KEDIRI – Di balik semangkuk bakso hangat yang dijajakan Pak Windu di Lamong Badas, Kediri, tersimpan sebuah narasi tentang ketahanan usaha mikro, dampak tak terduga sebuah pandemi, dan beban perjuangan yang ia sebut sebagai "mujadan".
Berdagang bakso bersama istrinya selama lebih dari tiga tahun, perjalanan usaha Windu penuh gelombang. Awal mula pandemi COVID-19 justru menjadi masa "nukmis" – rejeki tak terduga – baginya. "Awalnya kita kan nggak usaha gini, nyonya kan nggak pernah usaha seperti ini. Saya kan usaha pembibitan lele," kenangnya.
Puncaknya, omsetnya bisa menyentuh Rp 1-1,1 juta per hari selama hampir tujuh bulan. Namun, gemerlap itu tidak bertahan lama. "Habis itu, mulai ada orang ngganggu secara ghoib," ujarnya singkat, menandai fase penurunan yang kemudian mendorongnya bertahan di jalur kuliner.
Di balik kisah naik-turun omset, terselip sebuah perjuangan batin yang dalam. Windu menyebutnya "mujadan", sebuah istilah yang ia jelaskan sebagai perjuangan atau beban hidup yang dijalani sendiri. "Saya ibaratnya saya lakoni sendiri. Saya lawan sendiri, gangguan ghoib itu" tuturnya.
Dampak "mujadan" ini ternyata tidak hanya psikis, tetapi juga fisik. "Ngefek itu kalau saya, gimana sih, kalau saya mau jantai sendiri. Di badan saya itu loh yang ngefek. Sumpah kecewa itu... Kadang itu sampai nyetrum," paparnya, menggambarkan betapa beban usaha ini terasa secara kongkret di tubuhnya. Meski secara logika sulit dijelaskan, baginya ini adalah fakta yang harus dihadapi.
Tata Kelola Sederhana dan Realitas Usaha Mikro
Sebagai cerminan usaha mikro yang khas, Windu mengelola bisnisnya dengan sistem yang sederhana. Pencatatan keuangan hanya berupa "coretan", dan ia tidak memiliki izin usaha resmi. "Sebenarnya itu kan tergantung individunya. Kalau mau ngurus juga bisa. Tapi kalau nggak ngurus juga nggak apa-apa," ujarnya, mencerminkan fleksibilitas sekaligus kerapuhan sistem administrasi di tingkat usaha paling dasar.
Meski skalanya kecil, Windu tetap memenuhi kewajiban finansialnya. Kreditnya di PNM (PNM Mekaar) ia bayar dengan lancar. "Lancar, ya? Ya, lancar. Itu kan nggak bisa berhenti," katanya.
Berbeda dengan usaha lele sebelumnya yang bisa mempekerjakan hingga lima orang, usaha bakso ini hanya dijalankan oleh pasangan suami-istri tanpa melibatkan karyawan tetap. "Sementara nggak ada," jawabnya ketika ditanya apakah usahanya menyerap tenaga kerja warga sekitar.
Metafora Keterputusan Digital
Di akhir wawancara, sebuah metafora tak terduga muncul. Pewawancara mengalami kendala teknis – aplikasi yang error dan perangkat dengan RAM terbatas yang enggan menyimpan data. "HP saya RAM-nya 2. Nggak bisa mungkin," kata Windu, yang justru memahami keterbatasan teknologi ini.
Insiden teknis ini seperti menjadi gambaran kecil dari tantangan yang dihadapi pelaku usaha mikro seperti Windu: berada di pinggiran sistem digital yang semakin maju, namun harus terus bertahan dengan segala keterbatasan.
Dengan segala "mujadan"-nya, Windu dan istrinya terus bertahan. "Alhamdulillah," ucapnya, sebuah ungkapan syukur yang sederhana namun penuh makna, mewakili semangat juang para pelaku usaha mikro Indonesia yang terus berdaya dalam gelombang ketidakpastian ekonomi. (*)
No comments:
Post a Comment