Tuesday, October 06, 2026

Kajian surah Yaa Siin : Hari Kebangkitan dan Pentingnya Berpegang pada Al-Qur’an

Kopen, Penambangan — Selasa, 6 Oktober 2026. Kajian rutin di Masjid Haifa Yusuf, Kopen, Penambangan, membahas tentang kehidupan setelah kematian, hari kebangkitan, serta pentingnya meningkatkan keimanan dan amal saleh.

Kajian yang disampaikan Ustadz Nurul Yaqin, S.H. tersebut merujuk pada sejumlah ayat Al-Qur’an, di antaranya Surat Yasin, Al-'Ashr dan Ar-Rahman, serta hadis.

Dalam kajiannya, Ustadz Nurul Yaqin menjelaskan bahwa bertambahnya usia merupakan bagian dari ketetapan Allah. Kondisi manusia yang semakin lemah seiring bertambahnya usia menjadi salah satu tanda kekuasaan Allah sebagaimana disebutkan dalam Surat Yasin.

Pembahasan kemudian berlanjut mengenai hari kebangkitan. Menurutnya, keimanan terhadap adanya kehidupan setelah kematian merupakan bagian dari keimanan seorang Muslim. Allah SWT berkuasa membangkitkan kembali manusia setelah kematian, sebagaimana Dia menciptakan manusia sejak awal.

Pada hari kebangkitan, setiap manusia akan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya. Ustadz Nurul Yaqin menjelaskan bahwa anggota tubuh manusia akan menjadi saksi atas apa yang telah dilakukan selama hidup di dunia. Tangan, kaki, mata dan anggota tubuh lainnya akan memberikan kesaksian di hadapan Allah.

Ia juga mengingatkan bahwa kehidupan dunia memiliki konsekuensi atas setiap perbuatan. Sebagaimana pelanggaran hukum di dunia memiliki sanksi, manusia juga akan mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Allah SWT.

Kajian juga membahas perbedaan nasib antara orang yang beriman dan beramal saleh dengan orang yang mengingkari kebenaran. Orang beriman mendapatkan balasan berupa surga, sedangkan orang yang mendustakan dan mengingkari Allah mendapatkan balasan berupa neraka.

Dalam pembahasan mengenai kehidupan akhirat, disampaikan pula gambaran dialog antara penghuni surga dan penghuni neraka. Penghuni neraka digambarkan mengalami penyesalan karena dahulu tidak menggunakan pendengaran dan akalnya untuk menerima kebenaran.

Sementara itu, surga digambarkan sebagai tempat yang penuh kenikmatan dan menjadi tempat tinggal yang kekal bagi orang-orang yang mendapatkan rahmat Allah. Ustadz Nurul Yaqin menekankan bahwa seorang Muslim tidak boleh hanya mengandalkan amalnya, tetapi juga harus berharap kepada rahmat Allah SWT.

Menurutnya, salah satu jalan untuk memperoleh rahmat Allah adalah dengan berpegang teguh kepada Al-Qur’an, antara lain dengan membaca, mendengarkan, mempelajari, dan mengamalkan kandungannya.

Kajian juga mengingatkan pentingnya mendoakan orang tua dan menjaga hubungan keluarga. Anak yang saleh dapat menjadi sebab kebaikan bagi orang tuanya, termasuk melalui doa dan amal yang dilakukan untuk mereka.

Pada bagian lain, Ustadz Nurul Yaqin menyampaikan tentang tiga fase penyesalan orang yang mengingkari Allah, yaitu ketika menghadapi kematian, saat dibangkitkan pada hari kiamat, dan ketika menerima balasan di akhirat.

Sebagai salah satu amalan yang dianjurkan, jamaah diajak membiasakan membaca Sayyidul Istighfar pada pagi dan sore hari. Doa tersebut berisi pengakuan atas nikmat Allah, pengakuan terhadap dosa, serta permohonan ampun kepada-Nya.

Kajian ditutup dengan pembahasan Surat Al-'Ashr yang mengingatkan bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.

Ustadz Nurul Yaqin mengajak jamaah untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Pesan tersebut menjadi penutup kajian sekaligus pengingat agar nilai-nilai keimanan tidak hanya dipahami, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. (*)

Sunday, October 04, 2026

Menjernihkan Hati, Menguatkan Iman

TUBAN, 4 Oktober 2026 — Pengajian Keluarga Ahad Pagi yang digelar di Masjid Darussalam, Tuban, Minggu (4/10/2026), berlangsung dengan penuh khidmat. Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Fathur Rahman mengajak jamaah untuk memperkuat iman, menjaga kebersihan hati, serta menjadikan dzikir dan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Dalam tausiyahnya, Ustadz Fathur Rahman mengawali pembahasan dengan pentingnya mengatur waktu, khususnya dalam berdzikir dan mempersiapkan diri sebelum masuk waktu salat.

Menurutnya, kebiasaan berdzikir sebelum azan menunjukkan adanya kesungguhan seseorang dalam mengatur waktu sekaligus menjaga hubungan dengan Allah SWT.

Ia juga mengingatkan jamaah untuk senantiasa bersyukur ketika memperoleh nikmat dan kebahagiaan. Sementara ketika menghadapi ujian, seseorang hendaknya mengedepankan kesabaran.

Namun, dalam kehidupan sehari-hari, seseorang juga tidak jarang menghadapi kondisi bingung, gelisah, dan tidak mengetahui langkah yang harus diambil. Dalam kondisi tersebut, menurut Ustadz Fathur Rahman, seorang Muslim hendaknya kembali kepada petunjuk Allah SWT.

Iman Menjadi Petunjuk bagi Hati

Mengutip kandungan Surat At-Taghabun ayat 11, Ustadz Fathur Rahman menjelaskan bahwa keimanan dapat menjadi petunjuk bagi hati seseorang.

“Barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya,” demikian inti pesan ayat yang disampaikan dalam pengajian tersebut.

Ia menjelaskan, keimanan tidak hanya tercermin dalam ucapan, tetapi juga dalam sikap dan kebiasaan sehari-hari. Salah satunya adalah kepedulian terhadap waktu salat.

Orang yang memiliki keimanan, kata dia, akan memiliki perhatian terhadap datangnya waktu Zuhur, Ashar, Maghrib, Isya, hingga Subuh. Dengan demikian, kesibukan duniawi tidak membuat seseorang lalai terhadap kewajibannya kepada Allah.

Ustadz Fathur Rahman juga mengajak jamaah untuk memanfaatkan waktu antara salat Maghrib dan Isya dengan kegiatan yang bermanfaat. Jamaah dapat mengisinya dengan membaca Al-Qur’an, berdiskusi mengenai ilmu agama, maupun saling mengingatkan dalam kebaikan.

Menurutnya, ketika seseorang melakukan kesalahan, hendaknya segera memohon ampun kepada Allah. Begitu pula ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan, seorang mukmin perlu meyakini bahwa Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi dirinya.

Sikap tersebut, lanjutnya, akan membantu menghadirkan ketenangan, kepercayaan, dan kepasrahan kepada Allah SWT.

Menjaga Hati untuk Menjaga Kehidupan

Pada bagian lain tausiyah, Ustadz Fathur Rahman menekankan pentingnya menjaga kebersihan hati.

Ia mengingatkan jamaah pada sabda Rasulullah SAW mengenai kedudukan hati dalam diri manusia. Jika hati baik, maka baik pula seluruh jasad. Sebaliknya, apabila hati rusak, dampaknya dapat memengaruhi seluruh diri seseorang.

Karena itu, ia mengajak jamaah untuk menjauhi berbagai penyakit hati, seperti iri, dengki, dendam, prasangka buruk, serta kekhawatiran yang berlebihan.

Menurutnya, kondisi batin seseorang dapat memengaruhi cara berpikir dan perilakunya. Kegelisahan yang terus dipelihara dapat membuat seseorang merasa tidak nyaman dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Sebagai upaya membersihkan hati, jamaah diajak memperbanyak dzikir dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan hati yang lebih tenang, seseorang diharapkan mampu berpikir lebih jernih dan menghadapi persoalan dengan lebih bijaksana.

Menghayati Surat Al-Falaq

Dalam tausiyah tersebut, Ustadz Fathur Rahman juga mengajak jamaah memahami kandungan Surat Al-Falaq. Surat tersebut, menurutnya, mengajarkan umat Islam untuk memohon perlindungan kepada Allah dari berbagai bentuk kejahatan.

Ia menjelaskan makna ayat yang mengajarkan perlindungan dari kejahatan kegelapan, berbagai bentuk kejahatan, serta orang yang memiliki sifat dengki.

Khusus mengenai dengki, ia menekankan bahwa seseorang tidak hanya perlu memohon perlindungan dari kedengkian orang lain, tetapi juga harus berusaha membersihkan dirinya sendiri dari sifat tersebut.

“Orang berbuat buruk, kita balas dengan kebaikan. Orang ingin mencelakai, kita maafkan,” pesan yang ditekankan dalam tausiyah tersebut.

Sikap memaafkan, menurutnya, bukan hanya menjadi bentuk kebaikan kepada orang lain, tetapi juga menjadi cara menjaga hati agar tidak dipenuhi kebencian dan dendam.

Tidak Sekadar Membaca, tetapi Memahami

Ustadz Fathur Rahman juga mengingatkan jamaah agar tidak berhenti pada aktivitas membaca ayat-ayat Al-Qur’an secara lisan. Setiap bacaan hendaknya disertai pemahaman dan penghayatan terhadap maknanya.

Saat membaca ta’awudz, misalnya, seseorang hendaknya menyadari bahwa dirinya memohon perlindungan hanya kepada Allah dari godaan setan. Demikian pula ketika membaca Surat Al-Falaq, setiap ayat dihayati sebagai bentuk permohonan perlindungan kepada Allah dari berbagai keburukan.

Dengan pemahaman tersebut, membaca Al-Qur’an diharapkan tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga mampu memberikan pengaruh terhadap sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Di akhir tausiyah, Ustadz Fathur Rahman mengajak jamaah untuk terus memperkuat iman, menjaga hati dari penyakit batin, membiasakan diri memaafkan, serta memperbanyak dzikir dan membaca Al-Qur’an.

Pengajian kemudian ditutup dengan doa agar Allah SWT meneguhkan keimanan, melapangkan hati, memberikan perlindungan dari berbagai keburukan, serta senantiasa memberikan petunjuk dalam setiap langkah kehidupan.

Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.Versi ini dibuat dengan gaya berita media online: ada judul, lead, alur peristiwa, kutipan tidak langsung, dan subjudul sehingga lebih siap untuk dipublikasikan. (*)

Firnas Muttaqin