Sunday, October 05, 2025

KH. Zulfa Mustofa: Saling Mengagumi antara NU dan Muhammadiyah


Dalam ceramahnya, KH. Zulfa Mustofa membahas adanya kekaguman timbal balik (saling iri) antara dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, serta menyoroti perbedaan mendasar dalam sistem organisasi, kekuatan ekonomi, dan khidmah keagamaan.


1. Kekaguman Timbal Balik (Saling Iri)

KH. Zulfa Mustofa menyampaikan bahwa kekaguman antara NU dan Muhammadiyah bersifat positif dan saling melengkapi:

Organisasi yang IriKekuatan yang DiagumiAlasan Kekaguman/Kebutuhan
NU (Masyarakat Umum)MuhammadiyahMemiliki rumah sakit dan kampus yang bagus serta sistem pengelolaan keuangan (holding) yang rapi.
Muhammadiyah (Pengurus)NUMemiliki khidmah keagamaan yang kuat, terutama kaderisasi ulama yang alami di 38.000 pesantren dan madrasah yang eksis, memastikan ulama tidak pernah habis.

2. Perbedaan Sistem Organisasi & Kekuatan Ekonomi

Perbedaan sistem ini menghasilkan model pengelolaan aset dan keuangan yang berbeda:

Muhammadiyah (Model Holding / Sentralistik)

  • Sistem: Dibangun dari pusat (holding), kemudian membentuk cabang-cabang (ranting) di daerah.

  • Pendekatan: Jika ada daerah yang belum ada Muhammadiyah, pusat turun, membangun aset (sekolah/RS), dan mengirim guru sekaligus pengurus.

  • Keuangan: Uang dikumpulkan dalam satu rekening besar di tingkat pusat (sekian puluh triliun), menjadikannya terlihat lebih rapi dan kuat secara institusional.

  • Kritik Internal: Salah satu pengurus Muhammadiyah (Dr. Imam Daru Qutni) merasa Muhammadiyah lambat laun terlihat seperti perusahaan yang terlalu berorientasi pada keuntungan.

Nahdlatul Ulama (Model Desentralistik / Berbasis Komunitas)

  • Sistem: Lahir terbalik; organisasi dibentuk setelah warganya sudah ada dan memiliki aset masing-masing (pesantren, pondok, sekolah).

  • Kelemahan Pengaturan: Sulit mengatur pengurus NU karena mayoritas kiai pesantren adalah "raja-raja kecil" di daerahnya sendiri.

  • Kekuatan Ekonomi Tersembunyi: NU sebenarnya lebih kaya tetapi kiai-kiai bersifat khumul (menyembunyikan) kekayaan dan enggan melaporkan total aset.

    • Contoh: MWC NU Ngasem (hanya satu Majelis Wakil Cabang) mengelola BMT dengan dana lebih dari 500 miliar dan memiliki bangunan lima lantai (hotel, swalayan, gym).

Kekuatan Muslimat NU

  • Keunggulan: Harus diakui bahwa Muslimat NU (organisasi perempuan NU) sangat rapi dan amanah dalam mengelola uang dan aset, seperti Darul Hadhanah (Panti Asuhan).


3. Strategi Perimbangan dan Prioritas NU Saat Ini

Untuk menyimbangkan kekaguman timbal balik tersebut, kedua organisasi kini mengejar keunggulan masing-masing:

  • Muhammadiyah Mengejar NU: Muhammadiyah sekarang sedang membangun Sekolah Tarjih khusus untuk mencetak kader ulama (mufti), menunjukkan betapa sulitnya mencetak ulama secara instan.

  • NU Mengejar Muhammadiyah: NU tidak perlu membuat sekolah ulama khusus karena kader ulama lahir secara alami dari puluhan ribu pesantren (Bahsul Masail sudah berjalan).

    • Kebutuhan NU: Yang perlu ditambah di NU saat ini adalah sarjana non-agama (ekonomi, dokter, perawat, insinyur, camat, kapolsek, danramil) untuk mengisi pos-pos strategis.

4. Etika Berpolitik dan Berdemostrasi Ala NU

Ustadz Anang menekankan bahwa ciri khas orang NU adalah kesantunan dan ketegasan dalam menyampaikan pendapat:

  • Tidak Merusak: Orang yang mengaku NU tetapi merusak saat demo disebut "ora pati NU" (tidak benar-benar NU).

  • Demonstrasi Saleh: NU jika berdemo selalu menggunakan cara yang baik dan tegas, seringkali dengan Istighasah.

    • Contoh: Demo di Sayung, Demak, yang terkena banjir rob terus-menerus. Demo dilakukan dengan Istighasah dan dihadiri 5.000 orang. Aksi tersebut berhasil membuat dana pembangunan senilai Rp1,7 triliun turun langsung.

  • Pentingnya Guru Madrasah: Anggota dewan diimbau untuk memperhatikan guru madrasah yang gajinya hanya Rp200.000. Jika tidak diperhatikan secara ekonomi, dikhawatirkan mereka akan berhenti mengajar ngaji dan beralih menjadi tim sukses (politik), yang akan merugikan khidmah keagamaan NU. (*)


No comments: