SURABAYA – Ustadz Adi Hidayat (UAH) menyampaikan pandangan yang mencerahkan tentang makna ikhlas dan metodologi menuntut ilmu dalam Islam, pada Tabligh Akbar di Masjid Al Irsyad Surabaya, Ahad (9/11/2025). Menurutnya, motivasi untuk masuk surga dalam beramal justru merupakan bagian dari keikhlasan, sekaligus menekankan bahwa menuntut ilmu dengan landasan iman wajib diiringi dengan pemahaman mendalam, bukan sekadar hafalan.
Ikhlas dan Motivasi Surga: Dua Hal yang Beriringan
Di awal ceramahnya, UAH membongkar pemahaman keliru tentang ikhlas. Ia bertanya retoris kepada jamaah, "Kalau saya shalat karena ingin masuk surga, ikhlas tidak?"
Jawabannya tegas. "Ikhlas itu mengerjakan sesuatu karena Allah, karena maunya Allah. Allah perintahkan shalat kamu supaya ke surga. Karena saya ingin shalat ke Allah supaya ke surga, itu bagian dari ikhlas," jelas UAH di hadapan ribuan jamaah.
UAH menegaskan bahwa Al-Qur'an seringkali mendahulukan gambaran keutamaan (fadhilah) sebuah amalan, seperti janji surga bagi yang gemar beristighfar, sebelum memerintahkannya. Hal ini, kata dia, adalah "manhaj" atau metode Allah untuk memotivasi hamba-Nya.
Belajar dengan Iman: Level "Tafaqquh" dan Kritik Pedas untuk Sistem "SKS"
Beralih ke tema utama, UAH menekankan bahwa kunci sukses menuntut ilmu adalah landasan iman, sebagaimana seruan dalam Surah Al-Mujadalah ayat 11.
"Bukan hanya mencetak yang pintar. Kalau pintar banyak. Tapi apakah pintarnya menjadi berkah atau tidak itu hal lain," tegas UAH seraya menyoroti banyaknya orang pintar yang justru menyelewengkan ilmu.
UAH lalu memaparkan tiga level belajar dalam bahasa Arab:
1. Darasa: Belajar dasar, seperti anak TK/SD, fokus pada pengenalan tanpa tuntutan pemahaman mendalam.
2. Ta'allama: Belajar yang mulai serius dan menantang.
3. Tafaqqaha (Tafaqquh fiddin): Level tertinggi, yaitu belajar untuk pemahaman yang komprehensif dan mendalam. Inilah level yang wajib dituju seorang muslim.
UAH mengkritik keras budaya belajar "SKS" (Sistem Kebut Semalam) yang marak di kalangan pelajar dan mahasiswa.
"Wallahi syahadih, katanya orang-orang Indonesia itu muskilah (aneh). Saya belajar tiga bulan, teman saya dari Indonesia pinjam catatan saya semalam, besoknya dia dapat nilai delapan, saya tujuh," ujarnya menirukan keluhan seorang mahasiswa Afrika. "Ilmunya, yang tujuh ini melekat pada dirinya, yang delapan tadi hanya semalam selesai sampai di sini. Itu musibahnya."
Panduan Praktis: Duduk di Shaf Depan dan Pastikan Paham Sebelum Keluar Kelas
UAH juga memberikan panduan praktis bagi penuntut ilmu:
* Duduk di Shaf Depan: Posisi ini memudahkan konsentrasi, mendengar jelas, dan membangun keakraban yang sopan dengan pengajar.
* Fokus dan Penampilan Rapi: Datang dengan tujuan tunggal untuk belajar, bukan untuk "nyambi" atau sekadar ketemuan.
* Memastikan Pemahaman: "Jangan tinggalkan ruang kelas, jangan tinggalkan ruang masjid sebelum mengerti betul yang dipelajari," pesannya.
Ia juga menantang para pendidik untuk menerapkan metode konfirmasi. "Berapa guru yang memastikan anak didiknya paham sebelum keluar ruang kelas? Coba jelaskan lagi. Pendidikan seperti ini dipraktikkan di Eropa, mengambil warisan Andalusia."
Dengan penjelasan yang mendalam dan disampaikan secara linguistik yang apik, UAH menegaskan bahwa menuntut ilmu dalam Islam adalah ibadah yang memadukan kekuatan spiritual (iman dan ikhlas) dengan metodologi intelektual yang ketat (tafaqquh), untuk melahirkan ilmuwan yang tidak hanya pintar, tetapi juga membawa berkah bagi kehidupan. (*)
Penulis : Firnas Muttaqin
---
No comments:
Post a Comment