Perang tidak hanya menyisakan angka dalam statistik korban jiwa, namun juga narasi pedih tentang kehilangan yang beruntun. Kisah tragis kini menyelimuti keluarga Zolat, warga Israel yang memiliki akar budaya kuat dari Minahasa, Sulawesi Utara. Dua putra kembar mereka, Gary dan Emmanuel Zolat, dilaporkan tewas dalam kurun waktu yang berdekatan di dua front pertempuran yang berbeda.
Gugurnya Sang Kakak di Jalur Gaza
Duka bermula ketika Sersan Kelas Satu Gary Lalharwanikima Zolat (21) dinyatakan gugur dalam pertempuran sengit di Jalur Gaza Utara. Gary, yang tergabung dalam Batalyon Shimshon (Unit 92) di bawah Brigade Kfir, tewas bersama tiga rekan prajuritnya akibat sebuah ledakan besar.
Hingga saat ini, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) masih melakukan investigasi mendalam untuk memastikan apakah ledakan yang merenggut nyawa pemuda asal Afula tersebut dipicu oleh rudal anti-tank atau perangkat peledak rakitan (IED) yang ditanam di lokasi kejadian.
Gary bukan sekadar prajurit biasa; ia adalah representasi dari komunitas unik di Israel. Keluarga Zolat diyakini merupakan bagian dari keturunan Bani Menashe, kelompok yang sering diasosiasikan sebagai "Suku Terhilang Israel" yang sempat bermukim di Nusantara, khususnya di tanah Minahasa, sebelum akhirnya melakukan Aliyah (pindah) ke Israel.
Sumpah Emmanuel: Antara Bakti dan Balas Dendam
Kematian Gary meninggalkan lubang besar di hati saudara kembarnya, Emmanuel Zolat. Alih-alih menarik diri dari garis depan karena trauma, Emmanuel justru mengambil keputusan yang sangat emosional. Ia mengajukan diri secara sukarela untuk bergabung dengan unit yang sama dengan mendiang kakaknya.
> "Aku ingin melanjutkan jejak saudaraku dan menyelesaikan perjalanannya, serta membalas dendam sekeras-kerasnya kepada mereka yang telah merenggutnya dari kami saat ia membela negaranya," ungkap Emmanuel dalam sebuah pernyataan yang sempat dikutip media lokal sebelum keberangkatannya.
>
Namun, tekad untuk menuntaskan perjuangan sang kakak justru berujung pada pengulangan tragedi.
Takdir Serupa di Lebanon Selatan
Nasib berkata lain. Belum lama setelah ia mengenakan seragam tempurnya untuk membalas kehilangan sang saudara, Emmanuel dilaporkan tewas dalam sebuah operasi penyerangan di wilayah Lebanon Selatan. Ironisnya, penyebab kematiannya serupa dengan sang kakak: sebuah alat peledak yang meledak saat pasukannya sedang bermanuver di lapangan.
Kematian Emmanuel menutup babak pilu bagi keluarga Zolat. Pasangan kembar yang pindah dari Sderot ke Afula pada tahun 2014 ini kini telah tiada, meninggalkan orang tua, dua saudara perempuan, dan satu saudara laki-laki dalam duka yang tak terperikan.
Kisah Gary dan Emmanuel menjadi pengingat pahit tentang bagaimana konflik bersenjata mampu memutus garis keturunan dan menghancurkan harapan sebuah keluarga dalam sekejap mata, terlepas dari sejauh mana jejak sejarah dan identitas mereka membentang—dari tanah Minahasa hingga ke jantung konflik Timur Tengah. (*)
No comments:
Post a Comment