Friday, April 03, 2026

Perkuat Sinergi dan Inklusivitas, PDA serta PD IGABA Kota Pasuruan Gelar Halalbihalal 1447 H


PASURUAN – Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kota Pasuruan bersama Pimpinan Daerah Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal (PD IGABA) menggelar silaturahmi dan Halalbihalal 1447 H pada Jumat, 15 Syawal 1447 H (3 April 2026). Bertempat di aula pertemuan TK Aisyiyah Bustanul Athfal  6  Pasuruan, acara ini menjadi momentum refleksi organisasi untuk lebih menyentuh kebutuhan masyarakat luas.

Tantangan Organisasi dan Isu Strategis Kota Pasuruan

Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kota Pasuruan, drh. Hj. Emilis Setyawati, dalam sambutannya menekankan pentingnya transformasi gerakan ‘Aisyiyah agar tidak hanya berputar di internal keanggotaan. Ia menyoroti beberapa tantangan besar yang dihadapi Kota Pasuruan, mulai dari angka kemiskinan hingga isu kesehatan anak.

> "PR terbesar kita adalah bagaimana cabang dan ranting bisa memberikan kegiatan yang menyentuh dan dibutuhkan betul-betul oleh masyarakat. Kita sebagai organisasi perempuan tertua harus lebih peka terhadap kebutuhan perempuan dan anak," ujar drh. Emilis.
Beberapa poin krusial yang disampaikan dalam pidatonya antara lain:
* Kesehatan & Stunting: Angka stunting di Kota Pasuruan masih berada di level *18,7%*, di atas target nasional 14%. Guru-guru TK ABA diharapkan menjadi ujung tombak dalam edukasi pola asuh yang benar kepada orang tua.
* Ekonomi & Kemiskinan: Tingkat kemiskinan yang masih di angka *7%* dan pengangguran terbuka sebesar *4,9%* menuntut peran aktif Majelis Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial.
* Pendidikan: Rendahnya rata-rata lama sekolah (9 tahun) di Kota Pasuruan berkorelasi dengan tingginya kasus narkoba dan perceraian. PDA berencana memperkuat kerja sama dengan LAPAS terkait konseling keluarga dan pendidikan paket bagi warga binaan.

Efisiensi dan Kemandirian Finansial

Menghadapi agenda besar seperti Musyawarah Pimpinan Daerah (Musypimda) dan persiapan Muktamar di tahun 2027, drh. Emilis mengingatkan pentingnya efisiensi keuangan. Ia mendorong setiap majelis untuk mulai berinovasi menciptakan kegiatan yang mampu menghasilkan anggaran secara mandiri (self-funding).

"Kita harus berhati-hati dalam pengelolaan keuangan. Saya berharap tiap majelis bisa mengadakan kegiatan yang menghasilkan, tidak selalu menggantungkan pada bendahara daerah," tambahnya.

---

Hikmah Halalbihalal: Sejarah dan Sikap Inklusif

Acara inti diisi dengan tausiyah hikmah halalbihalal oleh Dr.  Abu Nasir. Beliau memaparkan sejarah panjang tradisi halalbihalal di Indonesia yang sudah tercatat sejak abad ke-18 dalam berbagai manuskrip, hingga diformalkan oleh KH Wahab Chasbullah dan Presiden Soekarno pada tahun 1948.

Dalam ceramahnya, Dr. Abu Nasir  mengajak kader 'Aisyiyah untuk memiliki sikap inklusif.

> "Inklusif berarti menerima kehadiran semua orang dengan tangan terbuka. Jangan merasa paling benar atau paling besar. Libatkan tokoh masyarakat dan warga sekitar tanpa memandang latar belakang agama agar sekolah dan organisasi kita semakin dicintai," pesannya.

Ia juga mengapresiasi kedekatan antara pimpinan 'Aisyiyah dengan Pemerintah Kota Pasuruan yang selama ini terjalin harmonis, layaknya saudara, sehingga kontribusi di bidang pendidikan dan kesehatan anak dapat berjalan maksimal.
Membangun Lingkungan Inklusif dan Bertakwa

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Pasuruan, Abu Nasir, menekankan bahwa esensi dari seluruh instrumen pendidikan—mulai dari PAUD, TK, hingga Perguruan Tinggi—adalah menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi semua peserta didik. Hal ini, menurutnya, hanya bisa dicapai jika para pimpinan dan guru memiliki sikap inklusif.

"Ayo kita hadirkan sikap inklusif sebagai wujud gerakan persyarikatan. Sikap ini adalah ciri orang bertakwa yang memandang semua manusia setara, tanpa membedakan suku, bangsa, maupun latar belakang sosial," ujar Abu Nasir.

Beliau merujuk pada Al-Qur'an Surat Al-Hujurat ayat 13 yang menggunakan sapaan 'Yaa ayyuhannas' (Wahai manusia), sebagai simbol keterbukaan Islam terhadap keragaman. Abu Nasir mengingatkan bahwa perbedaan diciptakan agar manusia saling mengenal (lita’arofu) dan memahami, bukan untuk saling merendahkan.

Meneladani Kesederhanaan Pimpinan

Dalam kesempatan tersebut, Abu Nasir memberikan testimoni mengenai profil Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, sebagai teladan nyata sikap inklusif dan rendah hati. 

> "Pak Haedar seringkali bepergian hanya naik kereta api, duduk di stasiun menunggu jadwal, bahkan membawa oleh-oleh dalam kardus layaknya warga biasa. Beliau tidak menjaga jarak dengan protokol yang kaku. Inilah mentalitas pimpinan Muhammadiyah: merasa hanya 'sedikit ditinggikan' namun tetap setara dengan anggota lainnya," tuturnya.
Refleksi Pasca-Ramadan: Dari *Shiyam* menuju *Shaum* 

Menutup tausiyahnya, Abu Nasir mengajak para hadirin, khususnya para guru TK ABA, untuk meningkatkan kualitas ibadah pasca-Ramadan. Ia membedakan dua level puasa:
1.  *Level Shiyam:* Sekadar menahan lapar dan dahaga (fisik).
2.  *Level Shaum:* Menahan diri dari perkataan yang buruk, ghibah, dan hal-hal yang menyakiti hati orang lain (psikis/ruhani).

"Ciri orang bertakwa adalah mereka yang memproduksi *qaulan karima* (perkataan yang mulia) dan *qaulan layyina* (perkataan yang lembut). Terutama bagi ibu-ibu dan guru, lisan dan tulisan di media sosial harus dijaga agar selalu menyejukkan dan tidak memicu perpecahan," pesan Abu Nasir.

Menyongsong Masa Depan Organisasi

Acara Halalbihalal ini ditutup dengan penguatan komitmen bersama. Di tengah fenomena sosial yang dinamis, warga 'Aisyiyah dan Muhammadiyah Kota Pasuruan diharapkan tetap menjadi rumah yang terbuka (inklusif) bagi siapapun yang ingin belajar dan berkontribusi, serta menjadi motor penggerak solusi atas masalah kemanusiaan di Kota Pasuruan.*)

No comments: