BATU, Jawa Timur – Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Ustadz Dr. H. Adi Hidayat (UAH), menegaskan bahwa Majelis Tabligh Muhammadiyah harus memposisikan diri sebagai "Umat Terbaik" sebagaimana termaktub dalam Al-Qur'an. Ia mengkritik keras tipologi "Umat Standar" yang hanya berkumpul tanpa menghasilkan resolusi kebaikan yang jelas.
Pernyataan ini disampaikan UAH dalam sambutannya pada pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II Majelis Tabligh Muhammadiyah di Batu, Jawa Timur, pada Jumat, 24 Oktober 2025. Rakernas ini turut dihadiri Wali Kota dan Wakil Wali Kota Batu, serta perwakilan dari 32 Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) se-Indonesia.
Tiga Golongan Umat dalam Al-Qur'an
UAH memulai paparannya dengan menganalisis kata Umat yang disebut sebanyak 64 kali dalam Al-Qur'an dan digolongkan menjadi tiga tipologi:
1. Umat Standar (Tipikal Hewan):
Golongan pertama adalah kumpulan manusia, bahkan mencakup hewan dan jin, yang hanya bertujuan "kumpul-kumpul." UAH menyebut mereka hanya berkumpul untuk keramaian, status, foto, dan video, namun tidak jelas arah kolektifitasnya.
"Kumpul, duduk, ramai. Ada rebutan sesuatu, teriak-teriak, kumpulan. Bukan salah monyet kan begitu, kalau kumpul-kumpul kan, rebutan kacang, lagi-lagi gitu kan," sindirnya.
2. Umat Ideal (Umat yang Punya Tujuan):
Golongan ini berkumpul untuk menguruskan sesuatu dan melahirkan resolusi. Umat ini memiliki empat unsur kebaikan yang diimplementasikan secara terintegrasi:
Koji: Kebaikan fisik (badan sehat) melalui makanan yang halal dan menyehatkan (mengacu pada QS Al-Baqarah ayat 168).
Khair: Kebaikan sifat/spiritual (jujur, sabar, tawaduk).
Ihsan: Semua kegiatan dilakukan karena Allah (berubah menjadi ibadah).
Ma'ruf: Integrasi kolektif dari tiga unsur di atas.
3. Umat Terbaik (Umat Pilihan/QS Ali Imran: 104):
UAH menekankan bahwa cita-cita Majelis Tabligh harus mencapai golongan ketiga, yaitu Umat yang senapas dengan Al-Qur'an surat Ali Imran ayat 104: Waltakum minkum ummatun yada'una ilal khairi wa ya'murūna bil-ma’rūfi wa yanhawna 'anil-munkar.
"Setiap ada di antara Anda itu, kata Allah, membentuk sebuah umat. Umatnya mana? Bukan yang kumpul-kumpul seperti yang [Tipologi 1] tadi. Apa yang dianggapkan? Yada'una ilal khairi, yang merumuskan resolusi dengan menampilkan akumulasi sifat-sifat ini... Wa ya'murūna bil-ma’rūfi kemudian menerjemahkan sifat-sifat baik ini dalam konteks amalan yang dipraktikkan... Wa yanhawna 'anil-munkar, lalu lawan dari ma'ruf itu munkar, mereka komitmen secara kolektif untuk mempraktikkan diri dulu [menjauhi munkar]."
Wali Kota Batu Punya 'Tongkat Besar'
Dalam pidatonya, UAH juga memberikan apresiasi khusus kepada Wali Kota Batu, Bapak H. Dewanti Rumpoko. Ia menggunakan metafora Batu dan Tongkat untuk mengaitkan potensi daerah dengan konsep dakwah.
"Bapak Wali Kota punya tongkat yang besar. Dipukulkan ke batu. Karena dimaksud maknanya bukan harus cari tongkat, pukul batu. Bukan. Itu majasnya," jelas UAH.
Ia mengartikan "tongkat besar" sebagai amanah dan kewenangan Wali Kota untuk "memukul potensi-potensi positif yang ada di Batu" agar manfaatnya memancar seperti 12 mata air yang keluar dari batu. Tujuannya agar Kota Batu menjadi tempat yang jernih, nyaman, dan berfungsi sebagai Hijab (benteng) yang mencegah maksiat, sehingga kenyamannya tidak berubah menjadi tempat maksiat.
Pada akhir sambutannya, UAH berpesan bahwa kolaborasi dakwah harus menghadirkan niat kolektif yang menyatukan semua sifat kebaikan untuk menciptakan amalan nyata, seperti penataan dan penetapan masjid yang terintegrasi untuk umat.
No comments:
Post a Comment