TUBAN – Pengajian Ahad Pagi di Masjid Darussalam, Tuban, Minggu (11/10/2026), diisi dengan kajian Ustadz Afifun Nidlom yang membahas pentingnya berpegang teguh pada sunah Nabi Muhammad SAW, menjaga persaudaraan, serta menghindari perselisihan dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat.
Dalam kajiannya, Ustadz Afifun mengawali pembahasan dengan hadis yang diriwayatkan dari sahabat Irbad bin Sariyah. Hadis tersebut menceritakan nasihat Rasulullah SAW setelah melaksanakan salat Subuh. Nasihat itu membuat para sahabat terharu dan menggetarkan hati mereka hingga merasa seolah-olah sedang mendengarkan pesan perpisahan.
Rasulullah SAW kemudian berwasiat agar umat Islam senantiasa bertakwa kepada Allah, mendengar dan menaati pemimpin dalam perkara yang benar, serta berpegang teguh pada sunah beliau dan sunah para khalifah yang mendapat petunjuk.
Menurut Ustadz Afifun, pesan tersebut relevan untuk menghadapi berbagai perbedaan dan perselisihan yang terjadi di tengah kehidupan umat Islam. Perbedaan pandangan tidak semestinya menjadi alasan untuk saling merendahkan, menutup ruang dialog, atau meniadakan kelompok lain.
Menjaga Tradisi dan Menghindari Sikap Ekstrem
Ustadz Afifun juga menyoroti pentingnya memahami hubungan antara ajaran agama, tradisi masyarakat, dan penerapan hukum. Ia menjelaskan bahwa tradisi yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam penetapan hukum.
Ia mengutip kaidah fikih al-'adah muhakkamah, yang berarti adat kebiasaan dapat menjadi pertimbangan hukum selama memenuhi ketentuan yang berlaku dan tidak bertentangan dengan dalil syariat.
Dalam konteks kehidupan umat Islam di Indonesia, ia mengajak jamaah untuk mengembangkan cara beragama yang terbuka terhadap dialog dan perbedaan. Menurutnya, semangat beragama seharusnya mendorong umat untuk saling memahami, bukan membangun sekat berdasarkan kelompok atau pilihan tokoh tertentu.
Ia juga mengingatkan agar umat tidak menjadikan sosok atau kelompok tertentu sebagai pusat kebenaran secara berlebihan hingga menutup diri dari pandangan lain yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Jangan sampai pengajian-pengajian kita menjadi alat pemisah, tetapi menjadikan kita saling mencintai dan saling menguatkan satu sama lain,” demikian inti pesan yang disampaikan dalam kajian tersebut.
Menghindari Penyakit Hati dan Memperkuat Persaudaraan
Pada bagian berikutnya, Ustadz Afifun menguraikan sejumlah sifat yang dapat merusak kehidupan umat, di antaranya persaingan yang tidak sehat, kedengkian, dan permusuhan.
Ia menjelaskan bahwa persaingan dalam kehidupan sosial maupun ekonomi dapat berkembang menjadi kedengkian apabila seseorang tidak mampu menerima keberhasilan orang lain. Karena itu, umat Islam perlu membangun sikap saling menghargai dan menjauhi keinginan untuk menjatuhkan sesama.
Selain kedengkian, ia mengingatkan bahaya pertikaian yang dipicu oleh emosi dan keinginan membalas perlakuan orang lain. Sikap tersebut, jika dibiarkan, dapat merusak hubungan persaudaraan dan memicu perpecahan di tengah masyarakat.
Ustadz Afifun kemudian mengaitkan pesan itu dengan hadis tentang pentingnya menumbuhkan kecintaan antarsesama. Ia menekankan bahwa menyebarkan salam tidak cukup dimaknai sebagai ucapan, tetapi perlu diwujudkan melalui perilaku yang mencerminkan kedamaian, kepedulian, dan ketulusan.
Menurutnya, umat Islam perlu memastikan bahwa aktivitas keagamaan, termasuk pengajian, benar-benar membawa dampak positif terhadap perilaku sehari-hari. Bertambahnya pengetahuan agama semestinya diikuti dengan perbaikan akhlak dan hubungan sosial.
Peran Keluarga dalam Membentuk Karakter Anak
Dalam kajian tersebut, Ustadz Afifun turut menekankan pentingnya peran keluarga, terutama orang tua, dalam membentuk karakter anak. Ia mengingatkan para ayah agar hadir dalam kehidupan emosional dan pendidikan anak, bukan hanya memenuhi kebutuhan materi.
Ia menilai keteladanan orang tua memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan perilaku anak. Nasihat yang diberikan kepada anak perlu disertai contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari cara berbicara, menyelesaikan masalah, hingga memperlakukan orang lain.
Menurutnya, persoalan keluarga juga perlu dilihat secara menyeluruh. Ketika menghadapi kesulitan dalam kehidupan, termasuk persoalan ekonomi, keluarga perlu melakukan evaluasi terhadap komunikasi, hubungan antara suami dan istri, serta hubungan dengan anggota keluarga lainnya.
Ia mengajak jamaah untuk memperbaiki hubungan di dalam keluarga sebagai bagian dari ikhtiar membangun kehidupan yang lebih baik.
Mengajak Jamaah Berpartisipasi dalam Demokrasi
Pembahasan juga menyentuh persoalan kepemimpinan dan partisipasi masyarakat dalam demokrasi. Ustadz Afifun mengingatkan bahwa pemilihan pemimpin perlu mempertimbangkan akhlak, integritas, dan kemampuan calon dalam menjalankan tanggung jawabnya.
Ia mengajak masyarakat agar tidak menghabiskan energi hanya untuk memperdebatkan persoalan politik yang berpotensi memecah hubungan sosial. Sebaliknya, masyarakat perlu tetap berpartisipasi dalam proses demokrasi secara bertanggung jawab.
Menurutnya, sikap tidak menggunakan hak pilih dapat memberikan ruang lebih besar bagi kelompok lain untuk menentukan hasil pemilihan. Karena itu, partisipasi warga menjadi bagian penting dalam kehidupan berdemokrasi.
Ia juga mengingatkan agar perbedaan pilihan politik tidak merusak persaudaraan, baik di lingkungan masyarakat, organisasi, maupun keluarga.
Menjelaskan Persoalan Penentuan Waktu Salat Subuh
Menjelang akhir kajian, Ustadz Afifun menjelaskan persoalan penentuan waktu salat Subuh, khususnya terkait penggunaan hasil pengamatan astronomis. Ia menyampaikan bahwa penentuan waktu salat memerlukan dasar pengamatan dan perhitungan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ia menjelaskan bahwa pengamatan terhadap posisi Matahari dilakukan untuk memastikan masuknya waktu Subuh. Dalam pemaparannya, ia menyinggung penggunaan teleskop dan pengamatan selama satu tahun sebagai bagian dari proses pengumpulan data.
Menurutnya, kepastian masuknya waktu salat merupakan hal penting karena masuk waktu menjadi salah satu syarat sah salat. Oleh sebab itu, pembahasan mengenai penentuan waktu salat perlu didasarkan pada kajian ilmiah dan pertimbangan keagamaan.
Melalui kajian Ahad Pagi tersebut, Ustadz Afifun Nidlom mengajak jamaah Masjid Darussalam Tuban untuk menjadikan ajaran Islam sebagai landasan dalam membangun akhlak, menjaga persaudaraan, memperkuat keluarga, serta menyikapi perbedaan secara dewasa.
Pesan utama kajian tersebut adalah bahwa pemahaman agama perlu tercermin dalam perilaku. Semangat beragama hendaknya melahirkan sikap saling menghormati, kepedulian terhadap sesama, dan kehidupan masyarakat yang lebih harmonis. (*)
FIRNAS MUTTAQIN
No comments:
Post a Comment