BATU – Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyerukan pentingnya *Risalah Islam Berkemajuan* sebagai fondasi peradaban dan manifesto perjuangan umat Islam dalam menghadapi krisis spiritual global, termasuk sekularisme dan *scientism*. Seruan ini disampaikan KH Fathurrohman Kamal dalam RAKERÑAS II Majelis Tabligh Muhammadiyah yang dihadiri perwakilan Muhammadiyah dari 32 wilayah di Indonesia dan negara-negara tetangga. (Jumat, 24/10/2025)
Dalam pidatonya, beliau menegaskan bahwa organisasi ini memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga agama Allah.
"Karomah yang sesungguhnya adalah ketika orang betul-betul menegakkan agama Allah, menegakkan syariah Allah secara berjamaah," ujarnya, menolak definisi karomah dalam makna artifisial.
*Tantangan Global: Sekularisme dan 'Loss of Soul'*
Pimpinan Muhammadiyah tersebut menyoroti kondisi kemanusiaan global yang tengah menghadapi problem besar yang telah diidentifikasi dalam *Muktamar Muhammadiyah ke-45 Tahun 2005* dan ditegaskan kembali dalam *Muktamar Satu Abad Tahun 2010*.
"Ada problem besar dalam kemanusiaan global, apa yang disebut dengan sekularisasi dan derumanisasi," jelasnya.
Menurutnya, keputusan *Muktamar* tersebut mengidentifikasi bahwa manusia modern sedang mengalami *loss of soul* (hilangnya dimensi roh), krisis moral, dan ketidakpastian masa depan.
"Hari ini, anak-anak kita generasi Z menghadapi satu teror yang sangat besar dalam apa yang disebut *scientism*," tambahnya. *Scientism*, yang mengukur kebenaran hanya dengan ilmu pengetahuan empiris, dianggap berujung pada suasana mempertuhankan kehidupan, hingga munculnya relativisme nilai dan krisis makna.
*Risalah Islam Berkemajuan sebagai Solusi*
Sebagai respons, *Muhammadiyah* menetapkan **Risalah Islam Berkemajuan** sebagai solusi utama. Risalah ini harus menjadi dua hal:
1. **Ashlami (Platform):** Harus menjadi kerangka hikmah dalam berdakwah dan menghadapi semua realitas.
2. **Manifesto Perjuangan:** Harus diorganisir, disistemkan, dan diperjuangkan.
"Peradaban yang dibangun atas landasan serba dunia ini akan rapuh dan bahkan mendatangkan malapetaka. Karena itu nilai-nilai agama harus dijadikan sebagai landasan tentu dari peradaban agar [tegak]," tegasnya.
*Pesan Sayyidina Ali dan Strategi Dakwah Humanis*
Selain membahas strategi kelembagaan, pidato tersebut juga menyentuh aspek kesalehan personal. Mengutip perkataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib *karramallahu wajhah*, ia mengingatkan kembali tentang pentingnya takwa sebagai sebaik-baik bekal menuju akhirat.
"Andaikan saja musti Allah mengizinkan kepada ahli kubur untuk berbicara. Mereka itu pasti akan bilang, sebaik-baik bekal adalah ketakwaan," kutipnya.
Dalam konteks mencapai ketakwaan, Sayyidina Ali menyebut ada *lima hal yang menghalangi seseorang menjadi orang saleh*:
1. **Merasa senang dengan kebodohan (*Al-Rukunan bil Jahli*):** Enggan belajar dan menambah ilmu.
2. **Rakus terhadap dunia:** Terlalu tamak dan ambisius terhadap urusan rezeki yang sudah terukur.
3. **Pelit dengan kelebihan yang dimiliki (*Wasyuhu bil-Fadli*):** Kikir terhadap harta atau kelebihan.
4. **Riya' dalam beramal** (Pamer dalam ibadah).
5. **Membanggakan diri di atas yang lainnya** (Sombong).
Terakhir, Fathurrohman menyerukan agar strategi *dakwah* *Muhammadiyah* di era ini harus **mencerahkan, menggembirakan, dan humanis**—terutama bagi generasi milenial dan generasi Z. Ditambahkan, "merekat".
Ia juga menekankan agar *dakwah* diperluas kepada non-Muslim dengan menampilkan keindahan Islam secara praktis, bukan melalui perdebatan teologis. (*)
No comments:
Post a Comment