Dunia akademik internasional berduka. Cendekiawan terkemuka di bidang studi Islam dan hubungan internasional, Prof. John L. Esposito, meninggal dunia pada 15 Juli 2026 di Washington, D.C., Amerika Serikat, dalam usia 86 tahun.
Kabar wafatnya Guru Besar Georgetown University tersebut dikonfirmasi oleh sejumlah media internasional dan disambut dengan ucapan belasungkawa dari berbagai tokoh dunia. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim termasuk di antara para pemimpin yang menyampaikan penghormatan atas dedikasi Esposito dalam membangun pemahaman yang lebih adil mengenai Islam dan hubungan antarperadaban.
Kepergian Esposito dipandang sebagai kehilangan besar bagi dunia akademik. Selama lebih dari lima dekade, ia dikenal sebagai salah satu sarjana Barat paling berpengaruh dalam bidang Islamic Studies, dengan kontribusi yang melampaui ruang kuliah hingga memengaruhi diskursus global mengenai Islam, politik, demokrasi, dan hubungan antara dunia Muslim dengan Barat.
Lahir di New York pada 19 Mei 1940, John L. Esposito mendedikasikan hampir seluruh karier akademiknya di Georgetown University, Washington, D.C. Di sana ia mendirikan Prince Alwaleed bin Talal Center for Muslim-Christian Understanding (ACMCU), sebuah pusat kajian yang menjadi rujukan internasional dalam penelitian Islam, hubungan antaragama, dan dialog lintas peradaban.
Berbeda dengan sebagian kalangan yang memandang Islam semata melalui perspektif konflik atau keamanan, Esposito dikenal konsisten menghadirkan pendekatan akademik yang objektif, berbasis penelitian, dan menghargai keberagaman tradisi Islam. Ia aktif mendorong dialog antara umat Islam dan Barat serta mengkritisi berkembangnya stereotip dan Islamofobia, terutama setelah peristiwa 11 September 2001.
Sepanjang kariernya, Esposito menulis dan menyunting puluhan buku yang menjadi referensi di berbagai universitas dunia. Di antara karya-karyanya yang paling berpengaruh adalah The Future of Islam, Who Speaks for Islam? (ditulis bersama Dalia Mogahed), Islam: The Straight Path, The Islamic Threat: Myth or Reality?, Unholy War: Terror in the Name of Islam, serta What Everyone Needs to Know About Islam. Karya-karya tersebut membahas sejarah Islam, kebangkitan politik Islam, demokrasi di negara-negara Muslim, ekstremisme, hingga hubungan Islam dengan Barat secara komprehensif.
Di Indonesia, pemikiran John L. Esposito juga sangat dikenal melalui berbagai buku terjemahan yang diterbitkan oleh sejumlah penerbit besar seperti Mizan, LKiS, dan Inisiasi Press. Beberapa judul yang banyak digunakan sebagai referensi akademik antara lain:
- Ensiklopedi Oxford: Dunia Islam Modern (6 jilid).
- Islam dan Politik.
- Ancaman Islam: Mitos atau Realitas? (The Islamic Threat: Myth or Reality?).
- Unholy War: Teror Atas Nama Agama (Unholy War: Terror in the Name of Islam).
- Islam dan Pembangunan.
- Demokrasi di Negara-Negara Muslim: Problem dan Prospek.
Buku-buku tersebut banyak menjadi rujukan di perguruan tinggi Islam maupun umum di Indonesia karena menawarkan analisis yang komprehensif mengenai perkembangan dunia Islam modern, politik internasional, demokrasi, dan hubungan antaragama.
Selain aktif sebagai penulis, Esposito juga menjadi penasihat berbagai lembaga internasional, pemerintah, dan media global dalam isu-isu yang berkaitan dengan dunia Islam. Pandangan dan analisisnya sering dikutip dalam berbagai forum internasional ketika membahas Timur Tengah, ekstremisme, maupun hubungan antara negara-negara Barat dan dunia Muslim.
Organisasi hak sipil Muslim Amerika, Council on American-Islamic Relations (CAIR), menyebut wafatnya Esposito sebagai kehilangan besar bagi komunitas akademik dunia. Menurut CAIR, Esposito telah memberikan kontribusi luar biasa dalam memupuk pemahaman yang lebih baik tentang Islam, menentang Islamofobia, serta mempromosikan dialog antaragama sebagai jalan membangun perdamaian.
Warisan intelektual John L. Esposito akan terus hidup melalui karya-karya ilmiahnya yang menjadi referensi lintas generasi. Di tengah meningkatnya tantangan polarisasi dan kesalahpahaman terhadap Islam, pemikiran Esposito tetap relevan sebagai jembatan untuk membangun dialog, saling pengertian, dan penghormatan antarsesama.
Kepergiannya menandai berakhirnya perjalanan seorang ilmuwan besar, tetapi gagasan dan kontribusinya akan terus menjadi bagian penting dalam perkembangan studi Islam dan hubungan antarperadaban di dunia. (*)
FIRNAS MUTTAQIN
No comments:
Post a Comment