PASURUAN – Di tengah kesibukan Kota Pasuruan, ada kisah unik dari seorang pedagang bubur keliling bernama Sokhe. Bersama istrinya, ia berjualan bubur mutiara, bubur sumsum, dan bubur safar dengan cara yang tidak biasa, berkeliling di area pabrik.
Sebelum menjadi pedagang bubur, Sokhe memiliki perjalanan hidup yang berliku. Ia pernah bekerja di sebuah perusahaan besar asal Korea Selatan, Samsung, setelah lulus sekolah.
"Dulu saya lulus tahun 1991, langsung diterima di Samsung. Saya kerja di bagian packing. Pernah juga menjadi tukang.becak. Dan menjadi karyawan Pelayaran Meratus bagian forwarding, mengecek barang-barang yang keluar masuk pabrik," kenangnya.
Namun, di Meratus Sokhe terkena PHK tahun 2017. Dari terdampak PHK inilah ia mencoba peruntungan lain, salah satunya menjadi pedagang. "Dulu saya pernah jualan nasi kebuli juga, tapi akhirnya kembali ke Pasuruan dan mencoba jualan bubur," ujarnya.
Ia dan istrinya, yang biasa dipanggil "Pak/bu Bubur" memulai usaha bubur mereka sekitar dua tahun lalu. Istrinya bertugas memasak bubur di rumah, sementara ia sendiri berkeliling menjajakan dagangan. Setiap hari, mereka bisa menjual hingga 60 porsi bubur.
"Istri yang masak, saya yang keliling. Kami mulai berangkat setelah subuh, keliling ke pabrik-pabrik di kawasan Rembang. Kadang jam 8 pagi sudah habis," cerita Sokhe.
Pendapatannya per hari ia serahkan sepenuhnya kepada sang istri, yang ia sebut sebagai "Menteri Keuangan." "Saya tidak pernah hitung untung bersihnya. Begitu dapat uang, langsung saya kasihkan ke istri," katanya sambil tertawa.
Sokhe mengakui, meskipun pekerjaannya sekarang jauh berbeda dengan dulu, ia menikmati kehidupannya. Ia merasa lebih bebas, bahkan tidak terbebani dengan persaingan dari pedagang lain. "Kadang ada pedagang lain yang tidak suka, tapi saya santai saja. Yang penting fisik kuat dan terus berjuang," ungkapnya.
Kisah Pak Sokhe mengajarkan tentang arti perjuangan, kerja keras, dan pentingnya saling percaya dalam berumah tangga. Dari seorang karyawan perusahaan multinasional, ia menemukan kebahagiaan dan keberkahan dalam menjalani hidup sebagai pedagang bubur sederhana. (*)
No comments:
Post a Comment