SURABAYA – Bayang-bayang fenomena iklim ekstrem "El Nino Godzilla" mulai menghantui sektor pertanian Indonesia pada pertengahan tahun 2026. Dalam sebuah dialog interaktif di RRI Pro 1 Surabaya pada Selasa (14/4), para pakar memperingatkan bahwa meski saat ini sebagian wilayah masih mengalami hujan, ancaman kekeringan hebat berada tepat di depan mata.
Peringatan Dini: Bukan Sekadar Prediksi
Ketua Pokja Prediksi Bulanan dan Musiman BMKG Pusat, **Dr. Supari**, menegaskan bahwa indikator suhu permukaan laut di Samudera Pasifik menunjukkan tren pemanasan yang signifikan. Walaupun kondisi saat ini masih berada pada fase netral menuju peralihan, El Nino diprediksi akan mulai menguat pada Mei hingga Juni 2026.
"Kami khawatir kondisinya akan sangat kering. Jangan sampai masyarakat lengah karena melihat sekarang masih sering hujan lebat. Ini justru waktu yang krusial untuk memanen air hujan sebelum kemarau tiba," ujar Dr. Supari. Ia juga menambahkan bahwa krisis iklim global berpotensi membuat intensitas El Nino di masa depan menjadi lebih sering dan lebih kuat.
Mitigasi: Melampaui Infrastruktur Fisik
Menanggapi ancaman tersebut, **Gunawan** dari *Steering Committee* Komite Nasional Keluarga, menyoroti pentingnya langkah mitigasi yang konkret di sektor hulu. Menurutnya, pemerintah tidak boleh hanya mengandalkan pembangunan fisik seperti bendungan atau embung, tetapi juga harus memperhatikan aspek perlindungan petani melalui asuransi pertanian dan pemilihan benih yang adaptif.
> "Strategi kita harus integratif—menghubungkan sektor pertanian, perikanan, dan peternakan. Kita adalah bangsa maritim yang seharusnya memiliki memori kolektif dan kearifan lokal dalam mengelola air, seperti sejarah Selokan Mataram di Yogyakarta," papar Gunawan.
>
Ia menekankan tiga pilar utama ketahanan pangan yang harus dijaga selama El Nino:
1. *Ketersediaan:* Adaptasi pola tanam dan infrastruktur air.
2. *Distribusi:* Menjamin kelancaran transportasi pangan meski terjadi hambatan cuaca.
3. *Konsumsi:* Mendorong penganekaragaman konsumsi agar tidak bergantung pada satu jenis komoditas.
Tantangan Tata Kelola Air
Dialog ini juga menangkap keresahan masyarakat. Seorang pendengar menekankan bahwa Indonesia sebenarnya dikaruniai sumber daya air yang melimpah dengan ribuan sungai dan curah hujan tinggi. Masalah utamanya seringkali bukan pada ketersediaan alam, melainkan pada tata kelola dan alih fungsi lahan yang merusak ekosistem penyimpanan air alami.
Sektor hortikultura, seperti cabai dan bawang, dipetakan sebagai komoditas yang paling rentan terdampak. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah daerah, akademisi, dan kelembagaan tani mandiri menjadi kunci agar peringatan dini dari BMKG tidak berakhir sebagai data yang sia-sia di atas meja.
Menuju Pertanian Berkelanjutan
Menghadapi "Godzilla" iklim ini, Gunawan mengajak pemerintah untuk lebih menghargai kemampuan petani dalam menciptakan benih lokal yang tahan kering. "Pemberdayaan tidak boleh bersifat tunggal dari atas ke bawah. Pengalaman petani dalam bertahan secara mandiri harus didukung oleh kebijakan negara," pungkasnya.
Jawa Timur, sebagai lumbung pangan nasional, kini memikul beban berat untuk membuktikan bahwa pemetaan risiko dan strategi mitigasi yang disusun mampu menjaga stabilitas stok pangan nasional di tengah cekaman panas yang ekstrem. (*)
Penulis: Firnas Muttaqin
Editor: Redaksi MON
No comments:
Post a Comment