Monday, April 13, 2026

Kisah Menteri "Paling Miskin": Diplomat Sembilan Bahasa yang Hidup dari Gang ke Gang


Dunia mengenalnya sebagai "The Grand Old Man", seorang diplomat jenius yang menguasai sembilan bahasa asing dan disegani di Liga Bangsa-Bangsa (sekarang PBB). Namun, di balik setelan jas perlente dan aroma rokok kreteknya, H. Agus Salim menjalani kehidupan yang jauh dari kemewahan—bahkan tergolong sangat sederhana bagi ukuran seorang pejabat tinggi negara.

Kesetiaan Zainatun Nahar dalam Hidup Nomaden

Keteguhan prinsip Agus Salim tak lepas dari peran sang istri, Zainatun Nahar. Jauh dari citra istri pejabat yang gemar kemewahan, Zainatun adalah sosok yang rela hidup nomaden. Selama mendampingi suaminya, keluarga ini tidak pernah memiliki rumah pribadi. Mereka kerap berpindah dari satu kontrakan sempit ke kontrakan lain di gang-gang becek Jakarta, mulai dari Tanah Abang, Jatinegara, hingga Karet.
Gaji Agus Salim sebagai pejabat sering kali ludes untuk membiayai perjuangan bangsa dan sedekah. Dalam himpitan ekonomi, Zainatun tetap menjadi tiang yang kokoh. Pernah suatu hari, ketika tidak ada uang belanja, ia tetap tersenyum menyambut suaminya pulang meski di meja makan hanya tersaji nasi dan kecap.

Humor di Tengah Keprihatinan

Salah satu kisah legendaris terjadi saat mereka mengontrak di sebuah gang sempit di Tanah Abang. Kala itu hujan deras mengguyur, hingga rumah mereka bocor parah dan air menggenangi ruang tamu. Di saat yang sama, seorang tokoh pergerakan datang berkunjung.
Bukannya merasa malu, Agus Salim justru mengajak istrinya bernyanyi sambil menata ember-ember untuk menampung bocoran air. Dengan nada jenaka, ia berkata kepada tamunya:

"Maaf, Nyonya (Zainatun) sedang sibuk mengatur bendungan. Sebentar lagi kita akan punya kolam renang di dalam rumah."

Candaan itu disambut tawa bersama. Bagi Zainatun, kemiskinan harta tidak pernah mampu merampas kebahagiaan maupun harga diri keluarga mereka.

Leiden is Lijden: Memimpin Adalah Menderita

Bagi Agus Salim, sangat mudah untuk menerima "hadiah" berupa rumah atau uang dari rekan-rekannya. Namun, ia dan istrinya bersepakat menolak segala bentuk pemberian tersebut. Mereka memegang teguh prinsip: "Leiden is Lijden"—bahwa memimpin adalah menderita. Mereka menolak hidup nyaman dari fasilitas negara di saat rakyat masih dalam kesengsaraan.
Hingga akhir hayatnya pada 4 November 1954, Agus Salim tetap tidak memiliki rumah sendiri. Ia mewariskan nama besar, namun tidak meninggalkan harta benda. Zainatun melepas kepergian suaminya dengan tegar, sadar betul bahwa sang suami adalah mutiara yang tak butuh kotak emas untuk bersinar.
Semoga integritas dan kesederhanaan "The Grand Old Man" ini menjadi pengingat bagi para pejabat masa kini—terutama mereka yang berada di instansi strategis seperti Badan Gizi Nasional—bahwa amanah rakyat jauh lebih berharga daripada fasilitas duniawi. (*)

No comments: