Thursday, October 23, 2025

Memilah Hukum Qathi dan Ijtihadi, Ustadz Umar Serukan Integrasi Sains-Al-Qur'an


SURABAYA – Ustadz Umar Efendi dalam pengajiannya di Masjid At Taqwa pada Kamis (23/10/2025) menyerukan jamaah untuk memahami perbedaan antara hukum Islam yang bersifat mutlak (qathi) dan yang dapat disesuaikan (ijtihadi), serta menekankan pentingnya menyelaraskan ilmu pengetahuan (sains) dengan Al-Qur'an.

Kewajiban Mutlak: Jilbab dan Shalat Wajib

Ustadz Umar Efendi mengawali ceramahnya dengan menepis logika yang kerap digunakan untuk meremehkan kewajiban syariat. Ia menegaskan bahwa jalan menuju surga memang banyak, namun terdapat perintah-perintah yang sudah dinaskan (qathi) oleh Allah, yang tidak boleh diubah.

"Tentang busana Muslim di Surat Anfal ayat 31 itu sudah wajib, sama seperti wajibnya salat lima waktu. Kalau sudah dipatenkan oleh Allah, itu enggak boleh diubah," tegas Ustadz Umar.

Ia mencontohkan, model pakaian boleh berbeda (tidak harus jubah), asalkan memenuhi syarat syariat: tidak transparan, tidak ketat, dan tidak membentuk tubuh. Ia juga meluruskan pandangan yang menganggap jilbab sebagai budaya Arab. Menurutnya, jilbab adalah perintah Allah yang disikapi oleh masyarakat Arab kala itu dengan menggunakan pakaian luarnya untuk menutup diri, bukan budaya semata.

Ruang Ijtihad: Jadwal Shalat dan Kompilasi Hukum Islam

Dalam konteks hukum yang fleksibel, Ustadz Umar menjelaskan bahwa aturan shalat lima waktu adalah qathi (pakem), namun waktu pelaksanaannya dapat disepakati sesuai keadaan dan lingkungan, seperti di sekolah atau kantor, asalkan masih dalam rentang waktu yang ditentukan.

Ia kemudian menyinggung Kompilasi Hukum Islam (KHI) tahun 1974, yang ia sebut sebagai contoh memodifikasi hukum Allah yang tidak qathi. Modifikasi penting terjadi dalam hal warisan, di mana KHI memungkinkan harta bersama dibagi dua terlebih dahulu sebelum dibagi waris, memberikan hak separuh harta kepada istri atas kontribusinya dalam rumah tangga.

"Itu namanya memodifikasi hukum-hukum Allah dalam agama Islam itu," jelasnya, merujuk pada prinsip ra'yu (akal) dalam ijtihad, seperti yang dicontohkan Mu'adz bin Jabal yang disetujui Rasulullah.

Integrasi Sains dan Al-Qur'an

Ustadz Umar sangat menyayangkan kecenderungan saat ini yang seakan memisahkan ilmu sains dan Al-Qur'an. Ia menekankan bahwa keduanya harus terpadu, sejalan dengan doa "fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah."

Ia mengutip kisah Ibnu Sina, tokoh muslim abad ke-9 yang hafal Al-Qur'an di usia muda, sekaligus menguasai ilmu kedokteran, psikologi, filsafat, hingga astronomi. "Ketika sains dan Al-Qur'an itu dipadukan, disampaikan pada khalayak ramai... akan terjadi hal yang sangat luar biasa," tuturnya, seraya mengimbau orang tua untuk memaksa anak-anak mereka belajar Al-Qur'an sejak dini agar kecerdasan mereka terasah.

Pentingnya Ikhlas dan Jalan Kebaikan

Ustadz Umar juga membahas habluminannas (hubungan dengan sesama manusia) yang luas, mencakup sedekah, infak, serta menyebarkan ilmu (amar ma'ruf nahi mungkar). Ia mengingatkan bahwa amal seseorang harus berlandaskan hati yang ikhlas.

"Jadi sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah," ucapnya mengutip sebuah ayat.

Ia mencontohkan kisah ahli syair yang mampu berdakwah melalui musik dan puisi (seperti Rhoma Irama), maupun kisah sahabat yang tidak mampu berbicara tetapi memiliki keistimewaan siddiq (jujur) dan ketaatan luar biasa. Ustadz Umar menyimpulkan, "Jalan kebaikan itu sangat banyak," dan dapat dilakukan melalui lisan, harta, maupun sikap istiqomah. (*)

Jatim Perkuat Integritas Jelang Usia Ke-80: Inspektorat Amankan Rp3,4 Miliar Kerugian Negara dan Cetak "Patriot Muda" Antikorupsi

Surabaya, 23 Oktober 2025– Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) terus menguatkan fondasi integritasnya melalui sinergi pencegahan korupsi yang masif, melibatkan edukasi, pengawasan, hingga pelibatan generasi muda. Dalam dialog interaktif di Radio Suara Surabaya, Kamis (23/10), terungkap bahwa fokus utama adalah membangun sistem sosial dan budaya antikorupsi, bukan hanya aspek hukum.

*Sinergi Edukasi Hingga Sertifikasi*

Forum Penyuluh Antikorupsi Jawa Timur (Paksi) menjadi ujung tombak dalam upaya edukasi ini. Perwakilan Paksi menjelaskan bahwa sasaran utama adalah menumbuhkan kesadaran akan bahaya korupsi dan pentingnya integritas, serta sosialisasi tata cara pelaporan penyimpangan melalui *Whistle Blowing System* (WBS) dan Gratifikasi Online (GOL) KPK.

Sinergi Paksi telah terjalin dengan Inspektorat Provinsi Jatim (yang juga menjadi sekretariat Paksi), Dinas Pendidikan, BPSDM, dan perguruan tinggi. "Kami mengadakan pelatihan calon penyuluh antikorupsi dan sertifikasi penyuluh antikorupsi," ungkap perwakilan Paksi, mengapresiasi langkah Pemprov Jatim yang serius menciptakan "motor-motor penggerak integritas" di seluruh organisasi perangkat daerah (OPD).

Inovasi Pengawasan: Film dan Patriot Integritas Muda

Inspektorat Provinsi Jawa Timur menunjukkan inovasi dalam pengawasan internal. Kepala Inspektorat, Syamsul Huda (nama disesuaikan dari transkrip), menyebutkan program inovatif seperti pembuatan film edukasi **"Peran Perempuan dalam Pencegahan Tindakan Korupsi"** di tahun sebelumnya, yang didasarkan pada temuan bahwa istri seringkali berpengaruh pada kasus korupsi dana desa.

Yang terbaru, bertepatan dengan momen Sumpah Pemuda, Inspektorat mencanangkan **Patriot Integritas Muda (PIM)**. Program ini akan diikuti 400 pemuda di 38 kabupaten/kota, dan 40 orang terpilih akan dididik dan disertifikasi di KPK untuk menjadi agen sosialisasi antikorupsi.

*Kecepatan Penanganan dan Jaminan Pelapor*

Inspektorat juga telah menerima dan menindaklanjuti secara cepat 67 kasus pengaduan sepanjang Januari hingga September tahun ini. Data menunjukkan:

* **Penerimaan Kasus:** 67 kasus pengaduan masyarakat dan limpahan dari Kepolisian (21) serta Kejaksaan (15).
* **Pengembalian Kerugian:** Nilai potensi kerugian daerah yang berhasil ditarik dan disetor ke kas negara mencapai sekitar **Rp3,4 miliar** dari total potensi Rp3,6 miliar.
* **Sanksi Disiplin:** Proses sanksi bagi ASN yang melanggar menjadi wewenang Badan Kepegawaian Daerah (BKD).

Mengenai keamanan pelapor, ditegaskan bahwa kerahasiaan data dijamin sesuai **Peraturan Gubernur (Pergub) 65 Tahun 2017** tentang WBS. "Kerahasiaan pengadu kita jamin di situ," ujar perwakilan Inspektorat. Sayangnya, meskipun Pergub tersebut mencantumkan adanya *reward* bagi pelapor, hal tersebut masih belum direalisasikan.

*Peran Pelaku Usaha dan Respon SPI KPK*

Kepala Biro Pengadaan Barang dan Jasa (BDPBJ), Setia Teguh (nama disesuaikan dari transkrip), mendorong pelaku usaha untuk berpartisipasi aktif dengan memanfaatkan keterbukaan informasi pengadaan, mengikuti proses secara jujur, serta menjaga kualitas pekerjaan dan ketepatan waktu penyerahan.

Terkait Survei Penilaian Integritas (SPI) KPK, yang sering diterima vendor, Inspektorat mengimbau agar survei diisi apa adanya. "SPI KPK itu kan untuk melihat nilai integritasnya di institusi Pemprov Jatim... kalau misalkan bisa diisi, kita bisa tahu, bisa memetakan mana yang menjadi catatan penting," jelas Teguh, menekankan bahwa SPI adalah potret penting untuk perbaikan.

*Membentengi Generasi Muda dengan Integritas*

Upaya pencegahan juga difokuskan pada generasi muda, yang akan menjadi pemimpin di masa depan. Selain PIM, ada program **Duta Anti Korupsi** untuk siswa SMP (di Nganjuk dan Mojokerto) dan **Duta Pelajar Antikorupsi (DPAK)** untuk level SMA/SMK yang sudah berjalan sejak 2022.

Para DPAK ini, yang jumlah pendaftarnya mencapai lebih dari 3.000 di tahun 2025, dibekali sembilan nilai integritas (Jujur, Mandiri, Tanggung Jawab, Berani, Sederhana, Peduli, Disiplin, Adil, Kerja Keras) dan menjadi agen yang mensosialisasikan pentingnya integritas, termasuk menjauhi perilaku menyimpang di sekolah.

Dialog diakhiri dengan pesan bahwa integritas bukan sekadar slogan, melainkan budaya kerja dan gaya hidup yang harus ditumbuhkan. "Dengan semangat hari jadi ke-80, mari bersama-sama kita menjaga Jawa Timur sebagai provinsi yang bersih, tangguh, dan berintegritas menuju masa depan yang maju dan berkelanjutan." (*)


Resmikan Renovasi, Jadikan Masjid Al-Ikhlas Pusat Peradaban Umat


Pasuruan – Rangkaian acara doa dan sholawat bersama menandai peluncuran resmi (launching) renovasi Masjid Al-Ikhlas di Kelurahan Bukir, Kecamatan Gadingrejo, pada Rabu malam 22/10/2025. Acara yang dihadiri oleh perwakilan Kementerian Agama, ormas Islam, takmir masjid, dan masyarakat ini menekankan tujuan pembangunan bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan umat.

Dalam sambutannya, Ketua Panitia Pelaksana Renovasi, Suedi,  menjelaskan bahwa Masjid Al-Ikhlas telah berdiri selama kurang lebih 45 tahun dan merupakan salah satu masjid tertua di kawasan tersebut. "Bangunannya sudah tua, untuk itu kami mohon doa dan restu dari seluruh jamaah agar proses renovasi dapat berjalan lancar," ujarnya.

*Makna Strategis Masjid di Era Modern*

Perwakilan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Pasuruan, Anang Abdul Malik, dalam pidatonya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh panitia dan jamaah yang telah bersatu padu mewujudkan rencana renovasi ini.

Ia menegaskan bahwa masjid memiliki makna strategis yang jauh melampaui fungsi utamanya sebagai tempat shalat. "Masjid adalah tempat pusat dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan umat. Pembangunan masjid ini adalah amal jariyah yang pahalanya mengalir terus menerus," katanya, mengutip sabda Rasulullah SAW.

Lebih lanjut, ia berharap renovasi ini menjadi simbol semangat pembaharuan dan persaudaraan (ukhuwah). "Dari sini kita bangun komitmen bersama untuk memakmurkan umat. Masjid ini harus menjadi sentra pembinaan akidah, ibadah, akhlak, dan sosial," pesannya.

*Harapan: Jadi Penanda dan Tempat Istirahat bagi Musafir*

Harapan serupa disampaikan oleh Bapak Arief Hernanto, selaku Lurah Bukir. Ia mengungkapkan bahwa lokasi Masjid Al-Ikhlas yang strategis di tepi jalan provinsi harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

"Awalnya saya tidak tahu ada masjid di sini. Saya berharap setelah renovasi, masjid ini menjadi penanda yang jelas dan bermanfaat bagi masyarakat, khususnya musafir yang melintas di jalur provinsi ini untuk beristirahat atau melaksanakan shalat," ujar Arief.

Ia juga menginformasikan bahwa di wilayah Kelurahan Bukir terdapat sekitar lima masjid, dan Masjid Al-Ikhlas adalah yang paling terlihat dari jalan raya.

Seruan Ajakan Amar Ma'ruf Nahi Mungkar

Dalam ceramah di acara ini, Dr Rasyidi, Kepala Kementerian Agama Kota Pasuruan mengingatkan kembali Al Quran surah Ali Imron 104 yang intinya menyeru kepada umat untuk saling mengajak dalam kebenaran dan kebaikan, serta mencegah dari kemungkaran. Kelompok yang menjalankan fungsi amar ma'ruf nahi munkar ini, menurut ayat tersebut, digolongkan sebagai orang-orang yang beruntung.

"Kita sepakat bahwa ayat ini turun sudah ribuan tahun yang lalu. Maka, ketika kita sampaikan di Indonesia, tentu ada role model-nya," ujar pembicara, seraya meminta maaf jika terdapat kekeliruan dalam pemaparannya.

Dua tokoh yang diangkat sebagai contoh teladan tersebut adalah pendiri Muhammadiyah, Kiai Ahmad Dahlan, dan pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Kiai Hasyim Asy'ari. Keduanya disebutkan memiliki hubungan persaudaraan dan sempat belajar dari guru yang sama, yakni Sayyid Kona Wali Bangkalan, serta sama-sama pernah menimba ilmu kepada Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi selama di Mekah.

"Kita cari persamaannya, jangan cari perbedaannya. Kalau kita cari perbedaan, tidak akan pernah ketemu," tegasnya.

Meski memiliki akar ilmu yang sama, kedua tokoh tersebut kemudian mengembangkan segmen perjuangan yang berbeda. Kiai Ahmad Dahlan disebut lebih terpengaruh pemikiran modernis Muhammad Abduh dan Rashid Rida, sehingga fokus pada pendirian sekolah-sekolah formal. Sementara Kiai Hasyim Asy'ari lebih memilih untuk memperdalam ilmu hadits dan fikih, serta berkonsentrasi pada pengembangan pondok pesantren.

"Yang satu lebih memilih formalitas (sekolah), yang satu lebih memilih Pondok Pesantren. Walaupun tujuannya sama: sama-sama untuk mendidik dan memerdekakan bangsa Indonesia," jelasnya.

Rasyidi berharap kehadiran Masjid Al-Ikhlas di Pasuruan dapat menjadi jembatan untuk mempersatukan umat dan mengedepankan kebersamaan. Dia mengajak semua pihak untuk tidak lagi mempertentangkan hal-hal kecil dan fokus pada kontribusi bersama untuk bangsa dan negara.

Melalui tausiyah ini Rasyidi memberi penekanan pada esensi perjuangan kedua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan NU, yang meski berbeda pendekatan, memiliki tujuan mulia yang sama: mencerdaskan dan membebaskan bangsa melalui pendidikan.

*Ditutup dengan Peresmian Simbolis*

Acara yang berlangsung khidmat tersebut ditutup dengan prosesi peresmian dan penandatanganan simbolis sebagai tanda dimulainya proyek renovasi Masjid Al-Ikhlas. Seluruh jamaah berdoa bersama agar pembangunan dapat berjalan lancar, tanpa hambatan, dan hasilnya dapat menjadi rumah peradaban yang mencerahkan serta memancarkan kebaikan bagi seluruh masyarakat.

Kegiatan ini juga turut memperingati Hari Santri Nasional, menyematkan pesan tentang peran penting para santri dan umat Islam dalam membangun negeri. (*)

Firnas Muttaqin

Tuesday, October 21, 2025

Transportasi Umum yang Berkelanjutan: Antara Antusiasme Masyarakat dan Tantangan Menjaga Fasilitas Publik


Dukungan dan kepedulian masyarakat menjadi kunci utama keberlanjutan fasilitas publik. Tanpa rasa memiliki dari pengguna, fasilitas tersebut tidak akan dapat bertahan dalam jangka panjang. Hal ini disampaikan oleh Mulyono, SH, Kepala Seksi Prasarana Angkutan Jalan Dinas Perhuhungan Provinsi Jatim dalam dialog interaktif di radio Suara Surabaya mengenai layanan Trans Jatim, Selasa sore (21/10/2025).

"Kita harapkan masyarakat bisa menjaga fasilitas yang ada. Beberapa waktu yang lalu, kami menemukan kasus pencurian perangkat Wi-Fi di halte oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Perilaku seperti ini sangat disayangkan karena fasilitas publik adalah milik bersama. Manfaatnya akan optimal hanya jika masyarakat turut serta menjaganya," ujarnya.

Ia menambahkan, setiap umpan balik dari masyarakat, sekecil apapun, sangat berharga bagi perbaikan dan keberlangsungan layanan.

*Koridor Favorit dan Tingkat Okupansi*

Ditanya tentang koridor dengan peminat tertinggi, Koridor 1 (Porong - Purabaya - Gresik) menempati posisi teratas. Pada hari biasa (weekday), koridor ini mengangkut rata-rata 62.000 hingga 63.000 penumpang. Rute yang melintasi kawasan industri dan pusat ekonomi ini terbukti menjadi pilihan favorit bagi para pekerja, terlihat dari banyaknya penumpang yang menunggu di halte-halte, khususnya di area Gersik.

*Suara dari Depan: Pengalaman Seorang Pengemudi*

Irwan, salah seorang pengemudi Trans Jatim yang bergabung sejak Juni dan bertugas di Koridor 6 (Krian - Porong), membagikan pengalamannya melayani masyarakat.

"Pengalamannya sangat berkesan. Setiap hari kami berinteraksi dengan berbagai lapisan masyarakat, dari pelajar, pekerja, hingga lanjut usia (lansia). Rasanya bangga bisa menjadi bagian dari pelayanan publik yang membantu orang beraktivitas dengan aman dan nyaman," tutur Irwan, yang sebelumnya juga merupakan pengemudi angkutan umum non-formal.

Bagi Irwan, perubahan positif juga terasa bagi masyarakat sekitar. "Saya melihat usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di sepanjang koridor bisa berkembang karena meningkatnya mobilitas orang. Ini bisa menambah penghasilan mereka," ujarnya.

Harapannya untuk ke depan sederhana: agar layanan transportasi publik ini bisa menjangkau wilayah yang lebih luas di Jawa Timur.

*Rekrutmen dan Sistem Pengawasan yang Ketat*

Untuk memastikan kualitas layanan, proses rekrutmen dan evaluasi pengemudi dilakukan dengan ketat. Operator bekerja sama dengan pihak ketiga untuk proses seleksi, diikuti dengan pelatihan intensif sebelum pengemudi ditugaskan.

"Evaluasi dilakukan setiap tiga bulan. Kami memiliki kanal aduan yang terhubung dengan aplikasi Trans Jatim. Setiap laporan dari penumpang, misalnya mengenai sikap pengemudi yang kurang baik, menjadi bahan refleksi dan perbaikan. Prinsipnya, dalam kondisi apapun, masyarakat berhak mendapat layanan terbaik," jelas Mulyono.

Masyarakat dapat melaporkan pengalaman mereka, seperti pengemudi yang ugal-ugalan, langsung melalui aplikasi resmi Trans Jatim.

*Antusiasme Meningkat dan Tantangan Keberlanjutan*

Antusiasme masyarakat terhadap Trans Jatim tercatat semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini dibuktikan dengan penambahan armada secara bertahap untuk memenuhi permintaan yang melonjak.

"Sebagai contoh, di satu koridor awalnya kami hanya menyediakan 20 bus. Karena permintaan tinggi, kami tambah 10 menjadi 30. Ternyata masih meningkat, akhirnya kami tambah 7 bus lagi menjadi 37 unit. Ini menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat akan transportasi umum yang andal," paparnya.

Meski demikian, tantangan anggaran dan operasional tetap ada. Saat ini, layanan beroperasi dari pukul 05.00 pagi hingga 21.00 malam, disesuaikan dengan aktivitas masyarakat.

*Pesan untuk Generasi Muda: Jaga Aset Bersama*

Dialog ditutup dengan pesan penting bagi generasi muda, calon penerus pembangunan.

"Menjaga infrastruktur seringkali lebih sulit daripada membangunnya. Yang paling penting adalah *kesadaran publik dan rasa memiliki*. Infrastruktur adalah aset bangsa, hasil kerja keras generasi sebelumnya yang kita nikmati sekarang, dan harus kita wariskan untuk generasi mendatang," pesan salah satu narasumber yang lain.

Selain itu, generasi muda didorong untuk terus mengembangkan kompetensi dan berinovasi dalam teknologi guna mewujudkan infrastruktur yang lebih baik di masa depan.

Sementara itu, dari sisi pengemudi, Irwan berharap layanan ini dapat mengajarkan kedisiplinan. "Kami mengajak penumpang, terutama generasi muda, untuk membiasakan diri disiplin, seperti naik dan turun di halte yang telah ditentukan. Kebiasaan kecil ini akan membentuk karakter yang baik."

Dengan komitmen dari pengelola, dedikasi para pekerja di lapangan, serta dukungan penuh dari masyarakat, harapannya Trans Jatim tidak hanya menjadi alat transportasi, tetapi juga kebanggaan bersama yang berkelanjutan bagi Jawa Timur. (*)

Laporan : Firnas Muttaqin

Tayang disini:
https://mediaonlinenasional.com/transportasi-umum-yang-berkelanjutan-antara-antusiasme-masyarakat-dan-tantangan-menjaga-fasilitas-publik/

Semarak Hari Santri, SPEAM Pasuruan Bekali Santri dengan Literasi Digital


PASURUAN – Menyambut Hari Santri 2025, Pondok Pesantren SPEAM (Sekolah Pesantren Entrepreneur Al Ma'un Muhammadiyah) Pasuruan mengambil inisiatif untuk membekali para santri dengan kecakapan era modern melalui "Pelatihan Santri Digital". Acara yang berlangsung pada Selasa, 21 Oktober 2025, di Pondok SPEAM Putri dan Putra ini digelar atas kolaborasi Media PasMu dengan SPEAM.

Pelatihan ini lahir dari keprihatinan terhadap pesatnya perkembangan teknologi yang telah diakses oleh Generasi Z dan Alpha. Meski pintar mengutak-atik internet, *artificial intelligence* (AI), dan media sosial, tak jarang pemanfaatannya belum tepat guna.

“Kedatangan kami ke sini dalam rangka ingin meluruskan kembali. Barangkali teman-teman belum bisa memanfaatkan media sosial, AI, ataupun internet dengan baik dan bijak,” ujar Wildan dari PasMu dalam sambutannya.

*Bedah Konten Langsung dan Strategi SEO*

Materi pelatihan disampaikan secara interaktif oleh Yogi Arfan (Mas Yogi), Pemimpin Redaksi Pasmu. Alih-alih memberikan materi presentasi yang kaku, Mas Yogi memilih untuk langsung membedah konten media sosial milik SPEAM.

“Setelah saya cek media sosialnya SPEAM, kayaknya gak usah saya buatkan materi. Jadi kita nanti langsung membedah. Membedah konten-kontennya SPEAM apa yang menjadi catatan saya, apa yang harus ditingkatkan,” jelasnya.

Ia pun memperkenalkan konsep *Search Engine Optimizer* (SEO) dengan bahasa yang mudah dicerna. “Jadi ketika kita mengoptimasi kata kunci terhadap sebuah web atau artikel, artikel tersebut akan dibaca oleh mesin pencari untuk menduduki halaman pertama,” terangnya.

Dia mencontohkan, ketika seseorang mencari “organisasi Islam terbesar di Indonesia” di Google, dan yang muncul di halaman pertama adalah artikel tentang Muhammadiyah, itulah bukti keberhasilan optimasi kata kunci. Strategi ini, lanjutnya, bisa diterapkan untuk mempromosikan pesantren dengan kata kunci seperti **“pondok pesantren terbaik di Pasuruan”**, baik di judul maupun di paragraf pertama konten.

*Kunci Konten Menarik dan Eksplorasi Kecerdasan Buatan*

Dalam sesi bedah konten, Mas Yogi memberikan kiat menciptakan konten yang *engaging*. Menurutnya, detik pertama sebuah video adalah kunci penentu.

“*Hook* (pengait) pertama itu pembuka. Kalau *hook* pertama itu menarik, pasti yang nonton akan tetap nonton. Kalau tidak menarik, pasti kebanyakan *skip*,” tuturnya. Ia memuji salah satu konten SPEAM yang langsung *straight to the point* dan secara visual memanjakan mata.

Pelatihan kemudian berlanjut dengan pengenalan *Artificial Intelligence* (AI). Peserta dikenalkan pada empat AI populer: **ChatGPT, Google Gemini, Meta AI, dan model dari China seperti “Gipsy”** (mungkin merujuk pada DeepSeek).

Melalui demonstrasi langsung, perbedaan karakteristik masing-masing AI ditunjukkan. Misalnya, saat diminta membuat artikel tentang “pondok pesantren terbaik di Pasuruan” dalam Bahasa Jawa, respon setiap AI berbeda. Meta AI cenderung memberi daftar tanpa sumber jelas, ChatGPT langsung memahami konteks dan menyusun paragraf pembuka dengan kata kunci, sementara Gemini dan “Gipsy” fokus pada optimasi mesin pencari.

“Jadi, AI ini bisa menjadi alat bantu, bukan pengganti. Kalian punya ide cerita, tapi bingung menuliskannya? Keluarkan idenya ke AI, biar diolah, lalu kalian yang menyempurnakannya,” pungkas Mas Yogi, mendorong santri untuk memanfaatkan AI sebagai mitra kreatif.

Pelatihan ini tidak hanya berhasil membekali santri dengan teknik digital praktis seperti SEO dan pembuatan konten, tetapi juga membuka wawasan mereka tentang potensi dan batasan teknologi AI. Dengan bekal ini, para santri SPEAM diharapkan tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga kreator konten yang cerdas dan bertanggung jawab, siap menyemarakkan Hari Santri dengan karya di dunia digital. (*)

Tayang disini:
https://mediaonlinenasional.com/semarak-hari-santri-speam-pasuruan-bekali-santri-dengan-literasi-digital/

Monday, October 20, 2025

Ombudsman Jatim Bakal Audit Penyaluran Bansos, Soroti Potensi Maladministrasi


SURABAYA – Ombudsman Perwakilan Jawa Timur akan memeriksa proses penyaluran bantuan sosial (bansos) oleh Kementerian Sosial. Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan apakah mekanisme penentuan penerima bansos telah sesuai dengan prosedur yang berlaku.

"Kami akan meminta klarifikasi dan penjelasan lengkap dari Kementerian Sosial mengenai alur penentuan warga yang menerima bansos. Secara aturan, prosesnya melalui pemeringkatan di tingkat desa/kelurahan," ujar Agus Muttaqin Kepala perwakilan Ombudsman Jatim dalam dialog interaktif di radio Suara Surabaya, Selasa sore (20/10/2025).

Selain meminta klarifikasi ke pemerintah pusat, Ombudsman juga akan turun langsung ke lapangan untuk mengecek kesesuaian data. Pemeriksaan akan memverifikasi apakah calon penerima memenuhi kriteria yang ditetapkan, seperti kondisi rumah dan daya listrik.

"Contohnya, salah satu kriterianya adalah lantai rumah tidak berkeramik dan memiliki daya listrik 450 watt. Jika dalam pemeriksaan ditemukan ketidaksesuaian, kami akan menduga kuat terjadi maladministrasi," tegasnya.

*Ombudsman: Penyelesaian Lebih Cepat daripada Proses Hukum*

Lembaga ini menegaskan bahwa fungsi Ombudsman adalah melakukan pendekatan korektif dan merangkul instansi terkait untuk memperbaiki tata kelola pelayanan publik. Pendekatan ini dianggap lebih cepat dibandingkan proses hukum yang melibatkan Aparat Penegak Hukum (APH).

"Ilustrasinya, jika ada laporan pungli di sekolah, Ombudsman akan membenahi tata administrasinya. Berbeda dengan APH yang bisa melakukan OTT (operasi tangkap tangan) dan prosesnya berujung pidana. Sebelum viral, sebaiknya diselesaikan lewat Ombudsman," jelasnya.

Ditekankan pula bahwa maladministrasi tidak hanya terjadi di bansos, tetapi juga dalam penegakan hukum. Ombudsman memberi contoh jika ada buron yang diketahui keberadaannya tetapi tidak ditangkap, itu bisa jadi indikasi penyalahgunaan kewenangan oleh aparat.

"Kami akan meminta penjelasan mengapa tidak dilakukan penangkapan. Jika tidak ada tindakan, kami akan eskalasi ke atasan hingga level Kapolda atau Kapolri," ucapnya.

*Minta Pemda Rutin Gelar Public Hearing*

Untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik, Ombudsman mendorong Pemerintah Daerah (Pemda) untuk secara rutin menggelar forum public hearing atau konsultasi publik.

"Melalui forum ini, standar pelayanan bisa diperbarui. Masyarakat bisa memberikan masukan mengenai persyaratan, prosedur, durasi, hingga tata cara pengaduan," paparnya.

Forum ini, lanjutnya, penting untuk menyesuaikan layanan dengan kebutuhan riil masyarakat. Dicontohkan, di suatu kawasan pesisir Jawa Timur, masyarakat meminta jam layanan dimulai pukul 11.00 WIB karena pagi hari mereka baru pulang melaut.

"Penyelenggara layanan harus memahami konteks kebutuhan masyarakat. Tantangan terbesar saat ini bukan sekadar kepuasan, tetapi membangun kepercayaan publik," tandasnya.

Ombudsman juga mengakui tantangan di era media sosial, di mana masyarakat seringkali lebih memilih mengadu ke platform digital daripada melalui saluran resmi. Untuk itu, Ombudsman membuka diri untuk berkolaborasi dengan berbagai media, termasuk radio, untuk mempermudah akses pengaduan masyarakat. (*)

Tayang disini:
https://mediaonlinenasional.com/ombudsman-jatim-bakal-audit-penyaluran-bansos-soroti-potensi-maladministrasi/


---

Sunday, October 19, 2025

Meraih Sehat yang Utuh: Mengaktifkan "Hormon Bahagia" sebagai Ikhtiar Iman


Pada Ahad pagi (19/10/2025) yang tenang di Masjid Darul Arqom, Kota Pasuruan, jamaah disuguhkan sebuah ceramah kesehatan yang tidak biasa. Dr. Eko S. Machfur, seorang praktisi kesehatan yang dikenal dengan fokusnya pada inovasi pelayanan, membawakan topik krusial: *“Meraih Sehat dengan Bahagia”.* Ceramah ini sukses menjembatani perspektif medis modern dengan nilai-nilai spiritual dalam Islam, menegaskan bahwa sehat sejati adalah sebuah keutuhan jiwa dan raga—sebuah ikhtiar iman yang perlu disadari setiap Muslim.

*Melampaui Definisi Fisik: Dari Shiha Menuju ’Afiat*

Dr. Eko memulai dengan menggarisbawahi bahwa konsep sehat dalam Islam melampaui makna sempit shiha (kondisi fisik bebas penyakit). Ia memperkenalkan konsep yang lebih menyeluruh, yaitu ’afiat, yang berarti keselamatan, perlindungan dari segala penyakit, bencana, dan musibah, baik di dunia maupun di akhirat.

Pandangan ini menempatkan upaya menjaga kesehatan sebagai bagian integral dari kewajiban seorang Muslim—sebuah ikhtiar yang sejalan dengan doa-doa harian yang meminta keselamatan badan, pendengaran, dan penglihatan.
Pilar-pilar kesehatan fisik yang ia sampaikan bersifat praktis dan fundamental: gizi seimbang, aktivitas fisik teratur, istirahat yang cukup, pengelolaan stres, dan kebersihan. 

Namun, sorotan utama ceramah ini terletak pada ranah psikologis, yang seringkali diabaikan dalam upaya pencapaian kesehatan.

*Kekuatan Pikiran dan Jembatan Hormon Bahagia*

Keterkaitan antara pikiran dan tubuh diulas mendalam melalui fenomena psikosomatis. Dr. Eko menjelaskan bagaimana gejala fisik, seperti rasa sakit atau lumpuh, dapat muncul meskipun secara medis tidak ada penyakit fisik. 

Ini menjadi bukti nyata betapa kuatnya peran stres, emosi, dan pikiran terhadap kondisi biologis seseorang. Kondisi batin yang tidak sehat memiliki daya rusak yang riil terhadap fisik.

Inilah saat Dr. Eko memperkenalkan kunci utamanya: "Hormon Bahagia." Ia menjelaskan bahwa kesehatan utuh—jasmani, rohani, dan sosial—hanya dapat dicapai ketika empat hormon penting (Dopamin, Serotonin, Endorfin, dan Oksitosin) diaktifkan secara optimal.

 * Dopamin (motivasi dan kesenangan) dirangsang melalui penyelesaian tugas dan pencapaian.
 * Serotonin (ketenangan dan suasana hati) diaktifkan melalui ibadah, doa, meditasi, dan menikmati alam (tadabbur).
 * Endorfin (pereda nyeri alami) dihasilkan dari tertawa dan olahraga.
 * Oksitosin (ikatan dan rasa aman) diperkuat melalui sentuhan, pelukan, dan hubungan sosial yang intim.

Poin penting di sini adalah bahwa Islam telah menyediakan mekanisme untuk mengaktifkan sebagian besar hormon ini, terutama Serotonin, melalui praktik-praktik spiritual seperti shalat khusyuk, zikir, dan tadabbur alam. 

Dengan demikian, ibadah bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan juga resep biologis untuk kesehatan mental dan emosional. Kita tidak perlu mencari healing yang jauh, sebab kunci kebahagiaan itu sudah terkandung dalam ajaran agama kita.

Ketegasan Ikhtiar dan Keindahan Qana'ah

Ceramah ditutup dengan pesan spiritual yang kuat tentang sikap dalam menghadapi cobaan kesehatan. Dr. Eko mengingatkan jamaah akan pentingnya qana'ah (menerima dengan lapang dada) setiap takdir dari Allah, termasuk sakit. Penerimaan ini memungkinkan seseorang untuk mentransformasi kondisi sakit menjadi sumber pahala dan ketenangan batin, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dan pasien-pasien yang tetap produktif di tengah penyakit serius.

Ayat penutup, Q.S. Al-Anfal: 60, yang berbicara tentang mempersiapkan "kekuatan," menjadi penutup yang pas. "Kekuatan" yang dimaksud, menurut Dr. Eko, mencakup juga kekuatan dalam menjaga kesehatan. Tugas kita adalah berikhtiar maksimal dalam mempersiapkan kesehatan fisik dan mental, serta bersabar dan bersyukur ketika ujian sakit itu datang.

Kesimpulan
Ceramah Dr. Eko S. Machfur ini bukan sekadar seminar kesehatan biasa; ia adalah sebuah ajakan untuk ber-Islam secara holistik. Ia mengajarkan bahwa mencapai sehat sejati—’afiat—adalah dengan mengawinkan sains (aktivasi hormon) dengan spiritualitas (ibadah dan qana'ah). Kebahagiaan bukan bonus, melainkan prasyarat untuk kesehatan yang utuh, dan untuk meraihnya, kita harus aktif, berikhtiar, serta sepenuhnya berserah diri pada takdir terbaik Allah, menjadikan setiap tarikan napas sebagai ibadah dan setiap upaya sehat sebagai jihad kecil dalam diri.
(Catatan Redaksi: Dr. Eko S. Machfur adalah Kepala Puskesmas Nguling, Kabupaten Pasuruan, yang dikenal dengan inovasi penanggulangan *Meraih Sehat yang Utuh: Mengaktifkan "Hormon Bahagia" sebagai Ikhtiar Iman*
Oleh: Firnas 

Pada Ahad pagi (19/10/2025) yang tenang di Masjid Darul Arqom, Kota Pasuruan, jamaah disuguhkan sebuah ceramah kesehatan yang tidak biasa. Dr. Eko S. Machfur, seorang praktisi kesehatan yang dikenal dengan fokusnya pada inovasi pelayanan, membawakan topik krusial: *“Meraih Sehat dengan Bahagia”.* Ceramah ini sukses menjembatani perspektif medis modern dengan nilai-nilai spiritual dalam Islam, menegaskan bahwa sehat sejati adalah sebuah keutuhan jiwa dan raga—sebuah ikhtiar iman yang perlu disadari setiap Muslim.

*Melampaui Definisi Fisik: Dari Shiha Menuju ’Afiat*

Dr. Eko memulai dengan menggarisbawahi bahwa konsep sehat dalam Islam melampaui makna sempit shiha (kondisi fisik bebas penyakit). Ia memperkenalkan konsep yang lebih menyeluruh, yaitu ’afiat, yang berarti keselamatan, perlindungan dari segala penyakit, bencana, dan musibah, baik di dunia maupun di akhirat.

Pandangan ini menempatkan upaya menjaga kesehatan sebagai bagian integral dari kewajiban seorang Muslim—sebuah ikhtiar yang sejalan dengan doa-doa harian yang meminta keselamatan badan, pendengaran, dan penglihatan.
Pilar-pilar kesehatan fisik yang ia sampaikan bersifat praktis dan fundamental: gizi seimbang, aktivitas fisik teratur, istirahat yang cukup, pengelolaan stres, dan kebersihan. 

Namun, sorotan utama ceramah ini terletak pada ranah psikologis, yang seringkali diabaikan dalam upaya pencapaian kesehatan.

*Kekuatan Pikiran dan Jembatan Hormon Bahagia*

Keterkaitan antara pikiran dan tubuh diulas mendalam melalui fenomena psikosomatis. Dr. Eko menjelaskan bagaimana gejala fisik, seperti rasa sakit atau lumpuh, dapat muncul meskipun secara medis tidak ada penyakit fisik. 

Ini menjadi bukti nyata betapa kuatnya peran stres, emosi, dan pikiran terhadap kondisi biologis seseorang. Kondisi batin yang tidak sehat memiliki daya rusak yang riil terhadap fisik.

Inilah saat Dr. Eko memperkenalkan kunci utamanya: "Hormon Bahagia." Ia menjelaskan bahwa kesehatan utuh—jasmani, rohani, dan sosial—hanya dapat dicapai ketika empat hormon penting (Dopamin, Serotonin, Endorfin, dan Oksitosin) diaktifkan secara optimal.

 * Dopamin (motivasi dan kesenangan) dirangsang melalui penyelesaian tugas dan pencapaian.
 * Serotonin (ketenangan dan suasana hati) diaktifkan melalui ibadah, doa, meditasi, dan menikmati alam (tadabbur).
 * Endorfin (pereda nyeri alami) dihasilkan dari tertawa dan olahraga.
 * Oksitosin (ikatan dan rasa aman) diperkuat melalui sentuhan, pelukan, dan hubungan sosial yang intim.

Poin penting di sini adalah bahwa Islam telah menyediakan mekanisme untuk mengaktifkan sebagian besar hormon ini, terutama Serotonin, melalui praktik-praktik spiritual seperti shalat khusyuk, zikir, dan tadabbur alam. 

Dengan demikian, ibadah bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan juga resep biologis untuk kesehatan mental dan emosional. Kita tidak perlu mencari healing yang jauh, sebab kunci kebahagiaan itu sudah terkandung dalam ajaran agama kita.

*Ketegasan Ikhtiar dan Keindahan Qana'ah*

Ceramah ditutup dengan pesan spiritual yang kuat tentang sikap dalam menghadapi cobaan kesehatan. Dr. Eko mengingatkan jamaah akan pentingnya qana'ah (menerima dengan lapang dada) setiap takdir dari Allah, termasuk sakit. Penerimaan ini memungkinkan seseorang untuk mentransformasi kondisi sakit menjadi sumber pahala dan ketenangan batin, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dan pasien-pasien yang tetap produktif di tengah penyakit serius.

Ayat penutup, Q.S. Al-Anfal: 60, yang berbicara tentang mempersiapkan "kekuatan," menjadi penutup yang pas. "Kekuatan" yang dimaksud, menurut Dr. Eko, mencakup juga kekuatan dalam menjaga kesehatan. Tugas kita adalah berikhtiar maksimal dalam mempersiapkan kesehatan fisik dan mental, serta bersabar dan bersyukur ketika ujian sakit itu datang.

*Kesimpulan*
Ceramah Dr. Eko S. Machfur ini bukan sekadar seminar kesehatan biasa; ia adalah sebuah ajakan untuk ber-Islam secara holistik. Ia mengajarkan bahwa mencapai sehat sejati—’afiat—adalah dengan mengawinkan sains (aktivasi hormon) dengan spiritualitas (ibadah dan qana'ah). 

Kebahagiaan bukan bonus, melainkan prasyarat untuk kesehatan yang utuh, dan untuk meraihnya, kita harus aktif, berikhtiar, serta sepenuhnya berserah diri pada takdir terbaik Allah, menjadikan setiap tarikan napas sebagai ibadah dan setiap upaya sehat sebagai jihad kecil dalam diri.

(Catatan Redaksi: Dr. Eko S. Machfur adalah Kepala Puskesmas Nguling, Kabupaten Pasuruan, yang dikenal dengan inovasi penanggulangan kusta (BENGKURA MAS) dan penerima penghargaan Tenaga Medis Teladan Nasional.) (BENGKURA MAS) dan penerima penghargaan Tenaga Medis Teladan Nasional.)

Tayang disini
https://mediaonlinenasional.com/meraih-sehat-yang-utuh-mengaktifkan-hormon-bahagia-sebagai-ikhtiar-iman/



Suka Memfitnah Orang. Apa kata Al Qur'an ?

Fitnah adalah dosa besar yang sangat sering dikecam dalam Al-Qur'an. Kata "fitnah" dalam bahasa Arab Al-Qur'an memiliki cakupan makna yang sangat luas dan dalam, lebih dari sekadar "menuduh tanpa bukti" dalam bahasa Indonesia.
Berikut adalah penjelasan bagaimana Al-Qur'an membicarakan perbuatan suka memfitnah:

1. Makna "Fitnah" dalam Al-Qur'an

Kata "fitnah" dalam Al-Qur'an setidaknya memiliki beberapa makna inti:
*   Cobaan dan Ujian: Seperti dalam QS. Al-Ankabut: 2, "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' dan mereka tidak diuji?'
*   Kekacauan dan Bencana: Seperti dalam QS. Al-Baqarah: 191, "...Dan fitnah (kekacauan/permusuhan) itu lebih kejam daripada pembunuhan."
*   Siksaan: Seperti api yang menyiksa, QS. Adz-Dzariyat: 13-14.
*   Kesesatan dan Kemusyrikan: Seperti dalam QS. Ali 'Imran: 7, orang yang hatinya condong kepada kesesatan mengikuti ayat-ayat mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah (kekacauan akidah).
*   Tuduhan Palsu dan Menjatuhkan Kehormatan: Inilah makna yang paling dekat dengan pertanyaan "suka memfitnah".

2. Ayat-Ayat yang Secara Khusus Mengutuk Perbuatan Memfitnah

Al-Qur'an sangat keras dalam mengutuk perbuatan menuduh dan menjatuhkan kehormatan orang lain tanpa bukti, terutama dalam hal kehormatan seksual.

*a. Fitnah Terhadap Perempuan yang Suci (Kasus Al-Ifk)*
Peristiwa *Al-Ifk* (berita bohong) terhadap Siti Aisyah RA adalah contoh utama. Allah SWT menurunkan ayat-ayat panjang untuk membela kehormatannya dan mengutuk para penyebar fitnah.

*   QS. An-Nur: 11-20
    *   Ayat 11: "Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong (tentang Aisyah) adalah segolongan dari kalanganmu sendiri. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan itu baik bagi kamu. Setiap orang dari mereka akan mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya. Dan barangsiapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar (dalam penyebaran fitnah), maka baginya azab yang besar."
    *   Ayat 16: "Dan mengapa kamu tidak berkata, ketika mendengarnya, 'Tidak pantas bagi kita membicarakan ini. Mahasuci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.'"
    *   Ayat 19: "Sesungguhnya orang-orang yang menginginkan tersiar (berita) keji di kalangan orang-orang yang beriman, mereka akan mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
    *   Ayat 23-24: Mengutuk orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan yang terjaga kehormatannya, lengah dan beriman, mereka dilaknat di dunia dan akhirat serta mendapat azab yang besar.

*b. Ancaman bagi Orang yang Menuduh Zina Tanpa Bukti*
*   QS. An-Nur: 4-5: *"Dan orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan yang baik (berzina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka untuk selama-lamanya. Mereka itulah orang-orang yang fasik, kecuali orang-orang yang bertobat setelah itu dan memperbaiki (dirinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."*
    Ayat ini menunjukkan betapa seriusnya tuduhan zina (sebuah fitnah klasik) sehingga orang yang menuduh tanpa bukti diancam hukuman dera dan dicap sebagai orang fasik.

*c. Fitnah sebagai Perbuatan yang Lebih Kejam dari Pembunuhan*
*   QS. Al-Baqarah: 191: "...Dan fitnah (penganiayaan, kekacauan, pemurtadan paksa) itu lebih kejam daripada pembunuhan..."
    Meski konteksnya perang, makna "fitnah" di sini mencakup semua tindakan yang menimbulkan kekacauan, permusuhan, dan menggoncang keyakinan orang, yang dampaknya lebih luas dan destruktif daripada membunuh satu nyawa.

*d. Larangan Mengikuti Perkara yang Tidak Diketahui*
*   QS. Al-Isra': 36: "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya."
    Ayat ini adalah fondasi untuk tidak menyebarkan informasi atau tuduhan yang tidak kita ketahui kebenarannya, karena itu adalah awal dari fitnah.

*e. Sifat Manusia yang Suka Membicarakan Keburukan*
*   QS. Al-Humazah: 1: "Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela."* (Al-Humazah adalah orang yang suka mencela di belakang, sementara Al-Lumazah adalah yang mencela di depan).
*   QS. Al-Qalam: 11: Mencela orang-orang yang suka mencela.

3. Hukuman bagi Pemfitnah

1.  Azab yang Pedih di Akhirat: Seperti disebutkan dalam QS. An-Nur: 19 dan 23.
2.  Gugurnya Kredibilitas: Dalam QS. An-Nur: 4, kesaksian seorang pemfitnah tidak boleh diterima lagi selama ia belum bertaubat.
3.  Dosa Besar: Memfitnah termasuk dalam kategori *al-Laam bil Ghaib* (membicarakan aib orang lain di belakangnya/ghibah) yang diharamkan dalam QS. Al-Hujurat: 12.
4.  Laknat Allah: Sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Nur: 23, para pemfitnah dilaknat di dunia dan akhirat.

Kesimpulan

Al-Qur'an dengan sangat tegas dan jelas mengutuk perbuatan suka memfitnah. Allah SWT menggambarkannya sebagai:

*   Perbuatan keji dan dusta yang besar.
*   Perbuatan yang lebih kejam daripada pembunuhan karena merusak nama baik, kehormatan, dan psikologis korban, serta merusak tatanan sosial.
*   Perbuatan yang pelakunya diancam dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat, serta laknat dari Allah.

Oleh karena itu, seorang Muslim diperintahkan untuk sangat berhati-hati dengan ucapannya, selalu memverifikasi informasi (tabayyun), dan menjauhi segala bentuk ghibah, namimah (adu domba), dan tuduhan tanpa bukti.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Friday, October 17, 2025

Bersegera Meraih Ampunan Tuhan dan Menggapai Surga yang Luasnya Seluas Langit dan Bumi


PASURUAN – Khutbah Jumat di Masjid At Taqwa, Jagalan, Kota Pasuruan, pada Jumat (17/10/2025), menghadirkan pesan-pesan penyejuk hati sekaligus pengingat yang mendalam. Dengan suara lantang dan penuh hikmah, Ustadz Fauzi mengajak jamaah untuk bersegera meraih ampunan Tuhan dan menggapai surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

“Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu, dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,” seru Ustadz Fauzi mengawali khutbahnya, mengutip firman Allah SWT. (QS Ali Imron ayat 133)

Dalam khutbahnya, Ustadz Fauzi menekankan bahwa surga bukanlah impian kosong, tetapi sebuah tujuan mulia yang harus diiringi dengan pembuktian melalui amal shaleh dan ketakwaan. Ia mengutip sabda Rasulullah SAW yang intinya menyatakan bahwa seluruh umatnya akan masuk surga, kecuali mereka yang enggan dengan cara mendurhakai Allah dan Rasul-Nya.

“Karena surga Allah hanya ditentukan bagi mereka yang takwa dan tidak melakukan kemaksiatan,” tegasnya di hadapan jamaah yang khusyuk mendengarkan.

*Tiga Amalan Utama Pembuka Pintu Surga*

Ustadz Fauzi kemudian memaparkan beberapa amalan yang dapat memudahkan seorang hamba memasuki pintu-pintu surga. Pertama, adalah *menuntut ilmu*. Menurutnya, ilmu adalah kunci segala kebaikan. Nabi SAW bersabda bahwa siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.

“Hari ini, karena menuntut ilmu akan mempermudah jalan kita,” ujarnya menegaskan.

Kedua, adalah *berakhlak mulia*. Ustadz Fauzi menyitir janji Rasulullah SAW yang menjamin rumah di surga bagi mereka yang gemar meninggalkan perselisihan meski dalam keadaan benar, berkata benar meski hanya bergurau, dan terutama bagi mereka yang memiliki akhlak yang baik.

“Aku juga menjamin rumah di surga yang paling tinggi bagi seorang yang berakhlak baik,” sabda Nabi yang dikutipnya.

Amalan ketiga yang ditekankan adalah *berbakti kepada orang tua*. Ustadz Fauzi menyatakan bahwa orang tua adalah salah satu pintu surga yang utama. Sebaliknya, menyia-nyiakan kesempatan berbakti, terlebih ketika orang tua telah renta, adalah sebuah kerugian dan kehinaan yang besar.

“Sungguh terhina, sungguh terhina, orang yang mendapati kedua orang tuanya, atau salah satunya, telah tua namun justru dia tidak masuk surga,” pesannya dengan penuh peringatan. “Jangan sampai kita hidup di atas penyesalan.”

*Dua Amalan Ringan Berpahala Besar*

Di akhir khutbah, Ustadz Fauzi menyampaikan dua amalan ringan yang memiliki ganjaran luar biasa. Pertama, adalah *berdoa setelah wudhu*. Siapa saja yang menyempurnakan wudhunya lalu membaca syahadat, maka akan dibukakan baginya delapan pintu surga yang dapat dimasuki dari mana pun ia kehendaki.

Kedua, adalah *rajin sholat berjamaah di masjid*. Setiap langkah kaki menuju dan pulang dari masjid, Allah SWT telah menyiapkan persinggahan dan tempat istirahat yang indah di dalam surga.

“Semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai hamba-hambanya yang akan mendapatkan derajat tinggi di surga-Nya,” tutup Ustadz Fauzi dengan doa yang diaminisasi oleh seluruh jamaah.

Khutbah yang penuh nasihat ini diharapkan dapat menjadi penuntun praktis bagi umat Islam dalam mengarungi kehidupan dunia untuk meraih kebahagiaan abadi di akhirat. (*)

Firnas Muttaqin

Wednesday, October 15, 2025

Muhammadiyah Siapkan Cetak Biru Dakwah 20 Tahun: Mubaligh Wajib Bersertifikasi dan Sejahtera (2)


YOGYAKARTA – Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menggelar Konsolidasi Akbar Dakwah Muhammadiyah secara daring pada Selasa, 14 Oktober 2025, yang melibatkan hampir seribu peserta dari seluruh tingkatan persyarikatan. Mengusung tema "Penguatan Tata Kelola Dakwah untuk Misi Peradaban," konsolidasi ini berfungsi sebagai starting point yang sangat teknis untuk merombak sistem dakwah Muhammadiyah agar lebih profesional, terintegrasi, dan berorientasi pada masa depan.

Acara dibuka oleh Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Fathurrahman Kamal, Lc., M.S.I., yang memaparkan visi jangka panjang dan prinsip dasar gerakan.

Visi 20 Tahun: Profesionalisasi dan Perlindungan Mubaligh

Dalam sambutan pengantarnya, Fathurrahman Kamal menekankan bahwa Majelis Tabligh harus menyiapkan "I'dad" (persiapan strategis) untuk 20 tahun ke depan di tengah dunia yang terus berubah. Ia mengingatkan bahwa dakwah harus dijadikan sebagai pusat gerakan ilmu, dakwah, dan pelayanan (service) terhadap umat.Poin krusial yang disoroti adalah upaya pembangunan ekosistem dakwah yang menghormati profesi seorang mubaligh (pendakwah).

"Bagaimana profesi seorang mubaligh itu dihormati betul, memiliki sistem, memiliki jangkauan seperti juga profesi-profesi yang lain... Mereka yang secara profesional mendapatkan hak-haknya. Bila perlu lebih jauh, itu diproteksi oleh peraturan," ujar Fathurrahman Kamal, mengisyaratkan langkah tegas untuk memastikan kesejahteraan pendakwah tidak lagi hanya bergantung pada pemberian amplop semata.

Integrasi Organisasi dan Kewenangan Berjenjang

Sesi teknis dilanjutkan oleh Dr. Waluyo, Lc., M.A., yang memaparkan cetak biru integrasi dakwah. Dr. Waluyo menjelaskan bahwa konsolidasi ini bertujuan untuk menyamakan persepsi dakwah dari tingkat Pusat hingga Ranting, sekaligus menindaklanjuti Amanat Muktamar Solo ke-48 terkait standarisasi manajemen tabligh.

Muhammadiyah kini menempatkan Masjid dan Musala sebagai Amal Usaha (AUM) di bawah kendali Majelis Tabligh. Mandat baru ini menuntut penataan kelembagaan yang komprehensif, di antaranya:

DKMD (Dewan Kemakmuran Masjid dan Musala Muhammadiyah): Organisasi ad-hoc ini bertugas membantu Majelis Tabligh dalam tata kelola permasjidan, termasuk pembinaan takmir (pengurus masjid), serta pengembangan TPA/Madrasah Diniyah. DKMD juga bekerja sama dengan LAZISMU untuk membentuk Kantor Layanan (KL) LAZISMU.

KMM (Korps Mubaligh Muhammadiyah): Organisasi ad-hoc yang fokus pada pengembangan mubaligh, melakukan Diklat, dan membantu Majelis Tabligh dalam menjalankan Kuliyatur Mubaligh (pengaturan jadwal dakwah).Dalam pembagian kewenangan, Pimpinan Pusat (PP) bertanggung jawab membuat regulasi, sertifikasi mubaligh, dan registrasi masjid. Sementara Pimpinan Daerah (PDM) memikul tugas terberat, yaitu menjadi eksekutor utama (heavy lifter) tata kelola masjid di lapangan.

Untuk menanggapi padatnya tugas kepengurusan, Dr. Waluyo juga menginstruksikan kepada Pimpinan Wilayah dan Pimpinan Daerah (PWM dan PDM) untuk segera mengangkat Sekretaris Eksekutif guna membantu tugas-tugas operasional. Selain itu, pimpinan Majelis Tabligh yang tidak aktif diminta segera dievaluasi dan diusulkan penambahannya kepada pimpinan persyarikatan setempat.

Sertifikasi dan Registrasi via SITAMA

Aspek terpenting dari profesionalisasi ini adalah penekanan pada sertifikasi wajib dan penggunaan data melalui sistem informasi.

Sertifikasi Mubaligh: Akan dimulai pasca-Oktober 2025. Syarat utama sertifikasi adalah memiliki NBM (Nomor Baku Muhammadiyah) dan telah lulus Diklat Mubaligh.

Registrasi Masjid: Hanya masjid yang berstatus wakaf persyarikatan atau Sertifikat Hak Milik (SHM) persyarikatan yang dapat diregistrasi di sistem. Setelah terdaftar, masjid akan otomatis mendapatkan Nomor Registrasi Masjid Muhammadiyah.

Dakwah Berbasis Data (Evidence-Based Preaching)

Sesi kedua konsolidasi menghadirkan Dr. Askuri Ibn Chamim, M.S.D., yang menyampaikan materi tentang urgensi Sensus Tabligh dalam rangka mewujudkan "Evidence-Based Preaching" atau dakwah berbasis data. Dr. Askuri mengungkapkan adanya kesenjangan data yang serius. Data Kementerian Agama mencatat lebih dari 700 ribu masjid dan musala, namun Muhammadiyah hanya memiliki data sekitar 1.500 masjid miliknya. Secara statistik, Dr. Askuri memperkirakan setidaknya ada 13.000 masjid Muhammadiyah (berdasarkan jumlah Ranting yang mencapai 13.843), yang menggarisbawahi perlunya pendataan masif.

"Dakwah kita sementara ini merupakan dakwah yang berbasis pada personal, di depan kita akan mengembangkan evidence-based preaching," jelas Dr. Askuri.

Sasaran Strategis Sensus

Sensus Tabligh ini memiliki lima sasaran strategis untuk dimasukkan ke dalam SITAMA (Sistem Informasi Tabligh dan Masjid Muhammadiyah):

Masjid Muhammadiyah: 
Meliputi empat kategori: Masjid Wakaf, Masjid AUM (Amal Usaha Muhammadiyah), Masjid SHM (yang dibeli atau sudah dibalik nama), dan Masjid Kultural (masjid umum yang dikelola atau memiliki amaliyah Muhammadiyah).

Mubaligh Muhammadiyah: Seluruh mubaligh berafiliasi untuk di-screening, disertifikasi, dan dilembagakan dalam Korps Mubaligh.

Pengajian Muhammadiyah: Pendataan semua jenis pengajian, baik berbasis masjid, komunitas, maupun AUM.

Majelis/Bagian Tabligh: Pendataan seluruh pengurus dari tingkat Pusat hingga Ranting.

Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM): Pendataan kelembagaan KMM yang baru dibentuk.

Gotong Royong sebagai Kunci

Dr. Askuri menekankan bahwa data yang akurat ini akan menjadi landasan bagi pimpinan persyarikatan dalam mengambil keputusan strategis, seperti pemetaan potensi dakwah, intervensi di wilayah krisis iman, hingga konektivitas langsung antara mubaligh bersertifikat dengan masjid yang membutuhkan.

Mengingat terbatasnya dana ("dananya cekak"), Sensus Tabligh harus dilaksanakan dengan semangat gotong royong dari seluruh warga Persyarikatan, bukan semata-mata dibebankan pada Majelis. Majelis Tabligh PP akan memulai dengan melatih Koordinator Sensus di tingkat Wilayah secara daring untuk memimpin proses verifikasi dan validasi data di lapangan.

Konsolidasi ini menjadi tonggak penting bagi Muhammadiyah untuk meninggalkan pendekatan dakwah tradisional dan merangkul teknologi serta data sebagai alat fundamental untuk mencapai misi peradaban yang terorganisir, profesional, dan berkelanjutan. (*)

Penulis : Firnas Muttaqin

Tuesday, October 14, 2025

Muhammadiyah Siapkan Cetak Biru Dakwah 20 Tahun: Mubaligh Wajib Bersertifikasi dan Sejahtera (1)

YOGYAKARTA – Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menggelar Konsolidasi Akbar Dakwah Muhammadiyah secara daring pada Selasa, 14 Oktober 2025, yang melibatkan hampir seribu peserta dari seluruh tingkatan persyarikatan. Mengusung tema "Penguatan Tata Kelola Dakwah untuk Misi Peradaban," konsolidasi ini berfungsi sebagai starting point yang sangat teknis untuk merombak sistem dakwah Muhammadiyah agar lebih profesional, terintegrasi, dan berorientasi pada masa depan.

Acara dibuka oleh Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Fathurrahman Kamal, Lc., M.S.I., yang memaparkan visi jangka panjang dan prinsip dasar gerakan.

Visi 20 Tahun: Profesionalisasi dan Perlindungan Mubaligh

Dalam sambutan pengantarnya, Fathurrahman Kamal menekankan bahwa Majelis Tabligh harus menyiapkan "I'dad" (persiapan strategis) untuk 20 tahun ke depan di tengah dunia yang terus berubah. Ia mengingatkan bahwa dakwah harus dijadikan sebagai pusat gerakan ilmu, dakwah, dan pelayanan (service) terhadap umat.

Poin krusial yang disoroti adalah upaya pembangunan ekosistem dakwah yang menghormati profesi seorang mubaligh (pendakwah).

"Bagaimana profesi seorang mubaligh itu dihormati betul, memiliki sistem, memiliki jangkauan seperti juga profesi-profesi yang lain... Mereka yang secara profesional mendapatkan hak-haknya. Bila perlu lebih jauh, itu diproteksi oleh peraturan," ujar Fathurrahman Kamal, mengisyaratkan langkah tegas untuk memastikan kesejahteraan pendakwah tidak lagi hanya bergantung pada pemberian amplop semata.

Amanat Muktamar dan Integrasi Tata Kelola

Sesi teknis dilanjutkan oleh Dr. Waluyo, Lc., M.A., yang memaparkan cetak biru integrasi dakwah. Dr. Waluyo menjelaskan bahwa konsolidasi ini bertujuan untuk menyamakan persepsi dakwah dari tingkat Pusat hingga Ranting, sekaligus menindaklanjuti Amanat Muktamar Solo ke-48 terkait standarisasi manajemen tabligh.

Muhammadiyah kini menempatkan Masjid dan Musala sebagai Amal Usaha (AUM) di bawah kendali Majelis Tabligh. Mandat baru ini menuntut penataan kelembagaan yang komprehensif:

  1. KMM (Komite Mubaligh Muhammadiyah): Wajib dibentuk di setiap tingkatan oleh Majelis Tabligh sebagai wadah pembinaan.

  2. DKM (Dewan Kemakmuran Masjid): Dibentuk di bawah kendali Majelis Tabligh untuk mengelola masjid secara profesional.

  3. Integrasi LAZISMU: Majelis Tabligh mendesak agar segera didirikan Kantor Layanan LAZISMU berbasis Masjid Muhammadiyah. Pendapatan dari kantor layanan ini nantinya akan digunakan untuk menjamin kesejahteraan seluruh komponen dakwah—mulai dari Takmir, Mubaligh, Khatib, Imam, hingga Guru Madrasah Diniyah dan TPA.

Sertifikasi Wajib dan Data Dakwah (SITAMA)

Aspek terpenting dari profesionalisasi ini adalah penekanan pada sertifikasi dan penggunaan data. Dr. Waluyo mengumumkan program aksi dakwah nyata, di antaranya:

  • Pendidikan dan Pelatihan (Diklat): Majelis Tabligh mewajibkan adanya Diklat Mubaligh di setiap tingkatan.

  • Sertifikasi Mubaligh: Setelah Oktober 2025, akan dimulai sertifikasi wajib bagi seluruh Mubaligh Muhammadiyah. Syarat utamanya adalah memiliki NBM (Nomor Baku Muhammadiyah) dan telah lulus Diklat Mubaligh.

  • Sistem Informasi Tabligh Muhammadiyah (SITAMA): Sertifikasi dan registrasi akan terekam dalam sistem digital SITAMA, yang akan dibahas lebih lanjut di sesi berikutnya. Kehadiran SITAMA sangat krusial, karena nanti Takmir Masjid tidak diperbolehkan menjadwalkan Mubaligh yang belum tersertifikasi.

Langkah ini memperkuat komitmen Muhammadiyah untuk menyebarluaskan Islam dalam paham Tarjih, memastikan kualitas pendakwah, dan membangun basis-basis keilmuan dakwah yang terukur. Konsolidasi Akbar ini berfungsi sebagai penegasan bahwa dakwah di Muhammadiyah akan bergerak maju dengan sistem yang rapi, profesional, dan fokus pada misi peradaban bangsa.  (*)

Hukuman untuk Koruptor Menurut Fiqih Islam (Berdasarkan Fatwa Syekh Muhammad Bakar Ismail)



Menurut fatwa Syekh Muhammad Bakar Ismail, Guru Besar Universitas Al-Azhar Mesir, terdapat perbedaan antara assariq (pencuri biasa) dan almukhtalis (penggelap atau koruptor) yang memiliki konsekuensi hukum berbeda.

1. Hukuman untuk Pencuri (Assariq)
Dalam Islam, hukuman untuk pencurian adalah potong tangan. Hukuman ini dilaksanakan secara bertahap: pertama tangan kanan, dan jika mengulangi lagi, tangan kirinya. Pelaksanaannya harus melalui proses pengadilan, bukan main hakim sendiri.

Terdapat empat syarat untuk menerapkan hukuman ini:
*   **Pertama,** pencurian dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
*   **Kedua,** barang tersebut telah disimpan di tempat yang aman oleh pencuri.
*   **Ketiga,** nilai barang mencapai minimal ¼ dinar (setara 1,25 gram emas). Jika kurang dari itu, hukuman potong tangan tidak berlaku.
*   **Keempat,** pencurian tidak dilakukan dalam kondisi darurat, seperti karena kelaparan yang memaksa. Kondisi ini menjadi penghalang (*mani'*) untuk dikenakan hukuman ini.

**2. Hukuman untuk Koruptor (Almukhtalis)**
Hukuman bagi koruptor tergantung pada dampak yang ditimbulkannya. Syekh Muhammad Bakar Ismail merincinya menjadi empat jenis hukuman:

*   **Pertama,** jika korupsinya menyebabkan hilangnya nyawa orang, maka hukumannya adalah hukuman mati (*ditiadakan*).
*   **Kedua,** jika korupsinya menyebabkan bahaya terhadap keamanan (seperti perampokan atau pembegalan), maka hukumannya adalah hukuman mati dengan disalib.
*   **Ketiga,** jika korupsinya menyebabkan kerugian harta, maka hukumannya adalah dipotong secara silang (tangan kanan dan kaki kiri).
*   **Keempat,** jika korupsinya hanya menyebabkan ketakutan di masyarakat (ini adalah dampak terendah), maka hukumannya adalah dipenjara sampai ia bertobat atau seumur hidup.

---

*Catatan: Untuk dalil-dalil spesifik mengenai hukuman ini, Anda dapat merujuk pada sumber aslinya. Jika tertarik dengan fatwa lengkapnya, Anda bisa meminta terjemahannya. Demikian juga, bagi yang ingin berwakaf untuk pengembangan pesantren, informasi lebih lanjut dapat diperoleh dengan meminta linknya.*

Menjemput Misi Peradaban: Muhammadiyah Perkuat Tata Kelola Dakwah via Konsolidasi Akbar


YOGYAKARTA – Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menggelar Konsolidasi Akbar Dakwah Muhammadiyah secara daring pada Selasa malam, 14 Oktober 2025. Acara ini merupakan langkah awal penting menjelang Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II, dengan fokus utama pada modernisasi dan penguatan tata kelola dakwah di tengah tantangan zaman.

Mengusung tema strategis "Penguatan Tata Kelola Dakwah untuk Misi Peradaban," konsolidasi ini mengindikasikan pergeseran paradigma dalam gerakan dakwah Muhammadiyah, dari sekadar penyampaian ceramah menjadi sistem yang terintegrasi, terukur, dan berdampak luas bagi kemajuan bangsa.

Peneguhan Nilai Moderat dan Inklusif

Sorotan utama dalam acara ini adalah kehadiran sejumlah tokoh penting yang akan memberikan penegasan arah gerakan. Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Fathurrahman Kamal, Lc., M.S.I., membuka dengan memberikan pengantar mengenai "Peran Dakwah Dalam Membentuk Masyarakat Madani dan Berdaya Saing."

Namun, sesi yang paling dinantikan adalah Keynote Speech yang dibawakan oleh Dr. Adi Hidayat, Lc., M.A. (UAH). Materi yang akan disampaikan, "Peneguhan Nilai-Nilai Dakwah yang Moderat, Inklusif, dan Transformatif," menunjukkan komitmen organisasi untuk mempertegas identitas dakwah yang terbuka, menjangkau seluruh lapisan masyarakat, dan menghasilkan perubahan sosial yang nyata (transformatif). Pesan ini sangat relevan di tengah menguatnya polarisasi ideologi keagamaan.

Integrasi dan Digitalisasi Dakwah

Konsolidasi ini tidak hanya membahas aspek ideologis, tetapi juga menyentuh ranah manajerial dan teknologi. Agenda utama diarahkan pada pembangunan ekosistem dakwah yang lebih kokoh melalui dua sesi kunci:

  1. Penguatan Integrasi Tata Kelola: Sesi I akan membahas upaya "Penguatan dan Integrasi Tata Kelola Dakwah Muhammadiyah, KMM dan Masjid Muhammadiyah." Hal ini menegaskan pentingnya menyatukan langkah antara pusat kaderisasi (Keluarga Muda Muhammadiyah/KMM) dengan basis massa dan pusat peribadatan (Masjid Muhammadiyah) agar pesan dakwah tersampaikan secara seragam dan terstruktur.

  2. Urgensi Data dan SITAMA: Sesi II menyoroti aspek yang sering terabaikan dalam gerakan keagamaan: data. Materi tentang "Urgensi Data Dakwah dan Sensus Tabligh" serta presentasi mengenai Aplikasi SITAMA (Sistem Informasi Tabligh Muhammadiyah) yang dibawakan oleh Dr. Askuri Ibnu Chamim, M.Si., dan Farid Suryanto, S.Pd., M.T., menunjukkan bahwa Muhammadiyah sedang serius melakukan digitalisasi dan pengukuran kinerja dakwah. Dengan data yang akurat, Majelis Tabligh dapat memetakan kebutuhan audiens, mengukur efektivitas program, dan memastikan alokasi sumber daya dakwah tepat sasaran.

Melalui konsolidasi ini, Majelis Tabligh PP Muhammadiyah mengirimkan sinyal kuat bahwa dakwah di era modern tidak bisa lagi dilakukan secara sporadis, melainkan harus dikelola dengan pendekatan profesional, terintegrasi, dan berbasis data, sebagai prasyarat utama untuk mewujudkan cita-cita misi peradaban. (*)


https://mediaonlinenasional.com/menjemput-misi-peradaban-muhammadiyah-perkuat-tata-kelola-dakwah-via-konsolidasi-akbar/

___

Sumber

Monday, October 13, 2025

Walikota Pasuruan Ajak Masyarakat Jaga Kota Santri Melalui Doa Bersama

PASURUAN, 13 OKTOBER 2025 – Walikota Pasuruan, Adi Wibowo, memimpin acara "Istighosah dan Doa Bersama" bertajuk "Jogo Kota Pasuruan Aman" di depan Kantor Walikota Pasuruan, Jalan Pahlawan, pada Senin 13/10/2025.  Acara tersebut menjadi manifestasi dari komitmen pemerintah daerah untuk memperkuat modal sosial dan spiritual dalam menjaga kondusivitas kota.

Lebih dari 300 elemen masyarakat hadir, menunjukkan tingginya komitmen bersama lintas sektor. Tampak hadir Wakil Walikota, jajaran Forkopimda (termasuk Kapolres dan Dandim), Ketua DPRD, serta perwakilan ulama dari berbagai organisasi keagamaan besar seperti NU dan Muhammadiyah. Selain itu, perangkat daerah, anggota TNI/Polri, Banser, hingga utusan RT/RW turut serta, melambangkan guyub rukun (kebersamaan) seluruh warga kota.

Warisan Kota Santri dan Keharmonisan

Dalam sambutannya, Walikota Adi Wibowo menyampaikan rasa syukur atas anugerah kebersamaan dan kerukunan yang telah terjalin di Pasuruan. Ia menekankan bahwa keharmonisan ini adalah warisan luhur dari para kiai, habaib, dan pendahulu, yang menjadikan Pasuruan dikenal sebagai Kota Santri.

"Kita bersyukur diwarisi oleh para kiai, para habaib dengan warisan kebersamaan, warisan Kota Pasuruan sebagai kota santri yang mesti kita jaga bersama-sama," ujar Walikota.

Menurutnya, tanpa doa dan ikhtiar bersama, cita-cita mewujudkan Pasuruan sebagai kota yang harmonis, indah, dan maju hanya akan menjadi angan-angan belaka. Walikota secara khusus berterima kasih kepada seluruh organisasi keagamaan—termasuk PCNU, Pimpinan Daerah Muhammadiyah, LDII, dan Al-Irsad—yang memiliki komitmen kuat untuk menjaga persatuan dan kesatuan.

Keamanan Tanggung Jawab Kolektif

Inti dari pesan Walikota adalah penguatan peran masyarakat sipil dalam menjaga ketertiban. Ia mengingatkan bahwa tantangan setiap zaman berbeda, dan di masa kini, menjaga kondusivitas adalah kunci pembangunan.

>Walikota secara tegas menyatakan bahwa keamanan dan ketertiban bukan semata-mata tanggung jawab aparat penegak hukum (TNI dan Polri), melainkan tanggung jawab seluruh warga.

"Keamanan, ketertiban bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat semata, tapi tentu menjadi tanggung jawab kita semuanya. Kalau masing-masing individu mampu istiqomah, insya Allah manifestasi sosial di Kota Pasuruan akan terwujud," jelasnya.

Melalui ikhtiar spiritual seperti istighosah ini, Walikota berharap persatuan dan kesatuan yang telah terjalin baik dapat terus menjadi jangkar bagi perencanaan pembangunan. Doa bersama ini menjadi ikrar untuk menjaga anugerah perbedaan sebagai kekuatan dan kekayaan Kota Pasuruan.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan istighosah dan doa yang dipimpin oleh para ulama, menandai komitmen bersama seluruh elemen Pasuruan untuk mewujudkan cita-cita "Kota Santri yang berakhlakul karimah" dan memastikan kota tetap aman dari segala ancaman dan hambatan. (*)

Penulis : Firnas Muttaqin 

Tulisan ini terbit disini :
https://mediaonlinenasional.com/walikota-pasuruan-ajak-masyarakat-jaga-kota-santri-melalui-doa-bersama/
__


.

Polemik Proyek Kereta Cepat: Beban Utang, Ancaman Kedaulatan, dan Akuntabilitas Jokowi

JAKARTA – Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCIC/Whoosh), yang digadang-gadang sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) era Presiden Joko Widodo, kini menjadi "bom waktu" finansial dan ancaman serius terhadap kedaulatan negara. Hal ini mengemuka dalam analisis sosiolog Universitas Negeri Jakarta, Ubedilah Badrun, yang membahas langkah berani Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, yang menolak utang proyek tersebut ditanggung oleh APBN.

Dalam perbincangan di Forum Keadilan TV, Ubedilah Badrun menilai sikap Purbaya sebagai langkah rasional untuk menjaga kesehatan APBN dari beban utang BUMN yang sangat besar.

Pergeseran Logika: Bukan Negara, tapi B2B

Kritik utama Ubedilah Badrun berpusat pada logika awal pembangunan KCIC. Ia mendukung argumen Purbaya bahwa utang tersebut harus ditanggung oleh BUMN Holding Danantara (yang mengendalikan konsorsium BUMN Indonesia di KCIC), bukan APBN.

Alasannya, proyek ini disepakati sebagai skema Business to Business (B2B) antara konsorsium BUMN Indonesia (PT Kereta Api Indonesia) dan lembaga bisnis Tiongkok, yang didanai oleh China Development Bank.

"Awal mula kereta cepat ini dibangun bukan atas inisiatif penggunaan APBN. Logikanya, ini urusan lembaga bisnis antar negara, maka BUMN yang harus menanggung utang ratusan triliun itu," ujar Ubedilah.

Kerugian Fantastis dan Pilihan Proyek yang Keliru

Keputusan memilih Tiongkok pada tahun 2015 juga disorot karena tidak kalkulatif. Awalnya, Tiongkok menawarkan biaya pembangunan awal yang lebih murah dibandingkan Jepang, namun dengan bunga pinjaman yang jauh lebih tinggi.

  • Tawaran Jepang: Bunga pinjaman sekitar 0,1% dengan tenor 40 tahun.

  • Tawaran Tiongkok: Bunga pinjaman 2% dengan tenor yang lebih pendek.

Pemerintah era Jokowi memilih Tiongkok karena biaya awalnya terlihat lebih rendah. Namun, di tengah jalan, terjadi pembengkakan biaya (cost overrun) yang mencapai sekitar $1,6 miliar USD. Pembengkakan ini membuat total biaya proyek Tiongkok kini melampaui tawaran awal Jepang.

Selain utang pokok yang sudah lebih dari Rp100 triliun, Ubedilah mengungkapkan bahwa proyek ini terus merugi dengan angka fantastis.

"Sudah utang sekian banyak, ditambah setiap tahun kita rugi hampir Rp4,1 triliun. Di semester pertama 2025 saja sudah rugi sekitar Rp1,6 triliun. Ini bisnis yang tidak masuk akal," tegasnya.

Ancaman Terbesar: Menjual Kedaulatan Republik

Ancaman paling serius dari kekisruhan finansial KCIC adalah potensi kehilangan kedaulatan negara. Jika Danantara gagal membayar utang dan bunga kepada bank Tiongkok, konsekuensi terberatnya adalah takeover (pengambilalihan) 100% proyek oleh pemerintah Tiongkok.

Menurut Ubedilah, pengambilalihan ini berarti seluruh teknologi, operasional, dan data transportasi strategis hubungan antar kota akan berada dalam kendali negara asing.

"Kalau sektor-sektor strategis dikuasai oleh asing, kita seperti tidak punya kedaulatan. Ini ancaman bernegara," katanya, mengkhawatirkan pola yang sama yang terjadi di beberapa negara Afrika.

Akuntabilitas dan Sinyal dari Pemerintahan Baru

Ubedilah Badrun menegaskan bahwa kekisruhan proyek ini harus dimintai pertanggungjawaban. Ia menunjuk langsung kepada Joko Widodo karena keputusan menggeser proyek dari Jepang ke Tiongkok. Selain itu, nama-nama yang terkait erat dengan BUMN pada masa itu, seperti Luhut Binsar Panjaitan dan Erick Thohir, juga dianggap tahu banyak tentang proyek ini.

Menanggapi langkah Purbaya yang berani, Ubedilah melihatnya sebagai sinyal politik dari Presiden Prabowo Subianto.

"Prabowo memberikan ruang merdeka kepada Purbaya. Itu tandanya Prabowo ingin agar perkara kereta cepat ini bisa selesai lebih awal, baik menyelesaikan utangnya maupun perkara-perkara hukumnya," analisisnya.

Ia juga menyinggung laporan resmi PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan) yang mencatat peredaran uang korupsi mencapai Rp984 triliun dalam satu tahun (2024) masa pemerintahan Jokowi. Angka ini harus menjadi sinyal bagi pemerintahan Prabowo untuk menelusuri ke mana saja uang tersebut beredar.

Desakan Proses Hukum dan Mahkamah Rakyat

Mengingat adanya pembengkakan biaya yang tidak konsisten, Ubedilah mendesak KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) untuk segera memantau dan menyelidiki indikasi korupsi dalam proyek ini. Ia menilai bahwa mantan Presiden Jokowi layak untuk diadili karena kebijakannya yang merugikan negara.

Sebagai penutup, ia menyinggung gerakan sipil yang telah membentuk Mahkamah Rakyat dan memutuskan bahwa Jokowi bersalah atas pelanggaran hukum yang berat. Hal ini muncul karena ketidakpercayaan aktivis terhadap lembaga peradilan formal di Indonesia.

"Jika lembaga peradilan negara tidak bisa mengambil alih dan memproses ini sesuai prosedur hukum, saya khawatir rakyat memiliki caranya sendiri untuk menyelesaikan perkara ini," pungkasnya. (*)

Kontras Pembangunan Jatim: Data Gini Turun, Infrastruktur Daerah Merana


SURABAYA, 12 Oktober 2025 – Perayaan hari jadi ke-80 Provinsi Jawa Timur (Jatim) menjadi momentum evaluasi mendalam. Dalam acara Dialog Wawasan di Radio Suara Surabaya (Senin, 13/10/2025) perwakilan Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur memaparkan perkembangan ekonomi yang optimistis, namun optimisme tersebut langsung dihadapkan pada realitas keras tantangan infrastruktur yang disuarakan masyarakat dari daerah.

Acara yang mengusung tema "Merawat Bumi Majapahit: Jatim Tangguh Terus Bertumbuh" ini menghadirkan perwakilan dari BPS Jatim untuk membedah data pemerataan dan pertumbuhan ekonomi provinsi.

Pemerataan Membaik, Kesenjangan Tetap Menghantui

Menurut data BPS, pemerataan pembangunan di Jawa Timur menunjukkan perbaikan. Indeks Rasio Gini (Gini Ratio) Provinsi Jatim pada Maret 2025 tercatat sebesar 0,369. Angka ini mengalami penurunan tipis dibandingkan September 2024 (0,373), mengindikasikan perbaikan pemerataan pendapatan di wilayah perkotaan maupun pedesaan.Namun, perbaikan tersebut masih dalam kategori "sedang" dan belum ideal. 

Kesenjangan pengeluaran antara kelompok penduduk kaya dan miskin masih lebar. Data BPS menunjukkan bahwa pengeluaran penduduk pada Desil 10 (kelompok pengeluaran tertinggi) mencapai 29,98%, sementara Desil 1 (kelompok pengeluaran terendah) hanya memiliki share sebesar 3,34%.

"Ini berarti masih ada PR yang harus diselesaikan, di mana pemerataan pendapatan tersebut harus terus diupayakan," jelas perwakilan BPS Jatim.

BPS juga menekankan bahwa konsumsi rumah tangga adalah pendorong utama perekonomian Jatim, menggerakkan hingga 60% dari total perekonomian. Oleh karena itu, menjaga stabilitas harga sangat vital agar daya beli masyarakat tetap terjaga.

Jeritan Daerah: Sawah Mampet dan Jalan Rusak

Di tengah paparan data makro yang positif, sesi telepon publik menyajikan kontras nyata.Pak Subari dari Desa Mojowarno, Jombang, mengeluhkan nasibnya sebagai petani. Irigasi sawahnya mampet total selama 12 tahun akibat pembangunan pabrik di sebelahnya. Meskipun sudah dua kali difasilitasi oleh Forkopimcam (Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan) satu tahun lalu, hingga kini belum ada solusi.

"Kami ini petani, tidak bisa apa-apa. Sawah saya aktif, tapi tidak bisa membuang air karena mampet. Padahal Jombang ini adalah Lumbung Pangan Nasional," keluhnya.

Keluhan kedua datang dari Pak Muji di Bangkalan, Madura. Ia menyoroti rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di wilayahnya dan meminta atensi khusus pada infrastruktur jalan. Menurutnya, 72% (sekitar 521 km) dari 721 km jalan Kabupaten Bangkalan memerlukan perbaikan.

"Bagaimana ekonomi mau maju kalau mau keluar rumah jalannya rusak? Investor bagaimana mau hadir kalau jalannya jelek? Kami mohon atensi Pemprov Jatim untuk percepatan di bidang infrastruktur jalan," tegas Pak Muji.

Pemprov Siap Ambil Peran Fasilitasi
Menanggapi keluhan ini, Ir. Mohammad Yasin, M.Si. selaku Kepala BAPPEDA Provinsi Jawa Timur mengakui bahwa Jombang adalah salah satu atensi khusus sebagai lumbung pangan. Terkait masalah irigasi, Pemprov berjanji akan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian dan menegaskan bahwa kehadiran industri harus mendukung lingkungan, bukan merugikan.

Khusus untuk Bangkalan, yang termasuk wilayah IPM rendah, Pemprov memprioritaskan peningkatan tiga aspek IPM: pendidikan (dengan menjamin wajib belajar 13 tahun), kesehatan (memastikan 98% warga Jatim ter-cover BPJS Kesehatan), dan kesejahteraan (yang ditunjang oleh infrastruktur).Meskipun kewenangan perbaikan jalan kabupaten ada di tangan pemerintah daerah, Pemprov berjanji akan membantu.

"Apabila APBD sudah mentok, kita bantu usulkan ke Pusat. Kami akan mengajak Bupati Bangkalan untuk membuat proposal dan audensi langsung ke Pak Menteri PU untuk mendapatkan perhatian khusus melalui program Jalan Invest Daerah," ujar Mohammad Yasin, menegaskan peran Pemprov sebagai fasilitator dan koordinator.

Akar Majapahit: Gotong Royong dan Sinergi

Menutup dialog, para narasumber sepakat bahwa jika Jawa Timur diibaratkan sebagai pohon besar warisan Majapahit, akar yang harus dijaga adalah nilai-nilai luhur pendahulu."Kuncinya adalah toleransi, guyub rukun, gotong royong, dan sinergi tanpa memandang suku, agama, ras. Kita harus terus membangun nilai-nilai ini," kata perwakilan BPS.

Pesan penutup bagi seluruh masyarakat Jatim adalah, "Think Globally, Act Locally." Memikirkan Jawa Timur secara utuh, namun berpartisipasi aktif dalam pembangunan di wilayah masing-masing. (*)

KLARIFIKASI USTADZ TAQY MALIKI



*   Niat Awal: Ustadz Taki Malik ingin membangun Masjid Malik Al-Mulki sebagai pusat pembinaan generasi muda.
*   Pokok Permasalahan: Beliau membeli tanah seharga Rp 9 miliar dengan skema cicilan, namun mengalami keterlambatan pembayaran karena bisnis penopangnya gagal. Total yang berhasil dibayar adalah Rp 2,24 miliar.
*   Proses Hukum: Pihak penjual tanah menggugat. Putusan pengadilan akhirnya memutuskan:
    *   Pembayaran yang sudah dilakukan dikonversi menjadi kepemilikan satu kavling rumah untuk Ustadz Taki.
    *   Sisa tanah (7 kavling) beserta bangunan masjid sementara di atasnya harus dikembalikan kepada penjual.
*   Konflik di Media Sosial: Ustadz Taki kemudian menggalang dana umat (gerakan G30K). Seorang akun bernama "Nusantara" (Fahrir) menuduhnya menyelewengkan dana tersebut, disertai dengan fitnah dan hinaan personal.
*   Bantahan Ustadz Taki: Beliau membantah tuduhan penggelapan dana dan menegaskan bahwa dana G30K masih utuh. Beliau juga menyatakan ikhlas jika tanah masjid harus dikembalikan, tetapi akan mempertanggungjawabkan segala fitnah yang diterimanya secara hukum.

Ustadz Taki mengakui ada kesalahan perhitungan finansial, tetapi tidak menyesali niat baiknya untuk membangun masjid. (*)

Titik Balik Digital India: Dari Raksasa Global ke Teknologi Lokal



Selama bertahun-tahun, narasi digital India ditulis oleh raksasa Amerika: Google, WhatsApp, Microsoft, dan Facebook. Kini, New Delhi bertekad untuk menulis bab baru. Di jantung kampanye ambisius ini berdiri seorang protagonis yang tak terduga: sebuah perusahaan bernama **Zoho**, yang didirikan oleh **Sridhar Vembu**.

Dua dekade kemudian, Zoho secara diam-diam mengoperasikan kerajaan software global. Portofolio lebih dari 50 aplikasi cloud-nya menggerakkan segala hal, dari sistem CRM hingga spreadsheet, menciptakan rangkaian bisnis yang menyaingi Microsoft 365 dan Google Workspace. Dan kini, mereka memperkenalkan sesuatu yang baru: aplikasi pesan buatan lokal bernama **Arattai**—yang berarti "mengobrol" dalam bahasa Tamil. Pemerintah mendorong orang India untuk mencobanya.

### **Dorongan Menuju Kedaulatan Digital**

Ini lebih dari sekadar simbolisme; ini adalah tawaran strategis untuk **kedaulatan digital**. Tujuannya adalah agar India mengontrol data, infrastruktur, dan ekosistem online-nya sendiri, bebas dari ketergantungan asing.

Baru-baru ini, Kementerian Pendidikan India telah menjadikan rangkaian aplikasi kantoran Zoho sebagai perangkat lunak wajib resmi untuk semua departemennya, menggantikan alat-alat dari Microsoft dan Google. Para menteri secara publik memamerkan presentasi yang dibuat dengan Zoho. Untuk mimpi kemandirian digital India, simbol barunya mungkin adalah **Arattai**.

### **Janji Arattai**

Aplikasi pesan baru Zoho ini sudah membuat gebrakan. Ia dirancang untuk:
*   **Ringan:** Berjalan pada koneksi internet yang lemah dan ponsel berharga murah.
*   **Serba guna:** Bahkan memiliki versi untuk Android TV—fitur yang masih belum ditawarkan WhatsApp.
*   **Privat:** Perusahaan berjanji data pengguna tidak akan dibagikan kepada pengiklan atau entitas asing.

Para menteri dan pengusaha sudah menggunakannya, dan jumlah unduhan melonjak. Untuk sesaat, Arattai bahkan melampaui WhatsApp di tangga unduhan Play Store.

### **Tantangannya: Bisakah Bertahan?**

Namun, di balik sorak-sorai tersembunyi pertanyaan kritis: dapatkah kesuksesan ini dipertahankan? India pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya.

*   **Koo** digadang-gadang sebagai "Twitter-nya India," tetapi setelah hiruk-pikuk awal, pendanaannya mengering dan platform itu ditutup.
*   **Hike Messenger**, yang pernah menjadi pesaing WhatsApp, menghadapi nasib serupa karena pengguna kembali ke aplikasi yang lebih mapan.
*   Kisah ini terulang dengan aplikasi video pendek seperti **Moj, Chingari, dan Mitron**, yang berjanji menggantikan TikTok tetapi menghilang karena inovasi yang buruk dan kelelahan investor.

### **Mengapa Aplikasi India Sulit Bertahan**

Membangun aplikasi itu mudah; mempertahankan pengguna itu yang sulit. Sebagian besar platform India terjebak dalam **"jebokan peniru"**—menyalin produk global tanpa meningkatkan secara berarti.

Zoho memiliki satu keunggulan signifikan: mereka **menguntungkan, independen, dan bebas utang**. Namun, aplikasi perpesanan adalah bidang yang berbeda. Aplikasi seperti WhatsApp dan Telegram beroperasi dalam skala global yang masif, dengan miliaran pengguna, server farm di seluruh benua, dan teknologi enkripsi yang telah disempurnakan selama bertahun-tahun. Agar Arattai bisa bersaing, ia harus membangun infrastruktur yang setara kelas dunia.

Lalu ada masalah **kepercayaan**. Meski orang Indonesia mungkin menyukai ide aplikasi buatan dalam negeri, mereka juga menghargai keandalan. Bendera merah saat ini bagi pengguna yang peduli privasi adalah bahwa Arattai belum mengenkripsi *semua* pesan secara ujung-ke-ujung.

### **Di Persimpangan Jalan**

Kisah teknologi India kini berada di persimpangan. Di satu sisi terletak ambisi untuk membangun ekosistem digitalnya sendiri. Di sisi lain adalah realitas pasar yang sangat kompetitif.

Arattai dari Zoho mungkin tidak akan menggeser WhatsApp dalam semalam, tetapi itu bukanlah intinya. Yang benar-benar penting adalah India akhirnya, dengan sungguh-sungguh, berusaha untuk membangun, bukan hanya meminjam. (*)

Sunday, October 12, 2025

Mengenal KUSTA


Fakta Kusta (Lepra): Penyakit Infeksi yang Dapat Disembuhkan Total

JAKARTA, KESEHATAN – Kusta, yang juga dikenal sebagai Lepra atau Morbus Hansen (Penyakit Hansen), adalah penyakit infeksi bakteri kronis yang progresif. Meskipun sering dikaitkan dengan stigma negatif, kusta adalah penyakit yang sepenuhnya dapat disembuhkan dan memiliki mekanisme penularan yang tidak mudah.

Penyebab dan Cara Penularan Kusta

Penyebab utama kusta adalah infeksi bakteri Mycobacterium leprae. Bakteri ini menyerang sistem saraf tepi, kulit, dan saluran pernapasan.

Penularan terjadi dari satu orang ke orang lain melalui percikan cairan (droplet) dari saluran pernapasan, yaitu air liur atau dahak yang keluar saat penderita batuk atau bersin.

Penting untuk dipahami, penularan kusta tidak terjadi hanya karena kontak fisik kasual seperti bersalaman, duduk bersama, atau berhubungan seksual. Seseorang baru dapat tertular jika terkena percikan droplet dari penderita secara terus-menerus dalam waktu yang lama. Kusta juga tidak menular dari ibu hamil ke janin.

Faktor Risiko:

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terpapar kusta meliputi:

  1. Kontak dengan Hewan Pembawa: Bersentuhan dengan hewan tertentu yang dapat menyebarkan bakteri kusta (misalnya armadillo).

  2. Daerah Endemik: Menetap atau berkunjung ke kawasan yang dikenal sebagai daerah rawan kusta.

  3. Sistem Imun Lemah: Memiliki gangguan pada sistem kekebalan tubuh.

Gejala Kusta yang Perlu Diwaspadai

Gejala kusta pada awalnya tidak tampak jelas dan berkembang secara perlahan. Tanda-tanda penyakit ini umumnya berkaitan dengan kerusakan pada saraf dan kulit, meliputi:

Gejala pada Sensasi dan Kulit:

  • Mati Rasa: Kehilangan kemampuan merasakan suhu, sentuhan, tekanan, atau nyeri pada area kulit tertentu.

  • Bercak Kulit: Munculnya bercak yang tampak pucat atau berwarna lebih terang daripada kulit di sekitarnya.

  • Anhidrosis: Kulit tidak berkeringat, terasa kaku, dan kering.

  • Luka Tanpa Nyeri: Adanya luka yang tidak terasa nyeri, sering terjadi di telapak kaki.

Gejala pada Saraf dan Fisik:

  • Penebalan Saraf: Saraf terasa membesar, biasanya di daerah siku dan lutut.

  • Otot Melemah: Otot pada kaki dan tangan melemah.

  • Wajah dan Mata: Bengkak atau benjolan di wajah dan telinga, serta mata menjadi kering dan jarang mengedip.

  • Komplikasi Hidung: Sering mimisan, hidung tersumbat, atau kehilangan tulang hidung.

  • Rambut Rontok: Alis mata dan bulu mata dapat hilang secara permanen.

Diagnosis dan Pengobatan Kusta

Untuk mendiagnosis kusta, dokter akan menanyakan riwayat gejala pasien, memeriksa Lesi (kelainan) pada kulit, dan memastikannya dengan pemeriksaan laboratorium. Tes utama adalah kerokan kulit (skin smear) untuk mengambil sampel yang kemudian dianalisis guna mendeteksi keberadaan bakteri Mycobacterium leprae.

Pengobatan kusta melibatkan penggunaan antibiotik dalam bentuk kombinasi. Di Indonesia, pengobatan ini menggunakan metode Multi-Drug Therapy (MDT), yaitu kombinasi dua antibiotik atau lebih, dan umumnya berlangsung selama 1 hingga 2 tahun.

Setelah pengobatan antibiotik selesai, pasien mungkin memerlukan operasi yang bertujuan untuk menormalkan fungsi saraf yang rusak, memperbaiki bentuk tubuh yang mengalami cacat, atau mengembalikan fungsi anggota tubuh.

Upaya Pencegahan

Hingga saat ini, kusta belum memiliki vaksin pencegahan. Oleh karena itu, cara paling efektif untuk mencegah komplikasi atau penularan adalah melalui diagnosis dini dan memastikan pengobatan yang tepat bagi penderita.

Selain itu, masyarakat disarankan untuk menghindari kontak dengan hewan pembawa kusta dan selalu menjaga sistem kekebalan tubuh agar tetap kuat.


Pada tahun 2025, terdapat 102 kasus aktif kusta di Probolinggo, menurun dari 125 kasus pada 2019. Empat kecamatan yang masih dianggap endemik adalah Tongas, Lumbang, Paiton, dan Gading. Meskipun begitu, tren kasus menunjukkan penurunan, dan beberapa upaya penanggulangan seperti deteksi dini dengan pemeriksaan menyeluruh 40 KK jika ditemukan satu kasus baru, serta edukasi kepada masyarakat, telah dilakukan. 
Data kasus terbaru
  • Jumlah kasus aktif (2025): 102 kasus
  • Jumlah kasus aktif (2019): 125 kasus
  • Kecamatan endemik: Tongas, Lumbang, Paiton, dan Gading 
Upaya penanggulangan
  • Deteksi dini: 
    Jika ada satu penderita, seluruh 40 keluarga terdekat di sekitarnya akan diperiksa untuk mencegah penyebaran lebih lanjut. 
  • Edukasi: 
    Pemerintah daerah terus melakukan edukasi untuk menghilangkan stigma terhadap penderita kusta. 
  • Apresiasi internasional: 
    Pemerintah Kabupaten Probolinggo mendapat apresiasi dari dunia internasional atas upaya penanganan kusta yang efektif, termasuk kunjungan Chairman Nippon Foundation Mr. Yohei Sasakawa pada Juli 2025 untuk meninjau langsung penanggulangan kusta.