa amal ibarat pohon yang tidak menghasilkan buah. Oleh sebab itu, jamaah diharapkan menjadikan majelis ilmu sebagai sarana memperbaiki perilaku, meningkatkan kualitas ibadah, dan membangun hubungan yang baik dengan sesama.

Ia juga menekankan pentingnya rasa aman dan nyaman di rumah maupun di lingkungan tempat tinggal. Kehidupan yang jauh dari konflik, keluarga yang rukun, kesehatan yang terjaga, serta rezeki yang mencukupi merupakan bagian dari nikmat yang patut disyukuri.

Sikap menerima pemberian Allah SWT atau qanaah juga menjadi salah satu pokok bahasan. Menurutnya, seseorang tidak harus memiliki kekayaan berlimpah untuk merasakan kebahagiaan. Selama kebutuhan tercukupi, tidak bergantung pada utang secara berlebihan, dan mampu mensyukuri apa yang dimiliki, seseorang dapat menjalani kehidupan dengan lebih tenang.

Keridaan Allah sebagai Puncak Kebahagiaan

Pada bagian akhir kajian, Ustadz Sudarji menegaskan bahwa berbagai bentuk kebaikan dunia hendaknya mengantarkan seorang muslim menuju tujuan yang lebih tinggi, yaitu memperoleh keridaan Allah SWT.

Harta, kesehatan, rumah, kendaraan, keluarga, dan ilmu merupakan nikmat yang perlu digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan sekadar untuk memenuhi kepentingan pribadi.

Ia mengajak jamaah untuk terus bersyukur, memperbaiki amal, mendidik keluarga, dan mengamalkan ilmu yang diperoleh dari majelis pengajian.

Melalui kajian tersebut, jamaah diajak memahami bahwa hidup bahagia tidak selalu berarti memiliki segala sesuatu yang mewah. Kebahagiaan juga terletak pada kesehatan, kecukupan, keluarga yang saleh, ketenteraman hati, ilmu yang bermanfaat, serta kemampuan menerima ketetapan Allah SWT dengan penuh rasa syukur.

Pengajian ditutup dengan doa bersama, memohon agar Allah SWT memberikan kebaikan di dunia dan akhirat, membimbing umat Islam untuk senantiasa beribadah dengan baik, serta melimpahkan keridaan dan perlindungan-Nya kepada seluruh jamaah.

Firnas Muttaqin

Saturday, October 17, 2026

Makna Keimanan dan Sikap terhadap Agama


TUBAN — Pengajian tafsir Al-Qur’an yang digelar di Masjid Al Fajri Tuban pada Sabtu malam, 17 Oktober 2026, diisi dengan kajian Surah Al-Maidah ayat 54–58 oleh Ustadz Saiun Ngalim. Dalam kajian tersebut, ia menjelaskan sejumlah pesan tentang keteguhan iman, konsekuensi murtad, karakter orang beriman, serta pentingnya menjaga kehormatan agama agar tidak dijadikan bahan olok-olok dan permainan.

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْـنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗۤ ۙ اَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ ۖ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَا فُوْنَ لَوْمَةَ لَآئِمٍ ۗ ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ وَا سِعٌ عَلِيْمٌ

"Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui."
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 54)

Mengawali pembahasan ayat 54, Ustadz Saiun Ngalim menerangkan bahwa Allah SWT telah mengabarkan kemungkinan adanya sebagian orang beriman yang berbalik dari agamanya. Namun, keadaan tersebut tidak akan menghentikan perjuangan agama Allah. Allah akan menggantikan mereka dengan kaum yang dicintai-Nya dan mencintai-Nya.

Menurutnya, ayat tersebut juga menggambarkan karakter orang-orang beriman yang memiliki sikap rendah hati terhadap sesama muslim, tetapi tegas terhadap pihak yang memusuhi agama. Mereka juga memiliki semangat untuk berjuang di jalan Allah serta tidak takut terhadap celaan orang lain.

“Allah akan mendatangkan suatu kaum yang dicintai oleh Allah dan mereka pun mencintai-Nya,” jelasnya saat menerangkan kandungan ayat tersebut.

Ia kemudian menghubungkan ayat itu dengan peristiwa setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq menjabat sebagai khalifah. Pada masa tersebut, muncul kelompok yang menolak membayar zakat dan sebagian orang yang keluar dari Islam. Selain itu, muncul pula Musailamah Al-Kadzdzab yang mengaku sebagai nabi.

Ustadz Saiun menjelaskan bahwa peristiwa tersebut menjadi salah satu contoh sejarah yang berkaitan dengan pembahasan tentang kemurtadan dan keteguhan umat Islam dalam menjaga ajaran agama.

Dalam penjelasannya, ia juga mengutip pesan kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang menekankan pentingnya kejujuran, amanah, dan kesediaan menerima koreksi. Seorang pemimpin, menurut pesan tersebut, perlu mendapat dukungan ketika menjalankan kebaikan dan harus diluruskan apabila melakukan kesalahan.

Shalat dan zakat sebagai bagian penting keimanan

اِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوا الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَهُمْ رَا كِعُوْنَ

"Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang melaksanakan sholat dan menunaikan zakat, seraya tunduk (kepada Allah)."
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 55)

Memasuki pembahasan ayat 55, Ustadz Saiun Ngalim menjelaskan bahwa Allah SWT, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman merupakan pihak yang menjadi penolong bagi orang beriman. Ia menyoroti penyebutan salat dan zakat dalam ayat tersebut sebagai dua kewajiban yang memiliki kedudukan penting dalam kehidupan seorang muslim.

Menurutnya, Al-Qur’an kerap menyandingkan perintah mendirikan shalat dengan menunaikan zakat. Keduanya tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia kepada Allah, tetapi juga mencerminkan tanggung jawab sosial seorang muslim.

Ia juga menjelaskan bahwa ibadah sunah dapat menjadi penyempurna bagi ibadah wajib. Karena itu, umat Islam didorong untuk menjaga kewajiban sekaligus memperbanyak amalan sunah sebagai bagian dari upaya menyempurnakan kualitas keimanan.

“Kesempurnaan iman seseorang juga terlihat ketika amalan-amalan sunah dikerjakan sebagai penyempurna ibadah yang wajib,” demikian penjelasan yang disampaikan dalam kajian tersebut.

Agama tidak boleh dijadikan bahan olok-olok

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَـتَّخِذُوا الَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا دِيْنَكُمْ هُزُوًا وَّلَعِبًا مِّنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَا لْـكُفَّا رَ اَوْلِيَآءَ ۚ وَا تَّقُوا اللّٰهَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan pemimpinmu orang-orang yang membuat agamamu jadi bahan ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu dan orang-orang kafir (orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang beriman."
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 57)

وَ اِذَا نَا دَيْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ اتَّخَذُوْهَا هُزُوًا وَّلَعِبًا ۗ ذٰلِكَ بِاَ نَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْقِلُوْنَ

"Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (melaksanakan) sholat, mereka menjadikannya bahan ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka orang-orang yang tidak mengerti."
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 58)

Pembahasan selanjutnya beralih pada ayat 57-58 Surah Al-Maidah, yang berisi peringatan agar orang-orang beriman tidak menjadikan pihak yang memperolok-olok agama sebagai awliya, yakni pihak yang dijadikan pelindung atau pemimpin dalam konteks ayat tersebut.

Ustadz Saiun menjelaskan bahwa ayat ini mengingatkan umat Islam untuk berhati-hati dalam menentukan pihak yang dijadikan panutan, terutama apabila pihak tersebut menjadikan agama sebagai bahan ejekan dan permainan.

Menurutnya, persoalan tersebut berkaitan dengan keteguhan iman dan arah kehidupan seseorang. Oleh sebab itu, umat Islam perlu memahami ajaran agamanya dengan baik agar tidak mudah terpengaruh oleh sikap yang merendahkan nilai-nilai agama.

Ia juga mengingatkan bahwa menjaga keimanan tidak seharusnya dilakukan secara setengah-setengah. Komitmen terhadap agama perlu diwujudkan melalui keyakinan, ibadah, dan perilaku sehari-hari.

Pesan tersebut, lanjutnya, bukan sekadar persoalan hubungan dengan orang lain, melainkan juga menyangkut bagaimana seorang muslim mempertahankan prinsip keimanan di tengah berbagai keadaan.

Memperkuat iman melalui pemahaman Al-Qur’an

Melalui kajian Surah Al-Maidah ayat 54–58, Ustadz Saiun Ngalim mengajak jamaah untuk memahami hubungan antara keimanan, amal ibadah, dan sikap dalam kehidupan bermasyarakat.

Ia menekankan pentingnya menjaga shalat dan zakat, membangun hubungan yang baik dengan sesama muslim, bersikap tegas dalam mempertahankan prinsip agama, serta tidak menjadikan ajaran Islam sebagai bahan permainan.

Kajian tersebut juga mengingatkan jamaah bahwa pemahaman terhadap Al-Qur’an perlu disertai upaya mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. (*)

FIRNAS MUTTAQIN

Sunday, October 11, 2026

Menjaga Persaudaraan dan Kedewasaan dalam Beragama

TUBAN – Pengajian Ahad Pagi di Masjid Darussalam, Tuban, Minggu (11/10/2026), diisi dengan kajian Ustadz Afifun Nidlom yang membahas pentingnya berpegang teguh pada sunah Nabi Muhammad SAW, menjaga persaudaraan, serta menghindari perselisihan dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat.

Dalam kajiannya, Ustadz Afifun mengawali pembahasan dengan hadis yang diriwayatkan dari sahabat Irbad bin Sariyah. Hadis tersebut menceritakan nasihat Rasulullah SAW setelah melaksanakan salat Subuh. Nasihat itu membuat para sahabat terharu dan menggetarkan hati mereka hingga merasa seolah-olah sedang mendengarkan pesan perpisahan.

Rasulullah SAW kemudian berwasiat agar umat Islam senantiasa bertakwa kepada Allah, mendengar dan menaati pemimpin dalam perkara yang benar, serta berpegang teguh pada sunah beliau dan sunah para khalifah yang mendapat petunjuk.

Menurut Ustadz Afifun, pesan tersebut relevan untuk menghadapi berbagai perbedaan dan perselisihan yang terjadi di tengah kehidupan umat Islam. Perbedaan pandangan tidak semestinya menjadi alasan untuk saling merendahkan, menutup ruang dialog, atau meniadakan kelompok lain.

Menjaga Tradisi dan Menghindari Sikap Ekstrem

Ustadz Afifun juga menyoroti pentingnya memahami hubungan antara ajaran agama, tradisi masyarakat, dan penerapan hukum. Ia menjelaskan bahwa tradisi yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam penetapan hukum.

Ia mengutip kaidah fikih al-'adah muhakkamah, yang berarti adat kebiasaan dapat menjadi pertimbangan hukum selama memenuhi ketentuan yang berlaku dan tidak bertentangan dengan dalil syariat.

Dalam konteks kehidupan umat Islam di Indonesia, ia mengajak jamaah untuk mengembangkan cara beragama yang terbuka terhadap dialog dan perbedaan. Menurutnya, semangat beragama seharusnya mendorong umat untuk saling memahami, bukan membangun sekat berdasarkan kelompok atau pilihan tokoh tertentu.

Ia juga mengingatkan agar umat tidak menjadikan sosok atau kelompok tertentu sebagai pusat kebenaran secara berlebihan hingga menutup diri dari pandangan lain yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Jangan sampai pengajian-pengajian kita menjadi alat pemisah, tetapi menjadikan kita saling mencintai dan saling menguatkan satu sama lain,” demikian inti pesan yang disampaikan dalam kajian tersebut.

Menghindari Penyakit Hati dan Memperkuat Persaudaraan

Pada bagian berikutnya, Ustadz Afifun menguraikan sejumlah sifat yang dapat merusak kehidupan umat, di antaranya persaingan yang tidak sehat, kedengkian, dan permusuhan.

Ia menjelaskan bahwa persaingan dalam kehidupan sosial maupun ekonomi dapat berkembang menjadi kedengkian apabila seseorang tidak mampu menerima keberhasilan orang lain. Karena itu, umat Islam perlu membangun sikap saling menghargai dan menjauhi keinginan untuk menjatuhkan sesama.

Selain kedengkian, ia mengingatkan bahaya pertikaian yang dipicu oleh emosi dan keinginan membalas perlakuan orang lain. Sikap tersebut, jika dibiarkan, dapat merusak hubungan persaudaraan dan memicu perpecahan di tengah masyarakat.

Ustadz Afifun kemudian mengaitkan pesan itu dengan hadis tentang pentingnya menumbuhkan kecintaan antarsesama. Ia menekankan bahwa menyebarkan salam tidak cukup dimaknai sebagai ucapan, tetapi perlu diwujudkan melalui perilaku yang mencerminkan kedamaian, kepedulian, dan ketulusan.

Menurutnya, umat Islam perlu memastikan bahwa aktivitas keagamaan, termasuk pengajian, benar-benar membawa dampak positif terhadap perilaku sehari-hari. Bertambahnya pengetahuan agama semestinya diikuti dengan perbaikan akhlak dan hubungan sosial.

Peran Keluarga dalam Membentuk Karakter Anak

Dalam kajian tersebut, Ustadz Afifun turut menekankan pentingnya peran keluarga, terutama orang tua, dalam membentuk karakter anak. Ia mengingatkan para ayah agar hadir dalam kehidupan emosional dan pendidikan anak, bukan hanya memenuhi kebutuhan materi.

Ia menilai keteladanan orang tua memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan perilaku anak. Nasihat yang diberikan kepada anak perlu disertai contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari cara berbicara, menyelesaikan masalah, hingga memperlakukan orang lain.

Menurutnya, persoalan keluarga juga perlu dilihat secara menyeluruh. Ketika menghadapi kesulitan dalam kehidupan, termasuk persoalan ekonomi, keluarga perlu melakukan evaluasi terhadap komunikasi, hubungan antara suami dan istri, serta hubungan dengan anggota keluarga lainnya.

Ia mengajak jamaah untuk memperbaiki hubungan di dalam keluarga sebagai bagian dari ikhtiar membangun kehidupan yang lebih baik.

Mengajak Jamaah Berpartisipasi dalam Demokrasi

Pembahasan juga menyentuh persoalan kepemimpinan dan partisipasi masyarakat dalam demokrasi. Ustadz Afifun mengingatkan bahwa pemilihan pemimpin perlu mempertimbangkan akhlak, integritas, dan kemampuan calon dalam menjalankan tanggung jawabnya.

Ia mengajak masyarakat agar tidak menghabiskan energi hanya untuk memperdebatkan persoalan politik yang berpotensi memecah hubungan sosial. Sebaliknya, masyarakat perlu tetap berpartisipasi dalam proses demokrasi secara bertanggung jawab.

Menurutnya, sikap tidak menggunakan hak pilih dapat memberikan ruang lebih besar bagi kelompok lain untuk menentukan hasil pemilihan. Karena itu, partisipasi warga menjadi bagian penting dalam kehidupan berdemokrasi.

Ia juga mengingatkan agar perbedaan pilihan politik tidak merusak persaudaraan, baik di lingkungan masyarakat, organisasi, maupun keluarga.

Menjelaskan Persoalan Penentuan Waktu Salat Subuh

Menjelang akhir kajian, Ustadz Afifun menjelaskan persoalan penentuan waktu salat Subuh, khususnya terkait penggunaan hasil pengamatan astronomis. Ia menyampaikan bahwa penentuan waktu salat memerlukan dasar pengamatan dan perhitungan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ia menjelaskan bahwa pengamatan terhadap posisi Matahari dilakukan untuk memastikan masuknya waktu Subuh. Dalam pemaparannya, ia menyinggung penggunaan teleskop dan pengamatan selama satu tahun sebagai bagian dari proses pengumpulan data.

Menurutnya, kepastian masuknya waktu salat merupakan hal penting karena masuk waktu menjadi salah satu syarat sah salat. Oleh sebab itu, pembahasan mengenai penentuan waktu salat perlu didasarkan pada kajian ilmiah dan pertimbangan keagamaan.

Melalui kajian Ahad Pagi tersebut, Ustadz Afifun Nidlom mengajak jamaah Masjid Darussalam Tuban untuk menjadikan ajaran Islam sebagai landasan dalam membangun akhlak, menjaga persaudaraan, memperkuat keluarga, serta menyikapi perbedaan secara dewasa.

Pesan utama kajian tersebut adalah bahwa pemahaman agama perlu tercermin dalam perilaku. Semangat beragama hendaknya melahirkan sikap saling menghormati, kepedulian terhadap sesama, dan kehidupan masyarakat yang lebih harmonis. (*)

FIRNAS MUTTAQIN