Khutbah Jumat *Ustadz Aqib Abdul Haris* di Masjid Salim Mubarak Sulthon Nganjuk pada 5 September 2025.
Dalam khutbahnya, Ustadz Aqib Abdul Haris mengajak para jamaah untuk senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah SWT. Beliau menekankan bahwa takwa adalah keuntungan terbesar, sementara maksiat adalah kerugian yang paling besar.
*Syukur Atas Nikmat Iman dan Islam*
Ustadz Aqib mengingatkan jamaah untuk bersyukur atas nikmat iman dan Islam, karena keduanya menjadikan hidup bermakna dan mengarah pada surga yang kekal abadi. Sebaliknya, tanpa iman, hidup akan menjadi perjalanan yang mengerikan menuju neraka. Beliau menegaskan bahwa nikmat ini begitu agung, bahkan jika kita mensyukurinya selama jutaan tahun atau mengorbankan seluruh hidup dan harta, itu tidak akan pernah cukup.
Mengutip Surat As-Sajdah ayat 17, beliau menjelaskan bahwa tidak ada seorang pun, bahkan para nabi, rasul, atau malaikat, yang tahu secara detail kenikmatan luar biasa yang Allah siapkan untuk orang-orang beriman. Hanya Allah SWT yang mengetahui sepenuhnya balasan atas amal perbuatan mereka.
*Keagungan Menjadi Umat Nabi Muhammad SAW*
Ustadz Aqib juga mengajak jamaah untuk bersyukur menjadi umat Nabi Muhammad SAW, karena hal itu merupakan karunia yang sangat besar. Beliau menyebutkan bahwa bahkan para nabi yang mulia pun berkeinginan menjadi umat Nabi Muhammad. Keuntungan menjadi umat Nabi ﷺ begitu besar, sehingga cukup untuk membuat kita memuji Allah siang dan malam.
Namun, beliau juga mengingatkan bahwa menjadi umat Nabi Muhammad tidaklah cukup hanya dengan klaim. Kita harus berpegang teguh pada sunah dan cara hidup Nabi. Beliau khawatir jika kita tidak benar-benar mengamalkan sunah, maka kelak kita tidak akan diakui sebagai umatnya. Ustadz Aqib mengutip janji Nabi Muhammad yang tidak akan pernah merasa puas dan akan terus mencari umatnya, dan tidak akan tenang jika ada satu umatnya saja yang masuk ke dalam neraka.
*Al-Quran dan Umur sebagai Karunia*
Khutbah ini juga menyoroti keagungan Al-Quran. Beliau menyebut Al-Quran sebagai kitab termulia yang berisi ilmu para nabi dan rasul. Al-Quran akan menjadi pemberi syafaat yang pasti diterima oleh Allah. Oleh karena itu, Ustadz Aqib mengajak jamaah untuk mencintai, membaca, mengamalkan, dan memperjuangkan Al-Quran.
Selain itu, beliau menekankan bahwa umur adalah karunia yang sangat besar. Beliau membandingkan orang yang menyia-nyiakan umurnya dengan orang yang membuang dan membakar uang satu koper. Menurutnya, orang yang menyia-nyiakan umur lebih bodoh dan lebih gila karena umur bisa digunakan untuk membeli surga. Setiap detik dan setiap napas harus diisi dengan amal kebaikan untuk membangun bekal di akhirat.
*Fokus pada Akhirat dan Tidak Tergiur Kehidupan Dunia*
Ustadz Aqib mengingatkan bahwa dunia ini adalah tempat sementara. Rumah, sawah, ladang, dan harta akan ditinggalkan. Beliau mengajak jamaah untuk tidak tergiur dengan kehidupan dunia yang fana, karena pada akhirnya kita semua akan menghadapi kematian dan akhirat.
Satu-satunya yang bisa menolong kita adalah Allah SWT. Maka, orang beriman seharusnya hanya terkesan dan tergiur dengan Allah dan kehidupan akhirat. Beliau mengakhiri khutbahnya dengan nasihat untuk membersihkan hati dari kecintaan pada dunia dan menghadapkannya sepenuhnya pada akhirat, karena Nabi Muhammad dan para sahabat telah menunggu di sana. Beliau juga menyarankan agar jamaah selalu datang awal ke masjid pada hari Jumat, karena para malaikat akan mencatat dan memberikan pahala yang besar bagi mereka yang hadir lebih dulu. (*)
No comments:
Post a Comment