Monday, September 22, 2025

Fenomena Job Hugging: Mengapa Pekerja Bertahan di Tengah Ketidakpastian Ekonomi?


SURABAYA – Program Dialog Wawasan di Suara Surabaya, Senin 22/9/2025, membahas fenomena job hugging, di mana pekerja cenderung bertahan di posisi mereka, bahkan jika tidak puas. Fenomena ini disebut-sebut sebagai respons terhadap kondisi ekonomi yang tidak menentu. Narasumber yang hadir antara lain pakar ketenagakerjaan UGM, Prof. Dr. Tadjuddin Noer Effendi, dan sejumlah pendengar yang berbagi pandangan.

Pandangan Akademisi: Fenomena Job Hugging Akibat Ketidakpastian Ekonomi

Prof. Tadjuddin menjelaskan bahwa job hugging terjadi karena situasi ekonomi yang tidak stabil. Banyaknya pemutusan hubungan kerja (PHK), tingkat pengangguran tinggi, dan sulitnya mencari pekerjaan baru membuat para pekerja lebih berhati-hati untuk keluar dari pekerjaan lama.

Menurutnya, bagi perusahaan, fenomena ini dapat menguntungkan karena mempertahankan karyawan lama cenderung lebih efisien daripada merekrut dan melatih karyawan baru. Namun, ia juga menyoroti potensi penurunan produktivitas jika karyawan bertahan hanya karena terpaksa, bukan karena loyalitas.

"Perusahaan perlu mengukur engagement level karyawannya untuk menjaga produktivitas. Orang yang bekerja karena engaged akan lebih produktif dibanding yang terpaksa," jelasnya.


Suara Pendengar: Job Hugging dan Job Hopping Tergantung Sikap

Seorang pendengar bernama Antonio Sadi Nugroho, yang pensiun dini dan kini kembali bekerja, berpendapat bahwa fenomena ini sangat bergantung pada sikap personal. "Menurut saya, job hugging atau job hopping tergantung dari attitude kita masing-masing," katanya.

Hal ini senada dengan pandangan pendengar lain, Pak Jupri, yang menyatakan bahwa lingkungan kerja yang nyaman dan komunikasi terbuka antara manajemen dan karyawan dapat menumbuhkan loyalitas.

Mencintai Pekerjaan sebagai Kunci Kebahagiaan

Di akhir diskusi, Prof. Tajudin memberikan tips agar pekerja dapat mencintai pekerjaannya:

  • Jaminan Sosial dan Kesejahteraan: Perusahaan harus memberikan jaminan dan bonus yang membuat karyawan merasa dihargai.

  • Hubungan Kekeluargaan: Pemimpin perusahaan harus membangun hubungan yang dekat dan peduli terhadap pekerjanya.

Ia mencontohkan kondisi buruh di Malaysia yang jarang berdemo karena mereka merasa memiliki perusahaan. "Jika kita merasa memiliki perusahaan, kita akan berpikir ulang untuk merugikannya," ujarnya.


Restu Indah, pembawa acara, menutup dialog dengan pesan inspiratif: "Mencintai pekerjaan itu bukan sekadar soal gaji, tapi juga tentang bagaimana kita bisa belajar, berkontribusi, dan menebar kebaikan di dalamnya." (*)

No comments: