Gus Baha (KH. Ahmad Bahauddin Nursalim) dalam ceramahnya ini membahas tiga poin utama yang saling terkait: keutamaan sibuk dengan Al-Qur'an melebihi doa, pentingnya Ilmu Ushul Fikih dalam mengatasi perubahan sosial, dan keseimbangan dalam bersikap (termasuk kritik yang keras).
1. Keutamaan Sibuk dengan Al-Qur'an
Gus Baha menyampaikan sebuah riwayat dari Hadis Imam Tirmidzi yang menunjukkan keistimewaan orang yang fokus pada Al-Qur'an:
Pemberian di Atas Permintaan: "Orang yang disibukkan oleh Al-Qur'an hingga lupa berdoa, niscaya akan Aku (Allah) berikan sesuatu di atas permintaan orang-orang yang meminta (berdoa)." Hal ini terjadi karena mereka bertawasul (tawasul) dengan Kitabullah.
Contoh Pribadi: Gus Baha menceritakan pengalamannya ketika berziarah ke Makam Ibrahim Al-Khaliil di Palestina. Saat temannya sibuk berdoa, ia memilih membaca Surah Ibrahim. Tak lama setelah itu, ia ditelepon temannya di Jakarta yang menawari tiket travel gratis ke Palestina.
Kesimpulan: Orang yang sibuk dengan Al-Qur'an (deres Quran) doanya diyakini lebih "keramat" dan dikabulkan di atas permintaan orang yang berdoa (dongo). Ia menganjurkan hadis ini untuk dilaksanakan, meskipun ia bergurau bahwa jika tidak mandi (dikabulkan), itu berarti masalah bakat.
2. Pentingnya Ilmu Ushul Fikih dan Fikih Sosial
Gus Baha menjelaskan bahwa Ilmu Ushul Fikih dan Qawaidul Fiqhiyyah (kaidah fikih) adalah penolong umat Islam setelah wafatnya Rasulullah SAW.
A. Perluasan Makna Jual Beli (Wadarul Ba'i)
Masalah Awal: Allah berfirman, "Jika telah diseru untuk salat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli (wadarul ba’i)."
Analisis Ushul Fikih: Jika hanya diartikan secara harfiah sebagai "jual beli," maka santri boleh-boleh saja bermain HP atau tidur saat azan Jumat karena itu bukan jual beli.
Makna yang Diperluas: Berkahnya Ilmu Ushul Fikih, makna ba’i (jual beli) diperluas oleh ulama menjadi kulli maa yasyghalun 'an idrakil jum'ah (segala sesuatu yang menyibukkan dari menunaikan Jumat).
Perluasan makna ini didasarkan pada ‘Uruf (konsensus atau perilaku sosial) atau Qiyas (analogi) sehingga mencakup tidur, jagongan (nongkrong), atau merokok.
B. Perubahan Hukum Sosial (Muktaḍoyatul Ahwāl)
Konsep Awal: Hukum wajib dan sunat (nadb) dalam bab sosial (bukan ibadah) dapat berubah statusnya tergantung kontekstualisasi (muktaḍoyatul ahwāl).
Contoh Senyum: Senyum dasarnya sunah (tabassum). Tetapi, jika seorang kiai berwajah cemberut saat berkumpul dengan orang awam, ia bisa menyebabkan orang tidak nyaman (tanfir) dengan Islam. Dalam konteks ini, senyum bisa menjadi wajib untuk menghindari mudarat.
Contoh Sedekah: Sedekah asalnya sunah. Jika ada orang yang benar-benar kelaparan hingga bisa mati, sedekah kepadanya bisa berubah menjadi wajib. Sebaliknya, memberi makan seseorang yang akan menggunakan energi tersebut untuk berbuat maksiat dapat berubah menjadi haram.
3. Keseimbangan dalam Bersikap dan Kritik Keras
Gus Baha membahas mengapa kadang ada perkataan keras atau kritik dalam hadis maupun Al-Qur'an, padahal Nabi SAW adalah pribadi yang agung (khuluqin 'adzim).
A. Menghadapi Pertanyaan yang Tidak Perlu
Gus Baha bercerita tentang seorang sahabat bernama Salamah bin Salamah yang sering bertanya hal-hal aneh kepada Nabi, termasuk menanyakan jenis kelamin anak untanya yang masih dalam kandungan.
Kehadiran sahabat seperti Salamah bin Salamah—yang terkadang bersikap "cangkem elek" (berkata keras/kurang ajar)—secara tidak langsung menghentikan orang-orang awam yang hendak bertanya hal-hal gaib yang tidak penting (misalnya, menanyakan di mana letak untanya yang hilang).
B. Kritik Keras untuk Efek Tanfir
Kadang-kadang, perkataan buruk (kata-kata kasar) memiliki faedah yang lebih besar daripada madaratnya, khususnya untuk efek tanfir (membuat orang menjauh dari keburukan secara drastis).
Contoh dalam Al-Qur'an: Ketika mengkritik perilaku makan orang kafir, Allah berfirman: yatamatta'uuna wa ya'kuluuna kamaa ta'kulul an'aam (mereka bersenang-senang dan makan seperti makannya binatang ternak).
Tujuan: Kritik yang pedas ini bertujuan agar orang yang perilakunya salah (misalnya, makan tanpa membaca bismillah) merasa malu karena disamakan dengan binatang, sehingga mereka lebih termotivasi untuk berubah. (*)
No comments:
Post a Comment