Thursday, September 18, 2025

Pak Natsir: Kisah Persahabatan dengan Raja Faisal dan 'Bom Atom' Ketiga bagi Jepang


Bapak Muhammad Natsir, seorang tokoh yang dikenal dengan kesederhanaannya, memiliki peran besar yang tidak banyak diketahui orang. Kisah ini diceritakan oleh Agus Maksum, seorang dai dan kader terakhir Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) yang pernah dididik langsung oleh beliau.

Ketika Natsir wafat pada Februari 1993, kesedihan mendalam menyelimuti seluruh kader DDII. Di kantor DDII Jawa Timur, telepon berdering tanpa henti, namun tiba-tiba berhenti karena ada faks masuk. Faks tersebut berasal dari Perdana Menteri Jepang, Kiichi Miyazawa, yang berisi ucapan duka cita luar biasa.

Bunyi ucapan itu mengejutkan: “Mendengar Muhammad Natsir meninggal, serasa Jepang mendapatkan serangan bom atom ketiga yang tepat jatuh di tengah kota Tokyo. Duka yang sangat mendalam bagi kami, seluruh bangsa Jepang.”

Agus Maksum merasa heran dengan ucapan dramatis ini dan bertanya kepada para tokoh senior, termasuk Ketua MUI Jawa Timur, KH Misbach. Namun, tidak ada yang bisa menjelaskan makna di balik ucapan tersebut. Misteri itu tersimpan selama lebih dari 10 tahun, hingga pada tahun 2003, Agus Maksum bertemu dengan seorang diplomat senior Jepang di Jakarta bernama Hamada San.

Hamada San sangat menghormati Natsir dan berani mengungkap kisah yang tidak pernah tercatat dalam sejarah Indonesia. Ia menceritakan bahwa Jepang pernah mengalami krisis besar akibat embargo minyak bumi. Berbagai upaya diplomatik gagal, hingga Laksamana Maeda—yang dianggap pengkhianat di negaranya karena membantu kemerdekaan Indonesia—memberikan usulan yang tidak terduga. Maeda menyarankan pemerintah Jepang mengirim utusan untuk menemui Muhammad Natsir yang saat itu sedang dipenjara.

Pemerintah Jepang mengutus Nakajima San untuk menemui Natsir. Tanpa banyak bicara, Natsir hanya meminta selembar kertas dan pulpen, lalu menulis surat singkat dalam bahasa Arab. Surat itu ia titipkan kepada Nakajima untuk diserahkan kepada Raja Arab Saudi, Raja Faisal.

Dengan bekal surat tersebut, Nakajima terbang ke Arab Saudi. Atas penghormatan Raja Faisal terhadap Natsir, Nakajima diterima dengan baik. Setelah membaca surat dari Natsir, Raja Faisal segera memerintahkan pengiriman pasokan minyak ke Jepang melalui Pertamina.

"Hanya sepucuk surat dari seseorang yang mendekam di penjara, Jepang mendapatkan pasokan minyak dari Raja Minyak Dunia," ungkap Hamada San, menjelaskan betapa besarnya pengaruh Natsir.


Berkat bantuan Natsir, industri Jepang kembali bangkit dan menguasai pasar global. Namun, yang paling membuat bangsa Jepang kagum adalah sikap Natsir. Ia menolak semua hadiah dan imbalan dari pemerintah Jepang dan tidak pernah menceritakan kejadian itu kepada siapapun di Indonesia.

Itulah alasan mengapa Perdana Menteri Miyazawa mengucapkan duka yang begitu mendalam. "Itu bukan ucapan dramatis seperti yang kamu bilang, itulah perasaan hati kami bangsa Jepang," kata Hamada San. Kisah ini menjelaskan mengapa nama Natsir begitu dihormati di Jepang, meski jasanya tak pernah diceritakan dalam buku sejarah bangsa sendiri. (*)

Ditulis oleh Agus Maksum DDII Jatim

Editor:  Firnas

No comments: