Glondonggede, Tambakboyo, Tuban — Senin, 7 September 2026
Bagi Ti’ah Purwanti, gunting dan sisir bukan sekadar alat kerja. Keduanya menjadi bagian dari perjalanan panjang yang membentuk keterampilannya hingga kini menekuni usaha potong rambut di kampung halaman, Glondonggede, Kecamatan Tambakboyo, Kabupaten Tuban.
Ti’ah merupakan warga asli Glondonggede. Namun, untuk memperoleh keterampilan, ia pernah meninggalkan kampung halaman dan menimba ilmu di Surabaya.
Pada masa itu, Ti’ah belajar potong rambut di Sekolah Rudi Suwarno, Tunjungan Plaza Surabaya. Pendidikan ditempuh selama kurang lebih enam bulan, dengan pembelajaran teori sekaligus praktik.
Enam bulan bukan waktu yang sebentar. Di sana ia mempelajari teknik dasar hingga praktik mencukur rambut. Pengetahuan tersebut kemudian menjadi bekal penting ketika kembali ke Tuban.
Namun, dunia yang dipelajari Ti’ah ternyata tidak hanya soal mencukur rambut.
Ia juga sempat belajar salon kecantikan. Pengalaman tersebut memperluas keterampilannya dalam dunia tata kecantikan. Setelah memperoleh bekal tersebut, Ti’ah bahkan pernah bekerja di salah satu salon kecantikan di Tuban.
Pengalaman bekerja di salon menjadi bagian lain dari perjalanan profesionalnya. Ia tidak hanya mengenal bagaimana membuat rambut menjadi lebih rapi, tetapi juga memahami dunia pelayanan kecantikan secara lebih luas.
Enam Bulan Belajar, Banyak Kenangan
Masa belajar di Surabaya tidak hanya memberikan ilmu. Ada pula cerita tentang pertemanan dan perjalanan masa muda.
Di sela kegiatan belajar teori dan praktik, Ti’ah bersama teman-temannya menyempatkan diri mengisi waktu luang dengan bepergian.
Malang menjadi salah satu tujuan mereka. Mereka juga pernah menikmati perjalanan ke Sukorejo, Pasuruan.
Sukorejo bukan kampung halaman Ti’ah. Ia adalah putri asli Glondonggede. Namun, Sukorejo menjadi salah satu tempat yang menyimpan kenangan dari masa mudanya ketika menempuh pendidikan di Surabaya.
Kenangan itu sederhana: bepergian bersama teman, bercanda, menikmati suasana tempat baru, lalu kembali melanjutkan aktivitas belajar.
Bertahun-tahun kemudian, perjalanan tersebut menjadi bagian dari cerita yang masih dikenang.
Keterampilan yang Dibawa Pulang
Setelah menyelesaikan pendidikan selama enam bulan, Ti’ah kembali ke Tuban dengan membawa keterampilan yang diperolehnya di Surabaya.
Pengalaman belajar potong rambut dan salon kecantikan kemudian menjadi modal untuk menjalani pekerjaan.
Ia pernah bekerja di salon kecantikan di Tuban. Dari pengalaman tersebut, Ti’ah semakin terbiasa berhadapan dengan pelanggan dan memahami bahwa pekerjaan di bidang kecantikan bukan hanya membutuhkan keterampilan tangan, tetapi juga ketelitian dan kemampuan memahami keinginan orang lain.
Kini, keterampilan itu terus digunakan dalam aktivitas potong rambut.
Pelanggan datang dengan kebutuhan berbeda-beda. Ada yang ingin rambut dipendekkan, ada yang meminta rambut ditipiskan, dan ada pula yang ingin sekadar dirapikan.
Di sinilah pengalaman bertahun-tahun berbicara.
Potongan rambut tidak bisa dilakukan sembarangan. Panjang-pendeknya harus disesuaikan dengan keinginan pelanggan. Bagian atas dan bawah rambut pun terkadang perlu diperlakukan berbeda.
Komunikasi menjadi bagian penting. Sebelum gunting bergerak lebih jauh, keinginan pelanggan perlu dipastikan terlebih dahulu.
Dari Salon hingga Kursi Cukur
Perjalanan Ti’ah menunjukkan bahwa sebuah keterampilan sering kali tumbuh dari pengalaman yang panjang.
Ia pernah menjadi pelajar yang tekun mengikuti teori dan praktik di Surabaya. Ia kemudian mencoba dunia salon kecantikan di Tuban. Dari pengalaman-pengalaman tersebut, keterampilan mencukur dan melayani pelanggan terus terasah.
Kini, di Glondonggede, pekerjaan itu menjadi bagian dari kesehariannya.
Tempat cukur bukan hanya ruang untuk memangkas rambut. Di dalamnya juga terjadi percakapan dan pertukaran cerita.
Pelanggan datang membawa rambut yang ingin dirapikan. Tetapi sering kali mereka juga membawa cerita tentang kehidupan sehari-hari.
Dari situlah pekerjaan sederhana ini memiliki sisi human interest yang menarik.
Gunting, Keterampilan, dan Perjalanan Hidup
Ti’ah mungkin tidak pernah membayangkan bahwa perjalanan enam bulan belajar di Surabaya akan menjadi bagian penting dalam kehidupannya.
Di sekolah potong rambut Rudi Suwarno, Tunjungan Plaza Surabaya, ia mendapatkan keterampilan. Di sela masa belajar itu, Malang dan Sukorejo menjadi saksi perjalanan bersama teman-temannya.
Setelah kembali ke Tuban, dunia salon kecantikan juga sempat menjadi bagian dari perjalanan kerjanya.
Kini semua pengalaman itu bertemu dalam satu pekerjaan: mencukur rambut.
Glondonggede adalah kampung halamannya. Surabaya adalah tempat ia menimba keterampilan. Malang dan Sukorejo adalah kota-kota kenangan. Sedangkan dunia salon menjadi bagian dari pengalaman yang memperkaya keterampilannya.
Dari semua perjalanan itu, ada satu hal yang tetap bertahan: keahlian yang diasah dengan tangan dan dijalani dengan ketekunan.
Sebab, di balik gunting yang bergerak memangkas rambut, sesungguhnya ada perjalanan hidup yang panjang—tentang belajar, bekerja, berteman, pulang, dan terus berkarya di tanah kelahiran sendiri.
Penulis: FIRNAS MUTTAQIN
No comments:
Post a Comment