PASURUAN — Kajian rutin di Masjid At-Taqwa, Kampung Jagalan, Kota Pasuruan, Kamis malam (9/7/2026), mengangkat tema hijrah kaum muslimin ke Habasyah, salah satu peristiwa penting dalam sejarah dakwah Islam. Materi disampaikan oleh Ustadz Anang Abdul Malik di hadapan jamaah yang memadati masjid.
Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa Habasyah, yang kini dikenal sebagai Etiopia, dipilih Rasulullah SAW sebagai tujuan hijrah karena dipimpin Raja Najasi (Negus), seorang penguasa yang dikenal adil dan memberikan perlindungan kepada siapa pun yang mencari suaka di negerinya.
Hijrah Demi Menyelamatkan Akidah
Ustadz Anang menjelaskan, hijrah ke Habasyah dilakukan ketika tekanan terhadap kaum muslimin di Makkah semakin berat. Mereka mengalami intimidasi, penyiksaan, dan berbagai bentuk penindasan dari kaum Quraisy sehingga Rasulullah SAW memerintahkan sebagian sahabat untuk meninggalkan Makkah.
Gelombang pertama hijrah diikuti 16 orang, terdiri atas 12 laki-laki dan empat perempuan. Di antaranya adalah Utsman bin Affan bersama istrinya, Ruqayyah binti Muhammad SAW.
Setelah mengetahui adanya rombongan yang berhasil hijrah, kaum Quraisy memperketat penjagaan di Makkah. Namun, upaya tersebut tidak menghentikan hijrah berikutnya. Gelombang kedua yang lebih besar berhasil berangkat dengan jumlah sekitar 83 laki-laki dan 19 perempuan.
Diplomasi Ja'far bin Abi Thalib
Keberadaan kaum muslimin di Habasyah mendorong kaum Quraisy mengirim dua utusan, Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi'ah, untuk meminta Raja Najasi memulangkan mereka ke Makkah. Kedua utusan itu juga membawa hadiah bagi raja dan para pembesar istana.
Raja Najasi tidak langsung memenuhi permintaan tersebut. Ia memilih mendengar penjelasan dari kedua belah pihak sebelum mengambil keputusan.
Kaum muslimin menunjuk Ja'far bin Abi Thalib sebagai juru bicara. Di hadapan raja, Ja'far menjelaskan kondisi masyarakat Arab sebelum Islam, kemudian menerangkan ajaran yang dibawa Rasulullah SAW, seperti tauhid, kejujuran, amanah, menjaga silaturahmi, serta menunaikan salat, zakat, dan puasa.
Ia juga menjelaskan bahwa kaum muslimin meninggalkan Makkah bukan karena ingin memberontak, melainkan untuk menyelamatkan keimanan dari berbagai bentuk penindasan.
Raja Najasi Memberikan Perlindungan
Setelah mendengar penjelasan Ja'far, Raja Najasi meminta agar dibacakan ayat-ayat Al-Qur'an. Ja'far kemudian membacakan Surah Maryam ayat 16–36.
Menurut riwayat yang disampaikan dalam kajian, Raja Najasi tersentuh mendengar bacaan tersebut. Ia menyatakan bahwa ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW dan Nabi Isa AS berasal dari sumber yang sama. Raja Najasi kemudian menolak permintaan utusan Quraisy dan tetap memberikan perlindungan kepada kaum muslimin di Habasyah.
Pelajaran dari Hijrah
Menutup kajian, Ustadz Anang menjelaskan bahwa kisah hijrah ke Habasyah mengajarkan pentingnya menjaga keimanan, akhlak, dan kebijaksanaan dalam berdialog. Ia juga mengulas tingkatan hidayah, mulai dari hidayah umum yang diberikan kepada seluruh makhluk hingga hidayah melalui petunjuk Allah dalam Al-Qur'an.
Menurutnya, keteguhan iman dan cara berkomunikasi yang santun menjadi pelajaran penting dari peristiwa hijrah yang tetap relevan bagi umat Islam hingga saat ini.
Penulis: Firnas Muttaqin
No comments:
Post a Comment