Thursday, October 09, 2025

SYARAT MASUK SYURGA

Syarat Masuk Surga Bukan Sekadar Keberuntungan Kelahiran: Gus Baha Jelaskan Logika Akal Sehat dalam Syariat Islam

Ulama tafsir terkemuka, KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha), memberikan jawaban mendalam dan logis terhadap pertanyaan sensitif dari seorang peserta bernama Rivin dari Magelang dalam sebuah sesi pengajian. Pertanyaan yang diajukan menyentuh keraguan umum tentang keadilan Ilahi: apakah syarat masuk surga harus Islam, dan apakah ini hanya soal "keberuntungan" nasib lahir di keluarga Muslim?

Mematahkan Logika "Bejo-Bejoan"

Rivin, penanya dari Magelang, menyampaikan kegelisahannya: Jika hanya orang Islam yang masuk surga, maka nasib seseorang hanya berdasar keberuntungan (bejo-bejoan) tempat lahir. Ia mencontohkan, jika ia lahir di keluarga Buddha, ia akan "apes" (sial) karena diajarkan agama yang dianggap benar oleh orang tuanya, sehingga tidak akan masuk surga.

Gus Baha menanggapi pertanyaan tersebut dengan tenang dan mengajak penanya untuk bersyukur atas keyakinannya saat ini. Ia menekankan bahwa dalam menyikapi hal-hal ghaib seperti ini, umat harus berserah diri (tawaduk) dan meyakini hukum formal yang telah ditetapkan.

"Untuk hal-hal seperti itu kita iman saja sama yang ditentukan Allah. Pokoknya yang masuk surga itu hanya yang Islam," tegas Gus Baha.

Logika Kewarganegaraan dan Kemakrufan

Gus Baha kemudian menggunakan analogi kewarganegaraan dan akal sehat (kemakrufan) untuk menjelaskan mengapa keimanan terhadap keesaan Tuhan menjadi syarat mutlak:

1. Analogi Presiden

Gus Baha bertanya, siapa presiden Indonesia saat ini? Ia kemudian berlogika:

"Kira-kira orang yang meyakini Tuhan tiga... atau orang yang mengatakan Indonesia itu tanpa presiden. Orang yang seperti itu itu layak enggak dianggap sebagai warga negara yang baik? Tidak. [Presiden] itu satu lah. Yang sekarang siapa? Jokowi. Ya Tuhan itu satu, yaitu Allah Subhanahu wa taala."

Menurut Gus Baha, mengikuti syariat yang menetapkan hanya Islam yang masuk surga, sama dengan mengikuti logika bahwa yang layak menjadi warga negara yang baik adalah yang mengakui satu presiden yang sah. Meyakini adanya tandingan bagi Tuhan adalah suatu kemungkaran yang secara akal pun tidak pantas.

2. Fungsi Rasul dan Akses Informasi

Gus Baha juga menepis argumen bahwa seseorang tidak mendengar ajaran Islam sama sekali. Ia menekankan bahwa di era modern, dengan adanya sekolah perbandingan agama, TV, dan media sosial, hampir tidak ada orang yang benar-benar tidak pernah mendengar tentang Islam.

"Jadi kalau mereka bilang enggak dengar sama sekali ajaran selain yang diajarkan orang tuanya, kira-kira bohong enggak? Bohong kan?"

Kesimpulan:

Gus Baha menutup penjelasannya dengan meminta penanya meyakini hukum utama: yang berhak masuk surga hanya orang Islam. Adapun detail-detail nasib individu di luar hukum formal, semua kembali pada kebijaksanaan Allah (Wallahu alam).

Ciri utama agama, kata Gus Baha, adalah membenarkan yang makruf (yang mudah dikenali dan benar oleh akal sehat), dan akidah yang benar, yaitu tauhid (mengesakan Tuhan), adalah yang paling pantas dibenarkan dan menjadi kunci masuk surga. (*)


Sumber:

No comments: