SURABAYA – Dialog Fajar Radio Suara Surabaya pada Ahad, 28 September 2025, menghadirkan Ustadz Mim Saiful Hadi yang mengupas tuntas dua poin penting dari nasihat ulama besar masa tabi'in, Syekh Hasan Al-Bashri, sebagai panduan dalam menjalani kehidupan. Nasihat tersebut berfokus pada hubungan erat antara ilmu, adab, dan kesabaran dalam beragama.
Poin 1: Man Laa Adabalah, Laa 'Ilmalah (Barang Siapa Tidak Beradab, Maka Tidak Berilmu)
Ustadz Saiful Hadi menjelaskan bahwa adab (etika/perilaku) adalah muara atau buah dari ilmu yang dipelajari.
Ilmu vs. Pengetahuan: Seseorang yang secara fisik terlihat berilmu—entah karena banyaknya bacaan, buku yang dikutip, atau gelar akademik—namun tidak memiliki adab yang sejalan, sesungguhnya ia hanya menguasai pengetahuan semata, bukan ilmu sejati.
Refleksi Ilmu: Ilmu sejati harus terinternalisasi dan terefleksi dalam perilaku sehari-hari. Jika seseorang dikenal cerdas, namun perilakunya buruk (kasar saat berdebat, tidak jujur saat diberi amanah, buruk pergaulan dengan tetangga), maka yang ia miliki hanyalah "resep" atau informasi yang bisa disalahgunakan.
Contoh Hukum: Seseorang yang menguasai celah hukum, lalu menggunakan pengetahuan tersebut untuk berbuat jahat, menunjukkan bahwa pengetahuan tersebut tidak pernah menjadi ilmu karena tidak dilandasi adab.
Pesan Kunci: Dahulukan dan utamakan adab, sehingga segala pengetahuan yang telah diraih dapat masuk dan terinternalisasi menjadi ilmu yang mampu menerangi dan membentuk karakter kehidupan sehari-hari.
Poin 2: Man Laa Shobrolah, Laa Dinalah (Barang Siapa Tidak Sabar, Maka Tidak Ada Agama Padanya)
Nasihat kedua Syekh Hasan Al-Bashri ini menekankan bahwa kesabaran adalah fondasi utama dalam menjalankan ajaran agama.
Tanda Kekosongan Agama: Apabila seseorang tidak memiliki kesabaran—mudah dikuasai putus asa, keluh kesah, berprasangka buruk, dan tergesa-gesa (isti'ajal)—maka seolah-olah tidak ada agama yang ia pegang.
Ilmu Menjadi Sia-Sia: Sekalipun seseorang hafal banyak ayat Al-Qur'an, jika ia tidak sabar dalam menerima, memahami, dan menjalankan semua yang telah diketahuinya, maka ilmunya tersebut menjadi sia-sia, seolah tidak ada gunanya.
Sabar Melawan Putus Asa: Sifat putus asa sering kali muncul saat kita melihat tokoh publik yang mengecewakan. Namun, Ustadz Saiful Hadi mengingatkan bahwa kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa semua orang sama. Jika kita sabar, Allah akan menampakkan dan menunjukkan orang-orang baik (panutan-panutan) yang mungkin berada sangat dekat di lingkungan kita.
Peran Agama: Agama memandu kita dalam mengambil keputusan, menentukan orientasi, dan menjaga diri dari keburukan. Semua panduan ini membutuhkan kesabaran agar tidak tergesa-gesa dan tidak lari dari ajaran agama karena godaan atau tren duniawi.
Pesan Kunci: Kesabaran adalah syarat mutlak agar ilmu agama dapat membuahkan hasil. Hanya orang-orang yang sabar yang dijanjikan pertolongan oleh Allah SWT. (*)
No comments:
Post a Comment