Tuesday, August 25, 2026

Milad Ketiga Masjid Supangat: Mlaku Bareng, Menguatkan Iman dan Memperluas Manfaat

TUBAN — Semarak Milad ke-3 Masjid Supangat, Panyuran, Kabupaten Tuban, berlangsung meriah, Selasa (25/8/2026). Mengusung semangat “Mengakar dalam Iman, Bertumbuh untuk Peradaban”, rangkaian kegiatan tidak hanya menghadirkan nuansa keagamaan, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan, pelayanan sosial, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat.

Rangkaian Milad ke-3 Masjid Supangat telah dimulai sejak agenda Kajian Ahad Pagi. Kegiatan keagamaan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam menyemarakkan milad sekaligus menguatkan pesan dakwah dan pembinaan keimanan bagi jamaah.

Usai Kajian Ahad Pagi, kegiatan dilanjutkan dengan senam pagi. Jamaah dan masyarakat diajak menjaga kebugaran tubuh melalui aktivitas olahraga bersama. Perpaduan kajian keagamaan dan senam pagi tersebut menunjukkan bahwa semangat memakmurkan masjid tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan ibadah, tetapi juga kepedulian terhadap kesehatan dan kebersamaan warga.

Puncak kemeriahan kemudian hadir melalui kegiatan “Mlaku Bareng” yang digelar Selasa (25/8/2026). Kegiatan ini diikuti diperkirakan ribuan peserta dari berbagai kalangan masyarakat, terutama warga Panyuran, Tasikmadu, dan wilayah sekitarnya.

Warga berbaur dalam suasana penuh keakraban. Para peserta berjalan santai dari kawasan Masjid Supangat dengan penuh antusias, menjadikan jalan sehat tersebut bukan sekadar kegiatan olahraga, tetapi juga momentum mempererat silaturahmi antarwarga.

Panitia menyiapkan berbagai doorprize, di antaranya tiga ekor kambing serta sejumlah hadiah menarik lainnya seperti mesin cuci, lemari, peralatan rumah tangga, dan hadiah bagi peserta yang beruntung. Selain itu, tersedia pula 500 porsi bakso gratis untuk masyarakat.

Semangat berbagi menjadi salah satu warna kuat dalam perayaan milad tahun ketiga ini. Berbagai kegiatan sosial turut digelar, mulai dari pengajian Subuh spesial milad, khitanan massal, donor darah, pemeriksaan mata gratis, bekam gratis, pembagian bibit pohon buah, hingga bazar sembako murah.
Ketua DPRD Kabupaten Tuban Sugiantoro, S.E., yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, memberikan apresiasi terhadap perkembangan Masjid Supangat. Ia menilai kegiatan yang digelar pengurus masjid menunjukkan kreativitas dan inovasi dalam menghadirkan program yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Apresiasi serupa disampaikan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Tuban, Kyai Masrukin. Menurutnya, Masjid Supangat sejak awal tidak hanya diarahkan sebagai tempat ibadah, tetapi juga dikembangkan sebagai pusat dakwah, pendidikan, silaturahmi, dan pelayanan sosial.
Kiprah tersebut semakin menguat setelah Masjid Supangat meraih penghargaan dalam ajang Kompetisi Masjid Muhammadiyah se-Jawa Timur pada perayaan milad sebelumnya. Prestasi itu menjadi salah satu penanda bahwa masjid yang relatif masih muda tersebut mampu menunjukkan kontribusinya di tengah masyarakat.

“Pada usia ketiga ini, kita rayakan dengan bakti sosial, khitanan massal, jalan sehat, pembagian bibit tanaman, serta berbagai kegembiraan lainnya. Semoga semakin kokoh iman kita, semakin meluas manfaatnya, dan Masjid Supangat senantiasa diberkahi,” ujar Kyai Masrukin.

Kemeriahan Milad ke-3 Masjid Supangat juga menjadi ruang bagi pelaku UMKM untuk ikut mengambil bagian. Sejumlah UMKM turut memeriahkan kegiatan dengan membuka lapak dan menawarkan berbagai produk kepada masyarakat yang hadir. Kehadiran mereka membuat kawasan sekitar masjid tidak hanya menjadi pusat kegiatan keagamaan, tetapi juga ikut menggerakkan aktivitas ekonomi warga.

Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan bagaimana masjid dapat menjadi ruang perjumpaan berbagai unsur masyarakat. Jamaah, warga, pelaku UMKM, komunitas, organisasi, dan para dermawan bertemu dalam suasana kebersamaan yang membawa pesan kemanfaatan.
Dengan peserta yang diperkirakan mencapai ribuan orang, Mlaku Bareng akhirnya bukan sekadar kegiatan jalan sehat. Ia menjadi bagian dari rangkaian panjang Milad ke-3 Masjid Supangat yang sejak Kajian Ahad Pagi, senam pagi, hingga berbagai kegiatan sosial berusaha menyatukan nilai iman, kesehatan, silaturahmi, kepedulian, dan pemberdayaan masyarakat.

Memasuki usia ketiga, Masjid Supangat menunjukkan bahwa tema “Mengakar dalam Iman, Bertumbuh untuk Peradaban” bukan sekadar slogan. Semangat tersebut diterjemahkan melalui kegiatan nyata yang berusaha menghubungkan kehidupan beragama dengan kepedulian sosial dan kemanfaatan bagi masyarakat.

Dari masjid, semangat kebersamaan bergerak ke tengah masyarakat. Dari kajian tumbuh penguatan iman, dari senam lahir kesadaran hidup sehat, dari jalan bersama terjalin silaturahmi, dan dari berbagai kegiatan sosial mengalir manfaat bagi sesama. (*)

FIRNAS MUTTAQIN

Kajian Selasa Pagi di Masjid Supangat Tasikmadu: Al-Qur’an sebagai Sumber Ilmu dan Petunjuk Kehidupan

Tuban — Kajian Selasa Pagi (25/8/2026) di Masjid Supangat, Tasikmadu, Tuban, menghadirkan Dr. Ahmad Shobrun Jamil sebagai pembicara. Dalam kajiannya, ia mengajak jamaah merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan kehidupan manusia, azab akhirat, kesehatan, hingga perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Salah satu bagian kajian membahas gambaran azab bagi orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah. Dalam penjelasannya, Dr. Ahmad Shobrun Jamil mengingatkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya memberikan gambaran tentang kehidupan akhirat, tetapi juga menjadi peringatan agar manusia tetap berada di jalan iman dan ketaatan.

Ia kemudian mengaitkannya dengan Surah An-Naba’ ayat 24–25:

«لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا ۝ إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا»

“Di sana mereka tidak merasakan kesejukan dan tidak pula mendapat minuman, kecuali air yang mendidih dan ghasaq.”

Menurutnya, ayat tersebut menggambarkan bahwa di neraka tidak terdapat kenyamanan. Ada ḥamīm, yaitu sesuatu yang sangat panas, dan ghas-sāq, yang dalam penjelasan tafsir yang disampaikan dalam kajian digambarkan sebagai bentuk azab yang sangat dingin dan menyakitkan.

“Jadi di neraka tidak ada istirahat. Panas menyiksa, dingin pun menjadi azab,” demikian inti pesan yang disampaikan kepada jamaah.

Al-Qur’an dan Pelajaran tentang Kesehatan

Pembahasan kemudian diarahkan pada persoalan kesehatan, khususnya kondisi seseorang yang terlalu lama berbaring. Dr. Ahmad Shobrun Jamil menjelaskan bahwa tekanan tubuh dalam waktu lama dapat menghambat aliran darah pada bagian tertentu sehingga berpotensi menimbulkan luka tekan atau pressure sore.

Menurutnya, manusia kemudian mengembangkan berbagai teknologi untuk mengurangi tekanan tersebut, antara lain dengan mengubah posisi tubuh secara berkala maupun menggunakan kasur khusus.

Ia menghubungkan fenomena tersebut dengan kisah Ashabul Kahfi dalam Surah Al-Kahfi ayat 18:

«وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ»

“Dan Kami membolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri.”

Ayat tersebut, menurutnya, dapat menjadi bahan renungan tentang bagaimana Allah menjaga para penghuni gua yang berada dalam kondisi tidur dalam waktu yang sangat lama.

Dr. Ahmad menekankan bahwa membaca Al-Qur’an tidak semestinya berhenti pada aktivitas membaca teks, tetapi dilanjutkan dengan proses berpikir, mengamati alam, dan mengambil pelajaran dari berbagai fenomena kehidupan.

Dari Pengamatan Burung hingga Teknologi Penerbangan

Bagian lain kajian membahas hubungan antara Al-Qur’an dan perkembangan ilmu pengetahuan. Ia mencontohkan kisah Abbas Ibnu Firnas, ilmuwan dari Andalusia yang dikenal memiliki ketertarikan terhadap penerbangan dan mengamati kemampuan burung untuk terbang.

Pembahasan tersebut dikaitkan dengan Surah Al-Mulk ayat 19:

«أَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صَافَّاتٍ وَيَقْبِضْنَ ۚ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلَّا الرَّحْمَٰنُ»

“Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang berada di atas mereka, yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya? Tidak ada yang menahannya selain Yang Maha Pengasih.”

Menurut Dr. Ahmad Shobrun Jamil, ayat tersebut mengajarkan manusia untuk memperhatikan, berpikir, mengamati, dan menggali ilmu dari ciptaan Allah. Pengamatan terhadap alam dapat mendorong lahirnya pertanyaan dan penelitian yang kemudian berkembang menjadi ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ia mengingatkan jamaah bahwa kemajuan teknologi seharusnya tidak menjauhkan manusia dari Allah. Sebaliknya, ilmu pengetahuan semestinya semakin memperkuat kesadaran bahwa alam semesta memiliki keteraturan dan berada dalam kekuasaan-Nya.

Al-Qur’an Tidak Sekadar untuk Dibaca

Menutup kajiannya, Dr. Ahmad Shobrun Jamil mengajak jamaah menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber petunjuk yang mendorong manusia untuk belajar dan berpikir.

“Al-Qur’an bukan sekadar dibaca, tetapi dipelajari. Bukan sekadar kitab untuk ibadah, tetapi juga menjadi petunjuk dalam memahami kehidupan,” menjadi pesan penting yang mengemuka dalam kajian tersebut.

Kajian Ahad Pagi di Masjid Supangat Tasikmadu itu pun menjadi momentum bagi jamaah untuk kembali melihat Al-Qur’an secara lebih luas: sebagai kitab petunjuk, sumber renungan, sekaligus pendorong manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dengan tetap berlandaskan keimanan.

Al-Qur’an dibaca dengan lisan, direnungkan dengan akal, dan diwujudkan dalam kehidupan. (*)

Firnas Muttaqin 

Saturday, August 22, 2026

Kajian Surah Al-Mā’idah Ayat 20–24: Keteguhan Iman dan Keberanian Menghadapi Ujian

Tuban, 22 Agustus 2026 — Kajian tafsir Al-Qur’an di Masjid Al-Fajri, Tuban, Sabtu malam (22/8/2026), bersama Ustadz Saiun Ngalim, mengangkat pembahasan Surah Al-Mā’idah ayat 20–24. Kajian tersebut mengulas kisah Nabi Musa a.s. dan Bani Israil ketika diperintahkan memasuki tanah suci, sekaligus menggali pelajaran tentang keberanian, ketaatan, dan keteguhan dalam menjalankan perintah Allah.

Dalam kajiannya, Ustadz Saiun Ngalim terlebih dahulu mengaitkan pembahasan dengan kisah yang menjadi latar belakang nama Surah Al-Mā’idah, yakni permohonan kaum Hawariyyun kepada Nabi Isa a.s. agar Allah menurunkan hidangan dari langit. Peristiwa tersebut menjadi salah satu gambaran tentang besarnya nikmat dan tanda kekuasaan Allah kepada manusia.

Pembahasan kemudian berlanjut pada kisah Nabi Musa a.s. dan Bani Israil. Setelah diselamatkan Allah dari kejaran Firaun dan diberikan berbagai nikmat, termasuk manna dan salwa, Bani Israil justru menunjukkan sikap kurang bersyukur dengan meminta berbagai jenis makanan yang biasa mereka dapatkan di bumi.

Perintah Memasuki Tanah Suci

Memasuki inti kajian, Ustadz Saiun Ngalim menjelaskan Surah Al-Mā’idah ayat 21, ketika Nabi Musa a.s. memerintahkan kaumnya untuk memasuki tanah suci yang telah ditetapkan Allah bagi mereka.

Menurut penjelasan dalam kajian, tanah suci tersebut berkaitan dengan kawasan Baitul Maqdis dan wilayah Syam. Namun, ketika diperintahkan untuk masuk, Bani Israil justru diliputi ketakutan karena melihat adanya kaum yang dianggap kuat dan gagah perkasa.

Sikap tersebut digambarkan dalam Surah Al-Mā’idah ayat 22, ketika mereka mengatakan bahwa mereka tidak akan memasuki wilayah tersebut sebelum kaum yang mereka takuti itu keluar dari sana.

Ustadz Saiun Ngalim menekankan bahwa rasa takut yang berlebihan dapat membuat seseorang kehilangan keberanian untuk menjalankan kebenaran. Menurutnya, ukuran kekuatan manusia tidak semata-mata terletak pada fisik, jumlah, maupun perlengkapan, tetapi juga pada keberanian dan keteguhan hati yang bersandar kepada Allah.

Dua Orang yang Mengajak Berani

Di tengah ketakutan Bani Israil, terdapat dua orang yang menunjukkan sikap berbeda. Keduanya mengajak kaumnya untuk memasuki wilayah tersebut melalui pintu gerbang dan bersandar kepada pertolongan Allah.

Pesan utama yang ditekankan adalah pentingnya tawakal yang disertai keberanian dan ikhtiar. Keimanan tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan dalam keberanian menjalankan perintah Allah.

Namun, ajakan tersebut tidak mampu mengubah sikap mayoritas Bani Israil. Dalam Surah Al-Mā’idah ayat 24, mereka bahkan mengatakan kepada Nabi Musa a.s. agar pergi bersama Tuhannya untuk berperang, sementara mereka memilih tetap tinggal.

Sikap pembangkangan tersebut menjadi pelajaran penting tentang akibat ketika manusia lebih memilih rasa takut daripada ketaatan.

Perbandingan dengan Perjuangan Para Sahabat

Dalam kajian tersebut, Ustadz Saiun Ngalim juga mengaitkan kisah Bani Israil dengan sikap para sahabat Nabi Muhammad ﷺ, khususnya dalam menghadapi Perang Badar.

Kaum Muslimin ketika itu menghadapi kekuatan Quraisy dengan jumlah yang jauh lebih besar. Namun, para sahabat menunjukkan sikap berbeda dari Bani Israil. Mereka tidak memilih duduk dan menyerahkan perjuangan kepada orang lain, tetapi menyatakan kesiapan untuk mengikuti perintah Rasulullah ﷺ.

Dari perbandingan tersebut, jamaah diajak memahami bahwa kemenangan bukan hanya ditentukan oleh jumlah dan kekuatan fisik. Keimanan, ketaatan, keberanian, ikhtiar, dan tawakal kepada Allah menjadi modal penting dalam menghadapi berbagai ujian.

Relevansi bagi Kehidupan Bangsa Indonesia

Kajian kemudian dikaitkan dengan perjalanan bangsa Indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Semangat perjuangan para pahlawan dan pendiri bangsa menunjukkan bahwa kemerdekaan tidak diperoleh dengan sikap pasif, tetapi melalui keberanian, pengorbanan, persatuan, dan doa kepada Allah SWT.

Hal tersebut tercermin dalam Pembukaan UUD 1945 melalui kalimat, “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa...”

Menurut pesan yang disampaikan dalam kajian, kalimat tersebut mengingatkan bahwa perjuangan manusia harus berjalan bersama ikhtiar dan tawakal. Pertolongan Allah diharapkan oleh mereka yang bersungguh-sungguh berjuang, bukan mereka yang memilih menyerah sebelum menghadapi tantangan.

Kajian Surah Al-Mā’idah ayat 20–24 tersebut akhirnya mengajak jamaah untuk tidak mudah takut menghadapi persoalan, tidak menyerah sebelum berusaha, serta senantiasa menjadikan Allah sebagai tempat bersandar.

Penulis: Firnas Muttaqin

Saturday, August 15, 2026

Kajian Surah Al-Maidah di Masjid Al Fajri: Meneguhkan Tauhid dan Mengikuti Jalan Keselamatan. Ustadz Saiun Ngalim

Tuban — Sabtu malam, 15 Agustus 2026. Masjid Al Fajri Tuban kembali menggelar pengajian rutin tafsir Al-Qur’an. Pada kesempatan tersebut, Ustadz Saiun Ngalim mengajak jamaah mendalami kandungan Surah Al-Maidah, khususnya pesan ayat tentang datangnya Rasulullah ﷺ sebagai pembawa kebenaran, fungsi Al-Qur’an sebagai petunjuk, serta penegasan kemurnian tauhid.

Dalam kajiannya, Ustadz Saiun Ngalim menekankan bahwa Al-Qur’an tidak hanya untuk dibaca, tetapi harus dipahami dan dijadikan pedoman dalam kehidupan.

«“Kalau kita benar-benar mengikuti petunjuk Allah, maka Allah akan menunjukkan jalan keselamatan. Jangan sampai kita hanya mengaku beriman, tetapi dalam kehidupan justru jauh dari petunjuk Al-Qur’an.”»

Al-Qur’an Membawa dari Kegelapan Menuju Cahaya

Salah satu ayat yang menjadi pembahasan adalah Surah Al-Maidah ayat 15–16. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

«يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِّمَّا كُنتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ ۚ قَدْ جَاءَكُم مِّنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ»

«“Wahai Ahli Kitab! Sungguh, telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak hal yang kamu sembunyikan dari isi Kitab, dan banyak pula yang dibiarkannya. Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang jelas.”
(QS. Al-Maidah: 15)»

Dilanjutkan pada ayat 16:

«يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ»

«“Dengan Kitab itu Allah memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan-jalan keselamatan, dan dengan Kitab itu pula Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya dengan izin-Nya, dan menunjukkan mereka ke jalan yang lurus.”
(QS. Al-Maidah: 16)»

Menurut Ustadz Saiun Ngalim, ayat tersebut memberikan gambaran bahwa petunjuk Allah membawa manusia keluar dari az-zulumat, yakni berbagai bentuk kegelapan berupa kekafiran, kesesatan, dan penyimpangan, menuju an-nur, yaitu keimanan, kebenaran, dan petunjuk Allah.

«“Cahaya itu adalah petunjuk Allah. Orang yang mengikuti keridaan Allah akan dibimbing menuju jalan keselamatan. Karena itu, Al-Qur’an harus menjadi pedoman, bukan hanya sekadar bacaan,” jelasnya dalam kajian.»

Meneguhkan Kemurnian Tauhid

Pembahasan kemudian berlanjut pada penegasan Al-Qur’an mengenai kedudukan Nabi Isa Alaihissalam. Dalam Surah Al-Maidah, Allah memberikan peringatan terhadap keyakinan yang menempatkan Al-Masih pada kedudukan sebagai Tuhan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

«لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۖ قُلْ فَمَن يَمْلِكُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ أَن يُهْلِكَ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ وَمَن فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ۗ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ»

«“Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putra Maryam.’ Katakanlah, ‘Siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia hendak membinasakan Al-Masih putra Maryam beserta ibunya dan seluruh manusia yang berada di bumi?’ Dan milik Allah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”
(QS. Al-Maidah: 17)»

Ayat tersebut menjadi dasar pembahasan mengenai kekuasaan mutlak Allah. Seluruh makhluk berada di bawah kehendak dan kekuasaan-Nya, termasuk Nabi Isa Alaihissalam yang merupakan hamba dan utusan Allah.

Ustadz Saiun Ngalim mengingatkan jamaah agar senantiasa menjaga akidah dan tidak mencampurkan keyakinan tauhid dengan pemahaman yang bertentangan dengan Al-Qur’an.

«“Yang berkuasa atas kehidupan dan kematian adalah Allah. Semua makhluk adalah hamba Allah. Karena itu, jangan sampai kita salah menempatkan siapa yang harus kita sembah dan siapa yang harus kita ikuti,” tuturnya.»

Kemuliaan Bukan Karena Klaim, tetapi Ketakwaan

Kajian juga menyinggung klaim sebagian Ahli Kitab yang merasa memiliki kedudukan khusus di sisi Allah. Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia tidak dapat menentukan sendiri kedudukan mereka di hadapan Allah hanya berdasarkan klaim atau keturunan.

Pesan tersebut menjadi pelajaran penting bagi umat Islam agar tidak merasa lebih tinggi dari orang lain hanya karena identitas, kelompok, atau status sosial.

Pada akhirnya, kajian Surah Al-Maidah di Masjid Al Fajri Tuban tersebut mengajak jamaah untuk kembali kepada tiga hal utama: memegang teguh tauhid, menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk, dan menjalankan kehidupan sesuai dengan keridaan Allah.

Kajian ditutup dengan penguatan bahwa iman harus diwujudkan dalam kehidupan nyata. Al-Qur’an bukan sekadar dibaca, tetapi dipahami, diamalkan, dan dijadikan pedoman untuk menapaki jalan keselamatan.

Penulis: Firnas Muttaqin

Monday, August 10, 2026

Ust. H Saiun Ngalim: Iman, Islam, dan Ihsan

 
RRI Tuban — Senin, 10 Agustus 2026
Tema: Islam, Iman, dan Ihsan — Dari Hadis Jibril
 
 
Para pendengar Radio Republik Indonesia Tuban yang senantiasa dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala,
 
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah melimpahkan nikmat dan rahmat-Nya kepada kita semua. Pada pagi yang penuh berkah ini, kita dapat mengikuti siaran kajian pagi dalam program Mutiara Pagi RRI Tuban secara langsung. Semoga Allah senantiasa melimpahkan taufik dan hidayah-Nya, serta membimbing kita kepada jalan yang lurus — jalan kebenaran yang diridhoi-Nya.
 
 
 
🕌 TEMA: ISLAM, IMAN, DAN IHSAN
 
Para pendengar yang dimuliakan Allah,
 
Pada kesempatan pagi ini, kita akan membahas hal yang sangat pokok dan mendasar dalam agama serta kehidupan kita, yaitu tentang IMAN, ISLAM, dan IHSAN.
 
Hal ini bersumber dari sebuah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, yang menceritakan:
 
"Suatu hari ketika kami sedang duduk di majelis Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki. Pakaiannya sangat putih, rambutnya sangat hitam, tidak tampak sedikit pun bekas perjalanan jauh padanya, dan tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya."
 
Ia pun mendekat, lalu duduk di hadapan Nabi SAW, menempelkan kedua lututnya ke lutut Rasulullah, meletakkan kedua telapak tangannya di atas paha beliau, lalu bertanya:
 
❓ Pertanyaan Pertama: Tentang ISLAM
 
"Wahai Muhammad, kabarkan kepadaku apa itu Islam."
 
Rasulullah SAW menjawab:
 
"Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, dan berhaji ke Baitullah apabila engkau mampu melakukannya."
 
Laki-laki itu berkata: "Engkau benar."
Sahabat Umar berkata: "Kami pun heran — ia bertanya lalu ia sendiri yang membenarkan."
 
❓ Pertanyaan Kedua: Tentang IMAN
 
"Kabarkanlah kepadaku apa itu Iman."
 
Rasulullah SAW menjawab:
 
"Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir — baik yang baik maupun yang buruk."
 
Ia berkata: "Engkau benar."
 
❓ Pertanyaan Ketiga: Tentang IHSAN
 
"Kabarkanlah kepadaku apa itu Ihsan."
 
Rasulullah SAW menjawab:
 
"Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu."
 
❓ Pertanyaan Keempat: Tentang KIAMAT
 
"Kabarkanlah kepadaku kapan terjadinya Kiamat."
 
Rasulullah SAW menjawab:
 
"Yang ditanya tidak lebih mengetahui hal itu daripada yang bertanya."
 
❓ Pertanyaan Kelima: Tentang Tanda-Tandanya
 
"Maka kabarkanlah kepadaku apa saja tanda-tandanya."
 
Rasulullah SAW menjawab:
 
"Bahwa seorang hamba perempuan akan melahirkan tuannya, dan engkau akan melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, berpakaian buruk, miskin, dan penggembala kambing — saling berlomba meninggikan bangunan."
 
Kemudian laki-laki itu pergi meninggalkan majelis. Setelah itu, Rasulullah SAW bertanya:
 
"Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang baru saja bertanya tadi?"
 
Aku menjawab: "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui."
 
Beliau bersabda:
 
"Sesungguhnya ia adalah Jibril. Ia datang kepadamu untuk mengajarkan agama kepadamu."
 
 
 
🕌 PELAJARAN DAN HIKMAH DARI HADIS TERSEBUT
 
✅ Pertama — Manfaat untuk Semua
Pertanyaan yang diajarkan bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan untuk seluruh yang hadir dalam majelis. Dengan bertanya, manfaat ilmu pun dirasakan bersama — itulah keutamaan saling belajar demi kebaikan bersama.
 
✅ Kedua — Kejujuran Mengakui Ketidaktahuan
Apabila seseorang ditanya sesuatu dan belum mengetahuinya, tidak ada cela sama sekali untuk berkata: "Saya belum tahu." Tidak perlu memaksakan diri menjawab dengan tebakan atau hal yang belum dipahami, karena itu justru dapat menyesatkan. Mengaku belum tahu, bahkan berkata "nanti saya pelajari lebih lanjut", adalah jawaban yang jujur dan bijaksana. Hal ini sama sekali tidak menurunkan kedudukan seseorang sebagai guru, narasumber, atau pemuka agama.
 
✅ Ketiga — Malaikat Dapat Menampakkan Wujud Seperti Manusia
Peristiwa kedatangan Jibril menunjukkan bahwa malaikat dapat hadir dalam wujud yang menyerupai manusia. Dalam ungkapan orang tua-tua kita, hal ini disebut "membo" atau "mas wahyu". Ada juga yang menyebut mancalo putro atau mancalo putri — tampil dalam wujud laki-laki atau perempuan yang tampan/elok. Hal serupa juga pernah terjadi ketika para malaikat datang bertamu kepada Nabi Ibrahim 'alaihissalam dalam wujud manusia. Semua itu menunjukkan kekuasaan Allah dan kemungkinan malaikat hadir di tengah kita dalam wujud yang tidak kita sadari.
 
✅ Keempat — Tidak Ada yang Tahu Waktu Kiamat, Tetapi Tanda-Tandanya Nyata
Ketika ditanya kapan kiamat tiba, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada yang bertanya. Artinya, tidak ada seorang pun makhluk — baik manusia maupun jin — yang mengetahui waktu pasti terjadinya kiamat. Maka, siapa pun yang menetapkan kiamat akan terjadi pada tahun sekian, bulan sekian, tanggal sekian — itu pasti dusta semata.
 
Dulu ada yang menyebut 9 September 1999, lalu ada yang menyebut 21 Desember 2012 — semuanya berlalu dan tidak terjadi apa-apa. Kini sudah tahun 2026, dan masih saja ada yang mengarang waktu kiamat. Janganlah kita tertipu. Waktunya mutlak rahasia Allah. Namun, tanda-tandanya telah disampaikan agar kita waspada.
 
✅ Kelima — Salah Satu Tanda Kiamat: Banyak Anak Durhaka kepada Orang Tua
Salah satu tanda yang disebutkan Rasulullah adalah: seorang hamba perempuan melahirkan tuannya — yang maknanya, banyak anak tidak lagi menghormati orang tua, bahkan memperlakukan orang tua layaknya seorang tuan memperlakukan hamba. Anak durhaka kepada orang tua menjadi hal yang lumrah, merajalela di mana-mana. Padahal dalam syariat Islam, urutan ketaatan itu sangat jelas:
 
Pertama: menyembah dan mengesakan Allah — tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.
Kedua: berbuat baik kepada kedua orang tua — birrul walidain.
 
Karena berkat keduanya kita lahir ke dunia, dibesarkan, diasuh hingga dewasa. Maka dosa terbesar dalam Islam pun berurutan: pertama adalah syirik / menyekutukan Allah, dan selanjutnya durhaka kepada orang tua. Jika tanda-tanda ini sudah terlihat nyata di sekitar kita, maka seharusnya semakin mendekatkan diri kepada Allah, memperbaiki hubungan dengan orang tua, dan mempersiapkan bekal akhirat.
 
✅ Keenam — Berlomba Meninggikan Bangunan Tanpa Kebutuhan
Rasulullah SAW menyebutkan salah satu tanda kiamat: orang-orang miskin dan penggembala saling berlomba meninggikan bangunan. Artinya, tidak disukai mendirikan bangunan yang tinggi dan megah apabila bukan karena kebutuhan yang mendesak, melainkan hanya untuk pamer, bermegah-megahan dengan kemewahan dunia, yang akhirnya menumbuhkan kesombongan di hati.
 
Jika tanah luas, sebaiknya membangun secara mendatar/horizontal. Berbeda halnya apabila tanah sempit namun kebutuhan ruangan banyak — maka membangun secara bertingkat atau vertikal itu sah dan sesuai kebutuhan, bukan untuk kesombongan.
 
✅ Ketujuh — Beriman kepada Hal-Hal yang Ghaib
Dari hadis ini kita memperoleh dalil yang tegas: segala perkara gaib tidak ada yang mengetahuinya selain Allah. Namun demikian, kita diperintahkan untuk beriman kepada hal-hal gaib itu, dan inilah salah satu ciri orang yang bertakwa.
 
Yang dimaksud dengan gaib adalah sesuatu yang tidak terjangkau oleh panca indra kita — tidak terlihat mata, tidak terdengar telinga, tidak tercium hidung, tidak terasa lidah maupun kulit. Meski tidak dapat dibuktikan secara fisik, keberadaannya adalah kepastian mutlak karena diberitahukan oleh Allah dan Rasul-Nya. Contohnya: waktu kiamat, dzat Allah, malaikat, surga, dan neraka.
 
✅ Kedelapan — Hakikat Ruh Diketahui dari Tanda-Tandanya
Coba kita renungkan: selama kita masih bisa berbicara, mendengar, bergerak, jantung berdetak — berarti ruh masih bersemayam. Namun siapa yang dapat membuktikan wujud ruh? Kita tidak tahu secara hakiki. Namun keberadaannya nyata dari tanda-tandanya: adanya kehidupan, pergerakan, kesadaran. Sebagaimana firman Allah: "Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi ilmu kecuali sedikit."
 
✅ Kesembilan — Adab di Majelis Ilmu
Hadis ini juga mengajarkan adab dalam majelis ilmu: duduk dengan sopan, menghadap guru, mendekatkan diri dengan hormat namun tidak berlebih-lebihan. Rasulullah pun sengaja belum memberitahukan siapa tamu itu hingga ia pergi, agar para sahabat benar-benar memperhatikan dan mengambil manfaat sepenuhnya.
 
✅ Kesepuluh — Islam Bukan Hanya Karena Keturunan
Banyak dari kita menyebut diri berIslam karena lahir dari keluarga Muslim — karena keturunan saja. Padahal setelah syahadat, masih ada kewajiban sholat, zakat, puasa, dan haji. Maka patut kita renungkan: di antara yang mengaku Islam, berapa yang sholat lima waktu? Dan di antara yang sholat, berapa yang melaksanakannya berjamaah? Inilah ukuran kesungguhan kita dalam beragama.
 
✅ Kesebelas — Zakat Sama Wajibnya dengan Sholat
Perintah sholat selalu digandengkan dengan zakat. Sholat adalah hubungan vertikal kepada Allah, zakat adalah hubungan horizontal kepada sesama. Zakat baru wajib apabila telah mencapai nisab (batas minimal harta) dan haul (satu tahun kepemilikan untuk emas/aset). Untuk emas, nisabnya 85 gram. Sedangkan zakat pertanian dikeluarkan saat panen — lebih besar jika diairi air hujan, lebih ringan jika dengan irigasi biaya sendiri.
 
Ketentuan zakat itu sama wajibnya dengan sholat. Inilah sebabnya Abu Bakar Ash-Shiddiq memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat — karena mengingkari rukun Islam berarti mengingkari agama.
 
✅ Keduabelas — Puasa dan Haji Bagi yang Mampu
Puasa Ramadan wajib bagi setiap muslim. Sedangkan haji wajib bagi yang mampu — mampu secara fisik, biaya, dan juga ilmu/manasik. Apapun jalannya, yang terpenting adalah kemampuan yang sah dan pemahaman yang benar agar ibadahnya diterima Allah.
 
✅ Ketigabelas — Iman kepada Enam Rukun Iman
Setelah rukun Islam, kita naik ke tingkatan Iman: beriman kepada Allah, Malaikat, Kitab-kitab, Rasul-rasul, Hari Akhir, serta Takdir baik maupun buruk. Semua ini kita yakini meskipun tidak dapat dilihat mata, karena telah diberitahukan Allah dan Rasul-Nya.
 
✅ Keempatbelas — Ihsan: Tingkatan Puncak
Tingkatan tertinggi adalah Ihsan: beribadah seakan-akan melihat Allah. Jika belum mampu merasakan demikian, maka yakini sungguh-sungguh — Allah melihatmu. Kesadaran ini menjadi pengawas batin yang senantiasa menjaga seseorang dari berbuat maksiat meskipun sendirian. Inilah puncak kesempurnaan beragama.
 
 
 
💬 TANYA-JAWAB: MENERAPKAN IHSAN DALAM MENDIDIK ANAK
 
Pertanyaan dari Ibu Nurul — Jember:
 
"Bagaimana cara menerapkan Ihsan dalam mendidik anak di zaman sekarang? Terkadang sebagai orang tua kita mudah emosi dan hilang kesabaran. Mohon saran agar senantiasa merasa diawasi Allah saat mengasuh anak di rumah."
 
Jawaban Bapak Haji Saiful:
Pertanyaan yang sangat baik! Menerapkan Ihsan dalam pengasuhan artinya menanamkan kesadaran sejak dini bahwa Allah senantiasa melihat.
 
Gunakan perumpamaan yang mudah dipahami anak:
 
"Di mana pun kita berada, Allah melihat seperti CCTV yang merekam segala gerak. Namun Allah melihat semuanya tanpa ada yang luput."
 
Latihlah kejujuran sejak kecil. Tanyakan: "Kamu tahu tidak, kalau berbohong berarti kamu menyembunyikan sesuatu padahal Allah melihatnya?" Anak yang masih polos lebih mudah dibentuk keyakinannya dibanding orang dewasa. Dan bagi orang tua pun — saat emosi meledak, ingatlah: Allah sedang melihat bagaimana aku mendidik titipan-Nya. Maka kesabaran pun akan kembali.
 
 
 
📢 PENUTUP & PESAN AKHIR
 
Bapak Haji Sayun — Pesan Penutup:
 
"Terima kasih, Mas Bayu. Bapak, Ibu, para pendengar yang dirahmati Allah,
 
Alhamdulillah, kita telah membahas tema yang sangat mendasar — ISLAM, IMAN, dan IHSAN.
 
Jalankanlah keislaman dengan benar, mantapkanlah keimanan dalam hati, dan puncaknya — milikilah Ihsan: segala amal semata-mata meraih ridha Allah.
 
Apabila dijalankan secara istiqamah, insyaallah hidup kita menjadi terarah, tenang, dan diridhoi Allah.
 
Demikianlah. Terima kasih atas perhatian Bapak Ibu sekalian. Mohon maaf atas segala kekurangan.
 
"Nashrullahi minallahi wa fathun karim, wa bashshiril mukminin."
 
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh."
 
 
 

Saturday, August 08, 2026

Tafsir Al-Ma’idah: Menepati Janji Allah, Menjaga Tauhid, dan Menerima Kebenaran

TUBAN, 8 Agustus 2026 — Menepati janji kepada Allah, menjaga kemurnian tauhid, serta menerima kebenaran menjadi pesan penting dalam Pengajian Tafsir Jalalain yang disampaikan Ustadz Saiun Ngalim di Masjid Al Fajri, Tuban, Sabtu (8/8/2026).

Dalam kajian tersebut, Ustadz Saiun menguraikan kandungan sejumlah ayat dalam Surat Al-Ma’idah, khususnya mengenai perjanjian Allah dengan Bani Israil dan Ahli Kitab, konsekuensi ketika perjanjian itu diingkari, serta kesinambungan ajaran tauhid yang dibawa para nabi dan rasul.

Menepati Perjanjian dengan Allah

Mengawali penjelasan, Ustadz Saiun mengingatkan kandungan Surat Al-Ma’idah ayat 11 tentang nikmat dan perlindungan Allah kepada orang-orang beriman.

Menurutnya, ayat tersebut mengajarkan agar seorang mukmin senantiasa mengingat pertolongan Allah, meningkatkan ketakwaan, dan tidak menggantungkan keselamatan kepada selain-Nya.

Pembahasan kemudian berlanjut pada ayat 12, yang mengisahkan perjanjian Allah dengan Bani Israil. Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa Allah mengangkat dua belas pemimpin, yang berkaitan dengan dua belas suku Bani Israil.

Perjanjian tersebut memuat sejumlah kewajiban mendasar, antara lain mendirikan shalat, menunaikan zakat, beriman kepada para rasul, mendukung perjuangan mereka, serta menginfakkan harta di jalan Allah sebagai bentuk qardh hasan atau “pinjaman yang baik”.

“Jika perjanjian itu dipenuhi, Allah menjanjikan ampunan atas kesalahan dan memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,” jelas Ustadz Saiun dalam kajiannya.

Sebaliknya, ketika perjanjian tersebut diingkari, Allah mengingatkan adanya konsekuensi serius. Di antaranya adalah dijauhkan dari rahmat Allah, hati menjadi keras, sebagian ajaran dilupakan, dan terjadinya penyimpangan terhadap pesan-pesan wahyu.

Dari Pengingkaran Muncul Permusuhan

Ustadz Saiun kemudian mengaitkan pembahasan tersebut dengan Surat Al-Ma’idah ayat 13, yang menjelaskan akibat pengingkaran perjanjian oleh sebagian Ahli Kitab.

Al-Qur’an menyebut bahwa akibat dari sikap tersebut adalah munculnya permusuhan dan kebencian di antara mereka hingga hari kiamat.

Menurut Ustadz Saiun, ayat tersebut memberikan pelajaran bahwa ketika manusia meninggalkan kebenaran yang telah diketahuinya dan tidak lagi berpegang teguh pada petunjuk Allah, dampaknya bukan hanya terhadap hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga dapat merusak hubungan antarmanusia.

Karena itu, pesan utama ayat bukan sekadar kisah sejarah Bani Israil dan Ahli Kitab, melainkan juga menjadi peringatan bagi umat Islam agar tidak mengulangi kesalahan yang sama: berjanji kepada Allah tetapi kemudian mengabaikannya.

Inti Risalah Para Rasul adalah Tauhid

Kajian kemudian mengarah pada satu pokok penting dalam seluruh risalah kenabian, yakni tauhid.

Meskipun Allah memberikan keutamaan dan derajat yang berbeda kepada sebagian rasul atas sebagian yang lain, inti dakwah mereka tetap sama: mengajak manusia menyembah Allah Yang Maha Esa dan tidak mempersekutukan-Nya.

Dari Nabi Adam a.s. hingga Nabi Muhammad ﷺ, prinsip dasar keimanan kepada Allah dan para rasul merupakan satu kesatuan. Nabi Muhammad ﷺ hadir bukan untuk memutus risalah para nabi sebelumnya, melainkan sebagai rasul terakhir yang membenarkan risalah yang dibawa para nabi terdahulu sekaligus menyempurnakan ajaran tersebut.

Dalam konteks inilah, pembahasan tentang Ahli Kitab menjadi penting. Al-Qur’an mengkritik sikap sebagian dari mereka yang mengingkari kebenaran setelah datangnya penjelasan dan bukti.

Namun demikian, sejarah juga mencatat adanya orang-orang dari kalangan Ahli Kitab yang menerima kebenaran dan beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Kisah Waraqah dan Pelajaran tentang Kejujuran Mencari Kebenaran

Salah satu contoh yang dibahas adalah Waraqah bin Naufal, yang ketika mendengar kisah pengalaman Nabi Muhammad ﷺ menerima wahyu pertama, mengenali adanya tanda-tanda kenabian.

Sikap Waraqah memberikan pelajaran bahwa seseorang yang benar-benar mencari kebenaran akan berusaha menerimanya ketika bukti telah datang, meskipun kebenaran tersebut mengharuskan dirinya meninggalkan keyakinan atau kebiasaan sebelumnya.

Pesan ini relevan bagi umat Islam: jangan sampai seseorang mengetahui kebenaran tetapi menolaknya karena kepentingan, fanatisme, kebencian, atau keengganan untuk berubah.

Al-Qur’an dan Jaminan Penjagaan Allah

Salah satu bagian penting kajian adalah pembahasan mengenai Surat Al-Hijr ayat 9:

«“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kamilah yang benar-benar memeliharanya.”»

Ayat tersebut menjadi dasar keyakinan umat Islam bahwa Allah memberikan penjagaan terhadap Al-Qur’an.

Ustadz Saiun menekankan bahwa Al-Qur’an harus menjadi pedoman yang dijaga, dipelajari, dipahami, dan diamalkan. Kemurnian Al-Qur’an bukan sekadar untuk diyakini, tetapi juga harus melahirkan sikap hidup yang sesuai dengan petunjuknya.

Jangan Hanya Mengetahui, tetapi Menepati

Dari rangkaian ayat yang dikaji, terdapat satu pesan kuat yang dapat dibawa pulang oleh jamaah: iman tidak cukup hanya dengan pengakuan, tetapi harus dibuktikan dengan ketaatan dan kesetiaan terhadap perjanjian dengan Allah.

Shalat, zakat, keimanan kepada seluruh rasul, kepedulian terhadap perjuangan agama, serta kesediaan menginfakkan harta di jalan Allah merupakan bagian dari konsekuensi iman.

Pengingkaran terhadap janji Allah dapat menyeret manusia kepada berbagai bentuk penyimpangan, sedangkan kesetiaan kepada Allah menjadi jalan menuju ampunan dan rahmat-Nya.

Kajian Tafsir Jalalain tersebut akhirnya mengajak jamaah untuk melakukan introspeksi: apakah janji kepada Allah benar-benar telah diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari?

Sebab, sebagaimana pesan yang dapat dipetik dari rangkaian ayat tersebut, menjaga tauhid bukan hanya persoalan ucapan, melainkan juga kesetiaan menjalankan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, serta berpegang teguh pada kebenaran hingga akhir kehidupan.

Dari Masjid Al Fajri Tuban, kajian ini kembali mengingatkan bahwa sejarah umat terdahulu bukan sekadar untuk dikenang, tetapi menjadi cermin agar umat hari ini tidak mengulangi kesalahan yang sama. (*)

FIRNAS MUTTAQIN

Monday, July 27, 2026

KUDATULI


Kudatuli adalah singkatan dari Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli, yaitu peristiwa penyerbuan kantor pusat Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, pada 27 Juli 1996. Peristiwa ini menjadi salah satu titik penting yang mempercepat melemahnya rezim Orde Baru dan berkembangnya gerakan Reformasi. 

Latar belakang

Pada awal 1990-an, Megawati Soekarnoputri terpilih sebagai Ketua Umum PDI dan memperoleh dukungan masyarakat yang semakin besar. Hal ini dipandang sebagai ancaman oleh pemerintah Orde Baru di bawah Soeharto.

Pada Juni 1996, pemerintah mendukung Kongres PDI di Medan yang menetapkan Soerjadi sebagai ketua umum menggantikan Megawati. Pendukung Megawati menolak hasil kongres tersebut dan tetap menduduki kantor pusat PDI di Jakarta. 

Jalannya peristiwa

Pada pagi hari 27 Juli 1996, sekelompok orang yang didukung aparat menyerbu kantor PDI yang diduduki pendukung Megawati. Penyerbuan memicu bentrokan dan kemudian berkembang menjadi kerusuhan di berbagai wilayah Jakarta selama dua hari. Banyak bangunan dan kendaraan dibakar, serta ratusan orang ditangkap. 

Korban

Menurut hasil penyelidikan Komnas HAM:

5 orang meninggal dunia.

149 orang mengalami luka-luka.

23 orang dinyatakan hilang.

Banyak warga dan aktivis ditangkap serta mengalami pelanggaran hak asasi manusia. 

Dampak

Peristiwa Kudatuli memiliki dampak besar terhadap politik Indonesia:

Meningkatkan kritik terhadap pemerintahan Orde Baru.

Memperkuat gerakan pro-demokrasi dan Reformasi.

Setelah jatuhnya Soeharto pada 1998, pendukung Megawati mendirikan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan), yang kemudian memenangkan Pemilu 1999. 

Mengapa disebut "Kudatuli"?

Istilah Kudatuli berasal dari singkatan Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Li (Juli). Peristiwa ini juga sering disebut "Sabtu Kelabu" karena terjadi pada hari Sabtu dan dikenang sebagai salah satu tragedi politik terbesar pada masa Orde Baru. (*)

Friday, July 17, 2026

Ustadz Tengku Zulkarnain : 5 Cara Berbakti kepada Orang Tua yang Sudah Wafat

Pernah suatu ketika, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, *"Ya Rasulullah, dulu saya banyak berbuat salah kepada ayah dan ibu saya. Sekarang saya ingin meminta maaf, namun mereka berdua sudah wafat. Apakah saya masih bisa meminta maaf kepada mereka?"*

Rasulullah SAW menjawab dengan tegas bahwa hal itu sangat bisa. Beliau kemudian menjelaskan 5 amalan yang dapat menghapus kesalahan kita kepada orang tua yang telah tiada:

1. *As-Shalatu 'Alaihima* (Banyak Berdoa untuk Keduanya)

Jagalah salatmu dan perbanyaklah berdoa untuk mereka. Dari alam kubur, orang tua dapat melihat amal perbuatan kita. Berdasarkan Tafsir Ibnu Katsir saat menjelaskan **Surat At-Taubah ayat 105**, amal perbuatan manusia di dunia diperlihatkan kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-masing mukmin (termasuk orang tua yang sudah wafat).

Pendengaran dan penglihatan ahli kubur jauh lebih tajam dari orang yang masih hidup.

* *Jika anak beramal saleh (misal: Tahajud dan berdoa):* Orang tua akan tersenyum bahagia dan mendoakan kebaikan serta hidayah untuk anaknya. Keridaan orang tua di alam kubur inilah yang membuat Allah mengampuni kesalahan-kesalahan sang anak di masa lalu.
* *Jika anak bermaksiat:* Orang tua akan bersedih dan memohon kepada Allah agar anaknya tidak dimatikan sebelum mendapat hidayah.

2. *Wal-Istighfaru Lahuma* (Memohonkan Ampun atas Dosa Keduanya)

Senantiasa mintalah ampunan kepada Allah untuk dosa-dosa kedua orang tuamu. Bacalah doa yang tulus:

> *"Rabbighfirli wa li-walidayya..."* (Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku).

3. Menunaikan Wasiat Keduanya

Jika orang tua meninggalkan wasiat yang baik sebelum wafat, tunaikanlah.

> **Contoh:** Orang tua berwasiat, *"Nak, kalau rumah ini nanti dijual, bagilah secara adil kepada adik-adikmu sebagai warisan, dan sisihkan sebagian untuk renovasi mushala."*

Ketika rumah tersebut laku (misalnya Rp10 miliar), jangan serakah. Jalankan amanah tersebut. Saat kita menuruti wasiatnya, mereka melihat dari kuburnya dan merasa bangga, sehingga mereka memaafkan kesalahan kita.

4. Menyambung Silaturahmi dengan Saudara Keduanya

Jika Anda ingin berbakti secara materi tetapi orang tua sudah tiada, alihkan kebaikan tersebut kepada saudara-saudara mereka (paman, bibi, atau uwak). Mengurus dan membantu saudara kandung dari ayah atau ibu akan membuat orang tua di alam kubur merasa bahagia dan rida kepada kita.

5. Menghormati Teman-Teman Keduanya

Muliakan, hormati, dan jagalah hubungan baik dengan sahabat-sahabat karib mendiang ayah dan ibu kita semasa mereka hidup.

---

Dengan mengamalkan kelima hal di atas, insyaallah Allah SWT akan menghapus dosa-dosa dan kesalahan kita di masa lalu terhadap kedua orang tua kita.

https://youtube.com/shorts/bN7PgPu09Mo?si=BhhPMJ-azNaeq8c4
__