Wednesday, September 02, 2026

Sehari yang Penuh Berkah

Tuban, Selasa, 1 September 2026

Alhamdulillah. Hari ini terasa seperti sebuah perjalanan panjang yang dipenuhi potongan-potongan kecil kebaikan. Sejak pagi hingga malam, selalu ada kemudahan dan peristiwa yang membuat hati ini berkali-kali mengucapkan syukur.

Pagi hari, langkah membawaku ke Hotel Lynn Tuban untuk meliput acara Pembukaan Coaching Clinic ISWMP. Sebenarnya, sempat ada rasa ragu. Sebelumnya, Pak Bos, Anis Sutrijono, sempat melarangku datang. Namun entah mengapa, hati kecil ini tetap ingin hadir. Bukan untuk membangkang, melainkan karena merasa ada sesuatu yang perlu dilakukan.
Alhamdulillah, akhirnya aku bisa mengikuti sekaligus meliput jalannya acara tersebut.

Hari pun terus bergerak.

Dalam perjalanan menuju Desa Sawir, sebuah pertemuan sederhana terjadi di sebuah pom bensin di Jenu. Aku bertemu dengan seseorang yang sama sekali belum kukenal. Rupanya, ia hendak melakukan perjalanan menuju Tangerang. Ia meminta menumpang bersamaku hingga Tambakboyo, sejauh arah perjalananku. Setelah itu, ia berencana melanjutkan perjalanan dengan cara estafet, menumpang kendaraan lain.

Tanpa banyak berpikir, aku pun mempersilahkannya naik.

Motor melaju membelah jalanan Tuban menuju arah Tambakboyo.

Sepanjang perjalanan, aku sempat berpikir, mungkin Allah memang tidak pernah mempertemukan kita dengan seseorang tanpa alasan. Kita mungkin tidak mengetahui siapa mereka, dari mana mereka datang, dan apakah kelak kami akan bertemu kembali. Namun selama kita masih memiliki kemampuan untuk membantu, mengapa harus menunggu mengenal seseorang terlebih dahulu?

Sesampainya di Desa Sobontoro, Kecamatan Tambakboyo, Tuban, kami berhenti di sebuah warung sederhana di tepi jalan. Waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB. Aku pun mengajaknya makan siang.

Tidak ada hidangan mewah. Hanya sepiring makanan sederhana di warung pinggir jalan.

Namun entah mengapa, hati terasa begitu lapang.

Mungkin memang benar, kebahagiaan tidak selalu datang ketika kita menerima sesuatu. Kadang, kebahagiaan justru hadir ketika kita mampu berbagi, meski hanya dalam bentuk yang sederhana.

Ternyata, perjalanan hari ini belum berhenti memberikan kejutan.

Urusan revisi laporan bulanan yang sebelumnya cukup mengganggu pikiran perlahan mulai dimudahkan. Koordinasi dengan Pak Carik Asrorudin dari Desa Sawir berjalan lancar. Mas Ali Hasan, selaku Petugas Pemberdayaan Masyarakat (PPM), juga membantu proses printing laporan.

Satu per satu persoalan yang semula terasa rumit, ternyata menemukan jalan keluarnya.

Aku kembali teringat bahwa manusia memang wajib berusaha. Namun tidak semua urusan dapat diselesaikan hanya dengan kekuatan sendiri. Ada saatnya kita membutuhkan bantuan orang lain. Dan mungkin, Allah mengirimkan pertolongan-Nya melalui tangan-tangan orang baik yang ada di sekitar kita.

Kemudian datang kabar yang sudah cukup lama kutunggu.

Siang tadi, honor sebagai Enumerator PIP akhirnya cair. Sebuah penantian sejak Juli 2026 yang akhirnya terjawab hari ini.

Alhamdulillah.

Rasa syukur itu semakin lengkap ketika sebagian rezeki tersebut bisa kukirimkan kepada Flora, anakku yang sedang menempuh pendidikan di Polinema Malang. Sebesar Rpxxxx mungkin bukan angka yang besar bagi sebagian orang. Namun, bagi seorang ayah, dapat mengirimkan uang kepada anak yang sedang berjuang menuntut ilmu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri.

Ada rasa haru yang sulit dijelaskan.

Pagi hari meliput sebuah acara. Siang hari bertemu dengan orang asing dan diberi kesempatan untuk berbagi perjalanan serta makan. Urusan pekerjaan dimudahkan oleh orang-orang baik. Rezeki yang lama ditunggu akhirnya datang. Lalu, dari rezeki itu, sebagian kembali mengalir kepada anak yang sedang berjuang mengejar cita-citanya.

Seolah semuanya menjadi rangkaian kecil yang saling terhubung.

Menjelang malam, tepat setelah menunaikan salat Maghrib, aku kembali diberi kesempatan untuk mengikuti pengajian di Masjid Lathifah An Nashr, yang berada tidak jauh dari kantorku di Sidorejo, Tuban. Pengajian tersebut disampaikan oleh Ustadz Abdus Salam AR.

Ceramah beliau kemudian aku dokumentasikan dan kutulis di firnas.blogspot.com. Setelah itu, dokumentasi tersebut kukirimkan kepada beliau dan kubagikan pula ke grup Majelis Tabligh Muhammadiyah PDM Tuban.

Alhamdulillah, apa yang kulakukan mendapat respons positif.

“Suwun Pak Firnas atas usahanya untuk mempermudah tampilan Ustadz-ustadz MTB Tuban di medsos,” tulis PakNo.

Sebuah kalimat sederhana, tetapi cukup membuat hati kembali bersyukur. Barangkali apa yang kita lakukan memang tidak selalu harus besar. Selama ada manfaat yang bisa dirasakan orang lain, sekecil apa pun usaha itu, insyaallah tetap bernilai sebagai sebuah kebaikan.

Hari ini benar-benar mengajarkanku bahwa kebaikan tidak pernah benar-benar hilang.

Mungkin ia tidak langsung kembali dalam bentuk yang sama.

Ketika kita memberi tumpangan kepada seseorang, Allah bisa saja membuka jalan rezeki dari arah lain. Ketika kita memberi makan orang lain, Allah mungkin memudahkan urusan yang sebelumnya terasa berat. Ketika kita berbagi dengan ikhlas, Allah mampu menggantinya dengan cara-cara yang tidak pernah kita duga sebelumnya.

Entahlah.

Mungkin inilah yang dinamakan buah dari keikhlasan. Buah dari tawakal. Dan mungkin pula, inilah salah satu keajaiban sedekah dan berbagi.

Manusia hanya mampu berusaha untuk berbuat baik dan berharap kepada Allah. Selebihnya, Allah-lah yang mengatur setiap langkah, setiap pertemuan, setiap kemudahan, dan setiap rezeki yang datang pada waktu yang tepat.

Hari ini, aku hanya ingin menutup semuanya dengan satu kalimat:

Alhamdulillahi rabbil 'alamin.

Terima kasih, ya Allah, untuk hari yang penuh dengan kejutan, pertolongan, pertemuan, kemudahan, dan rezeki.

Semoga hati ini senantiasa belajar untuk ikhlas ketika memberi, sabar ketika menunggu, tawakal ketika berusaha, serta tidak lupa bersyukur ketika nikmat-Mu datang.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Firnas Muttaqin 

Tuesday, September 01, 2026

Ustadz Abdus Salam AR: Menuntut Ilmu Menguatkan Iman dan Mengajarkan Manusia untuk Rendah Hati


TUBAN – Menuntut ilmu bukan sekadar upaya untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga menjadi jalan bagi seorang Muslim untuk semakin mengenal kebesaran Allah SWT, memperkuat keimanan, meningkatkan ketakwaan, serta membentuk akhlak yang baik.

Pesan tersebut disampaikan Ustadz Abdus Salam AR dalam pengajian Selasa malam, 1 September 2026, di Masjid Latifah An Nashr, Sidorejo Tuban. Dalam kajian tersebut, ia mengulas pentingnya menuntut ilmu, menghadapi ujian kehidupan, serta meneruskan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin tentang berbakti kepada orang tua, termasuk setelah mereka meninggal dunia.

Menurutnya, Al-Qur'an dan hadis banyak menjelaskan kedudukan penting ilmu dan kewajiban menuntut ilmu bagi setiap Muslim. Ilmu agama, terutama pemahaman terhadap Al-Qur'an dan hadis, menjadi salah satu jalan untuk memperoleh kebaikan yang dikehendaki Allah SWT.

Ia mengutip makna hadis Rasulullah SAW bahwa siapa yang dikehendaki Allah mendapatkan kebaikan, maka Allah akan memahamkannya tentang agama.

“Artinya, ciri orang yang dikehendaki Allah mendapatkan kebaikan adalah dia diberi pemahaman tentang ilmu agama, memahami Islam, Al-Qur'an, hadis, ibadah dan bagaimana menjalani kehidupan, baik untuk urusan dunia maupun akhirat,” jelasnya.

Ustadz Abdus Salam menekankan bahwa pemahaman ilmu harus diwujudkan dalam praktik kehidupan. Seorang Muslim tidak cukup hanya mengetahui ajaran agama, tetapi juga perlu memahami bagaimana melaksanakan salat, puasa dan ibadah lainnya sesuai tuntunan Rasulullah SAW.

Ilmu Menjadikan Manusia Semakin Tawadhu

Dalam kajiannya, ia juga menjelaskan bahwa seluruh ilmu pada hakikatnya dapat menjadi sarana untuk mengenal kebesaran Allah SWT. Manusia mempelajari berbagai bidang, mulai dari kehidupan manusia, tumbuhan, hewan, bumi hingga alam semesta.

“Semakin banyak kita belajar, seharusnya semakin kita mengetahui bahwa masih banyak yang belum kita ketahui. Dari situ kita semakin mengakui bahwa Allah Maha Besar dan Maha Mengetahui,” ujarnya.

Menurutnya, ilmu seharusnya menjadikan seseorang semakin rendah hati atau tawadhu, bukan justru sombong karena merasa paling pintar.

Ia mengibaratkan orang berilmu seperti padi yang semakin berisi justru semakin merunduk.

“Padi yang semakin berisi semakin menunduk. Begitu pula manusia. Ketika semakin banyak mendapatkan ilmu, seharusnya semakin tunduk kepada Allah, semakin tawadhu, semakin baik akhlaknya dan semakin banyak ibadahnya,” tuturnya.

Karena itu, menuntut ilmu perlu diniatkan sebagai ibadah dan kewajiban seorang Muslim. Ilmu juga menjadi sarana untuk menambah ketakwaan kepada Allah SWT.

“Dengan ilmu, iman kita semakin kuat, ibadah semakin baik dan akhlak juga semakin bagus,” katanya.

Ujian Menjadi Jalan untuk Semakin Dekat kepada Allah

Selain membahas pentingnya ilmu, Ustadz Abdus Salam juga mengingatkan jamaah tentang berbagai ujian kehidupan. Kekurangan harta, penyakit, kesulitan, kehilangan anggota keluarga maupun persoalan lainnya merupakan bagian dari ujian yang dapat dialami manusia.

Ia mengingatkan bahwa Allah SWT tidak akan membebani seseorang di luar batas kemampuannya. Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda dalam menghadapi ujian yang diberikan.

“Allah tidak akan membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya. Maka ketika kita diberi ujian, kita harus yakin bahwa dengan pertolongan Allah kita mempunyai kemampuan untuk menghadapinya,” jelasnya.

Ia mencontohkan Nabi Ayyub AS yang diberikan ujian berat berupa penyakit dalam waktu yang panjang. Ujian tersebut dapat dihadapi karena Allah mengetahui kemampuan hamba-Nya.

Menurutnya, ujian juga kerap membuat manusia kembali mengingat Allah. Seseorang yang sedang berada dalam keadaan nyaman terkadang lalai, namun ketika menghadapi kesulitan, ia kembali memohon pertolongan kepada Allah SWT.

“Kadang ketika manusia sedang diuji, dia menjadi semakin dekat kepada Allah. Namun setelah keadaan kembali tenang, jangan sampai kita kembali lupa kepada-Nya,” pesannya.

Berbakti kepada Orang Tua Tidak Berhenti Setelah Wafat

Pada bagian berikutnya, Ustadz Abdus Salam melanjutkan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin. Salah satu pembahasan yang disampaikan adalah mengenai cara seorang anak tetap berbakti kepada kedua orang tuanya setelah mereka meninggal dunia.

Ia menjelaskan sejumlah bentuk kebaikan yang masih dapat dilakukan, di antaranya mendoakan kedua orang tua, memohonkan ampun untuk mereka, memenuhi janji-janji baik yang pernah dibuat semasa hidup, serta menjaga dan menyambung hubungan silaturahim dengan keluarga maupun sahabat kedua orang tua.

“Doakan kedua orang tua kita, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Mohonkan ampun kepada Allah untuk mereka dan sambunglah silaturahim dengan keluarga serta orang-orang yang memiliki hubungan baik dengan kedua orang tua,” ujarnya.

Menurutnya, hubungan dengan saudara, kerabat maupun sahabat dekat ayah dan ibu perlu tetap dijaga sebagai salah satu bentuk penghormatan dan bakti seorang anak.

Kisah Aisyah dan Kecintaan Rasulullah kepada Khadijah

Kajian juga membahas hadis dari Aisyah RA mengenai besarnya penghormatan dan kecintaan Rasulullah SAW kepada Khadijah RA, meskipun Khadijah telah meninggal dunia.

Ustadz Abdus Salam menceritakan bahwa Rasulullah SAW tetap memperhatikan keluarga dan sahabat-sahabat Khadijah. Ketika menyembelih kambing, Rasulullah membagikan sebagian daging kepada orang-orang yang memiliki hubungan dekat dengan Khadijah.

Hal tersebut membuat Aisyah RA pernah merasa cemburu karena Rasulullah begitu sering mengenang Khadijah RA.

Menurut penjelasannya, Khadijah memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam perjalanan hidup dan dakwah Rasulullah SAW. Ia merupakan perempuan pertama yang beriman kepada Rasulullah, seorang saudagar yang memiliki kemampuan ekonomi, serta memberikan dukungan besar terhadap perjuangan dakwah Islam.

“Seluruh kemampuan dan hartanya banyak diperuntukkan untuk mendukung dakwah Rasulullah. Khadijah juga menjadi pendamping Rasulullah dalam masa-masa awal perjuangan Islam yang penuh tantangan,” terangnya.

Khadijah RA juga menjadi istri pertama Rasulullah SAW dan selama Khadijah masih hidup, Rasulullah tidak menikah dengan perempuan lain. Dari Khadijah pula Rasulullah SAW memiliki anak-anaknya.

Melalui kisah tersebut, jamaah diajak mengambil pelajaran tentang pentingnya menjaga kesetiaan, menghormati jasa orang-orang yang telah memberikan kebaikan, serta tetap menjalin hubungan dengan keluarga dan sahabat mereka.

Di akhir kajian, Ustadz Abdus Salam AR berharap ilmu yang dipelajari tidak berhenti sebagai pengetahuan semata, melainkan dapat memperkuat iman, meningkatkan ketakwaan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Semoga apa yang kita pelajari dapat bermanfaat, menambah keimanan, memperbaiki ibadah dan menjadikan kita semakin rendah hati di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala,” pungkasnya.

Penulis: FIRNAS MUTTAQIN