Monday, October 13, 2025

Titik Balik Digital India: Dari Raksasa Global ke Teknologi Lokal



Selama bertahun-tahun, narasi digital India ditulis oleh raksasa Amerika: Google, WhatsApp, Microsoft, dan Facebook. Kini, New Delhi bertekad untuk menulis bab baru. Di jantung kampanye ambisius ini berdiri seorang protagonis yang tak terduga: sebuah perusahaan bernama **Zoho**, yang didirikan oleh **Sridhar Vembu**.

Dua dekade kemudian, Zoho secara diam-diam mengoperasikan kerajaan software global. Portofolio lebih dari 50 aplikasi cloud-nya menggerakkan segala hal, dari sistem CRM hingga spreadsheet, menciptakan rangkaian bisnis yang menyaingi Microsoft 365 dan Google Workspace. Dan kini, mereka memperkenalkan sesuatu yang baru: aplikasi pesan buatan lokal bernama **Arattai**—yang berarti "mengobrol" dalam bahasa Tamil. Pemerintah mendorong orang India untuk mencobanya.

### **Dorongan Menuju Kedaulatan Digital**

Ini lebih dari sekadar simbolisme; ini adalah tawaran strategis untuk **kedaulatan digital**. Tujuannya adalah agar India mengontrol data, infrastruktur, dan ekosistem online-nya sendiri, bebas dari ketergantungan asing.

Baru-baru ini, Kementerian Pendidikan India telah menjadikan rangkaian aplikasi kantoran Zoho sebagai perangkat lunak wajib resmi untuk semua departemennya, menggantikan alat-alat dari Microsoft dan Google. Para menteri secara publik memamerkan presentasi yang dibuat dengan Zoho. Untuk mimpi kemandirian digital India, simbol barunya mungkin adalah **Arattai**.

### **Janji Arattai**

Aplikasi pesan baru Zoho ini sudah membuat gebrakan. Ia dirancang untuk:
*   **Ringan:** Berjalan pada koneksi internet yang lemah dan ponsel berharga murah.
*   **Serba guna:** Bahkan memiliki versi untuk Android TV—fitur yang masih belum ditawarkan WhatsApp.
*   **Privat:** Perusahaan berjanji data pengguna tidak akan dibagikan kepada pengiklan atau entitas asing.

Para menteri dan pengusaha sudah menggunakannya, dan jumlah unduhan melonjak. Untuk sesaat, Arattai bahkan melampaui WhatsApp di tangga unduhan Play Store.

### **Tantangannya: Bisakah Bertahan?**

Namun, di balik sorak-sorai tersembunyi pertanyaan kritis: dapatkah kesuksesan ini dipertahankan? India pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya.

*   **Koo** digadang-gadang sebagai "Twitter-nya India," tetapi setelah hiruk-pikuk awal, pendanaannya mengering dan platform itu ditutup.
*   **Hike Messenger**, yang pernah menjadi pesaing WhatsApp, menghadapi nasib serupa karena pengguna kembali ke aplikasi yang lebih mapan.
*   Kisah ini terulang dengan aplikasi video pendek seperti **Moj, Chingari, dan Mitron**, yang berjanji menggantikan TikTok tetapi menghilang karena inovasi yang buruk dan kelelahan investor.

### **Mengapa Aplikasi India Sulit Bertahan**

Membangun aplikasi itu mudah; mempertahankan pengguna itu yang sulit. Sebagian besar platform India terjebak dalam **"jebokan peniru"**—menyalin produk global tanpa meningkatkan secara berarti.

Zoho memiliki satu keunggulan signifikan: mereka **menguntungkan, independen, dan bebas utang**. Namun, aplikasi perpesanan adalah bidang yang berbeda. Aplikasi seperti WhatsApp dan Telegram beroperasi dalam skala global yang masif, dengan miliaran pengguna, server farm di seluruh benua, dan teknologi enkripsi yang telah disempurnakan selama bertahun-tahun. Agar Arattai bisa bersaing, ia harus membangun infrastruktur yang setara kelas dunia.

Lalu ada masalah **kepercayaan**. Meski orang Indonesia mungkin menyukai ide aplikasi buatan dalam negeri, mereka juga menghargai keandalan. Bendera merah saat ini bagi pengguna yang peduli privasi adalah bahwa Arattai belum mengenkripsi *semua* pesan secara ujung-ke-ujung.

### **Di Persimpangan Jalan**

Kisah teknologi India kini berada di persimpangan. Di satu sisi terletak ambisi untuk membangun ekosistem digitalnya sendiri. Di sisi lain adalah realitas pasar yang sangat kompetitif.

Arattai dari Zoho mungkin tidak akan menggeser WhatsApp dalam semalam, tetapi itu bukanlah intinya. Yang benar-benar penting adalah India akhirnya, dengan sungguh-sungguh, berusaha untuk membangun, bukan hanya meminjam. (*)

No comments: