Ustadz Yusuf Hasymi dalam kajian Kamis, 25/9/2025 di Masjid At Taqwa Jagalan menyoroti tanda-tanda orang beriman yang disampaikan dalam Surah Al-Anfal ayat 2 dan 3. Beliau menganalogikan manusia dengan hewan-hewan yang diburu (gajah karena gadingnya, badak karena culanya), di mana nilainya seolah terletak pada materi. Namun, keimanan sejati memberikan refleksi cermin bahwa nilai kita sebagai hamba Allah terletak pada tanda keimanan, bukan materi.
I. Hakikat Hati Seorang Mukmin (Surah Al-Anfal: 2-3)
Ayat 2 dan 3 Surah Al-Anfal menjadi penekanan utama:
1. "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, bergetarlah hati mereka..." (QS. Al-Anfal: 2).
2. *"...dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya, bertambahlah keimanan mereka..."* (QS. Al-Anfal: 3).
Pentingnya Hati: Ustadz menjelaskan bahwa hati, baik secara organ maupun sebagai pusat perasaan, harus diisi dengan rasa dan makna yang benar. Jika hati berorientasi hanya pada materialisme, maka isinya pun akan dangkal. Namun, jika Allah Ta'ala didahulukan sebagai pencipta, hati akan merasa aman dan terjamin (safety).
* Kekuatan Asma Allah: Kekuatan nama Allah mampu mengguncang hati seorang hamba. Hal ini diilustrasikan dengan kisah ketika Nabi Muhammad SAW diancam oleh seorang kafir bernama Dasul. Saat Nabi dengan tegas menyebut "Allah," tangan Dasul bergetar dan pedangnya terjatuh, menunjukkan betapa Asma Allah mampu memberikan perlindungan dan ketegasan.
* Jaminan dari Allah: Beliau menggarisbawahi bahwa bagi orang yang membiasakan diri bertawakkal, Allah yang Maha Sempurna akan menjadi penjamin. Bahkan dalam konteks dosa (seperti korupsi), Allah Maha Mengetahui dan Maha Melihat, namun tidak langsung menghukum atau murka, melainkan memberikan kesempatan.
---
II. Klasifikasi dan Keajaiban Al-Qur'an
Ayat-ayat Allah dibagi menjadi dua secara bahasa: Ayat-ayat Kauniyah dan Ayat-ayat Kauliyah.
1. Ayat-ayat Kauniyah: Segala ciptaan Allah di alam semesta (bumi, galaksi, hewan, dan seluruh makhluk). Tujuan penciptaan ini adalah agar manusia tunduk dan mengakui kesempurnaan dan keagungan Allah.
2. Ayat-ayat Kauliyah: Firman Allah yang dibaca, dihafal, dan disampaikan melalui Al-Qur'an.
Secara istilah Al-Qur'an (Surah Ali Imran ayat 7) dibagi menjadi:
1. Ayat-ayat Muhkamat: Ayat yang maknanya terang, jelas, dan mudah dipahami, seperti perintah ibadah dan terjemahan kasih sayang Allah.
2. Ayat-ayat Mutasyabihat: Ayat yang serupa, membutuhkan pendalaman (tafsir), dan tidak bisa diinterpretasikan dengan logika manusia yang terbatas. Contohnya adalah frasa "Tangan Allah di atas tangan mereka" (QS. Al-Fath) dan bahwa segala sesuatu akan binasa "kecuali Wajah Allah."
Keajaiban Linguistik: Huruf Muqatta'ah
Ustadz Yusuf menyoroti keajaiban 14 surat dalam Al-Qur'an yang diawali dengan Huruf Muqatta'ah (huruf-huruf terputus, seperti Alif Lam Mim, Yaasiin).
* Bukti Ilmiah: Beliau menceritakan kisah ilmuwan Barat, seperti Profesor Raymond Farrin dari Amerika dan Profesor Dr. Neil Robinson, yang meneliti koherensi dan susunan seimbang (balancing) huruf-huruf Al-Qur'an selama puluhan tahun. Penelitian ini meyakinkan mereka bahwa Al-Qur'an adalah kalamullah (firman Allah) karena susunannya yang sempurna dan tidak mungkin diciptakan oleh makhluk.
* Makna Yaasiin: Huruf *Yaasiin* bisa memiliki makna panggilan kepada Nabi Muhammad SAW (Hai Rajul/Hai Man). Namun, dalam konteks bahasa Arab yang murni, huruf-huruf tersebut tidak memiliki makna langsung, yang justru menunjukkan kedalaman dan mukjizatnya.
Ustadz Yusuf Hasymi melanjutkan kajiannya dengan membahas secara mendalam mukjizat Al-Qur'an, khususnya dari aspek linguistik dan strukturnya, sebagai penguat keimanan umat Islam. Beliau menekankan bahwa kesempurnaan Al-Qur'an adalah bukti nyata bahwa kitab suci ini bukan buatan manusia.
---
Mukjizat Struktur Al-Qur'an: Temuan Ilmuwan Barat
Ustadz Yusuf Hasymi memaparkan penemuan ilmiah yang membuktikan keagungan Al-Qur'an, yang dikenal dengan konsep "Ring Structure" (Struktur Cincin).
* Profesor Raymond Farrin: Ilmuwan bahasa kulit putih dari Amerika Serikat ini meneliti Al-Qur'an selama bertahun-tahun dan menemukan bahwa banyak surat di dalamnya memiliki struktur yang seimbang dan saling berkaitan seperti cincin. Struktur ini—sering digambarkan dengan pola A-B-C-D-E-D-C-B-A—menunjukkan koherensi sempurna di mana bagian awal (A) berkorelasi dengan bagian akhir (A), bagian kedua (B) berkorelasi dengan bagian kedua dari akhir (B), dan puncaknya terletak di tengah.
* Contoh Surah Al-Baqarah: Farrin meneliti Surah Al-Baqarah (286 ayat) dan menemukan sembilan konten yang tersusun dalam struktur cincin, di mana ayat sentralnya, yaitu ayat 143, menjadi inti sari dari surat tersebut. Ayat ini berbicara tentang umat Islam sebagai "Umatan Wasathan" (umat pertengahan), yang merupakan cerminan middle-point (titik tengah) antara kegagalan umat terdahulu (seperti Bani Israil) dan tugas berat umat Islam.
* Dr. Neil Robinson: Ilmuwan lain yang juga masuk Islam setelah mendalami Al-Qur'an. Dalam bukunya, Discovering Qur’an, Robinson meneliti Al-Qur'an berdasarkan hitungan ketukan nada dalam pembacaan, menemukan pola ritmis seperti 12-10-8-10-12 yang konsisten di beberapa surat.
Pembuktian Lain dari Ilmu Biologi Kelautan
Selain struktur linguistik, Ustadz Yusuf Hasymi juga mengisahkan temuan yang menguatkan ayat-ayat kauniyah (ciptaan Allah):
* Yves Costel: Seorang profesor biologi laut dari Prancis yang awalnya skeptis. Saat melakukan penyelaman di Samudra Atlantik (Teluk Meksiko), ia menemukan fenomena luar biasa: adanya sungai air tawar yang tidak menyatu dengan air laut di sekitarnya. Pengalamannya ini dikonsultasikan dengan rekan Muslimnya, yang kemudian merujuk pada Surah Ar-Rahman (atau ayat tentang pertemuan dua lautan) yang menyebutkan bahwa di antara dua air yang mengalir bertemu, ada batas yang tidak bisa ditembus. Temuan ini menjadi salah satu sebab keislamannya.
---
Tantangan Keimanan dan Interaksi dengan Al-Qur'an
Ustadz Yusuf kemudian mengingatkan jama'ah akan tantangan dalam menjaga keimanan dan pentingnya berinteraksi dengan Al-Qur'an:
* Melawan Keterbatasan Diri: Beliau menekankan bahwa kelemahan manusia sering kali terletak pada perasaan "paling benar" atau mudah putus asa (*gelo-gelo mudah atarik ke katil*).
* Menghayati Bacaan: Berkaitan dengan awal turunnya wahyu, Ustadz mengutip Surah Al-Qiyamah (Ayat 16-19) yang berpesan kepada Nabi Muhammad SAW untuk tidak terburu-buru menyelesaikan bacaan Al-Qur'an. Hal ini menunjukkan bahwa membaca harus disertai khusyuk dan pemahaman, yang dijanjikan Allah akan memampukan Nabi untuk membaca, menerjemahkan, dan menghafalnya.
* Al-Qur'an sebagai Jantung: Mengutip hadis Nabi, Ustadz Yusuf Hasymi menegaskan bahwa Surah Yaasiin adalah jantung (hati) Al-Qur'an. Hal ini sejalan dengan keinginan penyair Muslim dari India, Muhammad Iqbal, yang ingin wajahnya di akhirat kelak dipenuhi cahaya Surah Yaasiin.
* Keterbatasan Panca Indra: Sebagai penutup, beliau menyinggung keterbatasan manusia, seperti batas pendengaran (0 Hz hingga 20.000 Hz), yang menunjukkan bahwa ada banyak fenomena alam ciptaan Allah (Ayat-ayat Kauniyah) yang tidak mampu dijangkau oleh kemampuan fisik manusia, apalagi oleh akal dan logika. (*)
Ditulis oleh Firnas Muttaqin
Kamis, 25/9/2025