Kajian Ustadz Abu Qosim, Senin 6/10/2025 di Masjid Al Ishlah Al Irsyad Kota Pasuruan ini merupakan kelanjutan dari tafsir surah Al-Fath, membahas sanksi yang ditimpakan Allah kepada orang-orang munafik dan musyrik, serta menjelaskan tugas kenabian utama Nabi Muhammad SAW berdasarkan Surah Al-Fath Ayat 8.
1. Sanksi Allah bagi Kaum Munafik dan Musyrik
Ayat sebelumnya (sebelum Ayat 8) menjelaskan nasib orang-orang munafik (yang pura-pura beriman) dan orang-orang musyrik (yang menyekutukan Allah). Mereka ditimpa sanksi keras, yaitu:
Kebinasaan: Mereka ditimpa kebinasaan akibat perasaan dan perbuatan mereka sendiri.
Murka dan Laknat: Allah murka dan melaknat mereka, yang berarti mereka dijauhkan dari rahmat dan kasih sayang Allah.
Azab Jahanam: Allah telah menyediakan azab Jahanam sebagai seburuk-buruk tempat kembali bagi mereka.
2. Tugas Kenabian Muhammad SAW (Surah Al-Fath: 8)
Ayat 8, yang berbunyi: "إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا" (Sesungguhnya Kami mengutus engkau, wahai Muhammad, sebagai saksi, pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan), menjelaskan tiga fungsi utama Rasulullah SAW:
A. Syahidan (Sebagai Saksi)
Makna Tugas: Nabi Muhammad diutus sebagai saksi atas seluruh manusia ('alal khalqi), sejak zaman Nabi Adam hingga Hari Kiamat.
Inti Dakwah: Apa yang disampaikan Nabi Muhammad adalah kelanjutan dari ajaran para rasul sebelumnya (Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, hingga Nabi Isa), yaitu ajakan untuk mengesakan Allah (tauhid) dan menjauhi thagut (sesembahan selain Allah).
Syafaatul Kubro: Pada Hari Kiamat, ketika semua manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar dalam kesulitan, Nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya yang diberi izin Allah untuk memberikan Syafaatul Kubro (pertolongan besar), menjadikannya Sayyidul Walad Adam (Pemimpin seluruh anak cucu Adam).
B. Mubasysyiran (Pemberi Kabar Gembira)
Makna Tugas: Memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang beramal saleh.
Kabar Gembira: Balasan bagi mereka adalah surga—kehidupan yang kekal abadi, penuh kenikmatan.
Kenikmatan Tertinggi: Kenikmatan terbesar di surga adalah kemampuan untuk melihat langsung kepada Allah SWT. Ini digambarkan dalam Surah Al-Qiyamah, bahwa wajah orang mukmin pada Hari Kiamat akan berseri-seri gembira karena karunia ini.
(Catatan: Bagian ketiga dari ayat 8, yaitu Nadziiran (Pemberi Peringatan), kemungkinan akan dibahas pada segmen kajian berikutnya).
Lanjutan Tafsir Surah Al-Fath: Peringatan, Iman, dan Penghormatan kepada Rasulullah SAW
Ini adalah kelanjutan dari tafsir Surah Al-Fath, membahas fungsi ketiga kenabian Muhammad SAW (Nadziiran), kewajiban beriman dan menghormati Rasul, serta perbandingan sikap umat Islam dengan umat Nasrani dan Yahudi.
3. Nadziiran (Pemberi Peringatan)
Makna Tugas: Nabi Muhammad SAW juga bertugas menyampaikan kabar tentang ancaman (peringatan) dari Allah.
Target Peringatan: Peringatan ini ditujukan kepada kaum kafir—orang yang tidak mau beriman kepada Allah, Rasul, dan menolak Islam.
Isi Peringatan: Ancaman bahwa mereka akan mendapatkan siksaan di neraka Jahanam dan akan kekal di dalamnya.
4. Kewajiban Beriman dan Menghormati Rasul
Tugas kenabian tersebut disampaikan agar kaum Muslimin memenuhi kewajiban yang tertuang dalam ayat berikutnya:
A. Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya
Umat diperintahkan untuk:
Beriman kepada Allah (tu'minuu billaahi): Kalimat Laa ilaaha illallaah (Tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah) harus tertanam di hati. Ibadah hanya ditujukan kepada Allah saja.
Beriman kepada Rasul-Nya (wa rasuulihi): Mengakui dan meyakini bahwa Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib dari suku Quraisy adalah utusan Allah yang menyampaikan ajaran-Nya kepada seluruh umat manusia.
B. Mengagungkan dan Membela Rasul (Wa tu'azziruhu wa tuwaqqiruhu)
Allah memerintahkan umat Islam untuk menghormati, mengagungkan, dan membela Nabi Muhammad SAW (tu'azziruhu wa tuwaqqiruhu) dengan cara yang adil dan tidak berlebihan (tidak buta).
Ini adalah keseimbangan yang harus dijaga oleh umat Islam, berbeda dengan dua umat terdahulu:
| Umat | Sikap terhadap Nabi | Kesalahan |
| Nasrani | Berlebihan (ghuluw) | Mereka menganggap Nabi Isa bukan hanya Abdullah (hamba Allah) tetapi Anak Tuhan (Tuhan Putra), sebuah pengagungan yang melampaui batas. |
| Yahudi | Meremehkan (tashawwur) | Mereka suka menentang dan merendahkan para rasul. Contohnya, ketika Nabi Musa menyeru perang, mereka berkata, "Pergilah kamu dan Tuhanmu, dan berperanglah berdua, kami akan duduk di sini saja." |
C. Kedudukan Rasulullah SAW
Sikap umat Islam harus tenang (moderat) karena:
Aspek Abdun: Nabi Muhammad SAW adalah hamba Allah (abdullah). Beliau memiliki sifat kemanusiaan (sakit, tidur, lapar, butuh istri dan anak, berbelanja ke pasar).
Aspek Rasul: Yang membedakannya dari manusia lain adalah beliau adalah utusan Allah (wa rasuluh).
Oleh karena itu, perintah Allah untuk tunduk dan membela (tu'azziruhu) diartikan oleh Abdullah bin Abbas sebagai kepatuhan total kepada Muhammad SAW, mendukungnya, dan membelanya (seperti yang dilakukan para sahabat dalam ketaatan berumrah, meskipun sempat ada perselisihan).
Lanjutan Tafsir Surah Al-Fath: Sikap Munafik, Pentingnya Dzikir, dan Bai'at Ridwan
Kajian ini melanjutkan pembahasan mengenai sikap kaum munafik yang enggan berjuang, serta pentingnya ketaatan dan dzikir di waktu utama, yang puncaknya ditunjukkan melalui peristiwa Bai'at Ridwan.
1. Alasan Kaum Munafik Menolak Berjuang
Ayat berikutnya mengungkap alasan-alasan yang dikemukakan oleh orang-orang munafik (orang yang di hatinya ada penyakit) untuk tidak ikut bersama Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan ke Mekah (Umrah Hudaibiyah):
Alasan Harta dan Keluarga (syagholatna amwaalunaa wa ahluuna): Mereka beralasan bahwa harta dan keluarga mereka akan terlantar. Mereka khawatir jika tidak bekerja, istri dan anak mereka tidak akan mendapatkan nafkah.
Alasan Keamanan: Mereka juga khawatir jika terjadi perang dengan penduduk Mekah, keluarga mereka di Madinah akan menjadi korban dan terlantar.
Nabi SAW memerintahkan kaum Muslimin untuk mendukung dan membela perjuangan Nabi, karena kemenangan akan membawa kedamaian dan kenyamanan dalam beribadah.
2. Keutamaan Dzikir di Waktu Pagi dan Sore (Bukratan wa Ashiila)
Ayat selanjutnya mendorong umat Islam untuk mensucikan Allah (bertasbih) di waktu pagi dan sore:
Makna: Mensucikan Allah (wa tusabbihuhu) di waktu pagi (bukratan) dan waktu sore (ashiila). Hal ini menunjukkan bahwa ibadah akan terasa lebih tenang dan leluasa ketika umat berada dalam kondisi aman dan jaya (tidak dijajah atau dikuasai musuh).
Waktu Utama: Waktu pagi dan sore adalah waktu yang sangat utama karena menjadi peralihan tugas Malaikat penjaga malam dan Malaikat penjaga siang.
Malaikat penjaga malam baru kembali dan Malaikat penjaga siang baru datang (di waktu Subuh).
Malaikat penjaga siang akan kembali melapor dan Malaikat penjaga malam baru datang (di waktu Ashar/sore).
Kedua Malaikat ini menyaksikan amalan hamba, menjadikan amalan di waktu tersebut istimewa.
Keistimewaan Salat Sunah: Oleh karena itu, setelah salat Subuh dan setelah salat Ashar, tidak ada salat sunah yang disyariatkan. Tujuannya adalah agar waktu tersebut diisi penuh dengan mensucikan Allah (dzikir) dan ketaatan.
3. Peristiwa Bai'at Ridwan (Janji Setia yang Diridhai)
Kajian ini mengaitkan janji setia umat Islam kepada Nabi SAW dengan peristiwa Perjanjian Hudaibiyah:
Latar Belakang: Ketika Nabi SAW bersama para sahabat singgah di Hudaibiyah dalam rangka umrah, tersiar kabar bohong bahwa Utsman bin Affan (yang diutus sebagai wakil) telah dibunuh oleh kaum Quraisy Mekah.
Janji Setia: Mendengar kabar tersebut (yang ternyata hoax), Nabi SAW meminta para sahabat untuk berkumpul dan bersumpah setia untuk membela darah Utsman.
Mereka berjanji akan membalas jika Utsman dibunuh, tidak akan melarikan diri dari peperangan, dan siap mengorbankan seluruh harta.
Pujian Allah: Karena janji setia (bai'at) yang mulia ini, Allah SWT ridha dan merasa puas terhadap apa yang dilakukan oleh kaum Muslimin.
Nama Peristiwa: Janji setia ini dikenal sebagai Bai'atur Ridhwan (Janji Ridwan), sebagaimana firman Allah:
"إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ..."
Sesungguhnya orang-orang yang berbai'at (berjanji setia) kepadamu (wahai Muhammad) hanyalah berbai'at kepada Allah...
No comments:
Post a Comment