Friday, September 18, 2026

Khutbah Jumat di Masjid Lathifah An Nashr: Menyiapkan Bekal Akhirat dengan Sebaik-baik Amal

TUBAN — Jamaah Salat Jumat di Masjid Lathifah An Nashr, Sidorejo, Tuban, diingatkan untuk terus meningkatkan kualitas iman dan ibadah sebagai bekal menuju kehidupan akhirat. Pesan tersebut disampaikan Ustadz Muhammad Nasir dalam khutbah Jumat, Jumat (18/9/2026).

Dalam khutbahnya, Ustadz Muhammad Nasir menekankan bahwa kehidupan dunia merupakan ujian sekaligus kesempatan bagi setiap Muslim untuk mempersiapkan bekal menuju akhirat. Bekal tersebut bukan semata-mata kekayaan, jabatan, maupun kelebihan fisik, tetapi kualitas amal yang dilakukan selama hidup.

Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Mulk ayat 2:

«الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ»

"Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya."

Menurutnya, ayat tersebut menjadi pengingat bahwa ukuran keberhasilan seorang manusia bukan sekadar apa yang dimiliki di dunia, melainkan bagaimana seseorang menjalani kehidupan dengan amal yang baik.

“Yang dilihat itu bukan karena kekayaan, bukan karena jabatan, bukan karena cantik atau tampannya. Tetapi ahsanu ‘amala, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya,” kata Ustadz Muhammad Nasir.

Ia menjelaskan, selama masih diberikan umur, seorang Muslim perlu terus memperbaiki kualitas iman dan ibadah. Hal itu mencakup ibadah mahdhah seperti salat, zakat dan haji, serta ibadah ghairu mahdhah berupa berbuat baik kepada sesama.

“Berbuat baik kepada saudara kita, saudara seakidah, saudara kandung, tetangga kita, menyantuni fakir miskin, ini harus terus kita lakukan. Karena itu bagian dari kita menyiapkan dan mengumpulkan bekal untuk kehidupan di akhirat nanti,” jelasnya.

Tiga Aspek Ahsanu ‘Amala

Ustadz Muhammad Nasir kemudian menjelaskan setidaknya terdapat tiga aspek yang dapat menjadi wujud dari ahsanu ‘amala atau sebaik-baik amal.

Pertama, berkaitan dengan waktu.

Menurutnya, seorang Muslim harus mampu memanfaatkan waktu yang diberikan Allah SWT dengan sebaik-baiknya. Ia mengingatkan jamaah pada kandungan Surah Al-'Asr, bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Karena itu, waktu harus diisi dengan kegiatan yang mendekatkan diri kepada Allah, termasuk menuntut ilmu agama agar seorang Muslim mengetahui mana yang halal dan haram, perintah dan larangan.

“Orang yang beriman itu terikat dengan waktu. Maka waktu yang Allah berikan harus kita manfaatkan sebaik-baiknya,” tuturnya.

Dari seluruh waktu yang dimiliki manusia, ia mengingatkan agar jamaah memberikan perhatian khusus terhadap waktu salat.

Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah An-Nisa ayat 103:

«اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا»

"Sesungguhnya salat itu merupakan kewajiban yang waktunya telah ditentukan atas orang-orang yang beriman."

Ustadz Muhammad Nasir juga mengingatkan bahwa Rasulullah SAW ketika ditanya mengenai amal yang paling utama menjawab salat pada waktunya.

“Jangan sampai kita meninggalkan salat selagi masih diberikan umur oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala,” pesannya.

Kedua, berkaitan dengan tempat yang paling dekat, yaitu keluarga.

Ia mengajak jamaah menjadikan rumah sebagai tempat untuk mewujudkan amal terbaik melalui komunikasi yang baik, menjaga kerukunan dan memperkuat hubungan antara orang tua dan anak.

Perhatian khusus diberikan terhadap kewajiban berbakti kepada kedua orang tua. Menurutnya, ketika orang tua masih hidup, kesempatan tersebut harus dimanfaatkan untuk berbuat baik, menghormati dan menyayangi mereka.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 23:

«وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا»

"Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tua."

Ustadz Muhammad Nasir mengingatkan besarnya pengorbanan orang tua, terutama seorang ibu. Karena itu, materi yang diberikan kepada orang tua sekalipun tidak akan sebanding dengan pengorbanan yang telah mereka berikan kepada anak.

“Apabila kita masih diberikan kesempatan, orang tua kita masih hidup, maka berbaktilah kepada kedua orang tua. Jangan sampai kita kecewa karena melupakan dan melalaikan perjuangan serta pengorbanan mereka,” tegasnya.

Ketiga, berkaitan dengan kehidupan di ruang publik dan hubungan dengan sesama.

Menurutnya, amal terbaik tidak berhenti pada ibadah ritual. Akhlak dan perilaku sehari-hari juga merupakan bagian penting dari ajaran Islam.

Ia mencontohkan bagaimana seorang Muslim menjaga adab ketika masuk dan keluar masjid, masuk dan keluar toilet, serta membiasakan berbicara dengan santun.

“Islam bukan hanya salat, bukan hanya zakat, tetapi akhlak kita. Kita berbicara harus dengan santun,” katanya.

Ustadz Muhammad Nasir mengingatkan, ibadah seseorang hendaknya tercermin dalam perilaku sosial. Jangan sampai seseorang rajin beribadah tetapi masih suka bertengkar, memutus silaturahmi dan menyimpan dendam terhadap sesama.

“Jangan sampai kita sudah salat, tetapi sesama saudara kita saling berkelahi, memutuskan silaturahmi, dendam terus-menerus,” ujarnya.

Ia berharap jamaah mampu menjadikan sisa umur yang diberikan Allah SWT sebagai kesempatan untuk memperbaiki iman, ibadah dan akhlak.

“Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala selalu memberikan hidayah kepada kita, memberikan ketetapan iman dan Islam, serta dimudahkan menuju jalan surga,” pungkasnya. (*)

FIRNAS MUTTAQIN

No comments: