Firnas Blogspot
Media Aspirasi dan Rekaman Peristiwa. Kontak Email: suratfirnas@gmail.com
Saturday, October 24, 2026
Tafsir Al-Maidah Ayat 59–62, Ustadz Saiun Ngalim Bahas Sikap Ahli Kitab terhadap Kebenaran
Tuesday, October 20, 2026
Ustadz Abdus Salam Tekankan Pentingnya Membimbing Keluarga dan Mendahulukan Kebutuhan Orang Terdekat
TUBAN – Ustadz Abdus Salam menekankan pentingnya tanggung jawab seorang muslim dalam memenuhi kebutuhan keluarga, berbagi kepada orang lain, serta membimbing anggota keluarga agar tetap berada di jalan Allah SWT. Pesan tersebut disampaikan dalam pengajian Selasa, 20 Oktober 2026, di Masjid Lathifah Nashir, Sidorejo, Tuban.
Dalam ceramahnya, Ustadz Abdus Salam menjelaskan bahwa kepedulian terhadap orang lain perlu diimbangi dengan perhatian terhadap kebutuhan keluarga sendiri. Kebutuhan istri, anak-anak, dan kerabat hendaknya diperhatikan sebelum seseorang memberikan seluruh kemampuannya untuk kepentingan orang lain.
Menurutnya, membantu sesama merupakan perbuatan baik, tetapi tanggung jawab terhadap keluarga juga tidak boleh diabaikan. Setelah kebutuhan keluarga terpenuhi, seseorang dapat memperluas kepeduliannya kepada kerabat yang lebih jauh dan masyarakat di sekitarnya.
Selain membahas tanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan keluarga, Ustadz Abdus Salam juga mengingatkan pentingnya mengajak anggota keluarga untuk memahami dan menjalankan ajaran agama.
Pesan tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, Surah At-Tahrim ayat 6:
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa tanggung jawab seorang muslim tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan materi. Orang tua dan anggota keluarga juga memiliki tanggung jawab untuk saling mengingatkan, membimbing, serta mengajak kepada kebaikan.
Ustadz Abdus Salam turut menjelaskan bahwa dalam lingkungan keluarga, tidak semua orang memiliki sikap dan pilihan yang sama terhadap agama. Karena itu, upaya mengajak keluarga kepada kebaikan perlu dilakukan dengan kesungguhan, kesabaran, dan cara yang bijaksana.
Ia mengingatkan agar seseorang tidak berhenti berusaha hanya karena ada anggota keluarga yang belum menerima ajakan tersebut. Setiap orang tetap perlu menjalankan tanggung jawabnya dengan baik sembari memohon petunjuk dan pertolongan Allah SWT.
Pada bagian akhir ceramah, jamaah diajak untuk memperhatikan pendidikan agama dalam keluarga, termasuk kepada anak-anak dan keturunan. Usaha membimbing keluarga hendaknya dilakukan secara berkelanjutan agar nilai-nilai keimanan dan kebaikan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pengajian ditutup dengan doa agar Allah SWT memberikan petunjuk, memudahkan umat Islam dalam menjalankan kewajiban, serta menjadikan diri dan keluarga sebagai golongan yang taat kepada-Nya.
Melalui kajian tersebut, jamaah diingatkan bahwa kepedulian sosial, pemenuhan tanggung jawab keluarga, dan pendidikan agama merupakan bagian penting dari kehidupan seorang muslim.
Firnas Muttaqin
Sunday, October 18, 2026
Makna Hidup Bahagia Dunia dan Akhirat
Saturday, October 17, 2026
Makna Keimanan dan Sikap terhadap Agama
Sunday, October 11, 2026
Menjaga Persaudaraan dan Kedewasaan dalam Beragama
Saturday, October 10, 2026
Tafsir Al-Ma’idah Ayat 51–53, Ustadz Saiun Ngalim Bahas Loyalitas dan Keteguhan Iman
TUBAN — Pengajian Sabtu Ba'da Maghrib dan (10/1/2026) Tafsir Jalalain di Masjid Al Fajri, Tuban, membahas kandungan Surah Al-Ma’idah ayat 51–53. Dalam kajian tersebut, Ustadz Saiun Ngalim menguraikan persoalan loyalitas, keberpihakan, dan keteguhan iman dalam menyikapi berbagai kepentingan.
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَا لنَّصٰرٰۤى اَوْلِيَآءَ ۘ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۗ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِ نَّهٗ مِنْهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin(mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 51)
Pembahasan ayat 51 menyoroti peringatan Allah SWT kepada orang-orang beriman agar tidak memberikan loyalitas kepada pihak yang bertentangan dengan prinsip keimanan sebagaimana dijelaskan dalam ayat tersebut.
Dalam penjelasannya, Ustadz Saiun Ngalim menekankan pentingnya memahami makna awliya sesuai konteks ayat dan penafsiran ulama.
Inti penjelasan tersebut mengingatkan bahwa keberpihakan tidak semestinya ditentukan semata-mata oleh kepentingan pribadi, melainkan harus mempertimbangkan prinsip agama dan sikap terhadap kebenaran.
فَتَـرَى الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ يُّسَا رِعُوْنَ فِيْهِمْ يَقُوْلُوْنَ نَخْشٰۤى اَنْ تُصِيْبَـنَا دَآئِرَةٌ ۗ فَعَسَى اللّٰهُ اَنْ يَّأْتِيَ بِا لْفَتْحِ اَوْ اَمْرٍ مِّنْ عِنْدِهٖ فَيُصْبِحُوْا عَلٰى مَاۤ اَسَرُّوْا فِيْۤ اَنْفُسِهِمْ نٰدِمِيْنَ
"Maka, kamu akan melihat orang-orang yang hatinya berpenyakit segera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, "Kami takut akan mendapat bencana." Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya, sehingga mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka."
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 52)
Pembahasan kemudian berlanjut pada Surah Al-Ma’idah ayat 52, yang menggambarkan sikap orang-orang yang diliputi keraguan dan menjalin hubungan dengan pihak lain karena khawatir tertimpa kesulitan.
Ayat tersebut menjelaskan alasan berupa kekhawatiran terhadap kemungkinan datangnya musibah atau perubahan keadaan. Dalam tafsir yang dibahas, sikap itu dikaitkan dengan lemahnya keyakinan dan ketidakmantapan dalam menentukan keberpihakan.
Ustadz Saiun Ngalim juga menguraikan bahwa Allah SWT berkuasa mendatangkan kemenangan maupun keputusan-Nya sehingga perkara yang tersembunyi dapat menjadi jelas.
Pesan yang dapat dipetik dari penjelasan ayat ini adalah bahwa ketakutan terhadap keadaan dan kepentingan sesaat tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan keteguhan dalam memegang prinsip yang diyakininya.
وَيَقُوْلُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَهٰۤؤُلَآ ءِ الَّذِيْنَ اَقْسَمُوْا بِا للّٰهِ جَهْدَ اَيْمَا نِهِمْ ۙ اِنَّهُمْ لَمَعَكُمْ ۗ حَبِطَتْ اَعْمَا لُهُمْ فَاَ صْبَحُوْا خٰسِرِيْنَ
"Dan orang-orang yang beriman akan berkata, "Inikah orang yang bersumpah secara sungguh-sungguh dengan (nama) Allah bahwa mereka benar-benar beserta kamu?" Segala amal mereka menjadi sia-sia sehingga mereka menjadi orang yang rugi."
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 53)
Selanjutnya, Surah Al-Ma’idah ayat 53 menggambarkan keadaan ketika orang-orang beriman mempertanyakan sikap pihak-pihak yang sebelumnya bersumpah akan bersama mereka. Ketika kenyataan menunjukkan hal yang berbeda, terbukalah keadaan sebenarnya dan tampak kerugian yang mereka alami.
Dalam pembahasan ini, jamaah diajak memperhatikan pentingnya kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. Pernyataan keberpihakan harus dibuktikan melalui sikap yang konsisten, bukan sekadar ucapan atau sumpah.
Rangkaian ayat 51–53 tersebut memberikan pelajaran tentang keteguhan iman, kejujuran, dan kehati-hatian dalam menentukan loyalitas. Pemahaman terhadap ayat-ayat ini juga perlu memperhatikan konteks turunnya ayat serta penjelasan para ulama agar penerapannya tidak terlepas dari maksud Al-Qur’an.
Melalui pengajian Tafsir Jalalain ini, jamaah Masjid Al Fajri Tuban diharapkan dapat memperdalam pemahaman terhadap kandungan Al-Qur’an dan mengambil pelajaran yang relevan untuk kehidupan sehari-hari.
Firnas Muttaqin