Tuesday, November 03, 2026

Ustadz Muqim Amrullah: Hasad Mengikis Amal Saleh dan Merusak Persaudaraan


TUBAN — Pengajian rutin Selasa malam di Masjid Haifa Yusuf, Kopen, Desa Penambangan, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Selasa (3/11/2026), membahas bahaya sifat hasad atau dengki serta cara mengobatinya dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kajian tersebut, Ustadz Muqim Amrullah, S.Ag., selaku pemateri, mengingatkan jamaah agar mewaspadai penyakit hati berupa hasad karena dapat mengikis amal kebaikan, merusak hubungan antarsesama, bahkan menimbulkan permusuhan di tengah keluarga dan masyarakat.

Hasad, Keinginan Hilangnya Nikmat Orang Lain

Ustadz Muqim menjelaskan bahwa hasad bukan sekadar perasaan iri biasa. Secara bahasa, para ulama mendefinisikan hasad sebagai keinginan seseorang agar nikmat yang dimiliki orang lain hilang darinya.

Ia kemudian mengutip sabda Rasulullah ﷺ:

"Jauhilah rasa hasad, karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar."

Menurutnya, seseorang yang memiliki banyak amal saleh tetap harus berhati-hati apabila di dalam hatinya masih tertanam sifat hasad. Sebab, penyakit hati tersebut dapat menggerogoti pahala kebaikan secara perlahan tanpa disadari.

Hasad Merusak Hubungan Sosial

Lebih lanjut, Ustadz Muqim memaparkan bahwa hasad dapat menjadi salah satu sumber keretakan hubungan sosial, baik antartetangga, antarsaudara, maupun dalam lingkungan keluarga.

"Banyak keretakan hubungan — antar tetangga, antar saudara, bahkan dalam satu keluarga — bermula hanya dari satu hal: tidak ikhlas atas nikmat yang Allah berikan kepada orang lain."

Ia menjelaskan bahwa hasad dapat berkembang melalui rangkaian perilaku negatif, mulai dari rasa tidak suka, celaan, fitnah, hingga permusuhan.

Perselisihan mengenai warisan, pertengkaran terkait harta, bahkan terputusnya hubungan kekeluargaan dapat berawal dari sifat dengki yang dibiarkan tumbuh dalam hati.

Selain berdampak terhadap hubungan sosial, hasad juga merugikan diri sendiri. Orang yang memelihara kedengkian cenderung sulit merasakan ketenangan, hatinya dipenuhi kegelisahan, bahkan dapat berdampak terhadap kesehatannya.

Mengimani Takdir Allah sebagai Cara Mengobati Hasad

Dalam pembahasan mengenai penyebab hasad, Ustadz Muqim menekankan pentingnya memperkuat keimanan terhadap takdir Allah SWT.

"Allah-lah yang meninggikan derajat siapa yang dikehendaki dan merendahkan derajat siapa yang dikehendaki. Jika kita merasa iri terhadap nikmat orang lain, sesungguhnya kita sedang melawan ketetapan Allah."

Sebagai landasan, ia mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur'an Surah Ali Imran ayat 102:

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim."

Selain itu, ia juga mengutip Surah An-Nisa ayat 1:

"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu..."

Melalui ayat-ayat tersebut, jamaah diingatkan untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan dan menerima ketetapan Allah, baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Seorang Muslim hendaknya memiliki hati yang lapang terhadap nikmat yang diterima orang lain.

Memperbanyak Syukur dan Mengubah Cara Pandang

Salah satu cara efektif untuk menghindari hasad adalah memperbanyak rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT.

Ustadz Muqim mengutip sabda Rasulullah ﷺ:

"Pandanglah orang yang berada di bawahmu, dan janganlah kamu memandang orang yang berada di atasmu. Dengan cara itu, kamu tidak akan meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu."

Ia menjelaskan bahwa kebiasaan membandingkan kehidupan dengan orang lain yang dianggap lebih beruntung dapat menumbuhkan rasa iri dan ketidakpuasan.

"Seringkali kita lupa mensyukuri apa yang sudah ada. Kita punya sehat, bisa makan, bisa berkumpul — itu semua nikmat luar biasa. Selalu membandingkan ke atas = hasad tumbuh. Melihat ke bawah dan bersyukur = hati terlindung."

Karena itu, jamaah diajak untuk lebih memperhatikan nikmat yang telah dimiliki daripada terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.

Hati Manusia Dapat Berubah dengan Hidayah Allah

Dalam kajian tersebut, Ustadz Muqim juga mengingatkan bahwa sifat buruk bukan sesuatu yang tidak dapat diperbaiki.

Ia mencontohkan perjalanan hidup Umar bin Khattab yang pada awalnya sangat membenci Nabi Muhammad ﷺ. Namun, setelah mendapatkan hidayah Allah, kebencian tersebut berubah menjadi kecintaan dan pembelaan yang luar biasa terhadap Rasulullah ﷺ.

"Tidak ada sifat buruk yang tidak bisa diubah. Hasad pun bisa dihilangkan — dengan hidayah Allah, ilmu yang benar, dan kemauan hati untuk berubah."

Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri selama bersedia menerima petunjuk dan berusaha mengubah perilakunya.

Amalan Perlindungan dari Hasad dan Kedengkian

Untuk menjaga diri dari berbagai keburukan, termasuk hasad dan kedengkian, Ustadz Muqim menyampaikan sejumlah amalan yang dianjurkan untuk dibaca pada pagi dan sore hari, yaitu:

1. Membaca Ayat Kursi.
2. Membaca Surah Al-Ikhlas sebanyak tiga kali.
3. Membaca Surah Al-Falaq sebanyak tiga kali.
4. Membaca Surah An-Nas sebanyak tiga kali.

Ia menjelaskan bahwa ketiga surah tersebut termasuk bacaan perlindungan yang dikenal sebagai Al-Mu'awwidzat, yang menjadi sarana memohon perlindungan kepada Allah SWT dari berbagai keburukan.

"Ketiga surat ini — yang dikenal sebagai Al-Mu'awwidzatain — adalah perlindungan yang Allah turunkan untuk menjaga kita dari segala keburukan, termasuk kedengkian orang lain."

Selain memperbanyak zikir dan doa, jamaah juga dianjurkan untuk membangun sikap tawakal, bersabar, serta membalas keburukan dengan kebaikan.

Ustadz Muqim mengingatkan keteladanan Rasulullah ﷺ yang tetap mendoakan kebaikan bagi kaumnya meskipun mendapatkan perlakuan menyakitkan.

Ketika Rasulullah ﷺ mengalami peristiwa dilempari batu hingga terluka dan berdarah, beliau tetap menunjukkan kasih sayang melalui doa:

"Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui kebenaran."

Menjaga Kebersihan Hati dan Ukhuwah Islamiyah

Pengajian ditutup dengan doa dan harapan agar seluruh jamaah senantiasa dijauhkan dari penyakit hati, khususnya hasad dan dengki. Kebersihan hati diharapkan menjadi landasan untuk membangun hubungan persaudaraan yang kuat, baik dalam keluarga maupun kehidupan bermasyarakat.

"Semoga kita semua senantiasa dalam lindungan Allah, hati yang bersih, amal yang diterima, dan terhindar dari penyakit hati. Aamiin."

Melalui kajian ini, jamaah diingatkan bahwa menjaga kebersihan hati merupakan bagian penting dari kehidupan seorang Muslim. Memperkuat iman, menerima takdir Allah, memperbanyak syukur, serta membiasakan diri mendoakan kebaikan bagi sesama menjadi langkah untuk menghindari hasad dan menjaga ukhuwah Islamiyah.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.