Pasuruan, 3 November 2025 – Kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Pasuruan menjadi tuan rumah pertemuan penting pada hari Senin (3/11/2025) yang melibatkan pimpinan dan delegasi dari Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kunjungan ini bertujuan untuk mempererat silaturahmi, menjajaki peluang kolaborasi, dan secara khusus, mendorong transformasi gerakan ekonomi Muhammadiyah dari skala personal menjadi kekuatan berjamaah (kolektif).
Delegasi dari Jogja dipimpin oleh Deni Asy'ari, M.A., dari Pimpinan Suara Muhammadiyah (SM) Yogyakarta, yang disambut langsung oleh Ketua PDM Kota Pasuruan, Dr. H. Abu Nasir, M.Ag., beserta jajaran pengurus.
💰 Menjawab Mitos Kegagalan Ekonomi Berjamaah
Dalam sambutannya, Deni Asy'ari menyoroti tantangan lama yang dihadapi Muhammadiyah terkait pengembangan ekonomi. "Mitosnya, Muhammadiyah cenderung gagal dalam membangun ekonomi secara berjamaah, meskipun secara personal, banyak tokoh Muhammadiyah yang terbukti sukses dan kaya," ujarnya.
Suara Muhammadiyah, sebagai bagian dari gerakan ini, mencoba mendobrak mitos tersebut melalui serangkaian pengembangan usaha yang terbukti berhasil, antara lain:
Penerbitan Majalah dan pengembangan media persyarikatan.
SM Corner dan Logmart (sejenis minimarket).
Kemajuan Resto, yang mengambil spesifikasi di area wisata pantai (seperti di Pacitan, dan Bantul). Deni Asy'ari bahkan menawarkan ide untuk membuat "Resto PDM Pasuruan" jika memungkinkan.
Pengembangan Bisnis Perhotelan (sudah ada di Jogja dan Kalimantan, serta sedang dalam pembangunan di Batam).
Poin kunci dari transformasi ini, menurut Deni Asy'ari, adalah kemampuan mengembangkan usaha-usaha besar minus tanpa hutang alias murni dari dana persyarikatan dan jamaah. Hal ini membuktikan bahwa ekonomi berbasis jamaah yang sebenarnya tidak perlu bergantung pada pinjaman.
🤝 Pasuruan Siap Gandeng Muhammadiyah Jogja
Menanggapi tantangan dan keberhasilan dari Jogja, Dr. H. Abu Nasir, M.Ag., mengungkapkan rasa syukurnya dan menyambut baik peluang kolaborasi. "Kami siap bergandengan dan digandeng untuk mewujudkan visi gerakan ekonomi ini," tegasnya.
Dr. Abu Nasir memaparkan sejumlah aset wakaf dan hibah di Kota Pasuruan, yang menunjukkan tingginya kepercayaan masyarakat – bahkan dari tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama (NU) – kepada Muhammadiyah dalam mengelola aset. Beberapa aset strategis yang disebutkan antara lain:
Kompleks Al Kautsar (Masjid dan TK/SD) yang berasal dari wakaf Haji Sadli, Almarhum (Madura).
Lahan Hibah seluas 1,3 hektare yang sedang diurus legalitasnya dan dimanfaatkan untuk Pondok SPEAM (Sekolah Pesantren).
Basmalah, sebuah usaha ritel (alfa-mart versi Basmalah) yang didirikan di atas tanah persyarikatan dan dikerjasamakan dengan pihak ketiga, sebagai salah satu upaya investasi awal PDM Pasuruan.
Namun, Dr. Abu Nasir juga mengakui adanya kelemahan sistem jaringan di tingkat pusat, yang membuat pengembangan usaha di daerah seringkali harus dilakukan secara bottom up dengan mengandalkan sumber daya sendiri. "Kami siap welcome kepada siapapun, termasuk Muhammadiyah Jogja, yang siap berinvestasi dan membangun di tanah-tanah kami," ujarnya.
💡 Fokus Pengembangan Media dan Area Komersial
Selain ekonomi, pertemuan ini juga menyoroti pentingnya pengembangan media persyarikatan. *Deni Asy'ari berharap, aktivitas PDM Pasuruan dapat lebih sering dipublikasikan di media Suara Muhammadiyah, untuk menghindari kesan "Jogja Sentris" atau "Jakarta Sentris" dan menunjukkan kiprah persyarikatan di Jawa Timur.*
Di akhir pertemuan, PDM Pasuruan mengemukakan rencana strategis untuk memanfaatkan aset mereka, termasuk merancang pembangunan Rest Area dan sentra warung di sekitar kawasan pendidikan, serta kebutuhan mendesak untuk segera membangun SMP Al Kautsar untuk menampung lulusan TK/SD yang sudah overload.
Kunjungan ini diakhiri dengan harapan bahwa silaturahmi ini akan meningkatkan intensitas kerjasama, mewujudkan gerakan ekonomi berjamaah yang kuat, dan menegaskan peran Muhammadiyah sebagai holding company dakwah dan ekonomi.
(*)
Firnas Muttaqin
No comments:
Post a Comment