Friday, October 31, 2025

Ella Rizki Bawa Koperasi Nira Lestari Go International

Di tengah pro-kontra program koperasi, topik koperasi kembali menjadi pembicaraan publik. Selama ini, koperasi sering dianggap sebagai kegiatan usaha yang konvensional, ketinggalan zaman, dan tidak menarik bagi anak muda. Namun, ada perspektif berbeda yang dibawa oleh seorang anak muda yang berhasil mengembangkan koperasi dengan gaya dan model bisnis kekinian. Sosok itu adalah El Rizki.

SESI WAWANCARA DENGAN EL RIZKI

Andy:"Ela, terima kasih sudah hadir. Silakan duduk. Ela berasal dari mana?"
El Rizki: "Asal saya dari Dusun Semen, Trenten, Candi Mulyo, Magelang."
Andy: "Dusun yang jalannya berliku, sempit, dengan tebing dan jurang. Umurmu berapa sekarang?"
El Rizki: "30."
Andy: "Pendidikan apa?"
El Rizki: "S3 Kimia di UK."

Mengawali Kiprah di Koperasi

Andy: "Jadi, Ella aktif di koperasi?"
El Rizki: "Iya betul, Bang Andy. Tahun 2017, saat semester 7 S1, saya sudah terjun ke koperasi. Saya terinspirasi film tentang HOS Cokroaminoto yang menggambarkan koperasi sebagai sesuatu yang keren dan memerdekakan. Saya pun ingin menjadi pahlawan idealis. Pada 2017, kami mengaktifkan kembali kelompok wanita tani Niraestari dan membentuk Koperasi Niramur. Kami memodernisasinya dengan istilah seperti Rapat Pemegang Saham, CEO, dan Manager, tidak menggunakan istilah lama."
Andy: "Jadi El sebagai apa di situ?"
El Rizki: "Jadi CEO-nya. CEO Koperasi Nira Lestari."
Perkembangan dan Ekspansi Koperasi

Andy: "Sudah berapa lama ngurusin koperasi ini?"
El Rizki: "Dari tahun 2017. Awalnya koperasi primer. Alhamdulillah, bisnis bisa ekspor pada 2020. Karena permintaan banyak, kami ekspansi dengan menggandeng koperasi lain dan memberdayakan petani gula kelapa."
Andy: "Yang diekspor apa?"
El Rizki: "Gula kelapa organik. Kami memberdayakan petani di daerah lain seperti Kulonprogo, Purworejo, Adonara (Flores), Jawa Timur, dan bahkan Malaysia."

TAYANGAN PROFIL EL RIZKI

(Menampilkan perjalanan El Rizki Farihatul Maftuhah yang mengubah wajah desanya. Ia memanfaatkan potensi kelapa dengan mengolah nira menjadi gula semut yang bernilai jual更高. Awalnya menghadapi penolakan dan tengkulak, tetapi lama-kelamaan warga beralih karena melihat keuntungannya. Ela kemudian membentuk Koperasi Kelompok Wanita Tani Niramur pada 2017. Beberapa koperasi primer di bawah induknya pun berdiri di Purworejo (85 anggota), Kulon Progo (233 anggota), dan Flores NTT (2 petani milenial).)

Kembali ke Sesi Wawancara

Andy: "Produknya dijual ke mana saja?"
El Rizki: "Secara lokal di seluruh Indonesia. Untuk ekspor, ke Malaysia, Kanada, Belanda, dan Korea."
Andy: "Berapa banyak anak muda yang jadi pengurus?"
El Rizki: "Secara keseluruhan sekitar 30%. Kami tempatkan anak muda di posisi penting seperti kepala cabang dan manajer. Bahkan, salah satu CSR kami dialokasikan untuk beasiswa anak petani agar terjadi regenerasi. Setiap buka cabang, kami tawarkan empat program CSR: beasiswa anak petani, sembako murah, kesehatan gratis, dan kelestarian lingkungan."

Merebranding Koperasi untuk Anak Muda

Andy: "Bagaimana meyakinkan anak muda bahwa koperasi cocok untuk mereka?"
El Rizki: "Itu masalah rebranding saja. Buktinya, dengan koperasi kita bisa ekspor, bahkan klub Barcelona itu koperasi. Kita rebranding dengan struktur modern: CEO, manajer produksi, manajer keuangan, tidak hanya mengandalkan satu orang ketua. Manajemen yang milenial, Gen Z, dan profesional akan lebih menarik. Ini juga membangkitkan patriotisme; anak muda butuh eksistensi untuk berkontribusi. Koperasi dengan kepemilikan modal bersama, keuntungan bersama, ekonomi kerakyatan yang berkeadilan, adalah jawabannya."

Dukungan Keluarga dan Motivasi

Andy: "Orang tua atau teman tidak mempertanyakan kok dengan pendidikan tinggi malah tertarik mengurus koperasi?"
El Rizki: "Alhamdulillah keluarga dan suami mendukung. Rencana awalnya mungkin ingin ke kota, jadi manajer, tapi rencana Tuhan membawa saya kembali ke desa malah jadi CEO. Saya juga terinspirasi ibu saya yang membentuk kelompok wanita tani. Permasalahan di desa adalah mereka bisa produksi tapi tidak bisa menjual dan mengelola usaha. Kami, anak muda, hadir untuk mengelola potensi SDA dan SDM agar maju. Kasihan petani, keuntungan mereka tipis, selisih harga yang tinggi tidak jatuh ke petani. Kami datang untuk memaksimalkan keuntungan agar mensejahterakan petani sekaligus menjaga harga konsumen di kota tidak terlalu mahal. Jadi, win-win solution."

PENUTUP

Andy: "Sekarang koperasi desa boleh mengajukan pinjaman dengan plafon 3 miliar."


Sumber:

No comments: