Pertanyaan yang sangat dalam dan filosofis. "100 tahun Gontor. Apa yang kau cari?" bukan sekadar pertanyaan, tetapi sebuah gugahan untuk merefleksikan tujuan dan makna.
Pertanyaan ini menggemakan pesan yang sering disampaikan oleh para pendiri dan pengasuh Pondok Modern Darussalam Gontor. Dalam konteks satu abad, "apa yang kau cari" bisa ditujukan kepada:
* Para Santri: Apa tujuanmu menuntut ilmu di sini? Hanya ijazah dan pekerjaan, atau juga mencari ilmu yang bermanfaat, pembentukan karakter, dan pengabdian kepada masyarakat?
* Para Alumni: Sudahkah ilmu dan nilai-nilai Gontor yang kamu dapatkan membawa manfaat untuk dunia dan akhiratmu? Apa kontribusimu untuk umat?
* Lembaga Gontor itu sendiri: Sebagai sebuah institusi yang telah berusia seabad, apa misi dan visi ke depan yang ingin dicapai untuk terus mencetak generasi terbaik?
Secara esensial, jawaban dari "Apa yang kau cari?" di Gontor merujuk pada trilogi motto yang menjadi fondasinya:
1. Hobby kepada bekerja (حَبُّ الْعَمَلِ) - Mencari keuletan, kemandirian, dan etos kerja yang tinggi.
2. Berani hidup sederhana (جُرْءَةُ الْاِقْتِصَادِ) - Mencari ketulusan, kesahajaan, dan kebebasan dari ketergantungan pada materi.
3. Kebebasan berpikir (حُرِّيَّةُ الْفِكْرِ) - Mencari ilmu yang mendalam, kebijaksanaan, dan kemandirian berpikir.
Jadi, di usia 100 tahun, Gontor mengajak setiap insan yang terlibat di dalamnya untuk mencari dan mengingat kembali tujuan utama: bukan sekadar gelar atau kesuksesan duniawi, tetapi pembentukan pribadi yang beriman, bertakwa, berilmu, dan beramal untuk kemaslahatan umat manusia (khairu ummah).
Singkatnya, yang dicari adalah pengetahuan yang membebaskan, karakter yang kuat, dan spiritualitas yang mendalam untuk bekal mengabdi di dunia dan akhirat. (*)
No comments:
Post a Comment