PASURUAN– Kepala UOBF (Unit Organisasi Bersifat Fungsional) Puskesmas Karangrejo, dr. Titin Yuliani, menekankan bahwa stunting merupakan masalah gizi kronis yang memerlukan perhatian serius. Menurutnya, stunting bukan sekadar kondisi fisik anak yang kurus, tetapi lebih spesifik pada kondisi kekurangan gizi dalam jangka waktu yang lama yang mengakibatkan tinggi badan anak tidak sesuai dengan usianya.
Dokter Titin menjelaskan bahwa diagnosis stunting tidak bisa hanya berdasarkan pengamatan visual, tetapi harus melalui pengukuran yang terstandarisasi di fasilitas kesehatan. "Diagnosis stunting harus ada pengukuran, ada berat badan, ada tinggi badan," jelasnya.
*Berbagai Faktor Penyebab Stunting*
Dalam wawancara di Radio Suara Pasuruan, Jumat 22/8/2025, dr. Titin menyoroti berbagai faktor yang menjadi penyebab stunting:
* *Gizi Ibu Hamil:* Asupan nutrisi yang tidak memadai pada ibu selama masa kehamilan, seringkali diperburuk oleh stres, dapat menyebabkan berat badan lahir bayi rendah, yang menjadi cikal bakal stunting.
* *Pemberian ASI yang Kurang Optimal:* Kurangnya ASI eksklusif dapat memengaruhi kualitas nutrisi anak. Menurut dr. Titin, anak yang mendapat ASI eksklusif memiliki kualitas kesehatan yang lebih baik.
* *Pemberian MPASI yang Tidak Tepat:* Kesalahan dalam memberikan Makanan Pendamping ASI (MPASI), seperti memberikan makanan yang hanya mengandung karbohidrat dan tidak seimbang nutrisinya, juga menjadi salah satu penyebab utama.
* *Faktor Non-Ekonomi:* Dokter Titin membantah anggapan bahwa stunting hanya disebabkan oleh faktor ekonomi. Ia menegaskan, stunting juga bisa terjadi pada keluarga yang mampu secara finansial jika pengetahuan tentang gizi tidak memadai.
*Peran Puskesmas dan Orang Tua*
Dokter Titin juga menekankan pentingnya peran Puskesmas sebagai garda terdepan dalam penanganan stunting. Puskesmas tidak hanya berfungsi sebagai tempat diagnosis, tetapi juga sebagai pusat edukasi.
"Ada yang petugas gizi. Berarti dijelaskan apa saja [makanan] yang ada, karena sosial ekonominya saya tidak mampu," jelasnya.
Ia juga mengimbau agar para orang tua tidak malu untuk membawa anak-anak mereka ke Puskesmas secara rutin untuk ditimbang dan diukur. Ia mencontohkan bahwa keturunan bukan alasan utama anak menjadi pendek, sebab dengan gizi yang tepat, anak-anak dapat memiliki postur yang lebih tinggi dari orang tua mereka.
"Sekarang itu tidak boleh berkecil hati kalau kita pendek, nanti anaknya kita pendek-pendek. Berarti gizi," pungkasnya. (*)
Firnas
Jumat, 22/8/2025
No comments:
Post a Comment