A. Kritik Internal: Kelemahan Dalil dalam Beberapa Tradisi NU
Gus Baha mengawali dengan kritik internal terhadap cara sebagian kalangan Nahdlatul Ulama (NU) dalam mendalilkan praktik keagamaan, khususnya tradisi Tahlilan untuk 7, 40, dan 100 hari kematian.
1. Tradisi yang Terbebani: Ia mengakui bahwa sebagai seorang yang mendalami ilmu, seringkali ia sendiri kesulitan menemukan hadis sahih yang secara khusus mendukung ritus 7, 40, dan 100 hari seperti yang dipraktikkan di NU.
2. Kebiasaan yang Keliru: Kekeliruan terjadi ketika kiai-kiai NU mencari-cari dalil spesifik untuk mendukung detail tradisi tersebut (misalnya, tentang keadaan roh di hari ke-7, ke-40, dll.), padahal itu adalah wilayah **ghaib (magibat)** yang memerlukan dalil yang sangat kuat.
3. Akibatnya: Hal ini membuat kalangan lain (disebut "kubu sebelah") mudah menyerang dan menganggap NU "goblok" karena menggunakan dalil yang lemah.
B. Solusi: Kembali ke Dalil Umum yang Kuat dan Metodologi Ulama
Gus Baha menawarkan solusi dengan menggunakan dalil-dalil umum yang kuat (Quran dan Hadis Sahih) serta metodologi para ulama.
1. Dalil Umum untuk Kebaikan:
* QS. An-Nisa: 114: Ayat ini menjadi landasan bahwa setiap diskusi dan perkumpulan harus bermuara pada kebaikan, perbuatan sosial (`shadaqah`), menyebarkan kebaikan (`ma'ruf`), dan perdamaian antar manusia (`ishlah bainanas`). Ini adalah pijakan yang kuat untuk aktivitas seperti Tahlil yang intinya adalah berzikir bersama.
* Konsep "Biladul Allah": Seluruh bumi adalah milik Allah. Di mana pun kita menemukan kebaikan, kita boleh berdiam dan berkontribusi di sana. Ini menjawab tantangan global dan menekankan Islam yang toleran dan damai.
2. Perdamaian adalah Fitrah, Perang Butuh Alasan:
* Gus Baha menegaskan bahwa damai tidak butuh alasan karena itu adalah fitrah manusia. Sebaliknya, perang membutuhkan alasan yang jelas, seperti membela diri dari kezaliman (seperti dalam QS. Al-Hajj: 39). Ini membantah citra Islam sebagai agama kekerasan.
3. Metodologi Pemahaman Ulama (`Analisis Ulama`):
* Gus Baha menekankan bahwa memahami teks agama (Al-Qur'an dan Hadis) tidak bisa hanya secara tekstual (`tekstualis`), tetapi harus dengan analisis para ulama.
* Contoh 1: Larangan Jual Beli Saat Jumat. Secara tekstual, yang dilarang hanya jual beli. Namun, analisis ulama (`min itlaqil ba'di wa irodatil kul`) menyimpulkan bahwa semua aktivitas yang mengganggu kehadiran shalat Jumat (seperti main HP) juga terlarang.
* Contoh 2: Larangan Menikahi Ibu (`Ummahat`). Secara tekstual, yang disebut hanya "ibu". Namun, ulama sepakat (`ijmak`) bahwa maknanya mencakup semua ibu ke atas (nenek, buyut, dst.) berdasarkan kaidah `Ummun wain 'alat`.
* Contoh 3: Larangan Poligami dengan Dua Bersaudara. Dari larangan mengumpulkan dua saudara perempuan, ulama mengembangkan kaidah yang lebih komprehensif: tidak boleh berpoligami dengan dua wanita yang memiliki hubungan mahram.
C. Penerapan pada Tradisi Tahlil dan Zikir
Gus Baha menerapkan prinsip-prinsip di atas untuk membela tradisi Tahlil dengan cara yang lebih ilmiah.
1. Berpindah dari Dalil Spesifik ke Dalil Umum:
* Daripada bersusah payah mencari dalil untuk 7/40/100 hari, sebaiknya berpegang pada dalil umum tentang keutamaan zikir. (`Uzkuruullaha zikran katsira` - "Berzikirlah kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya") dan membaca kalimat thayyibah (`Laa ilaaha illallah`).
* Dalil Hadis Sahih: `Man qala Laa ilaaha illallah dakhala al-jannah` ("Siapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallah, ia masuk surga"). Hadis ini tidak menyebut jumlah tertentu, sehingga amalan zikir berjamaah (Tahlil) yang banyak bacaannya sudah pasti termasuk dalam cakupan dalil-dalil umum ini.
2. Bahaya Menetapkan Jumlah Tertentu:
* Jika membuat-buat hadis bahwa "baca 100 kali `Laa ilaaha illallah` pasti masuk surga", maka orang yang hanya sempat membaca 50 kali sebelum meninggal bisa jadi putus asa. Ini berbahaya. Hadis sahihnya hanya menyebut "mengucapkannya", tanpa batas jumlah.
3. Dasar Psikologis dan Cinta:
* Lamanya Tahlil dan banyaknya zikir bisa dibangun di atas kaidah psikologis: `Man ahhaba syai'an aktsara zikrohu` ("Siapa yang mencintai sesuatu, ia akan banyak menyebutnya"). Karena kita mencintai Allah, wajar jika kita banyak menyebut nama-Nya.
D. Semangat Optimisme dan Harapan dalam Islam
Gus Baha menutup dengan menekankan semangat optimisme dan harapan (`roja'`) dalam Islam, yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad.
1. Kisah Nabi di Thaif: Saat dilempari batu hingga berdarah-darah oleh penduduk Thaif, Nabi menolak tawaran Malaikat untuk menghancurkan mereka. Beliau berkata, "Bahkan, aku berharap Allah akan melahirkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata." Ini adalah puncak dari optimisme.
2. Bukti Sejarah: Harapan Nabi terbukti. Anak-anak dari musuh bebuyutannya seperti Abu Jahal (Ikrimah bin Abu Jahal) dan Abu Lahab (Darrah binti Abu Lahab) justru masuk Islam.
3. Pelajaran untuk Indonesia dan Umat Islam: Jangan pernah putus harapan terhadap negeri dan generasi muda. Meski mungkin saat ini masih banyak kekurangan, dengan terus dididik melalui pesantren dan kuliah, generasi mendatang akan lebih baik. Agama Islam adalah agama bagi orang yang selalu berharap (`liman yarju`).
E. Penutup: Hidup Penuh Ujian
Gus Baha mengingatkan bahwa hidup di dunia ini memang penuh ujian, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Mulk: 2. Setiap keadaan punya tantangannya sendiri, baik miskin maupun kaya. Kunci utamanya adalah bersikap bijak dan istiqamah dalam menjalaninya.
---
Kesimpulan Gus Baha: Tradisi NU seperti Tahlil dapat dipertahankan dengan meninggalkan dalil-dalil spesifik yang lemah dan beralih kepada dalil-dalil umum yang sahih tentang keutamaan zikir dan berbuat kebajikan, dengan tetap mengedepankan metodologi pemahaman (`analisis`) para ulama. Pendekatan ini lebih kuat, elegan, dan mempersatukan.
Sumber:
No comments:
Post a Comment