Friday, August 22, 2025

DPR dan Tunjangan Fantastis: Antara Kesejahteraan Rakyat dan Kenyamanan Wakilnya


Di tengah jeritan masyarakat yang semakin terhimpit beban ekonomi, wacana soal tunjangan rumah anggota DPR kembali memantik kritik publik. Wakil Ketua DPR RI, Adis Kadir, menyebut tunjangan rumah bagi anggota dewan periode 2024–2029 mencapai Rp50 juta per bulan. Jumlah ini, menurutnya, bahkan masih kurang jika dibandingkan dengan biaya sewa rumah di sekitar Senayan.

Adis mencontohkan, harga kontrakan atau kos di dekat kompleks DPR bisa mencapai Rp3 juta per hari. Jika dikalikan 26 hari kerja, biaya tersebut setara Rp78 juta per bulan. Dengan logika itu, tunjangan Rp50 juta sebulan dinilai justru belum menutup kebutuhan hunian wakil rakyat.

Namun, pernyataan tersebut langsung menuai protes. Di tengah kondisi rakyat yang serba sulit, klaim bahwa tunjangan puluhan juta “belum cukup” dianggap ironi.

Salah satu warga, seorang pengemudi ojek online, (dikutip dari CNN) menuturkan keluhannya.

> “Enggak wajar lah. Kita yang seharian narik dari pagi susahnya setengah mati, masa wakil rakyat masih bilang Rp50 juta itu kurang? Pajak kita ini dipakai buat apa lagi?” keluhnya.

Sebenarnya, gaji pokok anggota DPR berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 75 Tahun 2000 hanya sekitar Rp4 juta per bulan. Tapi, jika dihitung dengan berbagai tunjangan—mulai dari tunjangan jabatan, komunikasi, sidang, hingga biaya perjalanan dinas—jumlahnya bisa tembus Rp100 juta lebih per bulan.

Ironisnya, di saat publik masih ramai memperdebatkan besaran gaji dan tunjangan, muncul pula isu lain dari gedung parlemen. Anggota Komisi VI DPR, Nasim Khan, mengusulkan agar PT KAI menyediakan kembali gerbong khusus merokok di rangkaian kereta. Ia menilai, dari panjangnya rangkaian kereta, seharusnya bisa disisihkan satu gerbong sebagai kafe dan smoking area.

> “Kalau di bus bisa ada smoking area, kenapa di kereta tidak? Ini bisa menguntungkan juga buat PT KAI,” kata Nasim saat rapat dengar pendapat.

Dua isu ini—tunjangan fantastis dan usulan gerbong rokok—semakin mempertebal kesan jarak antara kehidupan elite politik dan kenyataan sehari-hari masyarakat. Saat rakyat berjuang memenuhi kebutuhan dasar, para wakilnya di Senayan tampak sibuk memperjuangkan kenyamanan pribadi. (*)

Penulis: Fim

Kamis, 21/8/2025

---

Thursday, August 21, 2025

TAFSIR SURAH AL INSYIRAH


Penceramah, Ustadz Yusuf Hasymi, pada pengajian Kamis, 14 Agustus 2025 di Masjid At-Taqwa, Jagalan, Kota Pasuruan, Jawa Timur, membahas *Surah Al-Insyirah (Surah Asy-Syarh atau Alam Nasyroh)*.

*1. Makna dan Fungsi Ayat Pertama Surah Al-Insyirah*

Surah Al-Insyirah terdiri dari 8 ayat dan sering dibaca oleh para imam saat salat wajib. 

Surat ini berisi tentang kelapangan hati dan kemudahan yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW setelah masa-masa sulit. Secara umum, surah ini mengajarkan bahwa di setiap kesulitan pasti ada kemudahan, dan mendorong manusia untuk selalu berikhtiar dan bertawakal kepada Allah. 

Ayat pertamanya berbunyi: "Alam Nashrah Laka Shadrak?" yang berarti "Bukankah Kami telah melapangkan (membuka) untukmu dadamu, (wahai Muhammad)?"

* *Istighfar Taqriri*: Menurut Tafsir Al-Qurthubi, kalimat ini adalah *istighfar taqriri*, yaitu kalimat tanya yang bertujuan untuk menegaskan atau menguatkan. Ini bukan pertanyaan yang mencari jawaban, melainkan pernyataan penegasan. Contohnya, seperti seorang ayah yang sudah memberi uang untuk membeli buku, lalu bertanya kepada anaknya, "Bukankah ayah sudah memberimu uang untuk membeli buku baru?" Ini adalah pertanyaan penegasan.

* *Keistimewaan Nabi Muhammad SAW*: Susunan kalimat "Alam Nashrah Laka Shadrak" menarik karena kata *'laka'* (untukmu) diletakkan di depan. Normalnya dalam bahasa Arab, susunannya adalah "Alam Nashrah Shadraka Laka". Perpindahan ini memiliki dua makna:
    * *Istimewa (Eksklusif)*: Menunjukkan bahwa pelapangan dada ini adalah sesuatu yang istimewa dan khusus diberikan hanya kepada Nabi Muhammad SAW.
    * *Kedekatan (Closeness)*: Menunjukkan kedekatan antara Allah SWT dengan Nabi Muhammad SAW.

*2. Perbedaan Antara Nabi Muhammad SAW dan Nabi Musa AS*

Nabi Musa AS adalah contoh yang berbeda. Saat diperintahkan untuk menghadapi Firaun yang zalim dan kejam, Nabi Musa memanjatkan doa: "Rabbisyrahli shadri wayassirli amri" (Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku).

* *Permintaan Nabi Musa AS*: Nabi Musa AS meminta kelapangan dada karena ia tahu bahwa Firaun adalah seorang politisi ulung dan orator yang tangguh. Selain itu, Nabi Musa memiliki kelemahan, yaitu gagap (stuttering), sehingga ia khawatir tidak bisa berdebat dengan baik.
* *Permintaan Bantuan*: Nabi Musa juga meminta Allah SWT untuk mengangkat saudaranya, Nabi Harun AS, menjadi nabi pendampingnya (partner). Nabi Harun dikenal fasih dan pintar berargumentasi. Permintaan ini dikabulkan oleh Allah SWT.

* *Perbandingan*: Perbedaan ini menunjukkan betapa spesialnya Nabi Muhammad SAW. Jika Nabi Musa harus meminta kelapangan dada dan bantuan, Nabi Muhammad sudah langsung diberi kelapangan dada oleh Allah SWT tanpa harus meminta.

*3. Pentingnya Kelapangan Dada*

Kelapangan dada sangat penting bagi setiap manusia, tidak hanya nabi. Seseorang yang memiliki kelapangan dada bisa mengendalikan emosinya dan tidak terlalu terbawa perasaan, baik itu marah, benci, atau senang berlebihan.

* *Pengaruh Emosi*: Ketika seseorang terlalu dikuasai emosi, ucapannya bisa menjadi tidak jelas atau tidak terkendali. Kelapangan dada membuat seseorang tetap tenang (*cool*), kalem, dan bisa mengontrol diri saat berdebat atau menghadapi situasi sulit.

* *Korelasi dengan Iman*: Seseorang yang memiliki kelapangan dada dalam menerima Islam akan lebih mudah memahami dan mengamalkan ajaran agama. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki kelapangan dada akan mudah "terjerat" oleh dunia (keserimpet dunyo istilah b jawa).

* *Ujian dan Cobaan*: Setiap manusia akan menghadapi ujian dan cobaan. Kelapangan dada menjadi kunci untuk menghadapi semua itu. Tanpa kelapangan dada, seseorang bisa terjerumus pada perbuatan dosa, seperti mencuri atau berbuat jahat, karena terjerat oleh urusan dunia.

*4. Tantangan dalam Berdakwah*

Ustadz Yusuf Hasymi juga menyinggung beratnya tugas seorang pendakwah (ustadz, kiai, atau nabi) yang harus memahami, mengerti, dan mengamalkan ilmunya. Tantangan ini menjadi semakin berat di era modern, di mana banyak orang mengaku berilmu atau memiliki nasab baik, tetapi tidak mengasah ilmu dan spiritualitas mereka, yang mengakibatkan mereka tidak memiliki kelapangan dada.

Inti dari ceramah ini adalah bahwa *kelapangan dada adalah anugerah besar dari Allah SWT*. Itu adalah kunci untuk menghadapi segala ujian hidup, mengendalikan diri, dan menjalankan ajaran agama dengan baik. Anugerah ini diberikan secara istimewa kepada Nabi Muhammad SAW dan kita semua dianjurkan untuk terus berusaha membersihkan hati dan meminta kelapangan dada agar bisa menjadi pribadi muslim yang lebih baik. (*)

Penulis: Firnas Muttaqin 
Kamis, 21/8/2025
__

Majelis Tarjih Muhammadiyah : Status Mahram Anak Angkat dalam Kajian di UMS



SURAKARTA – Kajian rutin *Tarjih* yang diselenggarakan secara online di TVMu oleh Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada Kamis pagi (21/8/2025) membahas topik yang relevan dan sering menjadi persoalan di masyarakat: praktik penerapan mahram bagi orang tua asuh yang tidak memiliki hubungan darah dengan anak asuh. Kajian yang berlangsung di lingkungan kampus ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Imron Rosadi.

Ustadz Imron, yang mewakili Majelis Tarjih, menjelaskan bahwa topik ini kerap ditanyakan oleh masyarakat, khususnya ketika anak angkat beranjak dewasa dan batasan interaksi sehari-hari menjadi sebuah tantangan. 

"Banyak orang yang secara kebetulan belum diamanahi Allah untuk memiliki keturunan, kemudian mengangkat atau mengambil bayi. Nah, bagaimana pandangan Muhammadiyah ketika anak asuh ini sudah dewasa?" ujarnya.

---

*Tiga Sebab Hubungan Mahram*

Ustadz Imron mengawali penjelasannya dengan mengurai tiga sebab utama yang melahirkan hubungan mahram, yaitu:
1.  *Mahram sebab keturunan (nasab)*: Meliputi tujuh golongan yang disebutkan dalam Al-Qur'an Surat An-Nisa ayat 23, seperti ibu, anak perempuan, saudara perempuan, bibi dari ayah dan ibu, serta keponakan.
2.  *Mahram sebab sesusuan (radha'ah)*: Berlaku bagi seseorang yang menyusu pada ibu yang bukan ibu kandungnya. Ustadz Imron menekankan bahwa agar hubungan ini berlaku, anak harus benar-benar mengonsumsi air susu, bukan sekadar menyusu pada puting yang tidak mengeluarkan air susu.
3.  *Mahram sebab pernikahan (mushaharah)*: Terjadi karena ikatan perkawinan, seperti mertua atau menantu.

---

*Solusi Hukum bagi Anak Angkat Tanpa Hubungan Darah*

Ustadz Imron menjelaskan, pada dasarnya, anak angkat yang tidak memiliki hubungan darah atau sesusuan dengan orang tua asuh *bukanlah mahram*. Dengan demikian, hukum yang berlaku adalah sama seperti orang lain pada umumnya, di mana batasan aurat harus tetap dijaga.

Namun, ia menambahkan bahwa karena orang tua dan anak asuh tinggal bersama dalam waktu yang sangat lama, penerapan hukum secara ketat akan menimbulkan *_masyaqah_* atau kesulitan. Oleh karena itu, Majelis Tarjih memberikan solusi terbaik melalui analogi atau *qiyas* berdasarkan Surat An-Nur ayat 31.

"Ayah asuh bisa diibaratkan seperti orang yang tidak memiliki nafsu terhadap anak asuhnya karena hubungan ayah-anak yang selama ini berlangsung. Hal ini berlaku pula sebaliknya, di mana ibu asuh dapat diibaratkan seperti pelayan laki-laki yang tidak bernafsu," terang Ustadz Imron. Meskipun demikian, ia menekankan pentingnya sikap kehati-hatian (*ikhtiyat*) untuk menjaga hubungan yang murni dan terhindar dari fitnah.

---

*Tanya Jawab Seputar Isu Kontemporer*

Sesi tanya jawab menghadirkan berbagai pertanyaan kompleks dari peserta.
*   *ASI Donor*: Terkait pertanyaan tentang donor ASI, Ustadz Imron menegaskan bahwa *mahram* sesusuan terjadi jika anak benar-benar mengonsumsi air susu. Ia juga menekankan pentingnya mendokumentasikan donor ASI untuk menghindari masalah pernikahan di masa depan.
*   *Pernikahan Misanan*: Secara hukum, pernikahan dengan saudara misanan (*sepupu*) diperbolehkan. Namun, secara ilmu biologi dan kedokteran, hal ini berisiko meningkatkan kecacatan pada keturunan. "Kita terima itu sebagai takdir, tapi secara ilmu diusahakan hubungan darahnya yang jauh," katanya.
*   *_Surrogacy_ (Ibu Pengganti)*: 
>Surrogacy, atau ibu pengganti, adalah sebuah prosedur medis di mana seorang wanita (ibu pengganti) mengandung dan melahirkan bayi untuk orang lain atau pasangan yang tidak dapat melakukannya sendiri. Dalam konteks surrogasi, wanita ini biasanya menjalani kehamilan melalui fertilisasi in vitro (IVF) dan kemudian menyerahkan hak asuh bayi kepada pasangan yang dituju. 

Menanggapi kasus kontemporer tentang _surrogacy_, Ustadz Imron menjelaskan bahwa seorang anak memiliki hubungan *mahram* dengan ibu pengganti yang mengandungnya, karena mereka berasal dari satu rahim. Hubungan mahram juga berlaku antara anak yang dilahirkan melalui surrogacy dengan anak kandung ibu pengganti.
*   *Transfusi Darah*: Berbeda dengan ASI, transfusi darah tidak menciptakan hubungan *mahram* karena darah tidak dikonsumsi layaknya air susu, dan penerimanya umumnya bukan anak kecil yang dinutrisi.

Secara keseluruhan, kajian ini memberikan pemahaman mendalam tentang fleksibilitas hukum Islam dalam menjawab tantangan zaman, terutama dalam konteks sosial yang semakin kompleks. (*)

Penulis: Firnas Muttaqin 
Rabu, 20/8/2025

https://www.youtube.com/live/B2oFSPyFm_0?si=deatTEjYEfOvumVZ
___

Wednesday, August 20, 2025

Konsep Kebebasan di Islam


PASURUAN – Dalam pengajian rutin yang digelar di Masjid Baitul Huda, Kota Pasuruan, pada Rabu (20/8/2025), Ustadz Anang Abdul Malik menyampaikan ceramah yang berfokus pada lima landasan kebebasan manusia dalam berkehendak dan berbuat, serta konsekuensi dari setiap pilihan yang diambil.

Ustadz Anang memulai dengan menjelaskan konsep *_qalb_* (hati), yang menurutnya harus seimbang antara akal dan perasaan. "Akal yang mengakui kebenaran, tetapi hati yang belum bisa menerima, akan membuat seseorang berada di ambang keraguan," jelasnya. Ia mencontohkan kisah paman Nabi Muhammad SAW, yang secara akal telah yakin akan kebenaran, tetapi hatinya belum sepenuhnya menerima, sehingga meninggal dunia dalam keadaan belum berislam.

Menurut Ustadz Anang, kebebasan manusia untuk memilih didasarkan pada lima hal:

1.  *Kebebasan Memilih:* Manusia diberi kebebasan penuh untuk memilih jalan hidupnya, baik yang beriman maupun yang ingkar. Kebenaran dan kesalahan telah dijelaskan dengan gamblang oleh Allah SWT melalui Al-Qur'an dan wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah SAW.

وَهَدَيۡنَٰهُ ٱلنَّجۡدَيۡنِ

"Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan)."
(QS. Al-Balad 90: Ayat 10)

 وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡ ۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡ ۚ إِنَّآ أَعۡتَدۡنَا لِلظَّٰلِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمۡ سُرَادِقُهَا ۚ وَإِن يَسۡتَغِيثُواْ يُغَاثُواْ بِمَآءٍ كَٱلۡمُهۡلِ يَشۡوِي ٱلۡوُجُوهَ ۚ بِئۡسَ ٱلشَّرَابُ وَسَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا

"Dan katakanlah (Muhammad), "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; barang siapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barang siapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir." Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka bagi orang zalim, yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta pertolongan (minum), mereka akan diberi air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan wajah. (Itulah) minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek."
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 29)

2.  *Kelengkapan Manusia:* Manusia diciptakan dengan kelengkapan yang sempurna untuk berpikir dan membedakan. "Adanya prefrontal cortex membedakan manusia dengan binatang, memungkinkan kita mengendalikan emosi dan memutuskan sesuatu," kata Ustadz Anang. Ia juga menegaskan bahwa dengan adanya sidik jari, retina mata, dan DNA yang unik, tidak ada manusia yang bisa mengelak dari kebenaran.

3.  *Tanggung Jawab:* Setiap pilihan yang diambil di dunia akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Konsekuensi dari pilihan yang benar adalah kebahagiaan abadi, sementara pilihan yang salah akan berujung pada penyesalan selamanya. "Jika kamu melakukan kebaikan, itu untuk kepentingan dirimu sendiri. Jika kamu menantang peringatan, kamu sendiri yang akan menanggung akibatnya," ujarnya.

4.  *Kelanjutan Amalan:* Setiap perbuatan di dunia tidak akan berhenti begitu saja, melainkan memiliki kelanjutan di akhirat. Semua manusia akan dihadapkan pada pengadilan Allah, di mana tidak ada yang bisa bersembunyi.

Beberapa dalil Al-Quran yang menjelaskan hal ini:

Surah Al-Isra ayat 7: "Jika kamu berbuat baik, (maka) sesungguhnya kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri; dan jika kamu berbuat jahat, maka (sesungguhnya) untuk dirimu sendiri juga." Ayat ini menunjukkan bahwa perbuatan baik dan buruk akan kembali kepada pelakunya. 

Surah Al-Qiyamah ayat 2: "Dan aku bersumpah dengan jiwa yang selalu mencela dirinya sendiri." Ayat ini menunjukkan bahwa manusia akan menyesali perbuatannya di akhirat. 

Surah An-Naba' ayat 17-20: Menggambarkan dahsyatnya hari kiamat dan pengadilan Allah SWT. 

اِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيْقَاتًاۙ

Hari kiamat itu benar-benar ditetapkan sebagai saat berkumpulnya manusia yang pertama sampai yang terakhir. (QS An-Naba' (78) : 17)

يَّوْمَ يُنْفَخُ فِى الصُّوْرِ فَتَأْتُوْنَ اَفْوَاجًاۙ

Hari kiamat terjadi ketika sangkakala ditiup. Saat itu manusia yang telah mati dibangkitkan. Wahai manusia, kalian kemudian datang menghadap Tuhan kalian berkelompok-kelompok. (QS An-Naba' (78) : 18)

وَّفُتِحَتِ السَّمَاۤءُ فَكَانَتْ اَبْوَابًاۙ

Kemudian dibukakan pintu langit, lalu muncullah jalan-jalan menuju ke langit. (QS An-Naba' (78) : 19)

وَّسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًاۗ

Kemudian gunung-gunung dicabut dari bumi, sehingga berhamburan laksana fatamorgana. (QS An-Naba' (78) : 20)

5.  *Pembalasan:* Adanya pembalasan yang merupakan kelanjutan dari proses pengadilan. Bagi yang memilih jalan yang benar, mereka akan mendapatkan kenikmatan abadi di surga. Sebaliknya, yang memilih jalan sesat akan menanggung penderitaan di neraka.

Surah Al-Anbiya' ayat 47: "Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun, pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan." Ayat ini menjelaskan tentang keadilan Allah dalam menimbang amal perbuatan. 

Ustadz Anang juga menekankan bahwa Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka sendiri yang berusaha mengubahnya. 

لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَ نْفُسِهِمْ ۗ وَاِ ذَاۤ اَرَا دَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّا لٍ
"Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. *Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.* Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia."
(QS. Ar-Ra'd 13: Ayat 11)

Ini berarti nasib manusia berada di tangan mereka sendiri, bukan takdir yang pasif. 

Ia juga membedakan antara *_hidayah_ *Al-Irsyad* (petunjuk yang bisa diberikan manusia) dan *_hidayah_ *Taufik* (petunjuk dari Allah yang hanya bisa diberikan-Nya). "Kita bisa memberikan hidayah kepada orang lain, tapi hidayah taufik tidak bisa," pungkasnya.

Di akhir ceramahnya, Ustadz Anang mendorong para jamaah untuk senantiasa meminta petunjuk kepada Allah SWT agar terus berada di jalan yang benar. (*)

Penulis: Firnas Muttaqin
Rabu, 20/8/2025


Terbit disini
https://www.farah.id/read/2025/08/20/19235/konsep-kebebasan-di-islam:-merdeka-dalam-ketaatan-
___

Tuesday, August 19, 2025

Pasar Murah Jawa Timur: Inflasi Dikepret, Perut Rakyat Dielus

Penulis: Firnas | Biro Pasuruan Jatim

Pasuruan – Pemerintah Provinsi Jawa Timur, lewat Gubernurnya Bu Khofifah, lagi-lagi main jurus “Pasar Murah”. Bukan pasar diskon ala Black Friday, tapi pasar di mana rakyat bisa beli beras, minyak, telur, sampai cabai dengan harga yang lebih manusiawi.

Biar jelas, coba tengok daftar harganya:

  • Beras premium: Rp14.400/kg (eh, masih bisa bikin kantong kering kalau masaknya kebanyakan air).

  • Beras medium: Rp11.000/kg (ini favorit mahasiswa ngekos).

  • Minyakita: Rp15.000/liter (asal nggak dipakai buat goreng masalah negara).

  • Telur ayam: Rp24.000/pack (bisa buat sarapan, bisa juga buat lempar pejabat nakal).

  • Tepung terigu: Rp10.000/kg (buat bikin bakwan politik).

  • Gula pasir: Rp16.000/kg (yang manis nggak selalu gula, bisa juga janji kampanye).

  • Bawang putih: Rp7.000/250 gr (biar masakan wangi, bukan biar mulut pejabat wangi janji).

  • Cabai rawit merah: Rp4.000/100 gr (pedesnya ngalahin berita korupsi).

  • Cabai merah besar: Rp3.000/150 gr (lumayan, buat sambel rakyat jelata).

Inflasi Dikepret, Rakyat Cekikikan

Acara ini katanya berlangsung 19–21 Agustus 2025 di UPT Industri Kayu Pasuruan alias Taman Kota. Dari pagi sampai sore, rakyat bisa belanja sambil cengengesan karena harga-harga di sini bisa bikin emak-emak nyanyi: “Terima kasih Bu Gubernur, dompet saya nggak sekarat lagi!”

Tapi jangan salah, Pasar Murah ini bukan sekadar jualan. Kata pemerintah, ini strategi ngendaliin inflasi.
Kalau kata Petruk: “Inflasi itu ibarat mertua, kalau nggak dikendalikan, bisa bikin rumah tangga negara gonjang-ganjing.”

Ketahanan Pangan ala Jawa Timur

Dengan tagline “Pengendalian Inflasi dan Ketahanan Pangan Jawa Timur 2025”, pasar murah ini kayak superhero yang datang saat rakyat udah hampir kehabisan bensin ekonomi.

Tapi rakyat tetap punya pertanyaan absurd:

  • Kalau pasar murah ini solusi, kenapa pasar mahal masih eksis tiap hari?

  • Kalau bisa murah pas acara, kenapa nggak murah tiap minggu?

  • Apa harga pangan itu kayak sinetron: ada jam tayangnya sendiri?

Sindiran Tipis-tipis

Ya, baguslah pemerintah bikin acara beginian. Tapi jangan sampai rakyat cuma dikasih gula murah, sementara gula janji politik tetap mahal dan bikin darah tinggi.

Pasar murah boleh sehari tiga, tapi rakyat butuh ekonomi murah seumur hidup.


Catatan Gareng-Petruk:

“Pasar murah ini ibarat obat warung: meredakan, bukan menyembuhkan. Inflasi itu penyakit kronis, butuh dokter ekonomi yang nggak sekadar kasih parasetamol.”  (*)

https://garengpetruk.com/pasar-murah-jawa-timur-inflasi-dikepret-perut-rakyat-dielus/

__

Kenaikan Iuran BPJS PBI untuk Kelas 3: Langkah Tepat, tetapi Butuh Peningkatan Efisiensi


JAKARTA - Wacana kenaikan iuran BPJS Kesehatan untuk Peserta Bantuan Iuran (PBI) kelas 3 menjadi *Rp57.250* per bulan menuai tanggapan dari pakar kebijakan publik, Dr. Chazali H. Situmorang. Dalam dialog di Radio Elshinta, Selasa (19/8/2015) ia menyatakan bahwa kenaikan ini adalah *sebuah keharusan* untuk menjembatani kesenjangan antara iuran dan pengeluaran.

"Kenaikan ini sebetulnya sudah cukup bagus, bisa membangun keseimbangan antara pengeluaran dan pendapatan, asalkan memang efisiensinya ditingkatkan lagi dari BPJS Kesehatan," ujar Chazali, yang juga Ketua Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) periode 2010-2015.

Ia menyoroti masalah *30 juta peserta BPJS PBI yang non-aktif*, baik dari APBN maupun APBD. Chazali mendesak BPJS untuk memetakan dan mengidentifikasi penyebab ketidakaktifan ini. Jika peserta yang non-aktif adalah mereka yang sebetulnya mampu, maka dengan edukasi yang tepat, mereka dapat diaktifkan kembali.

"Sehingga bisa mendapatkan dana yang bisa dipertanggungjawabkan dari pembayaran mereka," tambahnya.

Chazali optimistis bahwa dengan kenaikan iuran dan peningkatan efisiensi, defisit anggaran BPJS Kesehatan dapat diminimalisasi.

*Keluhan Peserta dan Pelayanan di Lapangan*

Dialog di radio juga menerima keluhan dari pendengar. Bapak Ridwan dari Kalimantan Timur menceritakan pengalaman ponakannya yang kartu BPJS-nya non-aktif tanpa pemberitahuan. Masalah ini baru diketahui saat istrinya hendak melahirkan, yang mengharuskannya membayar tunggakan terlebih dahulu.

Seorang pendengar lain juga menceritakan pengalamannya di rumah sakit. Ia kaget ketika petugas UGD menyatakan bahwa penentuan apakah BPJS dapat digunakan atau tidak, tergantung pada keputusan UGD setelah pemeriksaan.

Menanggapi keluhan ini, Dr. Chazali menekankan pentingnya komunikasi dan transparansi. Ia meminta pihak BPJS untuk memastikan bahwa peserta, terutama mereka yang non-aktif, mendapatkan informasi yang jelas. Ia juga menyinggung pentingnya kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah dalam memperbarui data peserta BPJS. (*)

Fim
Selasa, 19/8/2025

https://jatimlines.id/kenaikan-iuran-bpjs-pbi-kelas-3-2025/
__

Monday, August 18, 2025

Hakikat Kenikmatan Surga


PASURUAN – Ustadz Abu Qosim pada hari Senin, 18 Agustus 2025, menyampaikan pengajian di Masjid Al-Ishlah Al-Irsyad Kota Pasuruan. Dalam ceramahnya, Ustadz Abu Qosim mengajak para jamaah untuk merenungkan perbandingan antara kenikmatan dunia dan kenikmatan di surga yang telah dijanjikan oleh Allah SWT.

Dengan mengutip ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis, Ustadz Abu Qosim menggambarkan surga sebagai tempat yang penuh dengan kenikmatan abadi yang tidak pernah dirasakan manusia di dunia.

"Kenikmatan di surga itu sempurna. Apapun yang kamu inginkan, apa saja yang kamu minta, semua akan kamu dapatkan," ujarnya.

جَنّٰتُ عَدْنٍ يَّدْخُلُوْنَهَا تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ لَهُمْ فِيْهَا مَا يَشَآءُوْنَ ۗ كَذٰلِكَ يَجْزِى اللّٰهُ الْمُتَّقِيْنَ 
"(yaitu) Surga-Surga 'Adn yang mereka masuki, mengalir di bawahnya sungai-sungai, *di dalam (surga) itu mereka mendapat segala apa yang diinginkan*. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang yang bertakwa,"
(QS. An-Nahl 16: Ayat 31)

Ia menyebutkan beberapa sungai di surga, termasuk sungai susu, madu, dan khamr yang tidak memabukkan, serta air tawar yang tidak pernah berubah rasa atau baunya. Kenikmatan ini berbeda dengan kenikmatan di dunia yang bersifat sementara dan seringkali berujung pada penderitaan.

قُلْ اَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِّنْ ذٰ لِكُمْ ۗ لِلَّذِيْنَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا وَاَ زْوَا جٌ مُّطَهَّرَةٌ وَّرِضْوَا نٌ مِّنَ اللّٰهِ ۗ وَا للّٰهُ بَصِيْرٌ بِۢا لْعِبَا دِ 

"Katakanlah, "Maukah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?" Bagi orang-orang yang bertakwa (tersedia) di sisi Tuhan mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan pasangan-pasangan yang suci, serta ridho Allah. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 15)

مَثَلُ الْجَـنَّةِ الَّتِيْ وُعِدَ الْمُتَّقُوْنَ ۗ فِيْهَاۤ اَنْهٰرٌ مِّنْ مَّآءٍ غَيْرِ اٰسِنٍ ۚ وَاَ نْهٰرٌ مِّنْ لَّبَنٍ لَّمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهٗ ۚ وَاَ نْهٰرٌ مِّنْ خَمْرٍ لَّذَّةٍ لِّلشّٰرِبِيْنَ ۚ وَاَ نْهٰرٌ مِّنْ عَسَلٍ مُّصَفًّى ۗ وَلَهُمْ فِيْهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ وَمَغْفِرَةٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ ۗ كَمَنْ هُوَ خَا لِدٌ فِى النَّا رِ وَسُقُوْا مَآءً حَمِيْمًا فَقَطَّعَ اَمْعَآءَهُمْ

"Perumpamaan taman surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa; di sana ada sungai-sungai yang airnya tidak payau, dan sungai-sungai air susu yang tidak berubah rasanya, dan sungai-sungai khamar (anggur yang tidak memabukkan) yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai madu yang murni. Di dalamnya mereka memperoleh segala macam buah-buahan, dan ampunan dari Tuhan mereka. Samakah mereka dengan orang yang kekal dalam neraka, dan diberi minuman dengan air yang mendidih, sehingga ususnya terpotong-potong?"
(QS. Muhammad 47: Ayat 15)

Ustadz Abu Qosim membuat perbandingan tajam antara penghuni surga dan penghuni neraka. "Minuman penghuni neraka adalah air yang mendidih. Ketika diminum, usus-usus mereka akan hancur dan terpotong-potong," kata Ustadz Abu Qosim, menekankan bahwa kondisi ini jauh berbeda dengan kenikmatan yang disiapkan bagi orang-orang yang beriman.

Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa orang yang masuk surga bukanlah semata-mata karena amalnya, melainkan karena rahmat dan ampunan dari Allah. "Orang yang masuk surga itu bukan semata-mata karena amal, tapi karena mendapatkan ampunan dan rahmat dari Allah," jelasnya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ » . قَالُوا وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لاَ ، وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِى اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ

“Amal seseorang tidak akan memasukkannya ke dalam surga.” “Engkau juga tidak wahai Rasulullah?”, tanya beberapa sahabat. Beliau menjawab, “Aku pun tidak. Itu semua hanyalah karena karunia dan rahmat Allah.” (HR. Bukhari, no. 5673 dan Muslim, no. 2816)

Perbandingan Iman dan Jalan Hidayah

Ustadz Abu Qosim juga menyinggung tentang perbandingan antara orang mukmin dan orang kafir. Ia mengumpamakan orang mukmin sebagai orang yang memiliki panduan dan aturan hidup dari Allah, sementara orang kafir digambarkan sebagai orang yang buta, yang hidup berdasarkan pemikiran sendiri atau warisan nenek moyang yang salah.

"Orang kafir itu tidak bisa paham dan mengerti Al-Qur'an maupun sabda Nabi Muhammad, karena hati, pendengaran, dan penglihatan mereka sudah dikunci oleh Allah," tegasnya.

اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ طَبَعَ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ وَسَمْعِهِمْ وَاَ بْصَا رِهِمْ ۚ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ
"Mereka itulah orang yang hati, pendengaran, dan penglihatannya telah dikunci oleh Allah. Mereka itulah orang yang lalai."
(QS. An-Nahl 16: Ayat 108)

Sebaliknya, ia mengatakan bahwa orang yang mengambil jalan hidayah akan semakin kuat imannya. "Jika seseorang mempelajari Al-Qur'an dengan niat mengamalkannya, Allah SWT akan menambah hidayah mereka sehingga iman dan keyakinan mereka semakin kuat," pungkasnya.

Di akhir pengajian, Ustadz Abu Qosim mengajak para jamaah untuk tekun beramal saleh sebagai motivasi untuk mendapatkan rahmat Allah dan meraih surga-Nya. (*)

Firnas
Senin, 18/8/2025

Propaganda, Sejarah yang Dilupakan, dan Kisah Kemerdekaan Indonesia

Tugu patung di Jakarta, yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda, dulunya adalah simbol kemakmuran bagi Belanda, namun bagi bangsa Indonesia, patung tersebut melambangkan perbudakan selama hampir 300 tahun. Hal ini menjadi pengingat yang menyakitkan akan masa lalu kolonial. Sebelum kolonialisme Belanda datang, wilayah kepulauan ini tidak dikenal sebagai "Indonesia," melainkan terdiri dari berbagai kerajaan dan kesultanan yang terpisah.

-----
Perang Kemerdekaan dan Propaganda Belanda

Belanda menolak mengakui Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Mereka menganggap proklamasi tersebut sebagai tindakan sekelompok "pemberontak." Pemerintah Belanda menyebut perang yang terjadi sebagai "aksi polisionil" (politionele actie), sebuah istilah yang sengaja diciptakan untuk mengesankan bahwa yang terjadi bukanlah perang, melainkan operasi pemulihan ketertiban di dalam negeri. Dengan demikian, Belanda bisa menghindari konsekuensi hukum internasional terkait perang, termasuk tuduhan kejahatan perang.

Propaganda ini sangat efektif. Media Belanda, yang dikontrol oleh militer, menyajikan narasi bahwa tentara mereka datang sebagai "pembebas" untuk memulihkan "ketertiban dan kedamaian." Foto-foto tentara Belanda yang berinteraksi santai dengan penduduk lokal diedarkan luas, sementara foto-foto kekerasan disembunyikan.

-----
Peran Pemuda dan Kesadaran Kebangsaan

Sejarah Indonesia dipenuhi dengan peran sentral pemuda dalam perubahan besar. Sumpah Pemuda pada tahun 1928 menjadi tonggak penting dalam membangkitkan kesadaran kebangsaan. Saat itu, pemuda dari berbagai suku dan etnis bersatu untuk mendeklarasikan tiga hal fundamental: satu tanah air, satu bahasa, dan satu bangsa—Bangsa Indonesia.

Setelah proklamasi kemerdekaan, para pemuda menjadi kurir-kurir yang menyebarkan berita kemerdekaan ke seluruh penjuru Indonesia. Mereka juga berperan dalam meyakinkan dunia internasional bahwa Indonesia adalah bangsa yang merdeka, bahkan mengutip "Deklarasi Kemerdekaan Amerika" dalam pesan-pesan mereka.

-----

Kompleksitas Sejarah dan Tiga Visi Indonesia

Ada tiga visi utama mengenai masa depan Indonesia setelah kemerdekaan:

1.  *Visi liberal-otoriter:* Membayangkan Indonesia yang demokratis, makmur, dan kapitalis.
2.  *Visi Islam:* Mayoritas penduduk (sekitar 88%) adalah Muslim, yang memiliki ide-ide sendiri tentang bagaimana negara harus diorganisasi.
3.  *Visi komunis:* Kelompok ini, bersama yang lain, sepakat untuk memprioritaskan kemerdekaan dari Belanda, dan masalah internal diselesaikan setelahnya.

Sejarah juga menunjukkan bahwa kedatangan Jepang memberikan kesempatan bagi para nasionalis, termasuk Soekarno, untuk memperjuangkan kemerdekaan yang telah lama mereka dambakan. Propaganda Jepang tentang "Asia untuk Asia" menguatkan semangat nasionalisme dan secara efektif meruntuhkan simbol-simbol kolonialisme Belanda.

-----

Kekerasan dan Dampak Kolonialisme

Selama masa revolusi, terjadi kekerasan terhadap orang-orang Eropa, Tionghoa, dan Indo-Eropa. Kekerasan ini sering kali digunakan sebagai alat propaganda oleh Belanda untuk membenarkan tindakan militer mereka. Namun, pihak Indonesia berargumen bahwa kekerasan tersebut adalah reaksi alami terhadap kehadiran Belanda yang mencoba kembali berkuasa.

Banyak orang Indo-Eropa merasa menjadi korban ganda. Setelah pendudukan Jepang, mereka mengalami kekerasan di masa revolusi, dan di kemudian hari, mereka menghadapi diskriminasi di Indonesia. Banyak dari mereka, sekitar 380.000 orang, akhirnya bermigrasi ke Belanda. Namun, di Belanda pun mereka merasa tidak sepenuhnya diterima dan menghadapi kesulitan, termasuk hilangnya aset dan tabungan yang tidak pernah diganti rugi oleh pemerintah Belanda.

Kisah sejarah ini, termasuk pengakuan tentang kejahatan perang yang dilakukan Belanda, baru mulai diungkap dan didiskusikan secara terbuka belakangan ini. Hal ini menunjukkan bahwa banyak sisi gelap dari sejarah kolonialisme masih terkubur di bawah lapisan propaganda dan memori yang selektif. (*)

Sumber:

https://youtu.be/lRVk9tMFEJI?si=Mc9ZJCy0HpIdP4z1

_____
Tayang disini

https://pwmu.co/propaganda-sejarah-yang-dilupakan-dan-kisah-kemerdekaan/


Saturday, August 16, 2025

Meriah dan Penuh Keakraban, TK ABA 3 Pasuruan Gelar Lomba Agustusan


Pasuruan, 16 Agustus 2025 – Suasana penuh keceriaan tampak di Taman Sekargadung, Sabtu pagi (16/8). TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) 3 Kota Pasuruan menggelar kegiatan peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia dengan berbagai acara kebersamaan yang melibatkan anak-anak, guru, hingga para orang tua murid.

Kepala TK ABA 3, Ibu Bakhtiarin Perihatin Bakhri, S.Pd, menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya bertujuan memeriahkan perayaan kemerdekaan, tetapi juga mempererat hubungan antarwarga sekolah. “Melalui lomba-lomba ini, kami ingin menumbuhkan semangat kebersamaan, sportivitas, sekaligus rasa cinta tanah air sejak dini,” ujarnya.
Acara dimulai dengan senam bersama yang diikuti oleh anak-anak dan orang tua, kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya secara khidmat. Setelah itu, suasana semakin meriah dengan berbagai perlombaan khas Agustusan.

Untuk kategori anak-anak, lomba yang digelar adalah *memindahkan bola dengan sendok*. Sementara itu, para ibu mengikuti lomba unik, yakni *nyunggih tempeh sambil memakai jarik*, yang mengundang gelak tawa penonton. Tidak kalah seru, terdapat lomba *estafet ibu dan anak dengan membawa karung beras*, yang menjadi ajang kekompakan keluarga.

Berikut para juara yang berhasil meraih hadiah:

* *Lomba Memindahkan Bola (Anak Kelas A):*

  1. Nadia
  2. Levi
  3. Banu

* *Lomba Memindahkan Bola (Anak Kelas B):*

  1. Sarah
  2. Keyza
  3. Anin

* *Lomba Nyunggih Tempeh (Ibu-Ibu):*

  1. Riski
  2. Dafira
  3. Aira

* *Lomba Estafet Ibu dan Anak:*

  1. Zulfikar
  2. Anin
  3. Kai
Menurut Ibu Bakhtiarin, kegiatan lomba Agustusan ini juga merupakan bagian dari program sekolah. “Kebetulan bulan Juli kemarin anak-anak baru menjalani MPLS, jadi event ini kami jadikan wadah untuk saling mengenal, baik antar-orang tua kelas A dan kelas B, maupun dengan dewan guru. Sekaligus menjadi kerja pertama komite TK ABA 3,” jelasnya.

Kegiatan ini memang rutin diadakan setiap tahun, namun kali ini terasa berbeda karena dilaksanakan di luar sekolah, tepatnya di Taman Sekargadung. Tujuannya agar acara berlangsung lebih segar dan akrab.

Lebih jauh, Ibu Bakhtiarin juga menyinggung rencana kolaborasi yang lebih besar melalui **Ikatan Guru Bustanul Athfal (IGBA)**. “Insya Allah tanggal 30 Agustus nanti IGBA akan mengadakan musyawarah daerah kedua. Ke depan, mudah-mudahan ada program kolaborasi serupa yang melibatkan TK ABA se-Kota Pasuruan,” ujarnya penuh harapan.

Acara kemudian ditutup dengan *pemberian hadiah* kepada para pemenang. Anak-anak tampak gembira menerima bingkisan, sementara para orang tua berbahagia bisa ikut serta memeriahkan acara.

“Yang terpenting bukan siapa yang menang, tapi kebersamaan yang terjalin. Semoga anak-anak tumbuh dengan rasa percaya diri dan semangat gotong royong,” tutur Ibu Bakhtiarin menutup acara.

Dengan penuh suka cita, kegiatan Agustusan TK ABA 3 Pasuruan ini menjadi salah satu momen berharga bagi anak-anak dan keluarga dalam merayakan hari kemerdekaan RI. (*)

Penulis: Firnas Muttaqin 
Sabtu, 16/8/2025

https://jatimlines.id/lomba-agustusan-tk-aba-3-pasuruan/
---

Friday, August 15, 2025

Tujuh Golongan yang Mendapat Naungan di Hari Kiamat: Implementasi Nilai-Nilai Islam dalam Kehidupan

Khutbah Jumat yang disampaikan oleh Ustadz Moh. Hisyam Al Farisy di Masjid At-Taqwa, Jagalan, Kota Pasuruan, pada 15 Agustus 2025, mengulas sebuah hadis penting tentang tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan dari Allah SWT pada hari kiamat. Hadis ini, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, tidak hanya sekadar janji, melainkan sebuah panduan praktis tentang bagaimana seorang Muslim dapat menjalani hidup dengan nilai-nilai yang mulia. 

Khutbah ini mengingatkan kembali bahwa dunia adalah ladang untuk menanam kebaikan, dan amalan yang dilakukan di dalamnya akan menentukan nasib seseorang di akhirat kelak, sebuah hari di mana setiap manusia hanya akan sibuk dengan amalan masing-masing.

---

Cermin Keadilan dan Ketakwaan dalam Tujuh Golongan

Khutbah ini secara terperinci menjelaskan tujuh golongan yang dijanjikan naungan, yang mencakup berbagai aspek kehidupan manusia. 

Pertama, *pemimpin yang adil* menjadi cerminan dari pentingnya keadilan dalam tata kelola sosial. Seorang pemimpin yang tidak menzalimi rakyatnya dan membuat kebijakan yang menyejahterakan akan mendapat balasan yang besar. Hal ini menegaskan bahwa kekuasaan bukan semata-mata untuk kepentingan pribadi, melainkan amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan.

Kedua, *pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah* menyoroti perjuangan melawan hawa nafsu di usia yang penuh godaan. Di saat banyak pemuda terjerumus pada kesenangan dunia, mereka yang memilih untuk beribadah dan taat kepada Allah menunjukkan tingkat ketakwaan yang tinggi. 

Ketiga, khutbah ini menyebutkan *seseorang yang hatinya terpaut pada masjid*. Ini bukan hanya tentang sering pergi ke masjid, tetapi tentang menjadikan masjid sebagai pusat spiritual, tempat hati merasa tenang dan rindu untuk beribadah.

---

Akhlak Mulia sebagai Landasan Amal

Selain itu, hadis ini juga menekankan pentingnya akhlak mulia dalam hubungan sosial. 

Golongan keempat adalah *dua orang yang saling mencintai karena Allah*. Cinta yang tulus dan ikhlas, bukan karena harta atau status, melainkan karena dorongan untuk mencapai ridha Allah, menjadi pondasi ukhuwah Islamiyah yang kuat. Hubungan semacam ini mendorong kolaborasi dalam kebaikan dan ketakwaan.

Kelima, *seorang pria yang menolak ajakan zina dari wanita kaya dan cantik* menunjukkan kekuatan iman yang luar biasa. Pria tersebut, yang mencontoh keteguhan Nabi Yusuf AS, mampu mengendalikan hawa nafsu di tengah godaan yang besar. Ini adalah bukti nyata bahwa rasa takut kepada Allah lebih berharga daripada kesenangan sesaat.

Dua golongan terakhir menyoroti pentingnya keikhlasan dan introspeksi diri. 

Golongan keenam adalah *seseorang yang bersedekah secara diam-diam*, bahkan "tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya". Keikhlasan dalam beramal tanpa mengharapkan pujian dari manusia adalah kunci diterimanya ibadah. 

Terakhir, ketujuh, *seseorang yang mengingat Allah di kesunyian malam hingga meneteskan air mata* menunjukkan hubungan personal yang mendalam dengan Sang Pencipta. Mereka yang merenungi dosa-dosa di malam hari dan bertaubat dengan air mata adalah hamba-hamba yang menyadari betapa fana dan penuh kekurangan dirinya.

---

Kesimpulan

Secara keseluruhan, khutbah ini memberikan pesan yang kuat bahwa amalan-amalan yang dilakukan di dunia, sekecil apa pun, akan memiliki dampak besar di akhirat. Ketujuh golongan yang dijanjikan naungan Allah bukan hanya tentang ritual keagamaan, melainkan juga tentang bagaimana seseorang menginternalisasi nilai-nilai keadilan, ketakwaan, akhlak mulia, keikhlasan, dan hubungan yang mendalam dengan Allah dalam setiap aspek kehidupannya. 

Dengan berusaha menjadi bagian dari golongan-golongan tersebut, umat Muslim diingatkan untuk terus berikhtiar memperbaiki diri, karena pada akhirnya, hanya amalan dan pertolongan Allah-lah yang dapat menyelamatkan manusia dari kengerian hari kiamat. (*)

Firnas
Jumat, 15/8/2025

LMKN Targetkan Royalti Musik dari Hotel, Pengusaha Keberatan dengan Skema Perhitungan


MATARAM – Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) mulai memperluas target penagihan royalti musik ke sektor perhotelan. Tidak hanya di restoran dan kafe, kini LMKN juga menagih royalti atas penggunaan televisi di kamar-kamar hotel, sebuah kebijakan yang memicu keberatan dari para pengusaha hotel.

Penagihan ini mulai diberlakukan per Juli 2025. Salah satu yang terdampak adalah Hotel Grand Madani di Mataram. General Manager hotel tersebut, Rega Fajar Firdaus, mengaku telah menerima tagihan royalti sebesar Rp4 juta. Angka ini dihitung berdasarkan fasilitas televisi yang tersedia di setiap kamar, meskipun fasilitas tersebut dianggap sebagai tambahan dan tidak dikomersialkan secara langsung seperti layaknya karaoke.

---

Ancaman Sanksi dan Skema Tarif

LMKN memberikan ancaman sanksi pidana penjara hingga 10 tahun dan denda Rp4 miliar bagi pihak hotel yang tidak kooperatif dalam membayar royalti. Namun, menurut Rega, skema perhitungan tarif yang diberlakukan LMKN dinilai masih simpang siur dan memberatkan.

"Cara perhitungan royalti musik di kamar hotel ini masih simpang siur. Ada hotel bintang satu dan kelas melati yang tidak ada TV di kamarnya, tetapi tetap dikenakan tagihan," ungkap Rega.

Berikut adalah rincian tarif royalti musik tahunan yang ditetapkan LMKN untuk hotel:

* **Hotel Berbintang:**
    * 1-50 kamar: Rp2 juta
    * 51-100 kamar: Rp4 juta
    * 101-150 kamar: Rp6 juta
    * 151-200 kamar: Rp8 juta
    * >200 kamar: Rp12 juta
* **Hotel Non-Bintang:**
    * >60 kamar: Rp1 juta
* **Resor, Hotel Eksklusif, dan Butik:**
    * Rp16 juta per tahun (tanpa jumlah minimum kamar)

Penagihan royalti ini tidak hanya mencakup kamar hotel, tetapi juga fasilitas publik lainnya, seperti ruang tunggu, kafe, restoran, spa, pusat kebugaran, kolam renang, ruang bermain anak, salon, toko, dan lift.

---

Perdebatan Hitung-hitungan Royalti

Rega menilai, LMKN seharusnya memperjelas dasar perhitungan royalti untuk televisi di kamar hotel. Selama ini, penggunaan televisi di kamar bukanlah objek komersial yang dijual terpisah.

Di sisi lain, pihak LMKN berpendapat bahwa setiap fasilitas yang dapat memutar musik, tanpa terkecuali, harus dikenakan royalti. Perbedaan pandangan ini menimbulkan keresahan di kalangan pengusaha hotel, terutama terkait transparansi dan keadilan dalam skema penagihan. Hingga saat ini, belum ada kejelasan lebih lanjut dari LMKN mengenai bagaimana keluhan ini akan ditindaklanjuti.  (*)

Fim



https://jatimlines.id/royalti-musik-hotel-lmkn/
___

Tugu Tirta Kota Malang Lakukan Pengerukan Sungai Wendit Setelah 12 Tahun


MALANG – Perumda Air Minum Tugu Tirta Kota Malang kembali mengambil langkah strategis dengan melakukan pengerukan di Sungai Wendit, salah satu sumber air vital bagi Kota Malang. Pengerukan ini menjadi sorotan karena merupakan upaya pemeliharaan pertama yang dilakukan setelah 12 tahun lamanya.

Diskusi interaktif di Radio Cityguide Malang pada Jumat (15/8/2025) menghadirkan Direktur Utama Perumda Air Minum Tugu Tirta Priyosudibio, Direktur Teknik Muhammad Fauzan Indrawan, Guru Besar Teknik Pengairan Universitas Brawijaya (UB) Prof. Dr. Ir. Muhammad Bisri, dan Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Malang Dito Arief Nur Rahmadi. Mereka membahas latar belakang, teknis pelaksanaan, hingga aspek regulasi dari pengerukan Sungai Wendit ini.

Alasan Pengerukan dan Dampak Lingkungan

Priyosudibio, yang akrab disapa Pak Priyo, menjelaskan bahwa keputusan ini diambil setelah mengidentifikasi berbagai masalah di Sungai Wendit. "Kami menemukan bahwa sudah 12 tahun tidak ada pengerukan yang memadai. Bahkan ada tanaman sawi tumbuh di atas sungai karena volume air hanya sekitar 20 cm, sementara lumpur di bawahnya mencapai 2 meter," terangnya.

Kondisi tersebut menyebabkan beberapa dampak serius:
* *Air Keruh:* Endapan lumpur yang tebal membuat air menjadi keruh saat hujan, mengganggu kualitas air baku.
* *Sumber Air Tidak Optimal:* Sumber-sumber air yang tertutup sedimen lumpur tidak berfungsi maksimal.
* *Banjir Berulang:* Terjadi banjir setiap 4-5 tahun, bahkan sempat menenggelamkan pos pompa Tugu Tirta.

Pengerukan ini dilakukan berkat inisiasi dan lobi Tugu Tirta kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas. "Ini gratis, karena kami membayar iuran pemeliharaan SDA sekitar Rp 500 juta per bulan," kata Priyo. Warga Desa Mangliawan, yang terdampak langsung, juga memberikan dukungan luar biasa dengan menyediakan 20 titik penampungan lumpur hasil pengerukan.

---

Proses Teknis dan Harapan Pasca-Pengerukan

Direktur Teknik Muhammad Fauzan Indrawan menjelaskan bahwa proses pengerukan menggunakan dua alat berat (satu di air dan satu di darat) dan dilakukan secara bertahap untuk menjaga kejernihan air. "Pengerukan dilakukan sedalam 1,5 meter hingga batas padas, dan kami perkirakan akan memakan waktu 1,5 hingga 2 bulan," jelasnya.

Setelah pengerukan selesai, Tugu Tirta akan berupaya menormalkan kembali aliran sungai agar flora dan fauna dapat tumbuh. Diharapkan, air dari Sungai Wendit dapat kembali dimanfaatkan masyarakat untuk keramba, hidroponik, hingga menjadi destinasi wisata baru dengan adanya warung kopi dan perahu di pinggir sungai.

---

Tanggapan Akademisi dan Legislatif

Guru Besar Teknik Pengairan UB, Prof. Bisri, mengapresiasi langkah Tugu Tirta. Ia menyoroti perubahan undang-undang sumber daya air dari tahun 2004 (revisi 2019) yang kini memprioritaskan *konservasi sumber daya air* sebelum pendayagunaan. "Apa yang dilakukan Tugu Tirta sudah tepat, yaitu memulai dari konservasi, walaupun informasinya sudah sangat terlambat," tegasnya.

Namun, Prof. Bisri juga mempertanyakan isu *kewenangan*. "Siapa yang punya kewajiban memelihara kali Wendit ini? Apakah kewenangannya Tugu Tirta, BBWS, atau pemerintah daerah? Hal ini penting agar pemeliharaan rutin dan berkala dapat terus dilakukan dan tidak terulang lagi," tambahnya.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Malang Dito Arief Nur Rahmadi, menegaskan bahwa masalah ini adalah *tanggung jawab bersama*. "Kita harus berkolaborasi dengan BBWS, Tugu Tirta, pemerintah Kota Malang, masyarakat, dan akademisi. Pemeliharaan rutin harus dianggarkan dan menjadi komitmen bersama, tidak hanya dari Tugu Tirta," pungkasnya.(*)

Fim
Jumat, 15/8/2025


https://jatimlines.id/pengerukan-sungai-wendit-tugu-tirta-kota-malang/
__

Kota Surabaya Luncurkan Program "Kampung Pancasila" untuk Tingkatkan Kolaborasi Warga dan Pemerintah


SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya meluncurkan program inovatif bertajuk "Kampung Pancasila" sebagai upaya menyempurnakan berbagai program kampung yang telah digagas sebelumnya. Program ini bertujuan untuk menyatukan dan mengintegrasikan beragam kegiatan OPD (Organisasi Perangkat Daerah) yang semula berjalan sendiri-sendiri, dengan mengedepankan semangat kolaborasi dan gotong royong di tengah masyarakat.

Dalam sebuah acara diskusi interaktif di Radio Suara Surabaya, Jumat, 15/8/2025, yang dihadiri oleh Kepala BPBD Surabaya Irvan Widyanto dan para camat, program ini dijelaskan sebagai wadah yang menaungi 1.360 RW, 153 kelurahan, dan 31 kecamatan. Filosofi utamanya, menurut Irvan, adalah kolaborasi menyeluruh—baik antar-OPD, antara ASN dengan warga, maupun antar-warga itu sendiri. "Ini adalah sebuah ide brilian dari Bapak Wali Kota, di mana tidak ada lagi sekat. Semua OPD terlibat dan berkolaborasi untuk empat sektor," ujarnya.

---

Empat Sektor dan Struktur Penanggulangan Masalah

Program Kampung Pancasila dibagi menjadi empat pilar utama:
1.  *Sektor Lingkungan* (dikoordinasi oleh Dinas Lingkungan Hidup)
2.  *Sektor Kemasyarakatan* (dikoordinasi oleh Satpol PP)
3.  *Sektor Ekonomi* (dikoordinasi oleh Dinas Koperasi dan Usaha Mikro)
4.  *Sektor Sosial Budaya* (dikoordinasi oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil)

Setiap Ketua RW otomatis menjabat sebagai Ketua Satgas Kampung Pancasila di wilayahnya. Mereka dibantu oleh empat kelompok kerja (pokja) yang beranggotakan tokoh-tokoh masyarakat. Sementara itu, para camat bertindak sebagai pengarah dalam program ini.

Untuk mendukung program, Pemkot Surabaya meluncurkan aplikasi *"Sayang Warga"*. Melalui aplikasi ini, Ketua RW dan RT dapat melakukan *self-assessment* untuk menilai kondisi kampungnya. Hasil penilaian ini akan mengkategorikan kampung mereka sebagai *pemula*, *berkembang*, atau *maju*. 

Irvan Widyanto menjelaskan bahwa program ini akan dilombakan, bukan sekadar untuk kompetisi, melainkan untuk memotivasi warga dalam mengatasi masalah secara gotong royong.

---

Peran ASN Pendamping dan Warga

Sebanyak 6.600 ASN pendamping diterjunkan langsung ke kampung-kampung untuk mendampingi dan mengawal Satgas di tingkat RW. Tugas utama mereka adalah menjadi fasilitator dan motivator bagi warga. Jika ditemukan masalah, ASN akan menganalisis apakah masalah tersebut bisa diselesaikan secara gotong royong atau memerlukan intervensi langsung dari OPD terkait. "Ketika di aplikasi muncul satu permasalahan, OPD wajib merespons," tegas Irvan.

Implementasi program ini mendapat sambutan positif dari warga, seperti yang disampaikan oleh Pak Rizal, Camat Pabean Cantikan. "Masyarakat sangat antusias. Mereka ingin kampungnya bersih, tidak ada masalah, dan sejahtera," katanya. Warga berharap program ini dapat mengembalikan semangat kolaborasi dan kepedulian sosial yang kian memudar.

Dengan adanya program Kampung Pancasila, Pemkot Surabaya berupaya menciptakan tatanan masyarakat yang lebih mandiri dan solutif. Program ini diharapkan dapat menjadi model kolaborasi yang efektif antara pemerintah dan warganya dalam menyelesaikan berbagai persoalan di tingkat akar rumput.(*)

Fim
Jumat, 15/8/2025

Celios Minta PBB Audit Data BPS, Pertumbuhan Ekonomi RI Dinilai Janggal



JAKARTA — Lembaga kajian ekonomi Center of Economics and Law Studies (Celios) secara resmi meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengaudit data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Celios mencurigai adanya inkonsistensi dan ketidakakuratan data, khususnya terkait angka pertumbuhan ekonomi 5,12% pada kuartal II tahun 2025 yang dinilai tidak sesuai dengan realita di lapangan.

Menurut Media Wahyudi Askar, Direktur Kebijakan Publik Celios, permintaan audit ini didasari oleh kebingungan banyak ekonom, pelaku usaha, dan masyarakat luas. Ia menyebutkan, prediksi dari studi lain seperti Reuters hanya menempatkan pertumbuhan ekonomi di angka 4,8%.

"Kami mengirim surat ke Divisi Statistik PBB dan Komisi Statistik PBB untuk meminta tinjauan diagnostik teknis terhadap kerangka pertumbuhan ekonomi Indonesia," ujar Media Wahyudi Askar. 

"Ini bukan untuk merusak citra pemerintah, melainkan murni pertimbangan akademik agar data BPS lebih akurat.

"Anomali Data yang Dipertanyakan Celios

Celios menemukan beberapa anomali signifikan dalam data BPS, antara lain:

Perdagangan dan Pendapatan Negara: 
BPS melaporkan pertumbuhan ekspor dan impor, namun pada saat bersamaan, Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) justru turun 22% secara year on year.

Musiman: 
Pertumbuhan kuartal I seharusnya lebih tinggi dari kuartal II karena adanya momentum Ramadan dan Idulfitri. Namun, data BPS menunjukkan sebaliknya.

Sektor Manufaktur: 
Pertumbuhan manufaktur yang diklaim BPS tidak sejalan dengan data Purchasing Manager's Index (PMI) yang turun. Selain itu, terjadi kenaikan PHK di sektor ini sebesar 32% selama Januari-Juni.

Penurunan Pajak dan Penjualan: Data retail diklaim membaik, namun data dari Kementerian Keuangan menunjukkan penerimaan PPN dan PPNBM anjlok 19,7%. Penjualan mobil turun 8,6% dan penjualan semen turun 2,5%, padahal BPS mengklaim sektor konstruksi menjadi tulang punggung ekonomi.

Dampak Buruk Ketiadaan Transparansi

Media Wahyudi Askar menegaskan, jika BPS tidak transparan dalam metodologi perhitungannya, hal ini bisa merusak kepercayaan publik dan merugikan negara. 

"Jika pertumbuhan dilebih-lebihkan, pemerintah bisa keliru dalam membuat kebijakan. Masyarakat yang seharusnya mendapat bantuan sosial lebih banyak, atau pelaku usaha yang butuh insentif, justru tidak mendapatkannya karena dianggap ekonomi baik-baik saja," jelasnya. 

Ia juga menambahkan, data yang tidak akurat dapat merusak reputasi Indonesia di mata internasional dan berdampak pada hubungan dengan investor.Celios menilai transparansi data pemerintah saat ini berada pada skala 1 dari 5, yang berarti sangat tidak transparan. Mereka berharap BPS mau membuka metodologinya secara terbuka agar diskursus akademik yang sehat dapat terjadi dan kepercayaan publik kembali pulih. (*)

Fim

Sumber:
https://youtu.be/fWNTVRgwLNE?si=B5e_o9IdLPUpqS1T
____

Telaga Kautsar: Janji Allah kepada Rasulullah untuk ummatnya di hari kiamat dan Peringatkan Umat untuk Tetap Istiqamah di Atas Sunnah



Kota Pasuruan — Kamis malam (14/8/2025), Masjid At-Taqwa Jagalan kembali menggelar pengajian rutin dengan menghadirkan Ustadz Anang Abdul Malik. Dalam kajian kali ini, beliau membahas makna dan hakikat *Telaga Kautsar*, sebuah nikmat agung yang dijanjikan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW di akhirat kelak.

Mengutip Surat Al-Kautsar ayat 1

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اِنَّاۤ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَ 

 *"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu (nikmat) Al-Kautsar"*, 

Ustadz Anang menjelaskan bahwa Al-Kautsar bukan hanya telaga istimewa di Padang Mahsyar, tetapi juga melambangkan kebaikan yang sangat banyak yang dianugerahkan Allah kepada Rasulullah SAW.

Dari hadits riwayat Anas bin Malik, telaga ini digambarkan luasnya bagaikan jarak antara Baitul Maqdis dan Ka’bah, dengan air lebih putih dari susu, lebih manis dari madu, dan harum semerbak. “Siapa pun yang meminum airnya tidak akan haus selamanya,” ujar beliau.

Hadits riwayat Anas bin Malik:
"Sungguh aku memiliki telaga yang luasnya bagai antara Eliya (Baitul Maqdis) dan Ka'bah. Airnya lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu. Di sana banyak wadah sebanyak bintang di langit." 

Namun, Ustadz Anang menekankan, tidak semua orang akan mendapat kehormatan meminum dari Telaga Kautsar. Berdasarkan hadits sahih riwayat Bukhari, ada golongan yang akan ditolak — termasuk mereka yang melakukan bid’ah, murtad, atau menyimpang dari akidah. Rasulullah sendiri dikisahkan akan menyaksikan penolakan tersebut di hari kiamat.

Hadits riwayat Bukhari:
"Akan ditolak sejumlah orang dari sahabat-sahabatku (dari telagaku kelak), sehingga ketika aku melihat mereka, mereka melambai-lambaikan tangan kepadaku, maka aku pun berkata, 'Kalian sahabat-sahabatku?' Tetapi kemudian ada teguran, 'Sesungguhnya kamu tidak tahu bid'ah-bid'ah yang telah mereka adakan sepeninggalmu'." 

“Ini menjadi peringatan agar kita tetap istiqamah mengikuti sunnah Nabi dan menjauhi hal-hal baru dalam agama yang tidak diajarkan beliau,” pesan Ustadz Anang.

Pengajian ini ditutup dengan doa bersama, memohon kepada Allah agar termasuk golongan yang kelak diizinkan minum dari Telaga Kautsar sebagai tanda rahmat dan ridha-Nya. (*)

Firnas Muttaqin 
Kamis, 14/8/2025
---

80 Tahun Indonesia Merdeka: Sejahtera atau Masih dalam Perdebatan?



SURABAYA – Memperingati 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, stasiun radio Suara Surabaya mengadakan survei dan diskusi interaktif dengan pendengar untuk menjawab pertanyaan krusial: "Sudah sejahterakah kita?" Diskusi ini menunjukkan beragam pandangan, mulai dari yang pesimis, optimis, hingga kebingungan dalam memberikan penilaian. (Kamis, 14/8/2025)

*Pandangan Para Pendengar: Mayoritas Belum Sejahtera*

Dalam segmen siaran, beberapa pendengar memberikan tanggapan. Mayoritas berpendapat Indonesia belum mencapai kesejahteraan.

* *Pak Wayan Widarse:* Mengkritik ketidakmerataan ekonomi, di mana "seribu orang menguasai 85% ekonomi Indonesia," membuat mayoritas rakyat tidak merasakan dampak pembangunan. Ia juga membandingkan GDP per kapita Indonesia yang masih tertinggal jauh dari negara tetangga seperti Malaysia.
* *Pak Jumadi:* Menegaskan bahwa persentase rakyat yang belum sejahtera masih sangat besar. Ia mendefinisikan kesejahteraan sebagai akses terhadap tempat tinggal layak, ekonomi stabil, pendidikan terjamin, dan lapangan pekerjaan yang memadai. Ia juga menyoroti korupsi yang marak sebagai tontonan menyakitkan.
* *Pak Eka:* Mengungkapkan kebingungan karena ia merasa kesejahteraan hanya dinikmati oleh para pejabat dan keluarga mereka, sementara rakyat menengah ke bawah masih jauh dari kata sejahtera.
* *Pak Agung:* Berpendapat bahwa kesejahteraan sulit tercapai jika rakyat masih "diperas" oleh berbagai macam pajak, padahal negara memiliki sumber daya alam yang melimpah.

Namun, ada pula pandangan yang lebih optimis dan beragam:
* *Pak Nawawi:* Merasa sudah sejahtera, terutama jika dibandingkan dengan kondisi 23 tahun yang lalu.
* *Pak Budiono:* Menyatakan "bingung" untuk menilai. Di satu sisi, ia melihat tidak ada orang yang kelaparan, bahkan di desa-desa pun banyak yang memiliki motor. Namun di sisi lain, ia mengakui adanya MBR (masyarakat berpenghasilan rendah) dan kemiskinan ekstrem, serta ekonomi yang sedang lesu.

*Data dan Analisis Pendukung*

Penyiar juga memaparkan beberapa data pendukung untuk memperkaya diskusi:
* *Survei Litbang Kompas 2022:* 70,4% responden menilai rakyat Indonesia belum sejahtera. Hasil ini konsisten di semua generasi.
* *Survei Tingkat Kebahagiaan 2024:* Indonesia berada di posisi keenam di Asia Tenggara, tertinggal dari Singapura, Vietnam, Thailand, Filipina, dan Malaysia.
* *Todung Mulya Lubis (2023):* Guru Besar Hukum ini menyoroti bahwa Indonesia sejak dulu memiliki sumber daya melimpah, namun pengelolaan ekonomi belum tepat. Gagasan *welfare state* (negara kesejahteraan) belum terimplementasi dengan baik, dan ide-ide brilian sering kali hanya menjadi bahan politik.
* *Data BPS Februari 2025:* Angka pengangguran Indonesia naik 83.000 orang, didukung oleh data dari Center of Economic and Law Studies yang menyebut defisit APBN dan utang jatuh tempo menjadi penyebab sulitnya pemerintah menciptakan lapangan kerja baru.

*Kesimpulan Diskusi*

Dari berbagai tanggapan dan data yang dipaparkan, diskusi di Suara Surabaya menunjukkan bahwa pertanyaan kesejahteraan di usia 80 tahun kemerdekaan bukanlah hal yang mudah dijawab. Kesejahteraan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari keadilan, ketersediaan lapangan kerja, dan meratanya akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan tempat tinggal. Perdebatan ini menyimpulkan bahwa meskipun ada kemajuan, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan agar seluruh rakyat Indonesia dapat merasakan kesejahteraan yang merata. (*)

Fim
Kamis, 14/8/2025

Peringatan Hari Pramuka 2025: Lebih dari Sekadar Seremonial, Pramuka sebagai Penjaga Kemanusiaan di Tengah Gejolak Sosial



Setiap tanggal 14 Agustus, jutaan anggota Pramuka di seluruh Indonesia merayakan hari kelahiran Gerakan Pramuka dengan penuh semangat. Namun, di tengah hiruk-pikuk perayaan Hari Pramuka ke-64 tahun 2025 ini, muncul sebuah refleksi mendalam: apakah Pramuka hanya sebatas kegiatan ekstrakurikuler, ataukah ia memiliki peran yang lebih besar sebagai penjaga moral dan kemanusiaan di tengah gejolak sosial masyarakat yang tertindas?

Gerakan Pramuka, dengan prinsip dasar dan metode pendidikannya, telah menanamkan nilai-nilai luhur seperti kemandirian, kepemimpinan, dan kepedulian sosial. Namun, dalam realitas saat ini—ketika ketidakadilan ekonomi, penyalahgunaan kekuasaan, dan diskriminasi masih menjadi wajah keseharian—peran Pramuka harus lebih dari sekadar slogan. Ia harus menjadi api kecil yang menyala di tengah gelapnya penindasan sosial.

Pramuka memiliki potensi strategis dalam tiga aspek utama:

1.  *Pendidikan Karakter dan Empati:* Melalui kegiatan bakti sosial, tanggap bencana, dan pengabdian masyarakat, Pramuka membentuk anggota yang memiliki empati tinggi. Mereka dilatih untuk memahami penderitaan orang lain secara langsung, menjadi modal penting untuk membangun solidaritas dengan masyarakat yang terpinggirkan.

2.  *Pemberdayaan dan Advokasi:* Dengan jejaring yang luas dari tingkat lokal hingga nasional, Pramuka dapat menjadi jembatan komunikasi antara masyarakat kecil dan pemangku kebijakan. Mereka bisa memfasilitasi pelatihan keterampilan, membantu literasi hukum, atau menggalang kampanye untuk mendukung hak-hak warga yang terpinggirkan.

3.  *Pelestarian Nilai Gotong Royong:* Di tengah krisis sosial, kegiatan Pramuka yang menuntut kerja sama dapat menjadi ruang untuk membangun kembali rasa saling percaya dan gotong royong, yang kian memudar di masyarakat yang terfragmentasi.

*Studi Kasus Konkret: Pramuka di Garis Depan Bencana*

Sejarah mencatat, Gerakan Pramuka telah menjadi garda terdepan dalam berbagai krisis kemanusiaan di Indonesia. Keberadaan mereka bukan hanya isapan jempol, melainkan tindakan nyata di lapangan:

* *Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah (Januari 2025):* Saat banjir melanda, anggota Pramuka sigap membantu evakuasi warga dan memperbaiki tanggul yang jebol.

* *Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat (Februari 2025):* Tim Satgas Pramuka Peduli menjadi pihak pertama yang mendistribusikan bantuan logistik kepada korban banjir di daerah terpencil.

* *Kabupaten Lumajang, Jawa Timur (2021):* Dalam penanganan erupsi Semeru, Pramuka berperan aktif dari evakuasi hingga pendampingan *trauma healing*. Keberhasilan ini bahkan diakui dengan Catatan Rekor MURI.

* *Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur:* Anggota Pramuka turut serta dalam operasi pencarian korban hilang dan evakuasi saat banjir bandang melanda, menunjukkan keberanian dan pengabdian di situasi paling genting.

Kisah-kisah ini menegaskan bahwa Pramuka bukan hanya organisasi pendidikan, melainkan sentinel kemanusiaan yang turun tangan saat masyarakat menghadapi krisis nyata.

Jika nilai-nilai *Tri Satya* dan *Dasa Darma* benar-benar dijalankan, maka Pramuka tidak akan menjadi sekadar kenangan masa sekolah. Ia akan menjadi bagian dari perjuangan rakyat untuk hidup bermartabat, menjadi pelita kecil yang menguatkan harapan bahwa keadilan dan kemanusiaan masih layak diperjuangkan.

Di tengah gelapnya penindasan sosial, Pramuka bisa menjadi api kecil yang menyalakan semangat untuk meraih keadilan. Selamat Hari Pramuka!   (*)

Fim
Kamis, 14/8/2025

Wednesday, August 13, 2025

Cahaya di Balik Beban: Renungan dari Kajian Tafsir Surah Al-Insyirah



Senja yang merayap di langit Pasuruan pada Rabu malam ini (13/8/2025)  bukan sekadar pergantian waktu, melainkan juga awal dari sebuah perenungan. Di Masjid Baitul Huda, Jalan Veteran 43, usai shalat Maghrib, para jamaah duduk tenang, siap menyerap butir-butir hikmah dari Ustadz HM Yusuf Hasmy, SE, yang malam ini mengupas tuntas tafsir Surah Al-Insyirah. Sebuah surah yang tak hanya menjadi oase bagi Nabi Muhammad ﷺ di masa sulit, melainkan juga lentera bagi setiap jiwa yang merasa terhimpit.

Ustadz Yusuf memulai kajian dengan mengurai makna ayat pertama, *"Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)?"* Ayat ini, menurut tafsir Ibnu Katsir, bukanlah pertanyaan retoris, melainkan sebuah janji dan karunia besar dari Allah. Ia adalah lapangnya hati, keluasan ilmu, dan keteguhan iman yang memungkinkan Nabi menghadapi tekanan dakwah dengan sabar dan ikhlas. Dalam konteks masa kini, "melapangkan dada" adalah anugerah yang harus terus kita mohonkan; sebuah ketenangan batin di tengah hiruk-pikuk dan masalah yang tak henti datang.

Selanjutnya, Ustadz Yusuf menghubungkan ayat kedua dan ketiga: *"Dan Kami pun telah menurunkan bebanmu darimu, yang memberatkan punggungmu."* Kalimat ini menggambarkan perjuangan berat yang dialami Rasulullah ﷺ di awal dakwah di Makkah. Beliau menghadapi penolakan, ejekan, bahkan ancaman fisik dari kaum Quraisy. Beban itu memang berat, namun Allah tidak pernah membiarkannya sendirian. Setiap cobaan datang bersama bimbingan wahyu dan pertolongan-Nya yang tak terduga, seolah Allah berfirman: "Aku melihat perjuanganmu, dan Aku akan meringankannya."

Yang paling menyentuh adalah pembahasan ayat keempat: *"Dan Kami tinggikan sebutan (nama)mu bagimu."* Ustadz Yusuf dengan fasih menjelaskan bagaimana janji ini telah terwujud secara nyata. Nama Muhammad ﷺ selalu disebut dalam setiap adzan, disandingkan dengan nama Allah. Jutaan umat bershalawat setiap hari, dan khutbah Jumat di seluruh penjuru dunia tak pernah absen menyebut nama beliau. Kemuliaan ini bukan sekadar penghormatan, melainkan bukti nyata dari janji Allah untuk mengangkat derajat hamba-Nya yang bersabar dan berjuang di jalan-Nya.

Namun, puncak dari pesan Surah Al-Insyirah terletak pada ayat kelima: *"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."* Ustadz Yusuf menekankan, pengulangan janji ini bukan untuk sekadar penegasan, melainkan untuk menanamkan keyakinan mendalam. Kemudahan itu tidak datang *setelah* kesulitan, melainkan *bersama* kesulitan itu sendiri. Di dalam setiap masalah, sejatinya telah disisipkan jalan keluar. Tugas kita hanyalah sabar, tawakal, dan terus berusaha.

Kajian malam ini ditutup dengan ajakan untuk meneladani ketabahan Nabi, memperbanyak dzikir, dan menjaga optimisme. Jamaah pulang bukan hanya dengan pengetahuan baru, melainkan juga dengan hati yang terasa lebih ringan. Mereka membawa pulang keyakinan abadi: bahwa di balik setiap beban yang memberatkan, selalu ada cahaya harapan yang menyertainya. (*)


Ditulis oleh Firnas
Rabu, 13/8/2025

https://www.pcmpanggungrejo.my.id/2025/08/cahaya-di-balik-beban-renungan-dari.html?m=1

---

Bumi 5D banyak manusia yang memilih jalan spiritual dan meninggalkan agama


Seorang teman di facebook baru-baru ini mengunggah sebuah  kalimat di akun facebooknya: "Bumi 5D banyak manusia yang memilih jalan spiritual dan meninggalkan agama".  

Saya termenung. Ada apa dengan teman saya ?. Ini adalah sebuah pernyataan yang mengaitkan dua konsep, yaitu "Bumi 5D" dan fenomena sosial di mana orang lebih memilih spiritualitas daripada agama.

Untuk memahami maksud kalimat ini, kita perlu memecah dua konsep tersebut:

1. Bumi 5D (Dimensi Kelima)

Dalam konteks spiritualitas modern dan gerakan Zaman Baru (New Age), konsep "Bumi 5D" merujuk pada pergeseran kesadaran kolektif manusia dari dimensi ketiga (3D) ke dimensi kelima (5D).

Dimensi 3D digambarkan sebagai realitas saat ini yang didominasi oleh ego, materialisme, dualitas (baik-buruk, benar-salah), ketakutan, dan konflik. Ini adalah dimensi fisik yang kita kenal sehari-hari.

Dimensi 5D diyakini sebagai realitas dengan tingkat getaran (vibrasi) yang lebih tinggi. Di dimensi ini, manusia hidup dengan kesadaran yang lebih tinggi, mengutamakan cinta, kasih sayang, persatuan, intuisi, dan koneksi spiritual yang mendalam. Mereka melepaskan diri dari ketakutan dan ego.

Jadi, "Bumi 5D" adalah metafora untuk era baru kesadaran dan evolusi spiritual di mana manusia secara kolektif mulai hidup dengan nilai-nilai yang lebih tinggi dan harmonis.

2. Memilih Jalan Spiritual dan Meninggalkan Agama

Bagian kedua dari kalimat ini merujuk pada fenomena yang semakin umum terjadi di banyak belahan dunia, di mana orang-orang merasa tidak lagi terhubung dengan agama-agama tradisional. Mereka sering kali melihat agama sebagai sesuatu yang kaku, dogmatis, penuh aturan, dan terkadang menjadi sumber konflik.

Spiritualitas dalam konteks ini adalah pencarian makna hidup, hubungan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri (Tuhan, alam semesta, atau energi universal), dan pengembangan diri secara batin, tanpa harus terikat pada dogma atau institusi keagamaan tertentu.

Meninggalkan agama berarti melepaskan diri dari praktik-praktik, ritual, atau keanggotaan dalam sebuah agama formal. Mereka mungkin tetap percaya pada Tuhan, tetapi cara mereka mendekati keyakinan itu bersifat personal dan non-institusional.

Maksud Keseluruhan Kalimat

Dengan menggabungkan kedua konsep tersebut, kalimat "Bumi 5D banyak manusia yang memilih jalan spiritual dan meninggalkan agama" memiliki maksud:
Pernyataan ini mengklaim bahwa seiring dengan terjadinya pergeseran menuju era baru kesadaran yang lebih tinggi (Bumi 5D), semakin banyak orang yang melepaskan diri dari batasan-batasan agama tradisional. Mereka memilih untuk mencari koneksi spiritual yang lebih personal, bebas, dan otentik, yang dianggap lebih sesuai dengan nilai-nilai cinta, persatuan, dan kesadaran yang diyakini sebagai ciri khas dimensi kelima.

Jadi, kalimat ini bukan sekadar observasi, tetapi sebuah keyakinan bahwa perubahan spiritualitas individu adalah bagian dari evolusi besar yang sedang dialami oleh planet dan umat manusia.

*5D Versus Islam*

Pernyataan "5D versus Islam" menyoroti perbedaan mendasar antara konsep spiritualitas "Bumi 5D" dan ajaran agama Islam. Kedua pandangan ini memiliki landasan filosofis dan praktis yang berbeda dalam menjelaskan realitas, tujuan hidup, dan hubungan manusia dengan alam semesta. 

Berikut adalah perbandingan dan kontras dari keduanya:

1. Sumber Ajaran dan Otoritas
5D (Spiritualitas Zaman Baru):

Konsep 5D tidak memiliki sumber otoritatif tunggal. Ajarannya berasal dari berbagai sumber, seperti intuisi pribadi, channeling, interpretasi metafisika, dan sintesis dari berbagai tradisi spiritual non-institusional. Otoritas tertinggi adalah kesadaran dan pengalaman individu itu sendiri.

Islam: Islam didasarkan pada dua sumber utama yang otentik dan mutlak: Al-Qur'an (wahyu Allah SWT) dan Sunnah (ajaran dan praktik Nabi Muhammad SAW). Kedua sumber ini menjadi pedoman utama dalam setiap aspek kehidupan, dari ibadah hingga moralitas. Otoritas berasal dari teks-teks suci dan penafsiran ulama yang kompeten.

2. Tujuan Utama Kehidupan

5D: Tujuan utama adalah evolusi kesadaran, yaitu "naik" ke dimensi yang lebih tinggi. Ini berfokus pada pengembangan diri, penguasaan energi, dan pencapaian kebahagiaan serta kedamaian batin melalui keselarasan dengan alam semesta.

Islam: Tujuan utama adalah beribadah kepada Allah SWT (‘ubudiyah) dan mencapai keridhaan-Nya. Kesuksesan sejati diukur dari bagaimana seorang Muslim menaati perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, dan pada akhirnya mendapatkan surga di akhirat. Dunia dipandang sebagai tempat ujian untuk mempersiapkan kehidupan abadi.

3. Konsep Tuhan dan Alam Semesta

5D: Konsep Tuhan bervariasi, sering kali bersifat panteistik atau panenteistik—yakni Tuhan adalah alam semesta itu sendiri atau Tuhan ada di dalam segala sesuatu. Kesadaran ilahi dianggap ada di dalam setiap individu.

Islam: Konsep Tuhan sangat tegas dan monoteistik (Tawhid). Allah SWT adalah satu-satunya Tuhan, pencipta, dan penguasa alam semesta. Ia bersifat transenden (berbeda dari ciptaan-Nya) namun imanen (dekat dan mengetahui segala sesuatu). Manusia adalah ciptaan-Nya, bukan bagian dari esensi ilahi itu sendiri.

4. Etika dan Moralitas

5D: Etika dan moralitas sering kali bersifat relatif dan didasarkan pada intuisi pribadi atau konsep "apa yang terasa benar". Penekanannya adalah pada cinta universal, kebebasan, dan non-penghakiman.

Islam: Etika dan moralitas bersifat absolut, ditetapkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an dan Sunnah. Ada batasan jelas tentang yang halal (diperbolehkan) dan haram (dilarang), serta perintah untuk berbuat baik kepada sesama, berbakti kepada orang tua, dan menjaga keadilan.

5. Penanganan Penderitaan dan Masalah

5D: Penderitaan sering dipandang sebagai akibat dari getaran energi yang rendah atau sebagai pelajaran untuk pertumbuhan spiritual. Solusinya adalah dengan menaikkan frekuensi energi dan mengubah perspektif internal.

Islam: Penderitaan dipandang sebagai ujian dari Allah SWT. Seorang Muslim diperintahkan untuk bersabar, bertawakal (berserah diri), dan berdoa. Keyakinan bahwa kesulitan akan diganjar pahala di akhirat memberikan kekuatan spiritual untuk menghadapinya.

*Kesimpulan*

Pada dasarnya, "5D" dan Islam mewakili dua pandangan dunia yang sangat berbeda. "5D" menawarkan kerangka kerja spiritual yang sangat personal, non-institusional, dan berfokus pada kesadaran internal serta energi. Sementara itu, Islam adalah sebuah agama yang komprehensif, berbasis wahyu, dengan aturan dan pedoman hidup yang jelas.

Bagi seorang Muslim, ajaran Islam sudah menyediakan kerangka spiritual yang lengkap, termasuk tentang ketenangan batin, kebahagiaan sejati, dan hubungan dengan Tuhan, sehingga konsep "Bumi 5D" sering kali dianggap tidak sesuai karena memiliki landasan teologis yang berbeda, terutama dalam hal konsep ketuhanan dan sumber hukumnya.

Jadi, konsep 5D ini tak beda dengan jargon yang pernah populer tempo dulu : *^Spiritual yes, religion no"*

Ya, kesimpulan Anda sangat tepat. Konsep "5D" dalam konteks pergeseran spiritualitas modern memang memiliki kemiripan yang sangat kuat dengan jargon populer "spiritual yes, religion no."

Berikut adalah beberapa alasan mengapa keduanya pada dasarnya adalah manifestasi dari pemikiran yang sama:

Fokus pada Pengalaman Individu: 

Baik "Bumi 5D" maupun "spiritual yes, religion no" sama-sama menempatkan pengalaman dan kesadaran pribadi sebagai pusat dari perjalanan spiritual. Mereka menekankan pentingnya intuisi, perasaan, dan koneksi langsung dengan alam semesta atau kekuatan yang lebih tinggi, tanpa perantara institusi keagamaan.
Kritik terhadap Institusi Agama: Keduanya muncul sebagai respons atau kritik terhadap apa yang dianggap sebagai kekurangan agama-agama tradisional, seperti dogmatisme, aturan yang kaku, hierarki yang korup, dan konflik yang sering kali muncul atas nama agama. Mereka melihat agama sebagai struktur yang membatasi, sementara spiritualitas dianggap membebaskan.

Pencarian Makna di Luar Doktrin: Orang-orang yang menganut "spiritual yes, religion no" mencari makna hidup dan ketenangan batin melalui praktik-praktik seperti meditasi, yoga, kesadaran penuh (mindfulness), atau pengembangan diri, yang sering kali tidak terikat pada doktrin agama tertentu. Hal ini sejalan dengan tujuan "naik" ke dimensi 5D yang juga berfokus pada kedamaian, cinta, dan keselarasan batin.

Konsep Universalitas: Konsep 5D menekankan persatuan dan keselarasan universal, di mana semua manusia adalah satu dan terhubung. Ini juga merupakan inti dari pandangan "spiritual yes, religion no" yang cenderung melintasi batas-batas agama dan budaya. Mereka lebih tertarik pada nilai-nilai universal seperti kasih sayang, perdamaian, dan kebaikan, daripada ritual atau dogma spesifik sebuah agama.

Dengan demikian, "Bumi 5D" bisa dianggap sebagai evolusi atau versi yang lebih modern dari jargon "spiritual yes, religion no," yang dilengkapi dengan istilah-istilah metafisika dan konsep dimensi yang lebih kompleks. Inti dari keduanya tetap sama: mencari kebenaran dan ketenangan spiritual secara personal, terlepas dari batasan-batasan agama yang terorganisasi.

Penulis: Firnas
Rabu, 13 Agustus 2025