Untuk Putriku yang Kini Remaja
Dulu, kau adalah magnet kecil yang selalu mendekat,
Kaki mungilmu berlari, mengejar bayang di teras rumah.
Dunia kami hanya seluas pelukan,
Dan tawa-tawamu adalah lagu yang mengisi setiap sudut ruang.
Kini, aku belajar menjadi seorang navigator,
Untuk sebuah kapal yang mulai berlayar mencari pantainya sendiri.
Kau bicara dalam bahasa yang kadang asing,
Tentang galaksi di layar genggam, dan teman-teman yang belum pernah kucium dahinya.
Aku masih menyimpan semua foto di laci kenangan,
Saat kau tidur di pundakku, yakin itu tempat teraman.
Sekarang pintu kamarmu kerap tertutup,
Sebuah benteng yang kuhormati, meski hatiku kadang tersedu.
Aku tahu, ini bukan tentang menjauh,
Tapi tentang tumbuh, tentang menjadi.
Namun, di sela-sela sunyi setelah kau keluar rumah,
Aku masih mencari-cari bocah kecil yang dulu menggenggam jariku untuk belajar berjalan.
Anakku…
Tidak ada peta untuk menjadi ayah dari seorang remaja putri.
Aku hanya berdoa, di balik pintu duniamu yang baru,
Kau tahu, bahwa pelukanku masih hangat, dan bahuku masih kokoh,
Bagaikan bulan yang tak pernah ingkar menyinari laut, meski laut tak selalu mendekat.
Aku merindukanmu, bukan seperti dulu,
Tapi dengan cara yang lebih dalam, lebih sunyi.
Seperti akar yang merindukan dahan yang menjulang tinggi,
Bersyukur melihatmu tumbuh, sambil berbisik lirih, "Jangan lupa, aku di sini."
---
**Penjelasan makna puisi:**
Puisi ini menggambarkan transisi dan kerinduan yang kompleks. Ayah tidak hanya merindukan masa lalu, tetapi juga sedang belajar menyesuaikan diri dengan dinamika baru. Ada rasa hormat terhadap ruang privat sang anak, kebanggaan akan pertumbuhannya, tetapi juga kerinduan yang tulus dan tak terucapkan pada ikatan masa kecil mereka. Metafora seperti "navigator untuk kapal," "bulan dan laut," serta "akar dan dahan" mencoba menangkap esensi hubungan orang tua-anak: tetap ada dan mendukung dari kejauhan, dengan cinta yang tak bersyarat. (*)
No comments:
Post a Comment