Saturday, October 17, 2026

Makna Keimanan dan Sikap terhadap Agama


TUBAN — Pengajian tafsir Al-Qur’an yang digelar di Masjid Al Fajri Tuban pada Sabtu malam, 17 Oktober 2026, diisi dengan kajian Surah Al-Maidah ayat 54–58 oleh Ustadz Saiun Ngalim. Dalam kajian tersebut, ia menjelaskan sejumlah pesan tentang keteguhan iman, konsekuensi murtad, karakter orang beriman, serta pentingnya menjaga kehormatan agama agar tidak dijadikan bahan olok-olok dan permainan.

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْـنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗۤ ۙ اَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ ۖ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَا فُوْنَ لَوْمَةَ لَآئِمٍ ۗ ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ وَا سِعٌ عَلِيْمٌ

"Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui."
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 54)

Mengawali pembahasan ayat 54, Ustadz Saiun Ngalim menerangkan bahwa Allah SWT telah mengabarkan kemungkinan adanya sebagian orang beriman yang berbalik dari agamanya. Namun, keadaan tersebut tidak akan menghentikan perjuangan agama Allah. Allah akan menggantikan mereka dengan kaum yang dicintai-Nya dan mencintai-Nya.

Menurutnya, ayat tersebut juga menggambarkan karakter orang-orang beriman yang memiliki sikap rendah hati terhadap sesama muslim, tetapi tegas terhadap pihak yang memusuhi agama. Mereka juga memiliki semangat untuk berjuang di jalan Allah serta tidak takut terhadap celaan orang lain.

“Allah akan mendatangkan suatu kaum yang dicintai oleh Allah dan mereka pun mencintai-Nya,” jelasnya saat menerangkan kandungan ayat tersebut.

Ia kemudian menghubungkan ayat itu dengan peristiwa setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq menjabat sebagai khalifah. Pada masa tersebut, muncul kelompok yang menolak membayar zakat dan sebagian orang yang keluar dari Islam. Selain itu, muncul pula Musailamah Al-Kadzdzab yang mengaku sebagai nabi.

Ustadz Saiun menjelaskan bahwa peristiwa tersebut menjadi salah satu contoh sejarah yang berkaitan dengan pembahasan tentang kemurtadan dan keteguhan umat Islam dalam menjaga ajaran agama.

Dalam penjelasannya, ia juga mengutip pesan kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang menekankan pentingnya kejujuran, amanah, dan kesediaan menerima koreksi. Seorang pemimpin, menurut pesan tersebut, perlu mendapat dukungan ketika menjalankan kebaikan dan harus diluruskan apabila melakukan kesalahan.

Shalat dan zakat sebagai bagian penting keimanan

اِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوا الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَهُمْ رَا كِعُوْنَ

"Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang melaksanakan sholat dan menunaikan zakat, seraya tunduk (kepada Allah)."
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 55)

Memasuki pembahasan ayat 55, Ustadz Saiun Ngalim menjelaskan bahwa Allah SWT, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman merupakan pihak yang menjadi penolong bagi orang beriman. Ia menyoroti penyebutan salat dan zakat dalam ayat tersebut sebagai dua kewajiban yang memiliki kedudukan penting dalam kehidupan seorang muslim.

Menurutnya, Al-Qur’an kerap menyandingkan perintah mendirikan shalat dengan menunaikan zakat. Keduanya tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia kepada Allah, tetapi juga mencerminkan tanggung jawab sosial seorang muslim.

Ia juga menjelaskan bahwa ibadah sunah dapat menjadi penyempurna bagi ibadah wajib. Karena itu, umat Islam didorong untuk menjaga kewajiban sekaligus memperbanyak amalan sunah sebagai bagian dari upaya menyempurnakan kualitas keimanan.

“Kesempurnaan iman seseorang juga terlihat ketika amalan-amalan sunah dikerjakan sebagai penyempurna ibadah yang wajib,” demikian penjelasan yang disampaikan dalam kajian tersebut.

Agama tidak boleh dijadikan bahan olok-olok

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَـتَّخِذُوا الَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا دِيْنَكُمْ هُزُوًا وَّلَعِبًا مِّنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَا لْـكُفَّا رَ اَوْلِيَآءَ ۚ وَا تَّقُوا اللّٰهَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan pemimpinmu orang-orang yang membuat agamamu jadi bahan ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu dan orang-orang kafir (orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang beriman."
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 57)

وَ اِذَا نَا دَيْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ اتَّخَذُوْهَا هُزُوًا وَّلَعِبًا ۗ ذٰلِكَ بِاَ نَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْقِلُوْنَ

"Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (melaksanakan) sholat, mereka menjadikannya bahan ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka orang-orang yang tidak mengerti."
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 58)

Pembahasan selanjutnya beralih pada ayat 57-58 Surah Al-Maidah, yang berisi peringatan agar orang-orang beriman tidak menjadikan pihak yang memperolok-olok agama sebagai awliya, yakni pihak yang dijadikan pelindung atau pemimpin dalam konteks ayat tersebut.

Ustadz Saiun menjelaskan bahwa ayat ini mengingatkan umat Islam untuk berhati-hati dalam menentukan pihak yang dijadikan panutan, terutama apabila pihak tersebut menjadikan agama sebagai bahan ejekan dan permainan.

Menurutnya, persoalan tersebut berkaitan dengan keteguhan iman dan arah kehidupan seseorang. Oleh sebab itu, umat Islam perlu memahami ajaran agamanya dengan baik agar tidak mudah terpengaruh oleh sikap yang merendahkan nilai-nilai agama.

Ia juga mengingatkan bahwa menjaga keimanan tidak seharusnya dilakukan secara setengah-setengah. Komitmen terhadap agama perlu diwujudkan melalui keyakinan, ibadah, dan perilaku sehari-hari.

Pesan tersebut, lanjutnya, bukan sekadar persoalan hubungan dengan orang lain, melainkan juga menyangkut bagaimana seorang muslim mempertahankan prinsip keimanan di tengah berbagai keadaan.

Memperkuat iman melalui pemahaman Al-Qur’an

Melalui kajian Surah Al-Maidah ayat 54–58, Ustadz Saiun Ngalim mengajak jamaah untuk memahami hubungan antara keimanan, amal ibadah, dan sikap dalam kehidupan bermasyarakat.

Ia menekankan pentingnya menjaga shalat dan zakat, membangun hubungan yang baik dengan sesama muslim, bersikap tegas dalam mempertahankan prinsip agama, serta tidak menjadikan ajaran Islam sebagai bahan permainan.

Kajian tersebut juga mengingatkan jamaah bahwa pemahaman terhadap Al-Qur’an perlu disertai upaya mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. (*)

FIRNAS MUTTAQIN

Sunday, October 11, 2026

Menjaga Persaudaraan dan Kedewasaan dalam Beragama

TUBAN – Pengajian Ahad Pagi di Masjid Darussalam, Tuban, Minggu (11/10/2026), diisi dengan kajian Ustadz Afifun Nidlom yang membahas pentingnya berpegang teguh pada sunah Nabi Muhammad SAW, menjaga persaudaraan, serta menghindari perselisihan dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat.

Dalam kajiannya, Ustadz Afifun mengawali pembahasan dengan hadis yang diriwayatkan dari sahabat Irbad bin Sariyah. Hadis tersebut menceritakan nasihat Rasulullah SAW setelah melaksanakan salat Subuh. Nasihat itu membuat para sahabat terharu dan menggetarkan hati mereka hingga merasa seolah-olah sedang mendengarkan pesan perpisahan.

Rasulullah SAW kemudian berwasiat agar umat Islam senantiasa bertakwa kepada Allah, mendengar dan menaati pemimpin dalam perkara yang benar, serta berpegang teguh pada sunah beliau dan sunah para khalifah yang mendapat petunjuk.

Menurut Ustadz Afifun, pesan tersebut relevan untuk menghadapi berbagai perbedaan dan perselisihan yang terjadi di tengah kehidupan umat Islam. Perbedaan pandangan tidak semestinya menjadi alasan untuk saling merendahkan, menutup ruang dialog, atau meniadakan kelompok lain.

Menjaga Tradisi dan Menghindari Sikap Ekstrem

Ustadz Afifun juga menyoroti pentingnya memahami hubungan antara ajaran agama, tradisi masyarakat, dan penerapan hukum. Ia menjelaskan bahwa tradisi yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam penetapan hukum.

Ia mengutip kaidah fikih al-'adah muhakkamah, yang berarti adat kebiasaan dapat menjadi pertimbangan hukum selama memenuhi ketentuan yang berlaku dan tidak bertentangan dengan dalil syariat.

Dalam konteks kehidupan umat Islam di Indonesia, ia mengajak jamaah untuk mengembangkan cara beragama yang terbuka terhadap dialog dan perbedaan. Menurutnya, semangat beragama seharusnya mendorong umat untuk saling memahami, bukan membangun sekat berdasarkan kelompok atau pilihan tokoh tertentu.

Ia juga mengingatkan agar umat tidak menjadikan sosok atau kelompok tertentu sebagai pusat kebenaran secara berlebihan hingga menutup diri dari pandangan lain yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Jangan sampai pengajian-pengajian kita menjadi alat pemisah, tetapi menjadikan kita saling mencintai dan saling menguatkan satu sama lain,” demikian inti pesan yang disampaikan dalam kajian tersebut.

Menghindari Penyakit Hati dan Memperkuat Persaudaraan

Pada bagian berikutnya, Ustadz Afifun menguraikan sejumlah sifat yang dapat merusak kehidupan umat, di antaranya persaingan yang tidak sehat, kedengkian, dan permusuhan.

Ia menjelaskan bahwa persaingan dalam kehidupan sosial maupun ekonomi dapat berkembang menjadi kedengkian apabila seseorang tidak mampu menerima keberhasilan orang lain. Karena itu, umat Islam perlu membangun sikap saling menghargai dan menjauhi keinginan untuk menjatuhkan sesama.

Selain kedengkian, ia mengingatkan bahaya pertikaian yang dipicu oleh emosi dan keinginan membalas perlakuan orang lain. Sikap tersebut, jika dibiarkan, dapat merusak hubungan persaudaraan dan memicu perpecahan di tengah masyarakat.

Ustadz Afifun kemudian mengaitkan pesan itu dengan hadis tentang pentingnya menumbuhkan kecintaan antarsesama. Ia menekankan bahwa menyebarkan salam tidak cukup dimaknai sebagai ucapan, tetapi perlu diwujudkan melalui perilaku yang mencerminkan kedamaian, kepedulian, dan ketulusan.

Menurutnya, umat Islam perlu memastikan bahwa aktivitas keagamaan, termasuk pengajian, benar-benar membawa dampak positif terhadap perilaku sehari-hari. Bertambahnya pengetahuan agama semestinya diikuti dengan perbaikan akhlak dan hubungan sosial.

Peran Keluarga dalam Membentuk Karakter Anak

Dalam kajian tersebut, Ustadz Afifun turut menekankan pentingnya peran keluarga, terutama orang tua, dalam membentuk karakter anak. Ia mengingatkan para ayah agar hadir dalam kehidupan emosional dan pendidikan anak, bukan hanya memenuhi kebutuhan materi.

Ia menilai keteladanan orang tua memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan perilaku anak. Nasihat yang diberikan kepada anak perlu disertai contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari cara berbicara, menyelesaikan masalah, hingga memperlakukan orang lain.

Menurutnya, persoalan keluarga juga perlu dilihat secara menyeluruh. Ketika menghadapi kesulitan dalam kehidupan, termasuk persoalan ekonomi, keluarga perlu melakukan evaluasi terhadap komunikasi, hubungan antara suami dan istri, serta hubungan dengan anggota keluarga lainnya.

Ia mengajak jamaah untuk memperbaiki hubungan di dalam keluarga sebagai bagian dari ikhtiar membangun kehidupan yang lebih baik.

Mengajak Jamaah Berpartisipasi dalam Demokrasi

Pembahasan juga menyentuh persoalan kepemimpinan dan partisipasi masyarakat dalam demokrasi. Ustadz Afifun mengingatkan bahwa pemilihan pemimpin perlu mempertimbangkan akhlak, integritas, dan kemampuan calon dalam menjalankan tanggung jawabnya.

Ia mengajak masyarakat agar tidak menghabiskan energi hanya untuk memperdebatkan persoalan politik yang berpotensi memecah hubungan sosial. Sebaliknya, masyarakat perlu tetap berpartisipasi dalam proses demokrasi secara bertanggung jawab.

Menurutnya, sikap tidak menggunakan hak pilih dapat memberikan ruang lebih besar bagi kelompok lain untuk menentukan hasil pemilihan. Karena itu, partisipasi warga menjadi bagian penting dalam kehidupan berdemokrasi.

Ia juga mengingatkan agar perbedaan pilihan politik tidak merusak persaudaraan, baik di lingkungan masyarakat, organisasi, maupun keluarga.

Menjelaskan Persoalan Penentuan Waktu Salat Subuh

Menjelang akhir kajian, Ustadz Afifun menjelaskan persoalan penentuan waktu salat Subuh, khususnya terkait penggunaan hasil pengamatan astronomis. Ia menyampaikan bahwa penentuan waktu salat memerlukan dasar pengamatan dan perhitungan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ia menjelaskan bahwa pengamatan terhadap posisi Matahari dilakukan untuk memastikan masuknya waktu Subuh. Dalam pemaparannya, ia menyinggung penggunaan teleskop dan pengamatan selama satu tahun sebagai bagian dari proses pengumpulan data.

Menurutnya, kepastian masuknya waktu salat merupakan hal penting karena masuk waktu menjadi salah satu syarat sah salat. Oleh sebab itu, pembahasan mengenai penentuan waktu salat perlu didasarkan pada kajian ilmiah dan pertimbangan keagamaan.

Melalui kajian Ahad Pagi tersebut, Ustadz Afifun Nidlom mengajak jamaah Masjid Darussalam Tuban untuk menjadikan ajaran Islam sebagai landasan dalam membangun akhlak, menjaga persaudaraan, memperkuat keluarga, serta menyikapi perbedaan secara dewasa.

Pesan utama kajian tersebut adalah bahwa pemahaman agama perlu tercermin dalam perilaku. Semangat beragama hendaknya melahirkan sikap saling menghormati, kepedulian terhadap sesama, dan kehidupan masyarakat yang lebih harmonis. (*)

FIRNAS MUTTAQIN

Saturday, October 10, 2026

Tafsir Al-Ma’idah Ayat 51–53, Ustadz Saiun Ngalim Bahas Loyalitas dan Keteguhan Iman

TUBAN — Pengajian Sabtu Ba'da Maghrib dan (10/1/2026) Tafsir Jalalain di Masjid Al Fajri, Tuban, membahas kandungan Surah Al-Ma’idah ayat 51–53. Dalam kajian tersebut, Ustadz Saiun Ngalim menguraikan persoalan loyalitas, keberpihakan, dan keteguhan iman dalam menyikapi berbagai kepentingan.

 يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَا لنَّصٰرٰۤى اَوْلِيَآءَ ۘ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۗ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِ نَّهٗ مِنْهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin(mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."

(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 51)

Pembahasan ayat 51 menyoroti peringatan Allah SWT kepada orang-orang beriman agar tidak memberikan loyalitas kepada pihak yang bertentangan dengan prinsip keimanan sebagaimana dijelaskan dalam ayat tersebut.

Dalam penjelasannya, Ustadz Saiun Ngalim menekankan pentingnya memahami makna awliya sesuai konteks ayat dan penafsiran ulama.

Inti penjelasan tersebut mengingatkan bahwa keberpihakan tidak semestinya ditentukan semata-mata oleh kepentingan pribadi, melainkan harus mempertimbangkan prinsip agama dan sikap terhadap kebenaran.

فَتَـرَى الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ يُّسَا رِعُوْنَ فِيْهِمْ يَقُوْلُوْنَ نَخْشٰۤى اَنْ تُصِيْبَـنَا دَآئِرَةٌ ۗ فَعَسَى اللّٰهُ اَنْ يَّأْتِيَ بِا لْفَتْحِ اَوْ اَمْرٍ مِّنْ عِنْدِهٖ فَيُصْبِحُوْا عَلٰى مَاۤ اَسَرُّوْا فِيْۤ اَنْفُسِهِمْ نٰدِمِيْنَ

"Maka, kamu akan melihat orang-orang yang hatinya berpenyakit segera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, "Kami takut akan mendapat bencana." Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya, sehingga mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka."

(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 52)

Pembahasan kemudian berlanjut pada Surah Al-Ma’idah ayat 52, yang menggambarkan sikap orang-orang yang diliputi keraguan dan menjalin hubungan dengan pihak lain karena khawatir tertimpa kesulitan.

Ayat tersebut menjelaskan alasan berupa kekhawatiran terhadap kemungkinan datangnya musibah atau perubahan keadaan. Dalam tafsir yang dibahas, sikap itu dikaitkan dengan lemahnya keyakinan dan ketidakmantapan dalam menentukan keberpihakan.

Ustadz Saiun Ngalim juga menguraikan bahwa Allah SWT berkuasa mendatangkan kemenangan maupun keputusan-Nya sehingga perkara yang tersembunyi dapat menjadi jelas.

Pesan yang dapat dipetik dari penjelasan ayat ini adalah bahwa ketakutan terhadap keadaan dan kepentingan sesaat tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan keteguhan dalam memegang prinsip yang diyakininya.

وَيَقُوْلُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَهٰۤؤُلَآ ءِ الَّذِيْنَ اَقْسَمُوْا بِا للّٰهِ جَهْدَ اَيْمَا نِهِمْ ۙ اِنَّهُمْ لَمَعَكُمْ ۗ حَبِطَتْ اَعْمَا لُهُمْ فَاَ صْبَحُوْا خٰسِرِيْنَ

"Dan orang-orang yang beriman akan berkata, "Inikah orang yang bersumpah secara sungguh-sungguh dengan (nama) Allah bahwa mereka benar-benar beserta kamu?" Segala amal mereka menjadi sia-sia sehingga mereka menjadi orang yang rugi."

(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 53)

Selanjutnya, Surah Al-Ma’idah ayat 53 menggambarkan keadaan ketika orang-orang beriman mempertanyakan sikap pihak-pihak yang sebelumnya bersumpah akan bersama mereka. Ketika kenyataan menunjukkan hal yang berbeda, terbukalah keadaan sebenarnya dan tampak kerugian yang mereka alami.

Dalam pembahasan ini, jamaah diajak memperhatikan pentingnya kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. Pernyataan keberpihakan harus dibuktikan melalui sikap yang konsisten, bukan sekadar ucapan atau sumpah.

Rangkaian ayat 51–53 tersebut memberikan pelajaran tentang keteguhan iman, kejujuran, dan kehati-hatian dalam menentukan loyalitas. Pemahaman terhadap ayat-ayat ini juga perlu memperhatikan konteks turunnya ayat serta penjelasan para ulama agar penerapannya tidak terlepas dari maksud Al-Qur’an.

Melalui pengajian Tafsir Jalalain ini, jamaah Masjid Al Fajri Tuban diharapkan dapat memperdalam pemahaman terhadap kandungan Al-Qur’an dan mengambil pelajaran yang relevan untuk kehidupan sehari-hari.

Firnas Muttaqin

Tuesday, October 06, 2026

Kajian surah Yaa Siin : Hari Kebangkitan dan Pentingnya Berpegang pada Al-Qur’an

Kopen, Penambangan — Selasa, 6 Oktober 2026. Kajian rutin di Masjid Haifa Yusuf, Kopen, Penambangan, membahas tentang kehidupan setelah kematian, hari kebangkitan, serta pentingnya meningkatkan keimanan dan amal saleh.

Kajian yang disampaikan Ustadz Nurul Yaqin, S.H. tersebut merujuk pada sejumlah ayat Al-Qur’an, di antaranya Surat Yasin, Al-'Ashr dan Ar-Rahman, serta hadis.

Dalam kajiannya, Ustadz Nurul Yaqin menjelaskan bahwa bertambahnya usia merupakan bagian dari ketetapan Allah. Kondisi manusia yang semakin lemah seiring bertambahnya usia menjadi salah satu tanda kekuasaan Allah sebagaimana disebutkan dalam Surat Yasin.

Pembahasan kemudian berlanjut mengenai hari kebangkitan. Menurutnya, keimanan terhadap adanya kehidupan setelah kematian merupakan bagian dari keimanan seorang Muslim. Allah SWT berkuasa membangkitkan kembali manusia setelah kematian, sebagaimana Dia menciptakan manusia sejak awal.

Pada hari kebangkitan, setiap manusia akan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya. Ustadz Nurul Yaqin menjelaskan bahwa anggota tubuh manusia akan menjadi saksi atas apa yang telah dilakukan selama hidup di dunia. Tangan, kaki, mata dan anggota tubuh lainnya akan memberikan kesaksian di hadapan Allah.

Ia juga mengingatkan bahwa kehidupan dunia memiliki konsekuensi atas setiap perbuatan. Sebagaimana pelanggaran hukum di dunia memiliki sanksi, manusia juga akan mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Allah SWT.

Kajian juga membahas perbedaan nasib antara orang yang beriman dan beramal saleh dengan orang yang mengingkari kebenaran. Orang beriman mendapatkan balasan berupa surga, sedangkan orang yang mendustakan dan mengingkari Allah mendapatkan balasan berupa neraka.

Dalam pembahasan mengenai kehidupan akhirat, disampaikan pula gambaran dialog antara penghuni surga dan penghuni neraka. Penghuni neraka digambarkan mengalami penyesalan karena dahulu tidak menggunakan pendengaran dan akalnya untuk menerima kebenaran.

Sementara itu, surga digambarkan sebagai tempat yang penuh kenikmatan dan menjadi tempat tinggal yang kekal bagi orang-orang yang mendapatkan rahmat Allah. Ustadz Nurul Yaqin menekankan bahwa seorang Muslim tidak boleh hanya mengandalkan amalnya, tetapi juga harus berharap kepada rahmat Allah SWT.

Menurutnya, salah satu jalan untuk memperoleh rahmat Allah adalah dengan berpegang teguh kepada Al-Qur’an, antara lain dengan membaca, mendengarkan, mempelajari, dan mengamalkan kandungannya.

Kajian juga mengingatkan pentingnya mendoakan orang tua dan menjaga hubungan keluarga. Anak yang saleh dapat menjadi sebab kebaikan bagi orang tuanya, termasuk melalui doa dan amal yang dilakukan untuk mereka.

Pada bagian lain, Ustadz Nurul Yaqin menyampaikan tentang tiga fase penyesalan orang yang mengingkari Allah, yaitu ketika menghadapi kematian, saat dibangkitkan pada hari kiamat, dan ketika menerima balasan di akhirat.

Sebagai salah satu amalan yang dianjurkan, jamaah diajak membiasakan membaca Sayyidul Istighfar pada pagi dan sore hari. Doa tersebut berisi pengakuan atas nikmat Allah, pengakuan terhadap dosa, serta permohonan ampun kepada-Nya.

Kajian ditutup dengan pembahasan Surat Al-'Ashr yang mengingatkan bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.

Ustadz Nurul Yaqin mengajak jamaah untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Pesan tersebut menjadi penutup kajian sekaligus pengingat agar nilai-nilai keimanan tidak hanya dipahami, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. (*)

Sunday, October 04, 2026

Menjernihkan Hati, Menguatkan Iman

TUBAN, 4 Oktober 2026 — Pengajian Keluarga Ahad Pagi yang digelar di Masjid Darussalam, Tuban, Minggu (4/10/2026), berlangsung dengan penuh khidmat. Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Fathur Rahman mengajak jamaah untuk memperkuat iman, menjaga kebersihan hati, serta menjadikan dzikir dan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Dalam tausiyahnya, Ustadz Fathur Rahman mengawali pembahasan dengan pentingnya mengatur waktu, khususnya dalam berdzikir dan mempersiapkan diri sebelum masuk waktu salat.

Menurutnya, kebiasaan berdzikir sebelum azan menunjukkan adanya kesungguhan seseorang dalam mengatur waktu sekaligus menjaga hubungan dengan Allah SWT.

Ia juga mengingatkan jamaah untuk senantiasa bersyukur ketika memperoleh nikmat dan kebahagiaan. Sementara ketika menghadapi ujian, seseorang hendaknya mengedepankan kesabaran.

Namun, dalam kehidupan sehari-hari, seseorang juga tidak jarang menghadapi kondisi bingung, gelisah, dan tidak mengetahui langkah yang harus diambil. Dalam kondisi tersebut, menurut Ustadz Fathur Rahman, seorang Muslim hendaknya kembali kepada petunjuk Allah SWT.

Iman Menjadi Petunjuk bagi Hati

Mengutip kandungan Surat At-Taghabun ayat 11, Ustadz Fathur Rahman menjelaskan bahwa keimanan dapat menjadi petunjuk bagi hati seseorang.

“Barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya,” demikian inti pesan ayat yang disampaikan dalam pengajian tersebut.

Ia menjelaskan, keimanan tidak hanya tercermin dalam ucapan, tetapi juga dalam sikap dan kebiasaan sehari-hari. Salah satunya adalah kepedulian terhadap waktu salat.

Orang yang memiliki keimanan, kata dia, akan memiliki perhatian terhadap datangnya waktu Zuhur, Ashar, Maghrib, Isya, hingga Subuh. Dengan demikian, kesibukan duniawi tidak membuat seseorang lalai terhadap kewajibannya kepada Allah.

Ustadz Fathur Rahman juga mengajak jamaah untuk memanfaatkan waktu antara salat Maghrib dan Isya dengan kegiatan yang bermanfaat. Jamaah dapat mengisinya dengan membaca Al-Qur’an, berdiskusi mengenai ilmu agama, maupun saling mengingatkan dalam kebaikan.

Menurutnya, ketika seseorang melakukan kesalahan, hendaknya segera memohon ampun kepada Allah. Begitu pula ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan, seorang mukmin perlu meyakini bahwa Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi dirinya.

Sikap tersebut, lanjutnya, akan membantu menghadirkan ketenangan, kepercayaan, dan kepasrahan kepada Allah SWT.

Menjaga Hati untuk Menjaga Kehidupan

Pada bagian lain tausiyah, Ustadz Fathur Rahman menekankan pentingnya menjaga kebersihan hati.

Ia mengingatkan jamaah pada sabda Rasulullah SAW mengenai kedudukan hati dalam diri manusia. Jika hati baik, maka baik pula seluruh jasad. Sebaliknya, apabila hati rusak, dampaknya dapat memengaruhi seluruh diri seseorang.

Karena itu, ia mengajak jamaah untuk menjauhi berbagai penyakit hati, seperti iri, dengki, dendam, prasangka buruk, serta kekhawatiran yang berlebihan.

Menurutnya, kondisi batin seseorang dapat memengaruhi cara berpikir dan perilakunya. Kegelisahan yang terus dipelihara dapat membuat seseorang merasa tidak nyaman dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Sebagai upaya membersihkan hati, jamaah diajak memperbanyak dzikir dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan hati yang lebih tenang, seseorang diharapkan mampu berpikir lebih jernih dan menghadapi persoalan dengan lebih bijaksana.

Menghayati Surat Al-Falaq

Dalam tausiyah tersebut, Ustadz Fathur Rahman juga mengajak jamaah memahami kandungan Surat Al-Falaq. Surat tersebut, menurutnya, mengajarkan umat Islam untuk memohon perlindungan kepada Allah dari berbagai bentuk kejahatan.

Ia menjelaskan makna ayat yang mengajarkan perlindungan dari kejahatan kegelapan, berbagai bentuk kejahatan, serta orang yang memiliki sifat dengki.

Khusus mengenai dengki, ia menekankan bahwa seseorang tidak hanya perlu memohon perlindungan dari kedengkian orang lain, tetapi juga harus berusaha membersihkan dirinya sendiri dari sifat tersebut.

“Orang berbuat buruk, kita balas dengan kebaikan. Orang ingin mencelakai, kita maafkan,” pesan yang ditekankan dalam tausiyah tersebut.

Sikap memaafkan, menurutnya, bukan hanya menjadi bentuk kebaikan kepada orang lain, tetapi juga menjadi cara menjaga hati agar tidak dipenuhi kebencian dan dendam.

Tidak Sekadar Membaca, tetapi Memahami

Ustadz Fathur Rahman juga mengingatkan jamaah agar tidak berhenti pada aktivitas membaca ayat-ayat Al-Qur’an secara lisan. Setiap bacaan hendaknya disertai pemahaman dan penghayatan terhadap maknanya.

Saat membaca ta’awudz, misalnya, seseorang hendaknya menyadari bahwa dirinya memohon perlindungan hanya kepada Allah dari godaan setan. Demikian pula ketika membaca Surat Al-Falaq, setiap ayat dihayati sebagai bentuk permohonan perlindungan kepada Allah dari berbagai keburukan.

Dengan pemahaman tersebut, membaca Al-Qur’an diharapkan tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga mampu memberikan pengaruh terhadap sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Di akhir tausiyah, Ustadz Fathur Rahman mengajak jamaah untuk terus memperkuat iman, menjaga hati dari penyakit batin, membiasakan diri memaafkan, serta memperbanyak dzikir dan membaca Al-Qur’an.

Pengajian kemudian ditutup dengan doa agar Allah SWT meneguhkan keimanan, melapangkan hati, memberikan perlindungan dari berbagai keburukan, serta senantiasa memberikan petunjuk dalam setiap langkah kehidupan.

Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.Versi ini dibuat dengan gaya berita media online: ada judul, lead, alur peristiwa, kutipan tidak langsung, dan subjudul sehingga lebih siap untuk dipublikasikan. (*)

Firnas Muttaqin 

Saturday, September 26, 2026

LAPORAN PUSAT PENGENDALIAN OPERASI PENANGGULANGAN BENCANA (PUSDALOPS PB) BPBD KOTA PASURUAN

Kepada Yth :
1. Wali Kota Pasuruan.
2. Sekretaris Daerah Kota Pasuruan. 
3. Kepala BNPB. 
4. Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur.
5. Kepala Pelaksana BPBD Kota Pasuruan.

Mohon ijin melaporkan pada :
*WAKTU KEJADIAN:*
Hari/ Tanggal Kejadian : Sabtu, 26 September 2026.
Terima Berita : ± Pukul 14.00 WIB

*JENIS KEJADIAN :*
Kebakaran Pasar Desa Kepulungan

*LOKASI KEJADIAN :*
Alamat : Jl. Raya Surabaya - Malang No.70, Arcopodo, Kepulungan, Kec. Gempol, Pasuruan, Jawa Timur
Koordinat Maps : -7.621913, 112.687070

*SEBAB KEJADIAN :*
Diduga Kosleting Listrik

*OBJEK :*
Pasar Desa Kepulungan

*PELAPOR/ PEMILIK :*
Pelapor : Call Center 112 Pasuruan
Pemilik : -

*KERUGIAN KEJADIAN :*
Luas Terbakar : ± 450 m²
Kerugian : Masih Dalam Perhitungan

*KRONOLOGIS :*
▪️ ± Pkl 13.30 WIB Diduga awal terjadi kejadian kebakaran.
▪️ Pkl 13.55 WIB Mako PMK terima berita dari Call Center 112 terjadi kebakaran Pasar Desa Kepulungan Kabupaten Pasuruan.
▪️ Pkl 14.05 WIB Personil PMK Dan Pusdalops menuju ke lokasi pelaporan kejadian kebakaran.
▪️ Pkl 14.55 WIB Personil PMK Dan Pusdalops sampai di lokasi melakukan penanganan Pemadaman Kebakaran dan Pembasahan Pasca Pasar Desa Kepulungan Kabupaten Pasuruan.
▪️ Pkl 19.35 WIB Personil PMK Dan Pusdalops selesai penanganan dan balik ke Mako BPBD.

*UPAYA YANG DILAKUKAN :*
1. Melakukan penanganan pemadaman api serta pembasahan pasca kebakaran.
2. Personil Pusdalops melakukan Assesment/ dokumentasi terkait laporan kejadian di lokasi.

*ARMADA YANG DIGUNAKAN PEMADAMAN :*
* 1 Unit Damkar 5000 Liter Kota Pasuruan 
* 1 Unit Damkar 5000 Liter Kab. Pasuruan 
* 2 Unit Damkar 2500 Liter Kab. Pasuruan 
* 1 Unit Damkar 5000 Liter Gudang Garam 

*UNSUR YANG TERLIBAT:*
1. Personil Pemadam Kebakaran BPBD Kota Pasuruan;
2. Personil Pusdalops BPBD Kota Pasuruan;
3. Personil Pemadam Kebakaran Kabupaten Pasuruan;
4. Personil Pemadam Gudang Garam 
5. REDKAR Kota Pasuruan
6. REDKAR Kab.Pasuruan
7. TNI/POLRI
8. Warga Setempat;
Demikian laporan penanganan kejadian kebakaran, kami sampaikan terima kasih.

*PUSDALOPS PB - BPBD KOTA PASURUAN*
*Alamat :* Jl. K.H. Mansyur No.1 Kota Pasuruan
*Telp / Fax :* (0343) 412424 / (0343) 412727
*WA :* 082245295448
*Email :* PusdalopsPB.kopas@gmail.com 
*No Tlp PMK Kota Pasuruan :* (0343) 425113

*#SALAM TANGGUH*💪
*#SALAM KEMANUSIAAN*🙏
*#KITA JAGA ALAM, ALAM JAGA KITA*
*#SIAP UNTUK SELAMAT*

Friday, September 25, 2026

DI TENGAH SEMANGAT DAN TANTANGAN TPST SAWIR D’JOYO LESTARI

 
Wawancara: Jumat, 25 September 2026 | Lokasi: TPST Sawir D’Joyo Lestari, Desa Sawir
Sumber: Syariful Anam (Ipung), Ketua TPST Desa Sawir
 
 
Desa Sawir — Di halaman TPST Sawir D’Joyo Lestari, hari itu udara masih terasa hangat saat Syariful Anam, atau akrab disapa Ipung, duduk bercerita. Sebagai ketua, ia tidak hanya bicara soal mesin dan angka, melainkan tentang perjuangan nyata menjaga lingkungan, menggerakkan warga, dan mewujudkan pengelolaan sampah yang sesungguhnya bermanfaat.
 
Sistem Pengolahan dan Keseimbangan Biaya
 
Menurut Ipung, TPST ini bekerja dengan siklus yang jelas. Pengiriman sampah masuk dari desa rata-rata empat truk per minggu, yang kemudian diolah dalam rentang empat hingga lima hari. Dari proses itu lahir tiga produk: bahan bakar alternatif berupa RDF, kompos dari sampah organik, dan budidaya maggot yang memerlukan penanganan khusus.
 
“Kapasitas pencacah RDF kami rencanakan 80 kilogram per hari dengan kerja sekitar enam jam,” jelas Ipung. Namun angka itu tidak berarti berjalan tanpa henti. Mesin perlu jeda, dan kondisi lapangan ikut berpengaruh. Chopper yang dirancang menggunakan air, di sini terpaksa beroperasi kering karena keterbatasan lahan — membuat proses kurang lancar. Apalagi saat musim hujan, plastik bercampur tanah dan lembap, sehingga hasil olahan melambat dan kapasitas menurun.
 
Biaya operasional pun terhitung nyata. Mesin pemisah atau “gebrik” mengonsumsi sekitar satu liter solar per jam, berjalan enam jam sehari selama tiga hari tiap siklus. Chopper setengahnya, dan motor penggerak sabuk pengangkut menyumbang biaya listrik yang relatif rendah dibanding kebutuhan bahan bakar mesin utama. “Yang paling membebani tetaplah solar untuk mesin pemisah,” tegasnya.
 
Pendapatan Belum Seimbang dengan Pengorbanan
 
Kenyataan yang paling menyentuh adalah soal perhitungan uang. Dalam satu pengiriman perdana RDF seberat 1,1 ton, hasil yang diterima bersih Rp500.000. Setelah dipotong biaya jasa angkut dan sopir, sisa yang masuk ke kas TPST hanya sekitar Rp50.000. Padahal empat orang tenaga kerja bekerja penuh selama lima hari. Jika dihitung secara layak, biaya tenaga kerja saja sudah jauh melampaui pendapatan.
 
“Pengelolaan sampah di mana saja tidak akan cukup jika hanya mengandalkan hasil jual produk,” ujar Ipung. Ia membayangkan sistem pembiayaan yang seimbang: retribusi warga menanggung insentif petugas, hasil penjualan menutup operasional, dan dukungan program melengkapi kekurangan agar tetap berjalan.
 
Sampah di Desa Sawir sendiri memiliki komposisi khas. Dari pengalaman awal, sekitar 60 persen adalah organik — didominasi daun dan tanah yang tersapu halaman belum dipasang lantai keras. Anorganik sekitar 30 persen, dan sisanya residu. Warga memang antusias membuang sampah, namun pola ini membuat bobot bertambah dan kandungan untuk dijadikan RDF tidak sebanyak yang diharapkan.
 
Peluang Kerjasama dan Pasokan Khusus
 
Di tempat lain, seperti Mulyoagung atau Dau, volume sampah besar sehingga cepat diangkut keluar. Di Sawir, jumlah lebih terbatas, harus dikumpulkan dulu, dan tenaga tetap digaji meski belum terkirim. Lahan pun sempit, meski partisipasi warga sangat baik.
 
Ipung menyampaikan harapan soal kerjasama dengan pihak luar. Sampah dari SPBG belum ada kesepakatan tertulis, dan limbah dari MBG justru dibuang ke lokasi galian — padahal bisa diolah di sini. Pihak MBG sebenarnya terbuka untuk bermitra, namun pendekatan harus dilakukan secara resmi melalui Pemerintah Desa, bahkan Kecamatan jika perlu.
 
Khusus budidaya maggot, kendalanya mendasar: sampah yang masuk belum jenisnya. Maggot butuh sisa makanan segar, terpisah dari sampah kompos yang bercampur tanah dan daun kering. Belum ada pasokan khusus, sehingga program terhenti. Ditambah lagi, pendampingan tidak boleh hanya pelatihan sehari. Harus dibimbing dari telur hingga panen, sarana pendukung juga perlu ditambah.
 
Sinar Harapan: CSR, Kemitraan, dan Masa Depan
 
Gagasan yang menginspirasi muncul saat membicarakan program CSR SBI yang menyalurkan ayam petelur kepada sekitar 20 warga penyandang disabilitas. Bagaimana jika limbah makanan dari MBG dialirkan untuk pakan ternak warga, lalu hasil telurnya dikirim kembali — membentuk siklus saling menguntungkan? Ipung melihat potensi itu nyata, tinggal duduk bersama menyepakati alurnya.
 
Kelembagaan pun menjadi bahasan. Selama ini TPST berada di bawah naungan BUMDes. Ke depannya, setelah struktur Lembaga Pengelola Sampah (LPS) jelas, diharapkan ide-ide seperti ini masuk ke program kerja dan dijalankan dengan lebih mandiri. “Bekerja bukan soal untung dulu, melainkan mengabdi,” kata Ipung. “Yang kami butuhkan adalah dukungan agar semangat terus berpikir dan bergerak.”
 
Realita di Lapangan dan Harapan ke Depan
 
Namun tak bisa dipungkiri, semangat saja belum cukup. “Segudang kepintaran kalah dengan segenggam kekuasaan,” ujarnya jujur. Tim sudah berjuang lebih dari setahun, sudah melapor ke Camat, namun keputusan eksekusi belum sampai ke tangan. Harapan tertuju pada tahun 2027, saat pemilihan kepala desa baru, lahir keberanian yang lebih berani untuk kemajuan desa.
 
Soal retribusi, asumsi angka ternyata tidak mencerminkan kenyataan. Warga yang sukarela memberi Rp5.000 per pengambilan justru merasa tidak berat, sementara perhitungan resmi lebih rendah dan penerapan iuran dianggap belum tepat saat ini. Sampah masih dirasakan layanan gratis, dan pendekatan harus hati-hati.
 
Ipung menegaskan: TPST Sawir tidak sama dengan RTPS desa lain. Ini satu-satunya di kecamatan dengan sistem lengkap, sehingga butuh perlakuan khusus. Di desa tetangga pun sudah mulai bergerak, produk olahan sudah dihasilkan — Sawir tidak boleh tertinggal.
 
Di penghujung obrolan, harapannya sederhana namun teguh: “Tidak ada yang ekstrem, hanya memulai apa yang sudah seharusnya ada. Warga sudah memberi lebih dari yang diminta — tinggal pihak yang berwenang berani melangkah.” (*)

 
Penulis FIRNAS MUTTAQIN

TPST Sawir Jaya Lestari Kembali Produksi Paving, Dorong Pengolahan Sampah Berbasis Usaha

TUBAN — TPST Sawir Jaya Lestari, Desa Sawir, Kecamatan Tambakboyo, Kabupaten Tuban, kembali menjalankan produksi batu paving, Jumat (25/9/2026). Kegiatan tersebut ditandai dengan pertemuan dan tasyakuran di lokasi TPST.

Produksi paving ini merupakan kelanjutan dari program yang sebelumnya telah dirintis dan sempat tertunda. Sejumlah material untuk produksi disebut telah tersedia, sedangkan tahapan awal dimulai dengan pembuatan papan cetakan.

Kegiatan tersebut dihadiri Sunaryo dari CSR PT SBI (Solusi Bangun Indonesia), Firnas Muttaqin selaku Pendamping ISWMP (Improvement of Solid Waste Management to Support Regional and Metropolitan Cities Project), Sekretaris Desa Sawir Asroruddin, serta pengurus dan pekerja TPST dan BUMDes.

Perwakilan PT SBI, Sunaryo, mengatakan produksi paving diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan usaha semata, tetapi ke depan dapat dikaitkan dengan upaya pemanfaatan sampah.

Salah satu gagasan yang sedang dikembangkan adalah pemanfaatan sampah plastik sebagai bahan campuran paving. Namun, menurut Sunaryo, uji coba sebelumnya masih menghadapi persoalan pada tingkat kekuatan produk sehingga diperlukan pengembangan formula lebih lanjut.

“TPST ini bukan diam, terus hidup. Melalui paving, paling tidak ada kegiatan berjalan. Nanti kalau ada sampah yang bisa diolah, langsung dimanfaatkan,” ujar Sunaryo.

Selain produksi paving, Sunaryo menyebut sejumlah rencana pengembangan di kawasan TPST, termasuk kawasan kandang sapi. Pemanfaatan RDF dan limbah pertanian sebagai bahan bakar juga disebut menjadi bagian dari rencana pengembangan ke depan.

Sementara itu, Sekretaris Desa Sawir, Asroruddin, menyatakan Pemerintah Desa mendukung kegiatan yang dinilai dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan desa.

"Apa pun yang dikelola selama memberi manfaat, Pemerintah Desa mendukung sepenuhnya. Terbukti modal yang diberikan hingga kini tetap terjaga utuh,” kata Asroruddin.

Menurut dia, keberadaan BUMDes diharapkan tidak hanya bergerak pada satu bidang. Pengelolaan sampah, produksi paving, peternakan, dan berbagai kegiatan ekonomi lainnya dapat dikembangkan secara bertahap sesuai potensi desa.

“BUMDes ini hendaknya menjadi pusat kegiatan menyeluruh, bukan hanya pengelolaan sampah, tetapi juga pembuatan paving, peternakan, dan usaha-usaha lain yang bermanfaat,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Pak Ipung mengajak pengurus TPST, Pemerintah Desa, BUMDes, dan pihak-pihak terkait untuk terus membuka ruang komunikasi dalam pengembangan TPST Sawir Jaya Lestari.

“Kami buka lebar-lebar ruang diskusi, karena kita tidak hanya mengurus TPST, melainkan seluruh Desa Sawir,” ujarnya.

Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama. Produksi paving yang kembali berjalan ini menjadi salah satu aktivitas yang diharapkan dapat menghidupkan fungsi TPST sekaligus membuka peluang pengembangan usaha berbasis pengelolaan sampah di Desa Sawir.

Adapun sejumlah rencana seperti pemanfaatan plastik sebagai bahan campuran paving, pengembangan RDF dan limbah pertanian, serta program BIMAS yang direncanakan mulai 2027 masih berada pada tahap pengembangan atau perencanaan dan belum dapat disebut sebagai kegiatan yang telah terealisasi. (*)

Penulis FIRNAS MUTTAQIN

Thursday, September 24, 2026

Qishas: Hukum Islam Bertujuan Melindungi Jiwa dan Memutus Rantai Dendam

TUBAN — Hukum qishas dalam Islam tidak semata-mata berbicara tentang hukuman terhadap pelaku pembunuhan. Di balik ketentuan tersebut terdapat prinsip perlindungan jiwa, keadilan, serta upaya menghentikan rantai balas dendam di tengah masyarakat.

Hal itu disampaikan Ustadz Saiun Ngalim dalam pengajian Kamis di Masjid Darussalam Tuban, Kamis (24/9/2026). Kajian membahas ketentuan hukum pidana dalam Islam, khususnya berkaitan dengan pembunuhan sengaja, pembunuhan tidak sengaja, diyat, dan qishas.

Ustadz Saiun menjelaskan, dalam hukum Islam, pembunuhan dengan sengaja memiliki konsekuensi hukum yang berbeda dengan pembunuhan yang terjadi karena ketidaksengajaan. Qishas pada prinsipnya merupakan ketentuan bahwa jiwa dibalas dengan jiwa, namun pelaksanaannya bukan menjadi kewenangan individu untuk melakukan pembalasan sendiri.

Menurutnya, keluarga korban memiliki ruang dalam menentukan sikap, termasuk menerima diyat atau memberikan maaf. Karena itu, persoalan pembunuhan tidak boleh diselesaikan dengan tindakan main hakim sendiri.

“Kalau seseorang membunuh orang, lalu anak dari orang yang dibunuh tidak terima, kemudian melakukan pembunuhan terhadap keluarga pelaku, maka akan terus terjadi pembalasan,” jelasnya dalam kajian.

Ia menggambarkan bagaimana tindakan balas dendam dapat membentuk mata rantai kekerasan yang tidak berkesudahan. Satu pembunuhan dibalas dengan pembunuhan lainnya, kemudian dibalas lagi oleh keluarga berikutnya.

Karena itu, menurut Ustadz Saiun, Islam memberikan mekanisme hukum untuk menghentikan siklus tersebut. Penyelesaian perkara pembunuhan harus ditempatkan dalam kerangka hukum, bukan berdasarkan keputusan pribadi atau dendam keluarga.

“Tidak boleh membalas sendiri. Kalau setiap orang boleh membunuh untuk membalas pembunuhan, tidak akan selesai,” tegasnya.

Qishas Bukan Ajakan Main Hakim Sendiri

Dalam kajiannya, Ustadz Saiun juga menekankan bahwa ketentuan qishas tidak dapat dipahami sebagai pembenaran terhadap tindakan kekerasan secara bebas.

Qishas memiliki mekanisme dan ketentuan tersendiri. Karena itu, penerapannya tidak boleh dilakukan oleh seseorang berdasarkan keputusan pribadi.

Ia menjelaskan, tujuan utama dari ketentuan tersebut adalah menjaga keselamatan manusia dan memberikan perlindungan terhadap kehidupan masyarakat.

Dengan adanya mekanisme hukum, seseorang tidak memiliki kebebasan untuk membalas kematian anggota keluarganya dengan membunuh pihak lain secara sepihak.

Selain qishas, terdapat pula konsep diyat atau kompensasi yang diberikan dalam perkara tertentu. Keluarga korban dapat memilih untuk memaafkan atau menerima diyat sesuai ketentuan yang berlaku.

Ustadz Saiun menilai, sikap memaafkan memiliki nilai yang tinggi. Namun, pilihan untuk menuntut hak melalui mekanisme hukum juga tidak serta-merta berarti tindakan yang dilarang.

Yang menjadi persoalan adalah ketika seseorang mengambil hukum ke tangannya sendiri tanpa mekanisme yang sah.

Perbedaan Pembunuhan Sengaja dan Tidak Sengaja

Ustadz Saiun juga menjelaskan adanya perbedaan konsekuensi antara pembunuhan sengaja dan pembunuhan yang terjadi tanpa kesengajaan.

Dalam kasus pembunuhan tidak sengaja, ketentuan yang berlaku berbeda dengan pembunuhan sengaja. Salah satu bentuk penyelesaian yang dibahas adalah kewajiban membayar diyat dengan ketentuan tertentu.

Ia kemudian menguraikan ketentuan diyat berdasarkan hadis yang menjadi materi kajian, termasuk rincian jenis dan jumlah hewan ternak dalam ketentuan diyat pada masa Nabi.

Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa hukum Islam memiliki klasifikasi yang rinci dalam menangani berbagai bentuk tindak pidana terhadap jiwa dan anggota tubuh.

Menghentikan Tradisi Balas Dendam

Lebih jauh, Ustadz Saiun menyoroti bahaya pembunuhan yang dilakukan atas dasar dendam.

Menurutnya, ketika pembunuhan dibalas dengan pembunuhan, persoalan tidak otomatis selesai. Justru dapat muncul konflik baru antara keluarga atau kelompok yang berlangsung secara turun-temurun.

Karena itu, keberadaan hukum diperlukan untuk memastikan penyelesaian perkara dilakukan melalui mekanisme yang jelas.

Ia mencontohkan pola konflik dalam sejarah yang menunjukkan bagaimana dendam dapat berkembang menjadi rangkaian pembunuhan antarkeluarga.

“Islam selalu membuat aturan. Ada hukum qisas, tetapi yang diperhatikan adalah bagaimana keselamatan jiwa dan masyarakat tetap terlindungi,” tuturnya.

Kajian tersebut menegaskan bahwa pembahasan qisas tidak dapat dilepaskan dari prinsip menjaga jiwa, keadilan, pemberian hak kepada keluarga korban, serta pencegahan tindakan balas dendam secara pribadi.

Melalui ketentuan qishas, diyat, dan pemberian maaf, Islam memberikan sejumlah mekanisme penyelesaian perkara pembunuhan agar konflik tidak berkembang menjadi kekerasan yang terus berulang di tengah masyarakat. (*)

Penulis FIRNAS MUTTAQIN 

Catatan:

Diyat adalah ganti rugi atau kompensasi yang diberikan kepada keluarga korban pembunuhan atau korban penganiayaan, dalam ketentuan hukum pidana Islam.

Sederhananya:

Qisas → prinsip pembalasan yang setimpal, misalnya pembunuhan sengaja dapat dikenai qisas sesuai ketentuan hukum.

Diyat → kompensasi yang diberikan kepada pihak korban sebagai bentuk penyelesaian perkara sesuai ketentuan syariat.

Maaf → keluarga korban dapat memilih memaafkan, dalam kondisi dan mekanisme yang diatur syariat.

Contohnya, dalam pembunuhan tidak sengaja, Islam menetapkan kewajiban tertentu bagi pelaku, termasuk diyat kepada keluarga korban, disertai ketentuan lain yang berbeda dari pembunuhan sengaja.

Jadi, diyat bukan sekadar “uang tebusan”, tetapi merupakan bagian dari mekanisme penyelesaian perkara dalam fikih jinayah yang berkaitan dengan perlindungan jiwa dan hak keluarga korban.

Dalam konteks ceramah Ustadz Saiun tadi, istilah yang lebih mudah untuk pembaca berita adalah “kompensasi/ganti rugi kepada keluarga korban (diyat)”.

Sunday, September 20, 2026

Menjaga Semangat Ibadah dan Istiqomah


TUBAN — Pengajian Keluarga yang digelar di Masjid Darussalam Tuban, Ahad pagi (20/9/2026), membahas pentingnya menjaga semangat beribadah agar tetap konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Kajian yang disampaikan Ustadz Syamsul Huda dari Bojonegoro tersebut mengingatkan jamaah bahwa kondisi iman seseorang dapat mengalami perubahan. Ada masa ketika seseorang memiliki semangat tinggi untuk beribadah, tetapi ada pula saat semangat tersebut menurun.

Menurut Ustadz Syamsul Huda, kondisi naik-turunnya semangat merupakan bagian dari kehidupan manusia. Karena itu, yang penting bukan hanya bagaimana seseorang memulai amal kebaikan, tetapi bagaimana mempertahankannya secara terus-menerus.

Ia mengutip makna hadis bahwa setiap amal memiliki masa semangat dan setiap masa semangat memiliki masa melemahnya. Karena itu, seseorang perlu menjaga amal ketika semangat sedang turun.

“Memulai itu sulit, tetapi lebih sulit lagi adalah menjaga,” menjadi salah satu pesan penting dalam kajian tersebut.

Ustadz Syamsul menjelaskan, menjaga amal tidak berarti harus selalu melakukan ibadah dalam jumlah besar. Istikamah justru dapat dibangun melalui kebiasaan kecil yang dilakukan secara rutin sesuai kemampuan.

Ia juga mengingatkan jamaah agar tidak mudah berhenti hanya karena merasa bosan. Dalam kehidupan beragama, rasa jenuh atau futur dapat muncul. Namun, kondisi tersebut perlu dihadapi dengan kesabaran dan usaha untuk kembali melanjutkan amal.

Lingkungan Berpengaruh terhadap Perilaku

Selain membahas konsistensi ibadah, Ustadz Syamsul Huda menekankan pentingnya memilih lingkungan pergaulan.

Ia menjelaskan konsep social contagion, yakni kecenderungan nilai, kebiasaan, perilaku, bahkan karakter seseorang dapat menular melalui lingkungan sosialnya.

“Kalau kita tidak memengaruhi, kita yang dipengaruhi. Harapannya, kalau kita memengaruhi, yang kita berikan adalah pengaruh yang positif dan konstruktif,” jelasnya dalam kajian.

Karena itu, menurutnya, keluarga dan komunitas memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan seseorang. Bergaul dengan orang-orang yang memiliki kebiasaan baik dapat mendorong seseorang untuk ikut melakukan kebaikan. Sebaliknya, lingkungan yang buruk juga dapat memengaruhi perilaku.

Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kehidupan beragama tidak hanya berkaitan dengan hubungan pribadi seseorang dengan Allah, tetapi juga dengan siapa seseorang bergaul dan membangun hubungan sosial.

Dari Connect Menuju Transformasi

Ustadz Syamsul juga mengajak jamaah memahami pentingnya membangun hubungan atau circle yang sehat.

Menurutnya, proses perubahan dapat dimulai dari connect, yakni mengenal, membangun hubungan, dan menciptakan koneksi dengan orang lain. Dari hubungan tersebut kemudian dapat lahir proses transformasi atau perubahan menuju kondisi yang lebih baik.

Ia menyebut lingkungan orang-orang yang berada di sekitar seseorang sebagai circle. Lingkungan tersebut dapat memberikan pengaruh yang besar terhadap pola pikir, kebiasaan, dan perilaku seseorang.

Karena itu, jamaah diajak untuk membangun circle yang mampu memberikan energi positif dan mendorong kepada kebaikan.

Istiqomah Lebih Penting daripada Semangat Sesaat

Dalam bagian lain kajian, Ustadz Syamsul Huda mengingatkan bahwa semangat yang muncul secara tiba-tiba tidak selalu bertahan lama. Seseorang bisa mengalami semangat yang tinggi dalam waktu tertentu, kemudian kembali mengalami penurunan.

Karena itu, ukuran keberhasilan dalam beramal bukan semata-mata seberapa besar semangat pada awalnya, tetapi kemampuan untuk mempertahankan amal tersebut.

Ia mengingatkan prinsip menjaga amal yang telah dilakukan agar tidak berhenti di tengah jalan. Amal yang sederhana tetapi dilakukan secara rutin menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan yang lebih baik.

Ustadz Syamsul juga mengaitkan hal tersebut dengan gagasan Atomic Habits yang dipopulerkan James Clear. Intinya, perubahan besar dapat dibangun dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

“Tidak ada perubahan langsung. Semuanya dimulai dari kebiasaan kecil,” menjadi garis besar pesan yang disampaikan kepada jamaah.

Melalui kajian tersebut, jamaah Masjid Darussalam diajak untuk tidak hanya mengejar semangat beribadah yang besar sesaat, tetapi membangun kebiasaan baik yang sederhana, teratur, dan berkelanjutan.

Dengan menjaga amal, memilih lingkungan yang baik, serta membangun kebiasaan positif, seseorang diharapkan mampu mempertahankan istiqomah dalam perjalanan kehidupannya hingga memperoleh husnul khotimah. (*)

FIRNAS MUTTAQIN

Saturday, September 19, 2026

Pengajian Sabtu Ba’da Maghrib, Ustadz Saiun Ngalim Bahas Tobat, Keadilan, dan Larangan Memutarbalikkan Kebenaran


TUBAN — Pengajian Sabtu Ba’da Maghrib di Masjid Al Fajri Tuban, Sabtu (19/9/2026), mengangkat kajian Tafsir Jalalain Surah Al-Ma’idah ayat 39–43. Ustadz Saiun Ngalim mengajak jamaah memahami pentingnya tobat, keadilan dalam memberikan keputusan, serta bahaya memutarbalikkan kebenaran demi kepentingan tertentu.

Dalam kajiannya, Ustadz Saiun Ngalim terlebih dahulu menjelaskan kandungan Surah Al-Ma’idah ayat 39 tentang tobat setelah melakukan kezaliman.

Allah SWT berfirman:

فَمَنْ تَا بَ مِنْۢ بَعْدِ ظُلْمِهٖ وَاَ صْلَحَ فَاِ نَّ اللّٰهَ يَتُوْبُ عَلَيْهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Siapa yang bertobat setelah kezaliman yang dilakukannya dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Menurut penjelasan yang disampaikan dalam kajian, tobat tidak sekadar diucapkan, tetapi harus diikuti dengan perbaikan diri dan meninggalkan perbuatan yang salah.

Ustadz Saiun juga menjelaskan bahwa dalam persoalan yang menyangkut hak manusia, tobat kepada Allah tidak serta-merta menggugurkan hak orang lain. Karena itu, persoalan kezaliman yang berkaitan dengan harta maupun hak seseorang tetap memiliki konsekuensi terhadap pihak yang dirugikan.

Kajian kemudian dilanjutkan dengan Surah Al-Ma’idah ayat 40 yang menegaskan kekuasaan Allah atas langit dan bumi.

Allah SWT berfirman:

اَلَمْ تَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ لَهٗ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَرْضِ ۗ يُعَذِّبُ مَنْ يَّشَآءُ وَيَغْفِرُ لِمَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Ayat tersebut, jelas Ustadz Saiun, mengingatkan bahwa seluruh kekuasaan pada hakikatnya berada di tangan Allah. Manusia memiliki kewenangan dan tanggung jawab dalam kehidupan, tetapi tetap berada di bawah kekuasaan dan ketentuan Allah SWT.

Jangan Memutarbalikkan Kebenaran

Memasuki pembahasan Surah Al-Ma’idah ayat 41, Ustadz Saiun menjelaskan peringatan Allah kepada Rasulullah SAW agar tidak bersedih menghadapi orang-orang yang berlomba-lomba dalam kekafiran dan mereka yang menyatakan keimanan dengan lisan, sementara hati mereka tidak beriman.

Ayat tersebut juga menggambarkan perilaku sebagian orang yang gemar mendengar berita bohong serta melakukan perubahan terhadap ketentuan yang terdapat dalam kitab mereka.

Dalam penjelasan Tafsir Jalalain yang dikaji, persoalan tersebut berkaitan dengan adanya upaya mencari keputusan hukum yang lebih ringan, termasuk dalam kasus perzinaan yang melibatkan sepasang laki-laki dan perempuan yang telah menikah.

Menurut Ustadz Saiun, pelajaran penting dari ayat tersebut bukan hanya terkait sejarah umat terdahulu, tetapi juga menyangkut sikap manusia ketika menghadapi sebuah kebenaran.

Kebenaran tidak boleh dipilih hanya ketika sesuai dengan kepentingan pribadi atau kelompok. Sebaliknya, ketika sebuah ketentuan tidak sesuai dengan keinginan, seseorang tidak boleh kemudian mencari pembenaran dengan mengubah atau memutarbalikkan kebenaran.

Bahaya Berita Bohong dan Suap

Pada Surah Al-Ma’idah ayat 42, perhatian kajian diarahkan pada dua perilaku yang disebutkan dalam ayat, yaitu gemar mendengar berita bohong dan memakan harta yang haram.

Allah SWT berfirman:

سَمّٰعُوْنَ لِلْكَذِبِ اَ كّٰلُوْنَ لِلسُّحْتِ ۗ ...

Ayat tersebut juga menyebut as-suht, yang dalam penjelasan Tafsir Jalalain antara lain dikaitkan dengan harta haram seperti uang suap.

Ustadz Saiun menekankan bahwa ketika seseorang memiliki kewenangan untuk memberikan keputusan, keputusan tersebut harus didasarkan pada keadilan, bukan karena uang, hubungan, kepentingan kelompok, maupun tekanan tertentu.

Allah SWT berfirman:

وَاِ نْ حَكَمْتَ فَا حْكُمْ بَيْنَهُمْ بِا لْقِسْطِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ

“Jika engkau memutuskan perkara di antara mereka, maka putuskanlah dengan adil. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.”

Pesan tersebut, menurut kajian Ustadz Saiun, memiliki relevansi luas dalam kehidupan. Setiap orang yang mendapatkan amanah untuk menyelesaikan persoalan harus menjalankan kewenangannya sesuai dengan fungsi dan tanggung jawabnya.

Kewenangan Harus Berjalan Sesuai Fungsinya

Dalam bagian akhir kajian, Ustadz Saiun mengaitkan prinsip keadilan tersebut dengan pentingnya pembagian fungsi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Menurutnya, pihak yang memiliki kewenangan membuat aturan, melaksanakan aturan, maupun memberikan keputusan harus menjalankan tugas sesuai dengan fungsi masing-masing.

Keadilan menjadi prinsip utama agar kewenangan tidak digunakan untuk kepentingan pribadi atau kelompok.

Kajian kemudian ditutup dengan pembahasan Surah Al-Ma’idah ayat 43. Ayat tersebut menggambarkan sikap orang-orang yang meminta Nabi Muhammad SAW memberikan keputusan, padahal mereka telah memiliki Taurat yang di dalamnya terdapat hukum Allah.

Dari rangkaian ayat 39–43 tersebut, jamaah diajak mengambil pelajaran bahwa tobat harus dibuktikan dengan perbaikan, hak manusia harus dihormati, kebenaran tidak boleh diputarbalikkan, harta haram harus dijauhi, dan setiap keputusan harus ditegakkan dengan adil.

Pesan tersebut menjadi bagian penting dari kajian Sabtu Ba’da Maghrib di Masjid Al Fajri Tuban, agar nilai-nilai Al-Qur’an tidak berhenti pada pemahaman ayat, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. (*)

FIRNAS MUTTAQIN

Friday, September 18, 2026

Khutbah Jumat di Masjid Lathifah An Nashr: Menyiapkan Bekal Akhirat dengan Sebaik-baik Amal

TUBAN — Jamaah Salat Jumat di Masjid Lathifah An Nashr, Sidorejo, Tuban, diingatkan untuk terus meningkatkan kualitas iman dan ibadah sebagai bekal menuju kehidupan akhirat. Pesan tersebut disampaikan Ustadz Muhammad Nasir dalam khutbah Jumat, Jumat (18/9/2026).

Dalam khutbahnya, Ustadz Muhammad Nasir menekankan bahwa kehidupan dunia merupakan ujian sekaligus kesempatan bagi setiap Muslim untuk mempersiapkan bekal menuju akhirat. Bekal tersebut bukan semata-mata kekayaan, jabatan, maupun kelebihan fisik, tetapi kualitas amal yang dilakukan selama hidup.

Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Mulk ayat 2:

«الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ»

"Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya."

Menurutnya, ayat tersebut menjadi pengingat bahwa ukuran keberhasilan seorang manusia bukan sekadar apa yang dimiliki di dunia, melainkan bagaimana seseorang menjalani kehidupan dengan amal yang baik.

“Yang dilihat itu bukan karena kekayaan, bukan karena jabatan, bukan karena cantik atau tampannya. Tetapi ahsanu ‘amala, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya,” kata Ustadz Muhammad Nasir.

Ia menjelaskan, selama masih diberikan umur, seorang Muslim perlu terus memperbaiki kualitas iman dan ibadah. Hal itu mencakup ibadah mahdhah seperti salat, zakat dan haji, serta ibadah ghairu mahdhah berupa berbuat baik kepada sesama.

“Berbuat baik kepada saudara kita, saudara seakidah, saudara kandung, tetangga kita, menyantuni fakir miskin, ini harus terus kita lakukan. Karena itu bagian dari kita menyiapkan dan mengumpulkan bekal untuk kehidupan di akhirat nanti,” jelasnya.

Tiga Aspek Ahsanu ‘Amala

Ustadz Muhammad Nasir kemudian menjelaskan setidaknya terdapat tiga aspek yang dapat menjadi wujud dari ahsanu ‘amala atau sebaik-baik amal.

Pertama, berkaitan dengan waktu.

Menurutnya, seorang Muslim harus mampu memanfaatkan waktu yang diberikan Allah SWT dengan sebaik-baiknya. Ia mengingatkan jamaah pada kandungan Surah Al-'Asr, bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Karena itu, waktu harus diisi dengan kegiatan yang mendekatkan diri kepada Allah, termasuk menuntut ilmu agama agar seorang Muslim mengetahui mana yang halal dan haram, perintah dan larangan.

“Orang yang beriman itu terikat dengan waktu. Maka waktu yang Allah berikan harus kita manfaatkan sebaik-baiknya,” tuturnya.

Dari seluruh waktu yang dimiliki manusia, ia mengingatkan agar jamaah memberikan perhatian khusus terhadap waktu salat.

Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah An-Nisa ayat 103:

«اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا»

"Sesungguhnya salat itu merupakan kewajiban yang waktunya telah ditentukan atas orang-orang yang beriman."

Ustadz Muhammad Nasir juga mengingatkan bahwa Rasulullah SAW ketika ditanya mengenai amal yang paling utama menjawab salat pada waktunya.

“Jangan sampai kita meninggalkan salat selagi masih diberikan umur oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala,” pesannya.

Kedua, berkaitan dengan tempat yang paling dekat, yaitu keluarga.

Ia mengajak jamaah menjadikan rumah sebagai tempat untuk mewujudkan amal terbaik melalui komunikasi yang baik, menjaga kerukunan dan memperkuat hubungan antara orang tua dan anak.

Perhatian khusus diberikan terhadap kewajiban berbakti kepada kedua orang tua. Menurutnya, ketika orang tua masih hidup, kesempatan tersebut harus dimanfaatkan untuk berbuat baik, menghormati dan menyayangi mereka.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 23:

«وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا»

"Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tua."

Ustadz Muhammad Nasir mengingatkan besarnya pengorbanan orang tua, terutama seorang ibu. Karena itu, materi yang diberikan kepada orang tua sekalipun tidak akan sebanding dengan pengorbanan yang telah mereka berikan kepada anak.

“Apabila kita masih diberikan kesempatan, orang tua kita masih hidup, maka berbaktilah kepada kedua orang tua. Jangan sampai kita kecewa karena melupakan dan melalaikan perjuangan serta pengorbanan mereka,” tegasnya.

Ketiga, berkaitan dengan kehidupan di ruang publik dan hubungan dengan sesama.

Menurutnya, amal terbaik tidak berhenti pada ibadah ritual. Akhlak dan perilaku sehari-hari juga merupakan bagian penting dari ajaran Islam.

Ia mencontohkan bagaimana seorang Muslim menjaga adab ketika masuk dan keluar masjid, masuk dan keluar toilet, serta membiasakan berbicara dengan santun.

“Islam bukan hanya salat, bukan hanya zakat, tetapi akhlak kita. Kita berbicara harus dengan santun,” katanya.

Ustadz Muhammad Nasir mengingatkan, ibadah seseorang hendaknya tercermin dalam perilaku sosial. Jangan sampai seseorang rajin beribadah tetapi masih suka bertengkar, memutus silaturahmi dan menyimpan dendam terhadap sesama.

“Jangan sampai kita sudah salat, tetapi sesama saudara kita saling berkelahi, memutuskan silaturahmi, dendam terus-menerus,” ujarnya.

Ia berharap jamaah mampu menjadikan sisa umur yang diberikan Allah SWT sebagai kesempatan untuk memperbaiki iman, ibadah dan akhlak.

“Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala selalu memberikan hidayah kepada kita, memberikan ketetapan iman dan Islam, serta dimudahkan menuju jalan surga,” pungkasnya. (*)

FIRNAS MUTTAQIN

Saturday, September 12, 2026

Tafsir Al-Maidah Ayat 35-39: Takwa, Wasilah, dan Jalan Mendekat kepada Allah

TUBAN — Pengajian Sabtu malam di Masjid Al Fajri Tuban, Sabtu (12/9/2026), diisi dengan kajian Tafsir Jalalain Surah Al-Ma’idah ayat 35-39 oleh Ustadz Saiun Ngalim.

Dalam kajiannya, Ustadz Saiun menekankan pentingnya ketakwaan kepada Allah, mencari jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya melalui ketaatan dan ibadah, serta memahami konsekuensi perbuatan manusia di dunia dan akhirat.

Mengawali penjelasan pada Surah Al-Ma’idah ayat 35, Ustadz Saiun mengutip firman Allah SWT:

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْۤا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya, agar kamu beruntung.”
(QS. Al-Ma’idah: 35)

Menurut Ustadz Saiun, takwa bukan sekadar rasa takut, tetapi takut kepada Allah yang diwujudkan dengan ketaatan.

“Takut kepada Allah itu berbeda dengan takut kepada masyarakat. Kalau kita takut kepada Allah, kita harus mencari cara untuk menaati-Nya,” jelasnya.

Ia kemudian menjelaskan istilah wasilah dalam ayat tersebut. Wasilah merupakan jalan yang digunakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah. Jalan itu ditempuh melalui ketaatan dan ibadah.

“Wasilah yaitu jalan yang akan mendekatkan diri kita kepada-Nya dengan jalan taat dan beribadah,” kata Ustadz Saiun.

Dalam penjelasannya, ia juga mengingatkan agar pemahaman tentang wasilah tidak dilepaskan dari tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah. Menurutnya, seorang Muslim hendaknya mendekatkan diri kepada Allah melalui amal ketaatan, ibadah, dan amal saleh.

Kehidupan dunia hanya sementara

Memasuki pembahasan Surah Al-Ma’idah ayat 36-37, Ustadz Saiun mengajak jamaah melihat kehidupan dunia sebagai sesuatu yang sementara. Harta dan kekayaan yang dimiliki manusia di dunia tidak dapat digunakan untuk menebus azab Allah di akhirat.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْ اَنَّ لَهُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا وَّمِثْلَهٗ مَعَهٗ لِيَفْتَدُوْا بِهٖ مِنْ عَذَابِ يَوْمِ الْقِيٰمَةِ مَا تُقُبِّلَ مِنْهُمْ

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sekiranya mereka mempunyai segala yang ada di bumi dan ditambah sebanyak itu lagi untuk menebus diri mereka dari azab pada hari Kiamat, niscaya semua itu tidak akan diterima dari mereka.”
(QS. Al-Ma’idah: 36)

Ayat tersebut, kata Ustadz Saiun, menjadi peringatan bahwa kesempatan memperbaiki diri berada ketika manusia masih hidup di dunia.

Kehidupan dunia tidak boleh membuat manusia lupa terhadap kehidupan akhirat. Sebab, ketika seseorang telah menghadapi kehidupan akhirat, harta yang dahulu dikejar tidak lagi memiliki kemampuan untuk menyelamatkannya dari azab Allah.

Larangan mencuri dan pentingnya menjaga hak manusia

Pada Surah Al-Ma’idah ayat 38, kajian berlanjut pada ketentuan mengenai pencurian.

Allah SWT berfirman:

وَا لسَّا رِقُ وَا لسَّا رِقَةُ فَا قْطَعُوْۤا اَيْدِيَهُمَا جَزَآءًۢ بِمَا كَسَبَا نَـكَالًا مِّنَ اللّٰهِ ۗ وَا للّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

“Adapun laki-laki maupun perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya sebagai balasan atas perbuatan yang mereka lakukan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.”
(QS. Al-Ma’idah: 38)

Ustadz Saiun menjelaskan bahwa ayat tersebut merupakan ketentuan syariat yang memiliki aturan dan persyaratan tertentu. Ia juga mengingatkan bahwa persoalan hukum tidak boleh dipahami secara serampangan hanya berdasarkan potongan ayat.

Dalam Tafsir Jalalain yang dikaji, disebutkan adanya ketentuan nisab pencurian serta penjelasan mengenai penerapan hukuman berdasarkan Sunnah.

Karena itu, menurutnya, persoalan hukum tersebut harus ditempatkan dalam kerangka syariat dan kewenangan hukum yang benar, bukan dijadikan alasan bagi seseorang untuk melakukan tindakan sendiri terhadap orang lain.

Taubat tidak berhenti pada penyesalan

Pembahasan kemudian ditutup dengan Surah Al-Ma’idah ayat 39 yang memberikan ruang bagi manusia untuk bertaubat dan memperbaiki diri.

Allah SWT berfirman:

فَمَنْ تَابَ مِنْۢ بَعْدِ ظُلْمِهٖ وَاَصْلَحَ فَاِنَّ اللّٰهَ يَتُوْبُ عَلَيْهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Tetapi barang siapa bertobat setelah melakukan kezaliman dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Al-Ma’idah: 39)

Ustadz Saiun menekankan bahwa taubat bukan sekadar mengucapkan penyesalan, tetapi harus diikuti dengan perbaikan diri.

“Kalau kita melakukan kesalahan, kemudian bertaubat dan memperbaiki diri, maka Allah menerima taubatnya,” tuturnya.

Ia juga menjelaskan bahwa dalam perkara yang menyangkut hak manusia, taubat kepada Allah tidak serta-merta menghapus hak orang lain. Karena itu, selain bertaubat, seseorang harus memperbaiki kerusakan yang telah ditimbulkan dan mengembalikan hak yang menjadi tanggungannya.

Kajian Surah Al-Ma’idah ayat 35-39 tersebut mengingatkan jamaah bahwa jalan keselamatan dimulai dari ketakwaan, dilanjutkan dengan usaha mendekatkan diri kepada Allah melalui ketaatan dan ibadah, serta diwujudkan dalam perilaku yang menjaga hak sesama manusia.

Pesan utama kajian tersebut adalah bahwa kesempatan memperbaiki diri berada selama manusia masih hidup. Dunia merupakan tempat beramal, sedangkan pertanggungjawaban atas amal tersebut akan dihadapi di akhirat. (*)

Monday, September 07, 2026

Dari Glondonggede ke Surabaya, Menyulam Keterampilan dengan Gunting dan Sisir


Glondonggede, Tambakboyo, Tuban — Senin, 7 September 2026

Bagi Ti’ah Purwanti, gunting dan sisir bukan sekadar alat kerja. Keduanya menjadi bagian dari perjalanan panjang yang membentuk keterampilannya hingga kini menekuni usaha potong rambut di kampung halaman, Glondonggede, Kecamatan Tambakboyo, Kabupaten Tuban.

Ti’ah merupakan warga asli Glondonggede. Namun, untuk memperoleh keterampilan, ia pernah meninggalkan kampung halaman dan menimba ilmu di Surabaya.

Pada masa itu, Ti’ah belajar potong rambut di Sekolah Rudi Suwarno, Tunjungan Plaza Surabaya. Pendidikan ditempuh selama kurang lebih enam bulan, dengan pembelajaran teori sekaligus praktik.

Enam bulan bukan waktu yang sebentar. Di sana ia mempelajari teknik dasar hingga praktik mencukur rambut. Pengetahuan tersebut kemudian menjadi bekal penting ketika kembali ke Tuban.

Namun, dunia yang dipelajari Ti’ah ternyata tidak hanya soal mencukur rambut.

Ia juga sempat belajar salon kecantikan. Pengalaman tersebut memperluas keterampilannya dalam dunia tata kecantikan. Setelah memperoleh bekal tersebut, Ti’ah bahkan pernah bekerja di salah satu salon kecantikan di Tuban.

Pengalaman bekerja di salon menjadi bagian lain dari perjalanan profesionalnya. Ia tidak hanya mengenal bagaimana membuat rambut menjadi lebih rapi, tetapi juga memahami dunia pelayanan kecantikan secara lebih luas.

Enam Bulan Belajar, Banyak Kenangan

Masa belajar di Surabaya tidak hanya memberikan ilmu. Ada pula cerita tentang pertemanan dan perjalanan masa muda.

Di sela kegiatan belajar teori dan praktik, Ti’ah bersama teman-temannya menyempatkan diri mengisi waktu luang dengan bepergian.

Malang menjadi salah satu tujuan mereka. Mereka juga pernah menikmati perjalanan ke Sukorejo, Pasuruan.

Sukorejo bukan kampung halaman Ti’ah. Ia adalah putri asli Glondonggede. Namun, Sukorejo menjadi salah satu tempat yang menyimpan kenangan dari masa mudanya ketika menempuh pendidikan di Surabaya.

Kenangan itu sederhana: bepergian bersama teman, bercanda, menikmati suasana tempat baru, lalu kembali melanjutkan aktivitas belajar.

Bertahun-tahun kemudian, perjalanan tersebut menjadi bagian dari cerita yang masih dikenang.

Keterampilan yang Dibawa Pulang

Setelah menyelesaikan pendidikan selama enam bulan, Ti’ah kembali ke Tuban dengan membawa keterampilan yang diperolehnya di Surabaya.

Pengalaman belajar potong rambut dan salon kecantikan kemudian menjadi modal untuk menjalani pekerjaan.

Ia pernah bekerja di salon kecantikan di Tuban. Dari pengalaman tersebut, Ti’ah semakin terbiasa berhadapan dengan pelanggan dan memahami bahwa pekerjaan di bidang kecantikan bukan hanya membutuhkan keterampilan tangan, tetapi juga ketelitian dan kemampuan memahami keinginan orang lain.

Kini, keterampilan itu terus digunakan dalam aktivitas potong rambut.

Pelanggan datang dengan kebutuhan berbeda-beda. Ada yang ingin rambut dipendekkan, ada yang meminta rambut ditipiskan, dan ada pula yang ingin sekadar dirapikan.

Di sinilah pengalaman bertahun-tahun berbicara.

Potongan rambut tidak bisa dilakukan sembarangan. Panjang-pendeknya harus disesuaikan dengan keinginan pelanggan. Bagian atas dan bawah rambut pun terkadang perlu diperlakukan berbeda.

Komunikasi menjadi bagian penting. Sebelum gunting bergerak lebih jauh, keinginan pelanggan perlu dipastikan terlebih dahulu.

Dari Salon hingga Kursi Cukur

Perjalanan Ti’ah menunjukkan bahwa sebuah keterampilan sering kali tumbuh dari pengalaman yang panjang.

Ia pernah menjadi pelajar yang tekun mengikuti teori dan praktik di Surabaya. Ia kemudian mencoba dunia salon kecantikan di Tuban. Dari pengalaman-pengalaman tersebut, keterampilan mencukur dan melayani pelanggan terus terasah.

Kini, di Glondonggede, pekerjaan itu menjadi bagian dari kesehariannya.

Tempat cukur bukan hanya ruang untuk memangkas rambut. Di dalamnya juga terjadi percakapan dan pertukaran cerita.

Pelanggan datang membawa rambut yang ingin dirapikan. Tetapi sering kali mereka juga membawa cerita tentang kehidupan sehari-hari.

Dari situlah pekerjaan sederhana ini memiliki sisi human interest yang menarik.

Gunting, Keterampilan, dan Perjalanan Hidup

Ti’ah mungkin tidak pernah membayangkan bahwa perjalanan enam bulan belajar di Surabaya akan menjadi bagian penting dalam kehidupannya.

Di sekolah potong rambut Rudi Suwarno, Tunjungan Plaza Surabaya, ia mendapatkan keterampilan. Di sela masa belajar itu, Malang dan Sukorejo menjadi saksi perjalanan bersama teman-temannya.

Setelah kembali ke Tuban, dunia salon kecantikan juga sempat menjadi bagian dari perjalanan kerjanya.

Kini semua pengalaman itu bertemu dalam satu pekerjaan: mencukur rambut.

Glondonggede adalah kampung halamannya. Surabaya adalah tempat ia menimba keterampilan. Malang dan Sukorejo adalah kota-kota kenangan. Sedangkan dunia salon menjadi bagian dari pengalaman yang memperkaya keterampilannya.

Dari semua perjalanan itu, ada satu hal yang tetap bertahan: keahlian yang diasah dengan tangan dan dijalani dengan ketekunan.

Sebab, di balik gunting yang bergerak memangkas rambut, sesungguhnya ada perjalanan hidup yang panjang—tentang belajar, bekerja, berteman, pulang, dan terus berkarya di tanah kelahiran sendiri.

Penulis: FIRNAS MUTTAQIN

Beriman kepada Takdir Bukan Alasan Berhenti Berikhtiar


TUBAN — Beriman kepada takdir Allah bukan berarti manusia boleh berhenti berusaha dan menyerahkan seluruh persoalan hidup tanpa ikhtiar. Justru keyakinan terhadap takdir harus mendorong seorang Muslim untuk terus beramal, berusaha, bersabar, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT.

Pesan tersebut disampaikan Ustadz H. Saiun Ngalim, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Tuban, dalam siaran kajian “Mutiara Pagi” di Radio Republik Indonesia (RRI) Tuban, Senin (7/9/2026) pagi menjelang pukul 06.00 WIB.

Menurutnya, takdir merupakan bagian dari rukun iman yang wajib diyakini. Namun, manusia tidak mengetahui apa yang telah ditetapkan Allah untuk dirinya. Karena itu, rahasia takdir seharusnya tidak membuat seseorang pasif, melainkan tetap berikhtiar dan memperbanyak amal saleh.

“Allah menilai proses, bukan sekadar hasil akhir. Ada orang yang sudah berusaha sungguh-sungguh tetapi belum menjadi kaya. Keikhlasannya dalam berusaha tetap bernilai di sisi Allah. Sebaliknya, ada orang yang mendapatkan kekayaan melalui korupsi. Hasilnya besar, tetapi prosesnya salah,” jelasnya.

Takdir Tidak Boleh Menjadi Alasan untuk Bermalas-malasan

Ustadz Saiun menjelaskan, manusia berada dalam pusaran ketetapan Allah, tetapi tetap diberikan kesempatan untuk memilih dan berusaha. Karena takdir merupakan perkara gaib, manusia tidak boleh menggunakan alasan “sudah takdir” untuk membenarkan kemalasan atau perbuatan dosa.

Ia mengibaratkan kehidupan manusia seperti perlombaan lari. Menurutnya, yang menentukan keberuntungan bukan kondisi seseorang di tengah perjalanan, tetapi bagaimana ia mencapai garis finis.

“Perjalanan hidup ibarat lomba lari. Yang menentukan bukan kecepatan di tengah jalan, melainkan garis finis. Karena itu, jangan terperdaya dengan kondisi kita sekarang. Teruslah memohon kepada Allah agar diberikan husnul khatimah, akhir kehidupan yang baik,” tuturnya.

Ia mengingatkan, seseorang yang hari ini terlihat baik belum tentu mengetahui bagaimana akhir kehidupannya. Sebaliknya, seseorang yang pernah berada dalam kondisi buruk masih memiliki kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki diri selama ajal belum tiba.

Karena itu, menurutnya, seorang Muslim harus menjaga amal dan tidak menunda kebaikan.

“Jangan menunda kebaikan dengan alasan masih muda. Tidak ada yang mengetahui kapan ajal datang. Teruslah berdoa dan berikhtiar karena hidup ini sementara,” pesannya.

Rezeki dan Ajal Berada dalam Ketetapan Allah

Dalam kajian tersebut, Ustadz Saiun juga mengingatkan bahwa manusia tidak perlu berlebihan dalam mencemaskan rezeki maupun ajal. Keduanya berada dalam pengetahuan dan ketetapan Allah.

Ia mengutip hadis Nabi Muhammad ﷺ yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim tentang proses penciptaan manusia. Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa ketika manusia masih berada dalam kandungan, malaikat diperintahkan untuk mencatat beberapa perkara, antara lain rezeki, ajal, amal, serta keadaan akhir kehidupannya.

Hadis tersebut, menurutnya, mengajarkan bahwa kehidupan manusia tidak berjalan tanpa arah. Namun, karena manusia tidak mengetahui ketetapan tersebut, kewajibannya adalah menjalani kehidupan dengan ikhtiar dan ketaatan.

“Rezeki dan ajal sudah ditetapkan. Tetapi karena kita tidak mengetahui kapan rezeki dan ajal itu datang, maka kita tetap wajib berusaha,” katanya.

Musibah Telah Tertulis, tetapi Ikhtiar Tetap Wajib

Ustadz Saiun kemudian mengutip firman Allah dalam QS Al-Hadid ayat 22:

«“Tidak ada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab sebelum Kami menciptakannya.”»

Ayat tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa berbagai peristiwa kehidupan berada dalam pengetahuan Allah. Namun, keyakinan tersebut tidak berarti manusia dilarang mencari jalan keluar.

Ketika sakit, manusia tetap harus berobat. Ketika mengalami kesulitan, tetap harus mencari solusi. Ketika menghadapi musibah, manusia diperintahkan bersabar dan memohon pertolongan Allah.

Hal itu diperkuat dengan firman Allah dalam QS At-Taghabun ayat 11:

«“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah.”»

Menurut Ustadz Saiun, justru sikap seseorang ketika menghadapi keadaan yang sama dapat menunjukkan kualitas imannya. Orang beriman akan berusaha menerima musibah sebagai ujian, mengambil pelajaran, dan kembali bergantung kepada Allah.

Mengingat Asal Penciptaan agar Tidak Sombong

Dalam kajian tersebut, ia juga mengajak pendengar merenungkan proses penciptaan manusia sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an.

Allah berfirman dalam QS Al-Mu’minun ayat 14:

«“Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging...”»

Proses tersebut menunjukkan kekuasaan Allah sekaligus mengingatkan manusia agar tidak sombong. Manusia yang kini memiliki kemampuan, kedudukan dan kekayaan pada awalnya hanyalah makhluk yang diciptakan melalui tahapan yang telah ditentukan Allah.

Dalam QS Al-Hajj ayat 5, Allah juga menjelaskan proses penciptaan manusia sekaligus memberikan gambaran tentang kebangkitan setelah kematian.

Ustadz Saiun mengibaratkan bumi yang kering kemudian kembali hidup setelah mendapatkan hujan. Menurutnya, menghidupkan kembali manusia setelah kematian bukanlah sesuatu yang sulit bagi Allah.

“Allah yang mampu menciptakan manusia dari sesuatu yang sebelumnya tidak ada, tentu mampu menghidupkan kembali manusia setelah kematiannya,” jelasnya.

Tauhid, Berbakti kepada Orang Tua dan Bersyukur

Dalam pembahasannya, Ustadz Saiun juga mengingatkan pentingnya hubungan antara keimanan kepada Allah dengan bakti kepada kedua orang tua.

Ia mengutip QS Luqman ayat 14, yang memerintahkan manusia berbuat baik kepada kedua orang tua, khususnya mengingat perjuangan seorang ibu yang mengandung dan menyusui anaknya.

Menurutnya, manusia perlu mengingat dari mana dirinya berasal agar tidak terjebak dalam kesombongan dan ketakutan yang berlebihan terhadap kehidupan dunia.

Allah juga berfirman dalam QS Al-Mulk ayat 2:

«“Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.”»

Ayat tersebut menjadi salah satu penekanan penting dalam kajian. Kehidupan bukan sekadar tentang siapa yang memiliki harta paling banyak, jabatan paling tinggi atau keberhasilan yang paling terlihat, tetapi tentang siapa yang mampu menjalani hidup dengan amal terbaik.

Sukses Bukan Sekadar Banyaknya Hasil

Menjawab pertanyaan pendengar tentang batas antara usaha dan takdir, Ustadz Saiun memberikan penjelasan yang cukup tajam.

Menurutnya, manusia sering terjebak pada cara pandang yang keliru. Ketika gagal, seseorang mudah mengatakan, “Ini sudah takdir.” Namun ketika berhasil, ia justru berkata, “Ini karena kerja keras saya.”

Padahal, keberhasilan maupun kegagalan tetap berada dalam kehendak Allah, sementara manusia berkewajiban menjalani proses dengan sungguh-sungguh.

“Ukuran sukses bukan tampilan luar, melainkan ridha Allah. Tetaplah beramal saleh. Kesuksesan sejati adalah ketika kita bertemu Allah dalam keadaan taat,” tegasnya.

Karena itu, beriman kepada takdir seharusnya melahirkan ketenangan, bukan keputusasaan; melahirkan tawakal, bukan kemalasan; serta melahirkan keberanian untuk terus berbuat baik.

Pada akhirnya, manusia tidak mengetahui bagaimana garis finis kehidupannya. Yang dapat dilakukan adalah terus memperbaiki diri, menjaga shalat, memperbanyak ibadah, berbuat baik kepada sesama, bersyukur atas rezeki, serta memohon kepada Allah agar diberi akhir kehidupan yang baik.

“Jangan merasa aman dengan keadaan kita hari ini. Teruslah berusaha istiqamah dan mohon kepada Allah agar kita mendapatkan husnul khatimah,” pesan Ustadz H. Saiun Ngalim mengakhiri kajiannya.

Penulis: FIRNAS MUTTAQIN