Kondisi APBN per April 2026 disebut sedang berada di zona merah dengan defisit mencapai Rp240,1 triliun atau setara 0,93 persen dari APBN hanya dalam tiga bulan pertama tahun ini. Pengamat ekonomi Hersubeno Arif mengingatkan, jika gaya pengelolaan keuangan negara tidak berubah, defisit berpotensi tembus di atas 3 persen, apalagi ditambah lonjakan harga minyak dunia yang sudah melampaui asumsi APBN sebesar 70 dolar AS per barel.
Dalam kanal YouTube Hersubeno Point, Kamis (16/4/2026), Hersubeno membeberkan sejumlah skenario yang bisa menyelamatkan APBN, salah satunya dengan mengubah skema program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari universal menjadi segmented alias hanya untuk anak yang benar-benar membutuhkan.
“Kalau kita pakai data Kementerian Kesehatan 2025 yang prevalensi stuntingnya hanya 19,8 persen, maka target penerima MBG turun drastis dari 82,9 juta anak menjadi sekitar 16,4 juta anak. Kebutuhan anggaran hanya sekitar Rp66,33 triliun, bukan Rp335 triliun. Artinya, negara bisa menghemat Rp268,67 triliun,” ujar Hersubeno.
Ia menambahkan, angka penghematan tersebut hampir persis menutup defisit Rp240 triliun yang sudah terjadi di kuartal pertama 2026. “Defisit langsung ketutup. Enggak perlu pangkas dana alokasi daerah atau belanja kementerian lain,” tegasnya.
Harga Minyak Jebolkan Asumsi APBN, Subsidi BBM Membengkak
Hersubeno menyoroti tekanan eksternal dari fluktuasi harga minyak dunia yang sangat dipengaruhi kebijakan Presiden AS Donald Trump. Harga minyak sempat menyentuh 120 dolar AS per barel dan terendah sekitar 90 dolar AS—jauh di atas asumsi APBN 70 dolar AS.
“Setiap kenaikan 1 dolar AS per barel, beban subsidi bisa naik sekitar Rp10 triliun. Kalau harga sekarang sudah lebih dari 20 dolar di atas asumsi, maka potensi tambahan subsidi mencapai ratusan triliun. APBN jebol,” jelasnya.
Menteri Keuangan Klaim Aman, Ternyata SAL di BI Tinggal Rp10 Triliun
Hersubeno mengungkap kejanggalan pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Awalnya, Purbaya meyakinkan posisi Saldo Anggaran Lebih (SAL) di level aman Rp280 triliun dan meyakini defisit hanya akan berkisar 2,89–2,9 persen.
Namun selang sebulan, Purbaya mengakui bahwa dana pemerintah di Bank Indonesia hanya tinggal Rp10 triliun. Sebab, dari total Rp320 triliun, Rp200 triliun telah dipindahkan ke perbankan Himbara dan Rp100 triliun lainnya juga dialihkan.
“Padahal sebelumnya dia bilang ‘saya jago, enggak mungkin defisit tembus 3 persen’. Sekarang sakit kepala, minum puyer tiga kali sehari,” sindir Hersubeno.
Efisiensi Ala Prabowo: Hemat Rp8 Triliun, Tapi MBG Jadi Big Tabu
Presiden Prabowo Subianto disebut menolak usulan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto untuk menerbitkan Perpu agar defisit bisa melampaui 3 persen. Prabowo memilih efisiensi belanja operasional dan peningkatan penerimaan negara, serta mengklaim telah menghemat Rp8 triliun dari potensi korupsi.
Namun, menurut Hersubeno, pilihan paling logis adalah memangkas anggaran MBG yang super jumbo. “Tapi baik Erlangga maupun Purbaya enggak berani otak-atik MBG karena itu janji kampanye dan big tabu bagi Prabowo,” katanya.
Kabar Terbaru: MBG Hanya untuk Anak Kurang Mampu, Potensi Hemat Rp268 Triliun
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nani S. D. mengumumkan bahwa MBG ke depan hanya difokuskan pada anak yang benar-benar membutuhkan perbaikan gizi dari keluarga kurang mampu, termasuk pesantren kecil, anak jalanan, ibu hamil, dan balita. Program bersifat sukarela, tidak dipaksakan bagi siswa mampu.
“Kalau ini benar dan dijalankan serius, Pak Prabowo sudah insaf. MBG bukan harga mati lagi. Ini kabar baik. Pemerintah bisa punya dana segar Rp268 triliun untuk menambal defisit tanpa membatalkan program,” ujar Hersubeno.
Ia menegaskan, mengubah MBG dari universal menjadi segmented bukan bentuk ingkar janji, melainkan kejujuran politik dan rasionalitas ekonomi. “Lebih baik memberi gizi maksimal kepada 16,4 juta anak yang benar-benar butuh daripada membagi rata ke yang sudah mampu, sementara APBN kita berdarah-darah,” pungkasnya. (*)
No comments:
Post a Comment