Monday, September 22, 2025

Defisit APBN Per Agustus 2025 Rp 321,6 Trilyun


Foto: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam memberi pemaparan APBN Kita di Kantor kementerian Keuangan, Jakarta, Senin, (22/9/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Kinerja APBN Agustus 2025: Optimisme di Tengah Tantangan Global

JAKARTA – Menteri Keuangan, Purbaya, menyampaikan laporan terkini mengenai kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Agustus 2025. Konferensi pers ini menyoroti tren positif ekonomi global dan domestik, meskipun masih ada beberapa tantangan yang perlu diwaspadai.


Situasi Global dan Domestik yang Membaik

Purbaya mengawali paparannya dengan kabar baik dari ekonomi global. Kebijakan moneter di berbagai negara, terutama Amerika Serikat, mulai melunak.

  • Kebijakan The Fed: Federal Reserve (The Fed) telah menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,25% dan diperkirakan akan ada dua kali pemangkasan lagi tahun ini. Kebijakan ini diharapkan dapat meredam tekanan eksternal dan memacu pertumbuhan ekonomi global.

  • Revisi Proyeksi IMF: International Monetary Fund (IMF) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global ke atas. Indonesia termasuk negara yang mengalami revisi positif, dengan pertumbuhan ekonomi diproyeksikan naik dari 4,7% menjadi 4,8% pada tahun 2025.

Meskipun demikian, Menkeu mengingatkan agar tetap waspada terhadap risiko global, seperti ketegangan perdagangan antara AS dan Tiongkok, serta fluktuasi harga komoditas akibat dinamika geopolitik.


Kinerja APBN hingga Agustus 2025

1. Pendapatan Negara

Hingga 31 Agustus 2025, pendapatan negara mencapai Rp1.638,7 triliun, atau 57,2% dari target. Kinerja ekspor, terutama dari sektor industri pengolahan seperti nikel dan tembaga, menunjukkan pertumbuhan yang luar biasa. Neraca perdagangan kumulatif (Januari-Agustus) tumbuh 52,3% dibandingkan tahun lalu, menunjukkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia berada dalam jalur yang positif.

2. Belanja Negara

Belanja negara tercatat sebesar Rp1.960,3 triliun, atau 55,6% dari target.

  • Belanja Kementerian/Lembaga: Belanja pegawai, belanja barang, dan belanja bantuan sosial mengalami pertumbuhan dibandingkan tahun sebelumnya, dengan dana disalurkan untuk berbagai program, termasuk Bantuan Pangan, PKH, KIP Kuliah, dan PIP.

  • Program Prioritas: Sejumlah program prioritas pemerintah telah bergulir, seperti:

    • Makan Bergizi Gratis: Telah melayani 22,7 juta penerima di seluruh Indonesia.

    • Sekolah Rakyat: 100 sekolah telah beroperasi dengan 9.780 siswa.

    • Sekolah Unggulan Garuda: Pembangunan 3 lokasi baru dan transformasi 12 SMA unggulan sedang berjalan.

    • Cek Kesehatan Gratis: Telah melayani 27,4 juta penduduk.

    • Pembangunan Infrastruktur: Melalui Inpres, pembangunan infrastruktur seperti irigasi, jalan daerah, dan transmigrasi terus digulirkan.

3. Transfer ke Daerah dan Pembiayaan

  • Transfer ke Daerah: Sebesar Rp571,5 triliun (62,1% dari target) telah ditransfer. Namun, Menkeu mencatat bahwa belanja daerah cenderung melambat, yang berakibat pada peningkatan dana pemerintah daerah di perbankan.

  • Keseimbangan Primer: APBN mencatat defisit sebesar Rp321,6 triliun, namun keseimbangan primer masih positif di Rp22 triliun. Menkeu mengindikasikan bahwa belanja pemerintah perlu dipercepat agar target APBN 2025 dapat tercapai.

Menkeu juga menjelaskan penempatan dana negara sebesar Rp200 triliun di bank-bank BUMN, yang bertujuan untuk meningkatkan likuiditas, menurunkan biaya pinjaman (cost of fund), dan mendorong pertumbuhan ekonomi. "Ini adalah konfirmasi bahwa kebijakan kita mulai berjalan," pungkasnya. (*)

Sumber:

https://youtu.be/H2faxFkxkRE

Defisit APBN 361,2 T Per Agustus 2025



No comments: