Sunday, November 02, 2025

Tiga Pilar Wajib Youthpreneur: Inovasi, Kreativitas, dan Konsep Sustainability


PASURUAN, 2 November 2025
Di hadapan wirausahawan muda yang memadati Auditorium Mpu Sindok, Fianda Julyantoro, yang juga seorang *practitioner coaching* bersertifikat BNSP, menegaskan bahwa perubahan teknologi yang sangat cepat menuntut *youthpreneur* untuk selalu beradaptasi dan berinovasi.

“Saya sempat mengalami kerja tiga *shift*… karena tidak nyaman, saya akhirnya memutuskan untuk menjadi pengusaha,” kenang Fianda, yang memulai bisnis pertamanya pada tahun 2000 dan beberapa kali sukses menutup bisnis lama untuk membuka yang baru. Pengalamannya beralih dari jualan sepatu, buku, hingga menjadi *digital marketing expert* menunjukkan pentingnya daya adaptasi.

*Inovasi: Menciptakan Keunikan*

Fianda menjelaskan bahwa inovasi adalah menciptakan atau mengembangkan sesuatu yang baru. Ia mengambil contoh produk lokal yang hadir di forum tersebut.

Seorang peserta dengan produk *Tum Basreng* (Bakso Goreng Premium) menjelaskan bahwa keunggulan produknya terletak pada bumbu khas yang dibuat sendiri, bukan bumbu tabur instan. Sementara peserta lain dengan produk olahan jamur, *nakam asrum*, menginovasi jamur tiram menjadi *Sempol Jamur* dan *Nasi Bakar Jamur*.

> "Kalau jamur *crispy* itu biasa. Tapi kalau sudah berinovasi atau sudah menciptakan sesuatu yang baru dengan menggunakan sempol jamur atau nasi bakar jamur, ini sudah merupakan suatu proses inovasi," puji Fianda.

Fianda menekankan bahwa *kreativitas*—menemukan solusi unik terhadap tantangan—dan inovasi adalah mata rantai yang tidak terpisahkan, menjadi kebutuhan utama karena cepatnya perubahan teknologi dan kebutuhan konsumen yang semakin variatif.

*Sustainability: Bukan Hanya Mencari Cuan*

Pilar ketiga yang wajib dipegang teguh oleh pebisnis muda adalah Keberlanjutan (*Sustainability*). Menurut Fianda, konsep ini adalah tentang pengelolaan sumber daya saat ini sambil memikirkan dampak baik untuk generasi mendatang.

Ia menyentil praktik yang dianggap tidak ramah lingkungan dalam berbisnis. "Kadang-kadang kita masih menemukan kemasan itu yang di staples. Staples ini sudah tidak populer lagi karena tidak ramah lingkungan."

Lebih dari sekadar kemasan, *sustainability* harus mencakup etika bisnis dan aspek dampak sosial, di antaranya:
* **Ramah Lingkungan:** Menggunakan bahan baku daur ulang (seperti kain perca) atau produk organik, serta memikirkan pengolahan limbah.
* **Inklusif & Berdampak Sosial:** Melibatkan komunitas lokal, melakukan pemberdayaan (misalnya pemberdayaan perempuan atau disabilitas), atau menyumbangkan persentase keuntungan untuk panti asuhan.

*Tahapan Menuju Bisnis Berkelanjutan*

Untuk menerapkan konsep ini, Fianda menyarankan agar youthpreneur memulai dari:
1.  **Menemukan Ide:** Ide yang orisinal.
2.  **Riset Pasar:** Pastikan ada kebutuhan dan daya beli dari ide tersebut.
3.  **Merancang Konsep Bisnis Berkelanjutan:** Menentukan aspek *sustainability* apa yang akan diterapkan.
4.  **Strategi Pemasaran Beretika** dan **Kolaborasi:** Tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga membangun kemitraan yang menguntungkan semua pihak.

Fianda menutup materinya dengan dorongan untuk membangun *Brand Image* berdasarkan nilai-nilai keberlanjutan tersebut, menjadikannya nilai tambah di mata konsumen. (*)

Firnas Muttaqin

Tayang disini
https://mediaonlinenasional.com/tiga-pilar-wajib-youthpreneur-inovasi-kreativitas-dan-konsep-sustainability/


No comments: