Friday, May 30, 2025

SASTRAWAN

Pergumulan Royalti dan Pembajakan: Potret Suram Kesejahteraan Sastrawan Indonesia

JAKARTA – Di tengah gempuran zaman dan lautan kata-kata, para sastrawan Indonesia masih setia merangkai kisah, melahirkan karya-karya yang mengasah rasa dan memotret kehidupan. Namun, kekayaan kata yang mereka miliki tak lantas membuat mereka sejahtera. Isu pembajakan hingga minimnya royalti terus menghantui, menantang kemandirian profesi sastrawan di Tanah Air.

Martin Aleida: Dedikasi Setengah Abad di Balik Luka Sejarah

Di usianya yang ke-81 tahun, Martin Aleida masih terus berkarya. Sastrawan kelahiran Tanjung Balai Asahan ini telah lebih dari setengah abad mengabdikan diri pada dunia sastra, menghasilkan 14 buku dan puluhan cerpen. Kisah hidupnya, sebagai korban dan saksi tragedi pelanggaran HAM berat tahun 1965-1966, menjadi sumber utama inspirasinya.
"Buat saya, [sastra] adalah apa yang kita timba dari hidup kita, dari lingkungan kita untuk disampaikan kepada orang lain, mungkin sebagai satu kekayaan atau apapun," ungkap Martin. Banyak cerpennya berlatar belakang kejadian tragis tahun 1965-1966 yang ia alami langsung, bahkan sempat mendekam di sel tahanan.
Meski namanya kondang dan karyanya bertabur penghargaan, Martin tidak hidup dalam kemewahan. Di sudut selatan Jakarta, ia tinggal bersama sang istri yang mengidap demensia. Royalti dari penjualan buku, yang rata-rata hanya 15% dari harga jual, sangat minim. Untuk cetakan kedua bukunya "Tanah Air yang Hilang", ia hanya menerima tak lebih dari Rp1 juta per tiga bulan. Sedangkan untuk cerpen yang dimuat di media massa, ia mendapat honor sekitar Rp500 ribu hingga Rp1 juta.
"Saya kira sulit ya untuk hidup sebagai... di atas kata-kata yang dalam bentuk novel atau puisi," ujar Martin. Namun, ia tak mengejar materi. Sastra memberinya kepuasan batin dan kekayaan dalam bentuk lain. "Dunia sastra yang saya kenal itu juga membawa saya kepada dunia yang lebih luas. Saya kira saya diperkaya oleh itu, oleh pengetahuan mengenai kesastaran dan ada kesempatan untuk mengungkapkan diri saya, apa yang saya alami dengan lingkungan saya melalui kata-kata," tuturnya, menjelaskan mengapa gairah menulisnya tak pernah padam.

Muna Sary: Menjahit untuk Hidup, Menulis untuk Jiwa

Di Pamekasan, Madura, Muna Sary, seorang penjahit berusia 40 tahun, juga merasakan hal yang sama. Ia memulai karir sastranya sebagai penulis cerita bergenre Pop Reli di tahun 2000-an. Baginya, sastra adalah potret kehidupan, cara menuangkannya secara baik, baik melalui tulisan maupun visual.
Muna memotret kehidupan sosial masyarakat Madura lewat karyanya. "Orang kadang menilai Madura itu hanya dari versinya, harapan sapinya. Padahal banyak yang mereka tidak ketahui. Jadi saya itu bagaimana kalau saya menulis Madura itu seperti ini loh, enggak hanya warna ini, enggak hanya hitam putih, tapi ada warna ini, ini, ini," jelasnya.
Empat novel dan lebih dari 100 cerpen telah ia hasilkan di tengah aktivitas menjahitnya. Menulis adalah penyambung jiwa, namun menjahit adalah penyambung hidup. Dari royalti dua bukunya yang masih beredar, Muna menerima kurang dari Rp3 juta setiap enam bulan. Honor cerpen yang terbit di media massa pun tak menentu, berkisar Rp500 ribu hingga Rp1 juta.
"Bagaimana roda ekonomi bisa berjalan. Makanya dari situ kalau saya pribadi fokus di menulis gitu mencari penghasilan dari menulis, saya enggak berani," kata Muna. Penghasilan dari menjahit lebih bisa diandalkan, mencapai Rp250 ribu per hari dengan menyelesaikan dua hingga empat baju. Baginya, menulis dan menjahit dapat berjalan seiringan.

Ekosistem Sastra yang Rapuh: Minim Transparansi dan Ancaman Pembajakan

Hubungan antara sastrawan dan penerbit menjadi sorotan utama dalam ekosistem sastra. Transparansi seringkali minim, terutama dalam pencairan royalti. Muna Sary mengaku pernah mengalami penerbit yang menunggak royalti hingga 1,5 tahun dan tak pernah dikirimi laporan penjualan.
Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Aris Hilman, mengakui bahwa ekosistem perbukuan sedang tidak baik-baik saja. Serapan buku sastra di pasaran minim, yang berdampak langsung pada penghasilan sastrawan. Kurangnya dukungan pemerintah terhadap industri penerbitan buku menjadi salah satu penyebabnya.
"Royalti yang di kita juga 10%, ada 15% juga ada, itu masih terasa secara nominalnya menjadi sangat kecil karena tadi pengaliknya menjadi sangat sedikit," jelas Aris, merujuk pada menurunnya tren cetakan pertama satu judul buku di Indonesia. Ia juga menyoroti bahwa keuntungan penerbit sendiri tidak lebih dari 10% dari omzet.
Di sisi lain, pembajakan semakin masif di era digital. Survei IKAPI tahun 2021 menemukan 75% penerbit mengalami pembajakan atas buku terbitan mereka, dengan kerugian mencapai ratusan miliar rupiah. Ironisnya, karena Undang-Undang Hak Cipta adalah delik aduan, pembajak jarang yang mendapatkan sanksi pidana.

Harapan dari Pemerintah dan Peran Strategis Sastrawan

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mengaku baru berencana membuat peta jalan untuk perlindungan sastrawan dan karyanya. Langkah awal adalah penataan data karya sastra. Sepanjang 2019 hingga 2023, 2.500-an karya sastra cetak telah teregistrasi, mayoritas berupa cerpen dan puisi.
"Kita ingin membuat sebuah peta jalan dilandasi dengan data yang lengkap kaitan dengan jumlah sastrawan [dan] pegiat sastra. Kami harapkan data ini menjadi instrumen penting bagi kami untuk bisa merencanakan apa yang akan dilakukan ke depan," kata perwakilan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
Selain pendataan, IKAPI juga menekankan pentingnya upaya pemerintah untuk menjaga iklim literasi dan budaya membaca tetap hidup dan sehat, sebagai kunci menyehatkan ekosistem sastra.
Sejak tahun 1989, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa telah memberikan penghargaan sastra kepada sastrawan berprestasi, serta mengalokasikan anggaran untuk mendukung kegiatan komunitas sastra. Namun, sastrawan Seno Gumira Ajidarma berpendapat bahwa pemerintah harus memandang sastrawan sebagai bagian dari strategi pengembangan kebudayaan bangsa, bukan sekadar objek bantuan.
"Jangan menganggap seniman itu orang perlu bantuan, seniman kasihan, seniman miskin, dikasih harus terima kasih sajalah, lumayan ada yang ngasih. Enggak bisa begitu, mesti bagian dari strategi kebudayaan itu ya. Jadi ekonomi yang mengabdi kebudayaan," tegas Seno.
Karya sastra adalah khazanah budaya dan kekuatan bangsa. Keberpihakan pemerintah sangat diperlukan demi ekosistem sastra yang lebih sehat, sehingga para perangkai kata dapat terus berkarya tanpa harus bergumul dengan ketidakpastian kesejahteraan.

Wednesday, May 28, 2025

PENYALURAN BANSOS TAHAP II 2025

Penyaluran Bansos Tahap Kedua 2025 Dimulai, Kemensos Gunakan Data Tunggal Terbaru

Oleh FIRNAS

Tulisan ini berdasarkan rilis video Kemensos di youtube, Rabu 28/5/2025,  jam 20.00 wib

Pemerintah melalui Kementerian Sosial (Kemensos) secara serentak memulai penyaluran bantuan sosial (bansos) Program Keluarga Harapan (PKH) dan bantuan pangan non-tunai (sembako) tahap kedua tahun 2025. Penyaluran yang dimulai hari ini, Rabu, 28 Mei 2025, merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto dan akan menggunakan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) untuk pertama kalinya.

DTSEN: Menuju Bansos Lebih Tepat Sasaran

Menteri Sosial, Saefullah Yusuf, menjelaskan bahwa penggunaan DTSEN menjadi terobosan penting dalam penyaluran bansos. "DTSEN adalah data yang mencakup kondisi individu dan keluarga yang menyatu dan lengkap, tentu akan terus dimutakhirkan setiap 3 bulan," ujar Saefullah Yusuf.

Proses pemutakhiran data DTSEN dilakukan bersama Kemensos, Badan Pusat Statistik (BPS), dan Pemerintah Daerah, serta melibatkan partisipasi masyarakat luas melalui aplikasi Cekbansos. Masyarakat dapat menyertakan data-data yang diperlukan untuk pemutakhiran ini.

Hasil pemutakhiran data menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam daftar penerima. Sekitar 1,8 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang sebelumnya menerima bansos dinyatakan tidak lagi layak menerima bantuan. Di sisi lain, 1,8 juta keluarga miskin yang sebelumnya belum terjangkau, kini akan masuk ke dalam daftar penerima bansos.

Transparansi dan Efektivitas Program Pemerintah

Saefullah Yusuf menekankan bahwa langkah ini merupakan upaya pemerintah untuk membuat program bansos lebih tepat sasaran dan memastikan bantuan diterima oleh mereka yang benar-benar membutuhkan.
"Ini sekaligus adalah upaya untuk membuat program pemerintah lebih tepat sasaran dan bisa diterima oleh mereka yang benar-benar membutuhkan bantuan," tegasnya.

Menteri Sosial juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama mengawal penyempurnaan DTSEN dan proses penyaluran bansos. "Sebab dengan data yang akurat, tentu program dan bantuan pemerintah akan tepat sasaran dan efektif meningkatkan kesejahteraan sosial," pungkas Saefullah Yusuf.

Penyaluran bansos tahap kedua 2025 ini diharapkan dapat berjalan lancar dan memberikan dampak positif yang maksimal bagi masyarakat yang membutuhkan, sejalan dengan semangat Inpres Nomor 4 Tahun 2025. (*)

Berikut link video kemensos

https://youtu.be/kPXXnUHeoKc?si=n7oNNGhV2cdpT4Bp

Selamat menonton

Tuesday, May 27, 2025

Kalau Kepala Desa Masih Bingung AI, Siap-Siap Desa Kalah Cepat Sama Meme!

Oleh : Firnas, Gareng & Petruk – Duo Ngakak Tapi Serius Nan Menyejahterakan Rakyat

1. Pembuka ala Angkringan

Bayangno, Rek. Warga nanya di grup WA: “Pak Kades, pupuk kok mahal maneh?” — eh, balasan baru nongol besok pagi karena Pak Kades masih nyari sinyal di kebun pisang. Padahal kalau punya asisten Generative AI, Pak Kades cukup ketik: /pupuk ➜ keluar grafik harga nasional, prediksi cuaca, sampai kapan diskon di koperasi. Warga puas, Pak Kades tenang, grup WA langsung adem kayak es dawet.

Petruk garuk-garuk kepala: “Lha, AI iki ibarat kerbau sakti. Kowe tinggal narik tali, dia yang ngluku sawah digital!”

2. Lima Alasan Pak Kades WAJIB Melek AI (Versi Ketoprak Humor)

# Kenapa Penting? Sindiran Manis ala Gareng-Petruk

1 Hemat Waktu & Biaya – Surat, laporan, proposal jadi 10× lebih cepat. “Ngapain ngetik ulang peraturan tiap tahun, Pak? AI bisa copas legal tapi sah!”
2 Perencanaan Ciamik – AI baca cuaca & pasar: “Tanam padi minggu depan, panen pas harga naik!” “Selama ini rencana desa kayak sinetron: panjang, tapi plot twist-nya banjir dadakan.”
3 Pelayanan 24/7 – Warga tanya SKTM via chatbot, jawab langsung. “Biar kantor desa gak cuma ramai pas ada wifi gratis.”
4 UMKM Naik Kelas – Konten medsos, terjemah katalog ke bule, semua auto-generate. “Produk tempe krispi nembus Eropa, bukan cuma warung sebelah balai desa.”
5 Tangkal Hoaks & Penipuan – AI deteksi deepfake, warga teredukasi. “Biar tidak ada lagi yang percaya SMS ‘Anda dapat traktor, klik link ini’.”

3. “Tapi Aku Gaptek, Bro!” – Solusi Ndeso Nan Cerdas

1. Mulai dari WhatsApp ➜ sekarang ada bot ChatGPT via WA; latihan cukup kirim meme, dapat rangkuman APBDes.

2. Pelatihan Gratis Pemerintah ➜ daftar di program literasi digital Kemendes. Gratis, plus kopi!

3. Gandeng Karang Taruna ➜ yang muda yang pegang Python; yang tua pegang nasihat.

Gareng nyeletuk: “Teknologi itu kayak wedang jahe – panas di awal, tapi bikin badan sehat. Dicoba dulu, Pak!”

4. Risiko Kalau Pak Kades Masih Anteng di Zona 3G

Ekonomi Desa Keteteran: UMKM sebelah kampung sudah viral di TikTok, desa kita masih cetak brosur fotokopian.

Informasi Lambat: Harga gabah turun hari ini, desa baru rapat minggu depan.

Warga Kabur: Anak muda pindah kota karena merasa desanya offline.

 

5. Penutup – “AI itu Cangkul Digital”

Demokrasi desa butuh kepala desa yang cepat, tepat, dan niat. Generative AI bukan “ilmu kota”, tapi cangkul digital buat buka lahan ide: dari administrasi rapi sampai ekonomi kreatif.

> Kata Petruk: “Yang takut AI bakal gantiin manusia itu keliru—AI cuma gantiin manusia yang lamban.”
Kata Gareng: “Jadi, Pak Kades… mau jadi pionir desa pintar, atau jadi legenda grup WA yang cuma kirim stiker tangan?”

 

#DesaMelekAI #PetaniPintar #KecerdasanBuatanRakyat – Yuk, jangan sampai desa kita ketinggalan stir di jalan tol digital!

GARENG PETRUK NEWS – Edisi Khusus: Ngadheg Pasar, Bubrah Pedagang!

Oleh FIRNAS, garengpetruk.com, Pasuruan.

“Pasuruan Makin Kinclong, Pedagang Makin Kelong!”

Pasuruan – Kawasan Stasiun Pasuruan kini bukan lagi tempat jajan cilok sambil nunggu kereta lewat. Satpol PP, bak pasukan Avengers lokal, mulai unjuk gigi dengan misi mulia: “Bersihkan trotoar dari tenda-tenda rakyat jelata!”

Wes ngono, para pedagang kaki lima (PKL) yang selama ini nglarisi tahu petis, sandal jepit, sampe baju obral “3 for 50” di pinggir stasiun, kini diwenehi tiga surat cinta dari pemerintah. Surat peringatan ketiga wis dicelukno, dan wedhus gembel wae ngerti, sing nomer telu kuwi tandane wis “Wes cukup, Cak!”

Sate Lawan Tatanan? Ya Dibungkus!

Menurut sumber dari kalangan yang tak mau disebutkan namanya (tapi sebetulnya ngaku-ngaku warga), kawasan stasiun wis ra karuan: kumuh, macet, dan aromane campuran antara gorengan semalam sama parfum KW. “Aku mlebu stasiun kok kaya mlebu pasar malam,” keluh Mbak Yuni, calon penumpang yang nyaris kececer kereta gara-gara dodolan semrawut.

Walikota Adi Widowo, dengan gagah perkasa dan seragam rapih, ngumumke pasukan Satpol, TNI, lan Polri wis siap “nge-prank” pedagang yang ngeyel. “Ini demi keadilan dan ketertiban kota,” ujarnya, sambil senyum semringah di atas podium yang lebih kinclong dari paving stasiun.

Petruk Ngomong: “Yang Kalah, Selalu Yang Kecil!”

Petruk, tokoh rakyat yang terkenal ora nduwe tanah, tapi nduwe hati, nyeletuk:

> “Wong cilik dipindahke, pasar modern malah tambah gedhe. Gedung megah dibiayai APBD, lha wong jualan gorengan malah diusir merga ngresekno pemandangan?”

Gareng yang lagi ngudud sambil nglirik berita ini, langsung nimpali,

> “Yo jare demi estetika, tapi ngono ngendi papan anyar sing layak, sing rame, sing ora mung jadi ‘penampungan’? Wong jualan iku urip, dudu hama sing kudu dibasmi!”

 

Sindiran Tapi Sayang: Pasar Rakyat vs Pasar Modal

Niat pemerintah nertibke pasar patut diapresiasi, ben ora dadi kuburan kreatifitas rakyat. Tapi ojo lali, rakyat iki dudu paku bumi sing sak karepmu dicopot-copot. Mereka dudu pengganggu kota, tapi penyambung hidup keluarga.

Petruk nutup berita iki karo pantun:
“Kalau pasar jadi rapi, kami ikut senang hati.
Tapi jangan cuma tertibkan, terus nasib kami dilupakan.”

Saking GarengPetruk.com – berita rakyat, untuk rakyat, kadang lucu, sering ngenes, tapi selalu jujur.

https://garengpetruk.com/gareng-petruk-news-edisi-khusus-ngadheg-pasar-bubrah-pedagang/

DERITA PEDAGANG PASAR BESAR KOTA PASURUAN PASCA PENERTIBAN DAN PEMBONGKARAN

Derita Pedagang Kaki Lima di Stasiun Pasuruan: Antara Penertiban dan Asa Relokasi

Pasuruan, Jawa Timur– Senin, 26 Mei 2025, menjadi hari yang tak terlupakan bagi puluhan pedagang kaki lima (PKL) di sekitar Stasiun Pasuruan. Sejak pagi, petugas gabungan dari Pemerintah Kota Pasuruan, KAI, TNI, dan Polri melakukan penertiban besar-besaran, meratakan lapak-lapak yang selama puluhan tahun menjadi tumpuan hidup mereka. Penertiban ini adalah bagian dari upaya penataan kawasan stasiun dan alun-alun, yang disebut bertujuan untuk menciptakan keadilan bagi semua pengguna ruang publik.

"Hari ini kami Pemerintah Kota Pasuruan bersama KAI, TNI, Polri, dan seluruh jajaran melaksanakan penataan atau penertiban di kawasan Pasar Besar dan Alun-alun," ujar salah seorang perwakilan pemerintah kota di lokasi. Ia menambahkan bahwa sosialisasi telah dilakukan sebelumnya, dan para pedagang yang menempati lokasi tidak semestinya sudah sepakat untuk ditata. "Alhamdulillah tadi lancar, masyarakat juga mendukung karena prinsipnya kami dari pemerintah ingin memberikan keadilan bagi semua," katanya, menegaskan bahwa penataan ini untuk keadilan bagi pejalan kaki, pedagang, dan pengguna akses transportasi.

---

Pedagang: Siap Pindah, Asal Ada Solusi

Namun, di balik narasi penataan yang mulus, tersimpan kisah getir para pedagang yang merasa diombang-ambingkan. Ibu Ida, seorang pedagang kelapa yang sudah berjualan di sana selama 27 tahun, mewarisi usahanya dari sang ibu. Ia mengungkapkan perasaan campur aduknya. "Sedih, Mbak. Sudah 27 tahun dari orang tua," ujarnya lirih. Ketika ditanya apakah ada tempat relokasi, ia menjawab, "Enggak ada tempat, Mas. Kalau ada tempat kan enak, ini enggak ada tempat, enggak ada tempat."

Para pedagang sebenarnya bersedia untuk pindah dan mendukung program penataan KAI, asalkan ada tempat yang layak. "Mereka enggak sulit kok tanggung jawab mereka, mereka mau pindah tapi asalkan ada tempat. Makanya kan kenapa kemarin minta, 'Pak tolong Pak kasih waktu agar Pemkot Pasuruan bisa menyiapkan tempat dulu baru kita pindah pelan-pelan, kita relokasi pelan-pelan gitu loh Pak,'" jelas seorang juru bicara pedagang. Mereka berharap Pemkot Pasuruan dapat segera menemukan lokasi yang layak sehingga mereka bisa kembali berjualan.

---

KAI: Pertumbuhan Penumpang dan Rencana Penataan Lahan

Di sisi lain, PT KAI Daop 9 Jember menjelaskan bahwa penataan ini krusial mengingat pertumbuhan penumpang kereta api yang signifikan di Stasiun Pasuruan. "Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan perapian dan keteraturan agar pedagang ini tidak menghalangi akses menuju Stasiun Pasuruan," kata perwakilan KAI.

Data menunjukkan, jumlah penumpang yang dilayani dari Stasiun Pasuruan mencapai sekitar **53.600 penumpang pada 2023**, dan meningkat menjadi **62.000 lebih penumpang pada 2024**. Bahkan, dari Januari hingga Mei 2025, sudah ada pertumbuhan 2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dengan rata-rata harian 340 penumpang KA jarak jauh dan 1.600 penumpang komuter, aksesibilitas stasiun menjadi prioritas.

Lahan yang ditertibkan ini, menurut KAI, adalah milik mereka dan akan dimanfaatkan untuk penataan kawasan stasiun, termasuk rencana penataan lahan parkir pada tahun ini. Sekitar **28 hingga 30 lapak di sisi timur dan 8 hingga 10 lapak di sisi barat** stasiun terdampak penertiban ini. Pihak KAI menegaskan bahwa sosialisasi gencar sudah dilakukan sejak 2022-2023, dan SP3 (Surat Peringatan Ketiga) telah diberikan beberapa hari sebelumnya.

---

Evakuasi dalam Tiga Hari

Penertiban yang mengerahkan alat berat ini ditargetkan selesai dalam tiga hari, yaitu pada 26, 27, dan 28 Mei 2025. Diharapkan, semua pedagang sudah kembali ke lapak mereka yang direlokasi di Pasar Besar maupun Pasar Karang Ketuk.

Di tengah hiruk pikuk pembongkaran, para pedagang sibuk menyelamatkan sisa-sisa bangunan dan barang dagangan yang masih bisa digunakan. Raut wajah sedih dan bingung tak bisa disembunyikan. "Nggak tahu, Mas, belum tempat," kata Ibu Rusmiati, seorang pedagang kelapa parut yang juga sudah puluhan tahun berjualan di lokasi tersebut, ketika ditanya akan pindah ke mana.

Meskipun penertiban ini membawa asa akan kota yang lebih tertata, ia juga meninggalkan pertanyaan besar tentang nasib para pedagang yang harus memulai dari awal tanpa kejelasan tempat. Semoga ada solusi terbaik bagi mereka agar roda perekonomian mereka tetap bisa berputar. (*)

Sumber tulisan :
https://youtu.be/B-oflmc1rMU?si=ZMoMf6-CPYDzwPGA

By FIRNAS

KADES WAJIB TAHU AI (Artificial Intelligence)

*Mengapa Kepala Desa Anda WAJIB Tahu Soal Generative AI Sekarang?*

FIrnas, Pasuruan

Bayangkan ini: Seorang petani di pelosok desa bertanya ke WhatsApp Group RT-nya, *"Kenapa harga pupuk naik lagi?"* Daripada jawaban spekulatif warga, *Kepala Desa langsung membagikan analisis otomatis berbasis AI* yang merangkum data harga pupuk nasional, prediksi tren, dan rekomendasi waktu beli terbaik.  

Ini bukan mimpi. *Generative AI* (kecerdasan buatan yang bisa menghasilkan teks, analisis, bahkan gambar) sudah bisa jadi "asisten digital" terkuat bagi desa. Tapi sayangnya, *banyak kepala desa masih menganggap AI sebagai "ilmu kota" yang tidak relevan*.  

*5 Alasan Kepala Desa Harus Melek AI Sekarang Juga* 

1. *Menghemat Waktu & Biaya Administrasi*
- *Surat menyurat, laporan keuangan, hingga proposal bantuan* bisa dibuat 10x lebih cepat dengan tools seperti ChatGPT atau Gemini.  
- Contoh nyata: Desa di *Jawa Tengah* menggunakan AI untuk *otomatisasi laporan keuangan*, mengurangi kesalahan manusia dan waktu kerja dari 3 hari → 1 jam.  

2. *Mempermudah Perencanaan Pembangunan*  
- AI bisa *menganalisis data kependudukan, cuaca, atau pasar** untuk membantu keputusan:  
  - *"Kapan waktu terbaik tanam padi tahun ini?"*  
  - *"Desa mana yang paling butuh bantuan sosial?"*  
- Di *Bali*, beberapa desa adat sudah pakai AI untuk *prediksi kunjungan turis*, mengatur penjadwalan acara budaya.  

3. *Meningkatkan Pelayanan Publik*
- Warga bisa tanya *"Syarat buat SKTM"* lewat chatbot WhatsApp, tanpa antri ke kantor desa.  
- *Contoh sukses*: Desa di *Yogyakarta* pakai AI voicebot untuk menjawab pertanyaan warga 24 jam / 7 hari dalam bahasa Jawa.  

4. *Membuka Peluang Ekonomi Digital*
- AI bisa bantu *promosi UMKM desa*:  
  - Generate konten media sosial (reels, poster) otomatis.  
  - Terjemahkan katalog produk ke bahasa asing untuk ekspor.  
- *Fakta**: Desa di *Bandung Barat* sukses jual kerajinan ke Eropa karena iklan AI-generated.  

5. *Antisipasi Penipuan & Hoaks*  
- *Deepfake & scam digital* makin marak. Kepala desa yang paham AI bisa:  
  - Mengedukasi warga soal penipuan berkedok "bantuan pemerintah".  
  - Memverifikasi informasi sebelum disebarkan.  

*"Tapi Saya Gaptek, Pak!"*  
Tenang, *AI sekarang bisa dipelajari tanpa perlu jadi programmer*. Caranya:  
1. *Mulai dari WhatsApp*: Pakai bot seperti *ChatGPT via WA* (sudah banyak tutorial YouTube).  
2. *Ikut Pelatihan Gratis*: *Kemenkominfo & Kemendes* punya program literasi digital untuk desa.  
3. *Ajak Anak Muda*: Libatkan karang taruna atau mahasiswa KKN untuk bantu implementasi.  

*Kesimpulan*
Generative AI bukan untuk "orang kota" saja. **Justru desa yang punya masalah unik butuh solusi cepat & murah—dan AI bisa menjawab itu.*

*Jika kepala desa tidak mulai belajar sekarang, desanya akan tertinggal.*

*Desa cerdas = desa yang adaptif.*

*(Artikel ini sebagian ditulis dengan bantuan AI, lho!)* 🚀  

---  
*Apa pendapatmu? Sudah ada kepala desa di daerahmu yang pakai AI?*
*#DesaDigital #GenerativeAI #KepalaDesaMelekTeknologi*

PENERTIBAN DAN PEMBONGKARAN LAPAK PEDAGANG PASAR BESAR KOTA PASURUAN

Senin, 26 Mei 2025
PENERTIBAN PEDAGANG PASAR DI KOTA PASURUAN 

Pemerintah Kota Pasuruan melalui Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) terus mengambil langkah tegas dalam menata kawasan sekitar Stasiun Pasuruan yang dinilai kumuh dan semrawut akibat maraknya aktivitas pedagang kaki lima di luar area pasar.

Satpol PP Kota Pasuruan telah melakukan serangkaian upaya persuasif berupa sosialisasi kepada para pedagang yang berjualan di sekitar stasiun. Dalam sosialisasi tersebut, para pedagang dihimbau untuk memindahkan aktivitas jual belinya ke dalam area pasar yang telah disediakan.

Namun hingga saat ini, banyak pedagang yang masih enggan untuk berpindah. Akibatnya, surat peringatan ketiga telah resmi dilayangkan kepada para pedagang. Jika himbauan dan peringatan tersebut tetap tidak diindahkan, pemerintah memastikan akan segera melakukan tindakan pembongkaran demi menertibkan kawasan tersebut.

"Kawasan di sekitar stasiun terlihat kumuh, kotor, dan sering menimbulkan kemacetan," ujar salah seorang warga yang hendak menuju stasiun. Keluhan serupa datang dari banyak masyarakat yang merasa terganggu dengan kondisi tersebut.

Langkah penertiban yang dimulai hari ini (Senin, 26/5/2025) merupakan upaya penegakan keadilan bagi semua, kata Walikota Adi Widowo pada apel bersama TNI, Polri, Satpol di Stasiun Pasuruan.  

Penertiban ini diharapkan dapat mengembalikan fungsi kawasan stasiun sebagai ruang publik yang tertib, bersih, dan nyaman bagi masyarakat. Walikota Kota Pasuruan pun menegaskan bahwa upaya ini dilakukan demi kepentingan bersama, termasuk untuk meningkatkan ketertiban dan estetika kota. (*)

PEREMPUAN PERADABAN

Membongkar Kisah "Perempuan Peradaban": Inspirasi dari Masa Lalu untuk Masa Kini

Oleh FIRNAS, Garengpetruk.com,  Pasuruan

Di tengah hiruk pikuk perdebatan tentang peran perempuan di era modern, sebuah buku berjudul "Kisah-Kisah Perempuan Peradaban" hadir menawarkan oase inspirasi dari masa lalu. Buku ini, yang baru saja diluncurkan, memuat lebih dari 30 kisah perempuan hebat dari berbagai zaman, mulai dari Siti Hawa, para Sahabiyah, hingga tokoh kontemporer seperti RA Kartini dan Nyai Ahmad Dahlan.

Dalam acara bedah buku yang hangat, Ibu Esti Handayani, S.Pd dari Majelis Taklim Arafah, Solo, berbagi kisah inspiratif tentang idolanya: RA Kartini. "Saya mengidolakan seperti yang diidolakan ibu saya, yaitu Ibu RA Kartini," ujar Ibu Esti. Ia menjelaskan bahwa ibunya, yang kini berusia 89 tahun, sering menyanyikan lagu tentang Kartini, menumbuhkan kekaguman pada sosok pejuang emansipasi wanita tersebut.

 "Dari Ibu Kartini itu kan digambarkan atau dibayangkan bahwa dari zaman dulu itu wanita-wanita kita tuh wanita yang terbelakang. Nah, berkat dedikasi atau kemampuan atau loyalitas pada Ibu Kartini itu akhirnya kita bisa bangkit seperti ini, kita bisa setara dengan laki-laki," pungkasnya, disambut tepuk tangan meriah.

Memahami Karakteristik Perempuan Melalui Kisah Para Tokoh

Salah satu pendakwah, Ustaz Ahmad, menyoroti tujuan utama buku ini. "Dari 30 lebih karakter ini, kan beda-beda. Nah, buku ini bertujuan supaya kita, misalkan mau itu perempuan atau laki-laki, dari buku ini kita bisa mencocokkan, 'Sepertinya saya ini karakternya cocok di mana?'" jelasnya. Hal ini dikarenakan setiap tokoh perempuan memiliki karakteristik dan sifat yang beragam, yang dapat membantu pembaca menemukan role model yang tepat.

Ustaz Ahmad kemudian mencontohkan beberapa wanita paling sempurna yang disebut Nabi Muhammad SAW, yaitu Asiah, Maryam, Khadijah, Fatimah, dan Aisyah. Menariknya, kisah mereka membuktikan bahwa kesempurnaan seorang wanita tidak bergantung pada status pernikahan atau kondisi suami.

Asiah, istri Firaun yang zalim, tetap mampu menjadi wanita yang luar biasa salehah di sisi Allah. "Ini menjadi bukti, menjadi hujah, bahwa ibunda Asiah yang suaminya saja Firaun, beliau tetap bisa menjadi seorang wanita yang luar biasa di sisi Allah SWT," tegas Ustaz Ahmad.

Maryam, seorang single mother yang membesarkan Nabi Isa AS, menunjukkan bahwa status lajang bukanlah penghalang untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Khadijah, istri pertama Nabi Muhammad SAW, yang sempat menjanda dua kali sebelum menikah dengan Nabi, menunjukkan kontribusi luar biasa dalam dakwah.

Fatimah, putri Nabi Muhammad SAW, yang hidup dalam kesederhanaan dan kesulitan, tetap menjadi teladan kesabaran.

Aisyah, istri Nabi Muhammad SAW, yang diuji dengan tidak memiliki keturunan, namun menjadi periwayat hadis terbanyak dan mendidik banyak ulama.

Kisah-kisah ini menegaskan bahwa tidak ada batasan bagi perempuan untuk menjadi hamba terbaik di mata Allah, terlepas dari segala ujian hidup.

Islam dan Pembebasan Perempuan: Melawan Narasi Patriarki dan Feminisme

Ustaz Salim, penulis buku "Kisah-Kisah Perempuan Peradaban," menjelaskan inspirasi di balik karyanya. 

"Dewasa ini, di sekitar kita itu muncul kembali berbagai macam pemikiran, ideologi, dan lain sebagainya yang kemudian men-challenge di dalam sikap terhadap perempuan," ujarnya. 

Ia merujuk pada pandangan patriarki modern yang ingin mengembalikan peran wanita hanya sebatas "dapur, sumur, kasur," serta ide-ide progresif feminisme.

Padahal, menurut Ustaz Salim, semua pertanyaan dan tantangan tersebut telah dijawab oleh Islam. "Islam itu risalah pembebasan perempuan," tegasnya, mengutip disertasi seorang ulama. 

Dengan datangnya Islam, posisi perempuan diangkat menjadi setara dengan laki-laki di hadapan syariat, Allah, dan dalam kesempatan meraih keutamaan.
Ia menekankan bahwa perempuan memiliki kekhususan dan keistimewaan yang tidak bisa digantikan oleh laki-laki, yaitu hamil, melahirkan, dan menyusui. 

Inilah mengapa surga berada di bawah telapak kaki ibu, dan berbakti kepada ibu adalah prioritas utama.

Ustaz Salim juga mengutip contoh-contoh Sahabiyah yang memiliki kiprah luar biasa dalam peradaban, seperti:

Nusaibah binti Ka'ab, seorang mujahidah yang berani bertempur di medan perang untuk melindungi Nabi Muhammad SAW.

Asyifa binti Abdillah Al-Adawiyah (seorang dokter dan kemudian diangkat menjadi Menteri Perdagangan di masa Umar bin Khattab) dan Rufaidah Al-Aslamiyah (seorang perawat), yang menunjukkan dedikasi tinggi dalam bidang medis dan sosial. 

Asyifa, khususnya, bahkan mampu mengawasi pasar di seluruh kekhalifahan Umar bin Khattab yang luas, memastikan tidak ada kecurangan dan perdagangan berjalan lancar.

Kisah-kisah ini adalah bukti bahwa perempuan, dengan fitrah dan tabiatnya, dapat berkiprah dan berkontribusi secara maksimal untuk umat dan peradaban. Buku "Kisah-Kisah Perempuan Peradaban" diharapkan dapat menjadi panduan bagi perempuan masa kini untuk menemukan potensi terbaik mereka tanpa kehilangan identitas keislaman. (*)

KEMBALI KE ISLAM


Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan Malang Selatan, yang dulunya 100% Kristen, kini menjadi saksi bisu pulangnya beberapa warganya ke pangkuan Islam. 

Kisah-kisah mualaf di desa ini, yang mayoritas masih beragama Kristen, menjadi sorotan utama, menunjukkan eratnya toleransi dan persaudaraan yang terjalin.

---

**Perjalanan Spiritual Bu Yeni: Kembali ke Fitrah**

Salah satu kisah inspiratif datang dari Bu Yeni Anita (42). Ia memutuskan untuk bersyahadat, kembali memeluk Islam setelah 11 tahun meninggalkan agamanya demi pernikahan. Dengan panggilan hati yang kuat, Bu Yeni mengaku selama menjadi Kristen, batinnya tidak pernah tenang. "Kadang ada bisikan... supaya apa kita hidup kan masa depan gitu belum tentu tahu ya Ustaz nanti kita matinya gimana? seperti apa saya itu? Berpikir seperti itu, dari hati saya itu, pengin ya nanti kalau meninggal gitu bisa mati muslim gitu loh," ungkapnya penuh haru.

Suami Bu Yeni mengizinkan keputusannya, namun belum siap untuk ikut bersyahadat. Meski demikian, Bu Yeni berharap suaminya segera menyusul agar ikatan pernikahan mereka sah secara Islam. 

Kisah Bu Yeni semakin mengharukan mengingat kedua orang tuanya telah tiada, dan ia merasa bersalah karena pernah keluar dari Islam saat mereka masih hidup. Kini, ia bertekad untuk selalu istiqamah dan mendoakan orang tuanya.

---

Pak Sugianto dan Mas Aan: Hidayah Melalui Keluarga

Tak hanya Bu Yeni, Pak Sugianto juga memutuskan untuk bersyahadat. Keputusannya ini didorong oleh anak-anak dan istrinya, Bu Poniti, yang telah lebih dulu memeluk Islam. "Saya masuk Islam ya setuju. Kalau Anda ya ikut anak-anak semua. ikut anak-anak semua sama suami saya," ujarnya. 

Pak Sugianto menunjukkan kesiapannya untuk beradaptasi dengan ajaran Islam, termasuk kewajiban shalat lima waktu.

Sementara itu, Mas Aan (33), seorang pemuda yang juga bersyahadat, termotivasi oleh kakaknya yang telah masuk Islam. Ia ingin seluruh keluarganya berkumpul dalam satu agama. Meskipun ia akan menikahi seorang muslimah, Mas Aan menegaskan keputusannya bukan karena paksaan, melainkan karena keyakinan penuh. "Yakin sudah mantap berarti ya di Islam ya," tegasnya saat ditanya kesiapannya menghadapi cobaan.

---

Sosok Ustaz Hasan Nawawi: Pejuang Toleransi di Sitiarjo

Di balik gelombang mualaf ini, ada peran sentral Ustaz Hasan Nawawi. Beliau adalah inisiator dakwah di Desa Sitiarjo dan dikenal sebagai sosok yang sangat menjunjung tinggi toleransi. "Beliau di sini adalah sebagai seorang inisiator dakwah di sini di Kampung Desa Sitiarjo ini dan beliau ini adalah orang yang paling menjunjung tinggi tentang toleransi dan aktif dalam membina mualaf," puji salah satu pendakwah.

Ustaz Hasan Nawawi juga mengasuh anak-anak yatim piatu Kristen, memberikan kebebasan kepada mereka untuk memilih keyakinan, menunjukkan bahwa dakwahnya berdasarkan kemanusiaan, bukan paksaan. Ia bahkan berencana membantu para mualaf baru mengurus KTP mereka dengan syarat mereka mau belajar bacaan shalat.

---

Dakwah Aya Sofya Indonesia: Membuka Jalan Hidayah

Kehadiran Mualaf Center Nasional Aya Sofya Indonesia juga turut andil dalam proses ini. Organisasi ini tidak hanya membimbing para mualaf, tetapi juga membuka peluang beramal melalui program kurban yang tepat sasaran bagi mualaf miskin di pedalaman.

---

Yesus adalah Muslim? Sebuah Perspektif Baru

Dalam dialognya, para pendakwah juga menyampaikan perspektif menarik tentang agama Kristen. Mereka berpendapat bahwa Yesus sesungguhnya adalah seorang Muslim dan tidak pernah tahu apa itu Kristen. Pandangan ini didasarkan pada pembacaan mendalam terhadap kitab suci, termasuk Alkitab berbahasa Arab yang menunjukkan bahwa Tuhan yang menciptakan langit dan bumi adalah Allah.

---

Kisah-kisah dari Desa Sitiarjo ini menjadi bukti nyata bahwa hidayah bisa datang dari mana saja, bahkan dari keinginan sederhana seperti "ingin mati muslim". Toleransi dan persaudaraan di tengah perbedaan keyakinan menjadi jembatan bagi setiap individu untuk menemukan jalan spiritualnya. 

Ditulis oleh FIRNAS, berdasarkan video youtube ini.

https://youtu.be/ZANBl46X_Nw?si=ZguVIjw8HFqZvZ-1

Selamat menonton.

MEUBEL DI PASURUAN

**Mebel Pasuruan: Dari Limbah Kayu hingga Potensi Ekspor yang Terhimpit Persaingan Global**

By FIRNAS 

Pasuruan, Jawa Timur, menyimpan potensi besar di balik gurat-gurat kayu dan aroma serbuk gergaji. Industri furnitur, terutama yang berbahan dasar kayu, menjadi salah satu andalan ekspor Jawa Timur. Ketersediaan bahan baku melimpah – mulai dari kayu jati hingga bambu dan rotan – telah melahirkan kreativitas para pengrajin. Tak sedikit dari mereka yang jeli memanfaatkan limbah kayu, seperti bonggol atau akar, mengubahnya menjadi kerajinan bernilai seni tinggi yang memikat pasar domestik hingga mancanegara.

“Produk furnitur adalah salah satu sektor yang memicu ekspor Jawa Timur,” ungkap Drajat Irawan, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur. Ia menambahkan, keunikan dan nilai artistik produk furnitur Indonesia, seperti mebel dari akar jati, menjadi pembeda yang tak dimiliki negara lain.

**Jejak Kerajinan dan Mebel Pasuruan di Pasar Global**

Di Kabupaten Pasuruan, geliat industri kerajinan kayu terasa kuat. Desa Sentul di Kecamatan Purwodadi dan Desa Wonorejo di Kecamatan Wonorejo menjadi sentra produksi beragam barang, mulai dari setir kayu, mainan anak-anak, alat olahraga, hingga alat peraga pendidikan. Produk-produk ini tak hanya mengisi pasar lokal, tetapi juga telah merambah kota-kota besar seperti Bandung dan Jakarta, bahkan menembus pasar ekspor ke Malaysia dan Swedia.

Tak hanya kerajinan, sektor mebel di Pasuruan juga menunjukkan geliat signifikan. Kecamatan Winongan, Pohjentrek, Kraton, dan Rejoso menjadi kantong-kantong produksi mebel, menampung mayoritas dari 467 unit industri kecil dengan kapasitas produksi mencapai 19.991 buah. Produk-produk mebel Pasuruan telah dikenal luas di pasar domestik, mulai dari Surabaya, Sidoarjo, Malang, Madura, Kediri, hingga Bali. Jejaknya di pasar ekspor juga tak kalah menjanjikan, mencapai Malaysia, Hong Kong, beberapa negara di Eropa, dan Amerika Serikat. Untuk semakin memperluas jangkauan, Pemerintah Kabupaten Pasuruan berencana membangun pasar mebel di wilayah Barat (Kecamatan Kraton) dan Timur (Kecamatan Rejoso), sebuah langkah strategis untuk mendongkrak pemasaran dan daya saing.

**Tantangan di Balik Angka Ekspor yang Megah**

Namun, di balik optimisme ini, tersimpan tantangan yang tak bisa diabaikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2021 mencatat nilai ekspor mebel Indonesia mencapai USD 2,88 miliar, dengan 69% didominasi mebel berbahan dasar kayu. Angka ini memang terkesan megah, namun faktanya, Indonesia masih tertinggal. Di Asia, Indonesia hanya menempati peringkat ke-17 dalam realisasi ekspor industri furnitur pada tahun 2021, dengan pangsa pasar hanya 1,19%. Kita masih kalah bersaing dengan negara tetangga seperti Vietnam (posisi kedua) dan Malaysia (urutan ke-12). China, sang raksasa, masih mendominasi puncak ekspor mebel dunia dengan pangsa pasar mencapai 32,86%. Keunggulan komparatif Indonesia sebagai penghasil bahan baku mebel yang melimpah rupanya belum cukup untuk memenangkan persaingan global.

Pandemi Covid-19 juga menyisakan luka mendalam. Penjualan mebel di Pasuruan anjlok hingga 70%. Jika pada kondisi normal, pengusaha bisa menjual 5-7 set meja kursi sehari, selama pandemi hanya 1-2 set yang laku. Untuk menopang para pelaku UMKM, pemerintah kota dan kabupaten Pasuruan berinisiatif membangun Pasar Mebel Pasuruan di Kelurahan Bukir dan Kelurahan Randusari, Kecamatan Gadingrejo. Pasar ini menjadi satu-satunya saluran pemasaran yang terbukti memberikan dampak signifikan pada penjualan produk UMKM mebel Pasuruan.

**Jepara dan Optimalisasi Pemasaran: Dua Permasalahan Utama**

Namun, dua permasalahan utama masih membayangi UMKM mebel kayu jati Pasuruan. Pertama, produk mereka kesulitan bersaing dengan mebel kayu jati dari Jepara, yang sudah lebih dulu dikenal sebagai pusat mebel jati nasional bahkan internasional. Kedua, saluran pemasaran yang belum optimal dan cenderung terpusat pada Pasar Mebel Pasuruan. Keterbatasan ini berujung pada produksi yang berlebih namun tidak seimbang dengan rendahnya jumlah pemesanan, yang pada akhirnya memukul penjualan mebel kayu jati.

Maka, untuk mendorong peningkatan pasar ekspor produk industri furnitur, Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur dituntut untuk lebih proaktif. Berbagai upaya, mulai dari pelatihan peningkatan kapasitas, promosi online dan offline yang agresif, pengembangan desain produk yang inovatif dan relevan dengan selera global, hingga peningkatan kualitas produk melalui standardisasi industri, harus digalakkan. Ini adalah kunci agar industri kerajinan kayu dan mebel Pasuruan siap bersaing di kancah global dan mewujudkan potensi besar yang selama ini tersembunyi.

---

Sunday, May 25, 2025

iNDONESIA MENUJU KEDAULATAN

INDONESIA MENUJU KEDAULATAN: NASIB BERAS, BENSIN, DAN DOMPET DI TENGAH BADAI GLOBAL

Oleh: FIRNAS – garengpetruk.com, Pasuruan


> “Negara kuat bukan negara yang isinya orang kuat-kuatan di medsos,
tapi yang isi perut rakyatnya kuat meski harga cabe lagi naik.”
— (Gareng Petruk, edisi panen gagal)

Wahai sedulur-sedulurku, rakyat semesta nusantara dari Sabang sampai swalayan, dari Merauke sampai minimarket yang diskonnya PHP: mari kita sambut tahun 2026 dengan semangat baru! Tahun di mana negara kita menargetkan kedaulatan pangan, energi, dan ekonomi. Pokoknya, dari nasi sampe solar, dari tahu sampe cuan, semua harus mandiri!

Tapi, sebelum semangat kita terbang melayang, mari kita ngopi dulu sambil ngelus dada — soalnya di luar sana, dunia sedang goyang hebat, lur! Bukan goyang TikTok, tapi goyang geopolitik: Rusia masih ngebet main tank, Gaza terus berasap, harga minyak bikin kepala cenat-cenut, dan dolar kayak mantan: susah ditebak, kadang naik, kadang nyakitin.

Geopolitik Global: Dunia Goyang, Dompet Kuyang

Kita hidup di zaman edan globalisasi edisi fragmentasi. Negara-negara yang dulunya ngopi bareng di G20, sekarang saling bacok tarif. Amerika dan Tiongkok berantemnya udah kayak sinetron stripping, tiap hari ada episode baru. Efeknya? Negara lain cuma bisa bengong sambil nyari promo harga gandum.

Korea Selatan, negara yang sukses bikin drakor dan skincare, sekarang malah kontraksi ekonominya. Singapura yang biasanya tenang, sekarang ikutan pusing. Bahkan Malaysia dan Vietnam juga ikut-ikutan lesu — padahal biasanya mereka jago jualan segala rupa.

Indonesia: Antara Optimisme dan Sabar Lahir Batin

Tapi kita? Kita tetap optimis. Wong Indonesia itu hebat: harga cabe naik, masih sempat bikin konten lucu. Harga BBM naik, masih sempat jajan boba. Tapi jangan salah, pemerintah nggak tinggal diam. Kementerian dan lembaga seperti Avengers ekonomi sedang menyusun strategi KEM-PPKF 2026: semacam GPS ekonomi agar kita nggak nyasar ke lubang resesi.

Intinya sih: biar dunia ribut, kita tetap fokus ke dapur sendiri. Diversifikasi ekspor, hilirisasi industri, reformasi struktural, digitalisasi UMKM, sampai urusan sawit yang digosipin terus sama Eropa — semua disikat. Karena masa depan nggak bisa nunggu mood geopolitik membaik.

Fiskal 2026: APBN Kuat, Rakyat Juga Harus Kuat

Nah, ini bagian penting, lur: pemerintah bilang defisit akan dijaga di angka sekitar 2,5% PDB. Katanya APBN 2026 ekspansif, terarah, dan terukur. Seperti orang jatuh cinta tapi tetap ngecek saldo rekening.

Delapan strategi utama pun diluncurkan, dari pangan, energi, MBG alias Makan Bergizi Gratis (bukan Makan Besar Gratis, ya!), sampai koperasi, UMKM, dan pertahanan semesta. Jadi kalau ada yang nanya, “2026 kita ngapain?” Jawabannya: kita makan, belajar, sehat, kerja, dan siap bela negara — bukan cuma bela netizen di kolom komentar!

Sindiran Ala Warung Kopi: Kedaulatan Itu Bukan Sekadar Kata Mutiara

Tapi ya, Gareng dan Petruk tetap nanya: kedaulatan itu benaran buat rakyat, apa buat slide presentasi pejabat? Jangan-jangan kedaulatan pangan hanya sampai nasi kotak rapat dinas. Atau energi mandiri, tapi colokan listriknya tetap numpang utang luar negeri.

Masalahnya sederhana tapi penting: kalau rakyat masih antre beli minyak goreng, anak sekolah masih rebutan makan siang, dan petani masih kalah cuan sama influencer skincare — ya, berarti PR-nya belum selesai.

2026 dan Mimpi Indonesia Emas: Jangan Sampai Jadi Emas Imitasi

Visi Indonesia Emas 2045 itu indah. Tapi jangan sampai kita baru sadar ternyata itu gold plated, bukan emas murni. Kedaulatan bukan hanya soal angka di dokumen, tapi rasa aman di warung, rasa sejahtera di dapur, dan rasa adil di dompet.

Jadi, Gareng dan Petruk sepakat: mari dukung pemerintah, tapi juga tetap cerewet. Karena negara ini akan jadi hebat bukan hanya karena pemimpinnya kuat, tapi karena rakyatnya nggak mau dibohongi dengan jargon doang.

> “Kita bukan anti kebijakan, kita cuma pro akal sehat.
Karena nasi gak akan datang cuma dari janji — tapi dari sawah, kerja, dan keberpihakan.”
— (Petruk, saat gagal panen dan gagal move on)

 

Selamat menyambut 2026, Indonesia! Semoga badai global hanya numpang lewat, dan semoga perut rakyat tetap kenyang tanpa harus jadi korban politik pangan.

Salam dari Gareng & Petruk,
yang masih setia nyari cabe murah dan sinyal harapan.


https://garengpetruk.com/indonesia-menuju-kedaulatan-nasib-beras-bensin-dan-dompet-di-tengah-badai-global/


INDONESIA MENUJU KEDAULATAN

*Indonesia Menuju Kedaulatan Pangan, Energi, dan Ekonomi di Tengah Badai Geopolitik Global 2026*


Oleh FIRNAS,  garengpetruk.com,  Pasuruan

Indonesia bersiap menghadapi tahun 2026 dengan visi ambisius untuk mencapai "Kedaulatan Pangan, Energi, dan Ekonomi", sebuah langkah krusial menuju Indonesia yang tangguh, mandiri, dan sejahtera. Dokumen Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2026, yang merupakan arah kebijakan ekonomi dan fiskal pertama di bawah pemerintahan hasil Pemilu 2024, menjadi panduan strategis di tengah lanskap global yang penuh gejolak dan ketidakpastian.

*Dinamika Global: Fragmentasi dan Ketidakpastian*

Dunia saat ini mengalami perubahan fundamental. Globalisasi, yang dulunya mengedepankan kerja sama, telah bergeser menjadi fragmentasi dan persaingan sengit antarbangsa. Kebijakan proteksionisme, eskalasi perang dagang, dan ketegangan geopolitik — seperti konflik Rusia-Ukraina dan dinamika di Timur Tengah — telah mengubah tata kelola global, mengganggu rantai pasok, dan memperparah ketidakpastian ekonomi dunia.

Perang tarif antara kekuatan ekonomi terbesar dunia, khususnya AS dan Tiongkok, tidak hanya memengaruhi perdagangan bilateral mereka, tetapi juga menciptakan efek rambatan (spillover effects) ke seluruh dunia. Pada awal 2025, beberapa negara seperti Korea Selatan bahkan mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi, sementara pertumbuhan ekonomi di negara-negara lain seperti AS, Spanyol, Singapura, Malaysia, dan Vietnam melambat.

*Indonesia: Memitigasi Risiko, Membangun Peluang*

Meskipun dihadapkan pada tantangan global yang kompleks, Indonesia melihat peluang di tengah ketidakpastian ini. Transmisi dampak dari gejolak global, baik melalui jalur perdagangan maupun arus modal, telah diidentifikasi. Penurunan ekspor, fluktuasi harga komoditas, dan volatilitas sektor keuangan menjadi risiko yang perlu diwaspadai. Namun, situasi ini juga menjadi momentum bagi Indonesia untuk membuka akses pasar ekspor baru, memperkuat kerja sama perdagangan dan investasi, serta mengakselerasi reformasi struktural seperti peningkatan kualitas SDM, hilirisasi industri, deregulasi, dan transformasi digital.

Pemerintah berkomitmen untuk memperkuat stabilitas ekonomi domestik melalui diplomasi dan kolaborasi antarnegara, mendorong negosiasi perjanjian perdagangan dan investasi yang lebih progresif, terbuka, dan adil. Koordinasi antara otoritas fiskal, moneter, dan sektor keuangan juga akan terus ditingkatkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar, mengendalikan inflasi, dan memastikan likuiditas sektor riil.

*Fokus Kebijakan Fiskal 2026: Ekspansif, Terarah, Terukur*

Kebijakan fiskal tahun 2026 dirancang tetap ekspansif, terarah, dan terukur, dengan target defisit di kisaran 2,48 persen hingga 2,53 persen PDB. APBN akan terus dijaga tetap sehat dan kredibel melalui reformasi fiskal, mobilisasi pendapatan yang selaras dengan kapasitas perekonomian, peningkatan kualitas dan efisiensi belanja, serta inovasi pembiayaan untuk mendorong kinerja perekonomian dan kesejahteraan.

Delapan strategi utama akan mendukung agenda pembangunan nasional:
* Ketahanan pangan.
* Ketahanan energi.
* Makan Bergizi Gratis (MBG).
* Program pendidikan.
* Program kesehatan.
* Pembangunan desa, koperasi, dan UMKM.
* Pertahanan semesta 
* Akselerasi investasi dan perdagangan global.

Harmonisasi dan sinergi kebijakan pusat-daerah juga menjadi pilar penting untuk mewujudkan belanja yang semakin efisien dan produktif, layanan publik yang semakin berkualitas, serta kesejahteraan rakyat yang semakin merata dan berkeadilan.

*Visi Indonesia Emas 2045: Berdaulat, Adil, Makmur*

Penyusunan KEM-PPKF Tahun 2026 oleh Pemerintahan Presiden Prabowo mewujudkan amanat UUD Tahun 1945 Pasal 33, di mana perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan, dan kekayaan alam dikuasai negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Hal ini sejalan dan konsisten dengan visi Indonesia Emas 2045 untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.

Dengan dukungan seluruh pemangku kepentingan, termasuk Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), kebijakan yang tertuang dalam KEM-PPKF 2026 diharapkan menjadi pedoman dalam menavigasi ekonomi, meredam gejolak di tengah ketidakpastian global, sekaligus melaksanakan agenda pembangunan untuk mewujudkan Indonesia yang tangguh, mandiri, dan sejahtera bagi semua[*].

Tuesday, May 20, 2025

KOPI KASPANDI

Kopi Kaspandi: Aroma Legenda yang Tak Lekang oleh Waktu dan Terus Berinovasi

Oleh FIRNAS, garengpetruk.com biro Pasuruan.

Pasuruan, Jawa Timur– Di tengah hiruk pikuk tren kopi modern yang terus bermunculan, secangkir Kopi Kaspandi tetap setia menyuguhkan aroma dan cita rasa yang telah melegenda di hati warga Pasuruan. Berdiri kokoh sejak tahun 1940, Kopi Kaspandi bukan sekadar merek, melainkan sebuah warisan turun-temurun yang terus beradaptasi tanpa kehilangan esensi kearifan lokalnya.

Adalah Bapak Burhanudin, generasi ketiga yang kini memegang kendali atas perjalanan panjang Kopi Kaspandi. Dalam bincang santai di Ramapati edisi Pojok UMKM, ia membuka lembaran sejarah di balik nama besar ini. "Alhamdulillah, kopi kita sudah ada sejak 1940," ujarnya bangga.

**Dari Batik Menuju Kopi: Kisah "Sepur" yang Melegenda**

Kisah Kopi Kaspandi bermula dari sang kakek, seorang perantau dari Solo yang hijrah ke Pasuruan dengan niat berdagang batik. "Dulu kakek datang ke Pasuruan itu niatnya dagang batik. Karena mendengar dari orang banyak, Pasuruan itu 'pasarnya uang'," cerita Burhanudin. Perjalanan sang kakek yang kala itu menggunakan kereta api menjadi inspirasi utama penamaan salah satu varian legendaris mereka: Kopi Kaspandi Sepur. "Itu sejarahnya, transport paling moda paling apa ya namanya paling unik dan paling massal itu kan sepur daripada yang lain untuk zaman itu," jelasnya.

Nama "Kaspandi" sendiri memiliki makna mendalam, merupakan gabungan dari nama kakek dan neneknya, Kasiani dan Afandi. Keunikan nama ini, ditambah dengan jaminan hak paten (Haki), memastikan orisinalitas Kopi Kaspandi di tengah pasar yang kompetitif.

Awalnya, toko sang kakek merupakan toko sembako yang dikenal sebagai pemasok gula dan beras terbesar di Pasuruan. Namun, melihat celah pasar kopi yang belum terjamah, sang kakek mencoba mengolah kopi. "Ternyata jalan, malah lebih unggul dari produk sembakonya itu sendiri. Karena kata orang-orang zaman itu, rasanya unik, enggak bisa ditiru," kenang Burhanudin.

**Rahasia Aroma dan Rasa yang Tak Tertandingi**

Keunikan rasa Kopi Kaspandi yang tak bisa ditiru adalah hasil dari proses panjang dan selektif. Burhanudin menjelaskan, rahasia utamanya terletak pada pemilihan bahan baku dan proses pengolahan. "Yang membedakan itu adalah dari bahan baku. Kita harus selektif beli kopi dari perkebunan yang pilihan, enggak sembarangan," tegasnya.

Kopi Kaspandi juga memiliki pendekatan unik dalam proses sangrai. Berbeda dengan pabrik modern yang menggunakan gas, Kopi Kaspandi mempertahankan tradisi sangrai menggunakan arang. "Kalau gas itu baunya enggak enak, mempengaruhi ya. Sedangkan kopi itu menyerap bau-bauan dari sekitar," ungkap Burhanudin, membocorkan rahasia penting di balik aroma khas Kopi Kaspandi. Penggunaan arang ini, menurutnya, menghasilkan aroma yang berbeda dan lebih otentik.

Selain itu, kemasan kertas yang masih dipertahankan bukan tanpa alasan. Selain ramah lingkungan, kemasan kertas juga memberikan sensasi aroma kopi yang lebih alami dibandingkan plastik atau aluminium. "Itu ada seninya melipatnya juga," tambah Burhanudin, menegaskan sentuhan tradisional yang dijaga.

**Inovasi dan Ketangguhan Menghadapi Tantangan**

Di era modern ini, Kopi Kaspandi tidak tinggal diam. Berbagai inovasi produk telah diluncurkan, mulai dari varian robusta, arabika, kopi lanang (peaberry), hingga kopi rempah dengan campuran jahe, sereh, dan kayu manis. Bahkan, Kopi Kaspandi kini memiliki produk siap minum seperti cappuccino cincau yang diminati generasi muda. "Kita harus inovatif dan kreatif, menciptakan produk baru dari produk yang lama," papar Burhanudin.

Tantangan terbesar yang dihadapi Kopi Kaspandi adalah persaingan dengan pabrik besar yang memiliki kekuatan *branding* luar biasa, serta menjamurnya kafe-kafe modern. Namun, Kopi Kaspandi memiliki strategi jitu: melayani semua segmen pasar, mulai dari kalangan menengah ke bawah dengan produk ekonomis seperti Kopi Kaspandi Piala, hingga produk premium untuk oleh-oleh dan ekspor.

Selain itu, kenaikan harga bahan baku yang terus-menerus menjadi tantangan abadi. "Yang lucunya itu malah pas COVID, semua produk itu turun tajam, kopi malah naik tajam," kenang Burhanudin. Namun, Kopi Kaspandi membuktikan ketangguhannya. Meski sempat merasakan dampak pandemi, permintaan kopi tetap tinggi. "Meskipun orang enggak butuh yang lain, tapi kopi tetap dibutuhkan," ujarnya optimistis.

**Belajar dari Kaspandi: Kunci Keberlanjutan UMKM**

Kisah Kopi Kaspandi juga memberikan pelajaran berharga bagi UMKM lainnya. Burhanudin menekankan pentingnya inovasi produk dan kemasan, serta riset pasar untuk memahami keinginan konsumen. "Jangan sampai enggak jadi beli karena uangnya kurang," kata Burhanudin, mencontohkan strategi kemasan sachet ekonomis yang memudahkan konsumen.

Momen paling membanggakan bagi Burhanudin adalah ketika Kopi Kaspandi menjadi juara satu dalam presentasi produk dan marketing UMKM se-Jawa Timur yang diselenggarakan oleh PT Sampoerna. Prestasi lainnya adalah keberhasilan Kopi Kaspandi menembus pasar Indomaret, setelah melalui seleksi ketat terkait standar higienis dan perizinan.

Dengan modal yang terus berputar cepat dan omset mencapai sekitar 60 juta rupiah per bulan, Kopi Kaspandi menjadi bukti nyata bahwa kerja keras, inovasi, dan ketangguhan adalah kunci untuk bertahan dan berkembang dalam dunia UMKM. Kopi Kaspandi, yang kini mempekerjakan lima orang di tempat produksinya di Jalan Dewi Sartika Nomor 5, terus membuktikan diri sebagai ikon kebanggaan Kota Pasuruan yang mampu menyuguhkan aroma legenda, lintas generasi.

---

Monday, May 19, 2025

KEDAULATAN LAUT PASURUAN

*Pasuruan Bergelut dengan Kedaulatan Laut: Antara Perjuangan Nelayan dan Harapan Ekonomi Maritim*

Penulis: FIRNAS, garengpetruk.com, biro Pasuruan

Pasuruan, Jawa Timur - Laut Pasuruan yang kaya raya telah lama menjadi sumber kehidupan bagi ribuan nelayan. Namun, di balik potensi besar itu, mereka menghadapi tantangan berat yang mengancam keberlangsungan hidup dan kedaulatan mereka atas laut. Perjuangan nelayan di sini bukan hanya tentang mencari ikan, tetapi juga tentang mempertahankan hak untuk hidup dan berkembang di tengah berbagai kesulitan.

Ombak dan Batas Wilayah: Ancaman Ganda di Laut Pasuruan

Setiap hari, nelayan Pasuruan bertaruh nyawa melawan ganasnya ombak, terutama saat malam hari dan musim hujan. Gelombang tinggi menjadi musuh alami yang harus dihadapi dengan keberanian dan kehati-hatian. Namun, tantangan mereka tidak berhenti di situ. "Kami berjuang melawan ombak besar, tetapi kami juga berharap kedaulatan kami atas laut dan hasil tangkapan dihargai," ungkap seorang nelayan setempat, menyuarakan keresahan yang dirasakan banyak orang. 

Persaingan dengan nelayan dari luar daerah, bahkan dari negara lain, yang mengeksploitasi kekayaan laut Indonesia, menjadi ancaman serius bagi nelayan lokal. Perlindungan terhadap hak-hak mereka menjadi isu krusial. Jika kedaulatan laut tidak ditegakkan, nelayan lokal akan semakin terpinggirkan dan kehilangan mata pencaharian.

Infrastruktur Terabaikan, Ekonomi Terhambat

Selain faktor alam, masalah infrastruktur menjadi penghalang besar bagi kesejahteraan nelayan. Pelabuhan yang tidak memadai, kapal-kapal yang rusak, dan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang tidak berfungsi optimal, membuat nelayan kesulitan mendapatkan hasil maksimal dari laut. TPI yang mati membuat mereka terpaksa menjual ikan ke tengkulak dengan harga rendah, jauh di bawah harga pasar. Ini bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga masalah kedaulatan ekonomi.

"Jika TPI aktif, kami bisa mendapatkan harga yang lebih baik untuk ikan kami. Ini akan sangat membantu meningkatkan kesejahteraan kami," kata seorang nelayan penuh harap.

Mengaktifkan kembali TPI adalah langkah penting untuk memastikan harga jual ikan yang adil, baik bagi nelayan maupun konsumen, sekaligus memperkuat perekonomian lokal.
Pelabuhan Pasuruan yang belum berfungsi maksimal juga menjadi persoalan serius. Banyak kapal rusak yang terbengkalai dan akses yang terbatas menyulitkan nelayan untuk keluar masuk pelabuhan. Mereka mendesak pemerintah untuk segera membenahi pelabuhan agar Pasuruan dapat berkembang menjadi pusat ekonomi maritim yang kuat.

"Kami berharap pelabuhan Pasuruan bisa menjadi pusat ekonomi yang tidak hanya mendukung nelayan lokal, tetapi juga perdagangan antar pulau," ujar seorang nelayan. 

Pelabuhan yang lebih baik akan membuka akses ke pasar yang lebih luas, baik domestik maupun internasional, meningkatkan kesejahteraan nelayan, dan memperkuat kedaulatan ekonomi mereka.

Menjaga Laut untuk Masa Depan

Kedaulatan laut bukan hanya tentang memanfaatkan sumber daya alam secara adil, tetapi juga tentang menjaga keberlanjutannya. Eksploitasi berlebihan dan kerusakan lingkungan mengancam kekayaan laut Pasuruan. Oleh karena itu, konservasi dan perlindungan laut harus menjadi prioritas utama, seiring dengan perbaikan infrastruktur dan peningkatan akses pasar.

Harapan di Tengah Tantangan

Di tengah semua tantangan ini, nelayan Pasuruan tetap memiliki harapan. Mereka percaya bahwa dengan perhatian serius dari pemerintah dan pihak terkait, kedaulatan mereka atas laut dan hasil tangkapan dapat terwujud. Pengaktifan kembali TPI, pembenahan pelabuhan, dan upaya perlindungan laut adalah langkah-langkah penting menuju masa depan yang lebih cerah.
"Harapan kami adalah agar Pasuruan menjadi pusat ekonomi maritim yang kuat, yang menguntungkan tidak hanya nelayan lokal, tetapi juga seluruh masyarakat," kata seorang nelayan dengan optimisme. Kedaulatan laut yang kuat, infrastruktur yang memadai, dan perlindungan terhadap hak-hak nelayan adalah kunci untuk mencapai kesejahteraan masyarakat pesisir Pasuruan.

Pelabuhan Lekok: Jantung Maritim Pasuruan

Sebagai negara maritim terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi kelautan dan perikanan yang luar biasa. Pemanfaatan potensi ini secara berkelanjutan sangat bergantung pada peran pelabuhan dan pengelolaan sumber daya kelautan yang efektif. Pelabuhan Lekok Pasuruan adalah salah satu pelabuhan strategis yang terletak di pesisir Jawa Timur.
Instalasi Pelabuhan dan Pengelolaan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan (IP2SKP) Lekok memegang peranan penting dalam pengembangan infrastruktur, pengelolaan sumber daya, dan pelayanan di pelabuhan. Kamelia Wulandari dalam tulisannya di Kompasiana (6 Juni 2023) menulis:  Pada tanggal 7 April 2023, mengunjungi IP2SKP Lekok dan berkesempatan untuk mewawancarai Bapak Khoirus Sholeh, S.Pi., M.M., pimpinan IP2SKP Lekok, yang telah mengabdikan diri selama 23 tahun di dunia kepelabuhanan.
Dalam wawancara tersebut, Bapak Khoirus Sholeh menekankan pentingnya Pelabuhan Lekok Pasuruan sebagai titik strategis dalam geopolitik Indonesia. Pelabuhan ini menjadi pusat kegiatan pemerintahan dan bisnis perikanan, tempat kapal perikanan bersandar, berlabuh, dan membongkar muatan ikan, dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan penunjang perikanan. Peningkatan kapasitas dan efisiensi pelabuhan ini akan mendukung keberlanjutan sumber daya kelautan dan memperkuat peran Indonesia di kancah internasional.
Tantangan dan Dialog dalam Pembangunan Pelabuhan
Bapak Khoirus Sholeh mengakui bahwa pembangunan dan pengelolaan pelabuhan tidak selalu berjalan mulus. "Selama bekerja di sini, pasti ada tantangan tersendiri yang pernah saya alami. Hal itu sudah sangat pasti terjadi karena di setiap pelaksanaan kebijakan pemerintahan ketika diimplementasikan dalam masyarakat banyak sekali masalahnya," ujarnya, mengenang peristiwa pembakaran kantor pelabuhan pada tahun 2010 akibat ketidakpuasan masyarakat. 
Untuk mengatasi ketegangan yang mungkin timbul, beliau menekankan pentingnya dialog yang inklusif dan partisipasi aktif masyarakat dalam proses pengambilan keputusan. "Sebagai pejabat di pemerintahan, yang kami lakukan untuk mengatasi masalah ini adalah dengan cara mengemong atau istilahnya memberikan pemahaman melalui sosialisasi, dengan tujuan masyarakat dapat memahami dan mengerti peraturan-peraturan yang berlaku di pelabuhan," jelasnya. 

Peraturan dan Keberlanjutan

Diskusi juga menyentuh Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (PermenKP) No. 8 Tahun 2012 tentang pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan. Pimpinan IP2SKP Lekok Pasuruan menyoroti pentingnya kepatuhan terhadap peraturan tersebut untuk menjaga keberlanjutan sumber daya kelautan dan perikanan, menjaga keseimbangan ekosistem di wilayah pelabuhan, dan mengurangi konflik.
"Kepada masyarakat, kami juga menegaskan adanya peraturan khusus yang mengatur pelabuhan perikanan yaitu PermenKP No. 8 Tahun 2012 yang berkaitan dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan," katanya.

IP2SKP Lekok Pasuruan memastikan pelaksanaan kebijakan sesuai dengan peraturan, meningkatkan koordinasi antar berbagai tingkatan pemerintahan, dan meminimalisir potensi konflik.

Sinergi untuk Kedaulatan Maritim
Wawancara ini menegaskan pentingnya wawasan nusantara dalam memahami peran pelabuhan dan pengelolaan sumber daya kelautan sebagai elemen geopolitik Indonesia. Pelabuhan Lekok Pasuruan menjadi contoh bagaimana pengembangan pelabuhan dan pengelolaan sumber daya kelautan harus dilakukan secara sinergis. Dialog yang inklusif, partisipasi aktif masyarakat, dan kepatuhan terhadap peraturan adalah kunci untuk memanfaatkan potensi maritim Indonesia secara berkelanjutan dan memperkuat kedaulatan negara dalam konteks global. (*)

Senin  19 Mei 2025

Saturday, May 17, 2025

Naik Haji ala Gowes: BROMO.KOM 2025

Naik Haji ala Gowes: BROMO.KOM 2025, Ketika Lutut Menjerit dan Hati Merintih Bahagia

Oleh: FIRNAS MUTTAQIN 
Biro Pasuruan garengpetruk.com

maisput
Mei 17, 2025

GARENG PETRUK, PASURUAN –

Kalau naik haji butuh wukuf di Arafah, maka naik hajinya pesepeda itu harus wukuf di tanjakan Pasrepan. Itulah BROMO KOM 2025, event sepedaan yang katanya sih buat yang kuat iman, otot, dan nyali. Dari Surabaya hingga Wonokitri, bukan cuma betis yang diuji, tapi juga kesabaran dan ketahanan mental menghadapi tanjakan yang katanya lebih jahat dari mantan pas lagi sayang-sayangnya.

Dimulai dari halaman megah Polda Jatim Surabaya, 1.500 cyclist dari 18 negara, 26 provinsi, dan 428 komunitas ini tancap pedal melewati jalur flat sejauh 55 kilometer menuju Pasuruan. Tapi jangan senang dulu, karena setelah pit stop di GOR Untung Suropati, para cyclist langsung diajak “naik kelas” ke rute Pasrepan menuju Pendopo Agung Wonokitri. Total 100 km, dengan tanjakan hampir 2000 meter. Ini bukan sekadar event, ini semacam ujian hidup dalam versi sepeda.

Tebak-Tebakan Jalanan: Antara Gadis Tebu dan T-Rex

Sepanjang jalan, peserta tidak hanya disuguhi pemandangan menawan ala Bromo, tapi juga kejutan-kejutan dari panitia yang kayaknya kuliah di jurusan hiburan rakyat. Ada Gadis Tebu (bukan tebu beneran ya, tapi gadis berkostum manis-manis ala pabrik gula), Zona Singa & T-Rex (karena tanjakan udah cukup horor, jadi sekalian diajak ketemu hewan purba), hingga DJ Cantik dan Suster Cantik yang lebih efektif dari doping karena bisa memompa semangat… dan mungkin juga tekanan darah.

BROMO.KOM: Sirkus Rasa Ziarah

“Naik hajinya pesepeda,” kata para cyclist yang sudah pernah mencicipi sadisnya tanjakan Bromo. Dan tahun ini, sadisme itu diulang kembali, lengkap dengan kompetisi King dan Queen of The Mountain yang dimulai di KM 70 Pasrepan. Bayangin aja, habis 70 km gowes, disuruh tanding tanjakan. Ini kalau bukan karena cinta pada sepeda, bisa jadi karena sayang sama jersey baru.

Tapi jangan salah, ini bukan cuma soal kuat-kuatan otot. Ini soal solidaritas, komunitas, dan sedikit banyak pencitraan di Instagram. Apalagi dengan peserta dari berbagai negara, dari Amerika sampai Myanmar, dari Kolombia sampai Kolom Renungan—eh maksudnya Kolombia sampai Irlandia. BROMO KOM ini semacam panggung dunia bagi betis-betis perkasa dan sepeda jutaan yang seringnya lebih mahal dari motor tetangga.

Kritik Sosial dalam Gowes Nasional

Tapi tunggu dulu, di balik hebohnya event ini, Gareng dan Petruk mencium aroma kritik sosial. Kenapa jalanan buat pesepeda cuma mulus pas ada event gede? Kenapa jalur sepedaan nggak dibikin permanen di kota-kota? Kenapa DJ Cantik bisa lebih banyak dijumpai di tanjakan daripada di taman kota?

BROMO KOM semestinya jadi inspirasi. Bahwa rakyat itu kalau dikasih fasilitas yang keren, mereka bisa sehat, bahagia, dan nggak cuma nongkrong sambil ngeluh harga cabe. Pemerintah daerah, dari Surabaya sampai Pasuruan, sudah kasih contoh. Tapi setelah ini, jangan cuma jalan tanjakan yang diurus, jalan hidup rakyat juga perlu diperhatikan.

Akhir Kata dari Wonokitri

BROMO KOM 2025 ini bukan hanya perayaan betis, tapi juga perayaan semangat, solidaritas, dan sedikit kegilaan kolektif yang menyenangkan. Acara ini menggabungkan olahraga, seni pertunjukan, dan kritik sosial dalam satu putaran pedal. Mungkin memang betul kata orang, hidup itu seperti naik sepeda — kalau mau seimbang, harus terus gowes.

Dan kalau perlu motivasi tambahan, ingat saja: di ujung tanjakan ada DJ Cantik. Atau minimal, warung kopi dan gorengan.

Penulis: Firnas Muttaqin
Biro Pasuruan – garengpetruk.com

Sedang menyusun petisi agar tanjakan hidup dikasih pitstop juga.

https://garengpetruk.com/naik-haji-ala-gowes-bromo-kom-2025-ketika-lutut-menjerit-dan-hati-merintih-bahagia/

BROMO.KOM 2025

BROMO.KOM 2025

Penulis: FIRNAS MUTTAQIN
Biro Pasuruan garengpetruk.com

Start dari Surabaya, pesepeda melewati rute flat dari Kota Pahlawan menuju Pasuruan yang menjadi pitstop. Dari Pasuruan, cyclist akan melahap rute menanjak sampai finis di Puncak Wonokitri. Total peserta bakal menempuh perjalanan 100 km. Menanjak total hampir 2.000 meter. "Naik Hajinya Pesepeda" demikian sebutan para cyclist tanah air untuk Antangin Bromo KOM 2025.

ANTANGIN BROMO KOM 2025 menjadi gelaran pembukaan MAINSEPEDA TRILOGY 2024 yaitu hari ini (17 MEI 2024). Event ini dijuluki dengan "Naik Hajinya" Cyclist di Indonesia. Tahun ini BROMO KOM diikuti 1500 peserta dan ini bukti bahwa BROMO KOM merupakan salah satu event nanjak paling heboh.

Rangkaian MAINSEPEDA TRILOGY 2025 setelah BROMO KOM ini akan dilanjutkan dengan KEDIRI DHOLO KOM (20 JULI 2025), dan ditutup dengan BANYUWANGI BLUE FIRE IJEN KOM (27 SEPTEMBER 2025).

ANTANGIN BROMO KOM 2025 ini diikuti oleh: 1.500 Peserta
dari 18 Negara, 26 Provinsi, 113 Kabupaten/Kota dan dari 428 Komunitas

Selain dari Indonesia, para cyclist berasal dari Australia, Austria,
Brazil, Kolombia, Perancis, Jerman, Irlandia, Italia, Korea, Latvia, Malaysia, Myanmar, Belanda, New Zealand, Filipina, Singapura, UK (United Kingdom) dan US (United States).

ANTANGIN BROMO KOM 2025 menempuh TOTAL JARAK 100 KM. Dimulai dari POLDA JATIM Surabaya. Peserta menuju PIT STOP pertama di GOR Untung Suropati (KM 55), Kota Pasuruan. Lalu memulai Race dengan titik Start KOM di Pasrepan (KM 70). Kemudian peserta harus menanjak sejauh 25 kilometer dengan elevasi hampir 2000 meter dan akan mencapai FINISH di Pendopo Agung Desa Wonokitri, Bromo.

Di perjalanan akan:
Menjumpai GADIS TEBU,
Melewati ZONA SINGA & T-REX,
dan bertemu DJ CANTIK dan juga SUSTER CANTIK

Untuk kali ini ada lagi kompetisi "KING OF THE MOUNTAIN & QUEEN OF THE MOUNTAIN" yang mengambil Start Race di KM 70 (Pasrepan Pasuruan)

Kegiatan bersepeda bersama-sama sejauh 100 KM ini didukung penuh oleh Pemerintah Kota Surabaya, Kepolisian Daerah Jawa Timur, Pemerintah Kota Pasururan dan Pemerintah Kabupaten Pasuruan.


Friday, May 16, 2025

Krisis Air di Negeri Seribu Mata Air

Jum'at, 16 Mei 2025

Krisis Air di Negeri Seribu Mata Air: Ketika Dahaga Mengalahkan Logika

Oleh: Firnas Muttaqin dan Gareng Petruk – Duo Dalang Satir Spesialis Sindiran Segar

Gareng:
“Truk, Pasuruan itu katanya kaya mata air, tapi kenapa rakyatnya masih ada yang ngantri air pakai jeriken? Ini gimana sih, Truk?”

Petruk:
“Lho, Ren, itu bukan krisis air, itu krisis keadilan air. Airnya sih ada, tapi kayak mantan yang udah move on—nggak bisa dimiliki rakyat jelata!”

Pasuruan, tanah yang katanya subur makmur loh jinawi, bahkan punya Umbulan yang nyembur airnya kayak keran kos yang dibuka pas akhir bulan. Debitnya bisa 5.000 liter per detik, bayangin tuh! Tapi yang dapet manfaat utamanya? Bukan semua warga, tapi malah industri dan kota-kota lain.

Kita ini ibarat tinggal di sawah tapi makan nasi bungkus dari kota!

Warga Karangjati sampai harus rebutan air bersih, padahal jaraknya cuma selemparan batu dari mata air Umbulan. Ibarat tinggal di sebelah toko roti tapi tiap pagi sarapan biskuit kedaluwarsa.

Petruk:
“Ren, ini mirip kayak orang kelaparan di tengah pesta pernikahan—ngeliatin nasi padang dari jauh tapi nggak dikasih masuk tenda.”


Kita Tanya Logika:

Air segar mengalir ribuan liter tiap detik, tapi PDAM cuma kebagian 165 liter? Yang lainnya? “Ditake over” ke PDAB dan para juragan AMDK. Aqua, Club, Cheers, Cleo… Semua botol elegan itu isinya dari tanah Pasuruan. Rakyatnya? Harus nunggu mobil tangki datang kayak nunggu undangan kondangan.

Ironi? Iya.
Logis? Nggak.
Lucu? Yah… kalau nasib bisa diketawain, sih.


Gareng:
“Truk, apa jangan-jangan kita ini bukan krisis air, tapi krisis niat?”
Petruk:
“Betul Ren, niatnya nyari cuan, bukan nyari solusi.”


Kritik Satir Sambil Ngudud di Bawah Pohon:

1. Industri Air Mewah, Rakyat Mandi Cemas
Ketika perusahaan bisa narik air dari dalam bumi sedalam hati mantan, rakyat cuma bisa mandangin keran kosong.

2. CSR Cuma Cerita Seremonial?
Sudah waktunya CSR perusahaan bukan cuma tanam 10 bibit, selfie, terus pulang. Masyarakat harus jadi subjek, bukan sekadar objek foto.

3. Regulasi? Jangan Cuma di Meja Rapat!
Konservasi hutan harus real, jangan kayak janji kampanye yang baru inget pas musim pemilu.

4. Pendidikan Lingkungan itu Investasi, Bukan Pengeluaran!
Ayo libatkan santri, siswa, sampai emak-emak PKK buat jadi pejuang air. Masa kalah sama galon isi ulang?

Petruk:
“Ren, kalau kita terus diam, nanti air tinggal sejarah. Anak cucu kita cuma bisa mandi pakai tisu basah sambil nyanyi ‘Umbulan oh Umbulan, kau tinggal legenda~’”


Solusi?
Bukan cuma dari pemerintah. Tapi berjamaah. Dari rakyat yang sadar pentingnya hemat air, sampai perusahaan yang harus sadar: air bukan cuma komoditas, tapi kehidupan!

Bayangkan kalau Pasuruan bisa balik jadi surga air beneran. Yang minum segar bukan cuma pabrik, tapi juga warga. Yang dapet untung bukan cuma pemilik saham, tapi juga tukang cuci, petani, dan anak sekolah.


Gareng:
“Yok, Truk. Kita ajak sedulur Pasuruan, dari petani sampai pejabat, buat jaga mata air bareng-bareng. Biar nggak jadi ‘mata-mata’ buat kepentingan korporat aja!”

Petruk:
“Siap, Ren! Kita kembalikan Pasuruan jadi surga air, bukan mimpi buruk di siang bolong!”


Hidup Pasuruan! Air untuk Rakyat, bukan hanya untuk Label Merek!
(Gareng & Petruk, 2025 – dari bawah pohon randu, sambil ngopi, ngelawak, tapi mikir dalam.)

https://garengpetruk.com/krisis-air-di-negeri-seribu-mata-air-ketika-dahaga-mengalahkan-logika/