SURABAYA, 12 Oktober 2025 – Perayaan hari jadi ke-80 Provinsi Jawa Timur (Jatim) menjadi momentum evaluasi mendalam. Dalam acara Dialog Wawasan di Radio Suara Surabaya (Senin, 13/10/2025) perwakilan Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur memaparkan perkembangan ekonomi yang optimistis, namun optimisme tersebut langsung dihadapkan pada realitas keras tantangan infrastruktur yang disuarakan masyarakat dari daerah.
Acara yang mengusung tema "Merawat Bumi Majapahit: Jatim Tangguh Terus Bertumbuh" ini menghadirkan perwakilan dari BPS Jatim untuk membedah data pemerataan dan pertumbuhan ekonomi provinsi.
Pemerataan Membaik, Kesenjangan Tetap Menghantui
Menurut data BPS, pemerataan pembangunan di Jawa Timur menunjukkan perbaikan. Indeks Rasio Gini (Gini Ratio) Provinsi Jatim pada Maret 2025 tercatat sebesar 0,369. Angka ini mengalami penurunan tipis dibandingkan September 2024 (0,373), mengindikasikan perbaikan pemerataan pendapatan di wilayah perkotaan maupun pedesaan.Namun, perbaikan tersebut masih dalam kategori "sedang" dan belum ideal.
Kesenjangan pengeluaran antara kelompok penduduk kaya dan miskin masih lebar. Data BPS menunjukkan bahwa pengeluaran penduduk pada Desil 10 (kelompok pengeluaran tertinggi) mencapai 29,98%, sementara Desil 1 (kelompok pengeluaran terendah) hanya memiliki share sebesar 3,34%.
"Ini berarti masih ada PR yang harus diselesaikan, di mana pemerataan pendapatan tersebut harus terus diupayakan," jelas perwakilan BPS Jatim.
BPS juga menekankan bahwa konsumsi rumah tangga adalah pendorong utama perekonomian Jatim, menggerakkan hingga 60% dari total perekonomian. Oleh karena itu, menjaga stabilitas harga sangat vital agar daya beli masyarakat tetap terjaga.
Jeritan Daerah: Sawah Mampet dan Jalan Rusak
Di tengah paparan data makro yang positif, sesi telepon publik menyajikan kontras nyata.Pak Subari dari Desa Mojowarno, Jombang, mengeluhkan nasibnya sebagai petani. Irigasi sawahnya mampet total selama 12 tahun akibat pembangunan pabrik di sebelahnya. Meskipun sudah dua kali difasilitasi oleh Forkopimcam (Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan) satu tahun lalu, hingga kini belum ada solusi.
"Kami ini petani, tidak bisa apa-apa. Sawah saya aktif, tapi tidak bisa membuang air karena mampet. Padahal Jombang ini adalah Lumbung Pangan Nasional," keluhnya.
Keluhan kedua datang dari Pak Muji di Bangkalan, Madura. Ia menyoroti rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di wilayahnya dan meminta atensi khusus pada infrastruktur jalan. Menurutnya, 72% (sekitar 521 km) dari 721 km jalan Kabupaten Bangkalan memerlukan perbaikan.
"Bagaimana ekonomi mau maju kalau mau keluar rumah jalannya rusak? Investor bagaimana mau hadir kalau jalannya jelek? Kami mohon atensi Pemprov Jatim untuk percepatan di bidang infrastruktur jalan," tegas Pak Muji.
Pemprov Siap Ambil Peran Fasilitasi
Menanggapi keluhan ini, Ir. Mohammad Yasin, M.Si. selaku Kepala BAPPEDA Provinsi Jawa Timur mengakui bahwa Jombang adalah salah satu atensi khusus sebagai lumbung pangan. Terkait masalah irigasi, Pemprov berjanji akan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian dan menegaskan bahwa kehadiran industri harus mendukung lingkungan, bukan merugikan.
Khusus untuk Bangkalan, yang termasuk wilayah IPM rendah, Pemprov memprioritaskan peningkatan tiga aspek IPM: pendidikan (dengan menjamin wajib belajar 13 tahun), kesehatan (memastikan 98% warga Jatim ter-cover BPJS Kesehatan), dan kesejahteraan (yang ditunjang oleh infrastruktur).Meskipun kewenangan perbaikan jalan kabupaten ada di tangan pemerintah daerah, Pemprov berjanji akan membantu.
"Apabila APBD sudah mentok, kita bantu usulkan ke Pusat. Kami akan mengajak Bupati Bangkalan untuk membuat proposal dan audensi langsung ke Pak Menteri PU untuk mendapatkan perhatian khusus melalui program Jalan Invest Daerah," ujar Mohammad Yasin, menegaskan peran Pemprov sebagai fasilitator dan koordinator.
Akar Majapahit: Gotong Royong dan Sinergi
Menutup dialog, para narasumber sepakat bahwa jika Jawa Timur diibaratkan sebagai pohon besar warisan Majapahit, akar yang harus dijaga adalah nilai-nilai luhur pendahulu."Kuncinya adalah toleransi, guyub rukun, gotong royong, dan sinergi tanpa memandang suku, agama, ras. Kita harus terus membangun nilai-nilai ini," kata perwakilan BPS.
Pesan penutup bagi seluruh masyarakat Jatim adalah, "Think Globally, Act Locally." Memikirkan Jawa Timur secara utuh, namun berpartisipasi aktif dalam pembangunan di wilayah masing-masing. (*)
No comments:
Post a Comment