Saturday, May 31, 2025

Ngaku-ngaku Solusi Dua Negara, Padahal Jualan Satu Kata: Gimmick

Pasuruan, 30 Mei 2025 FIRNAS | garengpetruk.com Sang pengamat dunia dari pojok warung kopi, sambil ngopi pahit tanpa gula, karena dunia ini udah cukup manis dengan janji-janji palsu.

Aduh Mak, Palestina-Mu Kini Jadi Status WhatsApp Diplomatik!


Analisis "Solusi Dua Negara"

Analisis "Solusi Dua Negara": 
Memahami Narasi Indonesia dan Realitas Palestina

Oleh FIRNAS, Pasuruan.

Pernyataan Presiden terpilih Prabowo Subianto yang mengindikasikan Indonesia akan mengakui Israel sebagai negara, dengan syarat Israel harus mengakui kemerdekaan Palestina terlebih dahulu, kembali memanaskan diskursus mengenai "Solusi Dua Negara" (Two-State Solution). Muhammad Husein Gaza, seorang aktivis dan pemerhati isu Palestina, memberikan pandangannya yang mendalam, membongkar mispersepsi umum dan menjelaskan realitas kompleks di lapangan. (Jum'at, 30 Mei 2025 di channel youtube-nya: 

*Two-State Solution: Gagasan PBB yang Multitafsir*

Husein menjelaskan bahwa gagasan *Two-State Solution* bukanlah hal baru. Ide ini dicetuskan oleh PBB pasca perang Arab-Israel tahun 1967. Intinya adalah pembagian tanah Palestina menjadi dua entitas: satu untuk bangsa Palestina dan satu untuk Israel.

"Memang secara ideal dan secara moral itu enggak bisa diterima. Dan itu yang selama ini kita yakini. Sejak bahkan ketika saya mau ke Gaza pun saya benci sekali yang namanya *Two-State Solution* itu, enggak bisa diterima, *nonsense* gitu loh," ujar Husein. Ia menyamakan hal ini dengan seseorang yang datang ke rumah kita, mengunci kita di satu ruangan, dan menguasai ruangan lainnya—sebuah analogi yang sulit diterima akal sehat.

Namun, pengalaman Husein berinteraksi dengan warga Gaza, politisi, dan ulama setempat mengubah pandangannya. "Ternyata analogi atau kita membandingkan penjajahan di Palestina dengan penjajahan di Indonesia itu pun sudah sangat keliru," tegasnya. Menurut Husein, ini adalah dua jenis penjajahan yang berbeda, dan ia bahkan mengklaim bahwa seluruh warga Palestina, termasuk gerakan perlawanan, setuju dengan *Two-State Solution* ini.

Kesepakatan global ini kemudian melahirkan **Resolusi PBB 242**, yang intinya menuntut Israel menarik semua pasukannya dari wilayah Palestina yang disepakati tahun 1967 (Gaza, Tepi Barat), mengembalikan Golan ke Suriah, dan Sinai ke Mesir. Resolusi ini juga mengharuskan Israel menghentikan kegiatan militer dan pembangunan permukiman ilegal, serta mengakui Yerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina.

---

**Penjajahan Modern: Proyek Kolonial Salibis Barat Strategis**

Husein menegaskan, perbandingan kondisi di Palestina dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 sangatlah tidak tepat. Era kolonialisme tradisional (abad ke-14 hingga akhir Perang Dunia II), yang dikenal dengan semboyan *Gold, Glory, dan Gospel*, sangat berbeda dengan penjajahan yang terjadi di Palestina saat ini.

"Konsep penjajahan Israel itu seperti yang disebutkan oleh Prof. Dr. Abdul Fattah Al-Waisi, bahwa Israel ini bukan sebuah negara, tapi Israel ini adalah *masyru' istimari salibi gharbi strategis* (proyek kolonial salibis barat strategis)," jelas Husein.

Ia menggambarkan Israel sebagai "puncak gunung es" yang terlihat di permukaan, sementara di bawahnya terdapat gunung es yang jauh lebih besar dan dalam, yaitu **peradaban Barat, negara-negara seperti Amerika, Inggris, Prancis, dan Jerman**. Barat, menurut Husein, mengubah strategi penjajahannya setelah menyadari bahwa cara kuno akan selalu terbentur oleh perlawanan sengit umat Islam.

"Mereka berkumpul tahun 1907 lalu mereka mendatangkan para pemikir-pemikir terbaik mereka, ahli strategi mereka, politisi terbaik mereka, perbankan mereka. Mereka ngumpul, mereka bahas bagaimana cara kita melanjutkan hegemoni dengan cara efisien," katanya. Dari pertemuan itulah lahir proyek bersama yang disebut Israel. Oleh karena itu, harapan akan solusi yang sama seperti kemerdekaan Indonesia – mengusir penjajah sepenuhnya – tidak realistis dalam konteks Palestina yang menghadapi kekuatan global.

---

**Realitas Gaza: Sikap Realistis Gerakan Perlawanan**

Husein mengakui bahwa setiap warga Palestina pasti menginginkan kemerdekaan seutuhnya. Namun, ia juga mengungkapkan perubahan pola pikir yang ia alami setelah tinggal dan belajar di Gaza.

"Mereka juga paham bahwa enggak bisa mereka mengusir orang-orang Yahudi itu keluar. Mau ke mana? Usir ke mana? Kalau Belanda diusir keluar ada Belanda, ada rumahnya, ada negaranya, ada tanah airnya," jelas Husein. Sementara itu, saat ini ada sekitar 10 juta orang Yahudi di Palestina, dan mereka tidak memiliki negara lain untuk dituju.

Husein bahkan mengklaim bahwa **gerakan Hamas, yang dikenal dengan ideologi perlawanan bersenjata, juga setuju dengan *Two-State Solution***. Ia mengutip wawancara terbuka dengan para petinggi Hamas dan literatur dari akademisi Gaza, termasuk pernyataan Syekh Ahmad Yasin. Alasannya adalah realisme. Mereka menyadari tidak bisa terlalu berapi-api mengangkat idealisme dalam kondisi saat ini.

Hal senada juga disampaikan oleh para petinggi Gerakan Fatah. Husein bercerita pengalamannya bertemu dengan Perdana Menteri Palestina saat itu, Dr. Rami Hamdallah, pada tahun 2014. Ketika ditanya apakah *Two-State Solution* adalah tujuan sementara atau tujuan akhir, Hamdallah menegaskan bahwa itu hanyalah **tujuan sementara**. "Kami pun, maksudnya Gerakan Fatah pun, inginnya Palestina itu yang merdeka seutuhnya. Tapi hari ini kami hanya dapat dukungan dari negara-negara dunia untuk merdeka separuh," kata Hamdallah.

---

**Mengawal Narasi Politik Indonesia: Sebuah Taktik Diplomatik?**

Husein menginterpretasikan pernyataan Prabowo sebagai sebuah taktik diplomasi. "Ketika Prabowo mengatakan 'Kami akan menghormati kedaulatan Israel kalau mereka memberikan kemerdekaan untuk Palestina.' Maksudnya apa? Ini mengacu pada memang Indonesia sekali lagi sejak dulu sejak Presiden pertama sampai saat ini mengadopsi *Two-State Solution* sebagai solusi modern," paparnya.

Para elit politik Indonesia memahami bahwa Israel tidak akan pernah setuju dengan *Two-State Solution* karena konsekuensinya sangat berat bagi Israel. Konsekuensi tersebut meliputi:
1.  **Penghentian blokade dan embargo** terhadap Gaza dan Tepi Barat.
2.  **Palestina harus berdiri mandiri** dengan semua elemen kenegaraannya (kementerian, polisi, tentara).
3.  **Israel harus memberikan akses Palestina** untuk membangun pelabuhan dan bandara, serta memiliki kendali penuh atas perbatasan darat, laut, dan udara.
4.  **Penarikan semua tentara militer Israel** dari tanah-tanah Palestina yang mereka jajah, termasuk ribuan permukiman ilegal yang harus dihancurkan, dan warga Israel yang tinggal di sana harus kembali ke wilayah Israel yang disepakati.

"Ide *Two-State Solution* itu enggak pernah menjadi solusi bagi Israel. Mereka itu penginnya *One-State Solution*," kata Husein. Dengan demikian, pernyataan Prabowo seolah-olah mengatakan, "Aku tahu kamu tidak akan mau dan tidak akan siap melakukan itu semua, maka kami pun tidak akan siap untuk mengakui kamu sebagai sebuah negara."

---

**Posisi Umat Islam dan Peran Indonesia**

Husein mengakui bahwa saat ini umat Islam sedang berada dalam posisi "kalah" dan dipaksa mengadopsi sistem Barat, seperti demokrasi dan PBB. Namun, ia menekankan bahwa Indonesia telah melakukan hal yang luar biasa dengan bertahan selama lebih dari 70 tahun tidak mau membuka hubungan diplomatik dengan Israel tanpa komitmen balasan.

"Indonesia bertahan 7 dekade, 70 tahun lebih, bertahan tidak mau membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Itu sesuatu yang keren banget sebetulnya," puji Husein. Ia menyebut banyak negara yang telah "tumbang" dan mengakui Israel tanpa timbal balik, yang ia sebut sebagai "normalisasi pengkhianatan."

Oleh karena itu, tugas umat Muslim di Indonesia adalah mengawal narasi politik ini. "Oke Pak, kalau memang ini yang ingin kita gunakan agar kita bisa didengar suara kita... Ayo kita bawa narasi ini agar paling tidak ada perundingan di situ, agar kita masuk ke dalam celah," ajak Husein. Pengawalan ini termasuk memastikan Israel menjalankan konsekuensi penuh dari *Two-State Solution* sesuai Resolusi PBB 242, seperti penarikan pasukan dan kembalinya pengungsi Palestina.

---

**Perjuangan Palestina: Bukan Sekadar Politik, Melainkan Akidah**

Terakhir, Husein mengingatkan bahwa bagi umat Islam, masalah Palestina bukanlah semata masalah politik global. "Sepertinya keberadaan Israel di Palestina itu hanyalah menjadi satu tambahan kebenaran ayat-ayat Al-Quran. Bukti bahwa Maha Benar Allah dengan segala firmannya," tegas Husein.

Surah Al-Isra ayat 7, menurutnya, telah menjelaskan langkah demi langkah kehancuran Bani Israil. Maka, solusi utama tidak hanya datang dari PBB, Amerika, atau negara-negara dunia. "Kita punya keimanan bahwa ujung dari perjuangan ini adalah kehormatan dan kemerdekaan. Ujung dari darah-darah yang bersimbah di Gaza itu adalah pembebasan Baitul Maqdis," serunya.

Husein mengajak umat Islam untuk mempersiapkan diri dengan meningkatkan kualitas iman, ketakwaan, dan keterampilan, karena Allah hanya akan membebaskan Baitul Maqdis di pundak hamba-hamba-Nya yang siap. Ia menyerukan untuk memperbaiki salat, Al-Quran, akhlak, dan iman, serta menanamkan narasi Baitul Maqdis di benak setiap individu.

"Jangan kita habiskan tren ini untuk mencaci maki, kemudian menyerang. Enggak usah. Buang-buang energi itu, enggak efisien, enggak efektif, itu kontraproduktif," pesannya. Husein mengajak memanfaatkan momentum ini sebagai ajang edukasi, bahu-membahu mendukung pemerintah dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina yang tidak bisa ditawar.

---

Friday, May 30, 2025

Sastrawan: Hidup dari Kata, Mati karena Sistem

Oleh: Firnas – garengpetruk.com, Pasuruan

Di negeri +62, nasib sastrawan itu seperti tokoh dalam cerpen absurd: hidup di antara koma dan tanda tanya, tapi selalu dibacakan saat upacara bendera atau seminar sastra yang cuma ada kopi, mic ngadat, dan honor yang nyusul.

Sastrawan Indonesia, kawan, adalah kaum penganyam kata yang harus berjuang di dua medan perang: melawan lupa di kepala pembaca, dan melawan lapar di dapur sendiri. Mereka ini ibarat patriot kata-kata, tapi sering diperlakukan kayak hantu — ada tapi tak dianggap, dibaca tapi tak dibayar.

Royalti 15%, Honor Setengah Harga Telur

Lihatlah Martin Aleida. Usia 81 tahun, pengabdian lebih panjang dari masa jabatan DPR, tapi royalti bukunya lebih kecil dari parkir liar di pinggir mall. Dapat sejuta tiga bulan? Itu pun kalau penerbitnya enggak amnesia akut.

Dan di Madura, ada Muna Sary. Pagi menjahit, malam menulis. Kalau karyanya dibajak, paling-paling dia cuma bisa bilang “istighfar sambil ngopi”. Novel dicetak, royalti ditunda, laporan penjualan hilang seperti janji kampanye.

Mereka menulis untuk memotret kehidupan, tapi hidup mereka sendiri tak pernah sempat difoto — karena sibuk mengisi bensin, bayar listrik, dan beli kuota demi mengunggah puisi ke Instagram yang paling banter dikomentari, “Dalem banget, Kak.”

Pembajakan: Hantu Digital yang Tak Pernah Ditangkap

Anehnya, kalau maling ayam bisa dijotos rame-rame, pembajak buku malah punya grup Facebook dan link Google Drive. Kenapa? Karena UU Hak Cipta pakai sistem “delik aduan”, alias nunggu sastrawan melaporkan sendiri. Lah, penulis mana sempat lapor kalau tiap pagi harus ngajar daring, siangnya ngojek, malamnya baru bisa nulis dua bait puisi sambil ngelap air mata?

Padahal, menurut survei IKAPI, 75% buku dibajak. Itu artinya, kalau buku sastra Indonesia bisa ngomong, dia akan teriak: “Tolong, aku disebar ke mana-mana tanpa pamit!”

Pemerintah: Baru Mau Rencana, Sudah Tua Rasa

Kabar baiknya, pemerintah mau bikin “peta jalan” sastra. Kabar buruknya, ini baru rencana — sejak 2019. Peta jalan ini mungkin akan selesai tepat waktu… untuk sastrawan generasi cucu.

Sementara itu, sastrawan seperti Seno Gumira Ajidarma sudah berteriak sejak dulu: jangan jadikan seniman objek kasihan. Mereka bukan pengemis anggaran, mereka bagian dari strategi kebudayaan. Tapi entah kenapa, negara lebih sibuk bikin proyek “festival literasi” yang bujetnya jumbo, tapi isinya cuma lomba mewarnai dan pembacaan puisi oleh pejabat yang bacaannya masih terbata-bata.

Gareng Menyimpulkan:

💬 “Sastrawan kita itu kaya di imajinasi, miskin di rekening. Dihormati saat mati, dicuekin saat masih nyari nasi. Buku mereka dibaca saat mau tidur, tapi tak pernah dibayar meski bikin orang terbangun.”

Lantas, sampai kapan sastra harus jadi ladang idealisme tapi bukan ladang penghidupan? Mungkin sampai kita sadar bahwa membayar buku bukan cuma beli kertas, tapi menghargai kehidupan. Dan menghormati sastrawan bukan dengan standing ovation, tapi dengan kontrak yang jelas, royalti yang masuk, dan sistem yang tak membajak mimpi.

GarengPetruk.com – Kalau Kata-Kata Bisa Nangis, Sastrawan Pasti Udah Kering Air Mata.

Editor: Petruk, yang dulu nulis puisi untuk mantan, sekarang nulis invoice yang tak pernah dibayar.

https://garengpetruk.com/sastrawan-hidup-dari-kata-mati-karena-sistem/

SASTRAWAN

Pergumulan Royalti dan Pembajakan: Potret Suram Kesejahteraan Sastrawan Indonesia

JAKARTA – Di tengah gempuran zaman dan lautan kata-kata, para sastrawan Indonesia masih setia merangkai kisah, melahirkan karya-karya yang mengasah rasa dan memotret kehidupan. Namun, kekayaan kata yang mereka miliki tak lantas membuat mereka sejahtera. Isu pembajakan hingga minimnya royalti terus menghantui, menantang kemandirian profesi sastrawan di Tanah Air.

Martin Aleida: Dedikasi Setengah Abad di Balik Luka Sejarah

Di usianya yang ke-81 tahun, Martin Aleida masih terus berkarya. Sastrawan kelahiran Tanjung Balai Asahan ini telah lebih dari setengah abad mengabdikan diri pada dunia sastra, menghasilkan 14 buku dan puluhan cerpen. Kisah hidupnya, sebagai korban dan saksi tragedi pelanggaran HAM berat tahun 1965-1966, menjadi sumber utama inspirasinya.
"Buat saya, [sastra] adalah apa yang kita timba dari hidup kita, dari lingkungan kita untuk disampaikan kepada orang lain, mungkin sebagai satu kekayaan atau apapun," ungkap Martin. Banyak cerpennya berlatar belakang kejadian tragis tahun 1965-1966 yang ia alami langsung, bahkan sempat mendekam di sel tahanan.
Meski namanya kondang dan karyanya bertabur penghargaan, Martin tidak hidup dalam kemewahan. Di sudut selatan Jakarta, ia tinggal bersama sang istri yang mengidap demensia. Royalti dari penjualan buku, yang rata-rata hanya 15% dari harga jual, sangat minim. Untuk cetakan kedua bukunya "Tanah Air yang Hilang", ia hanya menerima tak lebih dari Rp1 juta per tiga bulan. Sedangkan untuk cerpen yang dimuat di media massa, ia mendapat honor sekitar Rp500 ribu hingga Rp1 juta.
"Saya kira sulit ya untuk hidup sebagai... di atas kata-kata yang dalam bentuk novel atau puisi," ujar Martin. Namun, ia tak mengejar materi. Sastra memberinya kepuasan batin dan kekayaan dalam bentuk lain. "Dunia sastra yang saya kenal itu juga membawa saya kepada dunia yang lebih luas. Saya kira saya diperkaya oleh itu, oleh pengetahuan mengenai kesastaran dan ada kesempatan untuk mengungkapkan diri saya, apa yang saya alami dengan lingkungan saya melalui kata-kata," tuturnya, menjelaskan mengapa gairah menulisnya tak pernah padam.

Muna Sary: Menjahit untuk Hidup, Menulis untuk Jiwa

Di Pamekasan, Madura, Muna Sary, seorang penjahit berusia 40 tahun, juga merasakan hal yang sama. Ia memulai karir sastranya sebagai penulis cerita bergenre Pop Reli di tahun 2000-an. Baginya, sastra adalah potret kehidupan, cara menuangkannya secara baik, baik melalui tulisan maupun visual.
Muna memotret kehidupan sosial masyarakat Madura lewat karyanya. "Orang kadang menilai Madura itu hanya dari versinya, harapan sapinya. Padahal banyak yang mereka tidak ketahui. Jadi saya itu bagaimana kalau saya menulis Madura itu seperti ini loh, enggak hanya warna ini, enggak hanya hitam putih, tapi ada warna ini, ini, ini," jelasnya.
Empat novel dan lebih dari 100 cerpen telah ia hasilkan di tengah aktivitas menjahitnya. Menulis adalah penyambung jiwa, namun menjahit adalah penyambung hidup. Dari royalti dua bukunya yang masih beredar, Muna menerima kurang dari Rp3 juta setiap enam bulan. Honor cerpen yang terbit di media massa pun tak menentu, berkisar Rp500 ribu hingga Rp1 juta.
"Bagaimana roda ekonomi bisa berjalan. Makanya dari situ kalau saya pribadi fokus di menulis gitu mencari penghasilan dari menulis, saya enggak berani," kata Muna. Penghasilan dari menjahit lebih bisa diandalkan, mencapai Rp250 ribu per hari dengan menyelesaikan dua hingga empat baju. Baginya, menulis dan menjahit dapat berjalan seiringan.

Ekosistem Sastra yang Rapuh: Minim Transparansi dan Ancaman Pembajakan

Hubungan antara sastrawan dan penerbit menjadi sorotan utama dalam ekosistem sastra. Transparansi seringkali minim, terutama dalam pencairan royalti. Muna Sary mengaku pernah mengalami penerbit yang menunggak royalti hingga 1,5 tahun dan tak pernah dikirimi laporan penjualan.
Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Aris Hilman, mengakui bahwa ekosistem perbukuan sedang tidak baik-baik saja. Serapan buku sastra di pasaran minim, yang berdampak langsung pada penghasilan sastrawan. Kurangnya dukungan pemerintah terhadap industri penerbitan buku menjadi salah satu penyebabnya.
"Royalti yang di kita juga 10%, ada 15% juga ada, itu masih terasa secara nominalnya menjadi sangat kecil karena tadi pengaliknya menjadi sangat sedikit," jelas Aris, merujuk pada menurunnya tren cetakan pertama satu judul buku di Indonesia. Ia juga menyoroti bahwa keuntungan penerbit sendiri tidak lebih dari 10% dari omzet.
Di sisi lain, pembajakan semakin masif di era digital. Survei IKAPI tahun 2021 menemukan 75% penerbit mengalami pembajakan atas buku terbitan mereka, dengan kerugian mencapai ratusan miliar rupiah. Ironisnya, karena Undang-Undang Hak Cipta adalah delik aduan, pembajak jarang yang mendapatkan sanksi pidana.

Harapan dari Pemerintah dan Peran Strategis Sastrawan

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mengaku baru berencana membuat peta jalan untuk perlindungan sastrawan dan karyanya. Langkah awal adalah penataan data karya sastra. Sepanjang 2019 hingga 2023, 2.500-an karya sastra cetak telah teregistrasi, mayoritas berupa cerpen dan puisi.
"Kita ingin membuat sebuah peta jalan dilandasi dengan data yang lengkap kaitan dengan jumlah sastrawan [dan] pegiat sastra. Kami harapkan data ini menjadi instrumen penting bagi kami untuk bisa merencanakan apa yang akan dilakukan ke depan," kata perwakilan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
Selain pendataan, IKAPI juga menekankan pentingnya upaya pemerintah untuk menjaga iklim literasi dan budaya membaca tetap hidup dan sehat, sebagai kunci menyehatkan ekosistem sastra.
Sejak tahun 1989, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa telah memberikan penghargaan sastra kepada sastrawan berprestasi, serta mengalokasikan anggaran untuk mendukung kegiatan komunitas sastra. Namun, sastrawan Seno Gumira Ajidarma berpendapat bahwa pemerintah harus memandang sastrawan sebagai bagian dari strategi pengembangan kebudayaan bangsa, bukan sekadar objek bantuan.
"Jangan menganggap seniman itu orang perlu bantuan, seniman kasihan, seniman miskin, dikasih harus terima kasih sajalah, lumayan ada yang ngasih. Enggak bisa begitu, mesti bagian dari strategi kebudayaan itu ya. Jadi ekonomi yang mengabdi kebudayaan," tegas Seno.
Karya sastra adalah khazanah budaya dan kekuatan bangsa. Keberpihakan pemerintah sangat diperlukan demi ekosistem sastra yang lebih sehat, sehingga para perangkai kata dapat terus berkarya tanpa harus bergumul dengan ketidakpastian kesejahteraan.

Wednesday, May 28, 2025

PENYALURAN BANSOS TAHAP II 2025

Penyaluran Bansos Tahap Kedua 2025 Dimulai, Kemensos Gunakan Data Tunggal Terbaru

Oleh FIRNAS

Tulisan ini berdasarkan rilis video Kemensos di youtube, Rabu 28/5/2025,  jam 20.00 wib

Pemerintah melalui Kementerian Sosial (Kemensos) secara serentak memulai penyaluran bantuan sosial (bansos) Program Keluarga Harapan (PKH) dan bantuan pangan non-tunai (sembako) tahap kedua tahun 2025. Penyaluran yang dimulai hari ini, Rabu, 28 Mei 2025, merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto dan akan menggunakan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) untuk pertama kalinya.

DTSEN: Menuju Bansos Lebih Tepat Sasaran

Menteri Sosial, Saefullah Yusuf, menjelaskan bahwa penggunaan DTSEN menjadi terobosan penting dalam penyaluran bansos. "DTSEN adalah data yang mencakup kondisi individu dan keluarga yang menyatu dan lengkap, tentu akan terus dimutakhirkan setiap 3 bulan," ujar Saefullah Yusuf.

Proses pemutakhiran data DTSEN dilakukan bersama Kemensos, Badan Pusat Statistik (BPS), dan Pemerintah Daerah, serta melibatkan partisipasi masyarakat luas melalui aplikasi Cekbansos. Masyarakat dapat menyertakan data-data yang diperlukan untuk pemutakhiran ini.

Hasil pemutakhiran data menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam daftar penerima. Sekitar 1,8 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang sebelumnya menerima bansos dinyatakan tidak lagi layak menerima bantuan. Di sisi lain, 1,8 juta keluarga miskin yang sebelumnya belum terjangkau, kini akan masuk ke dalam daftar penerima bansos.

Transparansi dan Efektivitas Program Pemerintah

Saefullah Yusuf menekankan bahwa langkah ini merupakan upaya pemerintah untuk membuat program bansos lebih tepat sasaran dan memastikan bantuan diterima oleh mereka yang benar-benar membutuhkan.
"Ini sekaligus adalah upaya untuk membuat program pemerintah lebih tepat sasaran dan bisa diterima oleh mereka yang benar-benar membutuhkan bantuan," tegasnya.

Menteri Sosial juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama mengawal penyempurnaan DTSEN dan proses penyaluran bansos. "Sebab dengan data yang akurat, tentu program dan bantuan pemerintah akan tepat sasaran dan efektif meningkatkan kesejahteraan sosial," pungkas Saefullah Yusuf.

Penyaluran bansos tahap kedua 2025 ini diharapkan dapat berjalan lancar dan memberikan dampak positif yang maksimal bagi masyarakat yang membutuhkan, sejalan dengan semangat Inpres Nomor 4 Tahun 2025. (*)

Berikut link video kemensos

https://youtu.be/kPXXnUHeoKc?si=n7oNNGhV2cdpT4Bp

Selamat menonton

Tuesday, May 27, 2025

Kalau Kepala Desa Masih Bingung AI, Siap-Siap Desa Kalah Cepat Sama Meme!

Oleh : Firnas, Gareng & Petruk – Duo Ngakak Tapi Serius Nan Menyejahterakan Rakyat

1. Pembuka ala Angkringan

Bayangno, Rek. Warga nanya di grup WA: “Pak Kades, pupuk kok mahal maneh?” — eh, balasan baru nongol besok pagi karena Pak Kades masih nyari sinyal di kebun pisang. Padahal kalau punya asisten Generative AI, Pak Kades cukup ketik: /pupuk ➜ keluar grafik harga nasional, prediksi cuaca, sampai kapan diskon di koperasi. Warga puas, Pak Kades tenang, grup WA langsung adem kayak es dawet.

Petruk garuk-garuk kepala: “Lha, AI iki ibarat kerbau sakti. Kowe tinggal narik tali, dia yang ngluku sawah digital!”

2. Lima Alasan Pak Kades WAJIB Melek AI (Versi Ketoprak Humor)

# Kenapa Penting? Sindiran Manis ala Gareng-Petruk

1 Hemat Waktu & Biaya – Surat, laporan, proposal jadi 10× lebih cepat. “Ngapain ngetik ulang peraturan tiap tahun, Pak? AI bisa copas legal tapi sah!”
2 Perencanaan Ciamik – AI baca cuaca & pasar: “Tanam padi minggu depan, panen pas harga naik!” “Selama ini rencana desa kayak sinetron: panjang, tapi plot twist-nya banjir dadakan.”
3 Pelayanan 24/7 – Warga tanya SKTM via chatbot, jawab langsung. “Biar kantor desa gak cuma ramai pas ada wifi gratis.”
4 UMKM Naik Kelas – Konten medsos, terjemah katalog ke bule, semua auto-generate. “Produk tempe krispi nembus Eropa, bukan cuma warung sebelah balai desa.”
5 Tangkal Hoaks & Penipuan – AI deteksi deepfake, warga teredukasi. “Biar tidak ada lagi yang percaya SMS ‘Anda dapat traktor, klik link ini’.”

3. “Tapi Aku Gaptek, Bro!” – Solusi Ndeso Nan Cerdas

1. Mulai dari WhatsApp ➜ sekarang ada bot ChatGPT via WA; latihan cukup kirim meme, dapat rangkuman APBDes.

2. Pelatihan Gratis Pemerintah ➜ daftar di program literasi digital Kemendes. Gratis, plus kopi!

3. Gandeng Karang Taruna ➜ yang muda yang pegang Python; yang tua pegang nasihat.

Gareng nyeletuk: “Teknologi itu kayak wedang jahe – panas di awal, tapi bikin badan sehat. Dicoba dulu, Pak!”

4. Risiko Kalau Pak Kades Masih Anteng di Zona 3G

Ekonomi Desa Keteteran: UMKM sebelah kampung sudah viral di TikTok, desa kita masih cetak brosur fotokopian.

Informasi Lambat: Harga gabah turun hari ini, desa baru rapat minggu depan.

Warga Kabur: Anak muda pindah kota karena merasa desanya offline.

 

5. Penutup – “AI itu Cangkul Digital”

Demokrasi desa butuh kepala desa yang cepat, tepat, dan niat. Generative AI bukan “ilmu kota”, tapi cangkul digital buat buka lahan ide: dari administrasi rapi sampai ekonomi kreatif.

> Kata Petruk: “Yang takut AI bakal gantiin manusia itu keliru—AI cuma gantiin manusia yang lamban.”
Kata Gareng: “Jadi, Pak Kades… mau jadi pionir desa pintar, atau jadi legenda grup WA yang cuma kirim stiker tangan?”

 

#DesaMelekAI #PetaniPintar #KecerdasanBuatanRakyat – Yuk, jangan sampai desa kita ketinggalan stir di jalan tol digital!

GARENG PETRUK NEWS – Edisi Khusus: Ngadheg Pasar, Bubrah Pedagang!

Oleh FIRNAS, garengpetruk.com, Pasuruan.

“Pasuruan Makin Kinclong, Pedagang Makin Kelong!”

Pasuruan – Kawasan Stasiun Pasuruan kini bukan lagi tempat jajan cilok sambil nunggu kereta lewat. Satpol PP, bak pasukan Avengers lokal, mulai unjuk gigi dengan misi mulia: “Bersihkan trotoar dari tenda-tenda rakyat jelata!”

Wes ngono, para pedagang kaki lima (PKL) yang selama ini nglarisi tahu petis, sandal jepit, sampe baju obral “3 for 50” di pinggir stasiun, kini diwenehi tiga surat cinta dari pemerintah. Surat peringatan ketiga wis dicelukno, dan wedhus gembel wae ngerti, sing nomer telu kuwi tandane wis “Wes cukup, Cak!”

Sate Lawan Tatanan? Ya Dibungkus!

Menurut sumber dari kalangan yang tak mau disebutkan namanya (tapi sebetulnya ngaku-ngaku warga), kawasan stasiun wis ra karuan: kumuh, macet, dan aromane campuran antara gorengan semalam sama parfum KW. “Aku mlebu stasiun kok kaya mlebu pasar malam,” keluh Mbak Yuni, calon penumpang yang nyaris kececer kereta gara-gara dodolan semrawut.

Walikota Adi Widowo, dengan gagah perkasa dan seragam rapih, ngumumke pasukan Satpol, TNI, lan Polri wis siap “nge-prank” pedagang yang ngeyel. “Ini demi keadilan dan ketertiban kota,” ujarnya, sambil senyum semringah di atas podium yang lebih kinclong dari paving stasiun.

Petruk Ngomong: “Yang Kalah, Selalu Yang Kecil!”

Petruk, tokoh rakyat yang terkenal ora nduwe tanah, tapi nduwe hati, nyeletuk:

> “Wong cilik dipindahke, pasar modern malah tambah gedhe. Gedung megah dibiayai APBD, lha wong jualan gorengan malah diusir merga ngresekno pemandangan?”

Gareng yang lagi ngudud sambil nglirik berita ini, langsung nimpali,

> “Yo jare demi estetika, tapi ngono ngendi papan anyar sing layak, sing rame, sing ora mung jadi ‘penampungan’? Wong jualan iku urip, dudu hama sing kudu dibasmi!”

 

Sindiran Tapi Sayang: Pasar Rakyat vs Pasar Modal

Niat pemerintah nertibke pasar patut diapresiasi, ben ora dadi kuburan kreatifitas rakyat. Tapi ojo lali, rakyat iki dudu paku bumi sing sak karepmu dicopot-copot. Mereka dudu pengganggu kota, tapi penyambung hidup keluarga.

Petruk nutup berita iki karo pantun:
“Kalau pasar jadi rapi, kami ikut senang hati.
Tapi jangan cuma tertibkan, terus nasib kami dilupakan.”

Saking GarengPetruk.com – berita rakyat, untuk rakyat, kadang lucu, sering ngenes, tapi selalu jujur.

https://garengpetruk.com/gareng-petruk-news-edisi-khusus-ngadheg-pasar-bubrah-pedagang/

DERITA PEDAGANG PASAR BESAR KOTA PASURUAN PASCA PENERTIBAN DAN PEMBONGKARAN

Derita Pedagang Kaki Lima di Stasiun Pasuruan: Antara Penertiban dan Asa Relokasi

Pasuruan, Jawa Timur– Senin, 26 Mei 2025, menjadi hari yang tak terlupakan bagi puluhan pedagang kaki lima (PKL) di sekitar Stasiun Pasuruan. Sejak pagi, petugas gabungan dari Pemerintah Kota Pasuruan, KAI, TNI, dan Polri melakukan penertiban besar-besaran, meratakan lapak-lapak yang selama puluhan tahun menjadi tumpuan hidup mereka. Penertiban ini adalah bagian dari upaya penataan kawasan stasiun dan alun-alun, yang disebut bertujuan untuk menciptakan keadilan bagi semua pengguna ruang publik.

"Hari ini kami Pemerintah Kota Pasuruan bersama KAI, TNI, Polri, dan seluruh jajaran melaksanakan penataan atau penertiban di kawasan Pasar Besar dan Alun-alun," ujar salah seorang perwakilan pemerintah kota di lokasi. Ia menambahkan bahwa sosialisasi telah dilakukan sebelumnya, dan para pedagang yang menempati lokasi tidak semestinya sudah sepakat untuk ditata. "Alhamdulillah tadi lancar, masyarakat juga mendukung karena prinsipnya kami dari pemerintah ingin memberikan keadilan bagi semua," katanya, menegaskan bahwa penataan ini untuk keadilan bagi pejalan kaki, pedagang, dan pengguna akses transportasi.

---

Pedagang: Siap Pindah, Asal Ada Solusi

Namun, di balik narasi penataan yang mulus, tersimpan kisah getir para pedagang yang merasa diombang-ambingkan. Ibu Ida, seorang pedagang kelapa yang sudah berjualan di sana selama 27 tahun, mewarisi usahanya dari sang ibu. Ia mengungkapkan perasaan campur aduknya. "Sedih, Mbak. Sudah 27 tahun dari orang tua," ujarnya lirih. Ketika ditanya apakah ada tempat relokasi, ia menjawab, "Enggak ada tempat, Mas. Kalau ada tempat kan enak, ini enggak ada tempat, enggak ada tempat."

Para pedagang sebenarnya bersedia untuk pindah dan mendukung program penataan KAI, asalkan ada tempat yang layak. "Mereka enggak sulit kok tanggung jawab mereka, mereka mau pindah tapi asalkan ada tempat. Makanya kan kenapa kemarin minta, 'Pak tolong Pak kasih waktu agar Pemkot Pasuruan bisa menyiapkan tempat dulu baru kita pindah pelan-pelan, kita relokasi pelan-pelan gitu loh Pak,'" jelas seorang juru bicara pedagang. Mereka berharap Pemkot Pasuruan dapat segera menemukan lokasi yang layak sehingga mereka bisa kembali berjualan.

---

KAI: Pertumbuhan Penumpang dan Rencana Penataan Lahan

Di sisi lain, PT KAI Daop 9 Jember menjelaskan bahwa penataan ini krusial mengingat pertumbuhan penumpang kereta api yang signifikan di Stasiun Pasuruan. "Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan perapian dan keteraturan agar pedagang ini tidak menghalangi akses menuju Stasiun Pasuruan," kata perwakilan KAI.

Data menunjukkan, jumlah penumpang yang dilayani dari Stasiun Pasuruan mencapai sekitar **53.600 penumpang pada 2023**, dan meningkat menjadi **62.000 lebih penumpang pada 2024**. Bahkan, dari Januari hingga Mei 2025, sudah ada pertumbuhan 2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dengan rata-rata harian 340 penumpang KA jarak jauh dan 1.600 penumpang komuter, aksesibilitas stasiun menjadi prioritas.

Lahan yang ditertibkan ini, menurut KAI, adalah milik mereka dan akan dimanfaatkan untuk penataan kawasan stasiun, termasuk rencana penataan lahan parkir pada tahun ini. Sekitar **28 hingga 30 lapak di sisi timur dan 8 hingga 10 lapak di sisi barat** stasiun terdampak penertiban ini. Pihak KAI menegaskan bahwa sosialisasi gencar sudah dilakukan sejak 2022-2023, dan SP3 (Surat Peringatan Ketiga) telah diberikan beberapa hari sebelumnya.

---

Evakuasi dalam Tiga Hari

Penertiban yang mengerahkan alat berat ini ditargetkan selesai dalam tiga hari, yaitu pada 26, 27, dan 28 Mei 2025. Diharapkan, semua pedagang sudah kembali ke lapak mereka yang direlokasi di Pasar Besar maupun Pasar Karang Ketuk.

Di tengah hiruk pikuk pembongkaran, para pedagang sibuk menyelamatkan sisa-sisa bangunan dan barang dagangan yang masih bisa digunakan. Raut wajah sedih dan bingung tak bisa disembunyikan. "Nggak tahu, Mas, belum tempat," kata Ibu Rusmiati, seorang pedagang kelapa parut yang juga sudah puluhan tahun berjualan di lokasi tersebut, ketika ditanya akan pindah ke mana.

Meskipun penertiban ini membawa asa akan kota yang lebih tertata, ia juga meninggalkan pertanyaan besar tentang nasib para pedagang yang harus memulai dari awal tanpa kejelasan tempat. Semoga ada solusi terbaik bagi mereka agar roda perekonomian mereka tetap bisa berputar. (*)

Sumber tulisan :
https://youtu.be/B-oflmc1rMU?si=ZMoMf6-CPYDzwPGA

By FIRNAS

KADES WAJIB TAHU AI (Artificial Intelligence)

*Mengapa Kepala Desa Anda WAJIB Tahu Soal Generative AI Sekarang?*

FIrnas, Pasuruan

Bayangkan ini: Seorang petani di pelosok desa bertanya ke WhatsApp Group RT-nya, *"Kenapa harga pupuk naik lagi?"* Daripada jawaban spekulatif warga, *Kepala Desa langsung membagikan analisis otomatis berbasis AI* yang merangkum data harga pupuk nasional, prediksi tren, dan rekomendasi waktu beli terbaik.  

Ini bukan mimpi. *Generative AI* (kecerdasan buatan yang bisa menghasilkan teks, analisis, bahkan gambar) sudah bisa jadi "asisten digital" terkuat bagi desa. Tapi sayangnya, *banyak kepala desa masih menganggap AI sebagai "ilmu kota" yang tidak relevan*.  

*5 Alasan Kepala Desa Harus Melek AI Sekarang Juga* 

1. *Menghemat Waktu & Biaya Administrasi*
- *Surat menyurat, laporan keuangan, hingga proposal bantuan* bisa dibuat 10x lebih cepat dengan tools seperti ChatGPT atau Gemini.  
- Contoh nyata: Desa di *Jawa Tengah* menggunakan AI untuk *otomatisasi laporan keuangan*, mengurangi kesalahan manusia dan waktu kerja dari 3 hari → 1 jam.  

2. *Mempermudah Perencanaan Pembangunan*  
- AI bisa *menganalisis data kependudukan, cuaca, atau pasar** untuk membantu keputusan:  
  - *"Kapan waktu terbaik tanam padi tahun ini?"*  
  - *"Desa mana yang paling butuh bantuan sosial?"*  
- Di *Bali*, beberapa desa adat sudah pakai AI untuk *prediksi kunjungan turis*, mengatur penjadwalan acara budaya.  

3. *Meningkatkan Pelayanan Publik*
- Warga bisa tanya *"Syarat buat SKTM"* lewat chatbot WhatsApp, tanpa antri ke kantor desa.  
- *Contoh sukses*: Desa di *Yogyakarta* pakai AI voicebot untuk menjawab pertanyaan warga 24 jam / 7 hari dalam bahasa Jawa.  

4. *Membuka Peluang Ekonomi Digital*
- AI bisa bantu *promosi UMKM desa*:  
  - Generate konten media sosial (reels, poster) otomatis.  
  - Terjemahkan katalog produk ke bahasa asing untuk ekspor.  
- *Fakta**: Desa di *Bandung Barat* sukses jual kerajinan ke Eropa karena iklan AI-generated.  

5. *Antisipasi Penipuan & Hoaks*  
- *Deepfake & scam digital* makin marak. Kepala desa yang paham AI bisa:  
  - Mengedukasi warga soal penipuan berkedok "bantuan pemerintah".  
  - Memverifikasi informasi sebelum disebarkan.  

*"Tapi Saya Gaptek, Pak!"*  
Tenang, *AI sekarang bisa dipelajari tanpa perlu jadi programmer*. Caranya:  
1. *Mulai dari WhatsApp*: Pakai bot seperti *ChatGPT via WA* (sudah banyak tutorial YouTube).  
2. *Ikut Pelatihan Gratis*: *Kemenkominfo & Kemendes* punya program literasi digital untuk desa.  
3. *Ajak Anak Muda*: Libatkan karang taruna atau mahasiswa KKN untuk bantu implementasi.  

*Kesimpulan*
Generative AI bukan untuk "orang kota" saja. **Justru desa yang punya masalah unik butuh solusi cepat & murah—dan AI bisa menjawab itu.*

*Jika kepala desa tidak mulai belajar sekarang, desanya akan tertinggal.*

*Desa cerdas = desa yang adaptif.*

*(Artikel ini sebagian ditulis dengan bantuan AI, lho!)* 🚀  

---  
*Apa pendapatmu? Sudah ada kepala desa di daerahmu yang pakai AI?*
*#DesaDigital #GenerativeAI #KepalaDesaMelekTeknologi*

PENERTIBAN DAN PEMBONGKARAN LAPAK PEDAGANG PASAR BESAR KOTA PASURUAN

Senin, 26 Mei 2025
PENERTIBAN PEDAGANG PASAR DI KOTA PASURUAN 

Pemerintah Kota Pasuruan melalui Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) terus mengambil langkah tegas dalam menata kawasan sekitar Stasiun Pasuruan yang dinilai kumuh dan semrawut akibat maraknya aktivitas pedagang kaki lima di luar area pasar.

Satpol PP Kota Pasuruan telah melakukan serangkaian upaya persuasif berupa sosialisasi kepada para pedagang yang berjualan di sekitar stasiun. Dalam sosialisasi tersebut, para pedagang dihimbau untuk memindahkan aktivitas jual belinya ke dalam area pasar yang telah disediakan.

Namun hingga saat ini, banyak pedagang yang masih enggan untuk berpindah. Akibatnya, surat peringatan ketiga telah resmi dilayangkan kepada para pedagang. Jika himbauan dan peringatan tersebut tetap tidak diindahkan, pemerintah memastikan akan segera melakukan tindakan pembongkaran demi menertibkan kawasan tersebut.

"Kawasan di sekitar stasiun terlihat kumuh, kotor, dan sering menimbulkan kemacetan," ujar salah seorang warga yang hendak menuju stasiun. Keluhan serupa datang dari banyak masyarakat yang merasa terganggu dengan kondisi tersebut.

Langkah penertiban yang dimulai hari ini (Senin, 26/5/2025) merupakan upaya penegakan keadilan bagi semua, kata Walikota Adi Widowo pada apel bersama TNI, Polri, Satpol di Stasiun Pasuruan.  

Penertiban ini diharapkan dapat mengembalikan fungsi kawasan stasiun sebagai ruang publik yang tertib, bersih, dan nyaman bagi masyarakat. Walikota Kota Pasuruan pun menegaskan bahwa upaya ini dilakukan demi kepentingan bersama, termasuk untuk meningkatkan ketertiban dan estetika kota. (*)

PEREMPUAN PERADABAN

Membongkar Kisah "Perempuan Peradaban": Inspirasi dari Masa Lalu untuk Masa Kini

Oleh FIRNAS, Garengpetruk.com,  Pasuruan

Di tengah hiruk pikuk perdebatan tentang peran perempuan di era modern, sebuah buku berjudul "Kisah-Kisah Perempuan Peradaban" hadir menawarkan oase inspirasi dari masa lalu. Buku ini, yang baru saja diluncurkan, memuat lebih dari 30 kisah perempuan hebat dari berbagai zaman, mulai dari Siti Hawa, para Sahabiyah, hingga tokoh kontemporer seperti RA Kartini dan Nyai Ahmad Dahlan.

Dalam acara bedah buku yang hangat, Ibu Esti Handayani, S.Pd dari Majelis Taklim Arafah, Solo, berbagi kisah inspiratif tentang idolanya: RA Kartini. "Saya mengidolakan seperti yang diidolakan ibu saya, yaitu Ibu RA Kartini," ujar Ibu Esti. Ia menjelaskan bahwa ibunya, yang kini berusia 89 tahun, sering menyanyikan lagu tentang Kartini, menumbuhkan kekaguman pada sosok pejuang emansipasi wanita tersebut.

 "Dari Ibu Kartini itu kan digambarkan atau dibayangkan bahwa dari zaman dulu itu wanita-wanita kita tuh wanita yang terbelakang. Nah, berkat dedikasi atau kemampuan atau loyalitas pada Ibu Kartini itu akhirnya kita bisa bangkit seperti ini, kita bisa setara dengan laki-laki," pungkasnya, disambut tepuk tangan meriah.

Memahami Karakteristik Perempuan Melalui Kisah Para Tokoh

Salah satu pendakwah, Ustaz Ahmad, menyoroti tujuan utama buku ini. "Dari 30 lebih karakter ini, kan beda-beda. Nah, buku ini bertujuan supaya kita, misalkan mau itu perempuan atau laki-laki, dari buku ini kita bisa mencocokkan, 'Sepertinya saya ini karakternya cocok di mana?'" jelasnya. Hal ini dikarenakan setiap tokoh perempuan memiliki karakteristik dan sifat yang beragam, yang dapat membantu pembaca menemukan role model yang tepat.

Ustaz Ahmad kemudian mencontohkan beberapa wanita paling sempurna yang disebut Nabi Muhammad SAW, yaitu Asiah, Maryam, Khadijah, Fatimah, dan Aisyah. Menariknya, kisah mereka membuktikan bahwa kesempurnaan seorang wanita tidak bergantung pada status pernikahan atau kondisi suami.

Asiah, istri Firaun yang zalim, tetap mampu menjadi wanita yang luar biasa salehah di sisi Allah. "Ini menjadi bukti, menjadi hujah, bahwa ibunda Asiah yang suaminya saja Firaun, beliau tetap bisa menjadi seorang wanita yang luar biasa di sisi Allah SWT," tegas Ustaz Ahmad.

Maryam, seorang single mother yang membesarkan Nabi Isa AS, menunjukkan bahwa status lajang bukanlah penghalang untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Khadijah, istri pertama Nabi Muhammad SAW, yang sempat menjanda dua kali sebelum menikah dengan Nabi, menunjukkan kontribusi luar biasa dalam dakwah.

Fatimah, putri Nabi Muhammad SAW, yang hidup dalam kesederhanaan dan kesulitan, tetap menjadi teladan kesabaran.

Aisyah, istri Nabi Muhammad SAW, yang diuji dengan tidak memiliki keturunan, namun menjadi periwayat hadis terbanyak dan mendidik banyak ulama.

Kisah-kisah ini menegaskan bahwa tidak ada batasan bagi perempuan untuk menjadi hamba terbaik di mata Allah, terlepas dari segala ujian hidup.

Islam dan Pembebasan Perempuan: Melawan Narasi Patriarki dan Feminisme

Ustaz Salim, penulis buku "Kisah-Kisah Perempuan Peradaban," menjelaskan inspirasi di balik karyanya. 

"Dewasa ini, di sekitar kita itu muncul kembali berbagai macam pemikiran, ideologi, dan lain sebagainya yang kemudian men-challenge di dalam sikap terhadap perempuan," ujarnya. 

Ia merujuk pada pandangan patriarki modern yang ingin mengembalikan peran wanita hanya sebatas "dapur, sumur, kasur," serta ide-ide progresif feminisme.

Padahal, menurut Ustaz Salim, semua pertanyaan dan tantangan tersebut telah dijawab oleh Islam. "Islam itu risalah pembebasan perempuan," tegasnya, mengutip disertasi seorang ulama. 

Dengan datangnya Islam, posisi perempuan diangkat menjadi setara dengan laki-laki di hadapan syariat, Allah, dan dalam kesempatan meraih keutamaan.
Ia menekankan bahwa perempuan memiliki kekhususan dan keistimewaan yang tidak bisa digantikan oleh laki-laki, yaitu hamil, melahirkan, dan menyusui. 

Inilah mengapa surga berada di bawah telapak kaki ibu, dan berbakti kepada ibu adalah prioritas utama.

Ustaz Salim juga mengutip contoh-contoh Sahabiyah yang memiliki kiprah luar biasa dalam peradaban, seperti:

Nusaibah binti Ka'ab, seorang mujahidah yang berani bertempur di medan perang untuk melindungi Nabi Muhammad SAW.

Asyifa binti Abdillah Al-Adawiyah (seorang dokter dan kemudian diangkat menjadi Menteri Perdagangan di masa Umar bin Khattab) dan Rufaidah Al-Aslamiyah (seorang perawat), yang menunjukkan dedikasi tinggi dalam bidang medis dan sosial. 

Asyifa, khususnya, bahkan mampu mengawasi pasar di seluruh kekhalifahan Umar bin Khattab yang luas, memastikan tidak ada kecurangan dan perdagangan berjalan lancar.

Kisah-kisah ini adalah bukti bahwa perempuan, dengan fitrah dan tabiatnya, dapat berkiprah dan berkontribusi secara maksimal untuk umat dan peradaban. Buku "Kisah-Kisah Perempuan Peradaban" diharapkan dapat menjadi panduan bagi perempuan masa kini untuk menemukan potensi terbaik mereka tanpa kehilangan identitas keislaman. (*)

KEMBALI KE ISLAM


Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan Malang Selatan, yang dulunya 100% Kristen, kini menjadi saksi bisu pulangnya beberapa warganya ke pangkuan Islam. 

Kisah-kisah mualaf di desa ini, yang mayoritas masih beragama Kristen, menjadi sorotan utama, menunjukkan eratnya toleransi dan persaudaraan yang terjalin.

---

**Perjalanan Spiritual Bu Yeni: Kembali ke Fitrah**

Salah satu kisah inspiratif datang dari Bu Yeni Anita (42). Ia memutuskan untuk bersyahadat, kembali memeluk Islam setelah 11 tahun meninggalkan agamanya demi pernikahan. Dengan panggilan hati yang kuat, Bu Yeni mengaku selama menjadi Kristen, batinnya tidak pernah tenang. "Kadang ada bisikan... supaya apa kita hidup kan masa depan gitu belum tentu tahu ya Ustaz nanti kita matinya gimana? seperti apa saya itu? Berpikir seperti itu, dari hati saya itu, pengin ya nanti kalau meninggal gitu bisa mati muslim gitu loh," ungkapnya penuh haru.

Suami Bu Yeni mengizinkan keputusannya, namun belum siap untuk ikut bersyahadat. Meski demikian, Bu Yeni berharap suaminya segera menyusul agar ikatan pernikahan mereka sah secara Islam. 

Kisah Bu Yeni semakin mengharukan mengingat kedua orang tuanya telah tiada, dan ia merasa bersalah karena pernah keluar dari Islam saat mereka masih hidup. Kini, ia bertekad untuk selalu istiqamah dan mendoakan orang tuanya.

---

Pak Sugianto dan Mas Aan: Hidayah Melalui Keluarga

Tak hanya Bu Yeni, Pak Sugianto juga memutuskan untuk bersyahadat. Keputusannya ini didorong oleh anak-anak dan istrinya, Bu Poniti, yang telah lebih dulu memeluk Islam. "Saya masuk Islam ya setuju. Kalau Anda ya ikut anak-anak semua. ikut anak-anak semua sama suami saya," ujarnya. 

Pak Sugianto menunjukkan kesiapannya untuk beradaptasi dengan ajaran Islam, termasuk kewajiban shalat lima waktu.

Sementara itu, Mas Aan (33), seorang pemuda yang juga bersyahadat, termotivasi oleh kakaknya yang telah masuk Islam. Ia ingin seluruh keluarganya berkumpul dalam satu agama. Meskipun ia akan menikahi seorang muslimah, Mas Aan menegaskan keputusannya bukan karena paksaan, melainkan karena keyakinan penuh. "Yakin sudah mantap berarti ya di Islam ya," tegasnya saat ditanya kesiapannya menghadapi cobaan.

---

Sosok Ustaz Hasan Nawawi: Pejuang Toleransi di Sitiarjo

Di balik gelombang mualaf ini, ada peran sentral Ustaz Hasan Nawawi. Beliau adalah inisiator dakwah di Desa Sitiarjo dan dikenal sebagai sosok yang sangat menjunjung tinggi toleransi. "Beliau di sini adalah sebagai seorang inisiator dakwah di sini di Kampung Desa Sitiarjo ini dan beliau ini adalah orang yang paling menjunjung tinggi tentang toleransi dan aktif dalam membina mualaf," puji salah satu pendakwah.

Ustaz Hasan Nawawi juga mengasuh anak-anak yatim piatu Kristen, memberikan kebebasan kepada mereka untuk memilih keyakinan, menunjukkan bahwa dakwahnya berdasarkan kemanusiaan, bukan paksaan. Ia bahkan berencana membantu para mualaf baru mengurus KTP mereka dengan syarat mereka mau belajar bacaan shalat.

---

Dakwah Aya Sofya Indonesia: Membuka Jalan Hidayah

Kehadiran Mualaf Center Nasional Aya Sofya Indonesia juga turut andil dalam proses ini. Organisasi ini tidak hanya membimbing para mualaf, tetapi juga membuka peluang beramal melalui program kurban yang tepat sasaran bagi mualaf miskin di pedalaman.

---

Yesus adalah Muslim? Sebuah Perspektif Baru

Dalam dialognya, para pendakwah juga menyampaikan perspektif menarik tentang agama Kristen. Mereka berpendapat bahwa Yesus sesungguhnya adalah seorang Muslim dan tidak pernah tahu apa itu Kristen. Pandangan ini didasarkan pada pembacaan mendalam terhadap kitab suci, termasuk Alkitab berbahasa Arab yang menunjukkan bahwa Tuhan yang menciptakan langit dan bumi adalah Allah.

---

Kisah-kisah dari Desa Sitiarjo ini menjadi bukti nyata bahwa hidayah bisa datang dari mana saja, bahkan dari keinginan sederhana seperti "ingin mati muslim". Toleransi dan persaudaraan di tengah perbedaan keyakinan menjadi jembatan bagi setiap individu untuk menemukan jalan spiritualnya. 

Ditulis oleh FIRNAS, berdasarkan video youtube ini.

https://youtu.be/ZANBl46X_Nw?si=ZguVIjw8HFqZvZ-1

Selamat menonton.

MEUBEL DI PASURUAN

**Mebel Pasuruan: Dari Limbah Kayu hingga Potensi Ekspor yang Terhimpit Persaingan Global**

By FIRNAS 

Pasuruan, Jawa Timur, menyimpan potensi besar di balik gurat-gurat kayu dan aroma serbuk gergaji. Industri furnitur, terutama yang berbahan dasar kayu, menjadi salah satu andalan ekspor Jawa Timur. Ketersediaan bahan baku melimpah – mulai dari kayu jati hingga bambu dan rotan – telah melahirkan kreativitas para pengrajin. Tak sedikit dari mereka yang jeli memanfaatkan limbah kayu, seperti bonggol atau akar, mengubahnya menjadi kerajinan bernilai seni tinggi yang memikat pasar domestik hingga mancanegara.

“Produk furnitur adalah salah satu sektor yang memicu ekspor Jawa Timur,” ungkap Drajat Irawan, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur. Ia menambahkan, keunikan dan nilai artistik produk furnitur Indonesia, seperti mebel dari akar jati, menjadi pembeda yang tak dimiliki negara lain.

**Jejak Kerajinan dan Mebel Pasuruan di Pasar Global**

Di Kabupaten Pasuruan, geliat industri kerajinan kayu terasa kuat. Desa Sentul di Kecamatan Purwodadi dan Desa Wonorejo di Kecamatan Wonorejo menjadi sentra produksi beragam barang, mulai dari setir kayu, mainan anak-anak, alat olahraga, hingga alat peraga pendidikan. Produk-produk ini tak hanya mengisi pasar lokal, tetapi juga telah merambah kota-kota besar seperti Bandung dan Jakarta, bahkan menembus pasar ekspor ke Malaysia dan Swedia.

Tak hanya kerajinan, sektor mebel di Pasuruan juga menunjukkan geliat signifikan. Kecamatan Winongan, Pohjentrek, Kraton, dan Rejoso menjadi kantong-kantong produksi mebel, menampung mayoritas dari 467 unit industri kecil dengan kapasitas produksi mencapai 19.991 buah. Produk-produk mebel Pasuruan telah dikenal luas di pasar domestik, mulai dari Surabaya, Sidoarjo, Malang, Madura, Kediri, hingga Bali. Jejaknya di pasar ekspor juga tak kalah menjanjikan, mencapai Malaysia, Hong Kong, beberapa negara di Eropa, dan Amerika Serikat. Untuk semakin memperluas jangkauan, Pemerintah Kabupaten Pasuruan berencana membangun pasar mebel di wilayah Barat (Kecamatan Kraton) dan Timur (Kecamatan Rejoso), sebuah langkah strategis untuk mendongkrak pemasaran dan daya saing.

**Tantangan di Balik Angka Ekspor yang Megah**

Namun, di balik optimisme ini, tersimpan tantangan yang tak bisa diabaikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2021 mencatat nilai ekspor mebel Indonesia mencapai USD 2,88 miliar, dengan 69% didominasi mebel berbahan dasar kayu. Angka ini memang terkesan megah, namun faktanya, Indonesia masih tertinggal. Di Asia, Indonesia hanya menempati peringkat ke-17 dalam realisasi ekspor industri furnitur pada tahun 2021, dengan pangsa pasar hanya 1,19%. Kita masih kalah bersaing dengan negara tetangga seperti Vietnam (posisi kedua) dan Malaysia (urutan ke-12). China, sang raksasa, masih mendominasi puncak ekspor mebel dunia dengan pangsa pasar mencapai 32,86%. Keunggulan komparatif Indonesia sebagai penghasil bahan baku mebel yang melimpah rupanya belum cukup untuk memenangkan persaingan global.

Pandemi Covid-19 juga menyisakan luka mendalam. Penjualan mebel di Pasuruan anjlok hingga 70%. Jika pada kondisi normal, pengusaha bisa menjual 5-7 set meja kursi sehari, selama pandemi hanya 1-2 set yang laku. Untuk menopang para pelaku UMKM, pemerintah kota dan kabupaten Pasuruan berinisiatif membangun Pasar Mebel Pasuruan di Kelurahan Bukir dan Kelurahan Randusari, Kecamatan Gadingrejo. Pasar ini menjadi satu-satunya saluran pemasaran yang terbukti memberikan dampak signifikan pada penjualan produk UMKM mebel Pasuruan.

**Jepara dan Optimalisasi Pemasaran: Dua Permasalahan Utama**

Namun, dua permasalahan utama masih membayangi UMKM mebel kayu jati Pasuruan. Pertama, produk mereka kesulitan bersaing dengan mebel kayu jati dari Jepara, yang sudah lebih dulu dikenal sebagai pusat mebel jati nasional bahkan internasional. Kedua, saluran pemasaran yang belum optimal dan cenderung terpusat pada Pasar Mebel Pasuruan. Keterbatasan ini berujung pada produksi yang berlebih namun tidak seimbang dengan rendahnya jumlah pemesanan, yang pada akhirnya memukul penjualan mebel kayu jati.

Maka, untuk mendorong peningkatan pasar ekspor produk industri furnitur, Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur dituntut untuk lebih proaktif. Berbagai upaya, mulai dari pelatihan peningkatan kapasitas, promosi online dan offline yang agresif, pengembangan desain produk yang inovatif dan relevan dengan selera global, hingga peningkatan kualitas produk melalui standardisasi industri, harus digalakkan. Ini adalah kunci agar industri kerajinan kayu dan mebel Pasuruan siap bersaing di kancah global dan mewujudkan potensi besar yang selama ini tersembunyi.

---

Sunday, May 25, 2025

iNDONESIA MENUJU KEDAULATAN

INDONESIA MENUJU KEDAULATAN: NASIB BERAS, BENSIN, DAN DOMPET DI TENGAH BADAI GLOBAL

Oleh: FIRNAS – garengpetruk.com, Pasuruan


> “Negara kuat bukan negara yang isinya orang kuat-kuatan di medsos,
tapi yang isi perut rakyatnya kuat meski harga cabe lagi naik.”
— (Gareng Petruk, edisi panen gagal)

Wahai sedulur-sedulurku, rakyat semesta nusantara dari Sabang sampai swalayan, dari Merauke sampai minimarket yang diskonnya PHP: mari kita sambut tahun 2026 dengan semangat baru! Tahun di mana negara kita menargetkan kedaulatan pangan, energi, dan ekonomi. Pokoknya, dari nasi sampe solar, dari tahu sampe cuan, semua harus mandiri!

Tapi, sebelum semangat kita terbang melayang, mari kita ngopi dulu sambil ngelus dada — soalnya di luar sana, dunia sedang goyang hebat, lur! Bukan goyang TikTok, tapi goyang geopolitik: Rusia masih ngebet main tank, Gaza terus berasap, harga minyak bikin kepala cenat-cenut, dan dolar kayak mantan: susah ditebak, kadang naik, kadang nyakitin.

Geopolitik Global: Dunia Goyang, Dompet Kuyang

Kita hidup di zaman edan globalisasi edisi fragmentasi. Negara-negara yang dulunya ngopi bareng di G20, sekarang saling bacok tarif. Amerika dan Tiongkok berantemnya udah kayak sinetron stripping, tiap hari ada episode baru. Efeknya? Negara lain cuma bisa bengong sambil nyari promo harga gandum.

Korea Selatan, negara yang sukses bikin drakor dan skincare, sekarang malah kontraksi ekonominya. Singapura yang biasanya tenang, sekarang ikutan pusing. Bahkan Malaysia dan Vietnam juga ikut-ikutan lesu — padahal biasanya mereka jago jualan segala rupa.

Indonesia: Antara Optimisme dan Sabar Lahir Batin

Tapi kita? Kita tetap optimis. Wong Indonesia itu hebat: harga cabe naik, masih sempat bikin konten lucu. Harga BBM naik, masih sempat jajan boba. Tapi jangan salah, pemerintah nggak tinggal diam. Kementerian dan lembaga seperti Avengers ekonomi sedang menyusun strategi KEM-PPKF 2026: semacam GPS ekonomi agar kita nggak nyasar ke lubang resesi.

Intinya sih: biar dunia ribut, kita tetap fokus ke dapur sendiri. Diversifikasi ekspor, hilirisasi industri, reformasi struktural, digitalisasi UMKM, sampai urusan sawit yang digosipin terus sama Eropa — semua disikat. Karena masa depan nggak bisa nunggu mood geopolitik membaik.

Fiskal 2026: APBN Kuat, Rakyat Juga Harus Kuat

Nah, ini bagian penting, lur: pemerintah bilang defisit akan dijaga di angka sekitar 2,5% PDB. Katanya APBN 2026 ekspansif, terarah, dan terukur. Seperti orang jatuh cinta tapi tetap ngecek saldo rekening.

Delapan strategi utama pun diluncurkan, dari pangan, energi, MBG alias Makan Bergizi Gratis (bukan Makan Besar Gratis, ya!), sampai koperasi, UMKM, dan pertahanan semesta. Jadi kalau ada yang nanya, “2026 kita ngapain?” Jawabannya: kita makan, belajar, sehat, kerja, dan siap bela negara — bukan cuma bela netizen di kolom komentar!

Sindiran Ala Warung Kopi: Kedaulatan Itu Bukan Sekadar Kata Mutiara

Tapi ya, Gareng dan Petruk tetap nanya: kedaulatan itu benaran buat rakyat, apa buat slide presentasi pejabat? Jangan-jangan kedaulatan pangan hanya sampai nasi kotak rapat dinas. Atau energi mandiri, tapi colokan listriknya tetap numpang utang luar negeri.

Masalahnya sederhana tapi penting: kalau rakyat masih antre beli minyak goreng, anak sekolah masih rebutan makan siang, dan petani masih kalah cuan sama influencer skincare — ya, berarti PR-nya belum selesai.

2026 dan Mimpi Indonesia Emas: Jangan Sampai Jadi Emas Imitasi

Visi Indonesia Emas 2045 itu indah. Tapi jangan sampai kita baru sadar ternyata itu gold plated, bukan emas murni. Kedaulatan bukan hanya soal angka di dokumen, tapi rasa aman di warung, rasa sejahtera di dapur, dan rasa adil di dompet.

Jadi, Gareng dan Petruk sepakat: mari dukung pemerintah, tapi juga tetap cerewet. Karena negara ini akan jadi hebat bukan hanya karena pemimpinnya kuat, tapi karena rakyatnya nggak mau dibohongi dengan jargon doang.

> “Kita bukan anti kebijakan, kita cuma pro akal sehat.
Karena nasi gak akan datang cuma dari janji — tapi dari sawah, kerja, dan keberpihakan.”
— (Petruk, saat gagal panen dan gagal move on)

 

Selamat menyambut 2026, Indonesia! Semoga badai global hanya numpang lewat, dan semoga perut rakyat tetap kenyang tanpa harus jadi korban politik pangan.

Salam dari Gareng & Petruk,
yang masih setia nyari cabe murah dan sinyal harapan.


https://garengpetruk.com/indonesia-menuju-kedaulatan-nasib-beras-bensin-dan-dompet-di-tengah-badai-global/