Masjid Al-Ukhuwah, Sekarsono, Kota Pasuruan, kembali menggelar pengajian rutin Ahad pagi pada 12 Juli 2026. Dalam kesempatan ini, Ustadz Heru Winarno mengangkat tema seputar hakikat waktu dalam pandangan Islam, khususnya fenomena "percepatan waktu" yang dirasakan banyak orang di era modern serta bagaimana seorang muslim dapat meraih keberkahan di dalamnya.
*Waktu yang Terasa Kian Singkat*
Mengawali kajian, Ustadz Heru mengingatkan jamaah tentang pentingnya gerak dan aktivitas bagi kesehatan tubuh. Ia mencontohkan bagaimana tubuh yang terlalu banyak berdiam atau tidur justru terasa tidak nyaman, sebagai analogi bahwa kemalasan bergerak—baik secara fisik maupun spiritual—dapat membawa dampak buruk.
Dari sana, ia mengaitkannya dengan fenomena kesibukan digital masa kini, terutama kebiasaan "scroll-scroll" di gawai yang banyak menyita waktu tanpa disadari.
Ustadz Heru kemudian mengutip hadis riwayat Anas bin Malik, di mana Rasulullah ﷺ bersabda bahwa hari kiamat tidak akan terjadi sampai waktu terasa semakin singkat: satu tahun terasa seperti satu bulan, satu bulan seperti satu pekan, satu pekan seperti satu hari, satu hari seperti satu jam, dan satu jam seperti kilatan api. Ia menegaskan bahwa fenomena ini bukan hal baru, melainkan persoalan klasik yang telah disinggung sejak masa kenabian.
*Perspektif Al-Qur'an tentang Waktu*
Untuk memperkuat pemahaman, Ustadz Heru merujuk pada ayat Al-Qur'an tentang pergantian malam dan siang sebagai tanda bagi orang yang mau mengambil pelajaran dan bersyukur. Menurutnya, memahami ayat ini bukan sekadar soal hitungan jam atau hari, melainkan kesadaran untuk memanfaatkan waktu sebagai sarana mengingat Allah, memperbaiki diri, dan memperbanyak amal.
Ia juga mengutip Surat Al-'Ashr yang menegaskan bahwa seluruh manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, mengerjakan amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran. Ustadz Heru menambahkan bahwa dalam riwayat lain disebutkan pula anjuran saling menasihati dalam kasih sayang, karena kehidupan tanpa kasih sayang akan terasa menekan.
Ia mengutip pandangan Imam Syafi'i yang menyebut bahwa seandainya Allah hanya menurunkan Surat Al-'Asr sebagai pedoman bagi manusia, itu sudah cukup sebagai bekal hidup.
*Bukan Berkurangnya Jumlah Jam, Melainkan Hilangnya Keberkahan*
Salah satu poin penting yang disampaikan Ustadz Heru adalah penjelasan para ulama—seperti Imam Nawawi, Qadhi Iyadh, Ibnu Hajar, dan Al-Mubarakfuri dalam kitab *Tuhfatul Ahwadzi*—bahwa "percepatan waktu" yang dimaksud dalam hadis bukanlah berkurangnya jumlah jam secara harfiah, melainkan hilangnya keberkahan waktu. Satu hari tetap 24 jam, namun manfaat yang dihasilkan darinya semakin sedikit.
Menurut penjelasan yang dikutip dari Ibnu Hajar, percepatan waktu di akhir zaman disebabkan oleh tiga hal:
1. Hilangnya keberkahan akibat maraknya dosa dan kemaksiatan.
2. Kesibukan duniawi yang melalaikan manusia dari ibadah.
3. Kemajuan teknologi yang membuat manusia sibuk dengan hal-hal yang tidak bermanfaat.
*Tujuh Ciri Waktu yang Berkah*
Ustadz Heru kemudian memaparkan ciri-ciri orang yang waktunya diberkahi Allah, di antaranya:
- **Mampu menghasilkan banyak kebaikan dalam waktu yang relatif singkat**, karena dimudahkan Allah dalam menjalankan berbagai aktivitas tanpa merasa terbebani. Ia mencontohkan Imam Nawawi yang meski wafat pada usia 45 tahun berhasil menghasilkan puluhan karya besar, termasuk kumpulan Hadis Arba'in yang masih dipelajari di dunia Islam hingga kini.
- **Tidak suka menyia-nyiakan waktu**, sebagaimana disampaikan Imam Abu Bakar bin 'Ayyash bahwa orang yang kehilangan hartanya akan bersedih sepanjang hari, namun jarang ada orang yang menyesali hilangnya satu hari dari umurnya. Ustadz Heru mengingatkan pentingnya kebiasaan muhasabah atau evaluasi diri sebelum tidur.
- **Mengisi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat**, tanpa harus meniadakan istirahat, namun tetap didominasi oleh aktivitas yang produktif dan bermakna, misalnya membiasakan membaca buku di sela-sela kesibukan.
Sebagai penutup dari poin ini, Ustadz Heru mengajak jamaah merenungkan Surat Al-Ahzab ayat 35 yang merinci sepuluh kategori amal sebagai gambaran pemanfaatan waktu seorang muslim dan muslimah—mulai dari keislaman, keimanan, ketaatan, hingga kejujuran.
*Orientasi Akhirat Tanpa Melupakan Dunia*
Ustadz Heru menegaskan bahwa keberkahan waktu akan datang bila orientasi seorang muslim diarahkan kepada akhirat terlebih dahulu, sebagaimana pesan dalam Surat Al-Qashash ayat 77, tanpa melupakan bagiannya di dunia. Seorang muslim yang produktif, menurutnya, akan menjadikan seluruh aktivitas hariannya—termasuk hal-hal kecil seperti berjalan di jalan raya—sebagai bagian dari ibadah kepada Allah.
Kajian ditutup dengan pesan agar jamaah senantiasa fokus dan bersungguh-sungguh dalam setiap urusan, sembari menjaga adab dalam pergaulan sehari-hari, termasuk saat berkumpul dan berbincang santai bersama sesama. (*)
---
FIRNAS MUTTAQIN
No comments:
Post a Comment