Pidato Presiden Prabowo di Sidang Darurat PBB: Seruan Persatuan Umat Muslim
NEW YORK – Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato yang lugas dan berani dalam sidang darurat PBB, menyerukan persatuan di antara negara-negara Muslim. Senin, 22/9/2025. Pidato tersebut, yang disampaikan dalam bahasa Inggris, menyoroti realitas pahit yang dihadapi dunia Muslim di tengah konflik dan krisis kemanusiaan.
Berikut adalah rangkuman dan terjemahan dari pidato tersebut:
Sorotan Utama Pidato Prabowo
Kecaman Atas Pelanggaran Hukum Internasional: Prabowo mengawali pidatonya dengan mengutuk pelanggaran hukum internasional yang keterlaluan dan kekejaman yang terang-terangan. Namun, ia menekankan perlunya melihat situasi ini secara realistis.
Kritik Terhadap Persatuan yang Lemah: Presiden menyoroti bahwa meskipun umat Muslim berjumlah dua miliar orang—25% dari populasi dunia—dengan sumber daya yang melimpah, mereka sering terpecah-belah dan bertikai. Ia mengkritik kebiasaan negara-negara Muslim yang hanya memberikan deklarasi dukungan dan bantuan kemanusiaan setelah saudara-saudara mereka menjadi korban.
Pentingnya Kerja Sama dan Satu Suara: Prabowo menyerukan kerja sama yang erat dan kesatuan suara di antara negara-negara Muslim. Ia memperingatkan bahwa strategi kuno "divide et impera" (pecah belah dan kuasai) masih digunakan untuk memecah belah mereka. Ia mencontohkan konflik di Sudan, Libya, dan Yaman, di mana pemimpin Muslim saling bertarung.
Kejujuran dan Realitas Hak Asasi Manusia: Dengan nada prihatin, Prabowo menyatakan bahwa dunia Muslim tidak dihormati. Ia menegaskan, "Mereka tidak peduli dengan suara kita." Ia bahkan menyebut bahwa hak asasi manusia seolah-olah tidak berlaku bagi umat Muslim, yang menurutnya adalah sebuah "realitas yang sangat menyedihkan."
Ringkasan Pidato (Terjemahan)
"Para kepala pemerintahan, kepala negara yang terhormat, kita berkumpul hari ini sekali lagi untuk mengutuk pelanggaran hukum internasional yang keterlaluan, kekejaman yang mencolok dan keji yang sedang berlangsung.
Namun, saya ingin menyampaikan beberapa komentar. Kita harus melihat situasi ini apa adanya, melihat realitas situasi. Kita akan selalu mengatakan bahwa kita mendukung (tetapi dukungan itu tidak dihormati). Negara-negara kita tidak dihormati.
Populasi Muslim dunia berjumlah dua miliar orang. 25% dari populasi dunia adalah Muslim. Kita memiliki sumber daya yang luas, tetapi kita tidak bisa bersatu. Kita bertengkar di antara kita sendiri, dan kemudian ketika saudara-saudara kita dihancurkan, kita hanya memberikan deklarasi dukungan dan mengirimkan bantuan kemanusiaan. Maaf, ini adalah pendapat saya. Mari kita lihat kenyataan.
Kita harus bekerja untuk memiliki kerja sama yang erat di antara kita. Kita harus bekerja untuk memiliki satu suara dan tidak terpecah-belah. Divide et impera—itulah hukum imperialisme selama ribuan tahun dan kita dipecah-belah setiap hari. Kita melihat pemimpin Muslim melawan pemimpin Muslim di Sudan. Kita melihat pemimpin Muslim melawan pemimpin Muslim di Libya. Kita melihat pemimpin Muslim melawan pemimpin Muslim di Yaman. Kapan ini akan berakhir? Bagaimana kita bisa membantu warga Palestina jika kita bertengkar di antara kita sendiri? Mari kita jujur. Mari kita jujur pada rakyat kita.
Maaf, saya harus mengatakan ini karena saya menghadiri begitu banyak pertemuan puncak dan yang kita lakukan hanyalah memberikan deklarasi dukungan.
Indonesia akan mencoba melakukan yang terbaik dalam segala hal yang kita bisa. Namun, saya menyerukan persatuan. Saya menyerukan kerja sama. Saya menyerukan agar negara-negara Muslim menyadari apa yang sedang terjadi. Kita tidak dihormati. Mereka tidak peduli dengan suara kita. Sekali lagi saya katakan, mereka tidak peduli dengan suara kita. Hak asasi manusia bukan untuk umat Muslim. Ini adalah kenyataan. Ini sangat menyedihkan. Mari kita lakukan apa yang kita bisa, tetapi mari kita hadapi kenyataan dan mari kita jujur pada diri kita sendiri. Terima kasih banyak." (*)
Sumber:
No comments:
Post a Comment