Martin Lings, Filsuf Muslim dari Inggris, penulis biografi Nabi Muhammad
Bagi pencinta biografi Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, nama Martin Lings tentu tidak asing di telinga. Salah satu bukunya, *Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik Terawal* (judul asli: *Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources*), telah menjadi salah satu buku sejarah Islam terlaris sepanjang masa sejak diterbitkan pada 1983. Biografi Nabi Muhammad karya Lings masih dicetak hingga hari ini.
Martin Lings bukan hanya penulis buku Islam yang terkenal, tetapi juga seorang filsuf Muslim ternama dari Barat. Tidak hanya hebat, latar belakang dan kehidupan Martin Lings juga mengandung banyak fakta menarik, seperti dilaporkan dari berbagai sumber. Berikut adalah lima fakta menarik tentang Martin Lings:
1. Seorang Mualaf
Martin Lings terlahir dari keluarga Protestan di Burnage, Lancashire, Inggris pada tahun 1909. Lings baru memeluk Islam ketika usianya sekitar 31 tahun. Saat itu, Lings memutuskan untuk masuk Islam setelah mengunjungi salah seorang temannya, yaitu Frithjof Schuon, yang tinggal di Mesir. Schuon saat itu bekerja sebagai dosen di Universitas Kairo sekaligus asisten bagi filsuf Prancis terkenal yang juga mualaf, René Guénon. Namun, saat Lings berkunjung ke Mesir, Schuon meninggal dalam sebuah kecelakaan. Akibatnya, Lings diminta untuk menggantikan posisi Schuon di Universitas Kairo. Sejak saat itu, Lings mulai mempelajari bahasa Arab, Islam, dan Sufisme. Setelah itu, Lings merasa bahwa Islam bukan hanya sekadar agama, tetapi juga pedoman hidup manusia. Sejak itulah, Lings memutuskan untuk memeluk Islam dan mengganti namanya menjadi Abu Bakar Siraj ad-Din.
2. Mendapat Pendidikan dalam Sastra Inggris dan Bahasa Arab
Lings tercatat pernah mempelajari Sastra Inggris di Clifton College dan Magdalene College, Oxford. Bahkan saat belajar di Magdalene, Lings berteman baik dengan penulis terkenal Inggris, C.S. Lewis. Kemudian, setelah mendapatkan gelar sarjananya, Lings pindah ke Eropa dan mengajar Bahasa Anglo-Saxon dan Inggris Pertengahan di Universitas Vytautas Magnus di Lithuania. Sekitar tahun 1952, Lings kembali ke Inggris dan mempelajari bahasa Arab di University of London. Di universitas inilah Lings meraih gelar Bachelor dan PhD. Bahkan, tesis Lings yang membahas salah satu sufi terkenal Aljazair, yaitu Ahmad al-Alawi, menjadi dasar bagi salah satu bukunya yang terkenal, *A Sufi Saint of the Twentieth Century*.
3. Menghabiskan 30 Tahun Hidupnya untuk Menulis Buku
Selama kurang lebih 30 tahun, Lings dikenal sebagai penulis buku dan guru yang sangat aktif. Lings tercatat telah menerbitkan setidaknya 18 buku selama hidupnya. Beberapa buku Lings yang terkenal antara lain:
- Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources (1983)
- Shakespeare in the Light of Sacred Art (1966)
- The Quranic Art of Calligraphy and Illumination (1976)
- A Sufi Saint of the Twentieth Century (1993)
Bahkan, biografi Nabi Muhammad karyanya dianggap sebagai sebuah mahakarya dan biografi Nabi Muhammad terbaik di dunia.
4. Pencinta Shakespeare
Lings bisa dikatakan sebagai penggemar salah satu penulis terhebat dunia, William Shakespeare. Selain berkecimpung di bidang Sufisme, Lings juga merupakan penggemar aktif karya-karya Shakespeare. Kontribusi Lings dalam kajian karya Shakespeare sangat banyak. Bahkan saat masih di Mesir, Lings mengajar bahasa Inggris di Universitas Kairo dan sering mementaskan sandiwara karya penyair Inggris. Tidak hanya itu, beberapa bukunya seperti *The Secret of Shakespeare: His Greatest Plays Seen in the Light of Sacred Art* (1998) dan *The Sacred Art of Shakespeare: To Take Upon Us the Mystery of Things* (1998) dianggap sebagai buku yang berhasil mengkaji makna karya Shakespeare dan aspek spiritualnya.
5. Pernah Diusir dari Mesir
Bagi Lings, Mesir telah menjadi rumah keduanya. Selama lebih dari satu dekade, Lings tinggal bersama istrinya, Lesley Smalley, di Mesir. Namun, sebelum Revolusi Abdul Nasser mencapai puncaknya, berbagai protes anti-Inggris merajalela di Mesir. Tiga rekan Lings saat itu bahkan tewas karena protes berdarah tersebut. Akibatnya, sekitar tahun 1952, Lings dan istrinya terpaksa meninggalkan Mesir dan kembali ke kampung halamannya di Inggris.
Itulah lima fakta menarik tentang Martin Lings, penulis biografi Nabi Muhammad yang paling terkenal. Lings bukan hanya seorang yang jenius, ia juga seorang yang religius.
Bimbingan Tuhan untuk Seorang Penyair
Menyebut nama Abu Bakar Siraj ad-Din, mungkin tidak banyak orang yang mengetahuinya. Ketika nama Martin Lings disebut, tentu hanya sebagian Muslim yang mengetahuinya. Namun, bagi kebanyakan santri, peneliti, dan tokoh Muslim, nama Martin Lings sangat populer karena tulisan dan karyanya mampu menginspirasi banyak orang dalam mempelajari Islam. Bahkan, penulis ini dulunya adalah seorang Kristen yang taat. Berkat bimbingan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, ia memeluk Islam dan menjadi mualaf.
Salah satu karyanya yang fenomenal berjudul *Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik Terawal* ( *Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources*), diterbitkan pada 1983. Buku yang berisi biografi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam ini dipersembahkan untuk pemimpin Pakistan, Zia-ul-Haq. Dengan gaya bercerita yang halus dan mudah dipahami, Martin Lings mampu menyajikan sejarah hidup dan perjalanan seorang figur inspiratif bagi dunia, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Ia menuliskannya dengan sangat detail dan menakjubkan bagi banyak kalangan. Buku ini dinilai sebagai salah satu biografi Nabi Muhammad terbaik yang pernah diterbitkan. Tentu hanya seseorang dengan kemampuan khusus yang dapat menghasilkan buku yang berkualitas dan menyentuh. Itulah yang dilakukan Martin Lings.
Karena kecintaannya pada Uswatun Hasanah, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, banyak pembaca memuji karya cendekiawan Inggris ini. Orang-orang menyebutnya sebagai "a tour de force", sebuah karya yang tak tertandingi, ditulis dari perspektif seorang sarjana-sejarawan yang juga mempraktikkan Islam dalam keseharian. Buku itu dengan cepat menjadi terkenal dan menjadi salah satu bacaan wajib tentang kehidupan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam 10 bahasa dan menerima sejumlah penghargaan dari dunia Islam.
Profesor Hamid Dabashi dari Columbia University mengungkapkan kekagumannya saat membaca buku *Muhammad* karya Lings: "Kita akan mampu merasakan semacam efek kimiawi pada narasi dan komposisi bahasa, yang dipadukan dengan ketepatan dan gairah sang Penyair. Lings adalah sarjana-penyair," katanya.
Selain buku di atas, nama Martin Lings juga banyak dikenal dari berbagai karyanya lainnya, termasuk terjemahan teks-teks Islam, puisi, seni, dan filsafat. Dari tulisannya, Lings sering dibandingkan dengan peneliti seni Swiss-Jerman Titus Burckhardt, filsuf dan metafisikawan abadi Prancis René Guénon, serta sarjana Jerman Frithjof Schuon.
Martin Lings sangat identik dengan seorang sufi yang gigih menyebarkan Islam di Barat melalui tulisan dan artikelnya yang tajam dan kritis. Namun, hal yang paling mengesankan dari Lings adalah hubungan antara karya dengan semangatnya akan keindahan dan kecerahan. Ia mencurahkan jiwa dan hatinya untuk menghasilkan karya yang inspiratif, jelas, dan berkualitas tinggi.
Kini, sang tokoh telah tiada. Pada 12 Mei 2005, Lings menghembuskan nafas terakhirnya di usia 96 tahun di kediamannya di daerah Westerham, County Kent, Inggris. Umat Islam di seluruh dunia berduka atas meninggalnya sufi-penyair modern terkemuka ini.
Latar Belakang dan Perjalanan Menuju Islam
Berasal dari keluarga Kristen Protestan, Lings lahir di Burnage, Lancashire, Inggris pada 24 Januari 1909. Namun, ia menghabiskan masa kecilnya di Amerika Serikat mengikuti ayahnya. Ketika keluarga itu kembali ke Inggris, ia dimasukkan ke Clifton College, Bristol. Kemudian Lings melanjutkan pendidikannya di Magdalene College, Oxford. Ia mempelajari Sastra Inggris dan memperoleh gelar BA pada 1932. Pada 1935, ia memutuskan pergi ke Lithuania untuk menjadi pengajar studi Bahasa Anglo-Saxon dan Inggris Pertengahan di Universitas Kaunas.
Berkenalan dengan Islam
Pada 1939, Lings datang ke Mesir untuk mengunjungi sahabat dekatnya yang kebetulan mengajar di Universitas Kairo. Sahabat ini juga merupakan asisten filsuf Prancis, René Guénon. Namun, selama kunjungannya, sahabatnya itu meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Kemudian, Lings diminta untuk mengisi posisi yang ditinggalkan sahabatnya. Ia menerima tawaran itu. Lings pun mulai aktif mempelajari bahasa Arab dan mendalami Islam. Setelah bersentuhan dengan ajaran Sufi Syaikh Ahmad al-Alawi, ia memutuskan untuk memeluk Islam. Sejak saat itu, ia menjadi pribadi baru dengan nama Abu Bakar Siraj ad-Din.
Bagi Lings, Islam bukan sekadar agama. Islam adalah Pedoman Hidup bagi umat manusia. Ia sangat terkesan dengan Al-Qur'an dan pribadi Nabi Muhammad. Baginya, tidak ada figur yang melebihi Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, baik dalam akhlak maupun kepribadiannya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, bukunya yang berjudul *Muhammad: Kisah Hidup Nabi* adalah bukti kecintaannya pada Nabi Muhammad.
Komitmennya pada Islam dibawanya sepanjang hidupnya. Bahkan, 10 hari sebelum meninggal, Lings masih menjadi pembicara di depan 3.000 pengunjung pada acara maulid Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam bertajuk "Bersatu untuk Nabi" yang diadakan di Wembley, Inggris. Lings mengatakan, itu adalah kali pertama ia berbicara tentang makna kehidupan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam 40 tahun terakhir.
Setelah memeluk Islam, Lings menjadi lebih dekat dengan René Guénon yang juga telah memeluk Islam. Ia kemudian menjadi asisten pribadi dan penasihat spiritual Guénon. Saat tinggal di Mesir, ia menikah dengan Lesley Smalley. Keduanya kemudian tinggal di sebuah perkemahan pengungsi dekat piramida. Namun, ketika revolusi anti-Inggris oleh kaum nasionalis yang memicu kerusuhan melanda Mesir, Lings memutuskan untuk kembali ke Inggris pada 1952.
Sekembalinya dari negara di kawasan Afrika ini, ia melanjutkan pendidikannya di School of Oriental and African Studies (SOAS), London hingga meraih gelar doktor. Tesisnya membahas tentang seorang sufi terkenal dari Aljazair, Ahmad al-Alawi, yang kemudian ia terbitkan sebagai buku dengan judul *A Sufi Saint of the Twentieth Century*. Sementara istrinya yang berprofesi sebagai psikoterapis bekerja di bidangnya.
Kemudian pada 1955, ia bekerja sebagai asisten ahli naskah-naskah kuno dari wilayah Timur di British Museum. Ia melakukan pekerjaan ini selama hampir dua dekade. Pada 1973, Lings bekerja merangkap di British Library, di mana ia memusatkan perhatiannya pada kaligrafi Al-Qur'an. Beberapa tahun kemudian, ia menerbitkan karya klasiknya tentang subjek yang sama, yaitu *The Quranic Art of Calligraphy and Illumination* bertepatan dengan Festival Dunia Islam 1976.
Sejak itu, Lings mulai menulis secara rutin. Karya-karyanya selain tentang Sufisme dan buku lainnya termasuk artikel-artikel tentang Sufisme dalam publikasi Cambridge University, *Religion in the Middle East*, dan *The Eleventh Hour: The Spiritual Crisis of the Modern World in the Light of Tradition and Prophecy*, serta banyak artikel untuk jurnal triwulan *Studies in Comparative Religion*. Jurnal ini berkontribusi dalam memperluas wawasan Dunia Barat dalam memahami ketinggian Islam.
Pemuja Shakespeare
Selain berkarya di bidang filsafat, Lings juga aktif di bidang seni. Karya awalnya dalam seni dimulai pada 1944 dengan memproduksi drama Shakespeare. Para pemainnya tidak lain adalah murid-muridnya sendiri. Ia sangat menikmati mempelajari karya sang pujangga. Ketertarikannya pada karya Shakespeare kemudian membawanya, sekitar 40 tahun kemudian, untuk menulis buku berjudul *The Sacred Art of Shakespeare: To Take Upon Us the Mystery of Things*.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap karya Lings, Putra Mahkota Inggris, Pangeran Charles, bersedia memberikan kata pengantar untuk buku ini. Dalam pengantarnya, Pangeran Charles menulis, "Genius khusus Lings terletak pada kemampuannya untuk menyampaikan, seperti yang tidak dilakukan orang lain sebelumnya, teks-teks dasar yang ia sajikan dalam karya teater ini telah meninggalkan kesan mendalam, tidak hanya bagi para pencinta seni, tetapi juga bagi pembaca biasa." (*)
Sumber:Martin Lings
No comments:
Post a Comment