Semangat Hari Batik: Kisah Nurita Batik, dari Pelatihan CSR Hingga Tembus Pasar Internasional
Pasuruan, 9 Oktober 2025 – Di tengah peringatan Hari Batik Nasional, semangat melestarikan warisan budaya dunia (UNESCO, 2009) terasa kuat di Kabupaten Pasuruan. Salah satu pelakunya adalah Nurita Iza Rosdiani, pemilik Nurita Batik, sebuah sanggar yang membuktikan bahwa seni batik lokal mampu bersaing dan menembus pasar global.
Berlokasi di Jalan Raya Gondang Legi 375, Desa Cangkiring Malang, Kecamatan Beji, Nurita Batik tidak hanya menjadi pusat produksi, tetapi juga galeri dan pusat edukasi.
Berawal dari Program Pemberdayaan Perempuan
Dalam wawancara eksklusif di sanggarnya, Nurita Iza Rosdiani, yang akrab disapa Rita, menceritakan perjalanan usahanya yang dimulai dari sebuah kesempatan pelatihan.
"Pada akhir tahun 2013, saya diajak oleh CSR Pabrik Sorini Tbk, bersama 36 ibu-ibu PKK, diajari membatik. Awal 2014 kita mulai belajar," kenang Rita.
Pelatihan dari CSR pabrik tersebut berlangsung intensif hingga tahun 2018. Namun, sebelum memiliki produk sendiri, Rita dan kelompoknya sudah mulai menyebarkan ilmu. Mereka melihat tingginya minat masyarakat untuk belajar membatik.
"Sedikit ilmu yang saya dapat itu saya berikan kepada ibu-ibu. Ada kerjasama dengan KBPP untuk belajar pemberdayaan perempuan," tambahnya. Setelah tahun 2018, Rita baru secara serius merintis usaha mandiri dengan nama Nurita Batik.
Mengombinasikan Tradisi dan Inovasi Lokal
Nurita Batik menawarkan beragam jenis produk untuk memenuhi permintaan pasar yang bervariasi, termasuk batik tulis, batik cap, dan kombinasi keduanya. Namun, inovasi terbarunya adalah batik tulis kombinasi bordir.
Rita menjelaskan bahwa Pasuruan memiliki banyak perajin bordir, sehingga ia memilih untuk berkolaborasi dengan UKM bordir lokal.
"Kita kerjasama dengan teman yang UKM bordir untuk membordir dari hasil batik kita. Tapi tidak semua dibordir, takut asli batiknya ketutupan. Kita ambil bordir yang emas supaya lebih hidup batiknya," jelas Rita mengenai teknik kombinasinya.
Untuk bahan baku, Rita masih mengandalkan kain berkualitas dari Solo, seperti kain primis dan primisima, serta sutra. Sementara itu, untuk pewarnaan, selain menggunakan pewarna sintetis, Nurita Batik juga konsisten membuat warna alam dari bahan seperti daun jambu, daun mangga, hingga daun matoa.
Dari Malang Hingga Manca Negara
Keindahan dan kualitas karya Nurita Batik telah menarik perhatian tidak hanya di tingkat lokal dan nasional, tetapi juga internasional.
Rita aktif mengikuti berbagai pameran, seringkali difasilitasi oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Dinas Koperasi, dan bahkan Bank Indonesia (BI). Produknya telah dikirim ke berbagai kota di Indonesia, seperti Malang, Surabaya, dan Balikpapan.
Namun, yang paling membanggakan, produk Nurita Batik juga telah dikirim ke luar negeri, termasuk Belanda dan Malaysia. Rita juga pernah mendapat pesanan khusus dari pabrik pengalengan tuna asal Jepang yang ada di Pasuruan.
"Suatu pabrik di sini dari Jepang itu minta dibuatkan [batik] yang gambar ikan tuna. Itu dikirim ke Jepang untuk hiasan dinding," ungkapnya.
Galeri dan Pusat Edukasi
Sejak 2020, Nurita Batik telah memiliki galeri sendiri yang berlokasi di depan rumahnya. Di galeri ini, pengunjung tidak hanya disuguhkan kain dan baju, tetapi juga beragam aksesoris bermotif batik, mulai dari sarung, tas, hingga sepatu pantofel dan sneakers batik.
Selain berbisnis, Rita juga konsisten berbagi ilmu membatik. Ia membuka kelas membatik untuk umum, mulai dari ibu-ibu, mahasiswa, hingga bekerja sama dengan sekolah-sekolah TK dan SD untuk pengenalan dan praktik membatik.
"Setiap hari kita buka mulai Senin sampai Sabtu, jam 8 sampai jam 4. Jadi mereka kalau mau belajar, ya di antara jam itu," pungkas Rita.
Bagi masyarakat yang penasaran dengan koleksi indah ini, Nurita Batik Gallery terbuka setiap hari kerja dan informasinya bisa diakses melalui akun Instagram @NuritaBatik. (*)
No comments:
Post a Comment